Desperately Seeking Richard Hell

layartancep.png

Summer di New York sudah resmi lewat. Tapi gw punya beberapa cinderamata dari musim panas ini. Tentunya gw menjadi warga New York paling hepi selama musim panas karena gw adalah mutan ex-Jakartanian yang nyaman jalan-jalan di udara panas, lengket dan bau asap knalpot :D

Selain pantai dan berbagai aktivitas seru lainnya, nonton layar tancep adalah salah satu aktivitas favorit gw di musim panas. Rasanya seneng aja gitu, gelar tiker, nyemil keripik dan selonjoran di taman sambil nonton film. Anaknya mondoyoy maksimal. Layar tancep di musim panas dari tahun ke tahun makin meriah dan makin banyak jumlahnya bagaikan jamur di musim hujan. Ada banyak layar tancep di New York, dari mulai di taman, tepi sungai dan rooftop. Waktu musim panas pertama gw di New York, tahun 2012, paling ada sehari sekali dengan lokasi yang berbeda-beda. Tahun ini bisa ada tiga kali pemutaran film, di tempat yang beda tentunya. Muncul berbagai tema, seperti film anak-anak di Hudson River Park, film Perancis di Tompkins Square Park, dll. Udah gitu makin ramelah dengan warung makanan dan minuman, DJ sebelum pemutaran film sampai vallet parking buat sepeda segala.

Tempat favorit gw adalah Brooklyn Bridge Park, karena tinggal ngesot dari apartemen, kontur taman yang berbukit menguntungkan mutan yang tingginya minimal ini dan tentunya the view beybeehhh! Namanya juga Movie with a View. Pemandangan Lower Manhattan dengan gedung perkantoran dan Freedom Tower yang mencuat, gemerlap air East River di malam hari dan kapal-kapal yang berseliweran. Tahun ini tema yang diusung adalah film karya sutradara cewek.

Nah di suatu hari Kamis gw nonton Desperately Seeking Susan. Awalnya sih ga ada ekspetasi apa-apa, hanya membayangkan film 80-an, bintangnya Madonna pula kan. Gw memang terlewat euphoria Desperately Seeking Susan pada masanya. Apa memang masih kekecilan ya? *denial* Filmnya sih simpel, bercerita tentang Roberta (Rosanna Arquette) ibu rumah tangga dari New Jersey yang kebosenan lalu karena dia rajin mantengin iklan baris di koran, dia jadi tau Susan (Madonna) bales-balesan pesan dengan seorang cowok dan bakalan ketemu di Battery Park, Manhattan. Datanglah doi ke tempat yang dimaksud, karena penasaran sama Susan juga kaann… Nah dasar film 80-an ya, adalah adegan kejeduk tiang dan amnesia segala. Lalu Rosanna cuman inget nama Susan, sehingga berpetualanglah dia di New York dengan identitas Susan ini.

Desperatelyseekingsusan

foto dari Outtake Medium

Gw beneran menikmati film ini. Seru-seru gimana gituu… Gimmick khas 80-an, perasaan dialog-dialog cewek di film lawas itu gemas yaaa… Ga secuek kayak di film2 jaman now. Terus, ternyata jaman belum banyak berubah ya, stereotipe Rosanna vs Madonna adalah ibu rumah tangga vs cewek single adalah permasalahan klasik. Udah gitu, karakter dan pesona Madonna sebagai Susan disini sungguhlah sangat Madonna. Pada jamannya yaaa… Cewek yang cuek (adegan ngeringin bulu ketek dengan hand-dryer itu sangatlah wow!) tapi juga kuat dan tau apa yang dia mau #freespiritgoal.

Hal lain yang gw suka adalah banyak cowok-cowok dengan rambut jabrik ala Johnny Rotten. Mungkin karena gw terobsesi sama era Please Kill Me, dimana punk sedang menyeruak, jadi gw agak gimana gitu sama type-type ini. Mirip sama foto viral Jokowi yang kemudian dibantah :D Ya gapapa kali Pakde…
Pokoknya sebangsa Johny Thunder, Richard Hell, gitu deh. Bikin kasuat-suat gimana gitu…
Nah pas terakhir baca credit title, eh ternyata beneran Richard Hell dong! Spontan gw berkata “F*ck yeah. That was Richard Hell!” yang lalu dipelototin ibu-ibu beranak dua di sebelah gw. Maaf buu…
Ternyata film Desperately Seeking Susan ini memang menghadirkan banyak cameo musisi lokal pada masa itu seperti Richard Hell, John Torturro, Annie Golden, dll. Oh my God! Sutradara film ini, Susan Seidelman, memang katanya “teman” mereka semua. Sering nongkrong bareng gitu deh…

Gw jadi pingin nonton film-film Susan Seidelman lainnya. Walopun dia banyakan nulis buat TV sih, salah satu yang terkenal yaitu beberapa episode Sex and the City. Sayangnya profil Richard Hell kurang cocok ya untuk nge-date sama Carrie Bradshaw :D Dan tentunya, pencarian gw akan Richard Hell tidak akan berenti. Abis gemes sih, doi tinggal di East Village dan disinyalir hanya dua blok saja dari apartemen gw waktu gw masih tinggal di East Village. Pasti deh gw pernah amprokan tapi gw ga ngeh :D

Kamu, siapa cameo favorit kamu yang ga sengaja nemu di film?

Iklan

Mermaid Parade

mermaid_3Tadinya gw kira setelah tahun kelima di New York, gw akan mulai bosen dengan segala hingar bingar New York dan memilih kegiatan rendah hati seperti banyak baca buku, piknik kecil-kecilan di taman dan dusel-dusel sama kucing sepanjang hari.
Ternyata… salah besar sodara-sodara. Ya semua kegiatan males-malesan gw lakuin, tapi seru-seruan juga jalan terus! Tahun ini berawal keisengan ikutan Brooklyn Peaches synchronized swimming (yang mana masih utang ceritanya pada warganet), gw mulai lagi berkecimpung di keseruan New York, karena grup ini ikutan Mermaid Parade aja doongg…

New York emang kota yang penuh parade, apapun musimnya, ada aja deh iring-iringan massa berkostum di jalan raya. Mermaid Parade ini parade asli kreasi warga Coney Island, terutama komunitas seni. Diselenggarakan Coney Island sebagai tanda mulainya musim panas. Temanya adalah memperingati berbagai mahluk fantasi dari laut dan tentunya setiap warga yang berpartisipasi boleh dandan seajaib mungkin! Bahkan banyak yang topless ;)
Brooklyn Peaches mulailah heboh persiapan dari beberapa minggu sebelumnya. Kita ngumpul di studio puppetry-nya Gretchen, sibuk prakarya bikin rok tutu dan hiasan kepala yang gemerlap. Seruu bangett… Sebagai anak yang suka utek-utekan bikin kerajinan tangan, this is my jam! Minggu berikutnya kita latihan nari-nari di studio. Lalu dua minggu kemudian… Show time!

mermaid_persiapan

Kerajingan tangan biking hiasan kepala di studio seni-nya Gretchen.

Kita ngumpul dulu di rumah Jackie untuk sama-sama dandan (dan ngeberantakin apartemennya dengan menebar glitter dimana-mana) lalu barengan naik subway ke Coney Island. Yes, kami sengaja naik subway bikin terperangah para penumpang. Pertama kalinya gw naik subway berbaju renang :D

IMG_9723

Sebelum papanasan, kita mejeng dulu di depan rumah.

IMG_2265

Seseruan di subway.

IMG_9741.jpg

Subway platform dibanjiri mermaid.

Nyampe di Coney Island, setelah registrasi sejenak, kita langsung ikutan parade. OMG seruuuu banget. Sebenernya sepanjang hari itu gw khawatir hiasan kepala gw copot sih. Hahaha… Tapi seru seru seru, tak terperikan. Liat aja poto-potonya. Ga sampe sejam kita udah menyelesaikan rute parade lalu ya foto-foto sampe keblenger, sempet cebur-ceburan sebatas paha di pantai dan ngaso di Coney Island brewery. Sepanjang hari banyak banget yang minta foto sama kita. Abis itu ada yang pulang, lanjut ke after-party, sementara gw harus ke event berikutnya karena Jesse manggung bareng Mike Watt dari Minute Men(!!).

IMG_1797

Mejeng di depan Brooklyn Cyclone, salah satu roller coaster tertua di US.

IMG_2378.jpg

Di antara peserta parade lainnya.

IMG_2337

Kita punya mascot Merpup juga :)

mermaid_4

Because mermaids belong to the sea, belong to the water… #yousingyouloose

Besoknya mulai berseliweran foto-foto kami di media massa! Oh yeah!! Gw berdoa aja sih semoga nyokap gw ga liat paha anaknya ini nampang, hahaha… Lihatlah ramenya Mermaid Parade di Brooklyn Vegan, Daily Beast, New York Post dan Brooklyn Eagle.
Oh Mermaid Parade yang seru! Kerasa sekali aura para freaks berjiwa seni dan dimana-mana gw mendengar “You look amazing!” Aren’t we all? Dan Brooklyn Peaches yang penuh dengan cewek-cewek cantik jasmani rohani, aku cinta sekali pada kalian semuaaa… Makasih udah ngajakkin Mermaid Parade yaaa… Taun depan mau lagi!

#stayweird

mermaid_2.jpg

Featured by Daily Beast.

Habitas Tulum

36160366151_2096e05b3f_kTulisan ini di-draft sebulan lalu saat winter tak kunjung usai dan kerjaan pun tak kunjung reda. Sekarang alhamdulillah udah mayan panas nyentrong tapi gapapalah gw mau inget-inget liburan musim panas taun lalu aja buat hiburan sementara. Sekedar ngebayangin birunya Laut Karibia dan hangatnya pasir Tulum. And oh, those endless margaritas.

Akhirnya jadi juga liburan ke Mexico, cuman seminggu tapinya. Gw bagi tripnya jadi dua: Mexico City dimana kita jalan-jalan dan explore sana-sini dan Tulum dimana kita diem aja di hotel jadi gw ga stress bikin itinerary apapun. Bebaskeun.
Waktu cari-cari hotel, kriteria gw rada berat sih: harus bisa liat laut dari jendela kamar. Karena tujuan gw liburan adalah leyeh-leyeh di kamar tapi sambil ngeliatin laut dan mendengarkan debur ombak. Setelah browsing sana sini, dapet harga promo di Habitas yang konsepnya glamping. Tadinya gw ragu Jesse bakalan betah tinggal di tenda begitu, tapi pas liat berandanya, weiss bungkus. Momen yang membuat gw makin mantap adalah pas liat di instagramnya Paris Hilton. F*ck yeah, I want to stay where Paris Hilton stay!
Dan tentunya kamar kita pake patio yang langsung ngadep laut. Check.

Kita nyampe Tulum kemaleman. Yeah, salahkanlah anak ini yang salah naik bus, bukannya langsung ke Playa de Carmen, tapi malah ke Cancun dulu :D Jadi malem itu kita aklimitisasi sama tinggal di tenda. Alesan sih, karena kan glamping gitu loh. Kamarnya bagus dan luassss, lantainya semacam rumah panggung dengan kayu yang kokoh dan tendanya model British explorer di film-film Africa, lengkap dengan outdoor shower. Alhamdulillah ga ada nyamuk, tapi pas ke wc suka ada gemerisik yang ternyata adalah kadal-kadal kecil mengintip. Ya resiko outdoor shower yaaa…

36187091602_3ee65adbd9_k

Hammock yang selalu jadi spot photo sesyong

Besok paginya baru terasa deh syahdunya alam Tulum. Laut Karibia yang biru dan pasir putih. Pantai di Habitas ini cenderung kecil dan pendek, berombak kecil, tapi ya udahlah ya. Yang penting keliatan dari kamar sendiri. Ada kolam renang sama area hang out juga, yang didominasi pengunjung yang goler-goler sambil mainan gadget. Gw kadang-kadang bergabung disini, tapi kebanyakan di kamar aja kalo ga cebur-ceburan. Walopun gw suka pantai, tapi keknya gen Indonesia gw terlalu kuat sehingga selalu cari tempat teduh.
Habitas sendiri semacam hotel glamping berkonsep modern wellness dengan detail hippie-chic ala-ala Maroko. Tiap pagi ada sesi yoga dan reiki. Restoran dan bar-nya terbuka. Trus semua kamarnya semacam tenda di rumah panggung dengan beranda dan taman sendiri-sendiri. Cuman ada sekitar 30 kamar, dengan hanya 5 kamar yang ngadep laut. Semuanya berada di rimbunnya hutan buatan dan terus terang gw berkali-kali nyasar pas mau balik ke kamar :D

36126022932_10d05b7e2f_k.jpg

Restoran terbuka, ga ada dinding dan menghadap pantai

Sebenernya ga banyak yang diceritain dari liburan kita di Tulum, karena emang ga ngapa2in. Bangun (ga terlalu) pagi, sarapan, bobo siang, gw cebur-ceburan di pantai, baca buku, pina colada, margaritas, on repeat. Gitu aja selama tiga hari. Gw sempet jalan-jalan sekitar hotel, yang mana cukuplah turisti dengan hotel dan tempat nongkrong berselang-seling. Semua nampak punya tema yang sama yaitu hippy spirituality (ini murni istilah ciptaan gw), penuh sama tempat yoga dan meditasi. Setelah ngobrol-ngobrol sama penduduk setempat, awalnya tuh ga ada apa-apa di Tulum selain yoga retreat yang ramenya sebulan sekali. Tapi dari situ mulai menjamur deh tempat-tempat serupa diikuti arus turis dan perkembangan pariwisata.

36218724161_4f31fd3b84_k

Suasana ruin di bagian yang sepi pengunjung

Satu-satunya aktivitas wisata yang kita lakukan adalah sepedaan ke Tulum ruin di siang yang panas. Kebetulan kita bisa pake sepeda hotel, dan Tulum ruin itu hanyalah kurang dari 20 menit gowes. Berangkatlah kita. Puanassss pol, kita berenti dua kali untuk berteduh dan tarik napas. Pas nyampe di Tulum ruin, bujubuneng masyarakat rame amaattt… Udah gitu panaaasss bagaikan Jogja siang bolong gitu deh. Dan tiap area teduh udah pasti dimonopoli sama iguana. Tiap ada tempat duduk di bawah pohon, pastilah disitu bercokol iguana. Yang ada tiap mau foto gw ngibrit ketakutan.
Ruin-nya sebenerna keren sih, lokasinya di pantai yang masya Allah indah banget. Tapi beneran cuman puing-puing, gw ga ngerti apa emang segitu ancurnya atau arsitektur Maya ini model minimalis? Hehe, maafkan ga sempet belajar sejarah, yang ada kita gowes balik ke hotel demi ngadem di bawah AC dan sudah saatnya pinacolada selanjutnya.

36191475256_df90569373_o

Tentunya!

Oh iya, gw sempet beraktivitas paddleboarding di laut. Waktu itu lagi obsesi paddleboarding, jadi pinginnya paddle boarding kemana-mana. Padahal gw cuman pemula dan laut Karibia ombaknya mayan juga ya. Gw berkali-kali kecebur, tapi airnya biru jernih banget, tak apalah basah kuyup sepanjang perjalanan.

Malem terakhir di Habitas ada pertunjukkan musik dimana pengunjung ngampar dan yang main musik mencet-mencet keyboard komputer di tengah-tengah, yang tiada bukan adalah salah satu pemilik hotel. Musiknya fusion irama padang pasir dan dungces-dungces dugem. Awalnya seru sih, tapi terus gw ketiduran (ha!), abis kan monoton gitu dan capek bok abis paddleboarding sesiangan. Karena ga berniat gabung sama crowd yang joged-joged nanggung, akhirnya kita balik ke kamar. Eh ternyata party people masih aja dong jedang-jedung sampe tengah malem. Woy, glamping ini woy, bising banget! Gw sempet kembali ke venue dengan daster dan ala Bu Subangun, mo komplen, tapi ga jadi marah-marah pas ketemu kru Habitas. Setelah tiga hari nginep, kru Habitas ini udah kayak temen sendiri :D Dan mereka minta maaf dengan tulus, bilang bahwa ini keributan ini di luar kuasa, karena teman-teman terdekatnya pemilik hotel yang kepingin party.

35547226473_30ea47b802_k

Suasana dugem yang berawal syahdu dan membuat ngantuk dan berakhir membuat esmosi :D

Besoknya pulang deh, naik bis ke Cancun airport lalu langsung terbang ke New York. Sampe sekarang gw sama Jesse masih terkesan sama konsep lansekap Habitas, ramahnya kru yang selalu siap siaga bantuin kita (alias dikit-dikit nawarin pinacolada) dan enaknya makanan di Habitas. Yang jadi perbincangan adalah konsep hippie-chic atau apalah yang menurut gw cuman jargon semata membalut hotel yang pada intinya adalah bisnis. Pengunjung Habitas kesini ya buat liburan glamour dan party, bukan buat jadi dharma junkie. Tapi meskipun begitu gw ga kapok dateng ke Tulum lagi. Sayangnya akhir-akhir ini banyak berita kriminal dari Tulum. Semoga segera aman tentram nyaman kembali ya Lum, eike ga menolak untuk kembali loooh…

35547320863_c042c0dd3a_k

The lucky 5!

36160355201_bde6800c32_k

Tempat nongkrong bersama sosialita lainnya.

36218723011_f29217a0d3_k

Tuh Iguana juga maunya di spot-spot teduh aja.

35547235693_42f859565d_k

Jemuran yang dikurasi supaya instagrammable.

36292128545_0fdd5f8758_k

Karpetnya baguuuss… (kukunya kagak :( )

35520166154_f8c511a514_k

Bacaan yang immersive.

36160362221_809c5e48f5_k.jpg

Outdoor shower. And again, jemuran :P

36187093882_872eea2060_k

Natalan di Portland, Maine

xmas1Namanya juga orang US ya, tradisi Natal-nya kental banget dengan tukeran kado, pohon natal dan Christmas dinner. Begitu juga di keluarga Jesse yang berdomisili di Maine. Ini kali ketiga gw ikutan Christmas di Portland, dan semakin lama semakin seru. Namanya juga hari raya ya, apalagi sih kalo ga kumpul-kumpul, makan-makan dan minum-minum.

Gw dan Jesse biasanya nyewa mobil dari Brooklyn, lalu kita menempuh perjalanan sekitar 5 jam, tapi kalo lagi macet bisa sampe 8 jam. Udah kayak Bandung-Jogja. Awalnya gw ngebayangin roadtrip sepanjang pantai dan mampir di toko-toko kecil, tapi East Coast bukanlah pantura, 5 jam lebih ditempuh full di jalan tol dan tentunya ga ada warung remang-remang sepanjang jalan. Walhasil gw bosen. Apalagi truknya kurang gambar-gambar full hiburan kan. Eniwei, ada untungnya juga punya pacar yang sama-sama gila musik, menjelang road trip kita biasanya bikin playlist barengan terus nyanyi-nyanyi sepanjang jalan, kecuali kalo gw tidur.
Karena biasanya kita nyampe malem dan capek banget sepanjang perjalanan, langsung tewas deh. Lagian Mama-nya Jesse, berserta Duncan, partner-nya, mereka tidurnya cukup awal. Kemarin itu kita nyampe sebelum jam 9, jadi sempet makan malem bareng seadanya terus ngintip-ngintip pohon natal yang dari tahun ke tahun selalu cantik.
Mama-nya Jesse memang seniman sih ya, gw sukaaaa banget rumahnya. Banyak lukisan gede-gede dan setiap detilnya manis banget. Begitu juga pohon natalnya, setiap ornamennya unik dan ngegemesin. Nyaris setiap ornamen ada ceritanya, dari mulai hasil kerajian tangan Jesse pas TK, sampe burung-burung ini dikasih siapa. Gw pernah menyumbang origami, tiap tahun selalu bertekad mau nyumbang lagi, tapi tiap mau liburan natal selalu gedubrakan belanja dan pesta natal, jadi ga pernah lagi deh.

xmas2

Komodo oleh-oleh dari Indonesia juga bagian dari ornamen Natal.

Besoknya acara bebas, gw sama Jesse sempat ke pantai, jalan-jalan aja sama main sama anjing-anjing yang bebas berlarian di Willard beach. Portland masih belepotan salju dari dua hari sebelumnya. Gw seneng banged deh salju melimpah dimana-mana. Tapi hari ini gw juga sibuk bungkus kado. Oh, I love wrapping presents! Seneng banget deh kalo udah berkreasi dengan kertas kado yang motifnya lucu-lucu, pita-pita gemerlap dan kertas tissue warna-warni. Belum lagi bikin kartu kecil atau gift tags yang metching sama bungkus kadonya.

xmas3

Tebak yang mana hasil mahakarya gw?

Malam Natal kita semua ngumpul di ruang tengah, ngobrol-ngobrol sambil minum champagne. Adiknya Jesse bikin crackers enaaakk banget deh. Dicemilin sama keju, almond dan dip dari terong. Abis itu dilanjutkan makan malam. Mama-nya Jesse masak ayam bumbu bawang putih dan bawang merah, udah kayak cerita masa kecil :P Side dish-nya mixed green salad dan kentang panggang dan ginger bread + vanilla ice cream buat pencuci mulut. Semuanya enaaakkk. Udah gitu kita duduk-duduk lagi di ruang tengah mengagumi pohon natal sambil minum eggnog dicampur bourbon atau rum. Abis itu gw masih ngerjain pe-er bungkus kado sampe akhirnya gw tepar jam 2 pagi kebanyakan eggnog dan belepotan solatip.
Karena sudah dewasa, besoknya semua bangun siang. Gw masih nyelesein bungkus kado, dibantu Jesse bikin kartu-kartu dengan kata-kata lucu, karena soal tulis menulis gw taluk deh. Untung adiknya + pacar adiknya dateng telat jadi kami sempet mandi dan dandan sedikitlah. Lalu kita brunch, sederhana aja sih menunya orak-arik telor sama fruit salad. Adiknya Jesse bawa cinnamon bun, cantik banget, tapi lupa difoto :P
And guess what, hari ini salju lagi! Oh gw bahagiaaaaa banged deh kalo turun salju. Walopun gw ga suka dinginnya winer, tapi kalo udah salju dimaafkan deh. Tentram damai gitu rasanya mandangin salju dari balik jendela sambil nyeruput bourbon eggnog :D

xmas4

I’m not dreaming about white christmas.. it was real.

Sampailah kita pada esensi Natal yaitu: buka kado! Hahahaha… Tapi beneran deh, tradisi buka kado di keluarga Jesse ini bisa berjam-jam, penuh dengan keketawaan, pelukan dan speech sana sini. Taun ini gw dapet crockpot (hore!! Bubur ayam, rendang, dan segala resep tinggal cemplung), langganan majalah New York, PH Leon Bridges, pie plate, cookie tray sama pie cutter. Sungguh domestik yaaa… Jesse dapet mike stand, perabot rekaman yang gw ga ngerti apaan, buku Ray Davies, dan check untuk foya-foya :D Itu semua ditambah barang-barang kecil sebagai stocking stuffer seperti bir, wine, notebook dan jutaan coklat.
Abis itu makan malem barengan lagi deh. Mamanya Jesse manggang sayuran dan bikin salad, sementara Jesse bakar daging kambing di luar. Gw sempet bikin pie coconut sarikaya, tapi kayaknya kemanisan deh :( *kabuuurr*
Selesai makan malem pada kecapekan semua, belom lagi beresin bungkus kado dan pita-pita yang berserakan. Tapi senenglaaahhh… Gw ketiduran dengan suksesnya mengingat ga usah lagi mikirin bungkus kado. Hihihi…

Merry Christmas, all!! Hope you have a great time with your loved ones on the last few days of the year :* :* :*

Pantai Rockaway

rockaway1Masih tentang musim panas. Musim favorit yang nyaris selesai. Secara kegiatan mantai, lumayan maksimal karena nyaris setiap wiken gw akan manggul tas pantai gw dan cabs ke.. Manalagi lah selain Jacob Riis di jajaran Rockaway. Rasanya gak ada yang lebih penting dari Jacob Riis Park selama summer ini. Hahaha…
Sebenernya New York punya banyak pantai. Ada Coney Islands yang terkenal dengan Luna Park-nya, Brighton Beach yang didominasi imigran asal Rusia dan Eropa Timur, lalu ada hamparan panjang pantai sepanjang Long Islands. Tapi Jacob Riis Park yang bagian dari hamparan pantai Rockaway punya soft spot di hati gw. Relatif dekat dan low-key. Tiap kesana bawaannya hepi dan merasa #lyfeisgood #goodvibesonly. Padahal kalo dipikir-pikir apalah pantai ini, ga cakep-cakep amat. Mau dipake surfing, sudahlah ya ga usah dibandingin sama pantai Bali yang ombaknya gede tapi landai jadi bisa surfing panjang dan lama. Arusnya cukup kencang, jadi kalo cuma mau rendem-rendem cantik agak repot juga. Warna lautnya juga bukan biru turkis, cenderung biru gelap. Pasirnya rada putih sih, tapi ga halus-halus amat. Singkat kata, banyak pantai yang lebih cakep dari Jacob Riis Park.

But I heart it.
Ramones aja sampe bikin lagu tentang Rockaway.

Gw suka karena sepanjang pantai ini ga ada resort atau hotel berbintang. Ya kali males juga invest buat hotel, pantainya nanggung. Tapi hal ini membuat Rockaway milik bersama. Ga ada pantai pribadi buat kaum jet set. Gw kok sosialis begini ya ;)

Banyak jalan menuju Rockaway
Berbagai moda transportasi udah gw coba buat mencapai Rockaway. Paling gampang sih naik mobil pribadi atau uber, biasanya sekitar sejam. Paling murah naik subway ($2.75 one way), tapi kadang lamaaa, tergantung keberuntungan dapet kereta A yang langsung ke Rockaway atau harus ganti2 kereta A terus S terus bis, terus keburu laleran deh.
Semanjak musim panas ini ada ferry dari Wall Street ke Rockaway, sejam perjalanan saja dan semurah subway. Seru sih naik ferry, merasakan semilir angin sambil memandang Manhattan. Tapi ferry-nya sering telat dan saat wiken masyarakat kelas menengah membludak pingin naik ferry. Mungkin karena masih baru juga, manajemen ferry ini masih banyakan manyunnya.
Selain itu, ada minivan gelap murmer ($7 one way) dengan rute Jacob Riis-Williamsburg pp. Tapi namanya juga van gelap ya, dia agak gak pasti dan sering sesuka hati munculnya.

rockawayferry1

Seru sih naik ferry balik dari Rockaway sambil puas-puasin mandangin sunset.

Dulu gw sering pergi naik nyc beach bus ($12.5 one way), seru ini menuju pantai pake bis sekolah kuning. Karena disponsori Six Points, all you can drink and all you can grab, walhasil perjalanan balik ke NYC pasti penuh dengan anak muda tertawa dan bernyanyi bahagia berlebihan :D Tapi akhirnya gw stop pake beach bus karena jadwalnya yang kurang fleksibel, mereka cuman beroperasi jam 11.30 (menuju Rockaway) dan 6pm (menuju NYC). Pas gosong-gosongnya banget kan.
Kayaknya opsi yang belum pernah gw coba cuman naik helikopter aja :)

Aktivitas di Rockaway
Jacob Riis sendiri hanya sebagian kecil dari pantai Rockaway yang panjang. Bisa dibilang Rockaway ini secuil peninsula dari Long Islands, jadi aktivitas di Rockaway cukup beragam. Di bagian yang menghadap Samudra Atlantic, ombaknya cukup besar jadi bisa berselancar. Di bagian Rockaway yang menghadap Jamaica Bay, kita bisa main kayak, standup paddleboard alias main getek :D Banyak juga yang menyewakan jetski dan perahu untuk berlayar.
Di sepanjang pantai Rockaway banyak tempat jajan dan mimik-mimik.
Sayang sekali boardwalk Rockaway rusak parah akibat Hurricane Sandy beberapa tahun lalu, sebagai gantinya sepanjang pantai dibeton. Lebih mirip lapang parkir, tapi mayanlah daripada lumanyun. Lagian, keamanan lebih utama, bukan begitu permisah?
Downtown Rockaway sedang menggeliat, sehingga banyak bermunculan tempat makan seperti Beer Garden, Rockaway Surf Club dan restoran baru. Favorit gw adalah Rockaway Roasters, coffeeshop berjarak 2 blok dari stasiun kereta, tempat pas untuk janjian sebelum mantai atau SUP.

rockawaypaddleboard1

Main getek modern.

Aktivitas di Jacob Riis
Ga banyak yang ditawarkan Jacob Riis selain hamparan pasir, garis pantai yang lumayan panjang dan bazaar kecil buat jajan dan kalo weekend ada live music. Tapi gw anaknya mure, ini aja udah bikin hepi kok. Yang penting gw nyampe di pantai, jajan burger sama stroberita (sejenis frozen strawberry margarita yang menurut gw jadi trade marknya Jacob Riis Park, padahal mah di bar lain juga ada kali), gelar tiker, ngobrol-ngobrol, cebur-ceburan sejenak, baca buku trus pulang deh. Kadang makan eskrim sambil nungguin bis.
Entahlah, menurut gw vibe-nya Jacob Riis ini pas banget. Kebanyakan pengunjungnya beraroma hipster sih, tapi ya sudahlah. Yang penting sopan dan ga party mode on selalu. Dan seperti sudah disebutkan sebelumnya, azas kerakyatan yang adil dan beradab membuat gw selalu merasa nyaman di Jacob Riis.

Oh Rockaway, I’m gonna miss you so much!!

rockawayband1.jpeg

Live band di Jacob Riis Bazaar musiknya keren-keren, seringnya punk, rock n roll atau big band.

rockawaybird1.jpeg

Tiap sore burung-burung camar di Rockaway rapih berbaris.