Life essential skills: dreaming and letting go

Tahun ini saya ketemu seseorang yang bilang ingin menulis buku. Buku apa? Buku tentang mimpinya. Karena dia merasa telah melakukan berbagai pencapaian hingga ia berada disini sekarang. Lalu dia seperti mengaca ke saya, kenapa kamu ga nulis buku tentang mimpi kamu?
Saya tercekat.Terus berbagai pikiran berkecamuk di kepala saya. Bok, saya kan bukan Andrea Hirata atau mario Teguh. Siapa sih gw? *garuk-garuk kepala*

Tapi terus kepikiran lagi, hidup ini haruslah terus berbagi dan menginspirasi, ya ga sih? Apa kita mulai aja penulisan buku tentang mimpi itu ya?*garuk-garuk kepala* *ketombean kayaknya*


Cecil di Jakarta

Lalu saya flashback deh.
Kata siapa saya ga suka bermimpi. Hobinya tidur ya pasti bermimpi dong. Hihihi. Dan ya saya ada disini juga karena cukup banyak pingin ini pingin itu. Mungkin kalau pertanyaan untuk nulis buku tentang mimpi dilontarkan dua tahun yang lalu, sekitar tahun 2009, saya akan dengan antusias, ayo kita bermimpi! Tuhan begitu murah hatinya pada saya di tahun-tahun itu. Rata-rata kepinginan saya dikabulkan semua.Tapi di tahun 2010 dan 2011, saya belajar hal lain yang ternyata lebih penting dari bermimpi.

Perbandingan antara tahun 2009 dan 2010-lah yang membuat saya merasa diuji berkali-kali.
Tahun 2009: mahasiswa, miskin tapi bahagia, banyak teman, punya pacar, punya sesuatu yang dikejar semacam nilai A, pesta pora, mabuk-mabukan, pacaran, jalan-jalan dan jatuh cinta berkali-kali pada si ganteng.
Tahun 2010: pengangguran, semakin miskin dan semakin ga bahagia, kehilangan banyak teman, jomlo sejomlo-jomlonya, bingung mau ngejar apa, jarang pesta, mabuk-mabukan sih teuteup, pacaran sama tembok, ga jalan-jalan karena ga punya uang dan kehilangan sosok buat jatuh cinta.
Hah.

Saya ga ngerti, Tuhan ko tiba-tiba merenggut semua yang indah-indah di tahun sebelumnya. Ini gimana ini maksudnyaaa…
Saya bermimpi punya kehidupan yang membuat semua orang iri, tapi terus saya yang iri pada kehidupan orang lain. Saya ini maunya apa siiihhhh?? *nangis kejer*

Jadi ya begitulah. Di tahun 2010 saya mati-matian mempertahankan sikap positif saya. Saya selalu percaya semua ini ada jawabannya. Tapi rasanya lelah sekali kalau surat lamaran ditolak, pergi kencan dengan cowok-cowok buwek, lalu hau hau kangen si mantan. Energy saya habis untuk tersenyum di depan orang-orang. Di banyak titik, saya ingin berhenti, menyerah pada keadaan dan tanda tangan surat nikah. *lho?* eh salah. Ya, di banyak titik, saya ingin sekali teriak-teriak ke dunia luar, udahlah situ ga usah mimpi, life sucks anyway if you don’t get your dreams. Tapi ya enggak dong, orang lain cuman senyum-senyum penuh arti dan mereka ga ngerti kalo ada orang yang ga bisa mencapai mimpinya.

Saya ditempatkan di posisi terlalu banyak mimpi dan bingung harus ngapain untuk meraihnya. Semua usaha saya ke arah sana, seolah-olah digagalkan oleh tangan-Nya. Saat surat lamaran terakhir saya untuk magang di US ditolak, akhirnya saya ya udahlah. Mabuk-mabukan saja. Haha. Saya akhirnya pasrah dan lalu berdendang bersama Corinne Bailey Rae. Mari kita nonton konser Cranberries, jingkrak-jingkrak dan bahagia saja dengan apa yang sudah dimiliki. Syukur masih punya kerjaan, masih punya teman-teman yang seru diajak ngobrol. Dalam soal jodoh, saya bertemu seorang teman yang dengan cerdasnya bilang “Lebih seru proses pencariannya Dit, daripada pas udah nemu.” Ah, benarkah? Saya orang yang percaya pada proses, maka dari itu, yuuukkk kencan lagi. Hihi.

Attitude saya jadi sedikit berubah. Akhirnya saya berhasil kembali mencintai dunia ini, walaupun saya berpijak di bumi dan bukan terbang meraih mimpi-mimpi saya. Enak rasanya, karena bumi toh indahnya bukan main. Saya ingin pasang foto-foto liburan di tempat keren semacam di Gold Coast, tapi ya kalau memang liburannya di UK alias Ujung Kenteng, itu juga asik. Saya pingin pamer apartemen keren, tapi ya in the meantime kostan saya di Kebon Sirih sungguhlah sangat nyaman. Saya pingin pamer tanline pulang dari Bali, tapi tanline saya ini akibat sering naik ojek keliling Jakarta, tapi ya keren juga kok. We can be better, but we what we have is good enough.


Jadi saya berpikir ulang kalau harus menulis buku tentang mimpi. Saya mau nulis teenlit saja. Tentang anak remaja yang pandai bermimpi tapi juga berlapang dada akan segala perubahan dirinya.

Iklan

One thought on “Life essential skills: dreaming and letting go

  1. Ping balik: Sedihnya kembali ke tanah air | Langit, laut dan Doraemon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s