Lisa Loeb di Highline Ballroom: kembalinya generasi 90-an.

lisa4

Udah lama ga heboh cari-cari tiket konser artis idola. Sigur Ros, Cat Power dan Beach House dibiarkan lewat. Bukan berarti hidup ini sepi dari musik, karena apalah artinya kesepian dan kesunyian. Alaaahh…

Jadi setelah males cek-cek jadwal konser, tiba-tiba di siang hari bolong, ada imel masuk, these bands are in town: blablabla, LISA LOEB. Eh, mbak yang manis ini mampir di New York? Nanti malam kan saya cuma punya agenda cuci mencuci, bagaimaan kalau kita tunda lagi? Tiketnya masih tersedia. Cek Stubhub, salah satu website favorit buat berburu tiket, ada tiket Gold VIP dengan harga 20$ saja! Langsung klik, beli.

Setelah ngebut laundry, memang ga berniat nonton opening act, bergegaslah menuju Highline Ballroom. Band pembukanya Satellite, bukan selera saya alias cowok-cowoknya kurang kurus, uhuk. Tapi kaos mereka bagus deh.

Karena VIP, saya dapet tempat duduk pas banged di depan panggung. Diuji coba duduk sejenak, kok rasanya aneh ya nonton konser sambil duduk. Pelayan menyodorkan daftar menu, cuma ada wine dan champagne buat penonton kelas VIP. Dan ini pasti cuman keliatan Lisa-nya doang ga keliatan anak band lainnya. Akhirnya ga sampe 10 menit saya beringsut ke tepi panggung, bergabung dengan penggemar Lisa tanpa gelar VIP.

Terasa sekali, ini yang hadir di Highline Ballroom sudah lumayan berumur. Mungkin karena venue-nya, tapi yang pasti mereka nampak antusias menunggu Lisa. Secara gender pun cukup seimbang. Tanpa sengaja, saya memperhatikan audiens, ada yg berkacamata kucing ga ya? Ternyata ga ada.

Lalu tampillah mbak Lisa dengan kostum hitam-hitam dan gitar akustik. Dia menyapa akrab dan cerita-cerita tentang pengalamannya di New York hari ini. Jalan-jalan ke Chelsea market katanya. Sudah saya duga sebelumnya, seperti lagu-lagunya yang mengalir akrab, Lisa begitu hangat mengajak ngobrol penonton.

Lisa cerita jalan-jalannya di New York

Lisa cerita jalan-jalannya di New York

Lagu pertama Truthfully, yang dia ceritakan sebagai lagu cinta bernada positif. Jarang kan ada lagu cinta positif? Penonton pun tersenyum mahfum. Selanjutnya lagu baru dan lama didendangkan. Saya cukup takjub pada diri sendiri, karena walopun tanpa ritual menghapal teks, saya cukup hapal lirik lagu-lagu lama Lisa. Begitu akrabnya telinga ini pada I Do, Do you Sleep, Falling in Love dan Waiting for Wednesday. Mbak-mbak berbaju polkadot di sebelah saya joged-joged heboh sambil ga berenti nyanyi2. Pun para penonton, walopun ga semua joged-joged, saya melihat bibir mereka bergerak mengikuti lagu. Errr, latihan lip sync?

Lisa Loeb manis sekali, semua-muanya terasa akrab

Lisa Loeb manis sekali, semua-muanya terasa akrab

Di tengah pertunjukkan, Lisa bilang kalau diwawancara dia paling sering diminta memainkan lagu berikut. Dan dia mengakui kalau dia emang suka memainkannya. Lalu dipetiknya gitar intro soundtrack Reality Bites. Auwh, hati ini seperti dicubit rasanya. Senang sekaligus, eh belum siap nih. Saya spontan merekamnya dengan kamera, yang mana mengurangi kehikmatan. Pas banged di tengah lagu kehabisan tempat di kartu memori. Baiklah, mari kita nikmati saja ya…

Sehabis itu mulailah lagu-lagu dari album baru dimainkan. Pastinya memainkan lagu baru itu rasanya deg-degan ya. Penonton kan belum denger, mana ada yg ikut nyanyi. Tapi cerdiknya Lisa, dia mengajak penonton ikut ber “oooo oooo oooo” pada refrain. Judul lagunya The 90’s

Jadi begini:
Penonton: “Oooo oooo oooo..”
Lisa: “Those were the nineties..
Penonton: “Oooo oooo oooo…”
Lisa: “Time flies so fast.
Penonton: “Oooo oooo oooo…”
Lisa: “You say you love me then. But I don’t wanna go back..
Dan penonton pun ga boleh nyanyi lagi sampai refrain berikutnya.

Saya sebagai anak 90an aseli, senyum-senyum sendiri. Bukan hanya sepanjang lagu, tapi juga sepanjang konser. How we miss the 90ies music, don’t we? Inget jaman2nya nonton MTV tiap hari, baca majalah Hai, denger radio Oz, dan bernyanyi-nyanyi lagu alternatif. Mungkin karena sedang masa pertumbuhan, maka waktu tahun 90an saya banyak dengerin musik dan nonton TV. Errr, kegiatan yg kurang oke ya sebenarnya. Kurang aktivitas motorik kasar dan halus. Alah.

Tapi belakangan ini juga, saya dan sesama teman sepertumbuhan sering ngomongin, kangen ya nonton MTV terus jerit-jerit lagu Oasis? Saya bahkan berpostulat, bahwa setelah tahun 2000, major label itu isinya sampah industri rekaman semua. MTV lalu didominasi Ricky Martin dan Jennifer Lopez. Para musisi idola terjerat narkoba lalu kurang produktif bermusik. Yang terakhir ini hanya tambahan aja sih biar menarik.

Bila kau generasi 90-an tepuk tangan *prok prok*

Bila kau generasi 90-an tepuk tangan *prok prok*

Balik lagi ke konser mbak Lisa, konser ditutup dengan lagu  I Do dan dua lagu lainnya yang saya kurang familiar. Barusan cek setlist.fm ga ada dong. Haha, batal liat contekan ini sih namanya. Eh terus menemukan fakta lebih menarik, bahwa konser di NY ini adalah konser kedua setelah dia vakum gelar konser selama 5 tahun. Konser terakhir dia adalah tahun 2008. Wiiihh, lama juga ya puasanya. Apa ga kangen fans? Hihi, fansnya kali yg kangen :P

Sebelum pulang saya yang biasanya malu2 ketemu artis, akhirnya memberanikan diri mengantri minta tanda tangan. Saya sempet goyah pertahanan, alih-alih beli cd Lisa Loeb yang baru malah pingin beli kaos band opening act-nya yang bermotif garis-garis. Tapi kan ga bisa minta tanda tangan Lisa di atas kaos baen lain :P Akhirnya saya menyelinap di antara antrian dan minta Lisa tanda tangan di halaman lirik Stay. Pantesan antrian panjang ga abis-abis, Lisa ramah sekali sih, semua orang diajak ngobrol. Pun ketika ketemu saya, komentar dia “Oh my God, your glasses are so cute.”

Ini pecah namanya. Kacamata gue dipuji Lisa Loeb!!!

Kayak kakak adik kan?

Kayak kakak adik kan?

Iklan

Day 11: a song from your favorite band

Sebenarnya ini agak double dengan memesong Day 19 (nantikanlah!), tapi biar ga pusing, biarkanlah saya menghadirkan lagu ini disini ya: a song from my favorite band and from my favorite album.

Cherub Rock – Smashing Pumpkins

Freak out, and give in
Doesn’t matter what you believe in
Stay cool, and be somebody’s fool this year
’cause they know, who is righteous, what is bold
So I’m told

Who wants honey, as long as there’s some money
Who wants that honey?

Hipsters unite, come align for the big fight to rock for you
But beware, all those angels with their wings glued on
’cause deep down, we are frightened and we’re scared
If you don’t stare

Who wants honey, as long as there’s some money
Who wants that honey?

Let me out 4x

Tell me all of your secrets, cannot help but believe this is true
Tell me all of your secrets, I know, I know, I know
Should have listened when I was told

Pertama ngeceng Smesing waktu mereka membesut double album Meloncollie and the Infinite Sadness. Lagu 1979 dengan video klip orang-orang party itu loh, kena banget. Tapi hati saya dimenangkan seluruhnya ketika iseng meminjam album Siamese Dream. Kasetnya diputar bolak-balik, tanpa henti, menemani saya belajar untuk ulangan matematika, kimia, fisika, dan banyak lagi.

Album Siamese Dream juga menjawab pertanyaan: ‘Name one record that you wanna be stranded with in an island.’ Yes, Siamese Dream. Sudah terbukti pada saat kerja praktek di NTT dulu, kan masih jamannya walkman tuh. Dan saya cuman bawa 3 album, yang mana salah satunya ya album ini. Kembali diputar-putar menemani saya menjelajahi site tambang emas itu. Dari kamar yg nun jauh disana, makan di mess hall, ngecengin cowok di lapangan basket, pinjem buku di perpustakaan dan aktivitas-aktivitas lainnya.
Tahun-tahun berikutnya lagu-lagu Siamese Dream selalu wajib ada di dalam MP3 Player. Satu lagu yang paling sering berkumandang adalah Cherub Rock. Walaupun ga ngerti lagu ini tentang apa, tapi ajaib deh, lagu ini selalu memberi kekuatan. Rasanya semangat gitu setelah dengerin lagu ini kenceng-kenceng. Waktu thesis lagu ini diulang-ulang sambil berkutat mengulik skrip model gempa dengan bahasa fortran.

Katanya sih, lirik lagu ini bercerita tentang sebelnya Billy Corgan terhadap industri rekaman. ‘Who wants honey? As long as there is money…’ Dia pun berteriak-teriak ‘Let me out, let me out…’ Yang mana suka sekali saya ikuti. Saya juga suka mendendangkan riff gitarnya itu. Ciamik punya memang, sehingga lagu ini masuk list Guitar World’s list of the 100 greatest guitar solos of all time, walopun hanya di urutan ke-97.

Kenapa Smashing Pumpkins dinobatkan sebagai ‘My favorite band’, hmm… Kenapa ya? Saya suka sama lagu-lagunya, dari mulai yang full distorsi gitar seperti Cherub Rock ini, sampai ke lagu lirihnya Luna dan In the Arms of Sleep. Terus terang saya lebih suka waktu jamannya James Iha masih bergabung. Image-nya itu loh, melankolis abis. Saya kira, Iha-lah yang menulis lagu-lagu sendu SP, tapi ternyata, Smashing Pumpkins memang Billy Corgan. Mau ga mau saya harus mengakui, Billy-lah yang memberi sentuhan mejik di lagu-lagu SP. Membuatnya melodius dengan lirik yang puitis. Seperti katanya di Cherub Rock:

‘Stay cool, and be somebody’s fool this year.’

Day 03: a song that makes you happy

Hore hore, ga sabar untuk nulis tentang meme yang satu ini.

Lagu yang membuat senang? Wah banyaaaakk… Tapi dari semuanya, pilihan saya jatuh pada lagu: Summertime – The Sundays. Yes, dari intro-nya saja sudah terasa betapa cerianya lagu ini, padahal baru gitar elektrik sama kecrekan doang. Melodinya gembira dan musiknya begitu sumringah, ditingkahi banyak distorsi gitar. Suara Harriet yang pada dasarnya memang manis membuat lagu ini tambah legit. Cocok didengerin di pagi hari, mood-lifter banget.

Lagu ini sempat membuat saya kecele di, memutuskan membeli album Static and Silence yg baru dirilis tahun 1997 itu dan siap joged-joged di kamar. Eh ternyata, hanya lagu pertama saja yang ritme-nya se-euphoria Summertime. Sisanya, lebih banyak lagu folks balladnya. Alih-alih jingkrak-jingkrak, saya malah mellow sendirian. Tapi tentunya tidak mengurangi kecintaan saya pada The Sundays dong.

Saya punya pikiran sendiri tentang lagu ini, terpicu dari foto di majalah Seventeen dimana di foto itu boys and girls pada piknik di taman, goler-goleran dengan baju berwarna-warni. Nampak sangat bahagia, ketawa-ketawa, tanpa masalah. Ah remaja.. :P

Yuk kita nikmati lagunya :)

Do some people wind up with the one that they adoreIn a heart-shaped hotel room it’s what a heart is for
The bubble floats so madly will it stay sky-high? Hello partner, kiss your name bye-bye
Ooh sometimes…
Romantic piscean seeks angel in disguise, Chinese-speaking girlfriend big brown eyes
Liverpudlian lady, sophisticated male, Hello partner, tell me love can’t fail
& it’s you and me in the summertime, We’ll be hand in hand down in the park
With a squeeze & a sigh & that twinkle in your eye, & all the sunshine banishes the dark
Do some people wind up with the one that they abhor
In a distant hell-hole room, the third world war
But all I see is films where colourless despair
Meant angry young men with immaculate hair
Ooh sometimes…
Get up a voice inside says there’s no time for looking down
Only a pound a word & you’re talking to the town
But how do you coin the phrase though that will set your soul apart
Just to touch a lonely heart
& it’s you & me in the summertime
We’ll be hand down in the park
With a squeeze & a sigh & that twinkle in your eye
& all the sunshine banishes the dark
& it’s you I need in the summertime
As I turn my white skin red
Two peas from the same pod yes we are
Or have I read too much fiction?
Is this how it happens?
How does it happen?
Is this how it happens?
Now, right now

Memang lagu Summertime ini intinya adalah cinta-cintaan pada musim panas. Saya pada dasarnya memang gadis tropis berbaju minimalis merasa cocok sekali dengan lagu ini. Bahkan jauh sebelum saya merasakan summer itu seperti apa, saya sudah berani bilang bahwa musim panaslah favorit saya di antara empat musim lainnya! Ga tau aja lo…

Akhirnya, pada tahun 2008 saya berkesempatan seperti apa itu rasanya musim panas di Belanda. Bayangan saya akan hawa-hawa liburan Belitung dipindahkan ke benua Eropa, ternyata salah. Saya kira akan setiap harinya terasa panas dan gerah sehingga orang-orang berlarian pake bikini *..errr, memang agak salah imajinasi gw ini* ternyata ga juga. Seringnya itu, hari Senin sampai Kamis pannaasss, giliran wiken eh malah hujan deras. Liburannya gagal maning. Dan walaupun saat summer ini udara cukup panas, tapi anginnya agak dingin, sehingga baju-baju summer yang sudah saya siapkan dari lama, gagal dipamerkan. Kembali dipadu-padankan dengan jaket tipis dan sepatu bot. Hehe. Dan tentunya yang merusak Summer sepenuhnya adalah keharusan menyiapkan proposal thesis sementara di luar matahari lagi cantik-cantiknya.

Eniwei, di antara hari-hari basah summer itu ada kok hari-hari panas menyenangkan seperti lirik lagu the Sunday. Hari-hari dimana saya kirim pesan ke Simo ‘Hey I can’t focus on my writing anymore, let’s jump into the pool!’ lalu kami akan terburu-buru ganti bikini lalu terjun ke kolam renang outdoor. Hari-hari dimana matahari pamer pas wiken, maka saya dkk akan piknik di pinggir danau, tertawa-tawa lalu nyebur lagi ke danau. Kami goler-goler di pinggir danau, di atas karpet piknik, persis seperti foto di majalah Seventeen itu. Tuh lihat fotonya, saya dan Simo centil-centilan di balik picnic blanket :P

Dan tentu saja, pada saatnya hari-hari summer begitu basah dimana hujan mengguyur kota Enschede dengan derasnya, saya menatap keluar jendela sambil bergumam “Hujannya kayak di Jakarta ya…” dan dibalas, “Ga, ini kayak di Bangkok.”