Bacaan 2020

Gw memulai 2020 dengan gagah berani, mencanangkan target baca 50 buku. Agak ketar-ketir sih sebenernya. Tapi ya tanggung nih, kali-kali kita punya target besar. Kalo ga terpenuhi ya gapapa. Santei aja, ini kan cuman soal bacaan.

Dua bulan pertama gw sangat ngebut dalam baca buku, tamat sekitar 8 buku. Hore, ini sesuai jadwal banget. Lalu pandemik datang. Dan seperti hal-hal lain yang pandemik kacaukan, aktivitas membaca gw juga kacau balau. Awalnya gw kira dengan kerja di rumah, gw akan punya lebih banyak waktu untuk baca. Justru sebaliknya, dulu gw banyak baca di kereta saat berangkat atau pulang kantor. Ada untungnya juga subway NY ga tembus sinyal hp :D Tapi semenjak WFH, waktu buat komuter ini dialihkan buat tidur lebih banyak, cuci piring atau malah kerja lebih lama. Ga baek nih ck ck ck. Kerjaan di Q2 itu selalu membludak sih.

Udah gitu, stamina membaca amburadul karena kecemasan meningkat dan distraksi telepon genggam menggila. Interaksi sosial yang berubah dijital membuat digital detoks yang biasanya rutin gw lakukan menjadi mustahil. Atau memang tingkat adiksi yang sudah keterlaluan? Entahlah. Yang jelas di bulan Maret sampai Mei gw sulit sekali tenggelam dalam buku-buku. Padahal udah nyari buku yang ringan dan gampang dicerna. Tapi ga membuat gw getol membaca juga. 

Bulan Agustus datang, gw mulai ambil cuti panjang yang serius. Goodreads Reading challenge udah wanti-wanti: You are 7 books behind schedule. Ooops. Tapi karena liburan, otak gw mulai rileks dan bulan ini gw mulai merasakan enaknya  terserap buku-buku dan cerita-cerita walopun sereceh Sweet Sorrow-nya David NIcholls atau fiksi remaja lainnya. Bulan September karena gw full liburan dan mudik, jadilah tiba-tiba gw baca 8 buku dalam sebulan. 

Lalu gw menemukan kembali buku-buku genre middlegrade, favorit masa lalu, yang tipis-tipis dan ringan kan. Walaupun banyak yang membuat gw mewek berderai-derai. Emang deh paling ga bisa kena drama keluarga macam begini. Akhirnya di akhir tahun 2020, gw alhamdulillah menyelesaikan 51 buku. Lega. Tapi juga merasa meh karena banyak buku tebal dan berat yang pingin gw selesaikan, tapi gw tinggalkan karena kejar target.

Tahun 2020 juga gw memulai books journaling lebih serius. Tahun sebelumnya udah mulai sih, tapi karena berantakan jadi ga gw tampilkan di blog :P 

Hasil tracking bacaan tahun 2020, kesimpulannya: Gw baca 70% e-book minjem dari Brookyn Public Library (ya karena ga bisa pinjem buku fisik sih), dengan genre didominasi contemporary, yang mayoritas antara 300-400 halaman. Timeline ga menunjukkan banyak hal selain ada masa-masa gw galau baca buku yang mana, dan ada sekitar 10 buku yang gw mulai baca tapi akhirnya gw tinggalkan karena malas meneruskan.

Yang paling seru sih bagian peta buku. Seolah-olah kita jalan-jalan sama buku-buku ini. Sudah diduga sih, kebanyakan di Amerika Utara karena perpus gw banyak menyediakan buku-buku itu. Atau karena memang gw kurang branching out ya? Gw juga kurang memaksakan diri baca buku dari pengarang atau berlatar Afrika dan India. Tahun 2021 gw harap sih bisa baca buku yang lebih beragam, dengan latar lebih global :)

Kalau boleh pilih 5 buku favorit selama 2020, maka gw sangat merekomendasikan buku-buku ini:

Bagaimana bacaan kamu di tahun 2020? Mau baca buku apa di tahun ini?

Iklan

Track Series

Katanya 2020 itu tahunnya kita cancel berbagai hal, dan gw jadi kepikiran, apa gw cancel aja nih Reading Challenge 2020? Gw bertekad baca 50 buku tahun ini, yang mana cuman nambah 2 buku dari tahun lalu. Tapi oh mak, susahnya konsentrasi baca di awal-awal pandemik! Walhasil sepanjang tahun gw keteteran. Dan sebagai si high achiever, tertinggal di urusan goal-goal itu ga enak rasanya. Walopun goal-nya receh.

Jadinya gw nyari buku yang tipis-tipis fast-paced kan. Yang sebenernya ga baik, karena gw suka mencoba baca berbagai buku dan kadang ada buku yang memang harus dibaca pelan-pelan. Biar bisa lebih dinikmati dan diresapi. Tapi di jaman pandemik begini, buku adalah pelarian dari kehidupan. Dan gw sangat bersyukur bisa lari bersama buku serial Track. 

Track adalah serial buku yang terdiri dari 4 buku, dimana tiap buku dinarasikan oleh anggota baru track team The Defenders. Kita akan terlibat dengan satu minggu di kehidupan tiap anak. Diawali dengan Ghost, yang lagi ngintip The Defenders latihan sambil makan kuaci, lalu dia ikutan lari aja. Dari situ kita diajak mengenal Ghost dan keluarganya, juga kehidupan Ghost di sekolah dimana dia berhadapan dengan bully.

Gw jatuh cinta seketika pada Ghost. Karakternya yang slenge’an tapi rapuh, juga latar belakang keluarganya yang kurang ideal, membuat gw ingin memeluk Ghost erat-erat dan semoga dia diberi chapter-chapter bahagia di masa depannya. Dan terus penasaran, akankah dia bertahan di the Defenders?

Show you that you can’t run away from who you are, but what you can do is run toward who you want to be.

Ghost – Jason Reynolds

Kekuatan seri Track ini memang ada di perkembangan karakter yang luar biasa, setting yang natural, konflik-konflik yang sederhana tapi dalem. Udah gitu, gw kan suka lari, jadi mengikuti latihan the Defenders setiap harinya itu menyenangkan. Ditambah, bertutur Jason Reynolds yang lucu dan pas sekali dalam menyuarakan anak-anak seumuran Ghost. Kalo ga salah sih, mereka kira-kira umur 10-12 tahun ya. Anak-anak yang beranjak ABG.

Gw tuh sebenernya memang seneng baca buku untuk umur2 segini. Haha, yes I can relate to 10 yo, makanya binge watching nya juga The Baby Sitter Club. Mungkin karena pada umur-umur segini tuh gw banyak baca buku middlegrade yang seru-seru; Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, seri Mallory Towers, seri Bullerbyn dan masih banyak lagi. Dan ga gampang loh menemukan buku dimana pengaranganya menyuarakan anak-anak umur segini dengan pas. Kebanyakan pengarang menulis suara yang terlalu dewasa. Dan Jason Reynolds, man oh man, gw jatuh cinta juga deh sama Jason Reynolds ini.

Buku selanjutnya kita mengikuti Patina, satu-satunya anggota baru cewek di The Defenders. Gw suka suka suka sekali sama Patina yang selalu urun berpendapat. Buku ketiga, Sunny, ah ga ngerti lagi deh. Gw ga tau lebih suka Ghost atau Sunny. Sunny itu sangat audio, pikirannya tumpang tindih silih berganti dan penuh suara-suara yang kadang ga ada artinya. Tapi gemash. Dan di 30 halaman terakhir, gw bersimbah air mata, saking terheru sama hubungan Sunny dan bapaknya. Damn you, Jason Reynolds, middlegrade book shouldn’t be this tearjerker. 

It’s like he understands what dancing is for. It’s not just to watch, it’s to do, to somehow remind yourself that you’re still . . . you.

Sunny – Jason Reynolds

Saat ini gw lagi menahan-nahan diri untuk ga menamatkan buku terakhir, Lu. Kayak gitu kan kalo baca buku seru tuh, ga bisa berenti, tapi ga mau abis. Huhu… Baca jangan yah… Apa disimpen buat saat-saat minat baca lagi mandek. Tapi beneran deh, sangat direkomendasikan terutama buat yang suka baca buku middlegrade dan ibu-ibu yang anaknya udah bisa baca buku bahasa Inggris, cuss segera lari bareng Ghost dan kawan-kawan. Bahkan almarhum Kobe Bryant menyarankan Track Series buat bacaan tandem anak dan orang tua.

Atau ada yang mau berbagi rekomendasi buku favorit dengan genre middle grade?

Bacaan Saat Wabah Corona

Di minggu-minggu awal work from home, gw tadinya hepi banget, wah banyak waktu buat baca buku nih! Kenyatannya, di minggu-minggu itu jari terlalu aktif scrolling berita dari portal berita dan sosmed. Pikiran juga aktif berlari-lari ke masa-masa ga jelas yang belum kejadian, membuat cemas dan susah sekali konsen baca buku.

Padahal bulan Maret itu menu klab baca adalah Factfulness karya Hans Rosling. Almarhum adalah salah satu ahli kesehatan masyarakat yang berusaha menyajikan data-data dengan lebih bermakna. Namanya juga ahli kesmas ya, contoh kasusnya banyak tentang wabah penyakit, yang paling banyak sih ebola, ada juga MERS, dan kasus-kasus lainnya. Di satu sisi, pas banget ini untuk situasi saat ini. Di sisi lain, pikiran belom bisa netral. Baca buku yang dikira akan jadi hiburan dan aktivitas buat melupakan sejenak urusan wabah, malah jadi pemicu kecemasan dan ga asik lagi.

Akhirnya cari buku yang ga pake mikir dan jatuhlah pilihan kepada The Convenience Store Woman. Buku super ringan tentang cewek yang kerja di convenience store. Semacam alfamart atau 7-11 gitu kali ya. Narasinya sih sumpah terlalu datar dan seperti membaca buku cerita keluaran depdikbud yang banyak di perpus SD gw dulu. Mungkin karena ini buku terjemahan kali ya. Tapi idenya sungguh cemerlang, bagaimana si Konbini girl ini sangat nyaman sebagai cewek lajang dengan perannya sebagai pegawai toko, tapi masyarakat tak henti-henti kepo dan menyuruh dia cari pacarlah, menikahlah, cari kerjaan yang lebih baguslah. Yekaannn… Ada adegan dia pesta dengan teman sekolahnya dan segala peer pressure ini tumpahlah disini. Kayak yang pernah :D

Mungkin kalau gw bacanya di saat-saat biasa (yang sekarang terasa masa lampau banget) dan bukan saat wabah, gw akan menamatkan buku ini dengan pesan di atas. Tapi di saat pandemic begini, konbini girl adalah salah satu profesi yang esensial untuk menopang hidup kita sehari-hari. Supermarket, minimarket dan bodega adalah salah satu bisnis yang tetap beroperasi saat bisnis lainnya diwajibkan tutup. Pegawai toko ga mungkin work from home – ya walopun banyak yang belanja online juga sih – jadi ga bisa absen dan pastinya pegawai toko harus menempuh perjalanan dari rumah ke kantor demi kita tetap bisa belanja bahan makanan sehari-hari. Begitu juga tim pembersih jalan, pengantar makanan dan tukang pos. Beneran deh, entahlah apa jadinya hidup gw kalo bodega di seberang jalan tutup.

Pingin rasanya gw kirim surat ke si Konbini Girl, hey lihatlah ada masanya profesi kamu itu penting banget cuy!

Bagaimana? Profesi apa di lingkunganmu yang menurut kamu sangat esensial di masa pandemik ini?

Tentunya tulisan ini diiringi dengan sejuta tepuk tangan setiap hari, setiap jam untuk para dokter, tenaga medis dan staff rumah sakit. You are our hero! Dan Mbah Hans Rosling, the world misses you too much, this fangirl is sending you lots of love.

Telekinetik

Akhirnya sodara-sodara, gw baca juga buku karya Stephen King. Dimulai dengan Carrie, karya beliau pertama yang legendaris. Eh sebenernya gw udah baca The Girl Who Loves Tom Gordon, tapi itu udah lamaaaa banget dan itupun ga sengaja bacanya, karena gw lagi di perjalanan Kapal Pelni dari Makassar menuju Surabaya. Di tengah perjalanan gw tamat aja dong baca buku yang gw bawa saat itu (lupa judulnya), yang mana sebagai kutubuku ini adalah tragedi! Belum jamannya kindle jadi kita kalo traveling cuman bawa satu buku. Akhirnya gw embat buku temen gw, untungnya dia mau molor aja sampai kapal menepi di Tanjung Perak. Jadilah memori buku Stephen King gw adalah mimpi buruk The Girl Who Loves Tom Gordon dan gw yang ga sabar, ini kapan nyampenya siiih… Udah bosen! Untungnya di tengah-tengah perjalanan ditawarin rujak sama ibu-ibu di sebelah dan malah jadi ngobrol rame-rame. Oh kapal Pelni, kamu memang penuh cerita – kecuali cerita Stephen King.

Lah ngelantur. Tadinya kan mau cerita Carrie. Carrie is the whole awesomeness!! Mungkin lebih banyak yang mengenal Carrie dari filmnya. Gw belum nonton, tapi katanya keren ya? Ikonik.. Anyway, gara-gara Carrie ini gw kepikiran tentang telekinetik dan sempet googling apakah telekinetik itu nyata? Hahaha… Abis di buku-buku itu nampak nyata sekali dan ada benang merahnya. Pasti adalah kebenaran tentang semua ini. Lalu gw kepikiran beberapa karakter favorit yang juga berkemampuan telekinetik di buku-buku lainnya. Berikut adalah daftarnya

Carrie

Karena baru tamat buku Carrie ya inilah yang paling membekas. Kemampuan telekinetik Carrie adalah menggerakkan benda-benda dengan pikirannya. Contohnya membuat pisau melayang, meledakkan pom bensin sampai mendatangkan hujan batu. Setting buku ini sangatlah brilyan, Carrie sebagai pelajar SMA di-bully teman-temannya dan disitulah mulai banyak kejadian di luar nalar. Stephen King bercerita dengan unik, menggabungkan narasi cerita dan kumpulan-kumpulan artikel tentang fenomena Carrie. Cukup gory dan gelap. Seperti buku fiksi remaja pada umumnya, kisah Carrie berujung di prom night, tapi yaaa… Hmm, ga mau spoiler, tapi beneran deh prom night Carrie sangatlah dahsyat.

Matilda

Oh yeah! Matilda adalah karakter favorit gw sepanjang masa. Karena dia kutubuku tapi punya super power, bisa menggerakan barang-barang dengan pikirannya. Matilda pun lahir dari keluarga ga jelas dan dia ga bahagia. Untung saja gurunya baik hati, dia menemani Matilda hingga anak manis ini ga kesepian. Ceritanya sih khas buku middle grade, ga kompleks-kompleks banget tapi tetap bermuatan moral good people vs bad people. Buku ini adalah buku Roald Dahl pertama gw tanpa gw sadar betapa nyelenehnya Roald Dahl ini.  

Akira

Sebenernya gw ga ingat apa-apa tentang komik Akira ini, dulu beli komik edisi pertamanya. Lupa juga penerbitnya siapa. Yang gw inget gw beli di Gunung Agung Slipi Jaya Plaza. Karena cuman baca edisi pertama dan gw masih kecil, ga ngerti juga ini komik tentang apa. Tapi gw inget gw sangat menikmati membolak-balik halamannya dan mengamati gambarnya. Pertama kali liat manga cuy! Gw suka sekali tone kelam dan dunia yang nampak porak poranda, penuh polusi di komik ini. Kalo ga salah sih ada tokoh Tetsuo yang bisa teleport dan nerbangin motor. Tapi entahlah, gw ga baca lagi komik ini, karena lalu beralih ke Candy Candy dan Doraemon :D

Time Limit

Tibalah era manga membanjiri toko buku di kota-kota besar Indonesia. Salah satu favorit gw adalah Time Limit karangan Ringo Hijiri. Tokohnya Nina, bisa teleport dan bisa nerbangin barang-barang kayak Carrie. Tapi syaratnya, dia harus banget makan sebanyak-banyaknya. Memang gadis rakus. Komik ini koplak banget deh, banyak adegan-adegan muka kentang dan humor slapstick ala film Stephen Chow. Ceritanya Nina naksir kak Ogi, kakak kelas yang manis, dan saingan sama Ida. Tapi karena kelakuan Nina berangasan jadi ya gitu deh. Tapi asli Time Limit adalah komik terkoplak yang pernah gw baca. Gw mengenalkan kembali komik ini ke temen2 sekelas pas SMA, walhasil ada masa-masa di tengah pelajaran dan kelas yang sunyi tiba-tiba ada yang ngakak kenceng banget. Bisa dipastikan anak ini ga merhatiin pelajaran tapi lagi baca Time Limit di bawah meja.

Sebenernya komik superheros Marvel dan DC itu isinya karakter telekinetik semua ya. Tapi gw ga ngikutin uy, entah kenapa gw ga genah liat glorifikasi otot-otot mutan :D Tapi kalo ada yang mau nambahin silahkan loh…

The Stanger Things

Ini film sih bukan buku, tapi demi menyambut season 3 yang keren banget itu (sudah tamat wiken kmaren!), tentu saja perlu ada honorable mention untuk Eleven! Apalah The Stranger Things tanpa Eleven, ya ga? Dari season pertama, pemirsa sudah jatuh cinta pada gadis kecil berkepala plontos yang ditemukan Mike dkk di hutan, lalu bersama-sama membasmi monster. Eleven bisa menerbangkan barang-barang, melawan monster dan telepati atau teleport ya? Kayaknya teleport tapi ga secara langsung, cuma di pikirannya aja. Ah pokoknya Eleven geron lah!

Siapa tokoh telekinetik kamu? Dan sambil mikir-mikir nikmatilah lagu Pop Kinetik dari band lokal favorit gw dulu.

Memupuk kebiasaan membaca

Dari kecil gw memang hobi baca buku. Kemana-mana baca buku. Kadang disuruh playdate pun gw bawa buku, takut temennya ga rame jadi mendingan baca buku. Kalo diajak ikut acara mama papa, pasti gw bawa buku, lalu anteng di pojokan baca buku.
Jadi ya memang sejatinya anak ini baca buku terus.

Nah, kebiasaan ini sedikit memudar di era SMA dan di awal era digital. Waktu SMA sih terus terang aja gw kesulitan menemukan bacaan yang cocok. Buku karya pengarang Indonesia yang oke sudah habis dilahap, ga banyak juga sih. Sedangkan novel terjemahan kebanyakan berkisar di Nora Roberts, Sidney Sheldon, Nicholas Spark dsb. Harga buku saat krisis moneter juga mayan menguras kantong, ditambah perpus SMA ga seru sama sekali.

Kasus tahun 2011, dimana gw hanya baca 7 buku per tahun adalah kasus klasik awal era telepon pintar di tangan dan sosial media merebak. Kebiasaan duduk diam dengan buku kertas dan kata-kata, tergantikan dengan scrolling scrolling scrolling (by Limp Bizzkit) dan interaksi dengan sesama netizen. Butuh waktu 2-3 tahun hingga gw membangun kebiasaan membaca, melatih konsentrasi dan menikmati baca buku lagi. Menurut gw, baca buku ini mirip dengan olahraga, lari misalnya. Otot-otot otak juga perlu dilatih untuk bisa konsentrasi membaca. Kalau lama ga digunakan ya ga kuat lagi. Mirip kan kayak lari. Kalo udah lama ga lari, rasanya ngos-ngosan lari, belum lagi udahnya pegel dan capek banget. Tapi kalo udah kebiasaan ya asik-asik aja, abis itu pun segar dan hepi.

Salah satu turning point gw adalah saat baca Kafka on the Shore dan Eleanor and Park. Gw menikmati sekali hari-hari gw baca Kafka on the Shore. Dan saat baca Eleanor and Park, jangan tanya deh, tiap ada waktu luang pasti gw baca Eleanor and Park, dan abis itu gw pingin baca lagi dan lagi dan lagi. Sayangnya ga semua buku yang gw baca adalah Eleanor and Park.

Nah, penyemangat membaca gw adalah Mark Manson. Yup, gw dulu penggemar berat blog-nya, jauh sebelum dia menerbitkan buku Subtle Art bla bla bla. Salah satu tulisannya adalah kenapa kebiasaan membaca ini makin sulit dibina. Sayang sekali post ini entah dimana atau gw mimpi kali ya pernah baca :( Tapi gw masih inget banget pernah baca. Menurut Mark Manson, kita jadi males baca buku karena alih-alih dari baca buku yang kita suka, kita malah baca buku yang “harus” kita baca. Yekan… Karena kalau kita ga tertarik sama bukunya, susah banget baca dan mencerna bacaan ini. Dan kadang kita suka ingin nampak keren baca buku yang “berat” padahal mah ga suka-suka banget. Apalagi jaman sekarang banyaklah godaan “Top ten book list that will make you smarter”, dll.

Ini kena banget buat gw yang saat itu sok-sok baca buku klasik macam Anna Karenina, padahal gw ga ngerti dan ga tertarik juga sama topik masa lampau begini. Gw hanyalah ingin baca buku sejenis Eleanor and Park dimana gw bisa merasakan sensasi jatuh cinta pertama kali. Maka di tahun 2013 gw kembali lagi banyak baca YA fiction. Ya gimana sih, memang sukanya buku yang beginian.   

Tapi bener loh, ga susah menamatkan bacaan kalau kita memang tertarik sama bacaannya. Dan ga kerasa jumlah bacaan gw pun meningkat dari tahun ke tahun. Bersamaan dengan stamina baca meningkat dan jenis bacaan pun lebih luas. Sekarang gw sedikit demi sedikit mencicil buku-buku klasik, dan baca buku non-fiksi pun ga ngos-ngosan lagi.

Hal ini juga dibenarkan oleh Naval, di wawancaranya dengan Farnham street. Gw suka banget sama podcast dan pemikiran Naval ini, selalu bikin aha momen dan manggut-manggut. Dia hobi banget baca buku, tapi saat memulai membaca, dia bacanya yang receh-receh dulu, baru abis itu perlahan baca buku yang lebih bernas. Yah mudah-mudahan deh, suatu saat gw bisa baca The Brief History of Time tanpa ketiduran setelah satu halaman. Tapi yang lebih penting, gw sangat bersyukur karena membaca kembali menjadi aktivitas yang sangat gw nikmati.

Kamu sendiri punya tips buat lebih rajin membaca yang bisa dibagi?