Day 07: a song that reminds you of a certain event

kamar ini dan pemandangan ini, bikin ngilu di hati sekarang

kamar ini dan pemandangan ini, bikin ngilu di hati sekarang

Dari sekian banyak lagu yang berseliweran di kepala, akhir-akhir ini ga ada lagu yang memorinya sepekat Mrs. Cold – Kings of Convenience. *menarik napas panjang*

Lagu ini menjadi single pertama dari album Declaration of Dependance. Saya sudah jatuh cinta pada duo Norway ini jauh sebelumnya. Setelah lima tahun absen, September 2009 mereka kembali dengan album ketiga, sarat akan lagu-lagu yang menurut orang-orang ‘lebih dalem’. Saya setuju dong ah. Mari kita simak lirik Mrs. Cold yang katanya tentang ‘ice princess’ yang dulunya jaim tapi lama-lama doyan juga. Katanya sih karena dia istri orang. Hihi.

Ah, tapi buat saya Mrs. Cold selalu menendang saya kembali ke autumn 2009.

Mrs. Cold – Kings of Convenience

Hey baby, Mrs. Cold Acting so tough,
didn’t know you had it in you so be hurt at all
You waited too long You should’ve hook me,
before I put my raincoat on
Oh can I get it, Oh can I see
You were fronting because
You knew you’d find yourself vulnerable around me

Oh can I get it, Oh can I see
You feel vulnerable around me
Hey, baby what’s going on?
You lost control and you lost your tongue
You lost me, deaf in my ear
Nothing you can say is gonna change the way I feel

Oh can I get it, Oh can I see
You were fronting because
You knew you find yourself vulnerable around me

Oh can I get it, Oh can I see
I step too close to your boundaries
You wanted nobody around to see
You feel vulnerable around me

Hey baby
What is love?
It was just a game
We’re both playing and we can’t get enough of
We’re both playing and we can’t get enough of
We’re both playing and we can’t get enough of

Lagu ini menyentakkan ingatan akan bangun pagi. Kegiatan yang sedikit banyak saya benci itu. Termasuk bangun pagi di musim gugur. Suhu udara mulai turun lagi dan pagi datang makin lambat. Saya berulang kali berada dalam keadaan antara sadar dan tidak, medengarkan lagu ini membahana di kamar. Petikan gitarnya yang ciamik dan melodi yang jenaka selalu berhasil membuat saya mengulas senyum setengah tidur. Sapaan ‘Hey Babi!’ membuat ingin meneruskan ‘Mrs. Cold, acting so tough..’ tapi gusi masih rapet dan asem rasanya.

Kamar kecil berjendela besar biasanya itu sudah terang benderang dan saya bisa dengan jelas melihat birunya langit di awal musim gugur. Saya lalu menyesap lady grey tea sambil memandang daun-daun yang baru berniat menguning. Percakapan pagi hari yang berlangsung pelan dan beban thesis yg sedikit demi sedikit mulai memberat. Tapi hey, mari kita ketemu supervisor cintaku hari ini! Saya pun bergegas mandi.

Hari-hari yang dulu terasa biasa, tapi akhir-akhir ini dalem banget dikangeninnya.

*menarik napas lebih panjang*

All in all, dengarlah mereka berdua berdendang:

“What is love? It was just a game, we’re both playing and we can’t get enough of..”

Video klip aslinya ada disini

Iklan

Day 03: a song that makes you happy

Hore hore, ga sabar untuk nulis tentang meme yang satu ini.

Lagu yang membuat senang? Wah banyaaaakk… Tapi dari semuanya, pilihan saya jatuh pada lagu: Summertime – The Sundays. Yes, dari intro-nya saja sudah terasa betapa cerianya lagu ini, padahal baru gitar elektrik sama kecrekan doang. Melodinya gembira dan musiknya begitu sumringah, ditingkahi banyak distorsi gitar. Suara Harriet yang pada dasarnya memang manis membuat lagu ini tambah legit. Cocok didengerin di pagi hari, mood-lifter banget.

Lagu ini sempat membuat saya kecele di, memutuskan membeli album Static and Silence yg baru dirilis tahun 1997 itu dan siap joged-joged di kamar. Eh ternyata, hanya lagu pertama saja yang ritme-nya se-euphoria Summertime. Sisanya, lebih banyak lagu folks balladnya. Alih-alih jingkrak-jingkrak, saya malah mellow sendirian. Tapi tentunya tidak mengurangi kecintaan saya pada The Sundays dong.

Saya punya pikiran sendiri tentang lagu ini, terpicu dari foto di majalah Seventeen dimana di foto itu boys and girls pada piknik di taman, goler-goleran dengan baju berwarna-warni. Nampak sangat bahagia, ketawa-ketawa, tanpa masalah. Ah remaja.. :P

Yuk kita nikmati lagunya :)

Do some people wind up with the one that they adoreIn a heart-shaped hotel room it’s what a heart is for
The bubble floats so madly will it stay sky-high? Hello partner, kiss your name bye-bye
Ooh sometimes…
Romantic piscean seeks angel in disguise, Chinese-speaking girlfriend big brown eyes
Liverpudlian lady, sophisticated male, Hello partner, tell me love can’t fail
& it’s you and me in the summertime, We’ll be hand in hand down in the park
With a squeeze & a sigh & that twinkle in your eye, & all the sunshine banishes the dark
Do some people wind up with the one that they abhor
In a distant hell-hole room, the third world war
But all I see is films where colourless despair
Meant angry young men with immaculate hair
Ooh sometimes…
Get up a voice inside says there’s no time for looking down
Only a pound a word & you’re talking to the town
But how do you coin the phrase though that will set your soul apart
Just to touch a lonely heart
& it’s you & me in the summertime
We’ll be hand down in the park
With a squeeze & a sigh & that twinkle in your eye
& all the sunshine banishes the dark
& it’s you I need in the summertime
As I turn my white skin red
Two peas from the same pod yes we are
Or have I read too much fiction?
Is this how it happens?
How does it happen?
Is this how it happens?
Now, right now

Memang lagu Summertime ini intinya adalah cinta-cintaan pada musim panas. Saya pada dasarnya memang gadis tropis berbaju minimalis merasa cocok sekali dengan lagu ini. Bahkan jauh sebelum saya merasakan summer itu seperti apa, saya sudah berani bilang bahwa musim panaslah favorit saya di antara empat musim lainnya! Ga tau aja lo…

Akhirnya, pada tahun 2008 saya berkesempatan seperti apa itu rasanya musim panas di Belanda. Bayangan saya akan hawa-hawa liburan Belitung dipindahkan ke benua Eropa, ternyata salah. Saya kira akan setiap harinya terasa panas dan gerah sehingga orang-orang berlarian pake bikini *..errr, memang agak salah imajinasi gw ini* ternyata ga juga. Seringnya itu, hari Senin sampai Kamis pannaasss, giliran wiken eh malah hujan deras. Liburannya gagal maning. Dan walaupun saat summer ini udara cukup panas, tapi anginnya agak dingin, sehingga baju-baju summer yang sudah saya siapkan dari lama, gagal dipamerkan. Kembali dipadu-padankan dengan jaket tipis dan sepatu bot. Hehe. Dan tentunya yang merusak Summer sepenuhnya adalah keharusan menyiapkan proposal thesis sementara di luar matahari lagi cantik-cantiknya.

Eniwei, di antara hari-hari basah summer itu ada kok hari-hari panas menyenangkan seperti lirik lagu the Sunday. Hari-hari dimana saya kirim pesan ke Simo ‘Hey I can’t focus on my writing anymore, let’s jump into the pool!’ lalu kami akan terburu-buru ganti bikini lalu terjun ke kolam renang outdoor. Hari-hari dimana matahari pamer pas wiken, maka saya dkk akan piknik di pinggir danau, tertawa-tawa lalu nyebur lagi ke danau. Kami goler-goler di pinggir danau, di atas karpet piknik, persis seperti foto di majalah Seventeen itu. Tuh lihat fotonya, saya dan Simo centil-centilan di balik picnic blanket :P

Dan tentu saja, pada saatnya hari-hari summer begitu basah dimana hujan mengguyur kota Enschede dengan derasnya, saya menatap keluar jendela sambil bergumam “Hujannya kayak di Jakarta ya…” dan dibalas, “Ga, ini kayak di Bangkok.”

Bertemu muka dan menelusuri tempat baru

Catatan dari suatu malam di bulan February 2010, Enschede.

Baiklah, sebelum menulis hal-hal yang essensial, gw mo curhat dulu ya.

Ini terpicu oleh pembicaraan di kamar si abang tadi petang menjelang malam. Yang tadinya ngomongin susahnya kuliah disini sama udara minggu depan yang menurut ramalan cuaca akan minus lagi (yeah right, minus lagi sodara-sodara. Mau jadi apa negara ini kalo minus terus? Hihihii…), tiba-tiba pembicaraan berbelok arah ke kerjaan masing-masing di Indonesia. Karena setelah bersusah-susah kuliah disini, toh pada akhinya harus kembali ke kenyataan untuk kerja di Indonesia, yang belum tentu ga tambah susah :P Kok hidupnya berat amat ya, susah melulu. Nyanyi lagu Sometimes Life Isn’t Easy lagi ah. Hehe…
Loh distrek.

Baiklah, bicara soal kerjaan. Ada yg PNS, dosen dan saya pengangguran. Ketika ditanya, “Loh nanti ga punya kerjaan?” saya mengangguk senang, mereka menatap sedih. Kemudian disarankan untuk ikut2 lamar tempat mereka kerja. Gw cuma manyun. Kemudian mereka bicara soal enaknya kerja di institusi mereka, gaji oke (ternyata jauh lebih gede daripada yang saya bayangkan loh!), dan banyak kesempatan berbisnis sana sini, dan tentu saja tunjangan hampir seumur hidup.
Mereka masih sibuk bincang-bincang soal nominal proyek dan apa enaknya jadi structural atau fungsional, saya malah jadi ngelamun, menatap ke luar jendela dan sayang tidak ada salju. Lho kok malah salju.
Hehe.

Terpikir soal kerjaan dan cita-cita, yang mana selalu mendapat porsi besar di hidup saya. Tapi nanti kan ga punya kerja sementara? Hehe. Entah kenapa, saya rasanya berbahagia sekali akan punya masa-masa menganggur sementara. Bukannya ga pingin kerja, tapi semenjak 4 tahun yang lalu saya kerja ga brenti-brenti. Libur ada sih, tapi ya paling lama juga 2 minggu. Dan mendapat title pengangguran sementara ini rasanya harus disyukuri. Mudah-mudahan ga lama ya. Terus buat apa disyukuri? Ya buat kontemplasi. Haha… Saya ini kok hobby amat kontemplasi. Tapi bener kok. Break yang akan segera datang ini, rasanya tepat banget buat mikirin, mau ngapain toh selanjutnya. Jarang-jarang kan?

Sementara nominal-nominal itu sudah mencapai angka 30 juta per proyek pengukuran dua hari. Kesimpulan-kesimpulan mulai muncul, mau jadi apa juga ga masalah toh yang penting perut terpuaskan.
Saya tambah kenceng memandang ke luar jendela yang ajaibnya sangat sepi di hari Sabtu. Kenapa oh kenapa, tiba-tiba ide itu terdengar sangat ‘lame’ di telinga gw. Begitu banyak yg bisa dilakukan di dunia ini, tapi kenapa semua atas nama uang? Loh, bukannya ga pingin kerja dengan gaji gede, tapi…

Angan kembali melayang ke masa-masa bekerja dulu. Secara financial memang saya ga pernah kekurangan sih. Alhamdulillah, selalu barokah. Tapi yang membuat saya bertahan justru setiap harinya. Iya, bener. Saya ga pernah lupa masa-masa dimana saya selalu bangun pagi dengan semangat lalu mandi lalu yoga dan ga sabar pingin nyampe kantor. Ga sabar pingin ketemu rekan kantor dan menyelesaikan tugas hari ini. Terdengar aneh, tapi rasanya saat itu hidup begitu berarti *lirik lirik mantan bos yang selalu mengintip postingan. Makasih banyak ya :)*
Mudah-mudahan bukan gajinya ya. Karena walaupun pernah telat digaji selama 3 bulan, saya tetap rajin ngantor tuh. Dengan harapan akan kaya mendadak. Hahahha. Wae.

Yah, jelaslah bukan masalah nominal imbalan pengukuran atau apakah saya bisa saving buat beli rumah. Karena terbukti saldo tabungan habis buat belanja buku (yang lalu ga dibaca) dan melihat tempat-tempat lain alias jalan-jalan. Dan boleh ya bilang, saya sangat suka pekerjaan saya dulu. Ya ya, boleh ya? Karena gimana ga suka, saya ini agak terobsesi milih-milih warna dan bikin lay out. Dan pekerjaan saya dulu itu membuat saya travel to places and meet faces. Rasanya itu sangat-sangatlah mahal harganya. Bertemu orang-orang yang mendatangkan banyak inspirasi, rasanya jadi tak ternilai. Dari mulai bos yang ngajarin mabuk (loh kok malah ga bener), rekan kerja yang asik buat berdiskusi, supir yang lucu banget sekaligus tempat curhat paling oke, sampai orang-orang yang hanya lewat sekelebat tetapi beberapa kalimatnya sangatlah membekas dan memicu saya untuk selalu menjadi lebih baik.

Mungkin saya naive, karena uangnya memang cuma numpang lewat doang di tabungan. Tapi selama itu saya, alhamdulillah, tidak pernah merasa kekurangan. Ajarkanlah saya untuk lebih rajin menabung ya. Dan lebih lagi, ajarkanlah saya juga untuk menabung yang bukan uang. Juga bukan emas-emas. Karena terbukti saya rajin sekali menabung Mas-Mas. Hahahha.