Catatan dari Sittwe

tenda_sittwe1

Sebagai pekerja kemanusiaan, saya kadang terdampar di tempat-tempat asing yang jadi sumber banyak cerita. Salah satu pengalaman tanggap darurat yang berkesan adalah Myanmar.

Setelah tergopoh-gopoh diterbangkan dari jauh untuk bantuin Typhoon Mahasen, sampailah kami di Yangon. Syukurlah taifunnya cuman becanda alias korbannya sedikit. Tapi Myanmar tanpa taifun pun punya masalah yang tak kalah pelik. Di perbatasan, penduduknya banyak yang bersitegang. Di provinsi Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh, masyarakat buddhis bersinggungan dengan pendatang dari Bangladesh yang mayoritas muslim. Mereka bakar2an desa dan tak lagi bisa hidup berdampingan.

Myanmar sejatinya adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama buddha. Dan kalau ditanya sejak kapan konflik ini berlangsung, saya yakin jauh sebelum Desember 2012. Konflik etnis biasanya punya sejarah yang mengakar rumput. Saya kurang mengerti sejarah, jadi saya menganalogikan mereka bagaikan SMUN 2 dan SMUN 5 Bandung. Dulu waktu saya masih berseragam putih abu, murid dua SMA ini sering berantem, ga tau ya sekarang. Biasanya hal remeh, seperti iseng bilang SMUN 2 ga asik, ujung-ujungnya tawuran. Dan ini berlangsung cukup lama, turun temurun. Semacam kesebelan yang diwariskan, panjang kalau mau menelusuri alasan dan logika.

Glamornya pagoda di Yangon

Glamornya pagoda di Yangon

Selang dua hari, kami pun diterjunkan di Sittwe. Kota kecil ibukota Rakhine dengan jumlah korban konflik paling banyak. Kota ini cenderung suram dan selama saya disana hampir selalu hujan. Jalanannya becek, dan malam hari supir tuktuk akan menerjang semua genangan air demi sampai di rumah sebelum pukul sepuluh, sebelum jam malam tiba. Saya biasanya menghabiskan waktu di kamar hotel sambil memandangi stupa yang berpendar di kejauhan.

Rasanya sedih sekali melihat keadaan disini. Rakyat Rakhine menjalani hari dengan cemas sedangkan pemerintah begitu lamban. Kaum internasional datang dengan mimpi dan ambisi, membantu semua orang mendapatkan makanan, tempat tinggal dan air bersih. Tapi di balik itu semua, mereka maunya tinggal di hotel mewah, mandi harus air panas dan suplemen tetap berupa internet.

Saya merasakan ironi disini, tapi saya bagian dari mereka. Dan meskipun saya tak harus mandi air panas tiap hari, toh saya juga butuh tempat tinggal yang nyaman. Beruntung, saya diterjunkan ke lapangan bersama rekan yg sudah akrab sebelumnya. Dia dari kantor Palestina, warga asli sana. Di Sittwe kami sepakat untuk berbagi kamar. Dua perempuan muslim tak berkerudung yang membaur dengan komunitas internasional. Sejak menginjakkan kaki di Sittwe, kami diwanti-wanti agar tak usah menonjolkan atribut keagamaan. Ya maklumlah, namanya juga daerah konflik, orang-orangnya sensitif.

sepedasittwe1

Warga Sittwe ga protes bbm naik karena banyak yang bersepeda

Seminggu berlalu, kami mulai jengah dengan kamar hotel kami yang sempit, sumpek dan bau apak. Tapi Sittwe kota kecil dengan hanya 3 hotel saja. Kami tak punya pilihan banyak. Saat rekan kami, Kiyaw, staff nasional, dengan berat hati mengurus kepindahan kami ke motel tanpa AC, TV dan air panas, kami protes. Kenapa dipindahin sih? Mending di hotel seadanya itu tapi ga kepanasan!

Kiyaw tergagap menjawab, “Karena kalian muslim. Yang punya hotel ga mau punya tamu muslim.”

Kami ternganga selebar-lebarnya. Pasalnya, darimana mereka tau kami muslim? Paspor jelas-jelas tanpa kolom agama, dan kami sehari-hari nampak seperti orang normal. Dan, kalau kami muslim, terus kenapa ga boleh tinggal di hotel itu?! 

Berbagai pertanyaan berkecamuk. Kiyaw kehabisan kata. Akhirnya kepala kantor meredakan protes kami. Sudahlah, pindah aja ya biar damai. Ga ada pilihan lain, kita disini bukan untuk menyulut pertengkaran. Kiyaw menjelaskan dengan terbata, ada yang tahu kami muslim lalu mengancam pemilik hotel. Kalau kami masih tinggal di hotel itu, aktivis Buddhis akan membakarnya.
Seram sekali. Saya bersungut-sungut, mending pindah hotel daripada pindah agama.

Suasana warung kopi di Sittwe. Sarung adalah busana pergaulan.

Suasana warung kopi di Sittwe. Sarung adalah busana pergaulan.

Di motel yang panas dan tanpa tv itu, saya jadi banyak membaca dan termenung. Ironis sekali, bacaan saya ketika itu adalah buku Lama Marut. Ya, saya memang sedang dalam tahap tertarik dengan nilai-nilai Buddha, karena menurut saya mereka itu mengajarkan kedamaian dan penuh welas asih. Saya membolak-balik halaman buku karya Lama Marut, kok beda ya.

Tercenung-cenung, saya jadi ingat kampung halaman dan tempat tinggal. Di Bandung, cewek-ceweknya bisa pake gamis dan jilbab tumpuk-tumpuk modis, dan dengan bangga mereka menyerukan identitas muslimah. Di New York, semua agama berbaur, bahkan pasca 9-11 pun warga New York dengan haru merangkul warga Islamnya. Di Sittwe, saya nyaris tidak punya tempat tinggal kalau masih ngotot menunjukkan saya beragama Islam.

Sore hari selepas ngantor, saya duduk-duduk di beranda motel. Banyak biksu berseragam merah marun lewat di jalan depan motel sambil berpayungan. Bersenda gurau, tawa mereka terdengar di sela gemericik air hujan. Lalu, apakah saya kemudian sebal? Karena mereka begitu bahagia, dan saya harus tidur sambil kipas-kipas semaleman? Padahal saya kesini juga buat bantu mereka, bukan turis semata.

Panas atau hujan, payung selalu banyak gunanya di Sittwe.

Panas atau hujan, payung selalu banyak gunanya di Sittwe.

Ga bisa. Saya ga bisa sentimen begitu saja, karena saya tau ajaran Buddha itu ya ampun damainya kayak desa kecil di kaki pegunungan Alpen. Ajaran Islam juga. Ajaran semua agama juga. Bakar-bakaran ini bukan potret sesungguhnya. Saya naif dan percaya, kita semua orang baik dan selalu berbagi dengan sesama.

Lucu sekali hal ini terjadi pada kami, dua perempuan muslim yang pura-pura rajin baca buku padahal kangen nonton tv. Kami tidak terlalu banyak membahas hal ini karena sudah capek kerja dan harus bangun pagi esok hari. Dia cenderung ga peduli, lebih banyak protes akan banyaknya serangga di kamar. Dan saya, saya menjunjung tinggi kebebasan beragama. Entahlah, pengalaman ini membuat perasaan saya campur aduk. Seperti ini ya rasanya jadi minoritas dan sekitar yang buas. Tidak bebas beribadah dan mengakui Tuhan sendiri. Baru pertama kali. Saya jadi berandai-andai, apa jadinya ya kalau teman-teman saya yang berjanggut bercelana cungkring atau berkerudung mengalami ini. Semoga mereka ga ikutan jadi korban konflik.

Saya jadi ingat juga kata orang don’t take anything for granted. Sama seperti menjadi mayoritas atau hak kita memuja Tuhan. Kita kadang terlalu sibuk dengan hal lain (fesbukan, foto-foto selfie) sehingga lupa mewahnya hal ini. Mau ke mesjid tinggal jalan kaki, mau gelar sajadah tinggal minta ijin sama yang punya rumah. Kita mungkin tidak sadar atau tidak tahu, bahwa di tempat lain keyakinan kita dianggap nyeleneh. Padahal jelas-jelas niatnya baik ya, namanya juga mau beribadah. Ada itu di kitab suci.

Dan kita juga kadang lupa, saat kita jadi mayoritas, pasti ada yang jadi minoritas. Dan saat itu, apakah kita mau menengahi? Atau bersikeras suara mayoritas harus melibas? Tak usahlah yang ekstrim sampai ancaman bakar hotel, yang kecil-kecil saja, obrolan sehari-hari. Apakah kita pernah mencoba berempati kepada mereka, ketika semua-mua yang diserukan adalah agama kita melulu. Padahal kita bertetangga, bahasanya sama. Hakikatnya adalah manusia yang cuman mau berbuat baik selama hidup di bumi ini.

Bagaimana kalau kita menyembah sepakbola aja?

Bagaimana kalau kita menyembah sepakbola aja?

Malam itu hujan turun deras sekali. Besok kami pindah hotel karena harus ke Bangkok untuk perbarui visa. Entah untuk yang ke berapa kalinya kami pindah hotel ini, sudah lebih dari lima kali. Tapi yang sekarang akan lebih menyenangkan, Bangkok gitu loh. Bisa tidur di kamar hotel nyaman, bisa nonton tv dan yang tiba-tiba terasa penting, bisa ngaku muslim lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s