Pertemanan

IMG_5623

Jadi hari ini gw putus hubungan dengan seorang teman. Walaupun ini yang gw inginkan tapi gw jadi termenung-menung. Sedih ya keilangan teman. Hiks.
Sepanjang ingatan gw, gw jarang banget memutus hubungan dengan teman. Seringnya sih gw sibuk ngapain atau pindah kota, tapi jaraaang banget gw bilang “Sudah ya sampai disini saja,’” walaupun lagi sayang-sayangnya :D Karena menurut gw hubungan pertemanan itu fluid, ga rigid, bisa berubah bentuk sesuai sikon. Tapi beneran kali ini gw udah ga kuat banget, dan gw memilih mundur aja.

Oknum pertemanan gw ini sebut saja Melati (karena Mawar udah sering dipake di berita kriminal). Gw kenal dia dari temen, setelah hang out barengan di grup beberapa kali, akhirnya kita brunch berdua aja. Ciyeh intim. Lalu pertemanan tumbuh dengan normal dan dengan ritme enak. Mungkin karena waktu itu gw memang butuh teman untuk beraktivitas, jadi klop aja gitu kita menjelajah New York barengan. Nonton musik, liat pameran, bikin-bikin party, dll.
Melati beberapa tahun lebih tua dari gw, tapi sebagai sesama New Yorker, ga masalah, kita berteman asik-asik aja dan malah gw ngerasa dia lebih berjiwa muda karena aktif kesana-sini, ketemuan orang-orang dan (dulu) rajin posting sosial media di facebook maupun instagram. Gw rasa sih dia sangat extrovert, cukup cerewet dan punya banyak energi. Dibandingkan dengan gw yang cenderung banyak observasi, nyaman jadi pendengar dan kebluk.

Permasalahan mulai muncul dua taun belakangan ini. Mungkin sedikit banyak masalahnya berasal dari gw, karena gw mulai malas menjelajah New York dan lebih pingin ngelakuin hal-hal lain. Apalagi kalo winter, jangan tanya deh, keluar dari selimut aja males. Dua taun ini keadaan finansial gw ga seperti dulu, jadi gw sedikit demi sedikit mulai merombak gaya hidup. Ada masanya gw bener-bener bikin budget ketat, aktivitas ngebar dikurangi dan gw lebih memilih masak-masak aja di apartemen. Mayan kan, akrab sama kompor membuat winter terasa lebih hanget. Jadi kalo Melati ngajak hang out, gw banyak menolak.

Nah saat musim semi, ada kejadian yang bikin gw kesel banget. Waktu itu di pertengahan bulan puasa, hari Jumat dan gw dalam perjalanan pulang dari kantor. Udah sumringah aja ngebayangin pulang, buka puasa, makan malem dan segala tetek bengek bulan puasa lainnya, lalu gw udah ngebayangin tidur lelap abis shubuh tanpa diganggu alarm pagi. Tiba-tiba Melati sms, ngajakkin party bareng asosiasi professional se-New York. Gw dengan halus menolak, bilang capek. Terus balesan dia malah mempertanyakan “Kenapa sih? Ada apa dengan gw kok lu ga mau hang out? Ini party seru loohh. .. Lo pasti suka.” Yaelah tadi malem tarawih sampe jam 12 di mesjid NYU. Kali-kali pake alasan religi gapapa kan. Terus gw jadi kesel aja, emang gw ga boleh capek ya? Ya sih gw suka party, tapi sana lu puasa 18 jam, huh.

Mungkin karena gw tuh orangnya kelewat santai, kalo bisa jalan hayuk, kalo ga juga gapapa. Jadi kalo gw ngajuin proposal agenda sosial dan dia ga mau, ya udah. Ga bisa hari ini juga gapapa, toh kita sama-sama tinggal di New York masih bisa ketemuan kapan-kapan. Jadi gw juga mengharapkan dia juga chill out aja neng. Gw malah selalu berasumsi bahwa dia sibuk, ada konser disinilah, jadwal gym, jadwal dokter, jadwal pulang kampung ke kota sebelah, dll. Tapi kejadian bulan puasa itu berulang beberapa kali. Dia ngajak gw ngapain, terus gw males, terus ada prasangka, dan gw malah makin males ketemuan dia. Udah gitu semakin gw jaga jarak, eh semakin dia merongrong gw untuk beraktivitas bareng. Jadinya kan gw bingung.

Mungkin emang lama-lama ketauan ya kalo type temenan kita itu beda. Gw orangnya santai, lebih suka nongkrong-nongkrong sambil cerita-cerita, sedangkan Melati itu intens dan dalam. Buat gw pertemanan harusnya low maintenance, datang dan pergi itu biasa ga usah dipermasalahkan, sedangkan buat Melati ya kita BFF, susah senang bareng, selamanya. Gw suka males cerita panjang lebar lewat sms, nanti aja kalo ketemu. Sedangkan Melati kalo ngirim gw sms bisa berjilid-jilid. Gw kalo sedih lebih milih sendiri atau hanya melibatkan orang-orang terdekat gw (yang sayangnya bukan dia), sedangkan dia merasa selalu pingin dilibatkan di hidup orang.

Tapi apalah artinya sejuta perbedaan, mendingan kita cari persamaan ya ga? Apa gitu yang sama-sama bisa kita nikmati bareng. Tapi gw kok malah beneran tambah males ya. Jalan-jalan ke museum yang dulu senang gw lakuin bareng dia, gw lebih memilih sendiri karena terakhir ke museum bareng boooook dia ngomong banyak banget dan gw males dengerin celotehan panjang lebar dia tentang seni. Dan gw rasa sekarang yang paling mendasar adalah, ekspetasi kita dari teman. Gw sangat berusaha untuk ga minta macem-macem dari temen gw, walopun pada prakteknya ini susah. Dan mungkin ini yang bikin pertemanan kita semakin jomplang. Gw merasa sebagai teman gw ga harus ngapa-ngapain selain beraktivitas bareng kalo sempat, sedangkan menurut dia teman itu harus sering ketemuan dan berkabar. Entahlah, gw udah habis ide bagaimana menyegarkan pertemanan ini. Boleh ya gw beneran mundur sejenak menata perasaan gw sebelum bisa ‘engage’ lagi dengan dia.

Tapi sedih juga ya pas liat dia udah ga temenan lagi sama gw di facebook :(

Iklan

Hal-hal yang tidak sempat kita bicarakan

Kita biasa bicara tentang banyak hal. Tentang teman-teman senasib sepenanggungan dan salam-salam yang terlontar di kala kita berjauhan. Kita bicara banyak tentang gosip perkantoran, bos besar, bos kecil, seolah kita tidak akan pernah jadi bos. Kita berbincang berhari-hari mengenai kamera besar, kamera kecil dan lensa-lensanya. Tentang para pemenang sayembara jurnalisme internasional, tentang tangan-tangan yang tak lelah menunggu di samping tombol bundar kamera hingga momen berdatangan. Kadang kita bicara tentang politik dan karena aku orang peta jadi ditambah geopolitik. Sebenarnya tidak masalah, apa saja kita bicarakan tapi seringnya berbagai ketololan yang membuat kita terbahak-bahak. Karena kita merasa pintar, dan orang pintar kan selera humornya bagus.

Kita biasa bicara macam-macam hingga larut malam. Kadang kita menyindir, yang satu ayam jago dan yang satu burung hantu. Tapi dua-duanya bercericit dan ngalor ngidul seolah tak habis-habisnya berita rumah tangga. Kadang kita bicara yang ringan-ringan seperti teh terenak di dunia, kadang kita bicara yang berat-berat seperti membahas penangkaran buaya. Kadang tak jelas kategorinya dan seringkali kita (aku tepatnya) hanya mencari-cari hal-hal lucu agar kita cengengesan.

Topik yang muncul berkali-kali adalah perjalanan. Seolah kaki-kaki kita, yang panjang pendeknya tidak sama, berlomba mengukur bumi dan menemani kita meramu cerita. Kita juga berbagi cerita orang lain yang sudah lebih dahulu menancapkan bendera. Lalu kita jadi berangan-angan, siapa tau cuti kita seirama lalu kita kesana bersama-sama.

Tapi ada hal-hal yang tidak kita bicarakan. Tentang kita.
Tentang pesan-pesan singkat saat kita berjauhan. Bagaimana pesan singkat itu tiba di pagi hari dan membuatku tersenyum saat menuju ke kantor. Kamu tahu saja aku suka Spongebob (hmm, apakah ini juga salah satu topik berat yang dibahas berlarut-larut?) Dan meskipun kita suka sekali berkhayal panjang-panjang akan liburan di masa mendatang demi sejenak melupakan penat meeting hari ini, kita tidak pernah membicarakan liburan kita yang lampau. Bagaimana liburan itu awalnya tanpa harapan, tapi kita spontan saja toh hanya ingin bersenang-senang. Kita tidak pernah bicara bagaimana hari libur yang hujan seharian itu kita habiskan saja dengan bercengkerama di kamar. Kita tidak pernah mempertanyakan apakah liburan itu kelamaan? Hmm, memang pertanyaan bodoh. Tidak ada liburan yang kelamaan.

Ada juga hal-hal yang luput dari pembicaraan atau sengaja disimpan dengan harapan tidak harus keluar saat kita kehabisan topik. Yaitu tentang pacar-pacar kita, yang dulu dan yang akan datang. Kita seperti kesusahan jika dihadapkan dengan pilihan ganda. Ada hal-hal abstrak yang aku tepiskan, aku tak mau kita berbicara dengan jeda. Karena kalau kita diam, aku jadi kepikiran. Maka aku kembali mencari-cari hal-hal sempilan untuk kembali ditertawakan.

Karena mungkin aku (dan kamu) akan terkejut jika kita berusaha mengenali perasaan-perasaan. Yang tumbuh tenggelam selayaknya perahu yang kita sewa agar kita bisa main-main bebas. Karena pabila ia kentara, aku takut harus ada yang bertanggung jawab. Harus ada pertemuan yang sulit direncanakan dan harus ada yang kehilangan kebebasan. Aku takut kita akan berhenti ngobrol, dan hanya ingat betapa awkward-nya malam (atau pagi) itu. Aku takut pesan-pesan singkat itu akan berhenti dan perjalanan kita hanya wacana. Kamu pun sepertinya tak berkeberatan dan ya sudahlah, toh kita sudah sebegini dekat dan selalu berbagi suvenir yang bukan gantungan kunci saat kita berkelana sendirian. Kita sepertinya pengasih, hanya enggan bicara soal hati.

Toh kita bisa bicara panjang lebar tentang konservasi dan penanggulangan bencana. Juga tentang mercu suar dan orang-orang yang berdedikasi menjaganya. Tentang laut dan gunung dan kota-kota di antaranya. Tentang musik jazz yang semakin dibahas semakin susah dimengerti. Tentang rencana-rencana yang kita jadwalkan saat kita bertemu muka. Sampai kita lelah dan tertidur berpelukan, sampai akhirnya kita berjauhan dan kehabisan pembicaraan.

Me vs You

dsc_2353_15652844261_o.jpgKemaren-kemaren ngobrol-ngobrol sama temen cewek tentang tingkat kompatibilitas pasangan masing-masing. Mungkin karena dia masih muda (tsah, berasa banget senioritas) dan baru pacaran sama 3 cowok (tsah lagi, berasa paling banyak mantan terindah), jadi menurut dia kompabilitas ini penting banget. Sedangkan buat gw, ya tiap cowok itu beda-beda, cari aja mana yang mau susah seneng bareng, ga usah mikirin kecocokan. Menurut gw pacaran itu lebih penting visi misi, udah ga kalah sama pilkada :D

Tapi jadi kepikiran juga sih, gw sama Jesse sekompatibel apa sih? Mari kita telusuri..

Musik
Persamaan: suka musik, tingkat obsesif :D
Kita berdua sama-sama gila musik. Suka dengerin musik lewat speaker hingar bingar, dan selalu bawa earphone kemana-mana. Kita juga suka banget nonton konser dan rajin bikin playlist. Sebagai sesama produk 90-an, kita berdua berangkat dari musik pertumbuhan yang mirip. Nirvana, R.E.M., Aimee Mann adalah beberapa dari musisi yang kita sama-sama suka. Untungnya kita berdua terbuka untuk menjelajahi berbagai jenis musik, musik-musik baru dan lama, ga melulu dengerin musik yang itu-itu aja.
Bedanya: Walopun seneng nonton musik bareng, jangan harap ada adegan mesra-mesraan dunia milik berdua di konsr musik. Jesse kalo nonton musik serius tingkat konferensi G20 summit, diam dan cuma sesekali aja komentar. Sedangkan gw sibuk nari-nari kalo musiknya jingkrable, dan kadang ambil video atau photo, tapi udah ga sesering dulu sih. Perbedaan selera musik yang susah ditolerir adalah gw suka musik sendu 80 dan 90-an ala Janet Jackson dan Whitney Houston, Jesse suka musik country macam Johny Cash, dan untuk yang ini kita keukeuh ga bakal terpengaruh :D Gw udah meniadakan koleksi dalam bentuk apapun termasuk musik, sedangkan koleksi PH Jesse berjibun, dirawat baik-baik dan dijejerin rapih menurut abjad. Bahkan kalo gw mau nyetel PH dia, bisa-bisa dimarahin kalo salah caranya :|

dsc_1023_24977778466_o

Nonton konser di Tipitina’s – New Orleans. Salah satu dari sedikitnya foto barengan saat nonton konser musik.

Makanan
Sama-sama: suka makanan pedas dan berbumbu. Gw mah kan dari Indonesia ya, kalo Jesse ga jelas darimana datangnya salero bundo ini. Doi kuat banget makan sambel, walopun keesokan paginya bolak-balik WC. Kita juga sama-sama suka nyobain berbagai makanan dan restoran baru.
Tapi akhirnya asal perut ga bisa bo’ong. Gw kalo berhari-hari makan-makanan bule, pasti kangen Chinese food yang berminyak :D Bahkan kadang gw suka nyumputin bawa mie instan kalo lagi liburan di Maine, hehe. Jesse juga waktu liburan di Indonesia, tiba-tiba pingin makan roti dan pas balik ke New York langsung pesen chicken sandwich. Kebiasaan makan juga agak berbeda, gw harus makan tiga kali sehari, makan pagi sekitar jam 10 (walopun kadang kelewat sih), makan siang antara jam 1-3 dan makan malem antara jam 7-9 malam. Sedangkan Jesse prinsipnya cuman makan kalo lagi laper dan biasanya ga pernah makan pagi, tau-tau makan jam 4 sore dan baru laper lagi jam 10 malem. Kadang kalo mau makan bareng gw suka manyun karena udah hangry duluan :(

39342887292_c9b2d56794_o

Yang satu gonjreng-gonjreng, yang satu corat-coret.

Talenta
Sebenernya kita bedua adalah jiwa-jiwa kreatif masa kini yang cukup geeky, cuman beda medium dan bidang aja. Kuping dan otak Jesse sangat berbakat mencerna audio, makanya dia jadi musisi sekaligus kerja di tim produksi radio dan betah berjam-jam mixing berbagai suara dan musik. Sedangkan gw sangat telaten ngurusin visual seperti bikin peta, infografik dan rela ngabisin berjam-jam milih typeface sama warna. Kalo kita punya anak pastilah berbakat audio-visual jangan-jangan berbentuk home theater kali ya.. :D :D :D

 

 

Jalan-jalan
Kita berdua suka jalan-jalan tapi juga suka males-malesan di rumah.
Tapi ya mo gimana lagi, gw memang punya jam terbang lebih tinggi *kibas poni* dan udah menebar pin-pin #beenthere #udahpernah di lima benua. Waktu awal traveling bareng, mo nangis rasanya nyesuaiin ritme sama Jesse. Contohnya nih, gw mah tidur dimana aja asal nyaman dan ga ganggu host. Gw sebenernya lebih suka nginep di rumah temen deket (ya kan sekalian kita silahturahmi) atau Air BnB, karena jamannya sering mission gw bisa sebulan nginep di hotel jadi hotel ga berasa liburan lagi. Sedangkan Jesse harus banget di hotel, kalo bisa hotel terisolir dari orang-orang jadi dia ga perlu berbagi kolam renang dengan anak kecil. Terus, gw dulu sukanya foto-foto, sedangkan Jesse ga merasa foto-foto ini penting. Sekarang sih udah saling mengerti, hotel ya disesuaikan dengan mood dan foto-foto harus tapi seperlunya aja.

Cold vs hot blooded
Oh tapi yang paling mendasar: kita bagaikan bumi dan langit untuk urusan suhu yang nyaman. Gw si gadis tropis berbaju minimalis senangnya di atas suhu 25, cenderung suka udara yang sumuk dan hepi sekali berjemur di bawah sinar matahari. Jesse yang nenek moyangnya dari Maine dan Scotland nyaman di udara Lembang, kalo bisa yang kering dan berawan. Lima belas menit di bawah sinar matahari dia akan berubah menjadi pink keunguan sedangkan gw dilepas kala winter paling tahan 15 menit lalu cranky dan mau pulang aja meluk heater. Gw benci AC sedangkan kalo lagi musim panas gini Jesse pasti nyembah AC sehari semalam. Udah sehari-hari kita manyun-manyun atau harus beraktivitas di ruangan yang berbeda. Bukan marahan tapi ya ga nyaman aja kepanasan/kedinginan.

Lain-lain
Dua-duanya sama-sama burung hantu alias selalu bangun siang dan senang begadangan. Horeee!! Hal ini sangatlah terasa saat liburan. Kita akan bangun sesiang mungkin, dan lewat tengah malam masih aja keketawaan kecuali udah capek banget beraktivitas seharian. Sayangnya sehari-hari ga begini karena gw karyawati yang bercita-cita dapet piagam karyawan teladan, gw harus bangun agak pagi dan ga bisa tidur kemaleman. Sedangkan Jesse yang mulai ngantor jam 12 bisa bangun agak siangan.

Dan yang pasti sama: kita berdua sayang banget sama Pablo dari lubuk hati yang paling dalam.

27595696049_8fda0d5ceb_o

Kompak selalu, bahu-membahu membangun negeri bersama Pablo.

Gw rasa ga akan ada manusia yang 90% apalagi 100% plek-plek kompatibel. Akan selalu ada perbedaan. Tapi kalo kita fokus sama perbedaan, ya ga akan maju dan gimana mau membangun hubungan bersama. Gw rasa sih, pasangan itu hanyalah dua orang yang mencoba saling mengerti dan saling mendukung, dan pada akhirnya tumbuh bersama. Nampak simpel, tapi memang pada kenyatannya ga gampang juga sih. Namanya juga hubungan ya, we have to work it out dan di situlah seninya :)

Setuju ga? Kamu dan pasangan banyakkan persamaan apa perbedaan?

Puasa di New York

ramadhan.png

Tadinya tulisan ini nangkring di draft dan mungkin akan dilupakan sampai bulan puasa tahun depan. Tapi akibat ada Ramadhan post dari Deny dan Christa, jadi semangat menyelesaikan.

Ga kerasa, Ramadhan ini adalah bulan puasa keenam gw di New York. Lama-lama makin terbiasa dan makin mahir menghindari godaan syaitan berwujud reception dengan open bar :)
Selama 6 kali Ramadhan, semuanya dilakukan pas musim panas, yang menurut gw adalah puasa tingkat advance karena hari yang panjang. Imsak sekitar jam 4 pagi dan buka puasa antara jam 8-9 malam. Ramadhan taun ini maghrib paling telat jam 8.30. Tapi alhamdulillah ga nyenggol summer solstice, yaitu hari terpanjang dalam setahun dimana matahari terbit paling pagi dan terbenam paling larut malam. Dua taun yang lalu gw pernah puasa pas summer solstice, rasanya kayak mecahin rekor Mario Bros trus abis itu pingsan sampe imsak :D

Karena gw ga terlalu dekat dengan komunitas Indonesia dan muslim disini, bulan puasa ya berjalan seperti hari-hari biasa. Kantor berjalan seperti biasa, deadline menghantui karena syaitan yang satu ini tidak dibelenggu :| Ga ada keringanan untuk dateng telat dan pulang duluan. Buat gw kerja sambil puasa kadang jadi lebih produktif, karena ga harus mikirin makan pagi, ngopi dan makan siang. Tinggal kerja aja kerja, diselingi sholat Dhuhur atau kadang gw rehat sejenak baca buku dan menikmati matahari di taman.

Jam lima sore langsung beres-beres pulang. Gw udah ga maksain naik sepeda, karena rendahnya kadar gula darah di sore hari membuat gw ngantuk dan sering ngelamun. Kegiatan ngabuburit pun ga terlalu bervariasi lagi karena gw cuman pingin tidur siang sepulang dari kantor. Baru pas weekend bisalah kita jalan-jalan setitik, lalu tidur siang lagi :D

Buat gw, godaan puasa biasanya bukan haus dan lapar, melainkan ngantuk bangeettt. Gusti, susah banget bangun pagi abis sahur. Mau ga tidur lagi mana tahan gw hidup dengan tidur hanya 3-4 jam. Dan kalo diitung-itung, tidur selama bulan puasa emang defisit banget sih. Isya jam 10, yang berarti gw paling cepet bisa tidur jam 11-an, dan jam 3 harus udah bangun buat sahur, karena fajar sekitar jam 3.45. Abis itu tidur lagi sekitar jam 5, karena biasanya gw leyeh-leyeh, nyuci piring dan baca buku sebelum bisa balik bobo.

Yah, sama godaan dari berbagai keriaan di New York dan gw harus say no to wine bar :|

Puasa sendirian juga berarti ga pake ribet nyusun menu ini itu. Yang gampang aja deh, yang penting ada manis-manis pas berbuka dan makan malem bergizi. Biasanya gw sedia korma, buah-buahan dan sepotong kueh buat takjil. Makan malem disesuaikan dengan mood dan kadar kebrangasan :D Tapi biasanya gw udah nyiapin makan malem banyak, eh baru makan setengah porsi udah males. Karena ternyata badan gw lebih memohon gw untuk minum daripada makan.
Sahur apalagi, kalo bisa yang tinggal mangap. Menu sahur andalan gw, sekaligus my comfort food of all time: nasi + telor ceplok + abon + kecap manis. Kadang bikin telur dadar bayam + roti. Biasanya menjelang akhir-akhir gw udah bosen sama menu telor-teloran ini, dan lebih suka oatmeal + buah-buahan. Dan tentunya tiap Ramadhan pasti aja ada episode kebablasan sahur :D

Gw juga semakin terlatih menikmati New York sambil puasa. Nonton konser jalan terus, walopun udah ga sesering dulu, tapi ya emang puasa atau ga, gw lebih memilah-milah konser musik. Ternyata ga susah juga kok puasa sambil nonton musik, asal ga jejingkrakan aja. Hari Jumat kmaren gw nonton Belle and Sebastian di Forrest Hills Stadium karena dapet tiket gratis (rejeki anak solehah banget deh ini), dan untungnya bisa duduk dan ada food bazaar-nya juga. Jadi pas jeda antara opening act dan Belle and Sebastian, gw jajan lalu menikmati beduk maghrib berupa lagu The Boy with an Arab Strap ;)

Yang masih tersendat-sendat adalah urusan tarawih. Di dekat apartemen gw ada mesjid lumayan gede. Gw pernah ikut tarawih sekali disitu, tapi ga geunah deh. Bagian wanita penuh sama ibu-ibu dan anak-anaknya terus rusuh. Banyak anak kecil berseliweran, terus ibu-ibu di bagian belakang rumpi banget. Udah gitu karena bagian wanita ini dekat dengan ruang iftar, bau makanannya menggoda iman ya. Alih-alih khusyuk, gw jadi males ke mesjid dan kangen mesjid East Village yang mungil dan sederhana. Udah gitu kepikiran banget pingin buka daycare (atau nightcare) selama bulan puasa biar ibu-ibu bisa beribadah juga. Ide daycare ini juga selalu terasa mendesak setiap sholat Eid.

Meskipun begitu, Ramadhan selalu terasa manis semanis es cingcau ijo yang amat kurindukan. Senang menikmati jalan kaki menuju mesjid, malam-malam panjang menjabarkan mimpi-mimpi dalam bentuk doa dan yang paling gw suka, kedekatan dengan diri sendiri dan Tuhan semesta alam.

Selamat menuntaskan ibadah puasa bagi yang melaksanakan, semangat tinggal tiga hari lagi!

#dayofthegirl

Barusan ngobrol sama temen kantor yang asal Yemen. Awalnya sih nyeletuk2 asal.
“New York without a boyfriend is such a lonely city.”
“Noo… I had fun when I was dating.”
“Now there is only swipe right and left”
“Well, when I was dating there was no Tinder. But there was OK Cupid.
“Where did you meet your boyfriend?”
“At the DIY art space, he’s a friend of a friend.”
“I see. But, I’m a marriage only girl.”
“Let’s hang out at that Yemeni cafe to meet your next boyfriend.”
“I don’t like that community. Mostly Yemeni guys don’t want girls to work and have career.”
“Yeah, but you will find one that allow you to work. It’s the same in Indonesia, some are still conservative. But I wanna be the girl I want to be.”

Beberapa saat setelah percakapan selesai, diakhiri dengan janji nongkrong2 di Yemeni Cafe karena roti dan baklavanya enak (bukan karena cowoknya oke) gw baru sadar betapa berartinya kalimat terakhir gw “I want to be a girl I wanna be.” Dan sebagai cewek, perjalanan ke sana ga gampang. Ya peer pressure lah, tuntutan keluarga, citra perempuan, dll. Bahkan sesama perempuan, kita paling jago deh tunjak sana tunjuk sini, cewek harus gitu cewek harus gini. Yekan?
Gw termasuk beruntung, tinggal di New York, dan kota ini membebaskan kaum hawa merasa nyaman sebagai perempuan. Walopun masih sih ada ketimpangan di urusan gaji, seringnya cowok mendominasi percakapan sehingga ada istilah manteruption, dll. Tapi di hal-hal lain seperti pulang malam dan pake baju minim, bebas-bebas aja. Mau dating boleh, mau langsung kawin gapapa. Ga ada cap miring dari masyarakat. Mau jadi belly dancer silahkan, mau moshing di punk scene pun ga ada yang curi-curi grepe-grepe. Selama tinggal di New York, paling setaun sekali gw dapet catcall.
Pengalaman gw waktu tinggal di Indonesia nih, kostum andalan celana pendek berkali-kali jadi sorotan perhatian. Gw sih pede aja semua terpesona sama penampilan gw yang effotless chic :D Urusan pilihan kawin sudahlah, udah kenyang gw diceramahin semoga cepet kawin ya, tunggu apa lagi, yada yada yada. Panjang banget ini jilidnya, tapi gw udah mendapat pencerahan transcendental dan berdamai dengan semua pihak, hihi. Belum lagi betapa traumanya gw waktu terjun moshing nonton band grindcore asal Bandung. Bukan karena kesepak sepatu lars, kalo itu mah udah resiko, tapi ada cewek di arena moshing seolah jadi sasaran empuk pria-pria kesepian. Seabis itu gw terlatih nonjok cowok-cowok yang moshing walopun seringkali salah sasaran, hihi.
Dan jangan tanya urusan disuit-suitin, ganggu bangeettt saat jalan kaki. Kagak bisa ya liat barang bagus. Huh.

Dulu sih gw selalu ngerasa, oh ya gimana lagi gw kan cewek. Tapi sekarang gw sadar, ya hak gw lah nyaman pulang malam tanpa merasa waswas, walopun tetap selalu awas. Hak cewek jugalah mau menentukan karirnya, usia berapa mau nikah atau ga nikah sekalipun. Dan jelas-jelas hak cewek untuk bisa moshing aman di depan band kesayangannya!!! Penting ini!!

Semoga siapapun cewek yang membaca postingan ini sudah menjadi “the girl she wants to be” dan semoga kita selalu berperan aktif menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendorong setiap cewek jadi dirinya sendiri. Menurut gw cewek modern bukan hanya cewek yang berkarir maju tapi lebih luas sebagai cewe yang punya banyak pilihan dan tidak dibatasi cewek harus gini cewek harus gitu. Etdah, serius ya kayak modul-modul pelatihan pemberdayaan perempuan.

Sebagai hiburan nikmatilah lagu catchy dari Lizzo ini, kata Lizzo:

In celebration of all the ladies out there that were told they were “too this” and “not enough that”; All of the mamas out there busting their asses; All of the women out there that make us proud to hold a microphone.

Gapalah toh girls adalah cikal bakalnya ladies :)