Mudik di tengah pandemik

Tiga minggu yang lalu gw mendarat di Cengkareng, sesuatu yang ga pernah terpikirkan akan gw lakukan di tengah dunia yang dilanda krisis kesehatan tapi alhamdulillah semuanya lancar. Gimana ga terpikirkan, New York dihantam virus Corona di akhir maret dan pada puncaknya jumlah kasus baru di tanggal 14 April adalah lebih dari 10.000 kasus. Ngeri ga tuh. 

Sekarang sih kasus corona di New York sudah sangat menurun, per hari nya kira-kira 600-800 kasus baru per hari. Selama enam bulan kebelakang, gw bisa dibilang ga kemana-mana, paling hanya belanja bahan pangan atau ambil pesanan makanan, dan hal-hal esensial lainnya. Di bulan Juli dan Agustus gw udah mayan aktif keluar rumah sih, tapi bisa dibilang sangat jarang. Paling seminggu sekali. Itu pun selalu beraktivitas di udara terbuka seperti ke pantai atau ke taman. Kadang ketemu teman, tapi itu pun selalu di udara terbuka dan terbatas paling banyak bertiga. Selama itu juga gw tidak pernah menggunakan kendaraan umum kecuali ferry dimana gw langsung menuju bagian atas. Gosong-gosong deh.

Oh ya, itu dan beberapa hari bepergian ke New Hampshire untuk urusan keluarga menggunakan mobil sewaan. Dan seminggu liburan di Maine menggunakan mobil sewaan juga. Kasus covid di kedua negara bagian tersebut sangatlah rendah, hanya 4-5 kasus baru per hari. Jadi ya kemana-mana juga sih, tapi masih dalam skala lokal dan ga ada apa-apanya dibanding dengan perjalanan mudik.

Lalu gimana ceritanya tuh gw nekat mudik? Karena adik kesayangan satu-satunya itu menikah bulan ini. Gw awalnya agak pusing kepala sih, duh ngapain nikah sih? Hahaha, ini sih pesan sponsor. Tapi tentu saja gw ga akan melewatkan hari berbahagianya dan akan kuterjang segala protokol kesehatan demi hadir berkebaya dan bermasker menyaksikan dia mengucapkan sumpah setia. 

Berikut pengalaman gw mudik yang mungkin bisa menjadi gambaran bila ada yang berniat mudik juga. Untuk persyaratan dan sebagainya, sebaiknya sih selalu cek website kemenlu dan health advisory negara masing-masing. Ada baiknya juga menghubungi KBRI/KJRI setempat. Mohon untuk mengecek persyaratan terbaru karena peraturannya bisa berganti dengan cepat.

Persyaratan

Pertama-tama, gw cek persyaratan bagi WNI yang berdomisili di US untuk masuk ke Indonesia. Setelah cek website CDC, japri teman di KJRI dan cek website Kemenlu, akhirnya dapat kesimpulan bahwa persyaratan untuk sampai di Indonesia adalah sebagai berikut:

  • KTP untuk bukti WNI. WNA belum diperbolehkan masuk ke Indonesia kecuali punya KITAS atau ijin kerja resmi
  • Surat tanda bebas COVID melalui PCR/swab tes yang berlaku maksimal 7 hari dari hasil tes ke tanggal tiba di Indonesia
  • WNI yang tiba tanpa surat bebas covid akan dirujuk karantina di fasilitas pemerintah

Semenjak itu gw aktif cek website2 di atas, siapa tau berubah kan. Minimal tiap minggu gw cek.

Tes PCR

Mulailah gw cari tempat tes di New York. Sebelumnya denger-denger sih banyak tempat seperti City MD, CVS Pharmacy, dan rumah sakit lainnya yang kasih tes PCR gratis. Tapi cek cek website mereka, rata-rata hasilnya baru keluar 6-12 hari. Kayaknya sih fasilitas lab-nya masih terlalu sibuk memproses tes covid. Untungnya kantor ternyata memfasilitasi tes covid dengan mengirimkan suster ke rumah dan hasilnya keluar dalam 1-3 hari. Okeh, mari kita jadwalkan tes tiga hari sebelum tanggal terbang.

Pilih-pilih penerbangan

Setelah jadwal tes terkonfirmasi, cari-cari tiket dong. Masih banyak pilihan penerbangan New York – Jakarta, tapi ga sebanyak sebelum pandemik sih. Harga tiket juga ga berbeda jauh dengan pasaran sebelum pandemik. Pilihan jatuh ke Qatar Airways dengan pertimbangan harga tentu saja, durasi perjalanan paling pendek, protokol kesehatan yang oke dan leluasa dalam perubahan tanggal terbang. Gw juga cek persyaratan bisa terbang dengan Qatar airways, ada beberapa perbedaan syarat untuk negara asal dan negara tujuan, tapi untuk penerbangan ke Indonesia dari US, kurleb persyaratannya seperti di atas dengan PCR test sebagai syarat untuk masuk Indonesia.

Perubahan tanggal terbang sih yang bikin ketar-ketir, karena gw takut sekali ada apa-apa, misal hasil tes telat keluar, ada kebijakan baru antar negara, dll. Tiket pesawat ga murah woy. Dari mulai bulan Juni, Qatar mengeluarkan press release bahwa selama gw beli tiket sebelum tanggal 31 Sep, penumpang bisa merubah tanggal dan tujuan penerbangan tanpa dikenakan biaya. Tapi gw agak ga yakin, apalagi tiket pesawat ada kelas-kelasnya dan biasa deh kelas yang murah selalu ada ** terms and condition apply. Dan setelah kebijakan bulan Juni itu, Qatar masih ngeluarin lagi update terbarunya. Gw cek berkali-kali ke pusat reservasi dan jawabannya berbeda-beda. Hedeh, pusing. Setelah akhirnya gw yakin bahwa memang tidak ada biaya untuk merubah tanggal penerbangan, maka gw pesan tiket.

Eh terus kejadian deh gw harus merubah tanggal karena terlalu mepet sama hasil tes COVID. Pas gw urus via telpon, agen reservasi dengan entengnya bilang “Okeh bu, biaya ganti tanggal $300 plus beda fare $150.” HAH? Rasanya mau pingsan. Untung gw dengan tenang dan berdiplomasi bilang “Mas, saya sudah baca website dan cek ke pusat reservasi bahwa Qatar membebaskan biaya ganti tanggal.” Kemudian masnya ngobrol dulu dengan entah siapa dan akhirnya kembali untuk bilang “Oh iya ga usah bayar. Dan ini ada fare yang sama jadi gratis.”

Kesimpulannya: ini harus kita loh yang ngingetin agen-nya untuk fleksibilitas ini.

Berangkat dari JFK

Tiket, hasil tes covid negatif dan segala jastip sudah di tangan, mari kita mudik. Di hari H, pihak Qatar menelpon gw minta e-mail semua persyaratan di atas. Baiklah. Disarankan untuk tiba di bandara 3 jam sebelum jadwal penerbangan. Gw pun cus pake taksi online.

Sampai di JFK, permissiii… halloo pada lagi kemana ya? Ini JFK apa padang sunyi di antara rerumputan? Alias sepi banget. Butuh hanya 20 menit dari mulai gw turun taksi, cek in koper, security check sampai gw duduk manis di gate keberangkatan. Yang udah pernah terbang dari JFK atau airport di Amerika lainnya pasti masih ingat bahwa airport di Amerika itu penuh kayak pasar, dan biasanya banyak titik-titik antrian terutama di security check saat kita harus lepas sepatu, keluarin barang elektronik dari tas, dll. Kmaren itu beneran ga ada antri. Semua pengunjung wajib mengenakan masker dan pengantar tidak boleh masuk bandara sama sekali.

Semua restoran tutup, untung gw berbekal sebungkus granola – karena gw kalo laper berubah jadi monster. Nyaris semua toko di bandara tutup, kecuali beberapa toko parfum. Hmm, emang sih disinyalir kita jarang mandi selama pandemik ini, tapi ya ga usah gini-gini amatlah.

Padang sunyi JFK

Selama penerbangan

Boarding pesawat dibagi per zona dan cukup strict agar pas ngantri ga berkerumun. Sesaat sebelum boarding Qatar Airways membagikan face shield, face shield dan masker dihimbau untuk dipakai sepanjang penerbangan kecuali saat makan dan minum. Ini pertama kali gw pake face shield, terus gw ga ngeh kalo ada plastik pelapis yang harus dicopot. Sampe diketawain para pramugarinya :D

Penerbangan JFK – Doha cukup “penuh”, semua kursi aisle dan window nyaris terisi penuh, middle seat sengaja dikosongkan. Di awal penerbangan dibagikan sarung tangan karet, masker dan hand sanitizer untuk setiap penumpang. Pramugarinya pun pakai masker, kacamata dan haz mat.

Terus terang gw merasa ga nyaman banget pake face shield, berasa tukang las. Apalagi di tempat sempit face shield gw berkali-kali nyangkut sana sini. Mana face shield gw kegedean lagi, jadi melorot muluk. Tapi sebagai warga New York yang masih di kategori parno, ya gimana lagi ya. Untung anaknya pelor, alias setelah makan malam gw langsung tidur dan baru bangun saat makanan berikutnya disajikan. Pelor adalah anugrah.

Begini aja terus kecuali pas makan minum

Transit di Hamad International Airport

Gw tiba kira-kira pukul 8 pagi di Doha dan Hamad airport sepi banget. Seperti JFK, toko-toko masih pada tutup. Gw langsung pergi ke spa untuk mandi. Ini kebiasaan gw tiap transit di penerbangan panjang sih. Mau pandemik atau ga gw selalu mengusahakan mandi biar segar di penerbangan berikutnya. Sebenernya gw ga terlalu yakin kebiasaan mandi ini bagus atau buruk di saat pandemik, tapi menurut gw make sense untuk mandi, keramas dan ganti baju, dengan catatan jaga jarak di ruang ganti. Untungnya, spa-nya kosong, gw cuman satu-satunya pengunjung yang numpang mandi pagi itu. 

Penerbangan berikutnya dari Doha ke Jakarta kosong banget. Mungkin cuman ada 50 penumpang untuk pesawat kapasitas 400 orang. Gw dapet satu baris sendiri dan baris depan gw kosong, baris belakang gw juga kosong. Gw sudah mulai terbiasa dan ga se-deg-degan di penerbangan berikutnya. Dan tentunya gw pelor lagi. Sebelum mendarat pramugari membagikan kartu kesehatan yang harus diisi – yang sebenernya bukan kartu sih, cuma fotokopian gitu.

Tiba di Cengkareng

Begitu mendarat di Cengkareng, seluruh penumpang diarahkan untuk duduk di kursi yang berjarak dengan aparat kepolisian membantu kita mengecek dokumen yang diperlukan. Entah kenapa tiap berada di setting model begini gw berasa lagi try out UMPTN :D Abis itu satu persatu maju ke meja di depan untuk dicek suhu, kadar oksigen dan kartu kesehatan yang sudah diisi pun dibagi dua, satu untuk kita, satu ditandai daerah tujuan kita. Karena gw akan ke Bandung, kartu gw dibubuhi tulisan PMI Jabar. Yay PMI! (Sukarelawan Red Cross selalu hepi kalo liat peran Red Cross di berbagai aspek kehidupan). Setelah itu kita ngantri lagi untuk dicek validasi hasil PCR yang kita bawa. Yes, surat gw valid maka gw boleh melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Untuk yang ga punya hasil PCR, disarankan untuk isolasi di fasilitas rujukan pemerintah, tapi gw ga ngeh apakah orang-orang ini wajib pergi ke tempat tersebut atau ada opsi isolasi mandiri juga. 

Overheard di meja sebelah gw:
“Mbak, aku dapet hasil PCR-nya dari pemerintah UK dalam bentuk SMS gitu. Berlaku ga?”
“Oh, UK yang di Inggris?”

Di pintu keluar ada aparat kepolisian lagi yang mengecek dokumen-dokumen, entah dokumen apa yang sebenarnya dicek, mereka mandang-mandangin paspor, boarding pass, surat PCR yang dicap valid sambil basa-basi ngobrol. Begitu tau gw akan ke Bandung mereka ngobrol basa Sunda logat Medan :|

Oh ya, keseluruhan proses di atas terjadi secara verbal alias ga ada plang-plang atau apalah yang menjelaskan proses pemeriksaan. Semuanya dijelaskan secara langsung oleh para petugas.

Cengkareng juga sepi minta ampun, sungguh berbalik 180 derajat dari terakhir kali gw dateng. Selain antrian cek-cek berbagai dokumen terkait covid, yang mana lumayan cepat karena kebetulan saat gw mendarat cuman ada rombongan dari pesawat gw, tidak ada antrian sama sekali di imigrasi, baggage claim dan baggage re-check. Penjemput hanya boleh menjemput di meeting point yang mana beneran krik krik krik, sepi bener.

Antrian imigrasi di bandara Cengkareng

Setelah nyaris 24 jam gw di udara dan di berbagai bandara, akhirnya gw keluar dari Cengkareng dan menghirup udara Jakarta yang panas dan lembab. Ugh, lega sekali akhirnya berada di luar ruangan, semenjak pandemik gw sama sekali ga terbiasa berlama-lama di ruangan ber-AC. Dan lebih lega lagi saat ketemu Papa, Mama, adik gw dan adik sepupu yang menjemput. Segala kejelimetan bepergian di era pandemik dan keparnoan gw sungguh worthed untuk ketemu dengan mereka semua secara langsung. Tentunya kami hanya salam covid – ga pelukan – dan gw mandi dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung. Untuk lika-liku isolasi mandiri dan pernikahan adik gw, itu cerita lain lagi :)

Kesimpulan gw dari mudik saat pandemik ini: Gw sangat bersyukur bisa pulang dan ketemu keluarga walopun dunia sedang gonjang-ganjing pandemik. Lega sekali rasanya melihat semua sehat-sehat dan bisa beradaptasi cukup baik dengan perubahan keseharian di masa kritis ini. Salah satu yang bikin khawatir selama pandemik dan ketidakpastian ini adalah: apakah gw bisa ketemu keluarga lagi? Mungkin ya nanti akan ada saatnya, tapi siapa yang tau, ya ga? Para perantau pasti familiar dengan perasaan ini.

Apakah gw akan terbang untuk liburan? Nope. Buat gw pribadi, keribetan perencanaan dan penyesuaian kebiasaan travelling ini ngeri-ngeri sedap tapi lebih banyak ngerinya. Gw lebih nyaman berada di rumah tanpa khawatir dan ga ribet dengan atribut anti-covid. Liburan penting untuk kesehatan mental kita, tapi ada alternatif liburan dimana kita ga harus terbang, bisa membatasi ruang agar ga ketemu orang banyak dan sebisa mungkin banyak berada di ruangan terbuka. Lagian katanya, holiday is a state of mind :)

P.S.: Semua bandara yang gw singgahi menerapkan protokol covid untuk jaga jarak, ada marka-marka jaga jarak di setiap antrian, banyak kursi yang diberi tanda X untuk tidak diduduki dan ada hand sanitizer dispenser dimana-mana. Gw kurang memperhatikan apakah orang-orang pada patuh pakai masker atau ga, karena terus terang selama pandemik ini gw lelah hayati soal urusan masker ini. Gw akan selalu pakai masker saat di tempat umum dan bertemu orang yang tidak serumah dengan gw, tapi kalo lu ga pake masker wes sakarepmu lah.

Demikian pengalaman gw. Sekali lagi, mohon jangan jadikan posting ini sebagai panduan, ini hanya berbagi pengalaman. Kalau memang berniat mudik harap untuk selalu cek langsung ke sumber informasi resmi. Semoga kita dan orang-orang tersayang sehat-sehat ya, dan akan segera tiba waktunya kita bisa bepergian tanpa rasa waswas.

Dan untuk yang bertanya apakah gw bisa kembali ke New York? Iyes, saat menulis ini gw sudah kembali di meja kecil WFH gw dari Brooklyn. Saat gw menulis ini, pemerintah US hanya mengeluarkan peraturan tertentu buat pendatang dari Iran, China, Brazil dan Eropa. Gw rasa ini ga pernah di update dari semenjak bulan Maret deh. Santuy da disini mah :|

16 thoughts on “Mudik di tengah pandemik

  1. Dit ini sebenarnya cerita agak serius ya karena kalau sudah ngomong tentang Pandemi, aku dah merasa tegang sendiri. Tapi karena cara menulismu yg apa adanya, jadi malah banyak ngakaknya 🤣 apalagi yang bagian UK. Jadi ingat pernah ditanya sama seorang Mbah dikampungku : suamimu londo negara mana? Aku terdiam sesaat, bingung jawabnya. Tau londo tapi kok nanya negara mana. Trus aku ingat, ohh buat mbah di kampung, kalau Bule itu disebutnya Londo, mau dari negara manapun.

    Thanks Dit sudah berbagi cerita. Selamat menikah buat adikmu. Langgeng2 dan bahagia selalu. Sehat2 juga buat kalian di NYC

    • Abis kalo ga dingakakin entahlah bagaimana lagi aku menghadapi 2020 ini :|

      Haha iya aku inget soal londo-londoan di kaset lawak Dono “Londo kan macem-macem, Londo Inggris, Londo Jerman, dst…”

      Makasih Den. Sehat-sehat juga ya buat yang di negara Londo Belanda :)

  2. Selamat atas pernikahan adiknya mbak Dit.

    Baca ini baru ngeh kalau berpergian wni di US ke Indo dan kembali lagi masih bisa. 🤔tapi protokoler yang ketatnya ribet banget ya. Ada keharusaan karantina 14 hari di negara msg2 setelah tiba?

    Thanks for sharing the story

    • Bener sekali jawaban Mbak Kutubuku :)

      Di US sendiri cuman 5 negara yang disebutkan di atas yang ada kewajiban karantina. Bosku kan balik ke Jerman yah, blio cerita pas balik ke NY beneran dia ditelpon setiap 2 hari sekali dan di hari ke-10 ada health officer yang tiba-tiba ngetok apartemennya buat ngecek.

      Sementara pengalamanku, super santuy. Alias ga ada pengecekan apa-apa terkait covid. Bahkan pengumuman atau poster wajib karantina pun ga ada.

  3. (((UK yang di Inggris)))? NGAKAK!!

    Sehat selalu ya Din, gileeee berani banget mudik dan terbang saat covid, tapi demi adik ya….selamat buat adiknya dan semoga bisa balik lagi ke NYC dengan lancar.

  4. Gue bacanya berasa ikut deg-degan, capek, ribet dan pas berhasil mendarat di Cengkareng ikut lega dan seneng juga. Trus sekarang jadi tambah sakaw mudik tapi visa gue udah expired dan kantor konsulat US masih pada tutup.

    • Oh no… urusan visa ini juga selalu bikin deg-degan ga sih. Semoga segera beres ya urusan visa-nya. Iya nih US banyak menyetop segala pervisa-an. Sebenernya sih mudik ga perlu visa, balik ke US nya yang perlu visa. Visa BSD masih berlaku kan? Hihihi…

  5. Alhamdulilah semua lancar ya selamat sampe NY lagii, aku kepikiran mau mudik taun ini tadinya tapi karena ngga ada acara yang penting, ditunda jadi taun depan… masih berharap bisa spring break di bali eh tapi ya kita liat aja nanti deeehh ;)

    • Wah spring break di Bali sepertinya menarik :)
      Tapi liat kasus covid di Jakarta akhir-akhir ini aku kok merinding disko sendiri ya :|

      Sehat-sehat di California sana ya Ta… btw kayaknya NY sudah lumayan terbuka, kasus baru lumayan stabil, museum udah pada buka. Tapi entahlah, gw masih ga rela NYC jadi seperti ini karena pandemik.

  6. Mbak Dita ikut komen ya….sama seperti yg lain, ikut ngakak pas bagian UK yang di Inggris. Bwahahaha….Btw berasa trenyuh ga mbak ga ketemu ortu dan sodara tapi cuma bisa salam covid? Pas Lebaran Haji kemarin aku juga begitu sama ortu. Salting sendiri mau salam dan peluk mereka eh mereka malah nolak dan cuma ngasih salam covid. Nyess rasa hati ini sesudah berbulan-bulan ga ketemu langsung sama ortu, pas giliran bisa ketemu ga bisa meluk. Lhah malah curcol…maafkeuun :(

    • Salam kenal Imelda! Huhu, iya trenyuh banget ketemu keluarga… Tapi aku sih memang parnoan jadi akunya yang salam Covid. Setelah karantina ala ala selama 14 hari dan hasil tes swab negatif lagi, baru deh aku peluk-pelukin semua keluarga :)

      Aku follow blog nya ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s