New Yorker dan kopinya

New Yorker terkenal dengan kebiasaan ngopi. Saya yang tadinya #timtehprendjak dan ngeteh setiap bangun pagi, lama kelamaan menggeser hobi itu. Kopi terbukti ampuh membantu produktivitas kerja, sehingga rasanya belum memulai hari kalau belum menyesap secangkir kopi di pagi hari sambil baca-baca e-mail.
Biasanya saya beli kopi secara acak di berbagai gerai kopi di sekitar kantor. Saya agak males jalan jauh, jadi paling ya sekitaran satu blok saja. Dulu pernah menjerang kopi sendiri, tapi karena dapur kantor ga memadai, malahan repot cuci french press, cangkir, dsb. Kopi saya ga pernah macem-macem, selalu kopi standar ditambah susu atau half/half sedikit. Sudah tiga tahun saya mengeliminasi gula dari kopi dan teh. Kadang minum cappucinno juga kalo lagi pingin memanjakan diri sendiri. Nikmatnya aroma kopi di pagi hari itu ya… Hmmm…
Gampang sekali menemukan gerai kopi di New York. Dalam satu blok saja ada sekitar 10 tempat saya bisa beli kopi. Ada yang mewah semacam Penny Lane, sampe kopi di gerobak dan warung. Ada Starbucks dan Dunkin Donuts juga, yang mana selalu saya hindari karena prinsip. Halah. Masih banyak kedai kopi lain, mendingan kita bikin seru ekonomi lokal ;)
Saya jarang berlama-lama duduk di tempat ngopi, biasanya dibawa ke kantor saja. Kecuali kalo ada temen ngobrol. Tapi itu jarang karena saya kangen cubicle #boong. Ritme seperti ini sudah sangat lumrah di New York. Kalo jalan-jalan di daerah Midtown di pagi hari, pasti berseliweran orang sambil menggenggam segelas kopi. Pokoknya kalo pingin berasa New Yorker banget, jalan-jalan aja sambil menggenggam cangkir kertas berisi kopi.
Kedai kopi sendiri walopun selalu ramai, tapi jarang saya jadikan tempat janjian atau nongkrong lama-lama. Janjian macam ini biasanya kalau ketemu orang baru atau teman lama yang ga minum. Sisanya, lebih menikmati waktu di bar atau restoran. Saya malah lebih sering berlama-lama di kedai kopi kalau sendirian, misalnya menyelesaikan kerjaan atau baca buku.
Makanya saya agak heran dengan kebiasaan di Jakarta atau Bandung, ngumpul-ngumpul di kedai kopi lewat jam 9 malam. Pada niat begadang apa ya? Tapi kan lain padang lain belalang, di Aceh dulu mau nangkring ya di kedai kopilah. Ga pandang bulu, jam berapa aja hajar. Duh jadi kangen warung sanger dan para penghuninya ;)

Saat akhir pekan, saya ngopi suka-suka. Kadang menyeduh kopi sendiri di rumah, ngabisin koleksi biji kopi sambil males-malesan. Kadang memanjakan diri dengan kopi dari Blue Bottle yang terkenal seantero West Coast, East Coast sampe ke Tokyo.
Jesse adalah salah satu pecandu kopi. Entah pecandu atau coffee snob, tipis ya bedanya. Dulu dia rajin bikin kopi tiap pagi pake french press segede gaban. Biji kopi favoritnya adalah Guatemala light roast dari Porto Rico. Semenjak punya cold brew kit, dia bikin cold brew dari biji kopi yang sama nyaris tiap hari. Karena harus tunggu 12-16 jam, maka mulai proses malem hari, baru dikucurin pagi-pagi. Buat saya sih enak-enak aja, tapi saya suka pingin manasin cold brew. Ice kopi Jessica kali ya panas.
Oiya, walaupun tiap hari minum kopi, tapi saya ga pernah merasa sebagai ahli kopi karena selalu hajar bleh, apa aja diminum. Arabica, robusta, terserah, saya ga pandang bulu. Untuk sehari-hari kopi standar yang saya beli itu biasanya house blend, itu pun saya sudah hepi. Tapi toh teuteup ada juga tempat ngopi favorit. Nah, mumpung lagi musim nih bagi-bagi tips pengalaman orang lokal, berikut daftarnya. Siapa tau jad inspirasi untuk ga selalu kembali ke Starbucks, karena buat peminum kopi ngawur macam saya pun, Starbucks ga ada di dalam daftar.
Oh iya, daftar kedai kopi ini mayoritas ada di Downtown Manhattan, karena disanalah saya menghabiskan separuh hidup saya. Ga ding, ga selama itu. Tapi saya agak jarang berkeliaran di atas 14st Street. Kalau ada yang punya ide tambahan, monggo loh.

Blue Bottle
Saya lebih jatuh cinta pada branding-nya. Logo botol biru dan desain minimalis semua elemen Blue Bottle selalu bikin saya berkali-kali kembali. Tapi kopinya juga memang nendang sih. Andalannya adalah cold brew, single origin dan new orleans style coffee yang mengandung chicory. Blue Bottle termasuk coffee chain asal Oakland, California dan mengklaim semua biji kopi di kedainya dipanggang tidak lebih dari 48 jam yang lalu untuk menjamin citarasa kopi prima. Di New York, Blue Bottle tersebar di Boerum Hill (iya, satu blok dengan apartemen saya. Kalau pagi kadang aroma kopinya masuk ke kamar tidur), Williamsburg, Chelsea, Midtown dan Highline. Barista-nya ramah luar biasa, mereka sering bagi-bagi muffin gratis, dan muffin-nya pun seenak kopinya.

19595863249_0a47db67ad_k

Menikmati secangkir cappucino sambil memandang aspal. Sedih amat yak.

OST
OST adalah kedai kopi kecil dan intim di salah satu sudut East Village. Biasanya penuh dengan New Yorker yang sibuk bekerja, baca buku atau bercengkerama. Saya sungguh terkesan dengan wadah kopi mereka yang ditempeli foto Mr. T the A Team (sayang dokumentasi tidak ditemukan). Kalau malam mereka berubah jadi cafe dengan musik jazz dan wine, chees and meat platter pairing. Tidak ada yang istimewa dari OST selain kopi yang enak, suasana yang terasa asli, akrab dan kekeluargaan. Kabarnya mereka buka cabang baru di Lower East Side.

 

 

 

Ninth Street Espresso
13019899525_646f41d298_kLokasinya agak terpencil, sehingga beberapa kali kesana selalu sepi. Tapi kopinya enak yo. Dan suasananya yang sepi cocok kalau saya pingin menyelesaikan kerjaan. Menunya pun simpel, cuman ada brewed coffee, ice coffee, espresso dan espresso with milk. Ga usahlah belagak jadi ahli kopi yang aneh-aneh di NSE, cukup percaya empat andalan itu memuaskan.

 

Mud

16704675532_4c69dfcd5c_k

Cangkir oranye Mud yang legendaris

Berawal dari coffee truck, sekarang Mud punya kedai manis dengan taman di Lower East Side dan restaurant di East Village, serta berbagai truk yang berkeliaran di Downtown Manhattan. Signature coffee adalah Mud Mojo yang pekat dan kental dengan aroma coklat, disajikan di gelas kaleng berwarna oranye. Di restoran Mudspot, kita bisa brunch sehari penuh dan tempat ini jadi andalan saya kalau pingin huevos rancheros jam 11 malam.

Porto Rico

14390674823_f1c8dd0185_k

Berkarung-karung kopi di Porto Rico bikin pingin nyemplung.

Kalau ini bukan kedai kopi, lebih tepat dibilang coffee supplier. Jesse langganan biji kopi dari Porto Rico karena murah dan enak. Saya senang main-main ke tokonya di St. Marks (East Village), karena pemandangan berkarung-karung kopi bikin saya berulang kali foto-foto. Ayah saya yang termasuk coffee snob, hanya minum single origin kopi, ga pernah absen nitip kopi Ethiopia dari Porto Rico karena suka banget cita rasanya yang halus. Tiap hari mereka menjerang kopi juga, jadi bisa aja sih beli segelas kopi untuk dibawa. Ga bisa milih, cuman ada house blend, tapi sudahlah ya, enak apalagi kalo sambil nyemil canelle custard yang empuk itu. Porto Rico juga bisa ditemui di Essex Market, Williamsburg dan Bleecker Street.

Waktu minum kopi telah tiba

Gambar

Si cantik komoditi ekspor impor

Si cantik komoditi ekspor impor

Akhirnya.
Tibalah waktunya. Saya resmi kecanduan minuman hitam pekat ini.
>Namanya juga orang kerja ya neng, kalo udah duduk di meja kerja tapi belum nyeruput kopi panas + krim tanpa gula kayaknya ada yang kurang gitu.
Akhir pekan juga sama aja. Walaupun menghindari sebisa mungkin, tapi saya rela menukar tidur ekstra di siang hari dengan secangkir kopi.
Memang ya, tinggal di kota yang riuh rendah ini haruslah kopi ganjelannya.