Tentang Ditaa

Paperfolding, girls band and sometimes talk about love. All over beers.

Afropunk dan Raphael Saadiq

afropunk1

I am still high from the Afropunk energy.
OMFG! Festival musik Afropunk dua hari ini sungguh seru, berwarna dan soulful sekaliiii…
Afropunk membuat festival Governor’s Ball maupun Austin City Limit terlihat datar dan pucat. Didominasi musisi kulit hitam dan tagline punk sebagai semangat rebel membuat festival ini bukan hanya festival musik lainnya, tapi ajang setiap orang berekspresi tentang nilai-nilai luhur seperti no sexism, no racism, no transphobia, no fatophobia, dll.
Naon deui nilai-nilai luhur. Tapi youknowlah… Semangat musik sebagai #wethepeople. Argh! *histeris tak terlukiskan*

Para penonton yang datang ke Afropunk membuat para dedek-dedek Coachella terasa membosankan. Jangan harap menemukan cewek dengan ikat kepala, celana pendek jeans robek-robek dan tanktop ala-ala Taytay (walopun ada aja sih). Audiens Afropunk hadir dengan fashion statement paling berani. Lipstik biru, rambut afro pink, crop top dan rok-rok lebar berjuntai, ga peduli ukuran :) Pada cantik-cantik amat deh…
Energi penonton Afropunk ini sungguh luar biasa. Semua bernyanyi bergoyang bau cimeng di segala penjuru :D Bebaskeunlah..

Dan taun ini headliner-nya adalah Solange dan Raphael Saadiq. Yup, the one and only Solange, the one and only Mr. Saadiq. Karena satu dan lain hal gw cuman nonton hari kedua dengan bintang tamu puncak Raphael Saadiq. Aaaaakkkkk *histeris dulu* Soalnya gw suka suka suka pake banget sama Raphael Saadiq.
Sebenernya gw tau Saadiq juga baru tiga tahun terakhir ini. Selera musik gw sebelumnya kan didominasi indie rock. Gw stop dengerin R&B taun 2000-an, karena merasa jiwa hardcore gw tak terwakilkan, hihi. Semenjak pacaran sama Jesse, mulailah gw menjelajahi musik ini kembali, dimulai dengan dengerin Stone Rollin’ dan jatuh cinta sama lagu Over You. Buat gw image Raphael Saadiq sarat akan nikmatnya R&B 90-an, lagu-lagu seksi dan cinta-cintaan sekaligus pintar dan berbobot. Produksi Saadiq selalu pas kalo ga bisa dibilang minimalis, jauh dari glamornya musik soul dan hip hop yang bertebaran di industri musik belakangan ini. Bahkan segospel-gospelnya pun musik Saadiq ga terasa keroyokan. Coba bandingin deh musik-musiknya Rihaana dan Beyonce ;) you know what I mean.
Gw juga baru sadar belakangan kalo Raphael ini salah satu pentolan Tony! Toni! Tone!. Padahal waktu Radio Oz ulang tahun, lagu Anniversarry diputer tiap jam, selama sebulaneun.

saadiqPecah dong pas konsernya di Afropunk kemaren. Entah kapan Saadiq terakhir manggung, untuk konser besar terakhir tahun 2013. Selama vakum Saadiq lebih rajin kolaborasi dan main-main di ruang produksi. Mungkin sering juga ya di West Coast, tapi penduduk New York sudah kangen sekaliiii… Secara keseluruhan Saadiq adalah penghibur sejati sekaligus musisi handal. Udah jangan ditanya suaranya yang buat gw tebal tipisnya pas, dan doi juga mahir betot bass dan gitar, main drum, etc. Kalo bisa sendirian jadi band :D
Penampilan Saadiq and the band di Afropunk kemarin megah ala show di Vegas. Full band, full brass section dan Saadiq nongol dengan buletan hitam besar di mata kirinya khas album Instant Vintage. Doi banyakan nyanyi -anehnya- lagu orang yang tentunya hasil kolaborasi atau campur tangannya sebagai produser. Agak ganggu sih, gw suka musik Saadiq karena pas dan minimalisnya kan. Tapi emang nampaknya Saadiq setelah malang melintang sebagai produser lebih suka proyek rame-rame daripada menonjolkan dirinya sebagai superstar. Dan apalah artinya itu semua ketika mas-mas hitam, bertato dan berotot di depan gw sibuk bergoyang dan bernyanyi fasih sepanjang lagu lengkap dengan ekspresi merem melek menghayati betapa sexy-nya lagu Never Give You Up. Gw sendiri sudah pecah saat lagi Dance Tonight dinyanyiin dan kembali pecah saat Anniversarry (!!) berkumandang.
Nyaris di penghujung pertunjukan hadir Bilal, yang berarti sudah saatnya lebaran *kriuk* Ga ding, tapi dia duet Soul Sister. Duwiuwiuwiuwiuuuu… seluruh penonton seolah bersiul bareng Bilal.
Konser pun ditutup dengan Sky Can You Feel Me.

Gw pulang dengan ceria dan senyum-senyum sendiri kecipratan aura bahagia berlebihan dari para fans Saadiq. Walopun harus jalan sekitar 30 menit dan sungguh kaki ini pegal bukan main, dalam hati gw bertekad untuk hadir di Afropunk tahun depan (atau di Paris, amin Ya Allah) karena festival musik ini seru banget dan salah satu festival musik unik di New York.

Iklan

Pantai Rockaway

rockaway1Masih tentang musim panas. Musim favorit yang nyaris selesai. Secara kegiatan mantai, lumayan maksimal karena nyaris setiap wiken gw akan manggul tas pantai gw dan cabs ke.. Manalagi lah selain Jacob Riis di jajaran Rockaway. Rasanya gak ada yang lebih penting dari Jacob Riis Park selama summer ini. Hahaha…
Sebenernya New York punya banyak pantai. Ada Coney Islands yang terkenal dengan Luna Park-nya, Brighton Beach yang didominasi imigran asal Rusia dan Eropa Timur, lalu ada hamparan panjang pantai sepanjang Long Islands. Tapi Jacob Riis Park yang bagian dari hamparan pantai Rockaway punya soft spot di hati gw. Relatif dekat dan low-key. Tiap kesana bawaannya hepi dan merasa #lyfeisgood #goodvibesonly. Padahal kalo dipikir-pikir apalah pantai ini, ga cakep-cakep amat. Mau dipake surfing, sudahlah ya ga usah dibandingin sama pantai Bali yang ombaknya gede tapi landai jadi bisa surfing panjang dan lama. Arusnya cukup kencang, jadi kalo cuma mau rendem-rendem cantik agak repot juga. Warna lautnya juga bukan biru turkis, cenderung biru gelap. Pasirnya rada putih sih, tapi ga halus-halus amat. Singkat kata, banyak pantai yang lebih cakep dari Jacob Riis Park.

But I heart it.
Ramones aja sampe bikin lagu tentang Rockaway.

Gw suka karena sepanjang pantai ini ga ada resort atau hotel berbintang. Ya kali males juga invest buat hotel, pantainya nanggung. Tapi hal ini membuat Rockaway milik bersama. Ga ada pantai pribadi buat kaum jet set. Gw kok sosialis begini ya ;)

Banyak jalan menuju Rockaway
Berbagai moda transportasi udah gw coba buat mencapai Rockaway. Paling gampang sih naik mobil pribadi atau uber, biasanya sekitar sejam. Paling murah naik subway ($2.75 one way), tapi kadang lamaaa, tergantung keberuntungan dapet kereta A yang langsung ke Rockaway atau harus ganti2 kereta A terus S terus bis, terus keburu laleran deh.
Semanjak musim panas ini ada ferry dari Wall Street ke Rockaway, sejam perjalanan saja dan semurah subway. Seru sih naik ferry, merasakan semilir angin sambil memandang Manhattan. Tapi ferry-nya sering telat dan saat wiken masyarakat kelas menengah membludak pingin naik ferry. Mungkin karena masih baru juga, manajemen ferry ini masih banyakan manyunnya.
Selain itu, ada minivan gelap murmer ($7 one way) dengan rute Jacob Riis-Williamsburg pp. Tapi namanya juga van gelap ya, dia agak gak pasti dan sering sesuka hati munculnya.

rockawayferry1

Seru sih naik ferry balik dari Rockaway sambil puas-puasin mandangin sunset.

Dulu gw sering pergi naik nyc beach bus ($12.5 one way), seru ini menuju pantai pake bis sekolah kuning. Karena disponsori Six Points, all you can drink and all you can grab, walhasil perjalanan balik ke NYC pasti penuh dengan anak muda tertawa dan bernyanyi bahagia berlebihan :D Tapi akhirnya gw stop pake beach bus karena jadwalnya yang kurang fleksibel, mereka cuman beroperasi jam 11.30 (menuju Rockaway) dan 6pm (menuju NYC). Pas gosong-gosongnya banget kan.
Kayaknya opsi yang belum pernah gw coba cuman naik helikopter aja :)

Aktivitas di Rockaway
Jacob Riis sendiri hanya sebagian kecil dari pantai Rockaway yang panjang. Bisa dibilang Rockaway ini secuil peninsula dari Long Islands, jadi aktivitas di Rockaway cukup beragam. Di bagian yang menghadap Samudra Atlantic, ombaknya cukup besar jadi bisa berselancar. Di bagian Rockaway yang menghadap Jamaica Bay, kita bisa main kayak, standup paddleboard alias main getek :D Banyak juga yang menyewakan jetski dan perahu untuk berlayar.
Di sepanjang pantai Rockaway banyak tempat jajan dan mimik-mimik.
Sayang sekali boardwalk Rockaway rusak parah akibat Hurricane Sandy beberapa tahun lalu, sebagai gantinya sepanjang pantai dibeton. Lebih mirip lapang parkir, tapi mayanlah daripada lumanyun. Lagian, keamanan lebih utama, bukan begitu permisah?
Downtown Rockaway sedang menggeliat, sehingga banyak bermunculan tempat makan seperti Beer Garden, Rockaway Surf Club dan restoran baru. Favorit gw adalah Rockaway Roasters, coffeeshop berjarak 2 blok dari stasiun kereta, tempat pas untuk janjian sebelum mantai atau SUP.

rockawaypaddleboard1

Main getek modern.

Aktivitas di Jacob Riis
Ga banyak yang ditawarkan Jacob Riis selain hamparan pasir, garis pantai yang lumayan panjang dan bazaar kecil buat jajan dan kalo weekend ada live music. Tapi gw anaknya mure, ini aja udah bikin hepi kok. Yang penting gw nyampe di pantai, jajan burger sama stroberita (sejenis frozen strawberry margarita yang menurut gw jadi trade marknya Jacob Riis Park, padahal mah di bar lain juga ada kali), gelar tiker, ngobrol-ngobrol, cebur-ceburan sejenak, baca buku trus pulang deh. Kadang makan eskrim sambil nungguin bis.
Entahlah, menurut gw vibe-nya Jacob Riis ini pas banget. Kebanyakan pengunjungnya beraroma hipster sih, tapi ya sudahlah. Yang penting sopan dan ga party mode on selalu. Dan seperti sudah disebutkan sebelumnya, azas kerakyatan yang adil dan beradab membuat gw selalu merasa nyaman di Jacob Riis.

Oh Rockaway, I’m gonna miss you so much!!

rockawayband1.jpeg

Live band di Jacob Riis Bazaar musiknya keren-keren, seringnya punk, rock n roll atau big band.

rockawaybird1.jpeg

Tiap sore burung-burung camar di Rockaway rapih berbaris.

Something to Tell You – HAIM


Album yang paling dinantikan tahun ini.

Sampe lupa, belom nulis apa-apa tentang album barunya HAIM. Padahal ini loh yang dinanti-nanti sepanjang setengah pertama tahun 2017.

Sebenernya belum pernah nulis apapun tentang HAIM padahal levelnya setaralah sama Electric Guest dan Hinds. Kadang aja nyeletuk tentang HAIM di blog, apalagi kalo bukan ga sabar pingin album baru!!!. Dengerin HAIM bisa berulang-ulang, on repeat behari-hari. Waktu karaoke dan ada lagu The Wired, oh maaakkk hepi sekali berasa jadi Alana.

Pertama kali kenal HAIM tahun 2013, lupa gimana-gimananya, tau-tau udah muter album Days are Gone ratusan kali. Favoritnya waktu itu The Wired dan Don’t Save Me. Buat gw sih HAIM adalah suara 80is/90is yang dirindukan dengan nuansa Wilson Phillips yang modern. Produksi rekamannya bersih, lengkap dengan harmoni paduan suara ala Wilson Phillips, tanpa embel-embel electronika berlebihan yang saat itu lagi menjamur. Ditambah ketiga kakak beradik HAIM ini main musik dan terlibat sangat intens dalam memproduksi albumnya. Ya kira-kira begitulah.
Pas banget, waktu itu gw masih gandrung nonton festival musik sana sini, dan mereka salah satu line up bawah di Austin City Limits. Hore hore mari nonton HAIM! Walaupun realitanya kita memilih makan Macdonalds (penting banget), ngantri cukup lama menuju venue dan sebagian besar dengerin HAIM dari pager luar. Tapi gw lihatlah aksi-aksi terakhir HAIM ini cukup seru. Danielle dengan gaun spaghetti strap bunga-bunga (sumpah deh satu seri sama boots dan topi lebar berbunga matahari, if you know what I mean), mainin bass dram di tengah panggung lalu dia moshing. Penontonnya waktu itu juga segelintir.

Lalu album barunya? Ya tentu aja HAIM banget! Alias gw udah fans berat dan kangen banget, hingga udah ga bisa mengulas dengan objektif. Tapi suara-suara alahaim ini emang ga ada kan akhir-akhir ini? Bahkan CHVRCHED dan Chairlift aja yang menurut Spotify mirip, menurut gw masih terdengar terlalu indie dan modern.
Album Something to Tell You ini pun kental dengan tema patah hati, yang mana kita semua familiar banget kaaan… Elo aja kali Dit *ditoyor pemirsa* Tapi beneran ga salah menurut NME album ini cocok jadi soundtrack road trip pasca putus hubungan pacaran bareng sahabat-sahabat sambil berseloroh “Cowok brengsek!!” tapi terus pas bagian “Just to know that I want you back..” diaminin banget. Pokoknya pas banget pas bagian masih ngarepnya itu loh.
Sejauh ini sih lagu favorit gw A Little of Your Love, Ready For You sama I Want You Back. Gw juga suka Right Now, nomor balada yang diselipkan terakhir. Formula album 90-an banget kan ya, album keseluruhan pop upbeat tapi pentinglah diselipin satu dua lagu sedih. See? Ga berubah kan HAIM ini walopun sekarang udah jadi sahabatnya Taylor Swift dan mendapat arahan dari Stevie Nicks.

Kadang sambil dengerin HAIM gw mikir, apa bener ya kata orang, musik bagus itu cuman ada di masa pertumbuhan? Terbukti kan gw sukanya musik-musik 90is dan kalo ada musik baru pun pasti memper-memper. Apakah benar kita ini sekarang termasuk old soul yang telinganya menutup dengan sendirinya terhadap kemajuan musik setelah ambang pendengaran kita perlahan-lahan menurun? Hmm…
Tapi lalu lagu You Never Knew dari HAIM berkumandang, intronya sangatlah pekat dengan pengaruh Fleetwood Mac, dan gw mikir lagi, pusing-pusing amat sih. Musik mah dinikmati aja sesuai suasana hati. Dan sah-sah saja menikmati HAIM walau ga patah hati tapi lebih kepada nostalgia akan musik-musik radio Oz jaman dulu.

Playlist ciamik dari buku

Saat bosen dengan playlist akhir-akhir ini dan ceki-ceki goodreads -kegiatan ga nyambung tapi akhirnya nyambung juga, mata gw terantuk sampul buku One Day. Kangen 1000 lagu di Emma Morley music yang sudah almarhum itu dan gw jadi kepikiran buku apa lagi ya yang musiknya oke? Tercetuslah ide mencicil musik-musik yang disebut di buku. Emang sih melampirkan musik di buku itu walopun lumrah tapi seperti dua kegiatan dengan medium yang berbeda. Meskipun begitu, banyak juga buku dengan lagu-lagu yang bukan hanya berfungsi sebagai latar tapi juga jadi salah satu bagian penting buat plot cerita.
Alhamdulillah banget ya buat teknologi, jaman sekarang ga usah berburu vinyl atau main ke Aquarius, udah ada yang dengan baik hati merangkum lagu-lagu di buku itu jadi playlist bok! Tinggal klik lalu berkumandanglah lagu yang jadi bagian penting pembentukan karakter di buku kita. Walopun ga dilarang juga loh kalo mau koleksi. Berikut buku-buku yang menurut gw playlist-nya ciamik:

oneday2

Nyolong dari sini

One Day – David Nichools
This is the mother of all playlist! Campur sari dari The Kinks sampai Tricky. Di Emma Morley music bahkan ada dua album cello suite yang jadi andalan gw kalo harus nulis dan konsentrasi. Saking dahsyatnya playlist ini, gw udah pernah nulis satu postingan sendiri. Sampe sekarang pun kalo gw lagi butuh inspirasi musik baru, gw akan cek playlist-nya David Nicholls di spotify. Gw suka banget selera musiknya yang ga kenal rentang waktu dan genre, musik baru lawas kenceng mendayu-dayu ada semua.
Dengerin disini.

 

29173700930_2e51d055fe_z1.jpg

Dari sampul dan judulnya udah jelas banget buku ini sarat musik

Hairstyles of the Damned – Joe Meno
Bukunya udah pernah gw bahas karena buku ini membuat gw berdamai dengan masa SMA gw. Brian Oswald si anak metal naksir Gretchen si punk rock girl. Walhasil Brian jadi dengerin lagu-lagunya Gretchen kalo keliling-keliling bareng. Sebagai punk wannabe, playlist-nya Gretchen ini heits banget buat gw. The Special, the Smiths sampe Dead Kennedy. Sedangkan lagu-lagunya Brian seperti Iron Maiden, Guns n Roses dan Led Zeppelin, pernah gw dengerin pada masanya, tapi udah jarang sekarang. Di spotify playlist-nya masih banyakkan punk daripada metalnya sih, plus selipan lagu-lagu romantis Keith Sweat. Joe Meno kamu manis banget deh!
Dengerin mixtape-nya disini.

 

belcantoeditBel Canto – Ann Patchett
Gw baru aja namatin buku in seminggu yang lalu dan masih terngiang-ngiang sampe sekarang. Ceritanya tentang penyanderaan petinggi-petinggi negara dan diplomat di rumah perdana menteri dan salah satu yang disandera adalah penyanyi opera. Ann Patchett seperti biasa mengalirkan ceritanya bagai air dan menggambarkan kejadian mencekam ini dengan sangat cantik. Gw sampe pingin ikut disandera juga supaya bisa menikmati suara Roxanne.
Gw bukan penggemar opera, pernah nonton beberapa kali dan gw cuman manggut-manggut menikmati tapi ga yang terperangah banget. Terus yang kepikiran adalah Bianca Castaviore dari komik Tintin. Abis itu janji ga akan nonton opera lagi. Ha! Tapi setelah baca Bel Canto, gw jadi pingin mencoba nonton opera lagi. Dengerin playlist-nya sih udah, tapi ga cocok sambil bikin infographic. Mungkin akan dicoba di lain suasana.
Nikmati suara sopran yang menginspirasi Ann Pacthett disini.

eleanorparkpalylist

XTC? The Misfits? Joy Division? Yes! Sumber.

Eleanor and Park – Rainbow Rowell
Salah satu buku YA yang akan selalu hidup di hati gw. Ceritanya sesederhana cinta monyet Eleanor and Park, dan setting 90ies membuat tukeran kaset dan mendengarkannya pake walkman jadi bagian penting dari tumbuhnya hubungan mereka. Tentu saja lagunya bikin nostalgila parah, walopun 90ies buat gw adalah Pearl Jam bukannya XTC. Gw akan selalu ingat mereka berdua saat dengerin Love Will Tear Us Apart.
Rainbow Lowell bikin playlist buat masing-masing Eleanor dan Park, side A dan side B (!!), dan cerita cukup detail tentang tiap lagu di posting ini.

 

haruki

Murakami koleksi PH-nya dahsyat! Gambar dari sini.

Haruki Murakami
Buat pembaca Murakami, udah ga asing lagi kalo cerita beliau bertebaran lagu jazz, klasik dan pop rock classic. Norwegian Wood sendiri diambil dari judul lagu Beatles kan. Udah gitu pasti deh para tokoh-tokohnya Murakami nyetel jazz sambil menikmati kesendirian di apartemen mereka yang minimalis. Udah kayak formula wajib plot Murakami. Jangan harap ada basement party dengan lagu disco karena karakter tokoh-tokoh Murakami udah pasti soliter dan cenderung introvert akut.
Ga banyak yang gw inget dari lagu-lagu di bukunya karena gw sendiri bukan penggemar jazz kecuali sebulan setelah nonton jazz festival. Tapi ada kok lagu Jazz yang gw suka seperti vinyl-vinyl Jazz nya Jesse. Playlist yang dikompilasi berikut ini ga spesifik dari buku tertentu, tapi dari berbagai buku. Secara ya, kadang Aoyame dengerin satu lagu doang, Leoš Janáček’s “Sinfonietta”, ituuu aja diputer terus-terusan sepanjang buku.
Mari mengulang-ngulang playlist-nya Murakami.

Bonus:
High Fidelity – Nick Hornby
Jujur, gw belum pernah baca bukunya. Tapi udah nonton filmnya dan gw tergila-gila pada soundtrack-nya. Jamannya belum ada internet dan nonton film ini lewat laser disc, setelah filmnya tamat gw catetin semua judul lagu dan penyanyi dari credit title. High Fidelity ini ceritanya tentang pemilik toko piringan hitam, pastilah ada selipan lagu-lagu itu di bukunya pun. Berbaik sangka aja sih :)
Sampe sekarang kalo Jesse nyetel lagu Let’s Get it On, gw akan melirik curiga, maksud lo pingin kayak High Fidelity?
Playlist-nya Rob.

What about you? Which of your fave books has the coolest playlist?

Tentang meditasi

meditationTulisan ini udah lama gw draft tapi ragu-ragu gw naik cetakkan karena pengalaman meditasi ini termasuk cukup pribadi. Tapi yah, gw rasa ada baiknya kita berbagi hal yang baik-baik, yekan. Tulisan ini juga dibuat tanpa endorse dari pihak manapun.

Gw pertama kenal meditasi taun 2003, bersamaan dengan gw kenal yoga lewat Ananda Marga. Awalnya gw agak abai dan lebih antusias yoga. Setelah tiga bulan antusiasme menurun karena gw sibuk dan mulai lupa. Eh, abis itu patah hati berantakan di penghujung tahun dan gw getol yoga dan meditasi lagi. Efeknya cukup dahsyat, gw merasa membaik dalam waktu dua minggu. Terima kasih yoga! Waktu itu teuteup abang hero-nya yoga.

Flash forward ke tahun 2013, gw patah hati lagi dong. Haha. Hobi banget neng. Setelah semaleman nangis lalu berusaha beraktivitas seperti pergi ke laundromat terdekat tapi sedih bangettt… Akhirnya gw maksain diri ikutan yoga-nya Andrew Barrett dan merasa, kesian amat anak ini baru bisa bobo pas abis yoga, hihihi. Nah sesi yoga Andrew ini dibarengin sama sesi meditasi modern bersama Emily. Model meditasinya bener-bener masa kini, tanpa embel-embel kebudayaan manapun. Tadinya sih biasa aja, alias kayaknya gw bukan meditasi banged deh anaknya. Tapi karena setelah sebulan gw yoga aja ga brenti-brenti lalu mulai kepikiran, harus ada yang lebih tinggi selain yoga dan bodi seksi. Apakah kita balik meditasi aja gitu yah?
Entah kenapa, ketika lagi menimbang-nimbang itu, rasanya deg-degan banget. Kayak mau ngelamar anak orang gitu deh. Padahal belum pernah juga haha. Perasaan sih, akan terjadi sesuatu yg dahsyat kalo gw mulai meditasi lagi. Padahal kan belum tentu juga yah. Tapi akhirnya gw mulai rajin dateng meditasi sama Emily walopun gw ngerasa Emily energy positifnya terlalu berlebihan, gw belum siap sebegitunya.
Mulailah mencari-cari chanell meditasi lainnya, terdampar di Three Jewels, dan pelan-pelan ikut berbagai sesi meditasi secara serabutan. Dari mulai ikut meditasi yg lepas sampai akhirnya memutuskan ikut kelas, seminggu sekali selama dua bulan. Kebiasaan duduk bersila dan berdiam diri ini sedikit demi sedikit membuat hidup kayaknya lebih bisa dihadapi. Puncaknya adalah waktu ikut kelas bodhicitta-nya Teddy Sculzo. Begitu kelas bubar gw senyum terus ga brenti-brenti. Berlanjut ke keesokan harinya dan hari-hari seterusnya. Sambil dibarengi baca bukunya Lama Marut. Wih, dua bulan ini rasanya intense sekali. Banyak hal-hal kecil maupun besar yang selama ini ga keliatan dan ga kerasa, mulai keliatan wujudnya. Ga kok, gw ga tiba-tiba bisa liat hantu-hantuan, ih ga mau juga. Tapi ada banyak pertanyaan besar dalam hidup yang akhirnya gw tau jawabannya. Contohnya, kapan ya ada satu masa dimana semua baik-baik saja, urusan kantor, kerja, keluarga dan cinta (ahem)? Jawabannya: Ga akan ada. Sip. Beres kan. Tapi apakah gw bisa baik-baik saja? Bisa.
Gw sempat juga daftar jadi sukarelawan di Three Jewels, jaga kelas meditasi setiap hari Jumat. Bisa ketemu orang-orang, kadang-kadang ikutan kelas meditasi gratis, dan senang aja gitu nongkrong di tempat yang sepi dan damai itu. Kadang baca buku dan cuman melamun-lamun aja. Buat gw, Three Jewels menyuplai energi positif tak habis-habis yang bikin gw lupa mengeluh akan subway yang bau pesing saat pulang ke rumah.

Sayang sekali, sekembalinya dari Myanmar mission, ga segetol dulu meditasi. Udah ngundurin diri juga jadi sukarelawan di kelas meditasi hari Jumat. Sampai hari ini sih, gw rutin meditasi sekitar 10-13 menit tiap pagi. Buat gw, meditasi ini ampuh menguraikan kusutnya pikiran. Tentunya meditasi aja ga cukup ya buat menjadi insan yang senantiasa berbahagia. Gw rasa sih gw sendiri masih harus banyak belajar tentang iklash, nrimo, loving kindness, dan sebagainya. Tapi mayanlah, udah punya tools murah murmer untuk membuat hidup ini lebih baik. Belakangan, gw menggunakan meditasi pagi buat set-up a good intention through the day. Apa yang pingin kita lakukan hari ini, dan apa yang kita harapkan dari hari ini. It really is beautiful and profound, it makes me start a day with a good mood. Just add up good coffee and I’m all set :)

Buat yang di Jakarta dan ingin mendalami atau mencoba meditasi , teman dekat gw Bagia (I wish he could blog more), saat ini mengelola pusat meditasi Golden Space di Jakarta Pusat. Kalo ga salah sebentar lagi mau ada open house.

Buat yang di Bandung, Setyo Jojo, orang yang pertama mengenalkan gw ke yoga dan meditasi masih aktif mengelola Akademi Yoga Indonesia.

Buat yang lainnya, banyak channel belajar meditasi, dan nantikanlah rilis panduan meditasi gratis dari Bagia dan Jesse :)