Schipol

18 Desember 2018

Damnit. Kenapa juga harus setuju pas travel booking flight jam 7 pagi sih. Berarti kan harus sampe di airport minimal jam 5 pagi, yang berarti juga harus bangun jam 4 pagi untuk mandi dan siap-siap.

Apalagi malam terakhir di Geneva tentunya lebih asik dihabiskan dengan bercengkerama bersama teman-teman lama. Terus udah gitu harus beres-beres apartemen temen yang gw inepin lagi. Huh, ga enaknya numpang ya begini ya. Kalau hotel bisa cus aja.

Gw menggerutu dan sedikit stress menghadapi penerbangan berikutnya. Biasalah, anak ini kalo mau terbang banyakan stress daripada rileksnya. Apalagi banyak yang terjadi di sebulan ke belakang. High-level events yang berarti produksi ini itu di kantor dengan tekanan cukup tinggi, berbagai pesta dan kumpul-kumpul natal dan tahun baru di kantor dan bersama teman-teman, lalu persiapan terbang ke Geneva, acara kantor di Geneva, dll. Bulan yang seru tapi energi gw sungguh terkuras. Tak sabar segera liburan.

Iyaaa, liburan beneran ke Amsterdam dan sekitarnya! Pas nanya Jesse, libur Natal mau ke Eropa ga, kebeneran ada acara kantor di Geneva nih. Dia ga pake mikir langsung jawab, Belanda! Baiklah, mari kita kesana. Dan karena itulah, pagi itu gw geret-geret koper ke stasiun Cornavin. Untung gw udah gape packing ringkes. Untungnya lagi, tinggal jalan kaki 5 menit dari apartemen temen gw ke stasiun dan naik kereta 11 menit saja ke airpot Geneva. Widih, sebegini deketnya ga berasa mau ke airport.

Sepanjang perjalanan gw tidur, bahkan ga menggubris pramugari ketika dibagiin makan pagi dan kopi. Ga butuh. Sampe Schipol gw jalan dan nungguin bagasi setengah melek. Ngantuk banget maliiihh… Pingin cepet-cepet nyampe hotel deh. Pingin menyambung tidur dan mandi. Psst, gw bangun telat, jadi ga sempet mandi sebelum ke airport.

Tapi gw langsung cenghar begitu keluar area bagasi. Ya ampun, iya ini Schipol, gw ingat segala detilnya dan semua yang terjadi disini. Haha, lebay. Berbagai sudut terasa familiar, H&M di bagian situ, Burger King di depan, sebelahnya warung Hema. Lalu kios-kios biru kuning bertebaran untuk beli tiket kereta. Gw senyum-senyum sendiri dong liat logo ns.nl :D

Schipol ini bagaikan rumah kedua gw di Belanda :D Saking seringnya dulu nonton konser di Amsterdam lalu nginep di Schipol. Kereta terakhir dari Amsterdam ke Enschede itu jam 11 malem, dan konser musik selesai jam 11-an, jadi ketinggalan kereta deh. Seringnya gw dan teman-teman ngebar, nginep di Schipol lalu balik ke Enschede pake kereta paling pagi besoknya. Jam 6 nyampe Enschede, jam 8 udah muncul di kelas. Sungguh stamina anak muda juara ya.

Beberapa saat gw cuman terkagum-kagum akan keramaian Schipol dengan nuansa nostalgia yang kental sekali. Bau ollie bollen, aksen tenggorokan dari orang-orang yang berbicara, bule-bule yang jangkung tinggi besar. Semua detail, warna, suara, nuansa, yang tak sengaja terkubur dari ingatan, berlompatan kembali. Baru kali ini gw kembali ke satu tempat dan merasakan sensasi seperti ini, beda dari pulang kampung, beda dari perasaan kembali ke New York. Ini seperti ketemu teman lama dan semua memori menyenangkan menyeruak, menghangatkan. Sahabat dekat yang tumbuh bersama dan mengajarkan banyak hal hingga gw menjadi Dita yang sekarang ini.

Perasaan hangat dan senyum-senyum sendiri semakin menjadi-jadi saat gw naik bis dari Schipol ke hotel. Ga pernah sadar sebelumnya, gw kangen sekali akan Belanda dan betapa gw suka sama negeri kincir angin iniii…

14 Maret 2010

Campur aduk. Koper gw kepenuhan, dan duffel bag yang gw jadiin carry on kayaknya kebesaran deh. Kalo berat udah jangan tanya. Tanpa trolley tangan gw pegel banget menentengnya.

Perasaan gw kacau balau. Satu bab hidup selesai sudah, ga kerasa dan ga rela, kok tiba-tiba udah selesai aja. Segala yang menyenangkan, biasanya berlalu terlalu cepat. Huhuhu… Satu setengah tahun terasa sekejap. Dua minggu terakhir yang penuh jalan-jalan, packing dan perpisahan tidak cukup untuk membuat gw yakin untuk tersenyum meninggalkan negeri tulip ini.

Gw memilih menghabiskan waktu di cafe di luar dan bercengkerama dengan teman ditemani Amstel. Bukannya masuk bandara dan duduk di gate yang tepat. Gw benar-benar menggenggam erat detik-detik terakhir gw bersama teman di Belanda. Terlalu banyak perpisahan di dua minggu ini. Teman-teman dari berbagai negara yang dulu gw bahkan ga ngeh ada di dunia. Guru-guru yang sudah seperti kakak-kakak dan paman-paman, berbagi ilmu baik dengan lembut maupun galak. Gw terisak karena sudah kangen lagi pada mereka semua.

Nekat sekali gw baru check in sejam sebelum keberangkatan. Gw berlari dengan kalut melalui titik-titik pemeriksaan. Kalut, memanggul tas ga yang keberatan hingga tiba di gate yang sudah nyaris kosong. Hampir semua penumpang sudah boarding. Gw pun langsung duduk di kursi penumpang, sebelah kakek-kakek dan sialannya ga dapet window seat.

Semakin dekat dengan waktu keberangkatan pesawat, semakin dekat gw dengan ketakutan-ketakutan gw. Dulu gw meninggalkan karir yang sedang menanjak demi sekolah. Sayang sekali setelah lulus, belum ada bos masa depan yang mengajukan kontrak, dan gw masih terlalu malas untuk kirim-kirim CV. Dalam waktu kurang dari 24 jam, gw resmi pengangguran. Keluarga yang gw kangeni itu, cepat atau lambat akan bertanya, udah selesai sekolahnya lalu abis ini nikah ya? Membayangkannya saja gw langsung mendengus marah. Lalu apa kabar masyarakat Indonesia yang ramah tamah hingga kelewat baik sampai selalu mengingatkan untuk pakai baju tertutup dan jangan pulang malam-malam. Gw lalu terisak lebih banyak, sudah kangen lagi main-main ke bar kapan saja selama bar masih buka. Lebih penting lagi, dimana ya ada bar dekat rumah?

Belum apa-apa gw sudah kangen sekali akan hidup gw di Belanda yang segera berakhir ini. Kapan ya bisa ke Belanda lagi? Entahlah. Mimpi itu semakin pudar, pesawat siap take off. Gw pun menyesap Heineken sambil cirambay.

Maret 2019

Butuh waktu delapan tahun hingga nasib membawa gw kembali ke Schipol. Dan dari delapan tahun itu, tidak ada satu detikpun yang gw sesalkan. Nyaris satu dekade yang mengajarkan gw banyak hal, ya iyalah nyaris sepuluh tahun gitu. Tentunya banyak ketakutan-ketakutan yang akhirnya menjadi kenyataan, hingga ada episode gw nangis di Cimaja merutuki tahun 2010 yang gitu-gitu amat. Tapi ada episode gw perlahan membaik, dan reward-nya adalah gw mendapatkan pekerjaan impian gw, ga tanggung-tanggung, di New York! Lalu ada episode penyesuaian di New York, terjun ke dunia perkencanan, dll. Ah pokoknya banyak episode seru selama sepuluh tahun ini…

Banyak tempat yang juga gw singgahi dari Schipol kembali ke Schipol. Dan banyak teman kuliah di Belanda dulu yang gw temui! Ada yang berkunjung ke Indonesia, ke New York dan ada yang gw satronin di negara asal mereka! Isn’t is amazing?! Yak terus ada episode CLBK ga penting juga sih ;)

Gw menulis post ini sebagai catatan untuk diri sendiri, bahwa semesta kadang bekerja di luar nalar dan kuasa kita. Wajar saja kita takut akan masa depan yang wallahualam, tapi ujung-ujungnya lebih sering berakhir manis daripada sengsara. Gw ingin senantiasa mengingat perasaan saat gw tiba kembali di Schipol itu, perasaan bersyukur dan berterima kasih atas semua yang sudah terjadi.

Isn’t life great?

12 thoughts on “Schipol

  1. Life is unexpected in its ways!! Kadang kita emang ga tau hidup ini dibawa kemana, eh biasanya ujung2nya it’s going to be alright in the end, if it’s not, then it’s not the end yet :)

  2. Dit, ga pernah nyangka Belanda sebegitu berartinya buat kamu, sampai aku baca tulisanmu ini. Balik lagi kapan2 Dit, kan kita belum ketemuan *haha teteuupp. Soalnya kalau aku yg ke NY, masih lama kayaknya *eh tapi kan who knows ya. Kita ga pernah tahu apa yg terjadi sedetik kemudian

    • Iya aku juga ga tau segitunya setelah mampir lagi di Belanda. Atau memang sentimental lebay kalo lagi jalan-jalan sendirian :D Iya semoga bisa balik lagi atau kamu yang ke NY yaa… Pingin banget ketemuan :*

  3. gw meuni ikut terisak-isak neeeeng.. episode hidup di belanda itu emang luar biasa neeeeng, begitu banyak hal yang bikin berubah.. pun waktu gw ke belanda lagi ama pakuban, ya allah neng banyak bangeets drama kehidupannya, yang kalau diinget-inget sekarang mah bisa diketawain.. tahun-tahun hidup di belanda itu sungguh the years that changed everything (in a good ways of course).. kangeeen neeeng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s