Secuil gaje hari ini

Kadang ada secuil dejavu, kangen, keingetan, kepikiran atau apalah namanya akan suasana Banda Aceh. Ejiye yang ga bisa move on. Terjadi begitu saja, saat sedang perbaiki peta Darfur, atau sedang duduk manis di jok belakang M15. Bukan karena segala-segala yang terjadi disana. Tapi lebih akan hal-hal kecil yang entah kenapa terasa Aceh banget.

Seperti rombongan bebek yang berjalan hilir mudik tak tentu arah di Kampung Nusa. Kadang menghalangi saya ketika harus mengukur rumah berikutnya. Mereka nampak kebingungan, tapi asal bersama-sama tak apa. Entah siapa juga pemimpinnya, tak kasat mata ;)

491909960_e8e997c398_o
Atau perasaan tanpa nama di ujung hari minggu, selepas mandi di pantai Lhok Nga, untuk kemudian janjian makan malam nasi goreng Jawa. Pake telor ceplok yang kuningnya agak meleber. Rasanya enak aja. Semuanya.
Mungkin juga ingatan saya yang tak bisa lepas dari rumah dengan undak-undak tangga di Seubon Ayon. Rumah itu selalu terlihat sepi, tak terlihat penghuninya. Saya selalu berkhayal sore-sore minum teh sambil duduk-duduk di beranda, diam-diam memperhatikan kanak-kanak yang bermain engklek. Bau matahari campur kotoran sapi.

110465450_cedf9f72b6_o
Saat naik motor dibonceng Budi tanpa tujuan. Saya yang kelewat cerewet dan Budi yang terlalu gampang tertawa. Melewati deretan toko dengan retak-retak dinding akibat gempa di kawasan Rek. Kabarnya, semua sudah terlihat baru dan segar kini. Namun kulit muka saya yang lebih banyak gurat. Entah Budi, kami sudah lama tak bertemu.

Kalau saja perasaan seperti itu bisa dikemas dalam bentuk kapsul dan diminum kapan saja sedang merasa tak keruan. Atau saat hidup berjalan terlampau baik, terlampau asik. Kadang saya mencibir riuhnya ruang konser dan ingin memesan tablet kecil-kecil itu, menukar adrenalin dengan hormon yang kira-kira efeknya mirip kopi ganja. Saya tak pernah mengerti maunya hati, kadang begitu mudah hepi.

Iklan

9 thoughts on “Secuil gaje hari ini

    • Hmm, itu kumpulan cuilan yg suka muncul lalu ditulis saat NY lagi hujan ;) Iya, kenapa ya, mungkin karena sekian taun jadi anak urban #halah, jadi kangen pedesaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s