Edisi nostalgia: Life – The Cardigans

Nama Cardigans sebenernya bukan nama baru buat si Dita remaja. Sekitar tahun 1996 lagu Carnival hits di radio dan dinyanyikan ramai-ramai di pensi-pensi. Gw yang memandang sebelah mata kali ya, karena saat Carnival ngetop, gw lebih suka musik yang hingar bingar. Hits berikutnya, Lovefool, ga sreg sama selera gw. Bahkan sampai saat ini.

Tapi album Life merubah hidup gw di tahun 1999. Tsah, dramatis. Tiga tahun setelah hits Carnival wara-wiri di radio, gw nemu Life di toko kaset di Sarinah Thamrin dan spontan membelinya. Sedikit gambling karena masih bersampul plastik dan cuman tau lagu Carnival, tapi dalam hati merasa mantap karena era hingar bingar sudah surut. Gw siap untuk musik yang lebih centil dan manis.
Bener aja, gw suka sekali pada album ini. Suka sekali kurang tepat juga sih, tergila-gila. Diputar berkali-kali, dimanapun, kapanpun. Kalo lagi nebeng mobil orang, gw maksa nyetel Life di tape deck-nya. Dan gw ga ngerti, kenapa orang-orang di sekitar gw ga ada yang suka album ini ya. Manis, poppy dan ngeunaheun, tapi musikalitasnya juwarak. Ga sekedar melodi yang gampang dicerna, rythm dan latarnya juga meriah, berbagai instrumen dan diproduksi dengan apik.

Dibuka dengan Carnival, hits nomer satu Cardigans, lalu lagu kedua Gordon’s Garde Party beneran menggambarkan suasana pesta kebun yang santai dan menyenangkan. Rasanya gw ikutan ngobrol-ngobrol sambil menyesap kokteil kalau denger lagu ini. 

We were swinging on so nice
Bubbly pink champagne on ice

Lagu Daddy’s Car membuat ingin road trip, dan gw niat banget dong mendatangi kota-kota di lagu ini waktu lagi sekolah di Belanda. Walopun belum khatam sih.

Semua lagu di album ini keren – menurut gw. Ga ada lagu buangan, semuanya cukup unik dengan ciri khas Cardigans. Manis ke arah giung. Ada lagu balada juga, Beautiful One dan After All…, lagu yang lirih, membuat gw pingin memandangi jendela saat hujan gerimis di luar. Liriknya aja begini: 

after all you were perfectly right
but I’m scaring close to insanity

Ya kaann… *jlebbb*

Satu lagu yang terpatri banget di hati gw adalah Fine. Entah kenapa ada rasa hanget di hati tiap denger lagu ini. Dulu waktu masih muda nih, kalo ngecengin cowok biasanya suka mendedikasikan satu lagu buat dia seorang. Tsah, pingin nyundul saking so very hopeless romantic-nya. Jadi gw suka satu cowok, trus waktu itu kita ramean naik mobil main kemana gitu. Seperti biasa, gw membajak tape deck dengan nyetel album Life ini. Kita duduk sebelahan di kursi belakang, dan pas lagu Fine, eh dia tau loh. Trus kita nyanyi-nyanyi bareng sambil gw senyum selebar baskom. Terus ya udah gitu doang :D #foreveralone
Lagu ini juga membuat gw belajar bassline-nya. Soalnya suka bangeettt. Karena ga punya bass gitar, jadi gw ngulik dan latihan pake gitar aja. Begitu dicobain pake bass beneran, bubar jalan jari-jari gw ga cukup panjang dan kuat :D Dan berakhirlah mimpi gw jadi pemain bass ala D’Arcy atau Kim Gordon.

Anyway, kisah cinta picisan yang berakhir karena tak pernah dimulai dan gagalnya mimpi musisi rock n roll ga bikin cinta gw pada album ini luntur. Album ini buat gw tetap menjadi warisan 90-an yang klasik dan ga bosen didengerin.

Musik 2018

Tahun 2018 gw ga banyak dengerin album-album baru keluaran tahun ini. Karena gw mengalami pergeseran selera yang kurang bisa dimengerti, hanya bisa dijalani… eh ini ngomongin apa sih? Jadi menurut Spotify, 5 album yang gw dengerin terus menerus di tahun 2018 adalah: Kuai – Childish Gambino, Call Me by Your Name soundtrack, Tapestry – Carole King, Raphael Saadiq dan Little Dragon. Terasa random tapi ga ada album baru.

Jadi untuk rangkuman musik tahun 2018 yang telat sebulan ini, gw mau bikin top 5 konser musik yang gw datengin tahun itu. Here you go…

5. Raphael Saadiq di Lincoln Centre

Horeee Raphael Saadiq mampir lagi di New York! Kali ini sebagai bagian dari rangkaian Lincoln centre summer series. Gratis! Tapi terus hujan… Yaaahh, kecewa. Untungnya hanyalah gerimis, jadi konser berlangsung terus, dan kita joged-joged di bawah payung dan jas hujan. Kali ini Raphael tampil lebih minimalis dibandingin waktu dia di Afropunk. Senang soalnya lebih fokus sama lagu-lagunya sendiri. Lalu, ternyata dia banyak omong ya… Ada aja cerita-ceritanya sampe kadang gw ga sabar :D Tapi oh Raphael Saadiq, musikmu yang ciamik, aransemen yang apik dan vibe konser yang mencakup segala demografik, mau lagi dooongg…

4. Aimee Mann di Prospect Park Bandshell

Sebenernya album baru Aimee Mann termasuk album baru tahun 2018 yang keren banget. Hanya karena kandidat lainnya dari tahun lain, jadi kita skip deh. Dan karena album ini juga dia tour lagi. Untungnya Prospect Bandshel tanggap, gratis (!!) Maka di suatu hari musim panas yang cerah ceria, kita semua tersihir oleh betapa simpel dan indahnya musik Aimee Mann. Padahal cuman Aimee nyanyi sambil main gitar akustik dan drummer, tapi ya ampun syahduuu banget deh. Aimee juga cerita tentang beberapa lagu, misalnya Goose Snowcone yang ternyata tentang kucing temennya. Membuat gw yang tadinya biasa aja sama lagu itu malah jadi suka banget.

3. Dead Boys di Bowery Ballroom

Tentunya harus ada satu kandidat dari Please Kill Me ;) Karena tahun lalu gw keabisan tiket The Heartbreakers, jadi begitu ada artis yang dari Please Kill Me manggung, langsung deh beli tiketnya. Keren banget Dead Boys, walaupun tanpa Stiv Bators. Tapi vokalis barunya pun geron, gayanya beda tapi tetap mencuri perhatian sebagai frontman. Konser ini taada foto maupun video karena gw sibuk moshing ;)

2. Rufus Wainright di Beacon theatre

Gw bukan type yang sentimental gimana kalo nonton konser, tapi pas nonton Rufus brebes mili aja dooongg… Beneran ini nangis karena lagu, bukan karena kaki keinjek. Gimana ya, Rufus nyanyi Both Sides Now-nya Joni Mitchell dengan pelan dan dengan cengkok Rufus yang khas. Lalu gw kan jadi inget adegan Love Actually pas ada lagu ini… Mehek mehek…

Konsernya sendiri terlaluuuu manis dan menyenangkan. Rufus bernyanyi lirih, banyak ngelucu dan ya tau sendiri ya gaya nyanyi Rufus yang menggeolkan nada-nada lagu itu sangat khas.

1. Chidish Gambino – Madison Square Garden

Tahun 2018 memang tahunnya Donald Glover. Gw termasuk telat ngeh, tapi begitu kepatil langsung deh menjajal semua karya doi. Dari mulai dengerin semua albumnya (sampai hari ini ga bosen), nontonin semua video clip-nya, nonton Atlanta dan mulai nonton Community walopun ga diterusin karena disini Childish Gambino masih.. childish :D Puncaknya, nonton konser di Madison Square Garden (MSG). Show ini digelar dua kali dan seluruh tiket ludes aja gitu. Kapasitas MSG itu 20.000 orang ya, sodara-sodara. Penuh. Dan salah satu di antara sekian banyak orang itu adalah gw yang kelojotan nonton Donald Glover uget-uget selama dua jam. Keringat di punggungnya yang telanjang itu, ugh…

Terlepas dari obsesi gw pada sosok Donald Glover, konsernya sendiri megah, penuh kejutan dan salah satu konser paling keren yang pernah gw datangi. Bahkan visualnya pun ga tanggung-tanggung, layar raksasa high definition yang saking jernihnya gw kadang siwer mana manusia yang beneran. Setiap lagu ditampilkan dengan tata panggung dan nuansa berbeda. Belum beres kekaguman akan satu lagu, udah dihantem penampilan baru. Di tengah-tengah konser, Childish Gambino keluar dari panggung lalu keliatan dari layar kalo dia jalan-jalan di belakang panggung MSG terus ikutan nimbrung di penonton. Mau histeris ga siihhh…

Terus pas lagu This is America, penarinya akrobat sedemikian rupa. Iya beneran, pada salto di panggung. Konser ditutup lagu Redbone dan lengkingan falseto Childish Gambino terngiang-ngiang di telinga gw berhari-hari.

Sempet kepikiran untuk nonton konser yang besoknya, haha.. Tapi jujur aja tak mampu secara energy dan finansial :D

Setelah nonton Childish Gambino, gw rehat sejenak, ga mau nonton konser apapun kecuali konser MC5 dan Rufus yang memang udah beli tiketnya dari jauh hari. Bukan apa-apa, dalam hitungan seminggu gw nonton Dead Boys, nonton film Public Image Limited, nonton Childish Gambino lalu nonton MC5. Selera musik boleh tetap muda dan rock n roll, tapi badan sudah renta cuman pingin goler-goler di rumah :D Agak nyesel juga sih ga nonton Little Dragon, tapi ya udahlah. Tidak usah FOMO ya mbak :)

Tahun 2019 mau mulai nonton musik lagi, tapi ya… hmm… Pingin nonton Afropunk, karena tahun lalu beneran keabisan tiketnya dan tiket tangan keduanya pun mahaalll… Tapi prioritas sih, konsernya duduk aja gitu ya? #ManulaUnited

Desperately Seeking Richard Hell

layartancep.png

Summer di New York sudah resmi lewat. Tapi gw punya beberapa cinderamata dari musim panas ini. Tentunya gw menjadi warga New York paling hepi selama musim panas karena gw adalah mutan ex-Jakartanian yang nyaman jalan-jalan di udara panas, lengket dan bau asap knalpot :D

Selain pantai dan berbagai aktivitas seru lainnya, nonton layar tancep adalah salah satu aktivitas favorit gw di musim panas. Rasanya seneng aja gitu, gelar tiker, nyemil keripik dan selonjoran di taman sambil nonton film. Anaknya mondoyoy maksimal. Layar tancep di musim panas dari tahun ke tahun makin meriah dan makin banyak jumlahnya bagaikan jamur di musim hujan. Ada banyak layar tancep di New York, dari mulai di taman, tepi sungai dan rooftop. Waktu musim panas pertama gw di New York, tahun 2012, paling ada sehari sekali dengan lokasi yang berbeda-beda. Tahun ini bisa ada tiga kali pemutaran film, di tempat yang beda tentunya. Muncul berbagai tema, seperti film anak-anak di Hudson River Park, film Perancis di Tompkins Square Park, dll. Udah gitu makin ramelah dengan warung makanan dan minuman, DJ sebelum pemutaran film sampai vallet parking buat sepeda segala.

Tempat favorit gw adalah Brooklyn Bridge Park, karena tinggal ngesot dari apartemen, kontur taman yang berbukit menguntungkan mutan yang tingginya minimal ini dan tentunya the view beybeehhh! Namanya juga Movie with a View. Pemandangan Lower Manhattan dengan gedung perkantoran dan Freedom Tower yang mencuat, gemerlap air East River di malam hari dan kapal-kapal yang berseliweran. Tahun ini tema yang diusung adalah film karya sutradara cewek.

Nah di suatu hari Kamis gw nonton Desperately Seeking Susan. Awalnya sih ga ada ekspetasi apa-apa, hanya membayangkan film 80-an, bintangnya Madonna pula kan. Gw memang terlewat euphoria Desperately Seeking Susan pada masanya. Apa memang masih kekecilan ya? *denial* Filmnya sih simpel, bercerita tentang Roberta (Rosanna Arquette) ibu rumah tangga dari New Jersey yang kebosenan lalu karena dia rajin mantengin iklan baris di koran, dia jadi tau Susan (Madonna) bales-balesan pesan dengan seorang cowok dan bakalan ketemu di Battery Park, Manhattan. Datanglah doi ke tempat yang dimaksud, karena penasaran sama Susan juga kaann… Nah dasar film 80-an ya, adalah adegan kejeduk tiang dan amnesia segala. Lalu Rosanna cuman inget nama Susan, sehingga berpetualanglah dia di New York dengan identitas Susan ini.

Desperatelyseekingsusan

foto dari Outtake Medium

Gw beneran menikmati film ini. Seru-seru gimana gituu… Gimmick khas 80-an, perasaan dialog-dialog cewek di film lawas itu gemas yaaa… Ga secuek kayak di film2 jaman now. Terus, ternyata jaman belum banyak berubah ya, stereotipe Rosanna vs Madonna adalah ibu rumah tangga vs cewek single adalah permasalahan klasik. Udah gitu, karakter dan pesona Madonna sebagai Susan disini sungguhlah sangat Madonna. Pada jamannya yaaa… Cewek yang cuek (adegan ngeringin bulu ketek dengan hand-dryer itu sangatlah wow!) tapi juga kuat dan tau apa yang dia mau #freespiritgoal.

Hal lain yang gw suka adalah banyak cowok-cowok dengan rambut jabrik ala Johnny Rotten. Mungkin karena gw terobsesi sama era Please Kill Me, dimana punk sedang menyeruak, jadi gw agak gimana gitu sama type-type ini. Mirip sama foto viral Jokowi yang kemudian dibantah :D Ya gapapa kali Pakde…
Pokoknya sebangsa Johny Thunder, Richard Hell, gitu deh. Bikin kasuat-suat gimana gitu…
Nah pas terakhir baca credit title, eh ternyata beneran Richard Hell dong! Spontan gw berkata “F*ck yeah. That was Richard Hell!” yang lalu dipelototin ibu-ibu beranak dua di sebelah gw. Maaf buu…
Ternyata film Desperately Seeking Susan ini memang menghadirkan banyak cameo musisi lokal pada masa itu seperti Richard Hell, John Torturro, Annie Golden, dll. Oh my God! Sutradara film ini, Susan Seidelman, memang katanya “teman” mereka semua. Sering nongkrong bareng gitu deh…

Gw jadi pingin nonton film-film Susan Seidelman lainnya. Walopun dia banyakan nulis buat TV sih, salah satu yang terkenal yaitu beberapa episode Sex and the City. Sayangnya profil Richard Hell kurang cocok ya untuk nge-date sama Carrie Bradshaw :D Dan tentunya, pencarian gw akan Richard Hell tidak akan berenti. Abis gemes sih, doi tinggal di East Village dan disinyalir hanya dua blok saja dari apartemen gw waktu gw masih tinggal di East Village. Pasti deh gw pernah amprokan tapi gw ga ngeh :D

Kamu, siapa cameo favorit kamu yang ga sengaja nemu di film?

Musik akhir-akhir ini

Kalau diperhatiin, setahun ini gw jarang banget nulis tentang musik. Padahal niat awalnya pingin rajin nulis tentang musisi-musisi baru. Demi mementahkan mitos musik yang enak itu hanyalah musik lawas.
Mitos ini tidak benar adanya dan kalo ada yang mau dengerin musik 90-an terus-terusan juga gapapa. Gw pribadi sih sedang senang-senangnya mengeksplor dua genre musik: rap/hip-hop/R&B dan musik punk ala Please Kill Me.

Dua genre musik ini bukannya ga pernah gw dengar sebelumnya. Hanya porsinya ga pernah sebanyak ini. Awal 90-an, saat pertama kali gw gandrung musik, gw selalu dengerin Radio Oz setiap saat kecuali di sekolah dan di tempat-tempat umum. Di masa itu, musik Radio Oz ya seperti radio anak remaja pada umumnya, banyak memutar lagu-lagu pop Top 40, termasuk Tony Tony Tone, Montell Jordan, Surface, dll. Musik ini walopun gw suka tapi ga sampe tahap gandrung dan tergila-gila. Karena lalu datanglah gelombang metal (walopun tinggal sisa-sisa perjuangan) yang akhirnya dilibas oleh musik grunge dan alternatif. Yang mana gw langsung penggemar berat.
Semenjak pertengahan taun 2016 sebenernya gw mulai meninggalkan musik-musik indie rock, dan mengeksplor musik-musik lain. D’Angelo dan Raphael Saadiq adalah cikal bakal CLBK-nya gw sama musik-musik dengan beat yang groovy ini *please excuse my Jaksel Englesh*. Nah tahun ini gw mulailah dengerin semua itu Nicki Minaj, Cardi B, The Weeknd, Logic, Chance the Rapper, dll. I love them all. Gw akhirnya ngaku kalo suka Kanye juga :D
Dan tentunya di antara semua itu, juaranya adalah… yes, the one and only Donald Glover alias Childish Gambino. Gw beneran jatuh cinta, smitten dan kebat-kebit sama mas yang jago akting, nyanyi dan masya Allah kalo nonton dia nari rasanya geraaahhh banget. 3005 dan album Kauiai diputer tak henti-henti selama seminggu.

Di sisi lain, gw tentunya ga meninggalkan rock n roll yang kayaknya selalu kuhembuskan di setiap denyut napasku. Aseeekk. Karena pada awal tahun gw namatin buku Please Kill Me, maka gw mulai mencicil pe-er dengerin musik-musik di buku ini yang belum pernah gw dengerin secara intens sebelumnya. Gw mengulang-ngulang Velvet Underground, Dead Boys, MC5 sampai Richard Hell, dan tentu saja my new spiritual guru: Iggy Pop. Ini juga ditambah Punk Essentials seperti the Clashed, the Damned dan the Jam. Ada energy tak habis-habis dari musik-musik ini. Sekaligus cocok banget sih kalo lagi kesel sama temen kantor :D

Jadi begitulah pencarian musik akhir-akhir ini. Monmaap buat musisi masa kini yang luput dari perhatian gw. Tapi hey, gw dengerin Migos, this is progress!! :D

Call Me by Your Name

callmebyyourname

Sepuluh bintang di imdb dan lima bintang di Goodreads tidaklah cukup untuk menggambarkan betapa gw terobsesi dengan Call Me by Your Name.

Awalnya tertarik nonton filmnya akibat review oke dari berbagai media dan newsletter Alamo Drafthouse. Gw jadi punya ekspektasi tinggi. Pada dasarnya suka film-film drama model begini. Konflik yang terbangun pelan-pelan, jokes yang sekedarnya tapi kena, perkembangan karakter yang menarik, ditambah film ini ala-ala eropa banget. Udah gitu latarnya Italy tahun 1983, summer, omg gw langsung kangen hari-hari lambat ga ngapa-ngapain di kota kecil. Sukaaaa…

Gw sih ga ngerasa film ini norak sebagai gay porn ya, malah kisah cintanya manis banget. Banyak momen-momen menghangatkan hati seperti saat Elio dan Oliver sepedaan berdua, atau pas mereka nari-nari dengan lagu Love My Way, mengingatkan gw pada hari-hari di Avignon. Adegan bapaknya Elio ceramah singkat ke Elio juga kena banget. Sebelah gw sesenggukan maksimal.

Ditambah akting Timothée Chalamet ciamik banget. Kerasa gitu ni anak petakilan tapi pinter dan dalem. Tante sukaaa…

Tapi emang ujung-ujungnya rada datar sih. Konfliknya terlalu simpel. Bahkan pada saat Elio patah hati dan nangis di depan perapian, I feel nothing. Entahlah, mungkin pas adegan terakhir itu harus dielaborate lebih lanjut?

Karena suka banget adegan pas Elio dan Oliver nari-nari di lagu Love My Way, besoknya gw langsung dengerin soundtrack Call Me by Your Name. Huwaaa… Ini kok sealbum keren semua. Gw suka sekali lagu-lagu instrumental piano, terutama yang judulnya Une Barque sur l’Ocean. Ajaib ya lagu ini, bisa banget lewat nada-nada terasa hawa-hawa pantai, persis seperti hari-hari Elio dan Oliver di Crema. Saking seringnya bolak-balik dengerin album ini, Spotify sampe nawarin playlist Calming Piano :D

Ada dua genre musik lagi di album ini yaitu musik-musik 80-ies yang kental dengan irama keyboard dan dentuman drum machine, sperti Love My Way, dan satu lagi Sufjan Stefans. Yang terakhir musik indie tenang mengalir dengan vokal lirih Sufjans dan lirik yang jleb. Sufjan juga dapet nominasi Oscar untuk best original score. Kombinasi ketiganya membuat gw betah dengerin album ini berulang-ulang, mood-nya langsung berubah tiap dengerin album ini.

Media ketiga yang harus dijajal adalah baca bukunya dong. Inilah asal muasal Elio.

Buku karya André Aciman ini tipis aja, ga lebih dari 250 halaman, dan plotnya sesimpel naskah filmnya. Tapi, oh my God, elaborasi perasaan, keragu-raguan, bahagia dan sedihnya Elio bener-bener dijewantahkan panjang lebar dengan kalimat-kalimat yang manis. Seluruh buku diceritakan dari sudut pandang Elio, penuh dengan pikiran-pikirannya sebagaimana kita sehari-hari yang kadang kebanyakan analisa ;) Yang agak berbeda, tokoh Oliver di buku ga se-superstar aura Armie Hammer di film. Malahan di benak gw, Oliver di buku ini ramah manis, type cowok cakep tapi semua orang pingin dekat dan menghabiskan waktu dengannya. Di buku, Oliver masih muda, 24 tahun, sedangkan Elio umur 17 tahun. Ga nampak fedofil kan? Sah-sah aja untuk naksir-naksiran. Sedangkan di film Oliver nampak berusia 30-am dan Elio loloslah umur 15 tahun mahh…

Perbedaan lainnya yang menurut gw membuat bukunya jauh lebih keren dari filmnya adalah di buku ada adegan Elio dan Oliver main ke Rome lalu mereka book party, makan-makan dan bersenang-senang di Rome. Gw sukaaaa sekali sama bagian ini. Ada perasaan hangat saat kita jalan-jalan dengan nuansa romansa, lalu ketemu banyak orang dan dalam waktu singkat membaur dengan orang-orang baru itu. Udah gitu yaaa… Ada cerita bertahun-tahun kemudian saat Elio udah sangat dewasa dan Oliver beranak pinak, dan bagian ini makjleb banget. Gw rasa kalo difilmin pake lagu Sufjan Stefans gw bakalan cirambay.

Tapi emang film, buku dan musik Sufjans itu jatuhnya either you love it or hate it. Mungkin itu yang membuat filmnya diperdebatkan panjang. Saya mah, udahlah punya obsesi baru: Timothée Chalamet, summer di Italy dan musik-musik John Adams.

Gambar nyolong dari: https://thetempest.co, credit CMBYN.