Fire Islands

10074594036_006fe9f29f_kDi suatu hari di musim panas, kami liburan ke Fire Islands. Ide yang tiba-tiba dicetuskan Jesse membuat saya cukup sibuk cari informasi. Seperti biasa, foto-foto di internet membuat ngiler, lalu kami pun pergilah. Perjalanan ditempuh dengan berkereta lebih dari sejam disambung naik bis selama 30 menit karena kami kebanyakan bengong di peron dan melewatkan kereta selanjutnya. Tapi hal ini malah dialhamdulilahkan karena salah jadwal ini kami mampir di Sayville. Seolah diarahkan, akhirnya menemukan surga kecil Sayville berupa toko dengan aneka merk bir dari berbagai belahan dunia. Bahkan disini bisa beli bir isi ulang, alias bawa botol sendiri dan mengisinya dengan bir langsung dari keran!

10074516124_3db7de0fbd_k.jpg

Cakep kan botol bir isi ulang Sayville? Souvenir emak-emak banget deh.

Singkat cerita, tibalah di Fire Islands ini. Penginapannya bernama Dune Point, letaknya di Cherry Groove. Saya sempat deg-degan karena takut kamarnya ga seindah di brosur, tapi untungnya kamar beach house bingits ini cantik sekali. Dinding panel kayu putih dan ada dapur lengkap dengan segala peralatan, bahkan juicer dan food processor! Dapur saya kalah lengkap, hihihi… Kami pun lalu berangan-angan tinggal lama di Dune Point.

kamarfireislands

Beranda cantik dan bola biru yang entah apa fungsinya.

Dan tentunya juga berangan-angan tinggal lebih lama di Cherry Groove. Karena tempat ini maniiis sekali dengan lusinan i. Seluruh jalanan terbuat dari papan kayu dan semua rumah ditata apik. Pulau ini teduh dengan rimbun pohon-pohonan dan udara yang segar karena sama sekali ga ada kendaraan. Satu-satunya mobil yang berkeliaran di area pantai adalah milik park ranger. Saat potret-potret menjelang matahari terbenam, tiba-tiba ada rusa ikutan mejeng. Besoknya, ketemu lagi segerombolan rusa lagi nongkrong sambil ngemil daun-daunan di pinggir jalan. Santai kayak di pantai.
Singkat kata, Cherry Groove begitu damai, cantik dan melankolis.
Tapi ada hal lain yang membuat liburan saya di Cherry Groove begitu istimewa. Yak, Fire Islands ini terkenal sebagai tujuan wisata pasangan sejenis, dan mayoritas penghuni Cherry Groove pun. Saat saya anteng makan burger di bar tepi pelabuhan ferry, tiba-tiba saja serombongan pasangan gay datang. Mereka riuh berceloteh dan saling memuji sepatu masing-masing. Sama sekali ga ada niatan men-stereotype-kan tapi itulah keramaian di pelabuhan ferry sebelum kita bertolak ke Cherry Groove.

Berikutnya, kami lebih banyak jalan-jalan sendiri. Sudah bisa ditebak, saya begitu nyampe langsung ketiduran dan kami ga mau ikutan underwear party yang berlangsung hingga larut malam. Besoknya, kami menikmati brunch di Floyd’s, tempat brunch paling terkenal di pulau dan berkesempatan berinteraksi dengan orang-orang di Cherry Groove yang sama-sama nge-brunch. Ngobrol sana sini, pemilik Floyd sempat cerita cukup banyak tentang mengapa dia akhirnya pindah dari New York ke Cherry Groove. Selain karena sendunya tempat ini, dia bilang “I’m happy, I can be my self.”
Cherry Groove begitu penuh cinta, di berbagai sudut ada pasangan yang bermesraan. Setelah seharian berjalan-jalan di pulau juga nyemplung ke samudera Atlantik, saya dan Jesse duduk-duduk di beranda dan ngobrol santai sambil menikmati teriknya matahari di bulan September.
“Fire Islands is so awesome.”
“Yeah, but do you feel what I’m feeling?”
“Like, a little uncomfortable because we are the minority couple here?”
“Yeah, I’m wondering do they feel the same thing in our normal world?”
“Man, it must be a tough world.”

10074502314_dd596add39_k

Bendera pelangin dimana-mana.

Dua hari liburan di Fire Islands pun selesailah. Kami kembali ke New York dengan sedih hati, karena saya jatuh cinta setengah mati pada Cherry Groove. Di peron saat menunggu kereta pulang ada sepasang laki-laki yang ber-tap dance berdua sambil tertawa-tawa dan pada akhirnya bertatapan mesra. Saat mereka bertukar kecup, saya sedikit iri karena aih co cwittt.
Di peron selanjutnya kami harus ganti kereta LIRR menuju New York. Pasangan tadi tidak lagi menari dan bergandengan tangan, mukanya nampak agak tegang. Kereta LIRR penuh anak-anak muda dari Long Islands yang ingin nge-bar di kota. Menurut saya peraturan LIRR ini agak sinting sih, boleh minum alkohol di atas kereta yang menyebabkan orang-orang ga bertanggung-jawab menyulapnya jadi bar berjalan.
Kereta riuh sekali, dan saya berusaha tidur karena tidak nyaman dengan orang-orang yang ribut dan bernyanyi sepanjang perjalanan. Wajah Jesse tegang, bukan karena takut tapi sebal ingin marah-marah akan kelakuan kampungan ini. Saya kurang mengerti yang sebenarnya terjadi, tapi Jesse cerita kalau anak-anak muda itu bernyanyi keras-keras dan mengejek-ngejek pasangan gay yang terjebak di tengah-tengah mereka.
Di Penn station, tujuan akhir kereta, boleh dibilang kami semua bernapas lega. Saya dan Jesse bersyukur tidak usah berhadapan dengan kelakuan norak anak muda Long Islands. Mereka menuju bar terdekat di sekitar Empire State Building dan terserah deh mau ngapain lagi. Saya mengucap doa dalam hati supaya pasangan gays tadi sampai dengan selamat ke rumah mereka dan bisa menari-nari dengan gembira lagi.

10074579386_74ba60be52_k

Syedep banget deh berandanya.

Di perjalanan subway menuju rumah saya termenung-menung mencerna pengalaman dua hari kemarin.
Tentu saja saya tidak kenal dengan sebagian besar orang di Fire Islands kemarin, apalagi seluruh pasangan sejenis di dunia. Tapi melihat betapa bahagia dan lepasnya tawa mereka di Fire Islands, saya rela membuat tempat itu rahasia, biarlah Fire Islands apa adanya. Kami-kami yang mengaku normal, sudahlah liburan di tempat-tempat umum, dimana kita bisa menatap sinis pada pasangan sejenis yang mesra, dan bukan sebaliknya.
Saat itu juga saya ingin memesankan tiket dua malam buat mbak saya dan pacarnya, agar mereka bisa merasakan surga dunia di Fire Islands.
Mbak saya dan seorang rekan di kantor adalah salah satu persinggungan saya dengan kaum gay dan lesbi. Mbak saya itu teman dekat yang baiknya setengah mati, bijaksana karena usia dan pengalaman, juga pintar. Dia kalo setengah sadar akan mendermakan seluruh isi dompetnya pada supir taksi, dan dengan tulus mendengarkan saya bercerita petualangan cinta ala ala fiksi remaja.
Rekan saya di kantor adalah web developer brilian dan baik hati sedikit berlebihan. Dia dengan sabar selalu membantu saya memperbaiki script peta interaktif saya yang acak-acakan dan saya selalu bertanya-tanya dimana dia punya sejuta energi untuk proyek sukarela bertema kemanusiaan yang dibuatnya di saat senggang. Salah satu percakapan kami ketika dia akan menikah akan selalu saya ingat.
“Now you’re getting married, how do you feel?”
“I don’t know what to feel, excited I guess. Maybe surprised, because I never thought about married before since in my country I could not get married.”
Dan saya akan selalu ingat hangat sorot mata itu saat kami ngobrol di perjalanan sepulang kantor menuju Grand Central.
Saya rela mengganti setengah manusia di dunia dengan kloning dua orang di atas. Kita akan semakin dekat dengan pengentasan kemiskinan dan belum lagi semua web akan dilengkapi API yang canggih sehingga enak dibaca, ga pake loading lama.

Tulisan ini sudah lama sekali ngendon di oret-oretan. Belum berhasil diselesaikan karena saya masih perlu waktu mencerna banyaknya perdebatan tentang fenomena LGBT. You know lah ramenya jagad maya kalau berita tentang LGBT sedang marak. Tulisan-tulisan berseliweran, dengan berbagai sudut pandang, dan kadang berasa balik lagi ke masa-masa kampanye. Kedua kubu akan keukeuh pada pendapat masing-masing, dan walaupun saya sudah tahu berdiri dimana, toh mereka belum pernah ke Fire Islands, dan mungkin saja punya pengalaman lain yang membuat mereka begitu anti.
Sahabat saya sewaktu SMA termasuk yang anti, dia akan menuliskan status-status keras menyuarakan hal ini. Saya sempat niat berdebat, tapi belakangan saya kepikiran untuk bertanya saja, ada apa di balik ketakutan-ketakutan itu? Apakah ini ada sangkut paut dengan agama? Atau dia ketakutan keempat anaknya ‘terjerumus’? Sangsi masyarakat apakah yang akan diterima kalau dia kedapetan dekat dengan gay? Apakah dia akan dipandang jijik sebagaimana dia memandang jijik di status-statusnya?
Saya tidak berminat berargumen dengan latar belakang ayat-ayat suci, karena itu berarti berdiskusi tentang pemahaman kita akan agama. Jujur saja, agama tidak selalu menarik buat saya, kecuali kalau kita bicara tentang semua agama di dunia, yang mana ga sedikit. Saya bukan malaikat penjaga surga jadi kriteria ahli surga ini saya serahkan saja pada ahlinya. Saya juga sudah malas menjabarkan alasan ini itu, dari yang ilmiah maupun bikin-bikinan. Sikap saya sekarang lebih ingin jadi orang yang pintar dan baik hati, daripada jadi yang pintar dan nyebelin.
Tapi saya pernah ke Fire Islands, saya akan pasang badan buat mbak saya dan saya sudah pernah latihan menjawab, “Gimana kalau anak lu gay? Atau adik lu gay?” Butuh seminggu untuk mengendapkan pertanyaan ini, dan pada akhirnya saya berkesimpulan adik saya ga gay. Dan kalaupun dia gay, saya akan selalu jadi kakaknya dan hati saya terlalu penuh menyayanginya, gay atau tidak selama dia jadi orang baik yang ga pernah mengeluh bantuin semua orang.
Toh pada akhirnya siapa sih yang bisa mengatur pada siapa kita akan jatuh hati? Ibu saya berpesan agar saya mencari calon suami yang seiman dan punya pekerjaan baik-baik (entah apa maksudnya baik-baik ini), tapi saya ga bisa bohong kalau saya ngiler akan stage persona Kurt Cobain dan diam-diam iri pada Courtney Love.

Saya sudah berencana untuk kembali ke Fire Islands, saya rindu bendera pelangi yang berkibar dimana-mana. Semoga Fire Islands selalu indah dan damai, tetap menjadi rahasia kecil kita. Kalaupun suatu saat Fire Islands ramai dan menjadi objek wisata mainstream, saya berharap itulah saatnya kita sudah jauuuhh lebih ramah pada sesama.

dunepoint

 

Iklan

15 thoughts on “Fire Islands

  1. Ah, dita. What a beautiful world you decribed. Sampai saat ini, aku masih belum bisa menjawab bagaimana jika anakku gay, aku tahu aku akan tetap jd ibu yg menyayanginya, tp bagaimana perasaanku, aku blm bisa jawab. Aku sendiri tidak pernah bermasalah dengan orintasi seksual, apapun itu, as long as you stay as human.

  2. lihat foto berandanya malah ingetnya ngopi pagi sambil rada masuk angin di Karimun Jawa.
    “Gimana kalau anak lu gay” itu muncul dan sekarang menimbulkan misi baru di kepala: Seksualitas itu adalah bagian dari identitas seseorang, tapi bagaimana caranya supaya si monster kecil ketika sudah tiba masanya beger, tidak memusatkan perkembangan identitasnya pada seksualitas doang. Karena dia punya banyak aspek dalam dirinya. Jadi PR gue sampai akhir adalah bagaimana dia bisa mencapai pemahaman diri yang utuh, tidak fragmented dan imbalanced. InsyaAllah dia bisa menjadi orang baik kalau perkembangan kejiwaannya utuh dan seimbang, terlepas dari apakah dia akan berorientasi pada sesama atau lawan jenis. Kalau dia utuh dan seimbang dia akan lebih mudah menemukan ketenangan dan kebahagiaan. Moga-moga PR ini dilancarkan dan dimudahkan….

  3. Nicely written Dita :) sedikit terharu bacanya. Apalagi bagian yg kamu dan Jesse merasa minoritas disana. Gak kebayang teman2 lgbt sehari2nya merasa jd minoritas :'(

    Anyway sepertinya Fire Islands tempat yg menyenangkan ya.. aku baru denger, ngebayanginnya kayak Hamptons gitu ya? Tempat liburan?

  4. Fire Islaaaand :3 terlihat bersih banget ya mbak :3 mau kesanaaaa. bawa aku kesanaaaa :’ langitnyaa indaaah :3

    Ngomongin masalah gay, hmm.. agak sensitif juga ya kalau kita bahas masalah itu ._.

  5. Ping balik: Day 13: These are a few of my favorite things | Langit, laut dan Doraemon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s