Her dan kita

Yang menarik dari film Her, bukan hanya idenya yang brilyan mengawinkan manusia dan sistem operasional atau desahan Scarlett Johanson. Buat saya, adegan paling menyentuh dari film ini adalah waktu Joaquin Phoenix berjalan di antara banyak orang dan dia sibuk tertawa-tawa dan mengobrol dengan ScarJo. Bukan hanya dia, tetapi orang-orang di sekitarnya juga begitu. Maksudnya, semuanya asik dengan gawai masing-masing dan acuh terhadap sekitarnya,
Menakutkan.
Karena kalau melihat sekeliling kita sekarang, ada kecenderungan ke arah sana. Banged!

Saya bergidik sendiri membayangkan betapa teknologi membuat kita semakin terasing di antara kehidupan sosial yang sebenarnya. Ga ada salahnya berkomunikasi dengan yang jauh, tapi menurut saya, salah sekali kalau kita ga berinteraksi dengan yang dekat.
Rasanya video pengingat hal ini makin banyak. Dunia barat yang awalnya antusias dengan segala kehebohan konektivitas, mobilitas dan berbagai real-time sharing, sekarang mulai berpikir untuk kembali memanusiakan rutinitasnya.

Saya sendiri belum bisa sepenuhnya jauh dari media sosial dan komputer. Haha, iya sungguh ironis. Betapa kebahagiaan saya ada di hasil bilangan2 biner. Karena, terus terang saja, saya cukup gugup di sosialita, dan saya sebenarnya cukup menikmati kesendirian.

Hmm, jadi kepikiran, mungkin kecanduan kita terhubung dengan peer ini justru antisipasi dari perasaan sendiri. Lonely. Menurut saya, orang Indonesia cenderung komunal, dan senang melakukan hal bersama-sama. Makanya media sosial laris manis. Semua yang terjadi di sekitar dengan segera harus dipindahkan ke ranah publik. Ya ga salah juga sih, tapi kadang berlebihan. Bisa disalah gunakan, dan saya sendiri kurang suka sikap cari-cari perhatian ini.

Mungkin itu juga. Kalau dulu butuh waktu dan dedikasi untuk berbagi cerita, sekarang lima menit ketik-ketik, beres. Kalau dulu nulis panjang-panjang buat di blog cari sudut pandang yang enak, masukkin humor sedikit, masukkin gambar, eh tau-tau udah sore aja :P Sekarang sambil nungguin bis, dua menit ketik-ketik, pencet “Send” jadi deh. Dalam 10 menit yang komen udah bejibun. Tapi akibatnya jadi kurang saringan, dan kemampuan bercerita ini nampak kurang dilatih.

Makanya, sampai saat ini prinsip saya masih “Old school bloggers are the best people in the internet.”
Dan jangan salahkan kalau postingan saya berkurang drastis :)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s