Hal-hal yang tidak sempat kita bicarakan

Kita biasa bicara tentang banyak hal. Tentang teman-teman senasib sepenanggungan dan salam-salam yang terlontar di kala kita berjauhan. Kita bicara banyak tentang gosip perkantoran, bos besar, bos kecil, seolah kita tidak akan pernah jadi bos. Kita berbincang berhari-hari mengenai kamera besar, kamera kecil dan lensa-lensanya. Tentang para pemenang sayembara jurnalisme internasional, tentang tangan-tangan yang tak lelah menunggu di samping tombol bundar kamera hingga momen berdatangan. Kadang kita bicara tentang politik dan karena aku orang peta jadi ditambah geopolitik. Sebenarnya tidak masalah, apa saja kita bicarakan tapi seringnya berbagai ketololan yang membuat kita terbahak-bahak. Karena kita merasa pintar, dan orang pintar kan selera humornya bagus.

Kita biasa bicara macam-macam hingga larut malam. Kadang kita menyindir, yang satu ayam jago dan yang satu burung hantu. Tapi dua-duanya bercericit dan ngalor ngidul seolah tak habis-habisnya berita rumah tangga. Kadang kita bicara yang ringan-ringan seperti teh terenak di dunia, kadang kita bicara yang berat-berat seperti membahas penangkaran buaya. Kadang tak jelas kategorinya dan seringkali kita (aku tepatnya) hanya mencari-cari hal-hal lucu agar kita cengengesan.

Topik yang muncul berkali-kali adalah perjalanan. Seolah kaki-kaki kita, yang panjang pendeknya tidak sama, berlomba mengukur bumi dan menemani kita meramu cerita. Kita juga berbagi cerita orang lain yang sudah lebih dahulu menancapkan bendera. Lalu kita jadi berangan-angan, siapa tau cuti kita seirama lalu kita kesana bersama-sama.

Tapi ada hal-hal yang tidak kita bicarakan. Tentang kita.
Tentang pesan-pesan singkat saat kita berjauhan. Bagaimana pesan singkat itu tiba di pagi hari dan membuatku tersenyum saat menuju ke kantor. Kamu tahu saja aku suka Spongebob (hmm, apakah ini juga salah satu topik berat yang dibahas berlarut-larut?) Dan meskipun kita suka sekali berkhayal panjang-panjang akan liburan di masa mendatang demi sejenak melupakan penat meeting hari ini, kita tidak pernah membicarakan liburan kita yang lampau. Bagaimana liburan itu awalnya tanpa harapan, tapi kita spontan saja toh hanya ingin bersenang-senang. Kita tidak pernah bicara bagaimana hari libur yang hujan seharian itu kita habiskan saja dengan bercengkerama di kamar. Kita tidak pernah mempertanyakan apakah liburan itu kelamaan? Hmm, memang pertanyaan bodoh. Tidak ada liburan yang kelamaan.

Ada juga hal-hal yang luput dari pembicaraan atau sengaja disimpan dengan harapan tidak harus keluar saat kita kehabisan topik. Yaitu tentang pacar-pacar kita, yang dulu dan yang akan datang. Kita seperti kesusahan jika dihadapkan dengan pilihan ganda. Ada hal-hal abstrak yang aku tepiskan, aku tak mau kita berbicara dengan jeda. Karena kalau kita diam, aku jadi kepikiran. Maka aku kembali mencari-cari hal-hal sempilan untuk kembali ditertawakan.

Karena mungkin aku (dan kamu) akan terkejut jika kita berusaha mengenali perasaan-perasaan. Yang tumbuh tenggelam selayaknya perahu yang kita sewa agar kita bisa main-main bebas. Karena pabila ia kentara, aku takut harus ada yang bertanggung jawab. Harus ada pertemuan yang sulit direncanakan dan harus ada yang kehilangan kebebasan. Aku takut kita akan berhenti ngobrol, dan hanya ingat betapa awkward-nya malam (atau pagi) itu. Aku takut pesan-pesan singkat itu akan berhenti dan perjalanan kita hanya wacana. Kamu pun sepertinya tak berkeberatan dan ya sudahlah, toh kita sudah sebegini dekat dan selalu berbagi suvenir yang bukan gantungan kunci saat kita berkelana sendirian. Kita sepertinya pengasih, hanya enggan bicara soal hati.

Toh kita bisa bicara panjang lebar tentang konservasi dan penanggulangan bencana. Juga tentang mercu suar dan orang-orang yang berdedikasi menjaganya. Tentang laut dan gunung dan kota-kota di antaranya. Tentang musik jazz yang semakin dibahas semakin susah dimengerti. Tentang rencana-rencana yang kita jadwalkan saat kita bertemu muka. Sampai kita lelah dan tertidur berpelukan, sampai akhirnya kita berjauhan dan kehabisan pembicaraan.

Iklan