Bumble and Bumble, potong rambut gratis dan Hairstory

33338546540_668daf509a_o

Aneka produk Bumble and Bumble

Mulai dari winter tahun ini gw terdaftar di Bumble and Bumble Model project. Bumble and Bumble adalah hair products line yang memproduksi berbagai shampoo, conditioner, ratusan spray-sprayan, gel, cat rambut dan lain-lain. Apapun masalah rambut anda, Bumble and Bumble punya solusinya. Rambut kusam, kusut, tipis, keriting, dll, ada semua produknya. Gw udah sering liat di supermarket sih, tapi ga pernah beli, rada mahal uy. Pertama kali liat semua produknya dijembrengin di studio mereka, gw takjub. 

Bumble and Bumble juga punya salon dan university, dimana para ahli cukur rambut dan kapster belajar dan bereksperimen demi rambut umat manusia yang lebih sejahtera. Karena itulah ada model project, jadi para ahli cukur rambut bisa latihan langsung dengan rambut asli sementara para model dapet potong rambut gratis. Udah ketebak kan niat gw ikutan? Hihi..

Gw baru potong rambut di model project ini sekali. Jesse dua kali. Dan pengalamannya cukup mengesankan. Yaiyalah gratis potong rambut cuuyyy… Awalnya kita ngantri buat model assessment, dimana rambut kita ditelaah terus ada wawancara singkat tentang model rambut yang cocok. Ga bisa minta potong rambut macem-macem sesuka hati kita, cuman bisa milih salah satu model. Model rambutnya udah ada sekitar 5 pilihan buat cewek dan 3 pilihan buat cowok. Waktu pertama kali, gw pilih model Razor Bob, yaitu semacam rambut bob masa kini dengan banyak layer tapi ga pendek-pendek amat. Jadi emang pilihannya itu loh, bukannya ngikutin Dian Sastro. Abis itu milih janjian hari apa, isi form dsb. Semua janji ini di-follow-up lagi lewat e-mail, dst, dst.

33682201306_e34b26e4ed_o

Keceh bak Dian Sastro kaaannn

Hari H gw dateng kesana, ada sekitar 20 orang model dan 20 orang hairdresser. Gw ga ngerti metode pemilihannya apa, tau2 gw berpasangan dengan mbak2 asal Syracus yang lagi belajar model razor bob. Lalu mulai deh acara potong rambut. Cukup lama juga, sekitar 2 jam, karena namanya juga orang lagi belajar ya, para murid Bumble and Bumble ini kadang berenti buat dengerin instruksi. Atau kadang mereka ngumpul di satu model untuk ngeliatin prosesnya. Selesai cukur, rambut kita ditata sederhana menggunakan produk Bumble and Bumble. Gw keluar paling pertama. Mungkin karena mbak-mbaknya canggih, rambut gw sedikit dan salah satu kebelet pipis :)

33338543970_2925ff5b71_o

Hari berikutnya rambut tetap keren, ga lepek. Belum ganti baju juga :D

Hepi karena rambut gw jadi keren, gratis dan gw jadi tau untuk rambut tipis lepek gw ini ada surf texturizer yang bisa bikin rambut gw ngembang bagaikan selesai mantai. Gw ga nyoba produk lainnya karena udah cocok pas berjodoh dengan surf line.

Besoknya gw jadi penasaran dengan Bumble and Bumble dan mulai browsing sana-sini, dari mulai nontonin tutorial foam spray, menata rambut ala ratu laut selatan sampe ulasan Bumbe and Bumble dari berbagai majalah kecantikan. Sampailah pada halaman pendiri Bumble and Bumble, Michael Gordon, yang dalam perjalanan hidupnya sempat menyepi untuk jadi yogi, dan semenjak akhir tahun lalu punya hair line baruApa?! Ini Bumble and Bumble udah sukses begini terus dia bikin lagi Hairstory?

Baca-baca Hairstory gw beneran terkagum-kagum sama Michael Gordon. Selain dia juga om-om ganteng gitu ya. Tapi dari Bumble and Bumble yang sejembrengan sampe tinggal 4 produk hairstory: WOW. Dan sebagai minimalist wannabe, gw sangat setuju sama filosofinya. Kita sebenernya ga butuh banyak produk. Penuhnya rak meja rias gw adalah buah dari konsumerisme dan gw yang kurang mengerti diri sendiri. Ha!

hairstory

Kini pilihannya hanya 4 saja: shampoo, texturizer, hair spray, hair balm. Beres deh.

Of korrss gw langsung ngiler liat shampoo dan texturizer Hairstory. Kemasannya aja minimalis manis begitu. Tapi mayan mahal cin, $40 buat satu botol, bergidik pas bacanya. Dan gw ga pingin ketergantungan sama produk ini. Prinsip gw urusan kulit dan rambut ga berubah dari dulu: jadilah pecun mure, cari produk murah yang tersedia di supermarket terdekat. Tapi oh, ulasan Hairstory ini menjanjikan banget sih. Siapa juga yang ga mau rambut keren dan perawatan simpel, yekan?

Tapi akhirnya gw ga jadi beli. Belum. Gw masih skeptis, ini jangan-jangan cuman tren kecantikan berikutnya. Lagipula, rambut gw rontok banget pas Oktober kmaren, dan gw baru saja sukses memulihkan dengan ganti shampo, conditioner, dsb. Masih agak takut nyoba produk baru. Tapi liat nanti deh kalo shampo yang ini abis, mungkin gw lirik Hairstory. Oh iya, gw juga pada jamannya pernah nyoba gerakan no-poo dll, tapi ga cocok, jadi gw balik lagi ke rejim cuci rambut pada umumnya.

Eh gw nulis panjang begini bukan bermaksud promosi Bumble and Bumble atau Hairstory ya. Justru di titik ini gw kepikiran dengan berbagai rejim cuci rambut dan cuci muka yang panjang dan melelahkan. Lagi-lagi, tanyakanlah pada diri sendiri? Apakah perlu ya segala jenis conditioner itu? Kalo misalnya waktu shampoo-an berkurang 5 menit tiap hari, mayan kan bisa tidur lebih lama.

Day 15 – Pujian terbaik

disleksiaWhat’s the best compliment you’ve ever received?

Sebenernya gw lebih pingin mengkompilasi pujian cenderung ngerayu jaman-jaman masih aktif kencan dulu. Kayaknya seru ya. Memang sih masa-masa dating ini tidak terdokumentasikan untuk publik, padahal seru bok, ala ala Sex n the City gitu ;) Tapi sudahlah, sudah lewat masanya dan ga mau over-sharing juga ;)

Pujian terakhir yang ga akan gw lupa dan bikin gw jalan-jalan dengan senyum lebar datang dari suatu hari di kelas Advanced Graphic Design. Tugas dua minggu itu kita harus bikin kampanye yang berhubungan dengan penyakit atau keadilan sosial. UN banget lah. Setelah seminggu research , sketsa sana-sini, akhirnya gw memutuskan bikin kampanye untuk disleksia.
Adik gw didiagnosa disleksia sedari kecil, dan gw curiga disleksia ini turun temurun di keluarga. Gw juga mungkin, dengan kadar intensitas yang berbeda. Memang sih efek disleksia ini ga mematikan seperti polusi udara di China atau kanker payudara. Tapi banyak orang ga ngeh mereka menganut disleksia. Deteksi sejak dini membantu pengidap disleksia berfungsi lebih baik dengan menggunakan alat bantu seperti monitor atau font khusus untuk komputer.
Ya udin kita bikinlah poster sama konsep kampanye kecil-kecilan. Selesai presentasi, gurunya komentar “This is so powerful!”

Tersenyum sumringahlah gw. Seneng aja gitu.
Walaupun gw antusias banget sama segala yang berbau grafik desain, tapi terus terang gw masih meraba-raba belajar soal ini. Sebagai anak IPA dan berbakat di matematika daripada ilmu sosial, gw merasa megap-megap menjadi ahli di bidang ini. Ga ada nilai mutlak dalam merancang desain, ga kayak belajar geometri. Makanya pujian guru gw itu berarti banget buat gw.

Hore akhirnya selesai juga tantangan menulis 15 hari. Yang dikerjainnya molor-molor aja gitu. Haha. Ayo kita semua tumpengan!

Oshun

Nonton acara poetry reading di Brooklyn Music Academy wiken kemarin berbuah gw jatuh hati pada dua Oshun. Apanya Oshin? *krik krik*

Oshun adalah dua cewek manis asal DC yang sama-sama kuliah di NYU. Suatu hari musim dingin mereka nyanyi-nyanyi di studio tari dan memutuskan: bikin lagu yuk! Begitulah dahsyatnya alam menginspirasi Oshun.
Sejak itu mereka aktif nulis lagu, bikin komposisi, rekaman dan manggung. Membawa pesan pemberdayaan perempuan, self-respect, keberagaman budaya dan pesan-pesan spiritual lainnya. Sungguh relevan dengan kondisi jaman sekarang. We all need peace, love and gaul spirituality.
Nama Oshun diambil dari dewi sungai Afrika Barat yang melambangkan luxury and pleasure, sisi feminin, kecantikan dan cinta. Di Nigeria mengalir sungai bernama Osun, dan ada perayaan selama dua minggu merayakan dewi sungai ini. Menurut gw, Oshun ini lambang yang cantik dan sangat tepat menggambarkan musik Oshun.
Musiknya sendiri dikategorikan neo-soul. Buat gw yang playlist-nya didominasi indie rock dan musisi bule lainnya, mendengarkan Oshun membuat gw bertanya-tanya. Suka apanya ya? Hmm…
Suka karena selain pesan-pesan Oshun, musik campuran soul, R&B, rap, hip-hop, reggae dan sentuhan kekinian ala Oshun terasa menyegarkan. Ada pengaruh Lauryn Hill, Erykah Badu, Drake, dan musisi lainnya yang jarang gw dengerin sebelumnya :D

Sayangnya musik mereka ga ada di Spotify, tapi ada soundcloud-nya. Check out this video, and don’t your agree that Niambi and Thandiwee are just too cute?


Gw kepikiran bikin serial tulisan tentang musisi jaman sekarang demi menampikkan mitos: musik yang keren hanyalah musik masa pertumbuhan. Jadi musisi baru ga mudah, apalagi industri musik sudah sedemikian rupa sampahnya. Let’s branch out, let’s support our true musician artists.

Buku-buku kwartal pertama 2017

booksQ12017Sudah tamat 12 buku, yay! Walopun tipu-tipu dikit dengan dua buku puisi dan buku essay yang tipisnya mak. Tapi gapapalah, yang penting baca buku. Keep on reading, keep on literacing. Apa sih.

Seperti biasa buku yang membekas di hati adalah buku-buku klasik. Akhirnya gw baca juga Brave New World. Udah lama niat baca, tapi karena menurut sejarah gw susah banget namatin buku klasik, jadi maju mundur. Begitu niatin baca, dalam seminggu tamat aja gitu. I love this book, I love how it twisted what we think about normalcy. Membuat gw bertanya-tanya, apa sih kebahagiaan itu? Apakah ada di kehidupan yang stabil, selalu tertawa, Tuhan atau petualangan? Apakah masa depan kita mengacu pada hal-hal futuristik seperti Brave New World dan episode Black Mirror? Atau sebagai manusia, kita akan berpegang selalu pada prinsip-prinsip kemanusiaan? Lalu apakah prinsip kemanusiaan itu? Ditambah Aldous Huxley bercerita dengan renyah dan kadang-kadang lucu. Ga bosen bacanya.

Gw juga sangat menikmati buku The Warden’s Daughter dari Jerry Spinelli, waloun ujung-ujungnya kok Hollywood ending banget. Mungkin Om Jerry ga tega kali ya bikin open ending kayak Stargirl. Tapi tokoh Cammy-nya bikin jatuh sayang deh. Semacam gw jatuh sayang pada keponakan tomboy tapi punya emosional baggage yang pedih.

Bulan Maret gw tiba-tiba males baca buku. Ngokkk. Kok bisa begitu neng? Ga tau, tiba-tiba pingin goler-goler aja main game dan ga baca buku. Mungkin karena gw baca buku yang cukup berat, walopun tipis. Brave New World, Interpreter of Maladies, belum lagi buku fiksi Atheist Muslim dan Number and Nerves yang akhirnya gw drop karena butuh jiwa dan raga segar untuk mencerna. Karyawati kantoran ini tak mampu, lelah. Terus gw baca Stargirl lagi. Laaaf banget sama Stargirl.

Buku yang paling nyebelin adalah All the Bright Places. Blaaahhh, saat baca nyaris halaman 300 gw pingin banting buku itu dan memutuskan buang waktu baca buku ini. Biasanya gw suka YA walopun cemen dan cinta-cintaan. Tapi All the Bright Places ini menurut gw terlalu memaksakan diri untuk memasukkan unsur agak berat seperti depresi dan kesehatan mental. Tokoh cowoknya bikin gw muak, karena gw rasa dia me me me banget. Violet juga, I don’t see her as a broken girl, I see her as a regular stereotype pretty high-school chick. All in all, buku ini ga ada sepeteknya Eleanor and Park.

What about you? How’s your 2017 reading so far?

Day 14: Oh Captain, My Captain!

tumblr_mmuer81UnN1r6h2jqo1_r2_500

If you were allowed only to watch one movie for the rest of your life, what movie would it be and why?

Setelah menimbang-nimbang antara Boyhood dan Dead Poets Society… My lifetime Oscar goes to…
Dead Poets Society.

Because I need a good dose of Ethan Hawke, that’s why.
Padahal dua-duanya juga ada Ethan Hawke ya, Boyhood lebih banyak malah.

I enjoyed Boyhood a lot, but Dead Poets did something to me.

Pertama kali nonton Dead Poets Society itu waktu umur 12 tahun. Tante gw maksa banget ngajak gw nonton Dead Poets, katanya ini film bagus banget. Gw sih seneng-seneng aja diajak nonton. Walopun gw masih cukup piyik, ternyata ngerti juga loh. Sehingga gw selalu menuliskan film ini saat nulis buku kenangan, film favorit: Dead Poets Society. Makanan favorit: Texas Fried Chicken. << Dita kecil yang sangat kebarat-baratan.
Selain skrip dan penampilan aktor yang brilyan, gw sukaaaa banget setting dan hawa-hawa Dead Poets. Musim gugur, daun-daun berguguran dan semilir angin dingin. Bangunan kampus yang bersejarah dan dentang lonceng gereja. Walopun ga pernah disebutin dengan jelas lokasinya, kerasa banget atmosfir New England. Favorit gw adalah adegan waktu mereka latihan mendayung.

Dead Poets menginspirasi gw untuk kuliah di luar negeri. Cita-cita banget dari dulu, pake hoodie, bawa buku setumpuk lalu goler-goler belajar di taman kampus yang luas dan asri. Kenyataan: S2 di luar negri, tapi kampus gw tamannya cuman sepetek :P
Akting brilyan Robin Williams sebagai Mr. Keating menjadikan tokoh itu menjelma sebagai mentor buat gw. Gayanya yang nyentrik sekaligus sayangnya pada anak didiknya membuat gw ga putus harapan akan dunia pendidikan.
It is not a feel good movie, I know. But I watched it more than five times, and it gets me everytime.

Carpe fuckin’ diem.

deadpoets

Gambar dari Pinterest berbagai pihak.