Day 14: Oh Captain, My Captain!

tumblr_mmuer81UnN1r6h2jqo1_r2_500

If you were allowed only to watch one movie for the rest of your life, what movie would it be and why?

Setelah menimbang-nimbang antara Boyhood dan Dead Poets Society… My lifetime Oscar goes to…
Dead Poets Society.

Because I need a good dose of Ethan Hawke, that’s why.
Padahal dua-duanya juga ada Ethan Hawke ya, Boyhood lebih banyak malah.

I enjoyed Boyhood a lot, but Dead Poets did something to me.

Pertama kali nonton Dead Poets Society itu waktu umur 12 tahun. Tante gw maksa banget ngajak gw nonton Dead Poets, katanya ini film bagus banget. Gw sih seneng-seneng aja diajak nonton. Walopun gw masih cukup piyik, ternyata ngerti juga loh. Sehingga gw selalu menuliskan film ini saat nulis buku kenangan, film favorit: Dead Poets Society. Makanan favorit: Texas Fried Chicken. << Dita kecil yang sangat kebarat-baratan.
Selain skrip dan penampilan aktor yang brilyan, gw sukaaaa banget setting dan hawa-hawa Dead Poets. Musim gugur, daun-daun berguguran dan semilir angin dingin. Bangunan kampus yang bersejarah dan dentang lonceng gereja. Walopun ga pernah disebutin dengan jelas lokasinya, kerasa banget atmosfir New England. Favorit gw adalah adegan waktu mereka latihan mendayung.

Dead Poets menginspirasi gw untuk kuliah di luar negeri. Cita-cita banget dari dulu, pake hoodie, bawa buku setumpuk lalu goler-goler belajar di taman kampus yang luas dan asri. Kenyataan: S2 di luar negri, tapi kampus gw tamannya cuman sepetek :P
Akting brilyan Robin Williams sebagai Mr. Keating menjadikan tokoh itu menjelma sebagai mentor buat gw. Gayanya yang nyentrik sekaligus sayangnya pada anak didiknya membuat gw ga putus harapan akan dunia pendidikan.
It is not a feel good movie, I know. But I watched it more than five times, and it gets me everytime.

Carpe fuckin’ diem.

deadpoets

Gambar dari Pinterest berbagai pihak.

Curhat Oscars 2017

Pesta Oscars yang gagal maning, ga jadi party, dan temen gw membatalkan nobar di apartemennya di hari mingu pagi. Yowis, tapi senang juga nonton Oscars di rumah, bisa disambi bikin banana bread dan gw ga mabuk-mabuk amat :D Emang malem itu dingin banget sih, gw rada males juga menempuh perjalanan.
Oscar tahun ini cukup membuat gw hepi karena hasilnya sesuai harapan. Padahal nonton film nominasi Oscar aja cuman dua biji. Hihihi… Tapi kedua film itu ya paling favoritlah.

Gw rasa tahun 2016 filmnya mayan bermutu. Taun lalu gw cuman nonton beberapa dan itu pun ga terlalu berkesan. Tentu saja gw suka Trumbo, tapi apalah arti Trumbo yang nyindir-nyindir Oscars dibanding Spotlight. Spotlight keren, tapi ga sedalem gw menikmati Manchester by the Sea.
Gw ga pro Lalalaland karena gw suka ryan yang satunya lagi. Hihihi. Premis gw sebelum nonton: I got it, we all need a happy-go-lucky movie dimana kita senyum, bernyanyi dan menari sepanjang film. There’s nothing wrong about dancing though. In fact, there’s something wrong if you don’t dance. Tapi dari dulu gw memang bukan penggemar feel good movie. Minimal ada bunuh-bunuhan sama ledakan deh :D Jadi tentu saja gw mendukung Moonlight supaya menang.
Moonlight, dari pertama gw nonton film itu, gw udah firasat, wah Oscar quality banget nih. Ada semuanya, a good cause, screenplay yang ciamik, aktor yang brilyan dan sinematografinya menghanyutkan. Gw udah kesengsem sama Mahershala Ali, waktu di House of Card sebagai Remy Danton, dia mencuri perhatian dengan segala lika likunya dengan Jackie. Aktor-aktor yang meranin Chiron juga brilyan bangetttt, segitu bukan aktor beneran… Adegan Chiron #2 mandi di bathtub itu cukup bikin trenyuh, karena sebelumya adegan seperi ini hanya ada di film-film eropa. :P
Terus film selanjutnya: Manchester by the Sea. Jangan tanya betapa gw suka konflik drama keluarga di film ini. Rasanya pingin gw peluk-pelukin itu Casey Affleck sama Lucas Hedges. Nuansa New England-nya juga kental banget di film ini. Mungkin karena Dead Poets, film bernuansa “putih” begini selalu membuat gw merasa syahdu.
Akting Casey Affleck beneran juara dunia. I didn’t see Casey Affleck, what I saw was a broken man who couldn’t fight his guilt and past. Waktu dia ngomong “I can’t beat it.” Ambyar deh, rasanya gw melihat mereka berdua berkeping-keping di bawah meja makan. Terus kata-kata siapa tuh ya, Manchester by the Sea is a beautiful movie about broken people taking care of each other. Ah pokoknya gw laafff banget lah sama Manchester by the Sea.
Zootopia, sebenernya ga ada yang spesial sih tentang film ini. Gw udah jarang nonton film kartun, udah ga kayak dulu. Jadi gw kurang mengikuti trend film animasi jaman sekarang. Ga ada yang baru di film Zootopia, konflik antar berbagai karakter, biasaaa… Pixar udah melakukan hal itu sejak lama. Pake berbagai media pun, mobil, hewan laut, mainan, udah bukan hal baru. Tapi gw akan selalu inget tampang Jesse waktu dia curi-curi nonton adegan pembukanya Zootopia dimana ada kucing main drama. Hihihi, kucingnya imut dan Jesse kesengsem deh.

Gw rada sebel sih sama tragedi ketuker amplop. Harusnya kan momen itu menjadi momen kemenangan Moonlight. Tapi kalo yang terjadi sebaliknya, ih makin ngeri. Pas Lalalaland dinyatakan menang, gw manyun karena oh plis deh. Suasana politik lagi panas begini, Oscars sempet maju mundur apakah mau diadain taun ini atau ga. Kalo yang menang lagi-lagi feel good movie, cinta-cintaan, dimana peran the Academy untuk bikin statemen-statement yang lebih pro masyarakat? Ga usah ada aja sekalian kalo cuman jadi seremonial seperti biasa. Tapi lagi, ini Oscars, bukan festival film hak-hak asasi manusia. It supposed to be fun too, right?

Congrats Barry Jenkins and all Moonlight crew! Well deserve award. Semoga lebih banyak lagi orang yang nonton Moonlight dan tersentuh hatinya.

Nonton Moonlight saat supermoon

hero_moonlight-tiff-2016

Foto dari Roger Ebert review

Jleb.

Dari pertama gw udah tau Moonlight ini bukan ‘feel good movie’. Aktornya hitam semua, dan banyak adegan-adegan diamnya. Tapi entahlah, gw suka masokis gitu ya, ga bosen-bosen nonton film yang yang bikin emosi acak-acakan.

Isunya narkoba, keluarga rusak, bully-membully di sekolah, gay dan tentunya kisah cinta. Tanpa pesan moral dan menggurui tapi bikin hati ngilu. Semuanya berkisar di Chiron, tokok utama film in. Sepanjang film gw gelisah, tapi akhirnya gw senyum-senyum.

Dengan segitu banyak isu berat, film ini menitik beratkan pada perkembangan karakter tokohnya. Ga heran, aktornya brilyan. Ada Remi Danton dari House of Cards yang muncul dari aktor pembantu. Ketiga aktor yang meranin Chiron, juara. Banyak sekali adegan close-up, long shot, portrait dengan mata Chiron berbicara banyak. Ketakutan, kebingungan, malu-malu, semua dijabarkan di adegan-adegan dengan wajah Chiron sebagai fokus utama.

Mungkin juga efek demo dan US election kemarin, sepanjang film gw kepikiran bagaimana reaksi temen-temen gw yang konservatif kanan kalo nonton film ini. Bagaimana menjelaskan fenomena Chiron dan apa yang terjadi saat dia beranjak dewasa? Apakah Moonlight bisa menjadi titik awal diskusi terbuka tanpa masing-masing keukeuh dengan ideologi masing-masing? Kalau misalnya kita tetangga Chiron, di titik mana kita bisa intervensi hingga hidup Chiron lebih baik? Apa yang seharusnya dibiarkan dan apa yang seharusnya bisa kita cegah? Apa yang bisa kita harapkan dari anak seperti Chiron yang tumbuh di lingkungan kurang kondusif?

Sementara di grup wasap, temen gw berbagi film Iqro, film tentang cewek muslim cilik yang ingin jadi astronot. Film ini besutan tim Mesjid Salman ITB, dan dari trailer-nya gw udah bisa mengira ke arah mana film ini mengacu. Dakwah bahwa Islam itu indah.

Cukup lama gw bertanya-tanya, apa yang membuat Moonlight lebih relevan buat diri gw dibanding film Iqro. Mungkin gw harus nonton dulu film Iqro ya sebelum menghakimi. Tapi hari ini, setelah baca review New York times tentang Moonlight, gw sedikit mengerti. Moonlight adalah tentang bocah yang tumbuh di komunitas marjinal, berkulit hitam dan SPOILER: gay. END OF SPOILER.

Moonlight adalah tentang menjadi minoritas, dan segala permasalahannya. Moonlight menyodok sudut hati kita untuk ga buta bahwa anak-anak seperti Chiron ini ada dan bernapas di bumi yang sama.

Akhirnya gw cuman bisa berbagi bahwa gw udah nonton Moonlight. Dan menyarankan untuk ga nonton film ini saat malam supermoon. Bikin kepikiran ga brenti-brenti.

Film akhir-akhir ini

filmObvious Child
Film yang Brooklyn banget. Ada sedikit unsur romkomnya, atau banyak yah. Dengan ending yang bikin hangat di hati. Favorite scene: waktu Donna dan dua temennya goler2 di apartemen dan sahabatnya cerita waktu dia aborsi pertama kali.
Si cowoknya manis banget, khas computer geeks, not my type mungkin karena broad shoulders. #nawooonn
Tapi mungkin dari semakin sedikitnya film jenis ini yg bikin gw kangen pacar2an, Obvious Child adalah salah satu yg gw suka karena kadar romensnya pas aja. Akhirnya walaupun agak ga ketebak tapi bikin hangat di hati.

The Grand Budapest Hotel
Sweet. Wes Anderson sweetness.
Semakin kesini, film-film Wes Anderson semakin giung. Tiap adegan warna-warnanya bikin pingin ngecat ulang kamar sendiri. Tiap adegan fotografik sekali, pingin dipotong satu-satu terus dibingkai.
Dan ceritanya lucuuu… Aktor-aktornya juga ya ampuuunnn. Edward Norton dan Adrien Brody di satu film, glekk. Mampuslah si penggemar mata sayu.
Kalo boleh banding-bandingin, gw lebih suka ini daripada Moonrise Kingdom. Mungkin karena Moonrise Kingdom itu kebanyakan cerita ga masuk akalnya, sama cinta-cintaan. Ya Grand Budapest Hotel juga sih, tapi lebih natural gitu kacrutnya. Hehe.
All in all, kayaknya cuman Wes Anderson yang bisa bikin film begini.

Theory of Everything
Penonton pasti udah siap2 bawa saputangan ya karena tau ini kan film berdasarkan kisah nyata Stephen Hawking. Film yang manis. Cantik. Warnanya pastel. Banyak adegan video klipnya, scene Stephen dan Jane di pesta koktail itu bikin pingin menari-nari dan jatuh cinta lagi. Dan walopun bikin sedih, tapi ga mencabik-cabik. Cukup cepat move-on dari satu titik ke titik lain. Dialognya ga terlalu banyak tentang fisika, karena film in dibuat berdasarkan buku yang ditulis Jane.
Tapi tetep aja, film ini mengingatkan gw akan fisika. Betapa bencinya gw akan pelajaran ini, sekaligus gw yang sampe sekolah terakhir pun masih aja belajar fisika. Nonton film Stephen Hawking itu gw jadi kepikiran, fisika itu menyenangkan yah. Haha, nawon deui. Sok keren luh. Jadi pingin baca buku itu the brief history of time.

I Wish I Was Here

Sebagai penggemar film2nya Focus Features, gw kayaknya berharap terlalu banyak sama film ini. Yang walaupun idenya menarik, ternyata eksekusinya kelewat sederhana. Biasa deh, tentang bapak beranak dua yang susah nyari kerja sesuai minat dan bakatnya lalu harus menghadapi keluarga dan dunia. Istrinya diperankan Kate Hudson, luar biasa cantik, seksi, sabar dan berdedikasi. Mungkin harusnya dibikin twist ending kali ya biar ga terlalu Hollywood teuing. Yang gw suka dari film ini, latar belakang keluarga yang Yahudi banget :)

Gone Girl
Uyeh, filmnya keren. Terbukti gw beneran nonton tanpa ada jeda bosen sepanjang film.
Favorit gw adalah tokoh Margo si sodara kembar sama detektif cewek yang judes.
Karakter Amy dan Nick juga keren banget, bravo buat Ben Affleck dan Rosemund Pike. Totalitas.
Udah lama emang ya ga nonton thriller begini. Sebenernya ini jadi salah satu genre film kesukaan gw. Single White Female sama The Hands that Rock that Craddle. A Kiss Before Dying.
Gw suka tokoh psikopat yang dari pertama keliatan normal, tapi sedikit demi sedikit mulai terungkap miringnya. Dan pada akhirnya keliatan banget ni orang sinting.
Di Gone Girl, terasa sekali penggiringan opini penonton pada Amy, dari cewek manis keren yang pertama ketemu Nick, terus lama-lama ya begitu deh.
Penonton juga diacak-acak keberpihakannya. Dari yang pertamanya menerka-nerka problem rumah tangga Nick dan Amy, simpati pada Amy, simpati pada Nick, dan ini berganti-ganti.
Gw kira film ini bakalan njelimet. Ternyata ga juga. Noh sana nonton Inherent Vice kalo mau bingung.

Listen Up Phillip
Jason Schwartsman yang biasanya jadi cowok manis, disini jadi cowok hayang ditampiling. Film ini tentang cowok penulis nyebelin dengan latar belakang New York dan sekitarnya. Film ini lucu tanpa harus dibanjiri dialog-dialog komedi. Gambarnya seolah-olah dikasih filter instagram, padahal settingnya masa kini. Alurnya cukup bikin kecele pemirsa karena romensnya berganti-ganti.

Inherent Vice
Film paling bikin emosi gara2 gw ga ngerti ini film tentang apaan. Salahkan Joaquin Phoenix yang seneng peran-peran sakit jiwa dan di film ini dia jadi detektif yang stone and high melulu. Ngomongnya bergumam ga jelas, bikin gw pingin kaul kalo film ini ada teksnya gw akan sholat shunnah nanti malem ya Allah. Tapi gw rasa sih, kalo gw ngerti, gw akan suka film ini. Seksi, berbagai adegan konyol dan musiknya maknyus. Lagu Les Flour dari Minnie Riperton resmi berkumandang untuk keseratus kalinya dalam seminggu ini :)

The Interview
Film komedi bromance James Franco dan Seth Rogen. Gw ngebayangin pas bikin film ini mereka berdua senang-senang dan penuh ketawa-ketiwi. Karena pada dasarnya gw bukan penggemar film komedi kecuali film Stephen Chow dan film kartun, jadi buat gw film ini biasa aja. Kalo ada yang istimewa, yaitu penampilan Randall Park yang jadi Kim Jong Un. Karakternya kurang kejam sih, tapi gokilnya pas.

Tapi yah, dari semua film yang gw tonton di 2014, rasanya Boyhood masih jadi favorit. Abis itu Birdman.
Boyhood karena Ethan Hawke, jaminan mutu. Dan yah gimana lagi dong, gw sukanya film drama yang lambat, lebih menonjolkan emosi daripada aksi. Boyhood menampilkan semua itu, ditambah epiknya film ini dibuat selama 13 tahun. Kagak ada Ethan Hawke dikasih rambut putih dan ditambah kerut-merut di muka. Natural aja, kayak iklan sabun :P (ini bodoran jayus taun berapa ya?) Dan buat gw, apalagi sih yang lebih menarik dari masa-masa beranjak remaja? Coba tolong diingat siapa yang paling rajin berburu buku-buku Judy Blume? Udah deh, pas banget Boyhood menjawab semuanya.

Tapi lagi, sebenernya ya, di hati ini Boyhood masih kalah dibanding Frances Ha ;)

Catatan dari film Banksy

banksy

Gw sempet liat truk ini lalu melengos karena ga tau itu Banksy! Mikirnya cuma, dasar New York, aneh-aneh aja. Foto dari HBO.

Film Banksy does New York bisa ditonton lewat HBO.

Setelah nonton film itu gw makin ngefans sama Banksy. Pertama, street art-nya selalu punya pesan yang kuat. Benar-benar nampiling supaya kita perhatian sama isu-isu sosial yang berjalan di sekitar kita dan selama ini mungkin kita ga peduli.
Kedua, cara dia bikin teka-teki sangatlah engaging. Siapapun yang terlibat dengan petualangan mencari Banksy pasti merasa seperti Dora di kota besar.
Ketiga, street art-nya bukan cuma pemanis, tapi juga interaktif. Sebulan di New York, reaksi warga kota New York sangatlah beragam. Film itu jadi bukti betapa berlapisnya warga New York.
Keempat, gratis. Untuk menikmati karya Banksy, kita ga perlu ke museum atau bayar tiket masuk galeri. Ini seni untuk kita semua, ada di sekitar kita. Di pengkolan, di atap dan terdokumentasi dengan baik di website-nya. Yang mana aksesnya juga gratis.
Kelima, anonimus. Nama banksy memang terkenal tapi siapa sosok di balik nama ini? Masik teka-teki. Yang berarti semua karyanya dikembalikan lagi buat kita.

Keren ya, Banksy?