Ulasan tata letak Aroma Karsa

3715DB66-356A-492D-8A40-A718AD2ED346Ceritanya neng ini berkunjung ke New York dan lalu dapatlah jatprem berupa buku Aroma Karsa. Sebenernya gw udah lama berenti baca buku Dee sih, karena merasa… hmm, banyak alasan yang tidak penting disebutkan alias sok misterius :D Nanti deh dijabarkan kalau udah tamat bukunya dan niat nulis ulasannya.
Selama akhir pekan kemarin mulailah digarap buku ini, udah sampe 200 halaman dong. Canggih ya? Tapi selama baca itu gw gateeelll banget pingin misuh-misuh pada tembok berdebu tentang tata letak buku ini yang menurut gw cukup slordeh untuk penerbit besar macam Bentang. Udah ditulis di Goodreads sih, tapi karena cukup panjang, jadi gapapalah dibagi disini. Jarang-jarang kan ada yang membahas lay-out buku #typographynerdalert

Demikian keluh kesah gw sepanjang membahas buku:
1) Ukuran font-nya kegedean, kayaknya masih bisa dikurangin 0.5 – 1pt dan masih bisa terbaca dengan enak deh..
2) Spasi antar paragrafnya kejauhan, pun udah ada indent di tiap awal paragraf. Semestinya spasi ini ga perlu untuk naskah panjang, apalagi untuk naskah yang obral dialog. Tiap teks jadi berjarak antar satu dan lainnya.
3) Ikon antar section break bagus sih idenya, tapi eksekusinya kurang oke. Ikon terlalu rumit untuk ukuran sekecil itu, jarak antara teks terakhir dan ikon dan teks berikutnya juga terlalu dekat jadi rasanya papuket kituuu… *excuse my French
4) Header “Aroma Karsa” di tiap halaman ganjil rasanya ga perlu deh. Ini buku tebal, novel, rasanya tiap pembaca juga ngeh kalo dia baca buku ini. Mungkin perlu buat versi dijital tapi bukan buat versi cetak. Kalopun penting banget pembaca diingatkan, ukuran font-nya ga usah sebesar itu.

5B1CBF15-6FA5-4BFD-933C-264BEB219696Pantesan ujung-ujungnya jadi 700-an halaman. Kalau urusan lay-out dilakuin dengan benar (dan tentunya juga penuturan cerita yang bisa banget dipangkas terutama bagian awalnya kelama-lamaan), kayaknya 400 halaman juga cukup. Apakah memang tujuannya agar pembaca merasa pencapaian tinggi dengan membabat 700 halaman?

Oh iya, desain sampulnya juga agak gengges. Menurut gw, kekuatan sampul ini adalah di judulnya berupa tipografi yang dirancang apik penuh detil. Ini saja semestinya udah cukup kuat. Detil ilustrasi di latar ga usah sebesar itu, ga usah dengan warna yang nyaris sama menonjolnya dengan judul. Detil-detil dekoratif lainnya juga tersebar dengan letak yang kurang enak. Kadang terlalu dekat dengan judul, kadang malah menyisakan white space yang bukannya terlihat elegan malah terasa kosong. Hahaha… puas banget ini gw ngacapruk tentang desain :D :D :D

Nantikanlah review berikutnya kalau sudah tamat dan ga males nulis review panjang-panjang. Untuk sementara, bolehlah baca review setan alas dulu..

Iklan

Buku akhir-akhir ini – Semester pertama 2018

bukusemester12018
Banyak baca buku di setengah tahun ini tapi yang paling berkesan adalah…

Columbine
Saat Goodreads mengumumkan bulan buku kriminal, sebagai oknum yang tersepona oleh In Cold Blood-nya Truman Capote, langsung kepikiran pingin baca buku kriminal yang keren. Dan tentu saja yang paling keren sampulnya adalah Columbine! Liat deh, white space sebanyak itu dengan judul font kecil dan dicetak putih pula. Bikin merinding. Eh, ini resensi buku apa desain sampul buku ya.. Columbine adalah kisah nyata, hasil riset jurnalis yang meliput penembakan di sekolah ini dari hari pertama sampai beberapa tahun kemudian. Ga ada rasa penasaran sih, karena dari pertama udah jelas kan pelaku penembakannya si dua anak nakal itu. Penulis mengupas segala aspek kasus ini. Dari latar belakang pelaku, keluarga korban, komunitase gereja sampai rekam jejak sheriff dan detektif yang bertugas menangani kasus ini. Brilyan. Gw jarang baca buku tentang kriminal jadi ga tau juga harus membandingkan buku ini dengan buku apa, tapi yang jelas gw sangat menikmati buku ini, walaupun cukup tebal dan ukuran teksnya cimit-cimit.

First They Killed My Father
Dari judulnya aja udah ketauan kan buku ini bakalan mencabik-cabik. Siap-siap tisu yang banyak. Awalnya gw merasa buku ini ah ya kitu weh, sebagaimana memoir kisah sedih lainnya. Tapi sampai hari ini gw masih ingat banyak detail dari buku ini dan cukup mendalam juga bagaimana Luong Un bercerita hingga gw beneran bisa empati dan ngebayangin situasi menjadi pengungsi. Sudut pandang anak 5 taun membuat buku ini mudah dicerna sekaligus ga ngebosenin buat siapapun.

Please Kill Me
Sebenarnya buku ini butuh satu post sendiri, karena sebegitu dalamnya pengaruh Please Kill Me dalam hidup gw dan Jesse. Tapi baiklah, gw kasih blurb-nya disini aja ya. Ini pertama kalinya gw baca oral history, yaitu naskah transkrip berbagai wawancara musisi yang dianggap perintis punk. Ada beberapa kontroversi sih, seperti geng DC ga diliput dan tentu saja UK vs US punk akan selalu menjadi debat bagaikan versi “mana yang lahir duluan, ayam atau telur?” Tapi banyak sekali cerita behind the punk scenes yang seru, lucu sekaligus sedih. Pokoknya campur-campurlah. Sintingnya Iggy Pop, kelakuan David Bowie deketin Bebe Buel sampe kisah cinta Sid and Nancy. Buku wajib buat siapapun yang tertarik akan rock n roll 70-an.

Wake Up to the Joy of You
Gw selalu berusaha menyelipkan bacaan spirituil, karena ya dikit-dikitlah kita belajar. Kalo ga gini, biasanya bablas lupa dan terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Aseek. Nah kebeneran Wake Up to the Joy of You ini ringan dan enak dibaca. Ada berbagai topik dan tiap babnya sekitar 5-7 halaman saja, jadi ga berkepanjangan dan bikin bosen. Buku ini juga disertai meditasi untuk tiap bab. Sangat direkomendasikan untuk merenung sejenak, melihat masalah dari perspektif baru dan mencari cara lain untuk berbahagia.

Call Me by Your Name
Full resensi + film + soundtrack disini

Kamu,baca buku apa yang seru akhir-akhir ini?

Call Me by Your Name

callmebyyourname
Sepuluh bintang di imdb dan lima bintang di Goodreads tidaklah cukup untuk menggambarkan betapa gw terobsesi dengan Call Me by Your Name.
Awalnya tertarik nonton filmnya akibat review oke dari berbagai media dan newsletter Alamo Drafthouse. Gw jadi punya ekspektasi tinggi. Pada dasarnya suka film-film drama model begini. Konflik yang terbangun pelan-pelan, jokes yang sekedarnya tapi kena, perkembangan karakter yang menarik, ditambah film ini ala-ala eropa banget. Udah gitu latarnya Italy tahun 1983, summer, omg gw langsung kangen hari-hari lambat ga ngapa-ngapain di kota kecil. Sukaaaa…
Gw sih ga ngerasa film ini norak sebagai gay porn ya, malah kisah cintanya manis banget. Banyak momen-momen menghangatkan hati seperti saat Elio dan Oliver sepedaan berdua, atau pas mereka nari-nari dengan lagu Love My Way, mengingatkan gw pada hari-hari di Avignon. Adegan bapaknya Elio ceramah singkat ke Elio juga kena banget. Sebelah gw sesenggukan maksimal.
Ditambah akting Timothée Chalamet ciamik banget. Kerasa gitu ni anak petakilan tapi pinter dan dalem. Tante sukaaa…
Tapi emang ujung-ujungnya rada datar sih. Konfliknya terlalu simpel. Bahkan pada saat Elio patah hati dan nangis di depan perapian, I feel nothing. Entahlah, mungkin pas adegan terakhir itu harus dielaborate lebih lanjut?

Karena suka banget adegan pas Elio dan Oliver nari-nari di lagu Love My Way, besoknya gw langsung dengerin soundtrack Call Me by Your Name. Huwaaa… Ini kok sealbum keren semua. Gw suka sekali lagu-lagu instrumental piano, terutama yang judulnya Une Barque sur l’Ocean. Ajaib ya lagu ini, bisa banget lewat nada-nada terasa hawa-hawa pantai, persis seperti hari-hari Elio dan Oliver di Crema. Saking seringnya bolak-balik dengerin album ini, Spotify sampe nawarin playlist Calming Piano :D
Ada dua genre musik lagi di album ini yaitu musik-musik 80-ies yang kental dengan irama keyboard dan dentuman drum machine, sperti Love My Way, dan satu lagi Sufjan Stefans. Yang terakhir musik indie tenang mengalir dengan vokal lirih Sufjans dan lirik yang jleb. Sufjan juga dapet nominasi Oscar untuk best original score. Kombinasi ketiganya membuat gw betah dengerin album ini berulang-ulang, mood-nya langsung berubah tiap dengerin album ini.

Media ketiga yang harus dijajal adalah baca bukunya dong. Inilah asal muasal Elio.
Buku karya André Aciman ini tipis aja, ga lebih dari 250 halaman, dan plotnya sesimpel naskah filmnya. Tapi, oh my God, elaborasi perasaan, keragu-raguan, bahagia dan sedihnya Elio bener-bener dijewantahkan panjang lebar dengan kalimat-kalimat yang manis. Seluruh buku diceritakan dari sudut pandang Elio, penuh dengan pikiran-pikirannya sebagaimana kita sehari-hari yang kadang kebanyakan analisa ;) Yang agak berbeda, tokoh Oliver di buku ga se-superstar aura Armie Hammer di film. Malahan di benak gw, Oliver di buku ini ramah manis, type cowok cakep tapi semua orang pingin dekat dan menghabiskan waktu dengannya. Di buku, Oliver masih muda, 24 tahun, sedangkan Elio umur 17 tahun. Ga nampak fedofil kan? Sah-sah aja untuk naksir-naksiran. Sedangkan di film Oliver nampak berusia 30-am dan Elio loloslah umur 15 tahun mahh…
Perbedaan lainnya yang menurut gw membuat bukunya jauh lebih keren dari filmnya adalah di buku ada adegan Elio dan Oliver main ke Rome lalu mereka book party, makan-makan dan bersenang-senang di Rome. Gw sukaaaa sekali sama bagian ini. Ada perasaan hangat saat kita jalan-jalan dengan nuansa romansa, lalu ketemu banyak orang dan dalam waktu singkat membaur dengan orang-orang baru itu. Udah gitu yaaa… Ada cerita bertahun-tahun kemudian saat Elio udah sangat dewasa dan Oliver beranak pinak, dan bagian ini makjleb banget. Gw rasa kalo difilmin pake lagu Sufjan Stefans gw bakalan cirambay.

Tapi emang film, buku dan musik Sufjans itu jatuhnya either you love it or hate it. Mungkin itu yang membuat filmnya diperdebatkan panjang. Saya mah, udahlah punya obsesi baru: Timothée Chalamet, summer di Italy dan musik-musik John Adams.

Gambar nyolong dari: https://thetempest.co, credit CMBYN.

Lady Bird dan Hang the DJ

Di hari pertama taun 2018, gw dimanjakan dengan nonton dua film (satu di bioskop, dan satu lagi di TV) yang membuat gw bahagia dan ga bisa menahan untuk ga ngetik ini. Emang tahun baru rencananya ga kemana-mana sih, dingin bujubuneng bikin pingin kembar siam sama heater. -6 sampe -12 derajat celcius saja sodara-sodaraaa… Jadi gw dan Jesse leyeh-leyeh aja dan Netflix-an dan nonton film seperti biasa. Tapi ga disangka, dua-duanya favorit banget.

 

black-mirror-hang-the-dj-image1-600x200

Sumber: http://collider.com/black-mirror-hang-the-dj-ending-explained/

Hang the DJ
29 Dec, Netflix meluncurkan Season ke-4 serial Black Mirror. Kita udah nyicil nonton dari hari Jumat sih, antara penasaran karena seru banget sama dieman-eman soalnya ga mau cepet selesai juga #dilema Nah pas taun baru sampailah kita pada episode Hang the DJ, semacam dystopian dating alias tinder di level selanjutnya. Karakter utamanya Frank dan Amy bikin gw senyum-senyum sendiri. Amy menurut gw cantik kebangetan dan gerak-geriknya pinter sekaligus menggemaskan. Frank cenderung awkward dan polos, tapi bukankah kita juga gampang jatuh cinta sama type yang tulus dan agak rapuh begini? Singkat cerita, dipasang-pasangkanlah para partisipan dating app ini. Sebagai pelaku dating jaman now (walopun gw ga sampe ngalamin era tinder) dan hopeless romantic tingkat akut, gw meleleh sekaligus bisa relate banget sama episode Hang the DJ ini. Menurut gw, perkencanan itu seru karena disinilah kita mencoba (kadang memaksa) diri kita untuk berhubungan (kadang intim) dengan orang lain. Maka koneksi dan chemistry yang terbangun dari Frank dan Amy, juga dari koneksi mereka dengan pasangan yang lain membuat gw serasa diulang tahunin. Black Mirror paling jago bikin adegan-adegan yang futuristik sekaligus natural, lucu atau nakutin tapi drama.
Dan bukan Black Mirror kalo akhirnya selalu plot twist. Adegan terakhir, tatapan mata itu, setting bar dan soundtrack dengan lirik “Hang the DJ, hang the DJ, hang the DJ…” #tebaklagu adalah salah satu scene favorit gw dari sejarah pertelevisian dunia.

 

ladybird

Sumber: https://a24films.com/films/lady-bird

Lady Bird
Malemnya pergilah kita ke Alamo Drafthouse untuk nonton Ladybird. Udah pingin nonton dari lama sih, apalagi ada nama Greta Gerwig di balik layar. Film favorit gw taun 2012 adalah Frances Ha, dimana Gerwin jadi aktor utama sekaligus co-writer naskahnya. Frances Ha sukses membuat gw cirambay dan langsung sms sahabat gw: I want you to know that I luv you.
Anyway, Lady Bird bercerita soal gadis remaja di Sacramento (setengah biografi Greta Gerwig), dengan segala seluk beluk pertumbuhan, dinamika keluarga, sekolah dan kisah cinta. Lady Bird sendiri cukup vokal dan percaya diri untuk aktif di berbagai kegiatan sekolah dan ngajak ngobrol cowok yang dia suka. Dia cukup dekat dengan ayahnya, tapi sering berantem sama ibunya (yekan gw bisa relate banget ini). Plotnya cukup simple, tapi konfliknya banyak, didukung sama akting brilyan dari Saoirse dan Laurie Metcalf. Ada kesukaan gw juga, Lucas Hedges, walaupun perannya kecil, tapi adegan pas dia meluk Lady Bird, ambyaarrrlaaah air mataku.
Greta Gerwig juara ya, naskah Lady Bird ciamik, penuh dengan dialog-dialog lucu, on point tapi juga bikin banjir gw air mata. Segala aspek dramanya kena banget.
Di tengah film gw berenti sejenak ngunyah kentang goreng demi bisik-bisik ke Jesse “I looovee this movie so much.” Sampai detik terakhirnya pun, gw menikmati banget film ini, bagaikan Boyhood versi ceweknya.

Kebeneran nih, hari ini udah keluarlah daftar nominasi Oscar 2018. Hore ada Lady Bird di beberapa nominasi. Tentunya gw dukung Lady Bird jadi presiden!! Haha.. Tapi dari tahun ke tahun, tema film Lady Bird terlalu dangkal untuk menang The Best Picture. Gw rasa bakalan kayak Boyhood di tahun 2014, dinikmati banyak orang tapi akhirnya dikalahkan Birdman. Eh, mungkin juga kan Lady Bird menang, Birdman : Lady Bird, get it?

Buku 2017

readingchallenge2017_2Tibalah pada saatnya menutup tahun sambil bersulang karena.. Sukses memenuhi reading challenge, sodara-sodara!

Tahun 2017 gw mencanangkan baca 36 buku, yang berarti 3 buku per bulan. Peningkatan yang cukup signifikan dari tahun lalu, 24 buku. Walopun tahun itu gw baca 35 buku sih, jadi sebenernya gw udah tau stamina baca gw. Tinggal menjalankan aja. Tsah.
Tahun ini ga terlalu banyak baca non-fiksi dan buku desain, tapi banyak buku cerita yang sangat gw nikmati selalu. Gw jatuh cinta pada Ann Patchett dan Junot Diaz, dan mulai menyicil buku2 mereka sedikit demi sedikit.

thehateugiveFavorite fiksi: The Hate U Give – Angie Thomas
Gw mulai mengurangi bacaan fiksi remaja tahun ini karena empet sama All the Bright Places. Tapi gimana lagi, YA fiction tetap paling gampang gw cerna dan nikmati. Gw ga punya harapan banyak waktu baca The Hate U Give, tapi Angie Thomas menulis dengan ringan, cerdas dan seimbang. Topik black lives matter berat loh, tapi kacamata Starr begitu organik saat menceritakan semuanya. Ditambah settingan ghetto, jadi minoritas di sekolah, interracial relationship, keluarga yang hangat, dll. Buku ini ringan tapi kena. Dan membuat salah satu resolusi 2018 gw: mendengarkan lebih banyak musik rap.

 

44735Favorite non-fiksi: The Elements of Typographic Style
Kalo yang ini udah ga usah ditanya ya. Wajib hukumnya buat grafik desainer dan para pemerhati tipografi lainnya.

 

 

 

21979832Favorite karakter: Kash – The Girl from Everywhere
The Girl from Everywhere bercerita soal kapal bajak laut sekaligus mesin waktu yang menjelajahi ruang dan waktu mengikuti peta dari masa ke masa. Campuran fantasi, petualangan dan ada sejarah berikut romansanya juga. Salah satu awak kapalnya adalah Kashmir, keturunan timur tengah, pencuri, pintar dan baik hati. Di bayangan gw Kash ini jangkung dengan badan berotot tapi kurus, kulit gelap dan terampil akrobat. Rambutnya sedikit berombak, gondrong setengkuk dan tatapannya membius. Glekk. Berbagai adegan duduk di geladak kapal sambil ngobrol dan diskusi dengan Kash, memandang lautan, demn lemah banget gw sama yang type begini.

113333Favorite setting: Bel Canto – Ann Patchett
Setting Bel Canto sebenernya cukup serem, pesta ulang tahun petinggi-petinggi negara di negara Amerika Selatan yang kemudian disandera teroris. Tapi cara Ann Patchett bercerita begitu cantik dan membuat hubungan yang terjalin di antara tokoh-tokohnya begitu kuat dan menarik. Gw kok malah pingin ikutan disandera ya.

 

Favorite line:

Ifemelu wanted to lie, to say that she cooked and loved cooking, but she remembered Aunty Uju’s words. “No, ma,” she said. “I don’t like cooking. I can eat Indomie noodles day and night.”

Americanah – Chimamanda Ngozi Adichie

Sampe ketemu di reading challenge selanjutnya. Semoga tahun ini semakin banyak buku-buku seru jadi bagian hidup kita. Gw akan lebih rajin posting dengan tagar #joyread dan sudah menginisiasi klab baca. Yay, can’t wait!

How was your 2017 in reading?