Telekinetik

Akhirnya sodara-sodara, gw baca juga buku karya Stephen King. Dimulai dengan Carrie, karya beliau pertama yang legendaris. Eh sebenernya gw udah baca The Girl Who Loves Tom Gordon, tapi itu udah lamaaaa banget dan itupun ga sengaja bacanya, karena gw lagi di perjalanan Kapal Pelni dari Makassar menuju Surabaya. Di tengah perjalanan gw tamat aja dong baca buku yang gw bawa saat itu (lupa judulnya), yang mana sebagai kutubuku ini adalah tragedi! Belum jamannya kindle jadi kita kalo traveling cuman bawa satu buku. Akhirnya gw embat buku temen gw, untungnya dia mau molor aja sampai kapal menepi di Tanjung Perak. Jadilah memori buku Stephen King gw adalah mimpi buruk The Girl Who Loves Tom Gordon dan gw yang ga sabar, ini kapan nyampenya siiih… Udah bosen! Untungnya di tengah-tengah perjalanan ditawarin rujak sama ibu-ibu di sebelah dan malah jadi ngobrol rame-rame. Oh kapal Pelni, kamu memang penuh cerita – kecuali cerita Stephen King.

Lah ngelantur. Tadinya kan mau cerita Carrie. Carrie is the whole awesomeness!! Mungkin lebih banyak yang mengenal Carrie dari filmnya. Gw belum nonton, tapi katanya keren ya? Ikonik.. Anyway, gara-gara Carrie ini gw kepikiran tentang telekinetik dan sempet googling apakah telekinetik itu nyata? Hahaha… Abis di buku-buku itu nampak nyata sekali dan ada benang merahnya. Pasti adalah kebenaran tentang semua ini. Lalu gw kepikiran beberapa karakter favorit yang juga berkemampuan telekinetik di buku-buku lainnya. Berikut adalah daftarnya

Carrie

Karena baru tamat buku Carrie ya inilah yang paling membekas. Kemampuan telekinetik Carrie adalah menggerakkan benda-benda dengan pikirannya. Contohnya membuat pisau melayang, meledakkan pom bensin sampai mendatangkan hujan batu. Setting buku ini sangatlah brilyan, Carrie sebagai pelajar SMA di-bully teman-temannya dan disitulah mulai banyak kejadian di luar nalar. Stephen King bercerita dengan unik, menggabungkan narasi cerita dan kumpulan-kumpulan artikel tentang fenomena Carrie. Cukup gory dan gelap. Seperti buku fiksi remaja pada umumnya, kisah Carrie berujung di prom night, tapi yaaa… Hmm, ga mau spoiler, tapi beneran deh prom night Carrie sangatlah dahsyat.

Matilda

Oh yeah! Matilda adalah karakter favorit gw sepanjang masa. Karena dia kutubuku tapi punya super power, bisa menggerakan barang-barang dengan pikirannya. Matilda pun lahir dari keluarga ga jelas dan dia ga bahagia. Untung saja gurunya baik hati, dia menemani Matilda hingga anak manis ini ga kesepian. Ceritanya sih khas buku middle grade, ga kompleks-kompleks banget tapi tetap bermuatan moral good people vs bad people. Buku ini adalah buku Roald Dahl pertama gw tanpa gw sadar betapa nyelenehnya Roald Dahl ini.  

Akira

Sebenernya gw ga ingat apa-apa tentang komik Akira ini, dulu beli komik edisi pertamanya. Lupa juga penerbitnya siapa. Yang gw inget gw beli di Gunung Agung Slipi Jaya Plaza. Karena cuman baca edisi pertama dan gw masih kecil, ga ngerti juga ini komik tentang apa. Tapi gw inget gw sangat menikmati membolak-balik halamannya dan mengamati gambarnya. Pertama kali liat manga cuy! Gw suka sekali tone kelam dan dunia yang nampak porak poranda, penuh polusi di komik ini. Kalo ga salah sih ada tokoh Tetsuo yang bisa teleport dan nerbangin motor. Tapi entahlah, gw ga baca lagi komik ini, karena lalu beralih ke Candy Candy dan Doraemon :D

Time Limit

Tibalah era manga membanjiri toko buku di kota-kota besar Indonesia. Salah satu favorit gw adalah Time Limit karangan Ringo Hijiri. Tokohnya Nina, bisa teleport dan bisa nerbangin barang-barang kayak Carrie. Tapi syaratnya, dia harus banget makan sebanyak-banyaknya. Memang gadis rakus. Komik ini koplak banget deh, banyak adegan-adegan muka kentang dan humor slapstick ala film Stephen Chow. Ceritanya Nina naksir kak Ogi, kakak kelas yang manis, dan saingan sama Ida. Tapi karena kelakuan Nina berangasan jadi ya gitu deh. Tapi asli Time Limit adalah komik terkoplak yang pernah gw baca. Gw mengenalkan kembali komik ini ke temen2 sekelas pas SMA, walhasil ada masa-masa di tengah pelajaran dan kelas yang sunyi tiba-tiba ada yang ngakak kenceng banget. Bisa dipastikan anak ini ga merhatiin pelajaran tapi lagi baca Time Limit di bawah meja.

Sebenernya komik superheros Marvel dan DC itu isinya karakter telekinetik semua ya. Tapi gw ga ngikutin uy, entah kenapa gw ga genah liat glorifikasi otot-otot mutan :D Tapi kalo ada yang mau nambahin silahkan loh…

The Stanger Things

Ini film sih bukan buku, tapi demi menyambut season 3 yang keren banget itu (sudah tamat wiken kmaren!), tentu saja perlu ada honorable mention untuk Eleven! Apalah The Stranger Things tanpa Eleven, ya ga? Dari season pertama, pemirsa sudah jatuh cinta pada gadis kecil berkepala plontos yang ditemukan Mike dkk di hutan, lalu bersama-sama membasmi monster. Eleven bisa menerbangkan barang-barang, melawan monster dan telepati atau teleport ya? Kayaknya teleport tapi ga secara langsung, cuma di pikirannya aja. Ah pokoknya Eleven geron lah!

Siapa tokoh telekinetik kamu? Dan sambil mikir-mikir nikmatilah lagu Pop Kinetik dari band lokal favorit gw dulu.

Iklan

Buku 2018

Tibalah saatnya kita bersulang karena seperti biasa target membaca tercapai dengan tiga buku ekstra! Yes, gw tergolong high-achiever jadi biasanya rada persistent, keukeuh dan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Termasuk curi-curi baca komik dan buku tipis demi baca 42 buku – atau lebih. Haha… *disayat pemirsa*

Rada sebel juga sih, karena ujung-ujungnya banyak baca buku sampah haha.. Taun ini kerasa banget banyak baca buku tapi kualitasnya menurun. Bahkan buku paling tebal yang gw baca adalah Aroma Karsa, yang isinya literary adalah bau sampah :D Tapi biarpun begitu, membaca adalah membaca, tetap kegiatan positif karena selama membaca kita tidak nyinyirin tetangga atau berkegiatan unfaedah lainnya.

Demi banyak baca buku, gw mulai banyak baca buku thriller dan mystery. Seru sih, dalam tiga hari langsung tamat karena penasaran beut siapa ini pembunuhnyaaa… Buku model begini kadang lewat begitu aja tanpa berbekas, tapi ada juga yang menurut gw keren dan membekas berhari-hari. Genre mirip yang mulai gw jajal taun ini adalah true crime. Columbine dan I’ll Be Gone in the Dark adalah dua buku genre ini. Seru seru seru, karena ga hanya penasaran tapi juga membedah berbagai kasus yang terlibat, termasuk komunitas, settingan TKP, dll. Taun depan mau baca lagi ah. Helter Skelter mungkin?

Fiksi remaja tetap jadi santapan sehari-hari di tahun 2019. Kalo lagi capek baca buku berat, kalo otak lagi susah diajak konsentrasi, mari baca fiksi remaja. Sayangnya tahun ini ga ada fiksi remaja yang begitu berarti, ga kayak tahun lalu The Hate U Give yang sangat berbekas dan menang banyak di berbagai ajang penghargaan. Bahkan Leah on the Offbeat yang menang di kategori ini menurut pembaca Goodreads pun menurut gw gitu-gitu aja selain tokoh Leah yang badass. Tapi eh tapi, gw baca The House on Mango Street dan jatuh cinta banget sama buku ini. Heran deh kok baru ya baca buku ini setelah sekian lama. The House on Mango Street itu klasik, gampang dicerna karena berupa cerita-cerita pendek, kira-kira 1-3 halaman tapi karakter dan settingnya maniiiiss… Gw mulai bosen sama fiksi remaja yang melulu soal anak sekolahan jatuh cinta yadda yadda yadda lalu ujung-ujungnya prom night. The House on Mango Street bercerita tentang sekeluarga kurang berada yang pindah ke jalan Mangga, penuh dengan karakter unik dan segala ceritanya.

Seperti biasa, gw banyak baca memoir, dan kalau boleh pilih juaranya, sekaligus buku favorit yang dibaca sepanjang 2018: Insomniac City dan Please Kill Me. Terus ga bisa milih mana yang lebih favorit dari dua ini, heuheu. Insomniac City beneran spesial karena Bill Hayes menulis dengan begitu puitis, membuat gw jatuh cinta lagi dan lagi pada New York dan orang-orangnya.

Please Kill Me ini lebih kepada kumpulan-kumpulan wawancara artis dan musisi yang konon cikal bakal pergerakan punk. Kelakuan David Bowie, Richard Hell, Iggy Pop, dll ini ya sodara-sodara… ck ck ck, membuat gw ingin naik mesin waktu dan nongkrong di CBGB pada masa itu.

Tahun ini kurang banyak baca non-fiksi dan buku-buku desain grafis. Ga tau suka ngerasa keder sendiri, takut ngantuk :D Ah banyaklah alasan ga baca non-fiksi.

Tahun 2019 pingin lebih banyak baca buku grafik desain dan design thinking. Reading challenge yang diikutin dari tahun ke tahun ya teuteup Rory Gilmore Reading Challenge. Walaupun pada akhirnya selalu gimana mood. Tapi apapun bukunya, kunci banyak membaca adalah menikmati apa yang kita baca. Tidak masalah tebal tipis maupun genre-nya.

Kamu, buku favoritmu apa di tahun 2018 dan pingin baca buku apa di tahun 2019?

Klab baca kejar paket A

klabbacaSemenjak awal taun ini, kegiatan membaca gw jadi lebih bersemangat karena gw iseng bikin klabbaca yang ternyata sambutannya cukup positif.

Pertamanya sih tersinpirasi Aggy dengan book buddies-nya. Tapi pas kontak temen deket gw untuk jadi book buddies, dia malah ribet nanya ini itu, trus gw males nerangin. Baca aja blogpost-nya Aggy noh.

Nah, pas awal taun lagi rame-ramenya resolusi nih, ada dua temen gw yang resolusinya: pingin lebih banyak baca. Langsung gw samber di whatsapp, didaulat jadi klabbaca, sekaligus jadi pilot project klab baca. Syukurlah mereka semangat dan bukannya nge-block gw di WA grup, karena gw mayan rajin nanya ini itu soal kebiasaan membaca dan berbagi tips-tips kejar paket A.

Simpel aja sih, tiap bulan kita pilih satu buku untuk dibaca barengan dan di akhir bulan kita diskusi bareng. Serunya sih kalau bisa sambil ngopi dan nyemil-nyemil ya, tapi ada daya gw di New York, satu di Singapore dan satu lagi wira-wiri Solo-Bandung. Jadi diskusi kira-kira sejam atau dua jam lewat skype (yang lalu banyakan foto-foto :D) atau kalau banyak yang berhalangan ya lewat whatsapp chat. Gw pribadi lebih suka lewat skype sih, soalnya dalam sejam bisa membahas banyak, sedangkan lewat chatting biasanya dua jam. Lebih effisien aja gitu. Apalagi kan beda-beda timezone, jadi jam ngantuknya beda-beda.

Di kwartal pertama klab baca, cuman kita bertiga, jadi pilihan buku beneran personal. Gw pilih buku pertama (sebagai figur autoritatif ;) ), terus gantian tiap bulannya. Yah namanya juga percobaan ya. Tapi dalam tiga bulan itu aja kita bertiga jadi semangat banget namatin buku walopun bukunya bapuk banget dan semangat diskusi yang tentunya banyak haha-hihi.

Kwartal berikutnya, klab baca ini diperluas, masih barengan lingkar pertemanan yang sama, tapi nambah anggota 3 orang lagi. Mayan kan… Mungkin kalo diterapkan member get member bakalan lebih sukses tapi klab baca kan nirlaba yaa :D Sistem bacanya masih sama, baca satu buku yang diputuskan bersama melalui musyawarah mufakat atau pemilihan umum, terus dibahas tiap akhir bulan. Ragam buku yang dibaca emang jadi random banget sih, dari memoir, non-fiksi, sampe komik :D Tapi ya gapapalah, kita coba aja menjajal berbagai jenis bacaan. Kadang ada juga yang ga tamat. Ga masalah, buat gw sih yang penting membentuk kebiasaan konsisten membaca dan menikmati buku bacaan. Visi gw dengan klab baca ini bukan fokus pada bukunya sih, tapi lebih kepada komunitas dan membentuk kebiasaan membaca.

klabbaca2Sejauh ini sih gw hepi banget dengan klab baca ini. Simpel dan bikin motivasi membaca semakin kenceng. Kalopun grup ini pada akhirnya ga berminat lagi melanjutkan klab baca, gw akan bikin klab baca lagi. Abis seru aja. Membaca buku itu sebenernya kegiatan yang soliter, tapi dengan klab baca ini kita jadi bisa menikmati pengalaman membaca bersama-sama. Seperti misalnya misuh-misuh kalo bukunya ngebosenin pas baca They Both Will Die in the End atau nangis bareng pas baca buku yang mencabik-cabik perasaan kayak First They Killed my Father.

Sempet ngobrol-ngobrol lebih lanjut, apakah mau memperluas klab baca dengan ngundang-ngundangin temen di luar lingkar pertemanan ini? Hmm, pingin juga sih, tapi masih ragu karena gw masih merasa belum mumpuni memoderasi sekian banyak orang, apalagi yang belum terlalu kenal. Sejauh ini banyakan curcol :D Mungkin skill ini dilatih dulu, nanti kalo udah gape baru deh buka klabbaca untuk rakyat pada umumnya :)

Alasan lain adalah akses buku. Sebagai a proud member of Brooklyn Public Library, gw dengan gampang mengakses buku-buku, walaupun kadang harus nunggu agak lama. Mau beli buku juga tinggal klik dan bayar kredit, lalu dalam dua hari buku dateng deh dari amazon.com atau book depository. Ga selalu buku baru, gw seringnya beli buku bekas. Nah, akses buku ini yang kadang menjadi kendala buat member klabbaca lainnya. Solusinya sih gw berusaha nyariin buku dalam bentuk pdf gratisan dan kadang gw dan temen gw di Singapore berbagi akun perpus. Agak-agak illegal sih, tapi ya demi kemajuan bangsa dan negara, yekaann… Nah gw ga yakin opsi ini bakalan gw lakuin buat khalayak ramai. Tapi pada intinya gw ga mau member klabbaca kesulitan akses buku.

Meskipun klab baca gw saat ini masih eksklusif, tapi silahkan loh fotokopi atau modifikasi ide klab baca bersama geng masing-masing. Gampang dan seru banget, hanya butuh buku dan Whatsapp group. Daripada Whatsapp group jadi ladang hoax kaann… ;)

Buku 2017

readingchallenge2017_2Tibalah pada saatnya menutup tahun sambil bersulang karena.. Sukses memenuhi reading challenge, sodara-sodara!

Tahun 2017 gw mencanangkan baca 36 buku, yang berarti 3 buku per bulan. Peningkatan yang cukup signifikan dari tahun lalu, 24 buku. Walopun tahun itu gw baca 35 buku sih, jadi sebenernya gw udah tau stamina baca gw. Tinggal menjalankan aja. Tsah.

Tahun ini ga terlalu banyak baca non-fiksi dan buku desain, tapi banyak buku cerita yang sangat gw nikmati selalu. Gw jatuh cinta pada Ann Patchett dan Junot Diaz, dan mulai menyicil buku2 mereka sedikit demi sedikit.

thehateugiveFavorite fiksi: The Hate U Give – Angie Thomas

Gw mulai mengurangi bacaan fiksi remaja tahun ini karena empet sama All the Bright Places. Tapi gimana lagi, YA fiction tetap paling gampang gw cerna dan nikmati. Gw ga punya harapan banyak waktu baca The Hate U Give, tapi Angie Thomas menulis dengan ringan, cerdas dan seimbang. Topik black lives matter berat loh, tapi kacamata Starr begitu organik saat menceritakan semuanya. Ditambah settingan ghetto, jadi minoritas di sekolah, interracial relationship, keluarga yang hangat, dll. Buku ini ringan tapi kena. Dan membuat salah satu resolusi 2018 gw: mendengarkan lebih banyak musik rap.

44735Favorite non-fiksi: The Elements of Typographic Style

Kalo yang ini udah ga usah ditanya ya. Wajib hukumnya buat grafik desainer dan para pemerhati tipografi lainnya.

21979832Favorite karakter: Kash – The Girl from Everywhere

The Girl from Everywhere bercerita soal kapal bajak laut sekaligus mesin waktu yang menjelajahi ruang dan waktu mengikuti peta dari masa ke masa. Campuran fantasi, petualangan dan ada sejarah berikut romansanya juga. Salah satu awak kapalnya adalah Kashmir, keturunan timur tengah, pencuri, pintar dan baik hati. Di bayangan gw Kash ini jangkung dengan badan berotot tapi kurus, kulit gelap dan terampil akrobat. Rambutnya sedikit berombak, gondrong setengkuk dan tatapannya membius. Glekk. Berbagai adegan duduk di geladak kapal sambil ngobrol dan diskusi dengan Kash, memandang lautan, demn lemah banget gw sama yang type begini.

113333Favorite setting: Bel Canto – Ann Patchett

Setting Bel Canto sebenernya cukup serem, pesta ulang tahun petinggi-petinggi negara di negara Amerika Selatan yang kemudian disandera teroris. Tapi cara Ann Patchett bercerita begitu cantik dan membuat hubungan yang terjalin di antara tokoh-tokohnya begitu kuat dan menarik. Gw kok malah pingin ikutan disandera ya.

Favorite line:

Ifemelu wanted to lie, to say that she cooked and loved cooking, but she remembered Aunty Uju’s words. “No, ma,” she said. “I don’t like cooking. I can eat Indomie noodles day and night.”

Americanah – Chimamanda Ngozi Adichie

Sampe ketemu di reading challenge selanjutnya. Semoga tahun ini semakin banyak buku-buku seru jadi bagian hidup kita. Gw akan lebih rajin posting dengan tagar #joyread dan sudah menginisiasi klab baca. Yay, can’t wait!

How was your 2017 in reading?