Perang status

Gw beneran capek dengan segala sepak terjang pilkada dan pasukan nasi bungkus ini. Energinya negatif, dan capek bos diskusi sama yang nyolot dan ga pake akal sehat. Capek menghadapi banyaknya berita-berita hoax, sumber ga jelas, sampe nge-bully orang yang ga sepaham dengan kita. Menurut gw ini semua udah sangat keterlaluan. Semakin lama semakin ga jelas apa sih yang diperangi?

Dan karena gw belakangan baca beberapa buku, terus merasa semua ini sebenernya sama aja sih. Naon deui sama aja. Maksudnya ada benang merahnya dan gw jadi kepikiran. Buku yang pertama karangan Reza Aslan.

Aslan writes: “In the end, there is only one way to win a cosmic war: refuse to fight in it.”

Apa itu cosmic war?

cosmicwar

Dapat dipercaya kan? Pake background sunset magis dan menyaratkan kekuasaan Tuhan gitu..

Jadi gw ga mau ikut-ikutan perang. Juga ga akan posting-posting ngajak berantem lagi. Mungkin kalo ga diladenin bakalan capek sendiri. Khususnya untuk sosial media ya.

Buat giatnya postingan wasap, ya bales seperlunya aja. Ga usah terprovokasi. Tapi karena belakangan gw banyak pikiran dan komen segala macem, kalo menurut gw tulisan itu ga sesuai dengan pikiran gw, ya bolehlah gw tulis-tulis atau ngomong-ngomong sedikit. Kalau sarkas dan nyinyir, maafkan ya, masih belajar untuk santun.

Kemarin kan dengerin wawancara Jesse dengan Arun Kundnani, professor yang nulis buku tentang terorisme. Ada satu kalimat doi yang membekas sekali buat gw. Islam itu sekarang ga punya pemimpin semacam Pope. Nabi Muhammad sudah almarhum, dan Islam yang disiarkan melalui Nabi junjungan kita itu perlahan berubah bentuk. Sekarang, terserah muslim sendiri mau menjalankan Islam seperti apa. Ini mungkin terdengar radikal, tapi kebebasan dalam menjalankan ibadah agama ini membuat gw semakin cinta Islam. Isn’t it so beautiful and liberating? Isn’t it sooo profound? Tentunya bukannya kumaha aink juga sih, manusia kan diberi kemampuan berpikir. Jadi sebenernya banyak jalan untuk menegakkan ajaran Islam, dan itu terserah masing-masing individu. Bukannya waddehel dengan ulama-ulama, ya kita dengerinlah, tapi ya ga mentah-mentah kita telan, oh kata ustadz harus begini, kata ustadz harus begitu. Bahasa Perancisnya tuh konon tabayyun. Toh kita belajar, berpikir dan pada akhirnya kita sendiri yang akan mempertanggung-jawabkan perbuatan kita. Bukan ustadz-ustadz yang sering kita kutif huruf araf dan tulisan miringnya itu.

Ini sungguhlah sejalan dengan buku lain yang gw baca, yaitu Living on Your Own Terms-nya OSHO. Tulisan dan ajaran beliau merubah banyak sekali pandangan gw terhadap dunia ini. Gw rasa sih lebih baik ya, cenderung new age reform. Halah, naon ateuh. Eniwei, di Living on Your Own Terms itu OSHO mengajarkan untuk menjadi rebel. Rebel yang dia maksud bukan bertindak anarkis dan menentang segala peraturan dan kezaliman. Rebel disini malah menjadi seorang yang memeriahkan hidup. Berbuat baik dan bersenang-senang. Menikmati hidup dengan cara kita. Kalau semakin banyak orang yang seperti ini, politikus dengan ideologi-ideologinya itu akan susah mempengaruhi banyak orang. Agak susah sih mengerti esensinya kalau cuman gw jelasin lewat satu paragaf ini. Tapi intinya lebih baik kita hepi-hepi dan menyiarkan kebahagiaan ini. Daripada sibuk sebel sana sini, yekan?

The first thing: The rebel does not believe in anything except his own experience – OSHO

Jangan lupa tune in setiap Rabu, jam 6.30 pm EST (= jam 6.30 pagi WIB), Jesse jadi host acara Trump Watch di wbai.org atau 99.5FM, disiarkan dari pemancar Empire State Building, sodara-sodaraaa… #ujung2nyapromosi

Dan nantikanlah proyek rebel, disruptif dan anarkis dari gw selanjutnya ;)

Iklan

31 thoughts on “Perang status

  1. Dita, aku baca buku Reza Aslan juga, tapi yang judulnya “Zealot The Life and Times Jezus of Nazareth”. Baru 3/4 buku. Tentang agama, aku selama ini menjalankan agama tapi juga selalu kulogika. Maksudnya apa2 yang sudah ada dalam Al Quran atau Hadits tidak serta merta aku serap dan lakukan. Musti kupikir dulu secara logika, mencari informasi sana sini, kutelaah, kuolah. Kalo sesuai daya nalar dan hatiku, ku ikuti. Kalau masih ragu2, ya nanti2 saja. Cara ku dalam beragama ini yang sering membuahkan tuduhan dari lingkungan terdekat bahwa aku adalah Islam aliran ini dan itu. Padahal aku hanya ingin menjalankan yang kuyakini sesuai hasil pencarianku. Bukan serta merta menelan mentah2 apa yg pemuka agama sampaikan, apa yg sudah tertulis dalam kitab suci. Bukannya tidak percaya, tapi manusia kan dikasih akal untuk belajar lebih banyak lagi. Tapi soal tuduhan, aku sudah kebal. Sering kujawab “Islam alternatif” 😁

      • @Deny bagus ga Zealot? Ini yang Beyond Fundamentalism bagus banget deh, pinter banget Aslan neranginnya, ga ngebosenin.

        @all Bagus deh kalian dari dulu udah begitu. Aku dari kecil diajarinnya harus gini harus gitu, jadi ga terbiasa berpikir sendiri. Mulai sekarang aku mau bikin Islam punk rock :D

      • Biasa buatku karena agak mbingungi haha *atau akunya yg ga terlalu mudeng ya. Ini sebenarnya suamiku yg beli Zealot, bahan buat thesisnya dia yg bahas tentang Yesus. Trus aku ikut2an baca soalnya dirumah banyak banget buku2 tentang sejarah Yesus. Jadi tertarik buat belajar juga, penasaran. Soalnya selama ini tertariknya sama Budha dan Hindu, jadi banyak baca buku ttg ini. Ah aku jadi penasaran buku yang kamu sebutkan. Kemaren sudah klik link yg kamu cantumkan tapi belum bener2 dibaca isinya. Nanti tak baca lagi.

      • Zealot sempet jadi best non-fiction book NYT pada masanya ya, dan dipuji-puji dimana-mana. Tapi ini Beyond Fundamentalism beneran menyenangkan deh, bagian sejarahnya agak njelimet (karena aku ga suka sejarah). Ayo mbak mari kita bertukar rekomendasi bacaan Islam alternativ, hihihi..

  2. Gw juga lelaaaahhhhh, di setiap medsos ada ajaaaa yg posting ini itu. Negatif banget auranya, jadi gw cuma mengamati aja lah ga ikut2an. Semua orang punya pendapat, semua orang nyolot huhuww :(

    • Capek banget ya liat orang adu argumen. Kalo pada pinter sih gapapa, sekalian belajar. Lah ini seringkali berkata-kata kasar, atit ati anget looohh… #akulelah

  3. Ada lagi Dit, yang berisik bilang, “kalau status orang ya biarin aja… sebarin hoax ya biarin aja kan punya pilihan dibaca atau nggak dan percaya atau nggak, jadi jangan baper”
    Ealaaah… apa sih?! Golongan ini pengen takjejelin gombal juga, mau mendinginkan suasana tapi kok ngeselin :D :D intinya, aku emang mudah kesel! hahahaa…
    Menurutku, ini nggak cuma sekedar pilkada sih buat yang endonesah ya… tapi di seluruh dunia, kayaknya semua umat manusia makin mudah memilih kebencian deh trennya… sedih.

    • Ga bisa gitu juga sih, statusmus adalah statusmu, tapi timeline milik bersama. Nyampah di ruang publik itu namanya :D Tapi aku ga setuju hoax dibiarin, itu namanya pembodohan massa, ya ga sih?
      Iya sih Ruth, poros kanan lagi menggeliat banget nih karena semakin terdesak kayaknya ya.

  4. Aku gak baca buku apapun yg kamu sebut itu tapi I FEEL YOU! Aku sejak SMP udah dianggap “beda” sendiri karena pola pikir anti mainstream kalo kata anak zaman sekarang mah.. Mirip dengan yg Deny bilang di atas deh.. Dan aku jarang peduli omongan orang tentang aku.. Maju terus pantang mundur..

  5. Hai Ditaa, salam kenal ya. Kayaknya ini komen perdana deh. Aku gak baca bukunya, tapi yaudah lah yaaa mau comment nih janji deh relate kok bahhaahhaa. Gak cuma perang status bok, di whatsapp group aja perang mulu loh. Padahal group pengajian.. udah kebal baca argumen2 ttg level keimanan sebagai muslim ada di titik terendah kalo gak mendukung ini, itu.. kenapa semua pemikiran kudu seragam, gak boleh beda gitu? *ngemil sari roti* *roti sari roti*

    • Hai Dila, salam kenal, makasih ya udah mampir :)
      Oh iya itu whatsapp group aduh maakk… Padahal awal ngumpulin orang-orang kan buat silahturahmi ya. Ujung-ujungnya malah jadi channel berita ga jelas :(
      *skip* *clear chat* *sambil minum equil infused vodka*

  6. Punten kakak.

    Mau ninggalin komen boleh teu nyak?
    Pertama-tama saya haturkan nuhun sudah bisa baca blognya walaupun belum pernah baca buku yang dibaca kakak tapi jadi menggaruk rasa penasaran buat baca.

    Ah aku cuma anak kemarin sore yang baru melek sosial media dengan ke negatifannya yang aku tanggapi dengan posting dan komen kejenakaan sambil senyum-senyum sendiri baca komen yang berperang disana.

    Pokoknya mah aku mencoba menjadi seorang netral tanpa melabeli pihak tak sejalan sambil makan s*ri roti juga minum setarbak lalu mesen pissa hats karena roti kurang ngenyangin diperut orang Indonesia seperti saya.

    Akhir kata. Salam kenal yah kak.
    Ijin pollow blognya.

    Salam

    Didi

    • Hi Didi, makasih ya udah mampir. Salam kenal, aku follow juga ah blog-nya :)
      Aku sih walopun sama-sama masih belajar, udah bertekad untuk beberapa hal ga akan netral #sikap. Justru ini lagi rajin latihan mengungkapkan pendapat dan berdialog, bahkan sama yang berseberangan pendapatnya pun. Berusaha ga melabeli sih, walopun susah :)
      Oh iya, aku juga ga minum setarbak #sikap :DDD Tapi ya klo mau begitu aku mah santei weh.
      Akhir kata, mari berteman trus aku maunya dipanggil Dita aja :*

      • Ah iya aku panggil ditaa aja kalo gitu. Bener juga sih mengungkapkan pendapat juga ngak dosa kok. Walaupun terkadang suka ada yang pro dan juga kontra. Namanya manusia yah 2 kepala dijadikan 1 aja ribet apa lagi berpendapat segrup. Ayukkk berteman terus.

  7. Ping balik: Agenda tahun baru | Langit, laut dan Doraemon

  8. Ping balik: Day 7: A book to read – 300 Things I Hope | Langit, laut dan Doraemon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s