Bacaan kwartal kedua 2017

bukuQ22017Jumlah buku yang gw baca di kwartal kedua ini cukup menurun. Mungkin karena udah merasa di atas angin secara kuantitas, gw mulai cari bacaan yang tebal dan berat.

Fiksi paling favorit: The Brief Wondrous Life of Oscar Wao
I heart this book. Junot Diaz bercerita renyah, seenaknya dan lucu. Tokoh-tokohnya sangat spesial. Oscar Wao yang nerd maksimal, ibunya yang hmm.. Apa ya, ya khas ibu-ibu centil gitu deh. Tentu saja karakter favorit gw adalah kakak Oscar, punk feminist yang jagoan lari. Cerita keluarga yang terkesan simpel ini mengambil setting di jaman diktator Trujillo. Hebatnya Junot Diaz, fakta sejarahnya ditulis sebagai catatan kaki, yang mana biasanya gw loncat. Tapi untuk buku ini, gw menghabiskan siang memastikan gw baca semua footnote-nya. Agak ribet sih di versi kindle-nya. Oiya, kalimatnya bertebaran spanish slang di sana sini, jadi sebaiknya ga blank banget soal bahasa Spanyo atau sedia kamus di tangan.

Non-fiksi favorit: The Elements of Typographic Style
Buku ini sudah sejak lama berada di daftar buku desain grafis yang gw baca, tapi karena ngeliat marginnya aneh dan gw heran bukudesain grafis kok kurang gambar gini ya, maka gw tunda melulu. Pada akhirnya gw mulai baca dan terpesona. Buku ini enak dibaca, Robert Bringhurst beneran jagoan menggambarkan teknik tipografi sehingga kita mengerti tipografi yang ampuh itu seperti apa. Sekaligus lucu juga! Harusnya para penulis textbook belajar dari beliau ya, jadi buku2 pelajaran itu enak dibaca dan ga kering.

Paling nyebelin: 13 Reasons Why
Sebenernya ga sebel-sebel banget sih. Masih dikasih bintang 3 laahhh… Tapi tentu aja kebanting dibandingin dengan In Cold Blood dan buk Reza Aslan. Gw kangen baca fiksi remaja, dan penasaran karena buku ini diangkat ke layar Netflix kan. Mayan, tapi banyak faktor yang ganggu seperti tema bunuh diri dan depresi yang menurut gw kurang kerasa aura gelap dan kelamnya. Baca How the Hula Girl Sings deh, bukan tentang bunuh diri tapi buku ini kelam banget, kerasa banget gelapnya kehidupan ex-napi. Joe Meno emang paling bisa deh cerita yang suram-suram, cocok dibaca sambil dengerin Portishead.

Berikutnya mari kita menyiapkan summer reading. Sarah Dessen anyone? ;)

What about you, how’s your summer reading so far?

 

Starbenders – feminist glam rock masa kini

starbendersGw masih niat nerusin seri musisi-musisi masa kini, maka selanjutkan kita tampilnya:
Starbenders.

Penjelajahan di Spotify berbuah gw nyangkut di playlist Badass Womyn dimana roker-roker perempuan bertebaran, dan tentu saja nyelip Starbenders. Lagunya yang pertama gw denger Down and Out, lalu gw merasa: eitsss, siapa ini kok gahar dan centil secara bersamaan? Cita-rasanya mirip banget sama band lawas Heart atau Nicky Astria. Duh jadi pingin karaoke lagu Alone sama Biaaassss Sinaaarrrr.

Tapi Starbenders murni produk masa kini. Gw curiga mereka lebih muda dari gw. Tuntutan profesi aja yang membuat mereka tampil bak tante-tante rambut bersasak, ditambah kostum celana kulit dan baju-baju vintage. Mereka membawa kejayaan glam rock dengan sentuhan kekinian. Musiknya murni rock, tapi melodinya pop manis, gampang dicerna, malah mirip Katie Perry.

Kimi Shelter, vokalisnya selain bersuara serak-serak manja, main gitarnya juga power metal banget bok. Dan sudah semestinyalah grup ini jadi ikon kesetaraan gender jaman sekarang, drummernya juga cewek.

Singkat cerita, gw dengerin dua album mereka berhari-hari. Gw suka nyaris setiap lagunya. Dan semoga mereka suatu saat mampir New York ya, pingin banget nonton. Atau kalo ada rejeki, gw deh yang nyatronin Georgia, Atlanta, kota asal mereka.
Oh iya, mereka juga cenderung dharma junkie. Selain meramaikan kancah musik nasional, mereka aktif kampanye dan fundraising buat Lost n Found Youth, thrift store favorit mereka.

Gw juga suka banget sama logo/word mark Starbenders. Typeface ala heavy metal mencerminkan musik rock, sentuhan neon masa kini dan warna pink menggambarkan semangat dua cewek personilnya.

Singel terakhir mereka judulnya Far from Heaven sungguh sesuai dengan kondisi jaman sekarang, dimana banyak orang jualan janji-janji surga. Aseekkk :)

Oshun

Nonton acara poetry reading di Brooklyn Music Academy wiken kemarin berbuah gw jatuh hati pada dua Oshun. Apanya Oshin? *krik krik*

Oshun adalah dua cewek manis asal DC yang sama-sama kuliah di NYU. Suatu hari musim dingin mereka nyanyi-nyanyi di studio tari dan memutuskan: bikin lagu yuk! Begitulah dahsyatnya alam menginspirasi Oshun.
Sejak itu mereka aktif nulis lagu, bikin komposisi, rekaman dan manggung. Membawa pesan pemberdayaan perempuan, self-respect, keberagaman budaya dan pesan-pesan spiritual lainnya. Sungguh relevan dengan kondisi jaman sekarang. We all need peace, love and gaul spirituality.
Nama Oshun diambil dari dewi sungai Afrika Barat yang melambangkan luxury and pleasure, sisi feminin, kecantikan dan cinta. Di Nigeria mengalir sungai bernama Osun, dan ada perayaan selama dua minggu merayakan dewi sungai ini. Menurut gw, Oshun ini lambang yang cantik dan sangat tepat menggambarkan musik Oshun.
Musiknya sendiri dikategorikan neo-soul. Buat gw yang playlist-nya didominasi indie rock dan musisi bule lainnya, mendengarkan Oshun membuat gw bertanya-tanya. Suka apanya ya? Hmm…
Suka karena selain pesan-pesan Oshun, musik campuran soul, R&B, rap, hip-hop, reggae dan sentuhan kekinian ala Oshun terasa menyegarkan. Ada pengaruh Lauryn Hill, Erykah Badu, Drake, dan musisi lainnya yang jarang gw dengerin sebelumnya :D

Sayangnya musik mereka ga ada di Spotify, tapi ada soundcloud-nya. Check out this video, and don’t your agree that Niambi and Thandiwee are just too cute?


Gw kepikiran bikin serial tulisan tentang musisi jaman sekarang demi menampikkan mitos: musik yang keren hanyalah musik masa pertumbuhan. Jadi musisi baru ga mudah, apalagi industri musik sudah sedemikian rupa sampahnya. Let’s branch out, let’s support our true musician artists.

Buku-buku kwartal pertama 2017

booksQ12017Sudah tamat 12 buku, yay! Walopun tipu-tipu dikit dengan dua buku puisi dan buku essay yang tipisnya mak. Tapi gapapalah, yang penting baca buku. Keep on reading, keep on literacing. Apa sih.

Seperti biasa buku yang membekas di hati adalah buku-buku klasik. Akhirnya gw baca juga Brave New World. Udah lama niat baca, tapi karena menurut sejarah gw susah banget namatin buku klasik, jadi maju mundur. Begitu niatin baca, dalam seminggu tamat aja gitu. I love this book, I love how it twisted what we think about normalcy. Membuat gw bertanya-tanya, apa sih kebahagiaan itu? Apakah ada di kehidupan yang stabil, selalu tertawa, Tuhan atau petualangan? Apakah masa depan kita mengacu pada hal-hal futuristik seperti Brave New World dan episode Black Mirror? Atau sebagai manusia, kita akan berpegang selalu pada prinsip-prinsip kemanusiaan? Lalu apakah prinsip kemanusiaan itu? Ditambah Aldous Huxley bercerita dengan renyah dan kadang-kadang lucu. Ga bosen bacanya.

Gw juga sangat menikmati buku The Warden’s Daughter dari Jerry Spinelli, waloun ujung-ujungnya kok Hollywood ending banget. Mungkin Om Jerry ga tega kali ya bikin open ending kayak Stargirl. Tapi tokoh Cammy-nya bikin jatuh sayang deh. Semacam gw jatuh sayang pada keponakan tomboy tapi punya emosional baggage yang pedih.

Bulan Maret gw tiba-tiba males baca buku. Ngokkk. Kok bisa begitu neng? Ga tau, tiba-tiba pingin goler-goler aja main game dan ga baca buku. Mungkin karena gw baca buku yang cukup berat, walopun tipis. Brave New World, Interpreter of Maladies, belum lagi buku fiksi Atheist Muslim dan Number and Nerves yang akhirnya gw drop karena butuh jiwa dan raga segar untuk mencerna. Karyawati kantoran ini tak mampu, lelah. Terus gw baca Stargirl lagi. Laaaf banget sama Stargirl.

Buku yang paling nyebelin adalah All the Bright Places. Blaaahhh, saat baca nyaris halaman 300 gw pingin banting buku itu dan memutuskan buang waktu baca buku ini. Biasanya gw suka YA walopun cemen dan cinta-cintaan. Tapi All the Bright Places ini menurut gw terlalu memaksakan diri untuk memasukkan unsur agak berat seperti depresi dan kesehatan mental. Tokoh cowoknya bikin gw muak, karena gw rasa dia me me me banget. Violet juga, I don’t see her as a broken girl, I see her as a regular stereotype pretty high-school chick. All in all, buku ini ga ada sepeteknya Eleanor and Park.

What about you? How’s your 2017 reading so far?

Day 14: Oh Captain, My Captain!

tumblr_mmuer81UnN1r6h2jqo1_r2_500

If you were allowed only to watch one movie for the rest of your life, what movie would it be and why?

Setelah menimbang-nimbang antara Boyhood dan Dead Poets Society… My lifetime Oscar goes to…
Dead Poets Society.

Because I need a good dose of Ethan Hawke, that’s why.
Padahal dua-duanya juga ada Ethan Hawke ya, Boyhood lebih banyak malah.

I enjoyed Boyhood a lot, but Dead Poets did something to me.

Pertama kali nonton Dead Poets Society itu waktu umur 12 tahun. Tante gw maksa banget ngajak gw nonton Dead Poets, katanya ini film bagus banget. Gw sih seneng-seneng aja diajak nonton. Walopun gw masih cukup piyik, ternyata ngerti juga loh. Sehingga gw selalu menuliskan film ini saat nulis buku kenangan, film favorit: Dead Poets Society. Makanan favorit: Texas Fried Chicken. << Dita kecil yang sangat kebarat-baratan.
Selain skrip dan penampilan aktor yang brilyan, gw sukaaaa banget setting dan hawa-hawa Dead Poets. Musim gugur, daun-daun berguguran dan semilir angin dingin. Bangunan kampus yang bersejarah dan dentang lonceng gereja. Walopun ga pernah disebutin dengan jelas lokasinya, kerasa banget atmosfir New England. Favorit gw adalah adegan waktu mereka latihan mendayung.

Dead Poets menginspirasi gw untuk kuliah di luar negeri. Cita-cita banget dari dulu, pake hoodie, bawa buku setumpuk lalu goler-goler belajar di taman kampus yang luas dan asri. Kenyataan: S2 di luar negri, tapi kampus gw tamannya cuman sepetek :P
Akting brilyan Robin Williams sebagai Mr. Keating menjadikan tokoh itu menjelma sebagai mentor buat gw. Gayanya yang nyentrik sekaligus sayangnya pada anak didiknya membuat gw ga putus harapan akan dunia pendidikan.
It is not a feel good movie, I know. But I watched it more than five times, and it gets me everytime.

Carpe fuckin’ diem.

deadpoets

Gambar dari Pinterest berbagai pihak.