Vision Board

visionboard3
Entah bagaimana caranya vision board ini datang ke hidup gw. Semesta memang maunya begitu. Haha. Vision board adalah bidang dimana kita memvisualisasikan hal-hal yang kita inginkan kejadian di hidup kita. Biasanya dipasang di tempat yang kita lihat setiap harinya jadi keingetan dan kepikiran terus. Rata-rata vision board ini dipenuhi guntingan foto dan tulisan dari majalah, hingga kadadang siwer sama majalah dinding :D

Sebenernya waktu SMA gw punya vision board. Ga sengaja sih. Pasang coark board di dinding kamar dengan harapan gw bisa pasang to-do-list dan berbagai foto dan tulisan yang inspirational. Tentunya ada Kurt Cobain dan stiker Vandalism: Beautiful as a rock in a cops face. Board ini ga pernah diutik-utik, begitu aja bertahun-tahun sampai akhirnya berdebu dan tulisan “Yo Go Girl!” terpatri di hati. Jadi bisalah ini dibilang vision board pertama gw.

Selanjutnya ga pernah punya vision board lagi, hanyalah coark board yang terbengkalai dan dipenuhi hal-hal yang kadang penting, kadang sampah, ga jelas latar belakangnya tapi bisa bertahun-tahun bercokol disana. Mulai ngeh dengan vision board lagi waktu Hani nulis tentang itu. Hani emang orangnya wellness banget ya, vision board-nya manis, positif dan bikin pingin liburan.

Singkat cerita, Sara, temen gw yang sedang semangat-semangatnya dengan personal development dan kena banget sama sesi-sesi Tony Robbins, menggelar acara Vision Board Bash di Branded Saloon. Datanglah gw tanpa agenda apa-apa selain meramaikan, walopun sesungguhnya ngantuk banget sepulang kantor. Acara dimulai dengan meditasi bareng, yang adalah bentar banget 3 menit doang dan pikiran di kepala gw masih berseliweran. Tapi dengan niat baik mari kita mulailah bikin vision board dengan agenda pertama gunting-gunting majalah.

Gw ga ada niat apa-apa, seperti pingin mobil, pingin rumah, dst, jadi gw ambil majalah yang tersedia, dan gunting-gunting aja foto atau tulisan yang gw suka. Sepenuhnya mempercayakan semesta akan apa yang terjadi dengan vision board gw ini. Oh iya sebelumnya gw bawa print-an beberapa illustrasi favorit gw dan buku Things are What You Make of Them, karena gw pingin ada bagian dari buku ini. Yang pertama gw temuin adalah: Iggy Pop di belakang majalah Rolling Stones. Wow! Karena semenjak baca buku Please Kill Me dan nonton episode Parts Unknown dimana Bourdain ngobrol sama Iggy di Miami, gw terobsesi sama Iggy Pop. Such a spiritual badass!

Ada kali 3 atau 4 majalah yang gw jelajahi dan gw gunting-gunting. Karena gw orangnya sangat visual, gw dengan cepat menemukan gambar atau tulisan yang gw suka. Bahkan berlebihan sampe ga semuanya muat. Jadi ya dipilih-pilih. Apalagi ada dua grafik besar yang gw suka banget, yaitu Iggy Pop. Ga mungkin gw potong ilustrasinya doang, isi wawancaranya juga menarik banget. Dan satu tulisan Data That Leads dengan latar pie charts warna pink ngejreng. Setelah dipilih dan ditata, mulai dilem deh. Sama sekali ga ada white space karena hidup dan visi gw penuh dengan hal-hal besar seperti karir, kehidupan rock n roll ala Iggy dan pantai :D Di sisa bagian kosong gw tempel-tempel stiker dan washi tape.

visionboard2Kalo gw liat-liat sih, si vision board ini didominasi oleh aspirasi gw di dunia karir, yah gimana lagi, ini mah kayaknya udah dari dulu mendarah daging. Data that Leads ini memang vision gw pingin lebih gape di data visualisasi dan pas gw bilang “This could also be Dita that leads,” semua mengangguk-angguk setuju. Di sisi lain gw juga mengimbangi dengan liburan – harus ke pantai – dan hal-hal menyenangkan seperti denger musik dan tidur siang. Dan tentunya Iggy Pop adalah role model gw karena dia punk maksimal tapi juga kagak ada matinye :D Pas Sara mampir ke meja gw, dia juga suka banget sama board gw, “I want to live your life! Look at this dog!”

Sara sempat juga baca kartu tarot, ga banyak-banyak sih cuman satu doang. Dan jengreng… It is The Sun! Waahh… Sara ga ngebacain sih, dia malah nanya-nanya, menurut lo apalah ini artinya? Menurut gw, ini adalah… Power Player! Hahaha… Tapi dengan hadirnya the Sun gw merasa lebih positif memandang masa depan, everything is going to be amazing :)

Abis itu ada sesi saling presentasi vision board masing-masing. Ada yang cerita soal membuka chakra hati, ada yang cerita soal dituduh hippie sama suami, sementara gw cerita apalagi lah selain gw suka Iggy Pop :D

visionboard1.jpg
Anyway, back to vision board, seneng juga ya bikin vision board. Temen gw seneng event-nya sukses, dan gw senang menyempatkan menata mimpi dan visual-visual bagus. Vision board ini gw pajang di deket rak buku gw. Seneng juga bisa liat Donald Glover tiap pagi, haha.. Kalo lagi merasa mentok di berbagai lini kehidupan, gw suka memandangi quote-quote gw yang banyak tentang afirmasi positif. Dan tentunya, Iggy Pop the spiritual guru selalu mengingatkan, all in all, kita bisa tetap menjadi diri sendiri dan berbahagia dengan apa yang kita punya.

Iklan

Buku akhir-akhir ini – Semester pertama 2018

bukusemester12018
Banyak baca buku di setengah tahun ini tapi yang paling berkesan adalah…

Columbine
Saat Goodreads mengumumkan bulan buku kriminal, sebagai oknum yang tersepona oleh In Cold Blood-nya Truman Capote, langsung kepikiran pingin baca buku kriminal yang keren. Dan tentu saja yang paling keren sampulnya adalah Columbine! Liat deh, white space sebanyak itu dengan judul font kecil dan dicetak putih pula. Bikin merinding. Eh, ini resensi buku apa desain sampul buku ya.. Columbine adalah kisah nyata, hasil riset jurnalis yang meliput penembakan di sekolah ini dari hari pertama sampai beberapa tahun kemudian. Ga ada rasa penasaran sih, karena dari pertama udah jelas kan pelaku penembakannya si dua anak nakal itu. Penulis mengupas segala aspek kasus ini. Dari latar belakang pelaku, keluarga korban, komunitase gereja sampai rekam jejak sheriff dan detektif yang bertugas menangani kasus ini. Brilyan. Gw jarang baca buku tentang kriminal jadi ga tau juga harus membandingkan buku ini dengan buku apa, tapi yang jelas gw sangat menikmati buku ini, walaupun cukup tebal dan ukuran teksnya cimit-cimit.

First They Killed My Father
Dari judulnya aja udah ketauan kan buku ini bakalan mencabik-cabik. Siap-siap tisu yang banyak. Awalnya gw merasa buku ini ah ya kitu weh, sebagaimana memoir kisah sedih lainnya. Tapi sampai hari ini gw masih ingat banyak detail dari buku ini dan cukup mendalam juga bagaimana Luong Un bercerita hingga gw beneran bisa empati dan ngebayangin situasi menjadi pengungsi. Sudut pandang anak 5 taun membuat buku ini mudah dicerna sekaligus ga ngebosenin buat siapapun.

Please Kill Me
Sebenarnya buku ini butuh satu post sendiri, karena sebegitu dalamnya pengaruh Please Kill Me dalam hidup gw dan Jesse. Tapi baiklah, gw kasih blurb-nya disini aja ya. Ini pertama kalinya gw baca oral history, yaitu naskah transkrip berbagai wawancara musisi yang dianggap perintis punk. Ada beberapa kontroversi sih, seperti geng DC ga diliput dan tentu saja UK vs US punk akan selalu menjadi debat bagaikan versi “mana yang lahir duluan, ayam atau telur?” Tapi banyak sekali cerita behind the punk scenes yang seru, lucu sekaligus sedih. Pokoknya campur-campurlah. Sintingnya Iggy Pop, kelakuan David Bowie deketin Bebe Buel sampe kisah cinta Sid and Nancy. Buku wajib buat siapapun yang tertarik akan rock n roll 70-an.

Wake Up to the Joy of You
Gw selalu berusaha menyelipkan bacaan spirituil, karena ya dikit-dikitlah kita belajar. Kalo ga gini, biasanya bablas lupa dan terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Aseek. Nah kebeneran Wake Up to the Joy of You ini ringan dan enak dibaca. Ada berbagai topik dan tiap babnya sekitar 5-7 halaman saja, jadi ga berkepanjangan dan bikin bosen. Buku ini juga disertai meditasi untuk tiap bab. Sangat direkomendasikan untuk merenung sejenak, melihat masalah dari perspektif baru dan mencari cara lain untuk berbahagia.

Call Me by Your Name
Full resensi + film + soundtrack disini

Kamu,baca buku apa yang seru akhir-akhir ini?

Hal-hal yang tidak sempat kita bicarakan

Kita biasa bicara tentang banyak hal. Tentang teman-teman senasib sepenanggungan dan salam-salam yang terlontar di kala kita berjauhan. Kita bicara banyak tentang gosip perkantoran, bos besar, bos kecil, seolah kita tidak akan pernah jadi bos. Kita berbincang berhari-hari mengenai kamera besar, kamera kecil dan lensa-lensanya. Tentang para pemenang sayembara jurnalisme internasional, tentang tangan-tangan yang tak lelah menunggu di samping tombol bundar kamera hingga momen berdatangan. Kadang kita bicara tentang politik dan karena aku orang peta jadi ditambah geopolitik. Sebenarnya tidak masalah, apa saja kita bicarakan tapi seringnya berbagai ketololan yang membuat kita terbahak-bahak. Karena kita merasa pintar, dan orang pintar kan selera humornya bagus.

Kita biasa bicara macam-macam hingga larut malam. Kadang kita menyindir, yang satu ayam jago dan yang satu burung hantu. Tapi dua-duanya bercericit dan ngalor ngidul seolah tak habis-habisnya berita rumah tangga. Kadang kita bicara yang ringan-ringan seperti teh terenak di dunia, kadang kita bicara yang berat-berat seperti membahas penangkaran buaya. Kadang tak jelas kategorinya dan seringkali kita (aku tepatnya) hanya mencari-cari hal-hal lucu agar kita cengengesan.

Topik yang muncul berkali-kali adalah perjalanan. Seolah kaki-kaki kita, yang panjang pendeknya tidak sama, berlomba mengukur bumi dan menemani kita meramu cerita. Kita juga berbagi cerita orang lain yang sudah lebih dahulu menancapkan bendera. Lalu kita jadi berangan-angan, siapa tau cuti kita seirama lalu kita kesana bersama-sama.

Tapi ada hal-hal yang tidak kita bicarakan. Tentang kita.
Tentang pesan-pesan singkat saat kita berjauhan. Bagaimana pesan singkat itu tiba di pagi hari dan membuatku tersenyum saat menuju ke kantor. Kamu tahu saja aku suka Spongebob (hmm, apakah ini juga salah satu topik berat yang dibahas berlarut-larut?) Dan meskipun kita suka sekali berkhayal panjang-panjang akan liburan di masa mendatang demi sejenak melupakan penat meeting hari ini, kita tidak pernah membicarakan liburan kita yang lampau. Bagaimana liburan itu awalnya tanpa harapan, tapi kita spontan saja toh hanya ingin bersenang-senang. Kita tidak pernah bicara bagaimana hari libur yang hujan seharian itu kita habiskan saja dengan bercengkerama di kamar. Kita tidak pernah mempertanyakan apakah liburan itu kelamaan? Hmm, memang pertanyaan bodoh. Tidak ada liburan yang kelamaan.

Ada juga hal-hal yang luput dari pembicaraan atau sengaja disimpan dengan harapan tidak harus keluar saat kita kehabisan topik. Yaitu tentang pacar-pacar kita, yang dulu dan yang akan datang. Kita seperti kesusahan jika dihadapkan dengan pilihan ganda. Ada hal-hal abstrak yang aku tepiskan, aku tak mau kita berbicara dengan jeda. Karena kalau kita diam, aku jadi kepikiran. Maka aku kembali mencari-cari hal-hal sempilan untuk kembali ditertawakan.

Karena mungkin aku (dan kamu) akan terkejut jika kita berusaha mengenali perasaan-perasaan. Yang tumbuh tenggelam selayaknya perahu yang kita sewa agar kita bisa main-main bebas. Karena pabila ia kentara, aku takut harus ada yang bertanggung jawab. Harus ada pertemuan yang sulit direncanakan dan harus ada yang kehilangan kebebasan. Aku takut kita akan berhenti ngobrol, dan hanya ingat betapa awkward-nya malam (atau pagi) itu. Aku takut pesan-pesan singkat itu akan berhenti dan perjalanan kita hanya wacana. Kamu pun sepertinya tak berkeberatan dan ya sudahlah, toh kita sudah sebegini dekat dan selalu berbagi suvenir yang bukan gantungan kunci saat kita berkelana sendirian. Kita sepertinya pengasih, hanya enggan bicara soal hati.

Toh kita bisa bicara panjang lebar tentang konservasi dan penanggulangan bencana. Juga tentang mercu suar dan orang-orang yang berdedikasi menjaganya. Tentang laut dan gunung dan kota-kota di antaranya. Tentang musik jazz yang semakin dibahas semakin susah dimengerti. Tentang rencana-rencana yang kita jadwalkan saat kita bertemu muka. Sampai kita lelah dan tertidur berpelukan, sampai akhirnya kita berjauhan dan kehabisan pembicaraan.

Call Me by Your Name

callmebyyourname
Sepuluh bintang di imdb dan lima bintang di Goodreads tidaklah cukup untuk menggambarkan betapa gw terobsesi dengan Call Me by Your Name.
Awalnya tertarik nonton filmnya akibat review oke dari berbagai media dan newsletter Alamo Drafthouse. Gw jadi punya ekspektasi tinggi. Pada dasarnya suka film-film drama model begini. Konflik yang terbangun pelan-pelan, jokes yang sekedarnya tapi kena, perkembangan karakter yang menarik, ditambah film ini ala-ala eropa banget. Udah gitu latarnya Italy tahun 1983, summer, omg gw langsung kangen hari-hari lambat ga ngapa-ngapain di kota kecil. Sukaaaa…
Gw sih ga ngerasa film ini norak sebagai gay porn ya, malah kisah cintanya manis banget. Banyak momen-momen menghangatkan hati seperti saat Elio dan Oliver sepedaan berdua, atau pas mereka nari-nari dengan lagu Love My Way, mengingatkan gw pada hari-hari di Avignon. Adegan bapaknya Elio ceramah singkat ke Elio juga kena banget. Sebelah gw sesenggukan maksimal.
Ditambah akting Timothée Chalamet ciamik banget. Kerasa gitu ni anak petakilan tapi pinter dan dalem. Tante sukaaa…
Tapi emang ujung-ujungnya rada datar sih. Konfliknya terlalu simpel. Bahkan pada saat Elio patah hati dan nangis di depan perapian, I feel nothing. Entahlah, mungkin pas adegan terakhir itu harus dielaborate lebih lanjut?

Karena suka banget adegan pas Elio dan Oliver nari-nari di lagu Love My Way, besoknya gw langsung dengerin soundtrack Call Me by Your Name. Huwaaa… Ini kok sealbum keren semua. Gw suka sekali lagu-lagu instrumental piano, terutama yang judulnya Une Barque sur l’Ocean. Ajaib ya lagu ini, bisa banget lewat nada-nada terasa hawa-hawa pantai, persis seperti hari-hari Elio dan Oliver di Crema. Saking seringnya bolak-balik dengerin album ini, Spotify sampe nawarin playlist Calming Piano :D
Ada dua genre musik lagi di album ini yaitu musik-musik 80-ies yang kental dengan irama keyboard dan dentuman drum machine, sperti Love My Way, dan satu lagi Sufjan Stefans. Yang terakhir musik indie tenang mengalir dengan vokal lirih Sufjans dan lirik yang jleb. Sufjan juga dapet nominasi Oscar untuk best original score. Kombinasi ketiganya membuat gw betah dengerin album ini berulang-ulang, mood-nya langsung berubah tiap dengerin album ini.

Media ketiga yang harus dijajal adalah baca bukunya dong. Inilah asal muasal Elio.
Buku karya André Aciman ini tipis aja, ga lebih dari 250 halaman, dan plotnya sesimpel naskah filmnya. Tapi, oh my God, elaborasi perasaan, keragu-raguan, bahagia dan sedihnya Elio bener-bener dijewantahkan panjang lebar dengan kalimat-kalimat yang manis. Seluruh buku diceritakan dari sudut pandang Elio, penuh dengan pikiran-pikirannya sebagaimana kita sehari-hari yang kadang kebanyakan analisa ;) Yang agak berbeda, tokoh Oliver di buku ga se-superstar aura Armie Hammer di film. Malahan di benak gw, Oliver di buku ini ramah manis, type cowok cakep tapi semua orang pingin dekat dan menghabiskan waktu dengannya. Di buku, Oliver masih muda, 24 tahun, sedangkan Elio umur 17 tahun. Ga nampak fedofil kan? Sah-sah aja untuk naksir-naksiran. Sedangkan di film Oliver nampak berusia 30-am dan Elio loloslah umur 15 tahun mahh…
Perbedaan lainnya yang menurut gw membuat bukunya jauh lebih keren dari filmnya adalah di buku ada adegan Elio dan Oliver main ke Rome lalu mereka book party, makan-makan dan bersenang-senang di Rome. Gw sukaaaa sekali sama bagian ini. Ada perasaan hangat saat kita jalan-jalan dengan nuansa romansa, lalu ketemu banyak orang dan dalam waktu singkat membaur dengan orang-orang baru itu. Udah gitu yaaa… Ada cerita bertahun-tahun kemudian saat Elio udah sangat dewasa dan Oliver beranak pinak, dan bagian ini makjleb banget. Gw rasa kalo difilmin pake lagu Sufjan Stefans gw bakalan cirambay.

Tapi emang film, buku dan musik Sufjans itu jatuhnya either you love it or hate it. Mungkin itu yang membuat filmnya diperdebatkan panjang. Saya mah, udahlah punya obsesi baru: Timothée Chalamet, summer di Italy dan musik-musik John Adams.

Gambar nyolong dari: https://thetempest.co, credit CMBYN.

Klab baca kejar paket A

klabbacaSemenjak awal taun ini, kegiatan membaca gw jadi lebih bersemangat karena gw iseng bikin klabbaca yang ternyata sambutannya cukup positif.
Pertamanya sih tersinpirasi Aggy dengan book buddies-nya. Tapi pas kontak temen deket gw untuk jadi book buddies, dia malah ribet nanya ini itu, trus gw males nerangin. Baca aja blogpost-nya Aggy noh.
Nah, pas awal taun lagi rame-ramenya resolusi nih, ada dua temen gw yang resolusinya: pingin lebih banyak baca. Langsung gw samber di whatsapp, didaulat jadi klabbaca, sekaligus jadi pilot project klab baca. Syukurlah mereka semangat dan bukannya nge-block gw di WA grup, karena gw mayan rajin nanya ini itu soal kebiasaan membaca dan berbagi tips-tips kejar paket A.
Simpel aja sih, tiap bulan kita pilih satu buku untuk dibaca barengan dan di akhir bulan kita diskusi bareng. Serunya sih kalau bisa sambil ngopi dan nyemil-nyemil ya, tapi ada daya gw di New York, satu di Singapore dan satu lagi wira-wiri Solo-Bandung. Jadi diskusi kira-kira sejam atau dua jam lewat skype (yang lalu banyakan foto-foto :D) atau kalau banyak yang berhalangan ya lewat whatsapp chat. Gw pribadi lebih suka lewat skype sih, soalnya dalam sejam bisa membahas banyak, sedangkan lewat chatting biasanya dua jam. Lebih effisien aja gitu. Apalagi kan beda-beda timezone, jadi jam ngantuknya beda-beda.

Di kwartal pertama klab baca, cuman kita bertiga, jadi pilihan buku beneran personal. Gw pilih buku pertama (sebagai figur autoritatif ;) ), terus gantian tiap bulannya. Yah namanya juga percobaan ya. Tapi dalam tiga bulan itu aja kita bertiga jadi semangat banget namatin buku walopun bukunya bapuk banget dan semangat diskusi yang tentunya banyak haha-hihi.
Kwartal berikutnya, klab baca ini diperluas, masih barengan lingkar pertemanan yang sama, tapi nambah anggota 3 orang lagi. Mayan kan… Mungkin kalo diterapkan member get member bakalan lebih sukses tapi klab baca kan nirlaba yaa :D Sistem bacanya masih sama, baca satu buku yang diputuskan bersama melalui musyawarah mufakat atau pemilihan umum, terus dibahas tiap akhir bulan. Ragam buku yang dibaca emang jadi random banget sih, dari memoir, non-fiksi, sampe komik :D Tapi ya gapapalah, kita coba aja menjajal berbagai jenis bacaan. Kadang ada juga yang ga tamat. Ga masalah, buat gw sih yang penting membentuk kebiasaan konsisten membaca dan menikmati buku bacaan. Visi gw dengan klab baca ini bukan fokus pada bukunya sih, tapi lebih kepada komunitas dan membentuk kebiasaan membaca.

klabbaca2Sejauh ini sih gw hepi banget dengan klab baca ini. Simpel dan bikin motivasi membaca semakin kenceng. Kalopun grup ini pada akhirnya ga berminat lagi melanjutkan klab baca, gw akan bikin klab baca lagi. Abis seru aja. Membaca buku itu sebenernya kegiatan yang soliter, tapi dengan klab baca ini kita jadi bisa menikmati pengalaman membaca bersama-sama. Seperti misalnya misuh-misuh kalo bukunya ngebosenin pas baca They Both Will Die in the End atau nangis bareng pas baca buku yang mencabik-cabik perasaan kayak First They Killed my Father.

Sempet ngobrol-ngobrol lebih lanjut, apakah mau memperluas klab baca dengan ngundang-ngundangin temen di luar lingkar pertemanan ini? Hmm, pingin juga sih, tapi masih ragu karena gw masih merasa belum mumpuni memoderasi sekian banyak orang, apalagi yang belum terlalu kenal. Sejauh ini banyakan curcol :D Mungkin skill ini dilatih dulu, nanti kalo udah gape baru deh buka klabbaca untuk rakyat pada umumnya :)

Alasan lain adalah akses buku. Sebagai a proud member of Brooklyn Public Library, gw dengan gampang mengakses buku-buku, walaupun kadang harus nunggu agak lama. Mau beli buku juga tinggal klik dan bayar kredit, lalu dalam dua hari buku dateng deh dari amazon.com atau book depository. Ga selalu buku baru, gw seringnya beli buku bekas. Nah, akses buku ini yang kadang menjadi kendala buat member klabbaca lainnya. Solusinya sih gw berusaha nyariin buku dalam bentuk pdf gratisan dan kadang gw dan temen gw di Singapore berbagi akun perpus. Agak-agak illegal sih, tapi ya demi kemajuan bangsa dan negara, yekaann… Nah gw ga yakin opsi ini bakalan gw lakuin buat khalayak ramai. Tapi pada intinya gw ga mau member klabbaca kesulitan akses buku.

Meskipun klab baca gw saat ini masih eksklusif, tapi silahkan loh fotokopi atau modifikasi ide klab baca bersama geng masing-masing. Gampang dan seru banget, hanya butuh buku dan Whatsapp group. Daripada Whatsapp group jadi ladang hoax kaann… ;)