D’Angelo, wajah baru musik soul ini sungguhlah badass

Liat posternya aja langsung semangat

Liat posternya aja langsung semangat

Dari kapan itu mau nulis tentang D’angelo ga selesai-selesai aja. Maka, hari ini saya meluangkan 15 menit deh biar ga lupa dan ada sedikit kehidupan di blog ini.
Jadi akhirnya kita nonton D’angelo *memancing kesirikan massa*. Bersama Jesse, dan juga mengajak Colin, sebagai hadiah Father’s Day. Colin baru saja menjadi ayah dua bulan yang lalu dan sudah sepatutnya ayah baru diajak keluar nonton musik kesukaan, makan di restoran Thailand dan bersenang-senang di area rumahnya. Ga boyeh jauh-jauh dulu, kangenan sama anak ceritanya, aih.

D’angelo tampil di Forrest Hills Stadium, sempat mengernyitkan kening karena mayan ya bok dari Brooklyn. Tapi saya yang masih punya semangat mengarungi NY meyakinkan diri, dan tentu saja senang kalo bisa mengunjungi Colin. Sebelumnya kan belum pernah. Apalagi mau liat bayinya, dan ternyata Colin punya kucing imut namanya Nini. Nini agak haus perhatian, jadi alih-alih liatin bayi, saya malah main sama kucing.

Nini yang suka rebutan duduk di kursi bayi

Nini yang suka rebutan duduk di kursi bayi

Anyway, Forrest Hills Stadium sendiri venue yang pas buat konser. Ga terlalu besar, dan ga terlalu kecil. Penonton di kursi paling belakang pun masih bisa menikmati konser tanpa harus bergantung pada bantuan layar. Kabarnya the Beatles pernah main disini. Info ini tentu saja datangnya dari Colin dan Jesse, music geek. Sementara saya cuman terpesona sama latar belakang rumah ala German yang konon namanya tudor. Padahal di Tudor City ga ada yg beginian.

Dan konsernya D’angelo, luar biasa. Dari skala 1-10, kami langsung sepakat, perfect 10. Dibuka dengan Ain’t That Easy, D’Angelo dan the Vanguard pengiringnya terus menerus mengajak penonton fokus ke panggung. Semua tampil totalitas, menari-nari dan menyatu penuh ke setiap lagunya. Saya suka dua penyanyi latar cowok yang posisinya bukan di belakang, malahan sejajar D’angelo, cuman ke pinggir dikir. Mereka bernyanyi sungguh kiyut, dengan beberapa koreografi yang menggemaskan. Saya juga suka penyanyi latar ceweknya, yang sepanjang pertunjukkan menari-nari dengan lincah, lengkap dengan manuver balet walopun high heels boots-nya nampak kurang nyaman. Kabarnya dia juga ikutan ngarang sebagian besar lagu di Black Messiah.
Sosok menarik lainnya adalah Pino Palladino, basis yang jangkung kurus dan nampak anteng bermain di sebelah keyboard D’Angelo. Saya gampang trenyuh sama orang-orang yg berbakat tapi dengan rendah hati bermain sederhana dan membiarkan bintang panggung menjadi sorotan.

Tata panggung dan latar belakang minimalis

Tata panggung dan latar belakang minimalis

Jangan tanya D’angelo. Tampil penuh energi, bisep yang menggugah hati dan suaranya oh mak.. Saya selalu suudzon, suara D’Angelo begitu pasti karena efek aja. Tapi menyaksikannya tampil di depan mata, merinding sendiri. Berbagai lapisan dan tekstur vokal D’Angelo ini, dari yang mendesah seksi, gahar bagaikan trash metal sampai nada-nada falseto yang jadi soul musiknya. Dia sigap bertukar tempat dari ujung ke ujung panggung, hingga bolak-balik dari depan mik dan belakang keyboard. Dia ga terlalu banyak ngomong, padahal saya penasaran suara aslinya kayak apa. Tapi dia menyelipkan beberapa line di sela-sela nyanyi, jadinya kita tahu lah ini bukan lipsync. Oposeh.

Saya ngefans berat sama album Black Messiah, karena album ini sarat energi, meledak-ledak, sekaligus masih menyelipkan tune sexy seperti Really Love. Rasanya terlalu cetek kalau kita mengkategorikan musik D’angelo sebagai soul dan/atau RnB. Di Black Messiah, D’angelo naik kelas dan bermain-main juga di ranah rock, soul, progresive, funk sama apa ajalah, saya kurang paham. Selama vakum lebih dari 15 tahun D’Angelo anteng belajar gitar, kami sama-sama punya akun di Rocksmith. Bo’ong ding. Tapi ga bo’ong kalo D’angelo belajar gitar, karena di album barunya ini suara gitar mulai dominan, dari yang distorsi cukup tinggi seperti di The Charade, sampai gitar akustik di Really Love.

Waktu pertama kali dengerin Black Messiah di road trip Maine – New York, saya senyum-senyum sendiri ngebayangin konsernya. Pastinya megah dan jingkrable banget ini. Saat kmaren mimpi ini jadi kenyataan, nyatanya lebih dari itu. D’angelo dan the Vanguard bukan saja bermain sebagus di rekaman, tapi selalu penuh kejutan dan improvisasi hingga penonton ga pernah bosen. Saya sih pinginnya dia mainin semua lagu di album Black Messiah, kita kan udah hapal banget urutannya. Plus, saya suka album ini ga terlalu mendayu-dayu. Black Messiah dilaunching agak terburu-buru karena merespon tragedi Ferguson di penghujung 2014. Konser di Forrest Hills kmarin berlangsung ga lama setelah tragedi Charleston. D’angelo pun mengajak penonton rame-rame mengepalkan tangan di udara di lagu 10,000 Deaths. Pesan-pesan seperti inilah yang kayaknya kurang kental di album terdahulu, membuat Black Messiah jadi album yang sangat badass.

Semakin malam, semakin syahdu syalalalala

Semakin malam, semakin syahdu syalalalala

Menggandrungi musik D’angelo seolah jadi pembuktian bagi saya sendiri, bahwa ternyata saya bisa kok mendengarkan berbagai jenis musik. Ga melulu Brit pop atau indie rock. Karena pelajaran saya menikmati musik sebenarnya dimulai dari rajin mendengarkan radio Oz di awal 90-an. Waktu itu belum ada Oasis, tapi saya sudah akrab dengan New Edition, Janet Jackson dan Maxwell. Nuansa smooth and groovy ini lah yang terasa sekali di konser kmaren, terutama saat nomor-nomor lawas dimainkan, Brown Sugar dan Spanish Joint. Saya kok berasa lagi nonton JavaJazz, halah. Ya pokoknya campur-campur antara JavaJazz dan JRL deh.

Cuman 10 lagu malam itu, tapi setiap lagunya panjang dan nendang. Sama sekali ga terasa bahwa konsernya pendek. Pendek karena lagu favorit saya the Door ga dimainin sih :P Endingnya sama sekali ga disangka-sangka, How Does It Feel. Beberapa pasangan di sekitar saya merapatkan pelukan. Jesse tentunya makin dekat dengan Colin. Ngokk.. Tapi ya gimana dua musik geek nonton musik bareng, yang ada mereka orgasme sendiri-sendiri :P Oh iya, di lagu terakhir ini, refrain-nya dimainin terus-terusan lalu satu persatu personil the Vanguard unjuk gigi dan kemudian mundur diri. Pelukan sama D’angelo sekaligus dapet aplus meriah dari penonton. Mengharu biru sekali deh. Penonton jadi berkesempatan mengapresiasi tiap2 musisi, sampe pada akhirnya panggung hampir kosong dan tinggal D’angelo bersama Pino. Kami pun pulang dengan nuansa sendu sekaligus berbinar-binar karena sudah menyaksikan show paling keren sepanjang 2015.

Iklan

8 thoughts on “D’Angelo, wajah baru musik soul ini sungguhlah badass

  1. Hai Dita,

    Suka neo soul ya? Toss kalo gitu.

    Ternyata ngga sia-sia lama nunggu album barunya D’Angelo keluar setelah beberapa tahun dia vakum. Penasaran pingin lihat konsernya Jumat ini di North Sea Jazz Festival, Rotterdam.

    Good review!

    • Aku sebenernya sukanya indie rock, brit pop atau punk, haha. Sama berbagai lagu 90-an karena lagu pertumbuhan ya. Tapi belakangan berusaha denger macem2 musik dan diracunin cowokku juga sih. Hehe. Harus rus nonton D’Angelo, album barunya aja keren gitu apalagi live-nya. Makasih ya udah baca postingan yg panjang ini.

  2. Ping balik: Album minggu 2015 | Langit, laut dan Doraemon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s