Deodoran rumahan

Salah satu niat gw di tahun ini adalah mulai mengkaji ulang (tsah, macam riset ilmiah) perawatan kulit, baik muka maupun tubuh. Eits, tenang tenang pemirsa, blog tidak akan berubah menjadi blog yang sedikit-sedikit mengulas skin care dan tata rias. Tidak dalam waktu dekat :D

Anyway, pulang dari jalan-jalan akhir tahun gw agak manyun karena ukuran deodoran yang menurut gw gedean bungkusnya daripada isinya. Mulailah cari-cari alternatif deodoran yang murmer dan ringkes. Setelah berlama-lama mengamati deretan deodoran di toko, gw malah tambah pusing. Kok semuanya setipe ya, kemasan plastik keras, bahkan ukuran dan bentuknya pun nyaris sama. Apakah ada ISO tertentu untuk produk deodoran? Hmm… Mari kita pesen online saja.

Setelah browsing sana sini, gw ga menemukan deodoran yang pas, bahkan produk-produk lokal yang ngakunya ramah lingkungan dan organik itu tetep aja bentuknya serupa. Gw nyari yang bentuknya bubuk atau krim. Dan akhirnya malah nyangkut di blog lifelessplastic dan terinspirasi untuk bikin deodoran DIY. Nampak cingcay. Mari kita coba, apalagi kan lagi musim dingin nih. Ketiak tidak terlalu aktif dan kalopun ada apa-apa, ada sweater yang senantiasa menutupi kekurangan manusia biasa.

Si life less plastic sih resepnya baking soda dan tea tree oil. Keduanya gw punya di rumah. Tinggal racik deh..

Beginilah pengalaman gw berdeodoran DIY, maafkan kalo penjelasan terlalu grafik.

Hari 1 – Gw campur baking soda dan beberapa tetes tea tree oil (beli di Body Shop) di botol kaca bekas pudding #reuseislyfe. Racikan terlihat aman. Diolesin ke ketiak begitu saja pakai jari.
Tapi pas malem lupa meriksa ketek, inget-inget pas mandi pagi. Yah barbuk lenyap sudah :D

Hari ke-2 – Pakai deodoran formula baru ini lagi. Sore hari terasa agak lembab tapi pas diendus-endus ga bau looohh… beneran. Malah ada samar-samar bau tea tree oil, enak.

Hari ke-3 – Sama seperti hari 2, tidak bau dan agak lembab doang. Agak ga nyaman sih sama ga lembabnya ini :|
Lalu  sekitar jam 9 malem kok ketiak rasanya agak tersengat gitu ya. Ga parah sih, tapi gengges aja.

Hari ke-4 – Mulai cari-cari resep alternatif. Nemu resep ini, bisa dicampur maizena dan minyak kelapa untuk kulit sensitif katanya. Baiklah mari kita coba. Sorean ketiak terasa tersengat lagi.

Hari ke-5 – Gw tambahkan maizena ke formula deodoran sebelumnya. Pakai seperti biasa, dipukpuk pukpuk pakai jari. Pas sore ngecek, wah ajaib, kering dan ga bau sodara-sodara… Ga terasa menyengat pula. Yess…

Hari ke-6 – Masih oke nih formula. Tidak bau, kering dan terasa nyaman.

Hari 7 – Hari ini gw nyuci baju. Gw terbiasa semprot-semprot baju wilayah ketiak pake Tide, karena biasanya bagian ini ada noda putih dari deodoran yang gw pake. Pas mau nyemprot, eh lengan baju gw bersih loohh… Gw endus-endus juga, ga bauuu… Waaah gw hepi banget. Jadi kan kita ga usah repot semprot-semprot sebelum laundry.  

Gw hepi sekali dengan kesuksesan deodoran ini. Udah dua minggu berlangsung dan rasanya nyaman banget. Murah meriah dan mengurangi dosa pada lingkungan. Akan kuteruskan sebisa mungkin, walopun untuk musim panas mungkin harus dikaji ulang. Apalagi hawa-hawa New York pas musim panas kan lengket, ditambah gw rajin sepedaan pulang pergi kantor dan kostum musim panas didominasi model you can see.

Ini bukan pertama kalinya gw coba-coba perawatan muka dan tubuh DIY. Pernah bikin toner air campur cuka apel yang akhirnya gw hentikan karena gw ga suka baunya. Pernah juga percobaan no poo tapi akhirnya gw hentikan karena rambut gw berminyak dan lepek bangeettt, dan selama no poo itu gw kangen banget rambut yang kesat dan mengembang sempurna. Makanya waktu deodoran ini sukses gw hepi banget, sekaligus ingin menjajal resep DIY lainnya. Seperti juga produk perawatan kulit muka yang biasa kita beli di toko, toh pada akhirnya semua cocok-cocokan. Tiap orang punya struktur kimia yang berbeda, tergantung dari genetik, pola makan, gaya hidup dan lain-lain. Jadi apa yang cocok di gw, belum tentu cocok di orang lain. Meskipun begitu, siapa tau menginspirasi ya. Nantikanlah pemirsa, siapa tau di penghujung tahun blog ini berubah jadi ulasan produk skin care tapi DIY semua.

Bye Rexona!!

Iklan

Blonde yang ga bisa nyanyi

blonde1
Entah kenapa saya punya hobi midnight baking. Masih amatir karena menunya baru 3 macem, banana bread, brownies sama blonde. Dan biasanya suka menyesal karena udah jam 12 malem dan terkantuk-kantuk nungguin kuenya mateng.

Paling seneng sih bikin brownies, karena itu cemilan favorit (selain kacang atom pedas). Suatu hari ketika lagi nyari2 resep varian brownies, malah ketemu blonde. Sempet ngikik sendiri, dikirain becanda ya ini. Brownies-nya ketemu hantu kali ya trus syok dan pucet hingga jadi blonde *kriuk. Tapi ternyata blonde ini cukup lumrah, kita aja yang ga tau. Rasanya didominasi caramel tapi teksturnya kayak brownies. Enak, cocok buat temen minum teh atau kopi. Atau Baileys juga boleh kalau mampu.

Dan bikinnya gampang banged cuy. Cuma pake satu mangkok, ga pake mixer-mixeran, dan mudah dimodifikasi. Buat saya sih berarti semakin banyak bourbonnya. Uhuuyy..Yang jadi pe-er adalah ketika stok brown sugar saya beku sekeras potongan batu bata. Ternyata ada triknya untuk menyimpan brown sugar ini, di kontainernya sertakan potongan marshmallow. Si marshmallow ini akan menyerap kelembaban, dan bisa ditambahkan di kopi atau susu coklat buat temen nyemil blonde.

Baiklah berikut resepnya ya.. Aslinya dari sini blonde2

Persiapan: 5 menit (kalo saya mah amatir dan semuanya takarannya harus pas, jadi biasanya 15 menit)

Waktu masak: 25 menit
Bahan:
1 cup (115) mentega, cairkan. sisakan secukupnya untuk mengoles loyang – disarankan yang unsalted.
1 cup (230 g) gula palem (dark brown sugar) – disarankan yang dark, supaya karamelnya terasa banged
1 butir telur
1 1/2 sdt ekstrak vanili
1/2 sdt ekstrak almond (pilihan) – saya ga punya, jadi diganti bourbon 2 sdt :P
1/8 sdt garam
1 cup (140 g) all purpose flour

Kalo suka, berikutnya bisa ditambahkan
1/2 – 1 cup chocolate chips
1/2 to 1 cup kacang cincang
1/2 to 1 cup korma dicincang atau kelapa parut
1/4 cup liquor (bourbon, whisky, rum, baileys, dll). Tambahkan 1 sd tepung supaya pas
1/2 sdt perasa makanan seperti mint, kelapa, stroberi, dll
2 sd bubuk kopi instan

Yang kemarin terakhir bikin itu ditambah 2 sdt bourboun esktrak, potongan almond buat taburan atasnya dan 1 sd bubuk espresso.

Cara memasak:
Panaskan oven sampai 350 F (177C), abis itu olesi loyang dengan mentega. Saya cuman punya 1 loyang 20cm x 20cm.
Lelehkan mentega, lalu campur brown sugar hingga halus.
Masukkan telur, ekstrak vanilla, ekstrak lain2nya dan garam.
Masukkan tepung sedikit demi sedikit sambil terus aduk-aduk hingga adonan halus.
Kalau suka bahan2 lainnya seperti kacang, chocolate chips, dll, masukkan juga.
Tuang adonan ke loyang, panggang selama 20 – 25 menit.
Setelah matang boleh dicek dengan tusukan di tengahnya dengan tusuk gigi (atau sumpit atau garpu), kalo tusuk gigi keluar bersih tanpa ada adonan yg lengket berarti sudah matang.
Tiriskan selama sekitar 10 menit.
Potong-potong blonde, biasanya jadi 16 potong.

Selamat menikmati!

Pudding teh hijau biji chia

Jadi saya keranjingan pudding vanilla biji chia yang bisa dibeli di Liquiteria dengan harga $6. Enak deh, saya kan sukanya makanan yang lembut dan ga usah ngunyah gitu. Pudding chia ini bisalah dikategorikan yang manis-manis pelipur lara selain es krim teh hijau. Nah, akibat sinusitis juga, saya dengan berat hati mendermakan satu pint es krim teh hijau dari kulkas dan hanya bisa membayangkan lembutnya krim dan kesatnya rasa teh hijau di mulut. Bahkan saya memandang sendu saat makan malam di restoran Jepang dan menelusuri daftar menunya. Bay bay es krim teh hijau, dan eh apa, ada pudding teh hijau? Yang ini gapapa lah ya… Asalkan susu dan krimnya bukan dari sapi.
Lalu mulailah petualangan mencari resep pudding teh hijau yang mana mengantar saya ke resep pudding teh hijau biji chia ini! Wow wow wow, dahsyat sekali penemuan ini. Teh hijau favorit berpadu dengan biji chia yang sarat khasiat. Langsung deh besoknya berburu biji chia yang cukup mudah ditemukan di supermarket dan cukup berat di kantong. Tapi gapapa deh. Ini sekeresek bisa buat pudding chia sampe kembung.
Hebatnya lagi, resep pudding biji chia ini bisa dengan mudah dimodifikasi. Setelah teh hijau, saya berkreasi dengan pudding blueberry kayu manis dan stroberi. Semuanya sukses enak, mentah dan semoga menyehatkan. Dan kalo dibilang masak-memasak, enggak juga kok, cuman ngaduk-ngaduk doang. Rasanya resep ini juga cocok untuk ibu-ibu yang ingin masak-masakan sama anaknya. Hati-hati saat pake blendernya, ya mom.

Berikut adalah khasiat biji chia dari sini:
– Mengandung asam lemak omega-3
– Kaya akan serat
– Kaya akan zat anti-oksidant
– 2 sendok teh biji chia mencukupi 18% kebutuhan kalsium kita sehari-hari, 35% fosfor, 24% magnesium, dan 50% mangan.
– Bikin kenyang (walopun ga bisa la ya dibandingin sama makan sepiring nasi dan lauk pauk)
– Gluten-free
– Bisa dipakai sebagai pengganti telur
– Bisa dimakan langsung, ga usah digerus dulu. Walopun kalo dikunyah begitu saja tanpa campuran apa-apa, kemungkinan nyangkut di gigi. Eh ini bukan gw yang nyoba looohh..

Gimana, udah cocok belum gw sebagai sales respresentatives biji chia?

Jelek-jelek juga hasil karya sendiri

Jelek-jelek juga hasil karya sendiri

Bahan:
1 sdt teh hijau
1 gelas susu almond/susu kedelai
1 sdt madu
1 sdt ekstrak vanili
1 sd biji chia
5 butir( atau lebih) blueberry untuk hiasan

Cara memasak:
Blender teh hijau, susu almond/susu kedelai, madu dan esktrak vanili. Boleh dicicipi apakah susah cukup manis. Tambahkan madu bila perlu. Tambahkan biji chia, lalu aduk-aduk dengan sendok. Tiriskan, kemudian aduk lagi 15 menit kemudian. Taburi blueberry di permukaan biar cantik. Simpan di kulkas selama minimal 4 jam. Pudding siap dinikmati. Dianjurkan untuk segera dihabiskan karena hanya bisa bertahan kurang dari 48 jam.

Resep ini vegan, gluten free, cocok untuk yang paleo, dan tanpa melibatkan api.

Be my valentine

Gambar

Be my valentine

Be my valentine

Tanggal 14 Februari adalah tanggal spesial karena menjelang hari bersejarah ini, saya biasanya sibuk cari pacar bikin kawasaki rose!
Saya suka mawar kertas yang ini karena cukup rumit namun ada lipatan-lipatan yang menarik, dan hasil akhirnya yang cantik. Bentuknya udah mawar banged tapi masih keliatan lipatan kertasnya. Kalau mau mencoba, ini link diagramnya. Tapi jangan protes ya kalo susah :P