Musik 2021

Selamat tahun baru kawan-kawan! Gimana taun barunya? Seru? Gw sendiri masih dalam rangka hangover Natalan, dua hari ga ngapa-ngapain, lalu sisanya.. Uhm, main Animal Crossing karena gw dapet kado Nintendo Switch. Rencananya sih, hari-hari di antara natal dan taun baru mau dipake buat refleksi taun 2021 dan menata pikiran menghadapi 2022, tapi ga tau kenapa otak dan badan gw cuman pingin berada di momen ini. Alias males ngapa-ngapain, selain baca buku, main game, masak-masak dan tentunya tidur yang banyak.

Tapi baiklah kita mulai sedikit-sedikit yaaa… Mari kita mulai dengan kilas balik musik 2021, tradisi tahuan wartawan NME gadungan, hehe. 

Seperti 2020, taun ini minim konser walau akhirnya di musim panas ada momen-momen gw merasa dunia akan baik-baik saja dan lalu gw nonton konser di Brooklyn Steel. Senang! Tapi sekaligus, ya udahlah, hidup ga hanya melulu tentang konser, hehe. Tapi dengerin musik jalan terus doong. Kilas balik musik 2021 tuh sebenernya udah terasa hawa-hawanya saat Spotify Wrapped kita diluncurkan. Senang ya, udah ada yang merangkumnya, hehe. Musik-musik apa sih yang gw temukan di 2021 dan menemani hari-hari di taun transisi ini?

5. MICHELLE

Nemu MICHELLE karena iseng buka-buka flyer Brooklyn Steele, trus eh ini ada yang manggung ntar malem. Dengerin ah. Tapi ternyata konsernya virtual, ya gapapa juga sih, karena musiknya enakeun. Mendengarkan MICHELLE seperti menjadi gadis remaja 18 tahun, main roller-skate di tepi pantai Venice beach, California, semilir angin membuat rambut kita bagaikan iklan shampo. Santai, ringan, dimana masalah paling berat hidup ini adalah bagaimana flirtingan kita bersambut dan cowok gebetan itu mau jalan bareng. Ya emang anggota MICHELLE ini masih muda-muda sih, rata-rata masih di awal umur 20-ies. 

4. The Muslims

Saat bikin kompilasi musik-musik pengiring adzan maghrib dan buat mengiringi pesta lebaran, gw jadi tau ada genre Takwacore dan Muslimcore. Musik ini tuh semacam hingar bingar tapi temanya seputar islam dan budaya timur tengah. Ada banyak juga ya musik yang begini. Walopun kebanyakan terlalu kenceng buat masuk playlist saat detik-detik mau pingsan, gw hepi karena terantuk dengan The Muslims. The Muslims adalah musik yang gw cari-cari selama ini. Musik punk klasik ala Saparua, dengan tema-tema revolusi masa kini. Yang lebih seru lagi, ketiga personilnya adalah transgender, berkulit cukup gelap dan muslim, seperti namanya. Tentu saja muslim masa kini, dengan kompleksitas dunia modern. Musik dan lirik mereka seperti membenturkan berbagai hal yang ga kepikiran untuk bercampur di satu media: muslim, demokrasi dan berbagai f*ck you untuk hal-hal nonsense. Pokoknya love bangetlah. Album barunya Fuck This Fucking Fascist, dari judulnya aja udah jelas-jelas menjabarkan karakter The Muslims.

3. Yaeji

Okeh, entah gw udah ketinggalan berapa taun dari debut Yaeji. Tapi, omg, suka sekali dengan angin segar Yaeji. Inilah wajah rap dan EDM masa kini! Cewek keturunan Korea dan besar di Brooklyn. Bisikan lirih vocal khas cewek Asia dipadu dengan beat elektronik yang ga ngoyo-ngoyo amat. Yeah! Alhamdulillah, dari sedikitnya konser yang gw tonton di 2021, salah satunya adalah Yaeji di Prospect Park Bandshell, dan saat Raingurl berkumandang… wih, pecaaah banget sodara-sodara.

2. Mannequin Pussy

Tau Mannequin Pussy dari Japanese Breakfast. Waktu Spotify wrapped gw bilang, salah satu genre yang paling sering gw dengerin di 2021 adalah bubble grunge, dan gw “Wait, WTF is bubble grunge?” Setelah googling gw sedikit paham genre ini, dan curiga Mannequin Pussy lah yang bikin musik yg gw dengarkan masuk kategori ini. Yah, semacam garage rock yang lebih lembut, tapi tentu saja dengan vokal cewek. Jadi seperti itulah memang Mannequin Pussy, dan gw memang banyak mendengarkan musik-musik seperti ini. Sebenernya Mannequin Pussy ga ngeluarin album tahun ini, tapi ya udahlah gapapa. Hahaha.

1. Japanese Breakfast

Taun ini adalah taunnya Michelle Zaunner, cewek di balik nama Japanese Breakfast. Gw tuh dulu udah sering dengerin Japanese Breakfast sih, tapi ga nyantol-nyantol amat. Tapi semenjak baca bukunya Crying in H Mart (suka banget, ulasannya sudah gw draft, entah kapan tayang), oh wow, seperti temenan sama Michelle dan ngerti makna di balik lagu-lagunya. Album barunya, Jubilee, keluar juga taun ini dan gw rasa Michelle mendefinisikan kembali musik indie, dance dan rock. Michelle menulis lagu sebrilyan dia menulis novel, didukung dengan aransemen ciamik dan band yang solid. Virus Michelle ini menular juga pada Jesse, jadi album Jubilee berkumandang nyaris tiap hari. Kita akan jingkrak-jingkrak di lagu Be Sweet dan berkaca-kaca di lagu Tactics.   

Dan alhamdulillah, salah satu konser musim panas yang gw hadiri adalah konser mereka di Brooklyn Steele. Udah ga tau lagi deh, segala perasaan campur baur saat nonton Japanese Breakfast. 

Honorable mention:

  • Dallas by Kid Str

Ada satu lagu yang gw dengarkan on repeat di taun 2021: Dallas by Kid Sistr. Suka banget sama lagu ini. Liriknya yang gw terjemahkan sebagai bucin abis dan bagian pas abis refrain-nya yang “Dallas… deus tak..” ugh nagih banget.

  • All Too Well – Taylor Swift

Walopun musik gw cenderung nyeleneh dan udah beberapa kali gw berusaha dengerin Taylor Swift tapi ga cocok aja, akhirnya taun ini gw kena juga dengan All Too Well. Gimana dong, kalo Taytay bisa patah hati sepatah-patahnya dan segamblang-gamblangnya di lagu ini, ya kita sebagai kaum hopeless romantic seperti, iya banget kayak gitu rasanyaa… Hihihi. Gw juga suka sekali dengan produksi lagu ini, lebih cocok dengan selera gw dan ga seperti template lagu pop keluaran pabrik.

Musik taun lalu apa aja yang paling berkesan buat kamu? Sebagai penutupan, kembali lagi ke Japanese Breakfast, selamat menikmati Paprika :)

Iklan

Musik 2020

Musik di tahun lalu adalah zonk karena semenjak pandemik gw GA PERNAH NONTON KONSER MUSIK SAMA SEKALI!!! Kray kray kray… Sungguh aneh karena gw biasanya nonton musik ada kali seminggu sekali di New York. Tapi ya ini bukan hal baru sih, waktu tinggal di Enschede dan di Bandung juga begitu, nonton musik hanya kadang-kadang. Jadi ya udahlah, ga usah manja.

Tapi kegiatan menikmati musik jalan terus. Para musisi masih aktif memproduksi lagu dan tahun 2020 boleh dibilang banyak album baru yang bikin gw girang. Beberapa dengan keterbatasan seperti Paul McCartney yang mengerjakan seluruh albumnya sendirian. Tapi hey, bukankah keterbatasan adalah teman kreativitas? Dan berikut adalah album baru favorit gw di tahun 2020:

New Me – Same Us, Little Dragon

Tahun ini adalah tahun gw mendengarkan band asal Gothenburg ini terus menerus, antusias karena mereka berencana konser di New York bulan April, kecewa karena konsernya dibatalin dan menyesal karena gw melewatkan konser mereka di tahun 2019. Gw sendiri lupa kapan gw menemukan Little Dragon, yang jelas setelah khatam dengerin semua lagu-lagunya, gw ga sabar ingin dengerin album baru mereka. Lagu Hold On dirilis sebagai singel di awal 2020, dan melodi riangnya sukses bikin gw jingkrak-jingkrak. Lalu album New Me, Same Us dirilis di akhir Maret – tepat saat New York mulai resmi lockdown, saat itu gw masih antusias terhadap segala hal yang berubah, termasuk antusias nonton konser live Little Dragon via youtube. Konsernya sendiri menyenangkan, tapi gw ketiduran di tengah-tengah haha.. Dan album ini langsung diulang-ulang sepanjang bulan April. Bagus atau enggaknya, entahlah, gw bias karena gw kadung jatuh cinta mati pada Little Dragon. Di album New Me, Same Us, mereka masih menjadi Little Dragon dengan hits hits R&B, twist elektronik dan track-track lantai dansa, diselingi lagu-lagu cinta ballad mehe-mehe tapi tetap groovy. Lagu favorit gw dari album ini adalah Another Lover, bagian “Don’t understand where we’re going…” semacam yesss versi lebih baik dari Mau Dibawa Kemana Hubungan Kita :D

Fetch the Bolt Cutter – Fiona Apple

Masih ingat Fiona Apple? Ayo dong geng 90ies. Tapi emang dulu tuh sering liat namanya seliweran di majalah Teen tapi keknya kurang populer di Indonesia ya. Fast forward ke 2020, setelah hiatus cukup lama dari taun 2012, Fiona merilis album baru yang sangat segar. Mendengarkan album ini seperti masuk ke buku dongeng penuh dengan cerita-cerita imajinasi dan jenaka. Kadang ceritanya berubah kelam dan intense, tapi tetap menarik dan penuh dengan plot twist. 

Women in Music part iii – HAIM

HAIM merilis album ini di musim panas, tanpa gw sadari tau-tau udah ada aja di Spotify. Eh?! Perasaan dari Days Are Gone ke Something to Tell You lama banget, 4 taun, tau-tau sekarang udah ada album baru? Ga kerasa ya bun. Di album ini HAIM terasa lebih kalem, lebih modern kali ya. Album ini tetap HAIM, lagu-lagu pop dengan hook catchy, tema dekat dengan sehari-hari dan aransemen yang ciamik. Tapi nuansanya seolah bergeser ke pertengahan 90-an. Lagu 3Am contohnya, gw bisa membayangkan lagu ini dinyanyikan oleh Mariah Carey.

Songs for the General Public – The Lemon Twigs

Di sedikitnya konser musik taun 2020, gw bersyukur pernah datang ke acara penggalangan dana untuk kebakaran hutan di Australia. Acaranya digelar di salah satu bar di Williamsburg dan salah satu bintang tamunya adalah duo The Lemon Twigs. Tanpa basa basi mereka mainin lagu Head on Wheels, lagu pertama di album ini, dan gw langsung terpukau sambil berdesakan dengan penonton lainnya. Damn, kangen sekali dempet-dempetan di ruang pengap demi menonton artis idola.

Album Songs for the General Public sendiri baru dirilis di musim panas, dan untuk beberapa bulan hidupku hampa tanpa lagu Head on Wheels. Tsah. Menemukan The Lemon Twigs seperti menemukan album lama dari tahun 60-70. Musik theatre pop kental dengan pengaruh Queens, Paul MacCartney dan Harry Nilsson.

The Originals – The Sweetheartz of the Psychic Rodeo

Promosi berbayar tentunyaaaa LOL. The Sweetheartz adalah band-nya Jesse, iyaaa, kabogoh abdi eta teh. Di band ini dia berduet bersama Brady Oh. Saat Sweetheartz manggung, Jesse biasanya main gitar dan Brady main keyboard, sambil keduanya bernyanyi harmoni. Jadi mirip The Everly Brother gitu deh, tapi lebih masa kini, eklektik dan rock n roll. Semua lagu di album ini ditulis bersama. Musiknya sendiri campuran antara folks dengan pengaruh kental Bob Dylan era Rolling Thunder, the Byrds dan tentu saja the Beatles.

Untuk album pertama ini, Jesse juga mengisi drum, bass, perkusi sekaligus mixing. Jujur aja, saking seringnya diputer berulang-ulang saat proses produksi, lagu-lagunya semakin siwer buat gw hahaha… Tapi beneran bagus kok. Dengerin deh. Ada suara gw juga tereak-tereak “WOW” di lagu Lose on Cocaine, cekidot gaes! Ada di Spotify, youtube, apple music. Kalo mau link donload japri gw lah ;)

This is the One

Gegara lagi marathon film Taika Waititi dan nonton film Eagle versus Shark, jadi teringat akan Stone Roses. Film itu ditutup dengan lagu This is the One yang membuat merasa, aih co cwittt banget sekaligus indie dan mak nyes ke hati gitu.

Lalu di hari Senin yang kurang produktif ini jadi dengerin album mereka. Oh there’s only one Stone Roses, sisanya hanya potokopi. Vokal lirih, melodi dan hook yang oke, dan perpaduan yang pas aja antara rock n roll dan pesan menyek-menyek. Hahaha.

Alasan lain bertahun-tahun ga dengerin Stone Roses bukan karena bosen melainkan, ehem… dulu pernah pacaran dan punya soundtrack lagunya Stone Roses. Kalian suka gitu ga sih? Bikin soundtrack biar kayak film rom kom indie gitu? Buat gw yang terobsesi dengerin musik, hal seperti ini ga terelakkan ya. Bahkan pernah lagi deket sama sebongkah cowok nih, tapi dia sukanya Kahitna. Nah sobat indie macam gw jadi merasa kurang anti-mainstream gitu. Masa Kahitna sih? Lalu hubungan itu pun dikaji ulang. Hahaha…

Padahal ujung2nya nyanyi Setahun Kemarin :P

Eniwei, balik lagi ke Stone Roses dan the one that got away, lucu juga ya, bagaimana musik2 itu melekat dan tinggal di hari-hari masa lampau. Kemarin pas lagu This is the One muncul di ending title-nya film Eagle versus Shark, lalu kepikiran oh iya gw kan suka Stone Roses. Tapi males deh, imejnya 2009 banget. Padahal tanpa mengurangi itikad baik yang terjadi di taun itu, menurut gw lagu-lagu Stone Roses sendiri melampaui jamannya. Buktinya itu lagu kan ngetopnya di taun 1989, terus dijadiin soundtrack gw pacaran 2009, 20 tahun kemudian. Dahsyat kan. 

Dan sekarang udah lebih dari 10 tahun yang lalu, gw lalu mengucapkan maaf dan syukur dan akan memberi Stone Roses kesempatan kedua.

Lagian pacaran yang sekarang kan lagunya This is the One :)

Edisi nostalgia: Life – The Cardigans

Nama Cardigans sebenernya bukan nama baru buat si Dita remaja. Sekitar tahun 1996 lagu Carnival hits di radio dan dinyanyikan ramai-ramai di pensi-pensi. Gw yang memandang sebelah mata kali ya, karena saat Carnival ngetop, gw lebih suka musik yang hingar bingar. Hits berikutnya, Lovefool, ga sreg sama selera gw. Bahkan sampai saat ini.

Tapi album Life merubah hidup gw di tahun 1999. Tsah, dramatis. Tiga tahun setelah hits Carnival wara-wiri di radio, gw nemu Life di toko kaset di Sarinah Thamrin dan spontan membelinya. Sedikit gambling karena masih bersampul plastik dan cuman tau lagu Carnival, tapi dalam hati merasa mantap karena era hingar bingar sudah surut. Gw siap untuk musik yang lebih centil dan manis.
Bener aja, gw suka sekali pada album ini. Suka sekali kurang tepat juga sih, tergila-gila. Diputar berkali-kali, dimanapun, kapanpun. Kalo lagi nebeng mobil orang, gw maksa nyetel Life di tape deck-nya. Dan gw ga ngerti, kenapa orang-orang di sekitar gw ga ada yang suka album ini ya. Manis, poppy dan ngeunaheun, tapi musikalitasnya juwarak. Ga sekedar melodi yang gampang dicerna, rythm dan latarnya juga meriah, berbagai instrumen dan diproduksi dengan apik.

Dibuka dengan Carnival, hits nomer satu Cardigans, lalu lagu kedua Gordon’s Garde Party beneran menggambarkan suasana pesta kebun yang santai dan menyenangkan. Rasanya gw ikutan ngobrol-ngobrol sambil menyesap kokteil kalau denger lagu ini. 

We were swinging on so nice
Bubbly pink champagne on ice

Lagu Daddy’s Car membuat ingin road trip, dan gw niat banget dong mendatangi kota-kota di lagu ini waktu lagi sekolah di Belanda. Walopun belum khatam sih.

Semua lagu di album ini keren – menurut gw. Ga ada lagu buangan, semuanya cukup unik dengan ciri khas Cardigans. Manis ke arah giung. Ada lagu balada juga, Beautiful One dan After All…, lagu yang lirih, membuat gw pingin memandangi jendela saat hujan gerimis di luar. Liriknya aja begini: 

after all you were perfectly right
but I’m scaring close to insanity

Ya kaann… *jlebbb*

Satu lagu yang terpatri banget di hati gw adalah Fine. Entah kenapa ada rasa hanget di hati tiap denger lagu ini. Dulu waktu masih muda nih, kalo ngecengin cowok biasanya suka mendedikasikan satu lagu buat dia seorang. Tsah, pingin nyundul saking so very hopeless romantic-nya. Jadi gw suka satu cowok, trus waktu itu kita ramean naik mobil main kemana gitu. Seperti biasa, gw membajak tape deck dengan nyetel album Life ini. Kita duduk sebelahan di kursi belakang, dan pas lagu Fine, eh dia tau loh. Trus kita nyanyi-nyanyi bareng sambil gw senyum selebar baskom. Terus ya udah gitu doang :D #foreveralone
Lagu ini juga membuat gw belajar bassline-nya. Soalnya suka bangeettt. Karena ga punya bass gitar, jadi gw ngulik dan latihan pake gitar aja. Begitu dicobain pake bass beneran, bubar jalan jari-jari gw ga cukup panjang dan kuat :D Dan berakhirlah mimpi gw jadi pemain bass ala D’Arcy atau Kim Gordon.

Anyway, kisah cinta picisan yang berakhir karena tak pernah dimulai dan gagalnya mimpi musisi rock n roll ga bikin cinta gw pada album ini luntur. Album ini buat gw tetap menjadi warisan 90-an yang klasik dan ga bosen didengerin.

Musik 2018

Tahun 2018 gw ga banyak dengerin album-album baru keluaran tahun ini. Karena gw mengalami pergeseran selera yang kurang bisa dimengerti, hanya bisa dijalani… eh ini ngomongin apa sih? Jadi menurut Spotify, 5 album yang gw dengerin terus menerus di tahun 2018 adalah: Kuai – Childish Gambino, Call Me by Your Name soundtrack, Tapestry – Carole King, Raphael Saadiq dan Little Dragon. Terasa random tapi ga ada album baru.

Jadi untuk rangkuman musik tahun 2018 yang telat sebulan ini, gw mau bikin top 5 konser musik yang gw datengin tahun itu. Here you go…

5. Raphael Saadiq di Lincoln Centre

Horeee Raphael Saadiq mampir lagi di New York! Kali ini sebagai bagian dari rangkaian Lincoln centre summer series. Gratis! Tapi terus hujan… Yaaahh, kecewa. Untungnya hanyalah gerimis, jadi konser berlangsung terus, dan kita joged-joged di bawah payung dan jas hujan. Kali ini Raphael tampil lebih minimalis dibandingin waktu dia di Afropunk. Senang soalnya lebih fokus sama lagu-lagunya sendiri. Lalu, ternyata dia banyak omong ya… Ada aja cerita-ceritanya sampe kadang gw ga sabar :D Tapi oh Raphael Saadiq, musikmu yang ciamik, aransemen yang apik dan vibe konser yang mencakup segala demografik, mau lagi dooongg…

4. Aimee Mann di Prospect Park Bandshell

Sebenernya album baru Aimee Mann termasuk album baru tahun 2018 yang keren banget. Hanya karena kandidat lainnya dari tahun lain, jadi kita skip deh. Dan karena album ini juga dia tour lagi. Untungnya Prospect Bandshel tanggap, gratis (!!) Maka di suatu hari musim panas yang cerah ceria, kita semua tersihir oleh betapa simpel dan indahnya musik Aimee Mann. Padahal cuman Aimee nyanyi sambil main gitar akustik dan drummer, tapi ya ampun syahduuu banget deh. Aimee juga cerita tentang beberapa lagu, misalnya Goose Snowcone yang ternyata tentang kucing temennya. Membuat gw yang tadinya biasa aja sama lagu itu malah jadi suka banget.

3. Dead Boys di Bowery Ballroom

Tentunya harus ada satu kandidat dari Please Kill Me ;) Karena tahun lalu gw keabisan tiket The Heartbreakers, jadi begitu ada artis yang dari Please Kill Me manggung, langsung deh beli tiketnya. Keren banget Dead Boys, walaupun tanpa Stiv Bators. Tapi vokalis barunya pun geron, gayanya beda tapi tetap mencuri perhatian sebagai frontman. Konser ini taada foto maupun video karena gw sibuk moshing ;)

2. Rufus Wainright di Beacon theatre

Gw bukan type yang sentimental gimana kalo nonton konser, tapi pas nonton Rufus brebes mili aja dooongg… Beneran ini nangis karena lagu, bukan karena kaki keinjek. Gimana ya, Rufus nyanyi Both Sides Now-nya Joni Mitchell dengan pelan dan dengan cengkok Rufus yang khas. Lalu gw kan jadi inget adegan Love Actually pas ada lagu ini… Mehek mehek…

Konsernya sendiri terlaluuuu manis dan menyenangkan. Rufus bernyanyi lirih, banyak ngelucu dan ya tau sendiri ya gaya nyanyi Rufus yang menggeolkan nada-nada lagu itu sangat khas.

1. Chidish Gambino – Madison Square Garden

Tahun 2018 memang tahunnya Donald Glover. Gw termasuk telat ngeh, tapi begitu kepatil langsung deh menjajal semua karya doi. Dari mulai dengerin semua albumnya (sampai hari ini ga bosen), nontonin semua video clip-nya, nonton Atlanta dan mulai nonton Community walopun ga diterusin karena disini Childish Gambino masih.. childish :D Puncaknya, nonton konser di Madison Square Garden (MSG). Show ini digelar dua kali dan seluruh tiket ludes aja gitu. Kapasitas MSG itu 20.000 orang ya, sodara-sodara. Penuh. Dan salah satu di antara sekian banyak orang itu adalah gw yang kelojotan nonton Donald Glover uget-uget selama dua jam. Keringat di punggungnya yang telanjang itu, ugh…

Terlepas dari obsesi gw pada sosok Donald Glover, konsernya sendiri megah, penuh kejutan dan salah satu konser paling keren yang pernah gw datangi. Bahkan visualnya pun ga tanggung-tanggung, layar raksasa high definition yang saking jernihnya gw kadang siwer mana manusia yang beneran. Setiap lagu ditampilkan dengan tata panggung dan nuansa berbeda. Belum beres kekaguman akan satu lagu, udah dihantem penampilan baru. Di tengah-tengah konser, Childish Gambino keluar dari panggung lalu keliatan dari layar kalo dia jalan-jalan di belakang panggung MSG terus ikutan nimbrung di penonton. Mau histeris ga siihhh…

Terus pas lagu This is America, penarinya akrobat sedemikian rupa. Iya beneran, pada salto di panggung. Konser ditutup lagu Redbone dan lengkingan falseto Childish Gambino terngiang-ngiang di telinga gw berhari-hari.

Sempet kepikiran untuk nonton konser yang besoknya, haha.. Tapi jujur aja tak mampu secara energy dan finansial :D

Setelah nonton Childish Gambino, gw rehat sejenak, ga mau nonton konser apapun kecuali konser MC5 dan Rufus yang memang udah beli tiketnya dari jauh hari. Bukan apa-apa, dalam hitungan seminggu gw nonton Dead Boys, nonton film Public Image Limited, nonton Childish Gambino lalu nonton MC5. Selera musik boleh tetap muda dan rock n roll, tapi badan sudah renta cuman pingin goler-goler di rumah :D Agak nyesel juga sih ga nonton Little Dragon, tapi ya udahlah. Tidak usah FOMO ya mbak :)

Tahun 2019 mau mulai nonton musik lagi, tapi ya… hmm… Pingin nonton Afropunk, karena tahun lalu beneran keabisan tiketnya dan tiket tangan keduanya pun mahaalll… Tapi prioritas sih, konsernya duduk aja gitu ya? #ManulaUnited