Buku 2018

Tibalah saatnya kita bersulang karena seperti biasa target membaca tercapai dengan tiga buku ekstra! Yes, gw tergolong high-achiever jadi biasanya rada persistent, keukeuh dan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Termasuk curi-curi baca komik dan buku tipis demi baca 42 buku – atau lebih. Haha… *disayat pemirsa*

Rada sebel juga sih, karena ujung-ujungnya banyak baca buku sampah haha.. Taun ini kerasa banget banyak baca buku tapi kualitasnya menurun. Bahkan buku paling tebal yang gw baca adalah Aroma Karsa, yang isinya literary adalah bau sampah :D Tapi biarpun begitu, membaca adalah membaca, tetap kegiatan positif karena selama membaca kita tidak nyinyirin tetangga atau berkegiatan unfaedah lainnya.

Demi banyak baca buku, gw mulai banyak baca buku thriller dan mystery. Seru sih, dalam tiga hari langsung tamat karena penasaran beut siapa ini pembunuhnyaaa… Buku model begini kadang lewat begitu aja tanpa berbekas, tapi ada juga yang menurut gw keren dan membekas berhari-hari. Genre mirip yang mulai gw jajal taun ini adalah true crime. Columbine dan I’ll Be Gone in the Dark adalah dua buku genre ini. Seru seru seru, karena ga hanya penasaran tapi juga membedah berbagai kasus yang terlibat, termasuk komunitas, settingan TKP, dll. Taun depan mau baca lagi ah. Helter Skelter mungkin?

Fiksi remaja tetap jadi santapan sehari-hari di tahun 2019. Kalo lagi capek baca buku berat, kalo otak lagi susah diajak konsentrasi, mari baca fiksi remaja. Sayangnya tahun ini ga ada fiksi remaja yang begitu berarti, ga kayak tahun lalu The Hate U Give yang sangat berbekas dan menang banyak di berbagai ajang penghargaan. Bahkan Leah on the Offbeat yang menang di kategori ini menurut pembaca Goodreads pun menurut gw gitu-gitu aja selain tokoh Leah yang badass. Tapi eh tapi, gw baca The House on Mango Street dan jatuh cinta banget sama buku ini. Heran deh kok baru ya baca buku ini setelah sekian lama. The House on Mango Street itu klasik, gampang dicerna karena berupa cerita-cerita pendek, kira-kira 1-3 halaman tapi karakter dan settingnya maniiiiss… Gw mulai bosen sama fiksi remaja yang melulu soal anak sekolahan jatuh cinta yadda yadda yadda lalu ujung-ujungnya prom night. The House on Mango Street bercerita tentang sekeluarga kurang berada yang pindah ke jalan Mangga, penuh dengan karakter unik dan segala ceritanya.

Seperti biasa, gw banyak baca memoir, dan kalau boleh pilih juaranya, sekaligus buku favorit yang dibaca sepanjang 2018: Insomniac City dan Please Kill Me. Terus ga bisa milih mana yang lebih favorit dari dua ini, heuheu. Insomniac City beneran spesial karena Bill Hayes menulis dengan begitu puitis, membuat gw jatuh cinta lagi dan lagi pada New York dan orang-orangnya.

Please Kill Me ini lebih kepada kumpulan-kumpulan wawancara artis dan musisi yang konon cikal bakal pergerakan punk. Kelakuan David Bowie, Richard Hell, Iggy Pop, dll ini ya sodara-sodara… ck ck ck, membuat gw ingin naik mesin waktu dan nongkrong di CBGB pada masa itu.

Tahun ini kurang banyak baca non-fiksi dan buku-buku desain grafis. Ga tau suka ngerasa keder sendiri, takut ngantuk :D Ah banyaklah alasan ga baca non-fiksi.

Tahun 2019 pingin lebih banyak baca buku grafik desain dan design thinking. Reading challenge yang diikutin dari tahun ke tahun ya teuteup Rory Gilmore Reading Challenge. Walaupun pada akhirnya selalu gimana mood. Tapi apapun bukunya, kunci banyak membaca adalah menikmati apa yang kita baca. Tidak masalah tebal tipis maupun genre-nya.

Kamu, buku favoritmu apa di tahun 2018 dan pingin baca buku apa di tahun 2019?

Ulasan tata letak Aroma Karsa

3715DB66-356A-492D-8A40-A718AD2ED346Ceritanya neng ini berkunjung ke New York dan lalu dapatlah jatprem berupa buku Aroma Karsa. Sebenernya gw udah lama berenti baca buku Dee sih, karena merasa… hmm, banyak alasan yang tidak penting disebutkan alias sok misterius :D Nanti deh dijabarkan kalau udah tamat bukunya dan niat nulis ulasannya.

Selama akhir pekan kemarin mulailah digarap buku ini, udah sampe 200 halaman dong. Canggih ya? Tapi selama baca itu gw gateeelll banget pingin misuh-misuh pada tembok berdebu tentang tata letak buku ini yang menurut gw cukup slordeh untuk penerbit besar macam Bentang. Udah ditulis di Goodreads sih, tapi karena cukup panjang, jadi gapapalah dibagi disini. Jarang-jarang kan ada yang membahas lay-out buku #typographynerdalert

Demikian keluh kesah gw sepanjang membahas buku:

1) Ukuran font-nya kegedean, kayaknya masih bisa dikurangin 0.5 – 1pt dan masih bisa terbaca dengan enak deh..

2) Spasi antar paragrafnya kejauhan, pun udah ada indent di tiap awal paragraf. Semestinya spasi ini ga perlu untuk naskah panjang, apalagi untuk naskah yang obral dialog. Tiap teks jadi berjarak antar satu dan lainnya.

3) Ikon antar section break bagus sih idenya, tapi eksekusinya kurang oke. Ikon terlalu rumit untuk ukuran sekecil itu, jarak antara teks terakhir dan ikon dan teks berikutnya juga terlalu dekat jadi rasanya papuket kituuu… *excuse my French

4) Header “Aroma Karsa” di tiap halaman ganjil rasanya ga perlu deh. Ini buku tebal, novel, rasanya tiap pembaca juga ngeh kalo dia baca buku ini. Mungkin perlu buat versi dijital tapi bukan buat versi cetak. Kalopun penting banget pembaca diingatkan, ukuran font-nya ga usah sebesar itu.

5B1CBF15-6FA5-4BFD-933C-264BEB219696Pantesan ujung-ujungnya jadi 700-an halaman. Kalau urusan lay-out dilakuin dengan benar (dan tentunya juga penuturan cerita yang bisa banget dipangkas terutama bagian awalnya kelama-lamaan), kayaknya 400 halaman juga cukup. Apakah memang tujuannya agar pembaca merasa pencapaian tinggi dengan membabat 700 halaman?

Oh iya, desain sampulnya juga agak gengges. Menurut gw, kekuatan sampul ini adalah di judulnya berupa tipografi yang dirancang apik penuh detil. Ini saja semestinya udah cukup kuat. Detil ilustrasi di latar ga usah sebesar itu, ga usah dengan warna yang nyaris sama menonjolnya dengan judul. Detil-detil dekoratif lainnya juga tersebar dengan letak yang kurang enak. Kadang terlalu dekat dengan judul, kadang malah menyisakan white space yang bukannya terlihat elegan malah terasa kosong. Hahaha… puas banget ini gw ngacapruk tentang desain :D :D :D

Nantikanlah review berikutnya kalau sudah tamat dan ga males nulis review panjang-panjang. Untuk sementara, bolehlah baca review setan alas dulu..

Buku akhir-akhir ini – Semester pertama 2018

bukusemester12018

Banyak baca buku di setengah tahun ini tapi yang paling berkesan adalah…

Columbine

Saat Goodreads mengumumkan bulan buku kriminal, sebagai oknum yang tersepona oleh In Cold Blood-nya Truman Capote, langsung kepikiran pingin baca buku kriminal yang keren. Dan tentu saja yang paling keren sampulnya adalah Columbine! Liat deh, white space sebanyak itu dengan judul font kecil dan dicetak putih pula. Bikin merinding. Eh, ini resensi buku apa desain sampul buku ya.. Columbine adalah kisah nyata, hasil riset jurnalis yang meliput penembakan di sekolah ini dari hari pertama sampai beberapa tahun kemudian. Ga ada rasa penasaran sih, karena dari pertama udah jelas kan pelaku penembakannya si dua anak nakal itu. Penulis mengupas segala aspek kasus ini. Dari latar belakang pelaku, keluarga korban, komunitase gereja sampai rekam jejak sheriff dan detektif yang bertugas menangani kasus ini. Brilyan. Gw jarang baca buku tentang kriminal jadi ga tau juga harus membandingkan buku ini dengan buku apa, tapi yang jelas gw sangat menikmati buku ini, walaupun cukup tebal dan ukuran teksnya cimit-cimit.

First They Killed My Father

Dari judulnya aja udah ketauan kan buku ini bakalan mencabik-cabik. Siap-siap tisu yang banyak. Awalnya gw merasa buku ini ah ya kitu weh, sebagaimana memoir kisah sedih lainnya. Tapi sampai hari ini gw masih ingat banyak detail dari buku ini dan cukup mendalam juga bagaimana Luong Un bercerita hingga gw beneran bisa empati dan ngebayangin situasi menjadi pengungsi. Sudut pandang anak 5 taun membuat buku ini mudah dicerna sekaligus ga ngebosenin buat siapapun.

Please Kill Me

Sebenarnya buku ini butuh satu post sendiri, karena sebegitu dalamnya pengaruh Please Kill Me dalam hidup gw dan Jesse. Tapi baiklah, gw kasih blurb-nya disini aja ya. Ini pertama kalinya gw baca oral history, yaitu naskah transkrip berbagai wawancara musisi yang dianggap perintis punk. Ada beberapa kontroversi sih, seperti geng DC ga diliput dan tentu saja UK vs US punk akan selalu menjadi debat bagaikan versi “mana yang lahir duluan, ayam atau telur?” Tapi banyak sekali cerita behind the punk scenes yang seru, lucu sekaligus sedih. Pokoknya campur-campurlah. Sintingnya Iggy Pop, kelakuan David Bowie deketin Bebe Buel sampe kisah cinta Sid and Nancy. Buku wajib buat siapapun yang tertarik akan rock n roll 70-an.

Wake Up to the Joy of You

Gw selalu berusaha menyelipkan bacaan spirituil, karena ya dikit-dikitlah kita belajar. Kalo ga gini, biasanya bablas lupa dan terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Aseek. Nah kebeneran Wake Up to the Joy of You ini ringan dan enak dibaca. Ada berbagai topik dan tiap babnya sekitar 5-7 halaman saja, jadi ga berkepanjangan dan bikin bosen. Buku ini juga disertai meditasi untuk tiap bab. Sangat direkomendasikan untuk merenung sejenak, melihat masalah dari perspektif baru dan mencari cara lain untuk berbahagia.

Call Me by Your Name

Full resensi + film + soundtrack disini

Kamu,baca buku apa yang seru akhir-akhir ini?

Call Me by Your Name

callmebyyourname

Sepuluh bintang di imdb dan lima bintang di Goodreads tidaklah cukup untuk menggambarkan betapa gw terobsesi dengan Call Me by Your Name.

Awalnya tertarik nonton filmnya akibat review oke dari berbagai media dan newsletter Alamo Drafthouse. Gw jadi punya ekspektasi tinggi. Pada dasarnya suka film-film drama model begini. Konflik yang terbangun pelan-pelan, jokes yang sekedarnya tapi kena, perkembangan karakter yang menarik, ditambah film ini ala-ala eropa banget. Udah gitu latarnya Italy tahun 1983, summer, omg gw langsung kangen hari-hari lambat ga ngapa-ngapain di kota kecil. Sukaaaa…

Gw sih ga ngerasa film ini norak sebagai gay porn ya, malah kisah cintanya manis banget. Banyak momen-momen menghangatkan hati seperti saat Elio dan Oliver sepedaan berdua, atau pas mereka nari-nari dengan lagu Love My Way, mengingatkan gw pada hari-hari di Avignon. Adegan bapaknya Elio ceramah singkat ke Elio juga kena banget. Sebelah gw sesenggukan maksimal.

Ditambah akting Timothée Chalamet ciamik banget. Kerasa gitu ni anak petakilan tapi pinter dan dalem. Tante sukaaa…

Tapi emang ujung-ujungnya rada datar sih. Konfliknya terlalu simpel. Bahkan pada saat Elio patah hati dan nangis di depan perapian, I feel nothing. Entahlah, mungkin pas adegan terakhir itu harus dielaborate lebih lanjut?

Karena suka banget adegan pas Elio dan Oliver nari-nari di lagu Love My Way, besoknya gw langsung dengerin soundtrack Call Me by Your Name. Huwaaa… Ini kok sealbum keren semua. Gw suka sekali lagu-lagu instrumental piano, terutama yang judulnya Une Barque sur l’Ocean. Ajaib ya lagu ini, bisa banget lewat nada-nada terasa hawa-hawa pantai, persis seperti hari-hari Elio dan Oliver di Crema. Saking seringnya bolak-balik dengerin album ini, Spotify sampe nawarin playlist Calming Piano :D

Ada dua genre musik lagi di album ini yaitu musik-musik 80-ies yang kental dengan irama keyboard dan dentuman drum machine, sperti Love My Way, dan satu lagi Sufjan Stefans. Yang terakhir musik indie tenang mengalir dengan vokal lirih Sufjans dan lirik yang jleb. Sufjan juga dapet nominasi Oscar untuk best original score. Kombinasi ketiganya membuat gw betah dengerin album ini berulang-ulang, mood-nya langsung berubah tiap dengerin album ini.

Media ketiga yang harus dijajal adalah baca bukunya dong. Inilah asal muasal Elio.

Buku karya André Aciman ini tipis aja, ga lebih dari 250 halaman, dan plotnya sesimpel naskah filmnya. Tapi, oh my God, elaborasi perasaan, keragu-raguan, bahagia dan sedihnya Elio bener-bener dijewantahkan panjang lebar dengan kalimat-kalimat yang manis. Seluruh buku diceritakan dari sudut pandang Elio, penuh dengan pikiran-pikirannya sebagaimana kita sehari-hari yang kadang kebanyakan analisa ;) Yang agak berbeda, tokoh Oliver di buku ga se-superstar aura Armie Hammer di film. Malahan di benak gw, Oliver di buku ini ramah manis, type cowok cakep tapi semua orang pingin dekat dan menghabiskan waktu dengannya. Di buku, Oliver masih muda, 24 tahun, sedangkan Elio umur 17 tahun. Ga nampak fedofil kan? Sah-sah aja untuk naksir-naksiran. Sedangkan di film Oliver nampak berusia 30-am dan Elio loloslah umur 15 tahun mahh…

Perbedaan lainnya yang menurut gw membuat bukunya jauh lebih keren dari filmnya adalah di buku ada adegan Elio dan Oliver main ke Rome lalu mereka book party, makan-makan dan bersenang-senang di Rome. Gw sukaaaa sekali sama bagian ini. Ada perasaan hangat saat kita jalan-jalan dengan nuansa romansa, lalu ketemu banyak orang dan dalam waktu singkat membaur dengan orang-orang baru itu. Udah gitu yaaa… Ada cerita bertahun-tahun kemudian saat Elio udah sangat dewasa dan Oliver beranak pinak, dan bagian ini makjleb banget. Gw rasa kalo difilmin pake lagu Sufjan Stefans gw bakalan cirambay.

Tapi emang film, buku dan musik Sufjans itu jatuhnya either you love it or hate it. Mungkin itu yang membuat filmnya diperdebatkan panjang. Saya mah, udahlah punya obsesi baru: Timothée Chalamet, summer di Italy dan musik-musik John Adams.

Gambar nyolong dari: https://thetempest.co, credit CMBYN.

Lady Bird dan Hang the DJ

Di hari pertama taun 2018, gw dimanjakan dengan nonton dua film (satu di bioskop, dan satu lagi di TV) yang membuat gw bahagia dan ga bisa menahan untuk ga ngetik ini. Emang tahun baru rencananya ga kemana-mana sih, dingin bujubuneng bikin pingin kembar siam sama heater. -6 sampe -12 derajat celcius saja sodara-sodaraaa… Jadi gw dan Jesse leyeh-leyeh aja dan Netflix-an dan nonton film seperti biasa. Tapi ga disangka, dua-duanya favorit banget.

 

black-mirror-hang-the-dj-image1-600x200

Sumber: http://collider.com/black-mirror-hang-the-dj-ending-explained/

Hang the DJ
29 Dec, Netflix meluncurkan Season ke-4 serial Black Mirror. Kita udah nyicil nonton dari hari Jumat sih, antara penasaran karena seru banget sama dieman-eman soalnya ga mau cepet selesai juga #dilema Nah pas taun baru sampailah kita pada episode Hang the DJ, semacam dystopian dating alias tinder di level selanjutnya. Karakter utamanya Frank dan Amy bikin gw senyum-senyum sendiri. Amy menurut gw cantik kebangetan dan gerak-geriknya pinter sekaligus menggemaskan. Frank cenderung awkward dan polos, tapi bukankah kita juga gampang jatuh cinta sama type yang tulus dan agak rapuh begini? Singkat cerita, dipasang-pasangkanlah para partisipan dating app ini. Sebagai pelaku dating jaman now (walopun gw ga sampe ngalamin era tinder) dan hopeless romantic tingkat akut, gw meleleh sekaligus bisa relate banget sama episode Hang the DJ ini. Menurut gw, perkencanan itu seru karena disinilah kita mencoba (kadang memaksa) diri kita untuk berhubungan (kadang intim) dengan orang lain. Maka koneksi dan chemistry yang terbangun dari Frank dan Amy, juga dari koneksi mereka dengan pasangan yang lain membuat gw serasa diulang tahunin. Black Mirror paling jago bikin adegan-adegan yang futuristik sekaligus natural, lucu atau nakutin tapi drama.
Dan bukan Black Mirror kalo akhirnya selalu plot twist. Adegan terakhir, tatapan mata itu, setting bar dan soundtrack dengan lirik “Hang the DJ, hang the DJ, hang the DJ…” #tebaklagu adalah salah satu scene favorit gw dari sejarah pertelevisian dunia.

 

ladybird

Sumber: https://a24films.com/films/lady-bird

Lady Bird
Malemnya pergilah kita ke Alamo Drafthouse untuk nonton Ladybird. Udah pingin nonton dari lama sih, apalagi ada nama Greta Gerwig di balik layar. Film favorit gw taun 2012 adalah Frances Ha, dimana Gerwin jadi aktor utama sekaligus co-writer naskahnya. Frances Ha sukses membuat gw cirambay dan langsung sms sahabat gw: I want you to know that I luv you.
Anyway, Lady Bird bercerita soal gadis remaja di Sacramento (setengah biografi Greta Gerwig), dengan segala seluk beluk pertumbuhan, dinamika keluarga, sekolah dan kisah cinta. Lady Bird sendiri cukup vokal dan percaya diri untuk aktif di berbagai kegiatan sekolah dan ngajak ngobrol cowok yang dia suka. Dia cukup dekat dengan ayahnya, tapi sering berantem sama ibunya (yekan gw bisa relate banget ini). Plotnya cukup simple, tapi konfliknya banyak, didukung sama akting brilyan dari Saoirse dan Laurie Metcalf. Ada kesukaan gw juga, Lucas Hedges, walaupun perannya kecil, tapi adegan pas dia meluk Lady Bird, ambyaarrrlaaah air mataku.
Greta Gerwig juara ya, naskah Lady Bird ciamik, penuh dengan dialog-dialog lucu, on point tapi juga bikin banjir gw air mata. Segala aspek dramanya kena banget.
Di tengah film gw berenti sejenak ngunyah kentang goreng demi bisik-bisik ke Jesse “I looovee this movie so much.” Sampai detik terakhirnya pun, gw menikmati banget film ini, bagaikan Boyhood versi ceweknya.

Kebeneran nih, hari ini udah keluarlah daftar nominasi Oscar 2018. Hore ada Lady Bird di beberapa nominasi. Tentunya gw dukung Lady Bird jadi presiden!! Haha.. Tapi dari tahun ke tahun, tema film Lady Bird terlalu dangkal untuk menang The Best Picture. Gw rasa bakalan kayak Boyhood di tahun 2014, dinikmati banyak orang tapi akhirnya dikalahkan Birdman. Eh, mungkin juga kan Lady Bird menang, Birdman : Lady Bird, get it?