Thursday Track: San Diego – Hinds

Pertama kali lewat #TT, apa kabar belajar disiplin? Alesannya sih gw cukup aktif kesana kemari. Maafkan ya pemirsa *Kayak ada yang baca aja*. Marilah kita rekap dua minggu ke belakang dengan Hinds, International Women’s Day dan bar life yang kembali dimulai.

Niatnya mau cari lagu baru buat post kali ini, tapi gimana dong, hari Rabu kemarin nonton Hinds (lagi). Ini nyaris konser ketiga Hinds yg gw tonton. Haha, baru juga ngeluarin satu album sama satu mini album, udah giat mengejar gigs-nya begitu ya.
Abis gimana dong, cinta abis sama Hinds. Haha, lebay. Mini album-nya diputer berulang-ulang setahun kemarin, dan January kemarin Hinds menelurkan album baru, Leave Me Alone. Ga beda jauh dengan album Hinds, ga ada yang baru kecuali ada beberapa lagu yang agak balada, hanya vokal dan gitar. Karena gw Hinds fundamentalis maka album Hinds tetap diulang-ulang. Agak bosen sih, tapi seneng juga sama lirik-liriknya yang semakin nakal.
San Diego adalah single ketiga dari album Leave Me Alone. Di konser kemarin gw paling seru jingkrak-jingkrak pas lagu ini. Gw suka phrase itu: I’m Staying, I’m staying! Semacam maksa, you can go but I’m Staying. Atau mungkin karena gw punya kenangan khusus dengan pantai-pantai San Diego? Hmm… Cerita itu hanya bisa di japri. Alah.

25656301046_bed91dd904_oOh ya, gw ga sempet posting apa-apa di International Women’s Day kemarin, karena kita wanita karir sibuk bok. Kurang International Women’s Day apa coba gw. Ditambah gw udah marah-marah tentang kesetaraan gender di postingan sebelumnya. Sementara banyak berita berseliweran tentang pentingnya peranan perempuan di bumi ini, gw ga nemu yang pas sampe selesai nonton Hinds. Udah jelas personilnya cewek semua, tapi karena kali ini gw nonton sebelah sound controlling booth, gw baru ngeh kalo sound dan light engineers-nya juga cewek. Mereka nampak keren sekali pencet-pencet berbagai tombol. Dunia di balik layar pertunjukkan musik kan kental sekali dengan hormon maskulin. Segar rasanya melihat dua cewek mendampingi grup centil Hinds.

Konser Hinds juga seolah sebagai tanda bahwa musim dingin segera berakhir dan gw akan baik-baik saja. Seminggu kemarin anxiety gw sudah sangat berkurang. Sudah nonton Hinds, lari malam, berenang, yoga dan berbagai sesi nongkrong di bar kembali mewarnai. Hore!

You couldn’t stay here one more night
So take me to the beach, alright

Iklan

Album minggu 2015

recordstoreBerikut adalah 5 album yang didengerin terus menerus selama 2015:

Black Messiah – D’Angelo
Ini parah kecanduannya. Bayangin deh, sepanjang perjalanan Portland sampe New York, lebih dari 6 jam non-stop, kita cuman dengerin Black Messiah. Abis itu seminggu masih dengerin album ini juga. Terus, sekitar bulan Mei karena mau nonton konsernya, kembali diputer berkali-kali. Jesse beli platnya pas bulan November kmaren, lalu kita denger lagi ditambah ada liriknya, gw belagak nyanyi ala D’Angelo. Wae. Tapi yang ada keketawaan, seru :)
BlackMessiah171214Gw suka album ini karena merasa jumawa bisa keluar dari lingkaran setan stereotipe indie rock. Berasa penikmat musik segala rupa. Hihi. Tapi emang Black Messiah banyak groove-nya, sekaligus masih banyak melodi yang bisa dinyanyiin. Yeah right, emangnya ada efek built-in di tenggorokan? Terus, karena sifatnya yang groovy tadi – apa sih kakaaa – paling gampang nyetel album ini kalo lagi kumpul-kumpul. Enak jadi sontrek, latar belakang obrolan tapi juga enak buat dihayati. Beberapa track seperti Betray My Heart dan Back to the Future (II) juga asik buat joged-joged kecil.

hindsThe Very Best of Hinds So Far – Hinds 
Gw suka sekali sama Hinds. Suka, suka, suka pake banget. Awalnya dengerin Between Cans, terus suka. Terus iseng dengerin lagu lainnya, yang mana ga lebih dari 10 lagu, dan suka. Denger lagi untuk kesekian kalinya, masih suka. Ga bosen-bosen. Campuran garage rock, Ramones, sama centilnya band cewek udah paling pas buat telinga gw. Lirik yang ga jelas sama kelakuan personilnya yang banyak cekikikan, bikin pingin daftar jadi anggota band.
Judul album juga asal gitu ya, terus sampulnya juga kayak mendadak digambar pake pulpen. Kiyut maksimal. Dan yang membuat gw semangat dengan tahun baru 2016 adalah.. Hinds akan ngeluarin full album di bulan Januari! Yeah! Ga sabar rasanya. Lagian Hinds ini baru juga punya hits segelintir langsung tur dunia. Tapi gapapa sih, gw kan jadi sempet nonton ;)

beirut-no-no-no-album-stream-listenNo No No – Beirut
Album baru Beirut ini ga terlalu beda dengan album-album sebelumnya. Masih ala-ala Gulac Orkestar, kental dengan nuansa Balkan tapi lebih pop dan simpel. Mungkin memang gw udah cinta matik sama ramuan Condon, yaitu campuran folk Eropa timur dan musik hipster jaman sekarang. Walau album ini banyak dikritik karena katanya kurang matang dan Condon ga memaksimalkan aransemennya. No, No, No seperti kehilangan aksen dan dialek asik dari Postcard from Italy, beberapa lagu nampak botak.
Tapi kue cubit orisinil setengah matang kan enak juga ya, makanya gw doyan-doyan aja sama album ini. Malah gw suka karena dia lebih sederhana, ga terlalu banyak ukulele dan liriknya to the point. Kan ga semua lagu harus jingkrable ya, yang ini enak didengerin sambil beres-beres dokumen. Kalo album The Rip Tide cocok buat pengantar adzan maghrib, album baru ini cocoklah buat istirahat di sela-sela tadarus ba’da Isya.

soreLos Skut Leboys – Sore
Nah kalo ini sebenernya baru didengerin belakangan, jadi ga bisa disebut paling sering diputer. Tapi potensial diulang-ulang karena ada di Spotify, hehe.
Jujur aja, gw bukan fans berat Sore, entahlah Sore muncul kapan, kayaknya sih setelah jam 4 *kriuk*. Gw yang memang kurang nasionalis atau kebarat-baratan, jarang dengerin musik dalam negri. Kekurangan sumber kayaknya.
Syukurlah sekarang banyak musik Indonesia di Spotify dan dari segelintir itu, album Los Skut Leboys cukup membuat gw hepi. Mungkin karena ada Aji the Milo. Lah? Gw suka sekali lagu Map Biru, mungkin tersugesti “Map” dan “Biru”, dua hal yg notabene gw banget. Padahal map maksudnya bukan peta ya? Suka-suka gw interpretasi ajalah. Mungkin bassline-nya ya yang ala-ala funk 70an yang bikin gw masukin lagu ini di Maps playlist.
Ya tentu saja banyak pengaruh hengkangnya Mondo Gascaro, album ini jadi semacam proyek keroyokan. Mungkin karena itu jadi banyak warnanya, dan mungkin karena itu gw malah suka.

parisParis – Aeroplane remix
Ini bukan album sih, cuman satu lagu, tapi gw betah seharian cuman denger lagu ini doang. Paris ini juga track lama yang dirilis tahun 2011, tapi gapapa ya baru nyampe di playlist empat tahun kemudian.
Aslinya lagu Friendly Fires, lalu di-remix sama Aeroplane dengan vokalis Au Revoir Simone dan dub Sun and Ice-nya the Field. Begitulah kata wikipedia. Dih, gado-gado gitu ya, sebelah mana Friendly Fires-nya? Terbukti pas gw denger lagu lainnya, ga ah, biasa aja.
Tapi wasyukurilah lagu ini tercipta karena lagu dance ini cocok menemani bikin peta maupun jogging. Sebenernya gw kepincut sama kalimat pembukanya “One day we’re gonna move to Paris..” Syedap, romantis dan dreamy banget. Iramanya sendiri, jauh dari lagu-lagu identik Paris yang biasanya penuh akordion, ini kan lagu dance hey. Tapi entah sebelah mananya, ini pas banget buat didengerin di klab di Paris atau Lausanne atau Berlin. Mungkin karena ada irama dub monoton khas musik dance Eropa kali ya.
Alasan lain gw ga bisa lepas dari lagu ini, gw rasa 2015 adalah tahun yang berat buat kota Paris. Yah, bukannya Juba atau Istanbul ga dapet cobaan ya. Ini juga mungkin akibat santernya berita di media. Aksi teroris di kota Paris itu sebenernya korbannya hanya segelintir kalo dibandingin sama tragedi 9/11 atau krisis di Syria. Tapi gw membayangkan kota yang tadinya damai, asri dan jadi idaman tempat tinggal banyak orang, tiba-tiba berubah mencekam dengan ancaman bom dimana-mana. Duh gusti, udah dong, jangan nambah-nambahin tempat gurem di dunia ini. Asep Berlian aja semakin adem tuh. #iklanlayananmasyarakat

Jadi tahun 2015 adalah tahun yg baik untuk musik. Ya kan, para fens Kendrick Lamar? Penggemar Santigold juga hepi kan? Gw sendiri sebenernya ga membatasi diri dengerin lagu baru, karena sejujurnya ada album Rhye dan Quadron yang gw dengarkan tanpa henti di musim panas, terus jangan tanya 3 album the Sundays, kalo kaset pitanya udah ngegeleor kali. Tapi gw senang karena ga terjebak di masa lalu dan ga hanya dengerin lagu-lagu masa pertumbuhan. Gw juga senang khasanah musik gw cukup bercabang sana sini, terbukti album favorit di atas genre-nya campur-campur antara garage girly punk, funk, soul, dance dan irama padang pasir.
Prediksi musik 2016 akan lebih seru lagi, karena kabarnya Hinds, Banda Neira, the Shins dan David Bowie akan menelurkan album baru. Yeah 2016, bring it on!

Hinds dan Semangat Gabba Gabba Hey!

22549057342_480d381990_o

Konser Blur sukses mablur dan besok harinya begitu bangun kita langsung berdendang Oh My Peebeee, oh my Peebeee… Coffee and Peebies, and mystery… Gw sama Jesse emang suka banget ganti-ganti lirik lagu pake Peebs, Peebies atau Peebo. Abis itu kita elus-elus Peebs sambil manja-manjain dia “Oh Peebs, you have been an inspiration for so many musicians!

Tadinya mau nulis tentang Blur tapi ternyata hari Selasa udah ada konser berikutnya, yaitu Hinds. Ga semegah konser Blur di Madison Square garden, tapi yang ini band cewek-cewek semua dan gw udah kontan jatuh cinta. Gw ga tau kalo di dunia ini ada orang lain yang yang suka Hinds, tapi gw sih, sukaaa banget! Tergila-gila. Kalo tahun 2013 girlsband-nya adalah Haim, tahun ini adalah Hinds. Mirip-mirip kan namanya.

Mungkin karena awalnya gw suka Mourn (ini udah ada draft tulisannya tapi belom selesai aja uy) maka Spotify menyarankan supaya dengerin Hinds. Eh bukan ding, kalo ga salah sih di suatu hari Jumat gw dengerin kompilasi album dengan berbagai artis dari Spanyol (karena iseng cari Mourn), dan di dalamnya ada Hinds. Hinds dan Mourn sama-sama dari Spanyol dan dominan cewek, tapi Hinds lebih manis, lebih melodis dan ga sepiyik cewek-cewek Mourn. Walopun suara Carlotta si vokalis sangatlah kiyut dan gw berasumsi lirik-lirik lagunya seputar cinta-cintaan abege. Tapi musiknya jingkrable banget, ga terlalu teriak-teriak dan minim distorsi, tapi tapi tapi… Tapi gw suka pisan lah pokoknya. Ada campuran Shonen Knife, Ramones, the Libertines dan perkawinan melodicore dan garage rock, tapi ada juga centil-centil khas wanita. Lagu-lagunya sederhana semacam cuman butuh tiga kunci, jadi deh. Punk rock much?

Tapi nanggung banget deh, di Spotify mereka cuma pasang 6 lagu. Semuanya langsung gw puter berulang-ulang dan sampe sekarang belum bosen juga tuh. Iya, segitu nagihnya. Ternyata mereka lagi tur keliling US dan sekitarnya lalu mampir ke Brooklyn, maka tanpa basa-basi beli tiket, lalu kmaren malam gw bisa joged-joged lagu Chilli Town di Music Hall of Williamsburg.

Agak nostaljik juga sama venue MHoW. Kalo ga salah gw nonton beberapa konser pertama di NY ya disinilah. Oh Land sama Dum Dum Girls. Tapi kali ini mau nonton Hinds, hey! Gw dateng kepagian dan memang lagi males bersosialisasi karena kayaknya pengunjung kebanyakan di bawah umur, maka gw nunggu sambil bales-bales e-mail dan minum bir di lounge. Oh iya, baru tau kalo Lounge di Mezzanine MHoW asik banget. Ada bar besaaar banyak kursi dan meja dan ada tangga-tangga yang bisa jadi tempat nyaman untuk duduk-duduk. Cuman ngintip-ngintip dikit pas Public Access TV, band pembukanya main. Mayan enak sih Public Access TV itu, tapi the Strokes banget. Dari lagu sampe setelan gitarnya sangatlah Julian dan kawan-kawan.

Begitu Hinds mulai, lalu beranjak ke depan panggung. Cewek-cewek manis dengan setelan bagaikan disponsori H&M, memulai malam itu dengan Warning with the Curling. Nomer yg cukup melow dan ga pernah gw denger sebelumnya, karena ini waktu mereka namanya Deers. Kabarnya ada yg nuntut mereka pake nama band yang sama, lalu ganti jadi Hinds. Cakepan Hinds ah.

Selanjutnya, udah Trippy Gum aja. Gw suka banget lagu Trippy Gum soalnya lucu-lucu teu puguh gitu deh. Lagu ini juga dari Deers, tapi entah kenapa ada juga di album mereka di Spotify. Ya gapapa, enak sih. Dan selanjutnya dan selanjutnya satu per satu hits mereka dibawakan dengan aura ceria. Gw yang emang udah kesengsem sama lagunya, udah ga bisa apa-apa selain menjura sekaligus iri sama cewek-cewek ini. Carlotta dan Ana, dua gegeduk sekaligus frontman dan gitaris, jago bikin lagu yang gampang dicerna dan gampang disuka. Karakter suara Ana yang lebih ngebas dan suara Carlota yang centil pas banget baik buat harmoni maupun timpal-timpalan. Main gitarnya juga gitu, celetak celetuk. Sementara basis dan drummernya yang juga cewek dan cenderung pemalu sebagaimana karakter alat musiknya, asik senyum-senyum sepanjang konser.

Penonton cukup menggila, lantai dansa penuh dan di bibir panggung para penonton meriah bener sambutannya. Gw kira MHoW akan dipenuhi cewek-cewek dengan semangat feminis, tapi enggak. Ini bukan Pussy Riot hey. Hihi. Malah sebagian besar penontonnya cowok. Yang sibuk goyang dan nyanyi-nyanyi ya cowok-cowok itulah. Ya mbak-mbaknya manis banget ssiihhh… Terus mereka juga komunikasinya pas aja. Yang paling banyak ngomong tentulah Ana, dan entah kenapa setiap nonton band dari Spanyol, ngegemesin banget sih. Aksennya dan cara mereka meringis malu-malu gitu, bikin semuanya terasa pas aja. Tentunya setiap kalimat Ana disambut meriah sama penonton dengan bahasa Spanyol yang gw kurang mengerti. Apa emang ga kedengeran ya.

Konser ditutup dengan Castigadas en el Granero tapi masih ada satu encore yaitu Dave Crochett, cover-nya Thee Headcoatees. Di lagu ini Ana sibuk narik-narik penonton ke atas panggung, yang nampak jadi agenda wajib di konser mereka berjoged bersama pemirsa. Semacam Luscious Jackson ya? Seru!

22562629675_5077124d46_o

Abis itu udah deh. Salah satu agenda nonton Hinds adalah pingin beli albumnya karena pingin punya lebih banyak lagu Hinds!! Enam lagu Spotify ga cukup cuy. Tapi ternyata mereka emang belum rekaman banyak lagu. Hiks hiks, banyakkin dong lagunyaa.. Dunia butuh lebih banyak lagu-lagu Hinds niiihh… Tapi kabarnya gigs di NY ini nyaris US gig terakhir sebelum Boston, dan abis itu mereka akan konsentrasi rekaman buat album baru yang akan dirilis Januari tahun depan. Baiklah, dua bulan lagi. Yang sabar ya neng.
Akhirnya gw beli aja EP-nya yang isinya enam lagu sajah tapi gw hepi sekali dan pulang sambil pingin bersial-siul: Gabba Gabba Hey!