Waktu minum kopi telah tiba

Gambar

Si cantik komoditi ekspor impor

Si cantik komoditi ekspor impor

Akhirnya.
Tibalah waktunya. Saya resmi kecanduan minuman hitam pekat ini.
>Namanya juga orang kerja ya neng, kalo udah duduk di meja kerja tapi belum nyeruput kopi panas + krim tanpa gula kayaknya ada yang kurang gitu.
Akhir pekan juga sama aja. Walaupun menghindari sebisa mungkin, tapi saya rela menukar tidur ekstra di siang hari dengan secangkir kopi.
Memang ya, tinggal di kota yang riuh rendah ini haruslah kopi ganjelannya.

Muntahan karyawan

Seharian ini saya lagi amaze sama diri sendiri dan tentunya hidup ini, sama mau dibawa kemana hubungan kita. nggak ding.

jadi ya sodara-sodara, sepulang dari kuliah di belanda kmaren itu, saya punya hobi baru: bikin grafik. bukan desain grafik seperti poster, cover album ataupun lay-out majalah. itu mah hobi jaman dulu waktu kuliah, hehe. grafik yg sekarang itu bentuknya.. hmm apa ya. kalo bahasa inggrisnya sih charts. yg type-typenya antara lain bar chart, pie chart, bubble chart, radar, dsb. para pengguna microsoft excel pasti ga asing dengan bentuk2annya.
Databases have feelings too
nah, kenapa bisa hobi? itu pun saya ga mengerti.
tapi yg jelas, waktu ambil mata kuliah Data Exploratory, saya dibikin ternganga-nganga dengan kemampuan visualisasi data ini. bukan pada rumus-rumus statistiknya. tapi lebih kepada, bagaimana tampilan yg berbeda dari data, bisa membuat orang punya pemikiran yg berbeda juga. ibaratnya gini ya, kalo ada data: A punya anak 3, B punya anak 2, C punya anak 5, D ga punya anak 1. Nah kalo kita baca sekilas, perasaan ini cuma laporan produktivitas seseorang aja, dan ga semua orang bisa langsung kepikiran, ya oloh anaknya C banyak amat. tapi kalo dibikin bar chart sederhana aja, begitu orang ngeliat, semua perhatian tertuju pada C. kalo orangnya macam saya, suka mengaitkan pada cerita-cerita yg kadang ga nyambung. contohnya, apa di rumah C ga ada listrik ya sehingga dia lebih suka bikin anak daripada main Wii.
saya juga mulai tergila-gila sama tampilan, istilahnya ‘art’-nya grafik. contoh nyata, kalo bikin grafik pake microsoft excel 2003, default otomatis grafiknya tuh buruk banget, menurut saya. terlalu ribet padahal katanya sih, desain yg paling bagus itu yg simpel. saya sering menghabiskan berjam-jam cuman untuk ganti2 warna grafik sama mengutuki microsoft excel 2003 yg menyalahi kaidah2 desain.
nah hobi ini jarang saya liatin ke orang-orang. agak2 ga lazim emang kalo ada cewek bawa-bawa laptop untuk bikin2 grafik di microsoft excel. apalagi R. beuh, super nerdy banget itu R. bayangkan aja, paket statistik yang pengoperasiannya pake skrip. alias kalo mau bikin tabel itu, kita bukannya klik Insert Charts, melainkan nulis: plot(jumlahanak.txt,color=”green’,width=”3″). atau semacam itulah, udah lupa juga skrip R kayak gimana.
eh kok malah jadi ngomongin R. maksudnya adalah, mbok ya laptop itu digunakan untuk fungsi umumnya saja. buat nulis blog menyek2, edit-edit foto sama facebook-an dan youtube-an.
singkat kata, singkat cerita, saya disini sekarang, kerja. dan sampai sekarang saya masih takjub, bahwa sekarang ini saya dibayar untuk: yak, bikin grafik!!
grafik2nya pun kadang sederhana aja, bukan yg canggih2 mind mapping atau jaringan koneksi kereta bawah tanah London tube. kadang cuman perbandingan jumlah truk air yang mampir di Somalia dari bulan Agustus – Desember 2011. tapi saya harus mendandani grafik itu semanis mungkin, tentu saja dengan bbrp ketentuan style-nya si organisasi ini. tapi teuteup aja saya masih amazing. bisa ya akhirnya ada yg menggaji saya untuk ngerjain yg beginian. lebih canggih lagi, kadang saya harus nulis manualnya, trus ngajarin orang2 untuk bisa bikin grafik yang mirip.
terima kasih ya Tuhan ya. sekali lagi, kamu paling tahu apa yg aku mau deh. muwah.
juga untuk mau dibawa kemana hubungan kita :)

Bertemu muka dan menelusuri tempat baru

Catatan dari suatu malam di bulan February 2010, Enschede.

Baiklah, sebelum menulis hal-hal yang essensial, gw mo curhat dulu ya.

Ini terpicu oleh pembicaraan di kamar si abang tadi petang menjelang malam. Yang tadinya ngomongin susahnya kuliah disini sama udara minggu depan yang menurut ramalan cuaca akan minus lagi (yeah right, minus lagi sodara-sodara. Mau jadi apa negara ini kalo minus terus? Hihihii…), tiba-tiba pembicaraan berbelok arah ke kerjaan masing-masing di Indonesia. Karena setelah bersusah-susah kuliah disini, toh pada akhinya harus kembali ke kenyataan untuk kerja di Indonesia, yang belum tentu ga tambah susah :P Kok hidupnya berat amat ya, susah melulu. Nyanyi lagu Sometimes Life Isn’t Easy lagi ah. Hehe…
Loh distrek.

Baiklah, bicara soal kerjaan. Ada yg PNS, dosen dan saya pengangguran. Ketika ditanya, “Loh nanti ga punya kerjaan?” saya mengangguk senang, mereka menatap sedih. Kemudian disarankan untuk ikut2 lamar tempat mereka kerja. Gw cuma manyun. Kemudian mereka bicara soal enaknya kerja di institusi mereka, gaji oke (ternyata jauh lebih gede daripada yang saya bayangkan loh!), dan banyak kesempatan berbisnis sana sini, dan tentu saja tunjangan hampir seumur hidup.
Mereka masih sibuk bincang-bincang soal nominal proyek dan apa enaknya jadi structural atau fungsional, saya malah jadi ngelamun, menatap ke luar jendela dan sayang tidak ada salju. Lho kok malah salju.
Hehe.

Terpikir soal kerjaan dan cita-cita, yang mana selalu mendapat porsi besar di hidup saya. Tapi nanti kan ga punya kerja sementara? Hehe. Entah kenapa, saya rasanya berbahagia sekali akan punya masa-masa menganggur sementara. Bukannya ga pingin kerja, tapi semenjak 4 tahun yang lalu saya kerja ga brenti-brenti. Libur ada sih, tapi ya paling lama juga 2 minggu. Dan mendapat title pengangguran sementara ini rasanya harus disyukuri. Mudah-mudahan ga lama ya. Terus buat apa disyukuri? Ya buat kontemplasi. Haha… Saya ini kok hobby amat kontemplasi. Tapi bener kok. Break yang akan segera datang ini, rasanya tepat banget buat mikirin, mau ngapain toh selanjutnya. Jarang-jarang kan?

Sementara nominal-nominal itu sudah mencapai angka 30 juta per proyek pengukuran dua hari. Kesimpulan-kesimpulan mulai muncul, mau jadi apa juga ga masalah toh yang penting perut terpuaskan.
Saya tambah kenceng memandang ke luar jendela yang ajaibnya sangat sepi di hari Sabtu. Kenapa oh kenapa, tiba-tiba ide itu terdengar sangat ‘lame’ di telinga gw. Begitu banyak yg bisa dilakukan di dunia ini, tapi kenapa semua atas nama uang? Loh, bukannya ga pingin kerja dengan gaji gede, tapi…

Angan kembali melayang ke masa-masa bekerja dulu. Secara financial memang saya ga pernah kekurangan sih. Alhamdulillah, selalu barokah. Tapi yang membuat saya bertahan justru setiap harinya. Iya, bener. Saya ga pernah lupa masa-masa dimana saya selalu bangun pagi dengan semangat lalu mandi lalu yoga dan ga sabar pingin nyampe kantor. Ga sabar pingin ketemu rekan kantor dan menyelesaikan tugas hari ini. Terdengar aneh, tapi rasanya saat itu hidup begitu berarti *lirik lirik mantan bos yang selalu mengintip postingan. Makasih banyak ya :)*
Mudah-mudahan bukan gajinya ya. Karena walaupun pernah telat digaji selama 3 bulan, saya tetap rajin ngantor tuh. Dengan harapan akan kaya mendadak. Hahahha. Wae.

Yah, jelaslah bukan masalah nominal imbalan pengukuran atau apakah saya bisa saving buat beli rumah. Karena terbukti saldo tabungan habis buat belanja buku (yang lalu ga dibaca) dan melihat tempat-tempat lain alias jalan-jalan. Dan boleh ya bilang, saya sangat suka pekerjaan saya dulu. Ya ya, boleh ya? Karena gimana ga suka, saya ini agak terobsesi milih-milih warna dan bikin lay out. Dan pekerjaan saya dulu itu membuat saya travel to places and meet faces. Rasanya itu sangat-sangatlah mahal harganya. Bertemu orang-orang yang mendatangkan banyak inspirasi, rasanya jadi tak ternilai. Dari mulai bos yang ngajarin mabuk (loh kok malah ga bener), rekan kerja yang asik buat berdiskusi, supir yang lucu banget sekaligus tempat curhat paling oke, sampai orang-orang yang hanya lewat sekelebat tetapi beberapa kalimatnya sangatlah membekas dan memicu saya untuk selalu menjadi lebih baik.

Mungkin saya naive, karena uangnya memang cuma numpang lewat doang di tabungan. Tapi selama itu saya, alhamdulillah, tidak pernah merasa kekurangan. Ajarkanlah saya untuk lebih rajin menabung ya. Dan lebih lagi, ajarkanlah saya juga untuk menabung yang bukan uang. Juga bukan emas-emas. Karena terbukti saya rajin sekali menabung Mas-Mas. Hahahha.