Album minggu 2015

recordstoreBerikut adalah 5 album yang didengerin terus menerus selama 2015:

Black Messiah – D’Angelo
Ini parah kecanduannya. Bayangin deh, sepanjang perjalanan Portland sampe New York, lebih dari 6 jam non-stop, kita cuman dengerin Black Messiah. Abis itu seminggu masih dengerin album ini juga. Terus, sekitar bulan Mei karena mau nonton konsernya, kembali diputer berkali-kali. Jesse beli platnya pas bulan November kmaren, lalu kita denger lagi ditambah ada liriknya, gw belagak nyanyi ala D’Angelo. Wae. Tapi yang ada keketawaan, seru :)
BlackMessiah171214Gw suka album ini karena merasa jumawa bisa keluar dari lingkaran setan stereotipe indie rock. Berasa penikmat musik segala rupa. Hihi. Tapi emang Black Messiah banyak groove-nya, sekaligus masih banyak melodi yang bisa dinyanyiin. Yeah right, emangnya ada efek built-in di tenggorokan? Terus, karena sifatnya yang groovy tadi – apa sih kakaaa – paling gampang nyetel album ini kalo lagi kumpul-kumpul. Enak jadi sontrek, latar belakang obrolan tapi juga enak buat dihayati. Beberapa track seperti Betray My Heart dan Back to the Future (II) juga asik buat joged-joged kecil.

hindsThe Very Best of Hinds So Far – Hinds 
Gw suka sekali sama Hinds. Suka, suka, suka pake banget. Awalnya dengerin Between Cans, terus suka. Terus iseng dengerin lagu lainnya, yang mana ga lebih dari 10 lagu, dan suka. Denger lagi untuk kesekian kalinya, masih suka. Ga bosen-bosen. Campuran garage rock, Ramones, sama centilnya band cewek udah paling pas buat telinga gw. Lirik yang ga jelas sama kelakuan personilnya yang banyak cekikikan, bikin pingin daftar jadi anggota band.
Judul album juga asal gitu ya, terus sampulnya juga kayak mendadak digambar pake pulpen. Kiyut maksimal. Dan yang membuat gw semangat dengan tahun baru 2016 adalah.. Hinds akan ngeluarin full album di bulan Januari! Yeah! Ga sabar rasanya. Lagian Hinds ini baru juga punya hits segelintir langsung tur dunia. Tapi gapapa sih, gw kan jadi sempet nonton ;)

beirut-no-no-no-album-stream-listenNo No No – Beirut
Album baru Beirut ini ga terlalu beda dengan album-album sebelumnya. Masih ala-ala Gulac Orkestar, kental dengan nuansa Balkan tapi lebih pop dan simpel. Mungkin memang gw udah cinta matik sama ramuan Condon, yaitu campuran folk Eropa timur dan musik hipster jaman sekarang. Walau album ini banyak dikritik karena katanya kurang matang dan Condon ga memaksimalkan aransemennya. No, No, No seperti kehilangan aksen dan dialek asik dari Postcard from Italy, beberapa lagu nampak botak.
Tapi kue cubit orisinil setengah matang kan enak juga ya, makanya gw doyan-doyan aja sama album ini. Malah gw suka karena dia lebih sederhana, ga terlalu banyak ukulele dan liriknya to the point. Kan ga semua lagu harus jingkrable ya, yang ini enak didengerin sambil beres-beres dokumen. Kalo album The Rip Tide cocok buat pengantar adzan maghrib, album baru ini cocoklah buat istirahat di sela-sela tadarus ba’da Isya.

soreLos Skut Leboys – Sore
Nah kalo ini sebenernya baru didengerin belakangan, jadi ga bisa disebut paling sering diputer. Tapi potensial diulang-ulang karena ada di Spotify, hehe.
Jujur aja, gw bukan fans berat Sore, entahlah Sore muncul kapan, kayaknya sih setelah jam 4 *kriuk*. Gw yang memang kurang nasionalis atau kebarat-baratan, jarang dengerin musik dalam negri. Kekurangan sumber kayaknya.
Syukurlah sekarang banyak musik Indonesia di Spotify dan dari segelintir itu, album Los Skut Leboys cukup membuat gw hepi. Mungkin karena ada Aji the Milo. Lah? Gw suka sekali lagu Map Biru, mungkin tersugesti “Map” dan “Biru”, dua hal yg notabene gw banget. Padahal map maksudnya bukan peta ya? Suka-suka gw interpretasi ajalah. Mungkin bassline-nya ya yang ala-ala funk 70an yang bikin gw masukin lagu ini di Maps playlist.
Ya tentu saja banyak pengaruh hengkangnya Mondo Gascaro, album ini jadi semacam proyek keroyokan. Mungkin karena itu jadi banyak warnanya, dan mungkin karena itu gw malah suka.

parisParis – Aeroplane remix
Ini bukan album sih, cuman satu lagu, tapi gw betah seharian cuman denger lagu ini doang. Paris ini juga track lama yang dirilis tahun 2011, tapi gapapa ya baru nyampe di playlist empat tahun kemudian.
Aslinya lagu Friendly Fires, lalu di-remix sama Aeroplane dengan vokalis Au Revoir Simone dan dub Sun and Ice-nya the Field. Begitulah kata wikipedia. Dih, gado-gado gitu ya, sebelah mana Friendly Fires-nya? Terbukti pas gw denger lagu lainnya, ga ah, biasa aja.
Tapi wasyukurilah lagu ini tercipta karena lagu dance ini cocok menemani bikin peta maupun jogging. Sebenernya gw kepincut sama kalimat pembukanya “One day we’re gonna move to Paris..” Syedap, romantis dan dreamy banget. Iramanya sendiri, jauh dari lagu-lagu identik Paris yang biasanya penuh akordion, ini kan lagu dance hey. Tapi entah sebelah mananya, ini pas banget buat didengerin di klab di Paris atau Lausanne atau Berlin. Mungkin karena ada irama dub monoton khas musik dance Eropa kali ya.
Alasan lain gw ga bisa lepas dari lagu ini, gw rasa 2015 adalah tahun yang berat buat kota Paris. Yah, bukannya Juba atau Istanbul ga dapet cobaan ya. Ini juga mungkin akibat santernya berita di media. Aksi teroris di kota Paris itu sebenernya korbannya hanya segelintir kalo dibandingin sama tragedi 9/11 atau krisis di Syria. Tapi gw membayangkan kota yang tadinya damai, asri dan jadi idaman tempat tinggal banyak orang, tiba-tiba berubah mencekam dengan ancaman bom dimana-mana. Duh gusti, udah dong, jangan nambah-nambahin tempat gurem di dunia ini. Asep Berlian aja semakin adem tuh. #iklanlayananmasyarakat

Jadi tahun 2015 adalah tahun yg baik untuk musik. Ya kan, para fens Kendrick Lamar? Penggemar Santigold juga hepi kan? Gw sendiri sebenernya ga membatasi diri dengerin lagu baru, karena sejujurnya ada album Rhye dan Quadron yang gw dengarkan tanpa henti di musim panas, terus jangan tanya 3 album the Sundays, kalo kaset pitanya udah ngegeleor kali. Tapi gw senang karena ga terjebak di masa lalu dan ga hanya dengerin lagu-lagu masa pertumbuhan. Gw juga senang khasanah musik gw cukup bercabang sana sini, terbukti album favorit di atas genre-nya campur-campur antara garage girly punk, funk, soul, dance dan irama padang pasir.
Prediksi musik 2016 akan lebih seru lagi, karena kabarnya Hinds, Banda Neira, the Shins dan David Bowie akan menelurkan album baru. Yeah 2016, bring it on!

Iklan

D’Angelo, wajah baru musik soul ini sungguhlah badass

Liat posternya aja langsung semangat

Liat posternya aja langsung semangat

Dari kapan itu mau nulis tentang D’angelo ga selesai-selesai aja. Maka, hari ini saya meluangkan 15 menit deh biar ga lupa dan ada sedikit kehidupan di blog ini.
Jadi akhirnya kita nonton D’angelo *memancing kesirikan massa*. Bersama Jesse, dan juga mengajak Colin, sebagai hadiah Father’s Day. Colin baru saja menjadi ayah dua bulan yang lalu dan sudah sepatutnya ayah baru diajak keluar nonton musik kesukaan, makan di restoran Thailand dan bersenang-senang di area rumahnya. Ga boyeh jauh-jauh dulu, kangenan sama anak ceritanya, aih.

D’angelo tampil di Forrest Hills Stadium, sempat mengernyitkan kening karena mayan ya bok dari Brooklyn. Tapi saya yang masih punya semangat mengarungi NY meyakinkan diri, dan tentu saja senang kalo bisa mengunjungi Colin. Sebelumnya kan belum pernah. Apalagi mau liat bayinya, dan ternyata Colin punya kucing imut namanya Nini. Nini agak haus perhatian, jadi alih-alih liatin bayi, saya malah main sama kucing.

Nini yang suka rebutan duduk di kursi bayi

Nini yang suka rebutan duduk di kursi bayi

Anyway, Forrest Hills Stadium sendiri venue yang pas buat konser. Ga terlalu besar, dan ga terlalu kecil. Penonton di kursi paling belakang pun masih bisa menikmati konser tanpa harus bergantung pada bantuan layar. Kabarnya the Beatles pernah main disini. Info ini tentu saja datangnya dari Colin dan Jesse, music geek. Sementara saya cuman terpesona sama latar belakang rumah ala German yang konon namanya tudor. Padahal di Tudor City ga ada yg beginian.

Dan konsernya D’angelo, luar biasa. Dari skala 1-10, kami langsung sepakat, perfect 10. Dibuka dengan Ain’t That Easy, D’Angelo dan the Vanguard pengiringnya terus menerus mengajak penonton fokus ke panggung. Semua tampil totalitas, menari-nari dan menyatu penuh ke setiap lagunya. Saya suka dua penyanyi latar cowok yang posisinya bukan di belakang, malahan sejajar D’angelo, cuman ke pinggir dikir. Mereka bernyanyi sungguh kiyut, dengan beberapa koreografi yang menggemaskan. Saya juga suka penyanyi latar ceweknya, yang sepanjang pertunjukkan menari-nari dengan lincah, lengkap dengan manuver balet walopun high heels boots-nya nampak kurang nyaman. Kabarnya dia juga ikutan ngarang sebagian besar lagu di Black Messiah.
Sosok menarik lainnya adalah Pino Palladino, basis yang jangkung kurus dan nampak anteng bermain di sebelah keyboard D’Angelo. Saya gampang trenyuh sama orang-orang yg berbakat tapi dengan rendah hati bermain sederhana dan membiarkan bintang panggung menjadi sorotan.

Tata panggung dan latar belakang minimalis

Tata panggung dan latar belakang minimalis

Jangan tanya D’angelo. Tampil penuh energi, bisep yang menggugah hati dan suaranya oh mak.. Saya selalu suudzon, suara D’Angelo begitu pasti karena efek aja. Tapi menyaksikannya tampil di depan mata, merinding sendiri. Berbagai lapisan dan tekstur vokal D’Angelo ini, dari yang mendesah seksi, gahar bagaikan trash metal sampai nada-nada falseto yang jadi soul musiknya. Dia sigap bertukar tempat dari ujung ke ujung panggung, hingga bolak-balik dari depan mik dan belakang keyboard. Dia ga terlalu banyak ngomong, padahal saya penasaran suara aslinya kayak apa. Tapi dia menyelipkan beberapa line di sela-sela nyanyi, jadinya kita tahu lah ini bukan lipsync. Oposeh.

Saya ngefans berat sama album Black Messiah, karena album ini sarat energi, meledak-ledak, sekaligus masih menyelipkan tune sexy seperti Really Love. Rasanya terlalu cetek kalau kita mengkategorikan musik D’angelo sebagai soul dan/atau RnB. Di Black Messiah, D’angelo naik kelas dan bermain-main juga di ranah rock, soul, progresive, funk sama apa ajalah, saya kurang paham. Selama vakum lebih dari 15 tahun D’Angelo anteng belajar gitar, kami sama-sama punya akun di Rocksmith. Bo’ong ding. Tapi ga bo’ong kalo D’angelo belajar gitar, karena di album barunya ini suara gitar mulai dominan, dari yang distorsi cukup tinggi seperti di The Charade, sampai gitar akustik di Really Love.

Waktu pertama kali dengerin Black Messiah di road trip Maine – New York, saya senyum-senyum sendiri ngebayangin konsernya. Pastinya megah dan jingkrable banget ini. Saat kmaren mimpi ini jadi kenyataan, nyatanya lebih dari itu. D’angelo dan the Vanguard bukan saja bermain sebagus di rekaman, tapi selalu penuh kejutan dan improvisasi hingga penonton ga pernah bosen. Saya sih pinginnya dia mainin semua lagu di album Black Messiah, kita kan udah hapal banget urutannya. Plus, saya suka album ini ga terlalu mendayu-dayu. Black Messiah dilaunching agak terburu-buru karena merespon tragedi Ferguson di penghujung 2014. Konser di Forrest Hills kmarin berlangsung ga lama setelah tragedi Charleston. D’angelo pun mengajak penonton rame-rame mengepalkan tangan di udara di lagu 10,000 Deaths. Pesan-pesan seperti inilah yang kayaknya kurang kental di album terdahulu, membuat Black Messiah jadi album yang sangat badass.

Semakin malam, semakin syahdu syalalalala

Semakin malam, semakin syahdu syalalalala

Menggandrungi musik D’angelo seolah jadi pembuktian bagi saya sendiri, bahwa ternyata saya bisa kok mendengarkan berbagai jenis musik. Ga melulu Brit pop atau indie rock. Karena pelajaran saya menikmati musik sebenarnya dimulai dari rajin mendengarkan radio Oz di awal 90-an. Waktu itu belum ada Oasis, tapi saya sudah akrab dengan New Edition, Janet Jackson dan Maxwell. Nuansa smooth and groovy ini lah yang terasa sekali di konser kmaren, terutama saat nomor-nomor lawas dimainkan, Brown Sugar dan Spanish Joint. Saya kok berasa lagi nonton JavaJazz, halah. Ya pokoknya campur-campur antara JavaJazz dan JRL deh.

Cuman 10 lagu malam itu, tapi setiap lagunya panjang dan nendang. Sama sekali ga terasa bahwa konsernya pendek. Pendek karena lagu favorit saya the Door ga dimainin sih :P Endingnya sama sekali ga disangka-sangka, How Does It Feel. Beberapa pasangan di sekitar saya merapatkan pelukan. Jesse tentunya makin dekat dengan Colin. Ngokk.. Tapi ya gimana dua musik geek nonton musik bareng, yang ada mereka orgasme sendiri-sendiri :P Oh iya, di lagu terakhir ini, refrain-nya dimainin terus-terusan lalu satu persatu personil the Vanguard unjuk gigi dan kemudian mundur diri. Pelukan sama D’angelo sekaligus dapet aplus meriah dari penonton. Mengharu biru sekali deh. Penonton jadi berkesempatan mengapresiasi tiap2 musisi, sampe pada akhirnya panggung hampir kosong dan tinggal D’angelo bersama Pino. Kami pun pulang dengan nuansa sendu sekaligus berbinar-binar karena sudah menyaksikan show paling keren sepanjang 2015.