Perempuan dan Peta

“Aduh nyasar, maap gw kan perempuan, jadi ga bisa baca peta.”

Gw selalu inget komentar temen deket gw, Niken, “Ya itu sih elu aja kali. Gw bisa baca peta. Si Dita malah kerjaannya bikin peta.”

Hihihi… Tentunya, gw sangat bangga berkarir di bidang ini. Karena kalo ketemu orang baru, jawaban gw yang “Gw bikin-bikin peta,” selalu mendapat reaksi lebih antusias daripada profesi gw yang lainnya sebagai grafik desainer. Karena mayoritas semua orang suka peta!

Gw ga pernah bercita-cita jadi pembuat peta. Waktu gw kecil belum ada Dora the Explorer, cuy. Film Unyil jalannya satu doang, hilir mudik dari ujung ke ujung, udah gitu aja. Tapi alhamdulillah gw dianugerahi bakat matematika, curiga sih keturunan nyokap gw. Pas gw liat rapot SMP beliau, widih nilai matematikanya 9 semua, cadassss. Anyway, salah satu minat dan bakat gw yang lain adalah di bidang visual. Matematika + visual = Peta banget! Dengan dua senjata ini, gw sedikit demi sedikit belajar GIS pas kuliah S1. Eh keterusan buat kerjaan pas lulus. Eh masih laku di organisasi lain. Sampai akhirnya gw ambil S2 pun pemetaan. 

Kalau dibilang dunia perpetaan didominasi laki-laki, errr… Iya juga sih. Tapi dunia mana sih yang ga didominasi laki-laki? *smirk* Menurut gw sih, ini masalah kesempatan aja. Yang jelas, dari pengalaman gw, perempuan-perempuan ini ahli peta yang jago banget cuy. Di awal karir gw, pernah tim perpetaan gw empat orang, dengan tiga orang perempuan. Salah satunya, mpok Nova (kami sangat respek jadi saling memanggil dengan mpok), bahkan memetakan site plan rumah pengungsi, berhari-hari kerja di lapangan sampe item banget. Eh gw juga ding, waktu itu banyak kerja di lapangan sampe item banget. Dan kami tetap manis tentunyaaaa.

Beberapa tahun belakangan ini gw lebih banyak berkecimpung di grafik desain dan semakin sedikit bikin peta. Tapi semenjak pandemik, gw diajak ikutan Missing Maps lagi. Kali ini dengan peran-peran lain seperti, hosting maphaton dan semakin banyak utek-utekan sama peta juga. Lalu di Hari Perempuan Internasional ini kami bikin maphaton dengan host mayoritas perempuan. Senang rasanya bisa jadi bagian dari perempuan-perempuan hebat ini.

Happy International Women’s Day!

Perempuan bisa baca peta, perempuan bisa jagoan bikin peta :)  

P.S: Maphaton = Map + marathon, intinya mah bikin peta babarengan gitu. Ada juga acara kita Mappy Hour, alias Happy Hour sambil bikin peta.

Iklan

Missing Maps

photo

Hari Senin ini, yang belum sepenuhnya selesai, kesenangan datang dari iseng nyatronin acara Missing Maps di markas American Red Cross (ARC). Dan makan mie ayam setelahnya, karena kebetulan markas ARC dekat dengan restoran Indonesia, Bali Nusa Indah.
Semacam kejutan ga disangka-sangka di hari Senin, yang biasanya penuh dengan balas imel, meeting dan kegiatan kurang seksi lainnya. Walopun kalo baca tulisan Hanny ini, hari Senin rasanya penuh totalitas a la super hero.

Singkat kata, Missing Maps adalah proyek kolaboratif digawangi beberapa organisasi dimana siapa aja, asalkan punya komputer yang ada browser Safari atau Chrome plus koneksi internet, bisa ikutan mendijitasi daerah-daerah di dunia ini yang belum terpetakan. Program ini memungkinkan siapa saja, dengan latar belakang apa saja, bisa ikut menyumbang beberapa polygon untuk Open Street Map (OSM). Hari Senin ini Missing Map bikin acara maphaton untuk mengajak kita sukarela, rame-rame, metain Harare dan Rwanda sambil dengerin musik Ramones. Yup, Ramones masuk list yang bikin saya hepi hari Senin ini.
Ada mbak-mbak dari ARC yang dengan baik hati mengajari kalo kita kesusahan, karena ternyata ga gampang juga mengikuti petunjuk maphaton karena ada beberapa pilihan. Termasuk, ada beberapa pilihan muffin dan kopi juga. Kopi buat hari Senin (update: dan hari lainnya) udah masuk wajib hukumnya buat saya.

Sebagai #mapgeek, begitu tau ada Missing Maps saya melonjak gembira. Waktu itu saya langsung daftar, dan bertekad menyisihkan sejam per minggunya untuk klak-klik klak-klik bikin peta buat OSM. Tapi baru lima menit nyoba, saya udah mentok dan bingung ini harusnya gimana toh. Untung akhirnya tadi ikutan maphaton, jadi bisa lanjut deh.

Terlepas dari #mapgeek atau bukan, Missing Maps ini project buat siapa aja yang suka dijitasi. Sudah semenjak tahun lalu saya terkagum-kagum sama proyekan yang sifatnya kolaboratif, tidak mengenal jenis kelamin apalagi kepercayaan, dan tentu saja buat kenaikan derajat manusia dong. Kan seneng kalo misalnya suatu saat ada alien mampir ke bumi, mereka terkagum-kagum akan peta kita yang lengkap banget, sampe desa-desa terpencil aja dipetain.

Saya sangat-sangat tertarik akan proyek yang poros kekuatannya ada di sukarelawan. Seperti ada energi berlebih dari orang-orang yang dengan senang hati menyisihkan sedikit waktunya untuk membantu sesama. Tumbuh di Indonesia, dimana rata-rata kita masih berjuang bayar KPR/BTN, gotong royong dan sukarela rasanya cuman hidup di buku pelajaran PPKN. Rasanya saya lebih sering didekati untuk jualan baju muslim daripada diajak proyek yang menambah nilai buat sesama. Atau mungkin ini saya aja ya yang fashion statement-nya bukan baju muslim dan lebih tertarik pada kegiatan yang melibatkan komputer :D

Jadi, setelah kenyang makan mie ayam dan beres belajar Mapbox Studio, saya menyisihkan jatah klak-klik saya yang biasanya buat social media dan browsing teu puguh di internet buat Missing Maps. Terbukti lebih bikin hepi daripada baca soal demo hotel zodiak di Bandung dan berita lainnya yang cenderung bikin resah. Saya juga ga sabar nulis pengalaman berpartisipasi di Missing Maps. Karena missing maps lebih baik daripada officially missing you #kriuk.