Natalan di Portland, Maine

xmas1Namanya juga orang US ya, tradisi Natal-nya kental banget dengan tukeran kado, pohon natal dan Christmas dinner. Begitu juga di keluarga Jesse yang berdomisili di Maine. Ini kali ketiga gw ikutan Christmas di Portland, dan semakin lama semakin seru. Namanya juga hari raya ya, apalagi sih kalo ga kumpul-kumpul, makan-makan dan minum-minum.

Gw dan Jesse biasanya nyewa mobil dari Brooklyn, lalu kita menempuh perjalanan sekitar 5 jam, tapi kalo lagi macet bisa sampe 8 jam. Udah kayak Bandung-Jogja. Awalnya gw ngebayangin roadtrip sepanjang pantai dan mampir di toko-toko kecil, tapi East Coast bukanlah pantura, 5 jam lebih ditempuh full di jalan tol dan tentunya ga ada warung remang-remang sepanjang jalan. Walhasil gw bosen. Apalagi truknya kurang gambar-gambar full hiburan kan. Eniwei, ada untungnya juga punya pacar yang sama-sama gila musik, menjelang road trip kita biasanya bikin playlist barengan terus nyanyi-nyanyi sepanjang jalan, kecuali kalo gw tidur.
Karena biasanya kita nyampe malem dan capek banget sepanjang perjalanan, langsung tewas deh. Lagian Mama-nya Jesse, berserta Duncan, partner-nya, mereka tidurnya cukup awal. Kemarin itu kita nyampe sebelum jam 9, jadi sempet makan malem bareng seadanya terus ngintip-ngintip pohon natal yang dari tahun ke tahun selalu cantik.
Mama-nya Jesse memang seniman sih ya, gw sukaaaa banget rumahnya. Banyak lukisan gede-gede dan setiap detilnya manis banget. Begitu juga pohon natalnya, setiap ornamennya unik dan ngegemesin. Nyaris setiap ornamen ada ceritanya, dari mulai hasil kerajian tangan Jesse pas TK, sampe burung-burung ini dikasih siapa. Gw pernah menyumbang origami, tiap tahun selalu bertekad mau nyumbang lagi, tapi tiap mau liburan natal selalu gedubrakan belanja dan pesta natal, jadi ga pernah lagi deh.

xmas2

Komodo oleh-oleh dari Indonesia juga bagian dari ornamen Natal.

Besoknya acara bebas, gw sama Jesse sempat ke pantai, jalan-jalan aja sama main sama anjing-anjing yang bebas berlarian di Willard beach. Portland masih belepotan salju dari dua hari sebelumnya. Gw seneng banged deh salju melimpah dimana-mana. Tapi hari ini gw juga sibuk bungkus kado. Oh, I love wrapping presents! Seneng banget deh kalo udah berkreasi dengan kertas kado yang motifnya lucu-lucu, pita-pita gemerlap dan kertas tissue warna-warni. Belum lagi bikin kartu kecil atau gift tags yang metching sama bungkus kadonya.

xmas3

Tebak yang mana hasil mahakarya gw?

Malam Natal kita semua ngumpul di ruang tengah, ngobrol-ngobrol sambil minum champagne. Adiknya Jesse bikin crackers enaaakk banget deh. Dicemilin sama keju, almond dan dip dari terong. Abis itu dilanjutkan makan malam. Mama-nya Jesse masak ayam bumbu bawang putih dan bawang merah, udah kayak cerita masa kecil :P Side dish-nya mixed green salad dan kentang panggang dan ginger bread + vanilla ice cream buat pencuci mulut. Semuanya enaaakkk. Udah gitu kita duduk-duduk lagi di ruang tengah mengagumi pohon natal sambil minum eggnog dicampur bourbon atau rum. Abis itu gw masih ngerjain pe-er bungkus kado sampe akhirnya gw tepar jam 2 pagi kebanyakan eggnog dan belepotan solatip.
Karena sudah dewasa, besoknya semua bangun siang. Gw masih nyelesein bungkus kado, dibantu Jesse bikin kartu-kartu dengan kata-kata lucu, karena soal tulis menulis gw taluk deh. Untung adiknya + pacar adiknya dateng telat jadi kami sempet mandi dan dandan sedikitlah. Lalu kita brunch, sederhana aja sih menunya orak-arik telor sama fruit salad. Adiknya Jesse bawa cinnamon bun, cantik banget, tapi lupa difoto :P
And guess what, hari ini salju lagi! Oh gw bahagiaaaaa banged deh kalo turun salju. Walopun gw ga suka dinginnya winer, tapi kalo udah salju dimaafkan deh. Tentram damai gitu rasanya mandangin salju dari balik jendela sambil nyeruput bourbon eggnog :D

xmas4

I’m not dreaming about white christmas.. it was real.

Sampailah kita pada esensi Natal yaitu: buka kado! Hahahaha… Tapi beneran deh, tradisi buka kado di keluarga Jesse ini bisa berjam-jam, penuh dengan keketawaan, pelukan dan speech sana sini. Taun ini gw dapet crockpot (hore!! Bubur ayam, rendang, dan segala resep tinggal cemplung), langganan majalah New York, PH Leon Bridges, pie plate, cookie tray sama pie cutter. Sungguh domestik yaaa… Jesse dapet mike stand, perabot rekaman yang gw ga ngerti apaan, buku Ray Davies, dan check untuk foya-foya :D Itu semua ditambah barang-barang kecil sebagai stocking stuffer seperti bir, wine, notebook dan jutaan coklat.
Abis itu makan malem barengan lagi deh. Mamanya Jesse manggang sayuran dan bikin salad, sementara Jesse bakar daging kambing di luar. Gw sempet bikin pie coconut sarikaya, tapi kayaknya kemanisan deh :( *kabuuurr*
Selesai makan malem pada kecapekan semua, belom lagi beresin bungkus kado dan pita-pita yang berserakan. Tapi senenglaaahhh… Gw ketiduran dengan suksesnya mengingat ga usah lagi mikirin bungkus kado. Hihihi…

Merry Christmas, all!! Hope you have a great time with your loved ones on the last few days of the year :* :* :*

Iklan

Pantai Rockaway

rockaway1Masih tentang musim panas. Musim favorit yang nyaris selesai. Secara kegiatan mantai, lumayan maksimal karena nyaris setiap wiken gw akan manggul tas pantai gw dan cabs ke.. Manalagi lah selain Jacob Riis di jajaran Rockaway. Rasanya gak ada yang lebih penting dari Jacob Riis Park selama summer ini. Hahaha…
Sebenernya New York punya banyak pantai. Ada Coney Islands yang terkenal dengan Luna Park-nya, Brighton Beach yang didominasi imigran asal Rusia dan Eropa Timur, lalu ada hamparan panjang pantai sepanjang Long Islands. Tapi Jacob Riis Park yang bagian dari hamparan pantai Rockaway punya soft spot di hati gw. Relatif dekat dan low-key. Tiap kesana bawaannya hepi dan merasa #lyfeisgood #goodvibesonly. Padahal kalo dipikir-pikir apalah pantai ini, ga cakep-cakep amat. Mau dipake surfing, sudahlah ya ga usah dibandingin sama pantai Bali yang ombaknya gede tapi landai jadi bisa surfing panjang dan lama. Arusnya cukup kencang, jadi kalo cuma mau rendem-rendem cantik agak repot juga. Warna lautnya juga bukan biru turkis, cenderung biru gelap. Pasirnya rada putih sih, tapi ga halus-halus amat. Singkat kata, banyak pantai yang lebih cakep dari Jacob Riis Park.

But I heart it.
Ramones aja sampe bikin lagu tentang Rockaway.

Gw suka karena sepanjang pantai ini ga ada resort atau hotel berbintang. Ya kali males juga invest buat hotel, pantainya nanggung. Tapi hal ini membuat Rockaway milik bersama. Ga ada pantai pribadi buat kaum jet set. Gw kok sosialis begini ya ;)

Banyak jalan menuju Rockaway
Berbagai moda transportasi udah gw coba buat mencapai Rockaway. Paling gampang sih naik mobil pribadi atau uber, biasanya sekitar sejam. Paling murah naik subway ($2.75 one way), tapi kadang lamaaa, tergantung keberuntungan dapet kereta A yang langsung ke Rockaway atau harus ganti2 kereta A terus S terus bis, terus keburu laleran deh.
Semanjak musim panas ini ada ferry dari Wall Street ke Rockaway, sejam perjalanan saja dan semurah subway. Seru sih naik ferry, merasakan semilir angin sambil memandang Manhattan. Tapi ferry-nya sering telat dan saat wiken masyarakat kelas menengah membludak pingin naik ferry. Mungkin karena masih baru juga, manajemen ferry ini masih banyakan manyunnya.
Selain itu, ada minivan gelap murmer ($7 one way) dengan rute Jacob Riis-Williamsburg pp. Tapi namanya juga van gelap ya, dia agak gak pasti dan sering sesuka hati munculnya.

rockawayferry1

Seru sih naik ferry balik dari Rockaway sambil puas-puasin mandangin sunset.

Dulu gw sering pergi naik nyc beach bus ($12.5 one way), seru ini menuju pantai pake bis sekolah kuning. Karena disponsori Six Points, all you can drink and all you can grab, walhasil perjalanan balik ke NYC pasti penuh dengan anak muda tertawa dan bernyanyi bahagia berlebihan :D Tapi akhirnya gw stop pake beach bus karena jadwalnya yang kurang fleksibel, mereka cuman beroperasi jam 11.30 (menuju Rockaway) dan 6pm (menuju NYC). Pas gosong-gosongnya banget kan.
Kayaknya opsi yang belum pernah gw coba cuman naik helikopter aja :)

Aktivitas di Rockaway
Jacob Riis sendiri hanya sebagian kecil dari pantai Rockaway yang panjang. Bisa dibilang Rockaway ini secuil peninsula dari Long Islands, jadi aktivitas di Rockaway cukup beragam. Di bagian yang menghadap Samudra Atlantic, ombaknya cukup besar jadi bisa berselancar. Di bagian Rockaway yang menghadap Jamaica Bay, kita bisa main kayak, standup paddleboard alias main getek :D Banyak juga yang menyewakan jetski dan perahu untuk berlayar.
Di sepanjang pantai Rockaway banyak tempat jajan dan mimik-mimik.
Sayang sekali boardwalk Rockaway rusak parah akibat Hurricane Sandy beberapa tahun lalu, sebagai gantinya sepanjang pantai dibeton. Lebih mirip lapang parkir, tapi mayanlah daripada lumanyun. Lagian, keamanan lebih utama, bukan begitu permisah?
Downtown Rockaway sedang menggeliat, sehingga banyak bermunculan tempat makan seperti Beer Garden, Rockaway Surf Club dan restoran baru. Favorit gw adalah Rockaway Roasters, coffeeshop berjarak 2 blok dari stasiun kereta, tempat pas untuk janjian sebelum mantai atau SUP.

rockawaypaddleboard1

Main getek modern.

Aktivitas di Jacob Riis
Ga banyak yang ditawarkan Jacob Riis selain hamparan pasir, garis pantai yang lumayan panjang dan bazaar kecil buat jajan dan kalo weekend ada live music. Tapi gw anaknya mure, ini aja udah bikin hepi kok. Yang penting gw nyampe di pantai, jajan burger sama stroberita (sejenis frozen strawberry margarita yang menurut gw jadi trade marknya Jacob Riis Park, padahal mah di bar lain juga ada kali), gelar tiker, ngobrol-ngobrol, cebur-ceburan sejenak, baca buku trus pulang deh. Kadang makan eskrim sambil nungguin bis.
Entahlah, menurut gw vibe-nya Jacob Riis ini pas banget. Kebanyakan pengunjungnya beraroma hipster sih, tapi ya sudahlah. Yang penting sopan dan ga party mode on selalu. Dan seperti sudah disebutkan sebelumnya, azas kerakyatan yang adil dan beradab membuat gw selalu merasa nyaman di Jacob Riis.

Oh Rockaway, I’m gonna miss you so much!!

rockawayband1.jpeg

Live band di Jacob Riis Bazaar musiknya keren-keren, seringnya punk, rock n roll atau big band.

rockawaybird1.jpeg

Tiap sore burung-burung camar di Rockaway rapih berbaris.

Diego Rivera Mural Galore

diego1Salah satu aktivitas yang paling berkesan dari liburan ke Mexico City kemarin adalah ngunjungin muralnya Diego Rivera. Awalnya kegiatan ini ga diagendakan, tapi berhubung hari senin museum pada tutup semua, akhirnya ke sini deh. Karena mural-mural ini ga bersarang di museum melainkan di Secretario de Educacion, alias gedung depdiknas pemerintah Mexico!
Pas masuk kita harus melewati standar pemeriksaan dan mendaftarkan nama di buku besar ala tukang kredit, pemerintahan banget deh. Tapi petugasnya baik-baik kok, dan mereka udah maklum kalo sering dikunjungin turis yang mau liat-liat mural bukannya legalisir STTB.
Bangunannya sendiri bergaya kolonial, simpel dan didominasi warna abu-abu. Ga terkesan suram sih karena ada plaza luas banget di tengah-tengahnya, dan warna abu ini jadi latar sempurna buat mural-mural Diego. Gw kira cuman bakalan ada beberapa mural doang yang bisa dinikmati seadanya. Ternyata, ada tiga lantai dan di tiap lantainya ada lebih dari 80 mural! Total semuanya ada 253 panel. Pecinta mural dan karya Diego Rivera serasa diulangtahunin. Udah gitu, karena ini bukan museum, hanya ada segelintir turis. Malahan yang berseliweran adalah petugas kebersihan atau staff kementrian pendidikan. Kita punya waktu cukup untuk mengagumi tiap mural tanpa terganggu kerumunan orang-orang.

ditadiegomural

Mural selfie dengan rambut keriting sebelah

Di lantai pertama, muralnya kebanyakan tentang sejarah awal Mexico, dari mulai aktivitas pekerja tambang, panen jagung sampe pemandangan alam dan kehidupan di desa-desa. Tapi ga ada gunung belah tengah yaaa… Gw suka sekali gaya Diego menggambar dan bercerita, setiap karakter di muralnya unik dan imut.
Di lantai kedua, muralnya cenderung sederhana dan didominasi simbol-simbol seperti ikon riset, ikon buku, dll. Disini juga ada lambang-lambang propinsi se-Mexico. Oh my God, baru dua lantai serasa belajar banyak banget tentang Mexico. Emang ya kaum ndablek belajar sejarah kayak gw lebih mempan belajar lewat karya seni daripada lewat buku atau artefak-artefak.

Eits, tapi ternyata lantai tiga muralnya lebih wow lagi. Gw pribadi paling suka mural-mural di lantai tiga. Lebih meriah dan banyak bercerita tentang sejarah revolusi Mexico. Hampir di setiap mural ada karakter2 polisi yang berselempang peluru. Seperti mural di lantai sebelumnya, banyak simbol komunis bertebaran. Dan selalu, Diego pinter banget bercerita dan menggambarkan karakter-karakter di muralnya dengan sangat cermat. Ada Frida Kahlo juga loh! Jadi salah satu karakter bagi-bagi senjata. Emang doi galak kayaknya ya.

diegorestorasi

Mural-mural Diego ini aktif direstorasi.

Gw sebenernya baru mencermati karya-karya Diego akhir-akhir ini. Kalo Frida Kahlo sih udah jamak lah ya, ikon feminis dan lain-lain, dan gw udah liat beberapa karyanya di MoMA. Sehari sebelumnya kita mengunjungi Casa Azul dan studio Frida dan Diego, keduanya sekarang jadi museum, dan gw suka sekali akan karya-karya Diego. Gw suka Diego mencoba berbagai teknik dan media, tapi semuanya punya ciri khas yang menurut gw imut dan gemesin. Banyak lengkungan di karya Diego dan orang-orang yang digambar Diego cenderung bulet-bulet. Ibarat versi chibby-nya manga, hihihi.
Sembari nulis ini gw mulai baca-baca tentang Diego dan sejarahnya doi mendalami media fresco buat mural. Diego yang sebelumnya mendalami teknik melukis kurang puas dengan esensi lukisan yang seringkali jadi milik horangkayah dan ujung-ujungnya ga bisa dinikmati khalayak ramai. Ketika Diego belajar teknik fresco di Italia, barulah dia merasa ini media yang cocok untuk karya seninya. Ketika balik ke Mexico, berjodohlah dengan menteri pendidikan saat itu, yang punya program memuralkan gedung departemen pendidikan dan sekolah-sekolah. Jadilah gedung diknas ini sebagai proyek mural pertama Diego. Makasih banget loh pak atas inisiasinya. Art for the people!

diego2.jpg

What’s SUP, doc?

IMG_0577

Summer is here! Horeee!! Well, udah dari sebulan lalu sih musim panasnya, sempat agak tersendat karena aktivitas puasa, dsb. Tapi beneran sekarang udah summer bangeettt… Udah beberapa kali ke pantai dan punya hobi baru yaitu: SUP alias Stand Up Paddleboard bukan SUP Konro… :D

SUP udah beken dari beberapa tahun lalu, katanya sih trend ini dimulai dari Hawaii. Waktu itu anak-anak mendayung di papan yang lebar dan lebih stabil untuk motret orang-orang yang berselancar. Ga tau juga anak siapa dan ga disangka jadi olahraga baru untuk kawasan air tenang. SUP sendiri menurut gw mirip kano/kayak tapi sambil berdiri. Kayuhannya mirip-mirip kayak tapi karena kita berdiri di atas papan, penting banget menjaga keseimbangan. Walhasil selesai SUP kaki dan perut juga pegal-pegal. Tapi seru banget kaka… Gw mau paddleboard terus sepanjang summer, haha..

Gw suka olahraga ini karena adrenalin sedang dan mengayuh di air tenang itu cenderung  meditatif dan menenangkan jiwa. Apalagi udah jelas gw senang cebur-ceburan dan bermandikan matahari, jadi cocok deh. Biasanya gw dan Sophie (pasangan aktif mencoba berbagai olahraga) paddleboarding di Rockaway, karena kita berdua cinta pantai Rockaway, jadi abis paddleboarding bisa leyeh-leyeh di pantai.

Pertama kali paddleboarding sih kita cuman nyobain sejam aja deket deck di Jamaica Bay. Waktu itu berdiri masih gemeteran dan bingung gimana belok. Jadinya sering muter-muter tak tentu arah. Kali lain, kita merasa udah jago, pingin paddleboarding agak jauhan. Waktu awal-awal sih meluncur dengan lancar, pake dadah-dadah ke para beach goers yang lagi pesta. Giliran baliknya, oh maaakkk, arus dan anginnya kenceng banget. Gw rasa gw ngayuh mundur deh, sampe pada titik gw capek banget dan manyun ngeliat deck yang bukannya makin deket malah makin jauh. Untungnya ada om-om ber-speedboat yang baik hati. Dia menawarkan kita beserta papan kita numpang di kapalnya lalu dianterin pulang ke dermaga.

IMG_0573

Mesem-mesem sepanjang perjalanan numpang speedboat orang.

Antara malu, bersyukur dan cekikikan sepanjang perjalanan pulang.

Anyway, kami ga kapok SUP dan akan menjajal tempat lain buat mendayung. Kali ini akan cermat memperhatikan arus :)

Day 12: Musim panas

summer1
What are you most looking forward to in the next six months?

Karena kondisi keuangan tahun ini agak sempit, gw belum bisa berencana sama sekali untuk 6 bulan ke depan selain kerja keras, nabung dan berbakti demi kemaslahatan umat. Jadi mau nyontek mbak Yoyen aja, yang paling diantisipasi ya summer lah.
New York summer panasnya bagaikan Jakarta. Panas, peliket dan bau-bau kurang sehat bermunculan. Mungkin karena hutan beton kali ya, jadi gerah dan sumpek banget.
Tapiiii… Akika cinta banget sama New York summer. Sebagai anak tropis berbaju minimalis, sinar matahari, hawa panas, celana pendek dan mojitos adalah elemen alami gw :D Saat mayoritas orang di New York berpeluh kepanasan di jalan-jalan di New York, ada cewek kecil yang tersenyum lebar berjalan agak berjingkat di trotoar New York.

rooftoppartySummer berarti:

  • Berbusana koleksi musim panas seperti celana pendek, rok mini, summer dress
  • Berbagai konser musim panas, gratis, seruuu
  • Nonton layar tancep
  • Lari di Pier 6 sambil mandangin matahari terbenam
ps1

Party di MoMA PS1 sambil pura-pura mengagumi instalasi seni

  • Getting wasted on rooftop bar
  • Even better: getting wasted on museum rooftop bar
  • Party under the art installation
  • Makan chilli dan minum bir di Coney Islands
  • Dan aktivitas favorit: tiap wiken ke pantai Rockaway!
summerpineapple

Musim panas = musim nanas

Summer juga berarti ritual dua minggu di Portland, Maine, bermalas-malasan dan ke pantai tiap hari.

Udah ada sedikit rencana jalan-jalan sih, tapi belum ada detilnya (dan uangnya), jadi ya mari kita lihat saja nanti. Clue: Akan menjadi liburan spirituil ke tempat mistis dengan bebatuan merah dan pusat vortex energy bumi. Semoga jadi, amiiinnn. Ini liburan apa pesugihan sih? ;)