Desperately Seeking Richard Hell

layartancep.png

Summer di New York sudah resmi lewat. Tapi gw punya beberapa cinderamata dari musim panas ini. Tentunya gw menjadi warga New York paling hepi selama musim panas karena gw adalah mutan ex-Jakartanian yang nyaman jalan-jalan di udara panas, lengket dan bau asap knalpot :D

Selain pantai dan berbagai aktivitas seru lainnya, nonton layar tancep adalah salah satu aktivitas favorit gw di musim panas. Rasanya seneng aja gitu, gelar tiker, nyemil keripik dan selonjoran di taman sambil nonton film. Anaknya mondoyoy maksimal. Layar tancep di musim panas dari tahun ke tahun makin meriah dan makin banyak jumlahnya bagaikan jamur di musim hujan. Ada banyak layar tancep di New York, dari mulai di taman, tepi sungai dan rooftop. Waktu musim panas pertama gw di New York, tahun 2012, paling ada sehari sekali dengan lokasi yang berbeda-beda. Tahun ini bisa ada tiga kali pemutaran film, di tempat yang beda tentunya. Muncul berbagai tema, seperti film anak-anak di Hudson River Park, film Perancis di Tompkins Square Park, dll. Udah gitu makin ramelah dengan warung makanan dan minuman, DJ sebelum pemutaran film sampai vallet parking buat sepeda segala.

Tempat favorit gw adalah Brooklyn Bridge Park, karena tinggal ngesot dari apartemen, kontur taman yang berbukit menguntungkan mutan yang tingginya minimal ini dan tentunya the view beybeehhh! Namanya juga Movie with a View. Pemandangan Lower Manhattan dengan gedung perkantoran dan Freedom Tower yang mencuat, gemerlap air East River di malam hari dan kapal-kapal yang berseliweran. Tahun ini tema yang diusung adalah film karya sutradara cewek.

Nah di suatu hari Kamis gw nonton Desperately Seeking Susan. Awalnya sih ga ada ekspetasi apa-apa, hanya membayangkan film 80-an, bintangnya Madonna pula kan. Gw memang terlewat euphoria Desperately Seeking Susan pada masanya. Apa memang masih kekecilan ya? *denial* Filmnya sih simpel, bercerita tentang Roberta (Rosanna Arquette) ibu rumah tangga dari New Jersey yang kebosenan lalu karena dia rajin mantengin iklan baris di koran, dia jadi tau Susan (Madonna) bales-balesan pesan dengan seorang cowok dan bakalan ketemu di Battery Park, Manhattan. Datanglah doi ke tempat yang dimaksud, karena penasaran sama Susan juga kaann… Nah dasar film 80-an ya, adalah adegan kejeduk tiang dan amnesia segala. Lalu Rosanna cuman inget nama Susan, sehingga berpetualanglah dia di New York dengan identitas Susan ini.

Desperatelyseekingsusan

foto dari Outtake Medium

Gw beneran menikmati film ini. Seru-seru gimana gituu… Gimmick khas 80-an, perasaan dialog-dialog cewek di film lawas itu gemas yaaa… Ga secuek kayak di film2 jaman now. Terus, ternyata jaman belum banyak berubah ya, stereotipe Rosanna vs Madonna adalah ibu rumah tangga vs cewek single adalah permasalahan klasik. Udah gitu, karakter dan pesona Madonna sebagai Susan disini sungguhlah sangat Madonna. Pada jamannya yaaa… Cewek yang cuek (adegan ngeringin bulu ketek dengan hand-dryer itu sangatlah wow!) tapi juga kuat dan tau apa yang dia mau #freespiritgoal.

Hal lain yang gw suka adalah banyak cowok-cowok dengan rambut jabrik ala Johnny Rotten. Mungkin karena gw terobsesi sama era Please Kill Me, dimana punk sedang menyeruak, jadi gw agak gimana gitu sama type-type ini. Mirip sama foto viral Jokowi yang kemudian dibantah :D Ya gapapa kali Pakde…
Pokoknya sebangsa Johny Thunder, Richard Hell, gitu deh. Bikin kasuat-suat gimana gitu…
Nah pas terakhir baca credit title, eh ternyata beneran Richard Hell dong! Spontan gw berkata “F*ck yeah. That was Richard Hell!” yang lalu dipelototin ibu-ibu beranak dua di sebelah gw. Maaf buu…
Ternyata film Desperately Seeking Susan ini memang menghadirkan banyak cameo musisi lokal pada masa itu seperti Richard Hell, John Torturro, Annie Golden, dll. Oh my God! Sutradara film ini, Susan Seidelman, memang katanya “teman” mereka semua. Sering nongkrong bareng gitu deh…

Gw jadi pingin nonton film-film Susan Seidelman lainnya. Walopun dia banyakan nulis buat TV sih, salah satu yang terkenal yaitu beberapa episode Sex and the City. Sayangnya profil Richard Hell kurang cocok ya untuk nge-date sama Carrie Bradshaw :D Dan tentunya, pencarian gw akan Richard Hell tidak akan berenti. Abis gemes sih, doi tinggal di East Village dan disinyalir hanya dua blok saja dari apartemen gw waktu gw masih tinggal di East Village. Pasti deh gw pernah amprokan tapi gw ga ngeh :D

Kamu, siapa cameo favorit kamu yang ga sengaja nemu di film?

Iklan

Musik akhir-akhir ini

Kalau diperhatiin, setahun ini gw jarang banget nulis tentang musik. Padahal niat awalnya pingin rajin nulis tentang musisi-musisi baru. Demi mementahkan mitos musik yang enak itu hanyalah musik lawas.
Mitos ini tidak benar adanya dan kalo ada yang mau dengerin musik 90-an terus-terusan juga gapapa. Gw pribadi sih sedang senang-senangnya mengeksplor dua genre musik: rap/hip-hop/R&B dan musik punk ala Please Kill Me.

Dua genre musik ini bukannya ga pernah gw dengar sebelumnya. Hanya porsinya ga pernah sebanyak ini. Awal 90-an, saat pertama kali gw gandrung musik, gw selalu dengerin Radio Oz setiap saat kecuali di sekolah dan di tempat-tempat umum. Di masa itu, musik Radio Oz ya seperti radio anak remaja pada umumnya, banyak memutar lagu-lagu pop Top 40, termasuk Tony Tony Tone, Montell Jordan, Surface, dll. Musik ini walopun gw suka tapi ga sampe tahap gandrung dan tergila-gila. Karena lalu datanglah gelombang metal (walopun tinggal sisa-sisa perjuangan) yang akhirnya dilibas oleh musik grunge dan alternatif. Yang mana gw langsung penggemar berat.
Semenjak pertengahan taun 2016 sebenernya gw mulai meninggalkan musik-musik indie rock, dan mengeksplor musik-musik lain. D’Angelo dan Raphael Saadiq adalah cikal bakal CLBK-nya gw sama musik-musik dengan beat yang groovy ini *please excuse my Jaksel Englesh*. Nah tahun ini gw mulailah dengerin semua itu Nicki Minaj, Cardi B, The Weeknd, Logic, Chance the Rapper, dll. I love them all. Gw akhirnya ngaku kalo suka Kanye juga :D
Dan tentunya di antara semua itu, juaranya adalah… yes, the one and only Donald Glover alias Childish Gambino. Gw beneran jatuh cinta, smitten dan kebat-kebit sama mas yang jago akting, nyanyi dan masya Allah kalo nonton dia nari rasanya geraaahhh banget. 3005 dan album Kauiai diputer tak henti-henti selama seminggu.

Di sisi lain, gw tentunya ga meninggalkan rock n roll yang kayaknya selalu kuhembuskan di setiap denyut napasku. Aseeekk. Karena pada awal tahun gw namatin buku Please Kill Me, maka gw mulai mencicil pe-er dengerin musik-musik di buku ini yang belum pernah gw dengerin secara intens sebelumnya. Gw mengulang-ngulang Velvet Underground, Dead Boys, MC5 sampai Richard Hell, dan tentu saja my new spiritual guru: Iggy Pop. Ini juga ditambah Punk Essentials seperti the Clashed, the Damned dan the Jam. Ada energy tak habis-habis dari musik-musik ini. Sekaligus cocok banget sih kalo lagi kesel sama temen kantor :D

Jadi begitulah pencarian musik akhir-akhir ini. Monmaap buat musisi masa kini yang luput dari perhatian gw. Tapi hey, gw dengerin Migos, this is progress!! :D

Vision Board

visionboard3
Entah bagaimana caranya vision board ini datang ke hidup gw. Semesta memang maunya begitu. Haha. Vision board adalah bidang dimana kita memvisualisasikan hal-hal yang kita inginkan kejadian di hidup kita. Biasanya dipasang di tempat yang kita lihat setiap harinya jadi keingetan dan kepikiran terus. Rata-rata vision board ini dipenuhi guntingan foto dan tulisan dari majalah, hingga kadadang siwer sama majalah dinding :D

Sebenernya waktu SMA gw punya vision board. Ga sengaja sih. Pasang coark board di dinding kamar dengan harapan gw bisa pasang to-do-list dan berbagai foto dan tulisan yang inspirational. Tentunya ada Kurt Cobain dan stiker Vandalism: Beautiful as a rock in a cops face. Board ini ga pernah diutik-utik, begitu aja bertahun-tahun sampai akhirnya berdebu dan tulisan “Yo Go Girl!” terpatri di hati. Jadi bisalah ini dibilang vision board pertama gw.

Selanjutnya ga pernah punya vision board lagi, hanyalah coark board yang terbengkalai dan dipenuhi hal-hal yang kadang penting, kadang sampah, ga jelas latar belakangnya tapi bisa bertahun-tahun bercokol disana. Mulai ngeh dengan vision board lagi waktu Hani nulis tentang itu. Hani emang orangnya wellness banget ya, vision board-nya manis, positif dan bikin pingin liburan.

Singkat cerita, Sara, temen gw yang sedang semangat-semangatnya dengan personal development dan kena banget sama sesi-sesi Tony Robbins, menggelar acara Vision Board Bash di Branded Saloon. Datanglah gw tanpa agenda apa-apa selain meramaikan, walopun sesungguhnya ngantuk banget sepulang kantor. Acara dimulai dengan meditasi bareng, yang adalah bentar banget 3 menit doang dan pikiran di kepala gw masih berseliweran. Tapi dengan niat baik mari kita mulailah bikin vision board dengan agenda pertama gunting-gunting majalah.

Gw ga ada niat apa-apa, seperti pingin mobil, pingin rumah, dst, jadi gw ambil majalah yang tersedia, dan gunting-gunting aja foto atau tulisan yang gw suka. Sepenuhnya mempercayakan semesta akan apa yang terjadi dengan vision board gw ini. Oh iya sebelumnya gw bawa print-an beberapa illustrasi favorit gw dan buku Things are What You Make of Them, karena gw pingin ada bagian dari buku ini. Yang pertama gw temuin adalah: Iggy Pop di belakang majalah Rolling Stones. Wow! Karena semenjak baca buku Please Kill Me dan nonton episode Parts Unknown dimana Bourdain ngobrol sama Iggy di Miami, gw terobsesi sama Iggy Pop. Such a spiritual badass!

Ada kali 3 atau 4 majalah yang gw jelajahi dan gw gunting-gunting. Karena gw orangnya sangat visual, gw dengan cepat menemukan gambar atau tulisan yang gw suka. Bahkan berlebihan sampe ga semuanya muat. Jadi ya dipilih-pilih. Apalagi ada dua grafik besar yang gw suka banget, yaitu Iggy Pop. Ga mungkin gw potong ilustrasinya doang, isi wawancaranya juga menarik banget. Dan satu tulisan Data That Leads dengan latar pie charts warna pink ngejreng. Setelah dipilih dan ditata, mulai dilem deh. Sama sekali ga ada white space karena hidup dan visi gw penuh dengan hal-hal besar seperti karir, kehidupan rock n roll ala Iggy dan pantai :D Di sisa bagian kosong gw tempel-tempel stiker dan washi tape.

visionboard2Kalo gw liat-liat sih, si vision board ini didominasi oleh aspirasi gw di dunia karir, yah gimana lagi, ini mah kayaknya udah dari dulu mendarah daging. Data that Leads ini memang vision gw pingin lebih gape di data visualisasi dan pas gw bilang “This could also be Dita that leads,” semua mengangguk-angguk setuju. Di sisi lain gw juga mengimbangi dengan liburan – harus ke pantai – dan hal-hal menyenangkan seperti denger musik dan tidur siang. Dan tentunya Iggy Pop adalah role model gw karena dia punk maksimal tapi juga kagak ada matinye :D Pas Sara mampir ke meja gw, dia juga suka banget sama board gw, “I want to live your life! Look at this dog!”

Sara sempat juga baca kartu tarot, ga banyak-banyak sih cuman satu doang. Dan jengreng… It is The Sun! Waahh… Sara ga ngebacain sih, dia malah nanya-nanya, menurut lo apalah ini artinya? Menurut gw, ini adalah… Power Player! Hahaha… Tapi dengan hadirnya the Sun gw merasa lebih positif memandang masa depan, everything is going to be amazing :)

Abis itu ada sesi saling presentasi vision board masing-masing. Ada yang cerita soal membuka chakra hati, ada yang cerita soal dituduh hippie sama suami, sementara gw cerita apalagi lah selain gw suka Iggy Pop :D

visionboard1.jpg
Anyway, back to vision board, seneng juga ya bikin vision board. Temen gw seneng event-nya sukses, dan gw senang menyempatkan menata mimpi dan visual-visual bagus. Vision board ini gw pajang di deket rak buku gw. Seneng juga bisa liat Donald Glover tiap pagi, haha.. Kalo lagi merasa mentok di berbagai lini kehidupan, gw suka memandangi quote-quote gw yang banyak tentang afirmasi positif. Dan tentunya, Iggy Pop the spiritual guru selalu mengingatkan, all in all, kita bisa tetap menjadi diri sendiri dan berbahagia dengan apa yang kita punya.

Klab baca kejar paket A

klabbacaSemenjak awal taun ini, kegiatan membaca gw jadi lebih bersemangat karena gw iseng bikin klabbaca yang ternyata sambutannya cukup positif.
Pertamanya sih tersinpirasi Aggy dengan book buddies-nya. Tapi pas kontak temen deket gw untuk jadi book buddies, dia malah ribet nanya ini itu, trus gw males nerangin. Baca aja blogpost-nya Aggy noh.
Nah, pas awal taun lagi rame-ramenya resolusi nih, ada dua temen gw yang resolusinya: pingin lebih banyak baca. Langsung gw samber di whatsapp, didaulat jadi klabbaca, sekaligus jadi pilot project klab baca. Syukurlah mereka semangat dan bukannya nge-block gw di WA grup, karena gw mayan rajin nanya ini itu soal kebiasaan membaca dan berbagi tips-tips kejar paket A.
Simpel aja sih, tiap bulan kita pilih satu buku untuk dibaca barengan dan di akhir bulan kita diskusi bareng. Serunya sih kalau bisa sambil ngopi dan nyemil-nyemil ya, tapi ada daya gw di New York, satu di Singapore dan satu lagi wira-wiri Solo-Bandung. Jadi diskusi kira-kira sejam atau dua jam lewat skype (yang lalu banyakan foto-foto :D) atau kalau banyak yang berhalangan ya lewat whatsapp chat. Gw pribadi lebih suka lewat skype sih, soalnya dalam sejam bisa membahas banyak, sedangkan lewat chatting biasanya dua jam. Lebih effisien aja gitu. Apalagi kan beda-beda timezone, jadi jam ngantuknya beda-beda.

Di kwartal pertama klab baca, cuman kita bertiga, jadi pilihan buku beneran personal. Gw pilih buku pertama (sebagai figur autoritatif ;) ), terus gantian tiap bulannya. Yah namanya juga percobaan ya. Tapi dalam tiga bulan itu aja kita bertiga jadi semangat banget namatin buku walopun bukunya bapuk banget dan semangat diskusi yang tentunya banyak haha-hihi.
Kwartal berikutnya, klab baca ini diperluas, masih barengan lingkar pertemanan yang sama, tapi nambah anggota 3 orang lagi. Mayan kan… Mungkin kalo diterapkan member get member bakalan lebih sukses tapi klab baca kan nirlaba yaa :D Sistem bacanya masih sama, baca satu buku yang diputuskan bersama melalui musyawarah mufakat atau pemilihan umum, terus dibahas tiap akhir bulan. Ragam buku yang dibaca emang jadi random banget sih, dari memoir, non-fiksi, sampe komik :D Tapi ya gapapalah, kita coba aja menjajal berbagai jenis bacaan. Kadang ada juga yang ga tamat. Ga masalah, buat gw sih yang penting membentuk kebiasaan konsisten membaca dan menikmati buku bacaan. Visi gw dengan klab baca ini bukan fokus pada bukunya sih, tapi lebih kepada komunitas dan membentuk kebiasaan membaca.

klabbaca2Sejauh ini sih gw hepi banget dengan klab baca ini. Simpel dan bikin motivasi membaca semakin kenceng. Kalopun grup ini pada akhirnya ga berminat lagi melanjutkan klab baca, gw akan bikin klab baca lagi. Abis seru aja. Membaca buku itu sebenernya kegiatan yang soliter, tapi dengan klab baca ini kita jadi bisa menikmati pengalaman membaca bersama-sama. Seperti misalnya misuh-misuh kalo bukunya ngebosenin pas baca They Both Will Die in the End atau nangis bareng pas baca buku yang mencabik-cabik perasaan kayak First They Killed my Father.

Sempet ngobrol-ngobrol lebih lanjut, apakah mau memperluas klab baca dengan ngundang-ngundangin temen di luar lingkar pertemanan ini? Hmm, pingin juga sih, tapi masih ragu karena gw masih merasa belum mumpuni memoderasi sekian banyak orang, apalagi yang belum terlalu kenal. Sejauh ini banyakan curcol :D Mungkin skill ini dilatih dulu, nanti kalo udah gape baru deh buka klabbaca untuk rakyat pada umumnya :)

Alasan lain adalah akses buku. Sebagai a proud member of Brooklyn Public Library, gw dengan gampang mengakses buku-buku, walaupun kadang harus nunggu agak lama. Mau beli buku juga tinggal klik dan bayar kredit, lalu dalam dua hari buku dateng deh dari amazon.com atau book depository. Ga selalu buku baru, gw seringnya beli buku bekas. Nah, akses buku ini yang kadang menjadi kendala buat member klabbaca lainnya. Solusinya sih gw berusaha nyariin buku dalam bentuk pdf gratisan dan kadang gw dan temen gw di Singapore berbagi akun perpus. Agak-agak illegal sih, tapi ya demi kemajuan bangsa dan negara, yekaann… Nah gw ga yakin opsi ini bakalan gw lakuin buat khalayak ramai. Tapi pada intinya gw ga mau member klabbaca kesulitan akses buku.

Meskipun klab baca gw saat ini masih eksklusif, tapi silahkan loh fotokopi atau modifikasi ide klab baca bersama geng masing-masing. Gampang dan seru banget, hanya butuh buku dan Whatsapp group. Daripada Whatsapp group jadi ladang hoax kaann… ;)

Puasa di New York

ramadhan.png

Tadinya tulisan ini nangkring di draft dan mungkin akan dilupakan sampai bulan puasa tahun depan. Tapi akibat ada Ramadhan post dari Deny dan Christa, jadi semangat menyelesaikan.

Ga kerasa, Ramadhan ini adalah bulan puasa keenam gw di New York. Lama-lama makin terbiasa dan makin mahir menghindari godaan syaitan berwujud reception dengan open bar :)
Selama 6 kali Ramadhan, semuanya dilakukan pas musim panas, yang menurut gw adalah puasa tingkat advance karena hari yang panjang. Imsak sekitar jam 4 pagi dan buka puasa antara jam 8-9 malam. Ramadhan taun ini maghrib paling telat jam 8.30. Tapi alhamdulillah ga nyenggol summer solstice, yaitu hari terpanjang dalam setahun dimana matahari terbit paling pagi dan terbenam paling larut malam. Dua taun yang lalu gw pernah puasa pas summer solstice, rasanya kayak mecahin rekor Mario Bros trus abis itu pingsan sampe imsak :D

Karena gw ga terlalu dekat dengan komunitas Indonesia dan muslim disini, bulan puasa ya berjalan seperti hari-hari biasa. Kantor berjalan seperti biasa, deadline menghantui karena syaitan yang satu ini tidak dibelenggu :| Ga ada keringanan untuk dateng telat dan pulang duluan. Buat gw kerja sambil puasa kadang jadi lebih produktif, karena ga harus mikirin makan pagi, ngopi dan makan siang. Tinggal kerja aja kerja, diselingi sholat Dhuhur atau kadang gw rehat sejenak baca buku dan menikmati matahari di taman.

Jam lima sore langsung beres-beres pulang. Gw udah ga maksain naik sepeda, karena rendahnya kadar gula darah di sore hari membuat gw ngantuk dan sering ngelamun. Kegiatan ngabuburit pun ga terlalu bervariasi lagi karena gw cuman pingin tidur siang sepulang dari kantor. Baru pas weekend bisalah kita jalan-jalan setitik, lalu tidur siang lagi :D

Buat gw, godaan puasa biasanya bukan haus dan lapar, melainkan ngantuk bangeettt. Gusti, susah banget bangun pagi abis sahur. Mau ga tidur lagi mana tahan gw hidup dengan tidur hanya 3-4 jam. Dan kalo diitung-itung, tidur selama bulan puasa emang defisit banget sih. Isya jam 10, yang berarti gw paling cepet bisa tidur jam 11-an, dan jam 3 harus udah bangun buat sahur, karena fajar sekitar jam 3.45. Abis itu tidur lagi sekitar jam 5, karena biasanya gw leyeh-leyeh, nyuci piring dan baca buku sebelum bisa balik bobo.

Yah, sama godaan dari berbagai keriaan di New York dan gw harus say no to wine bar :|

Puasa sendirian juga berarti ga pake ribet nyusun menu ini itu. Yang gampang aja deh, yang penting ada manis-manis pas berbuka dan makan malem bergizi. Biasanya gw sedia korma, buah-buahan dan sepotong kueh buat takjil. Makan malem disesuaikan dengan mood dan kadar kebrangasan :D Tapi biasanya gw udah nyiapin makan malem banyak, eh baru makan setengah porsi udah males. Karena ternyata badan gw lebih memohon gw untuk minum daripada makan.
Sahur apalagi, kalo bisa yang tinggal mangap. Menu sahur andalan gw, sekaligus my comfort food of all time: nasi + telor ceplok + abon + kecap manis. Kadang bikin telur dadar bayam + roti. Biasanya menjelang akhir-akhir gw udah bosen sama menu telor-teloran ini, dan lebih suka oatmeal + buah-buahan. Dan tentunya tiap Ramadhan pasti aja ada episode kebablasan sahur :D

Gw juga semakin terlatih menikmati New York sambil puasa. Nonton konser jalan terus, walopun udah ga sesering dulu, tapi ya emang puasa atau ga, gw lebih memilah-milah konser musik. Ternyata ga susah juga kok puasa sambil nonton musik, asal ga jejingkrakan aja. Hari Jumat kmaren gw nonton Belle and Sebastian di Forrest Hills Stadium karena dapet tiket gratis (rejeki anak solehah banget deh ini), dan untungnya bisa duduk dan ada food bazaar-nya juga. Jadi pas jeda antara opening act dan Belle and Sebastian, gw jajan lalu menikmati beduk maghrib berupa lagu The Boy with an Arab Strap ;)

Yang masih tersendat-sendat adalah urusan tarawih. Di dekat apartemen gw ada mesjid lumayan gede. Gw pernah ikut tarawih sekali disitu, tapi ga geunah deh. Bagian wanita penuh sama ibu-ibu dan anak-anaknya terus rusuh. Banyak anak kecil berseliweran, terus ibu-ibu di bagian belakang rumpi banget. Udah gitu karena bagian wanita ini dekat dengan ruang iftar, bau makanannya menggoda iman ya. Alih-alih khusyuk, gw jadi males ke mesjid dan kangen mesjid East Village yang mungil dan sederhana. Udah gitu kepikiran banget pingin buka daycare (atau nightcare) selama bulan puasa biar ibu-ibu bisa beribadah juga. Ide daycare ini juga selalu terasa mendesak setiap sholat Eid.

Meskipun begitu, Ramadhan selalu terasa manis semanis es cingcau ijo yang amat kurindukan. Senang menikmati jalan kaki menuju mesjid, malam-malam panjang menjabarkan mimpi-mimpi dalam bentuk doa dan yang paling gw suka, kedekatan dengan diri sendiri dan Tuhan semesta alam.

Selamat menuntaskan ibadah puasa bagi yang melaksanakan, semangat tinggal tiga hari lagi!