Musik 2018

Tahun 2018 gw ga banyak dengerin album-album baru keluaran tahun ini. Karena gw mengalami pergeseran selera yang kurang bisa dimengerti, hanya bisa dijalani… eh ini ngomongin apa sih? Jadi menurut Spotify, 5 album yang gw dengerin terus menerus di tahun 2018 adalah: Kuai – Childish Gambino, Call Me by Your Name soundtrack, Tapestry – Carole King, Raphael Saadiq dan Little Dragon. Terasa random tapi ga ada album baru.

Jadi untuk rangkuman musik tahun 2018 yang telat sebulan ini, gw mau bikin top 5 konser musik yang gw datengin tahun itu. Here you go…

5. Raphael Saadiq di Lincoln Centre

Horeee Raphael Saadiq mampir lagi di New York! Kali ini sebagai bagian dari rangkaian Lincoln centre summer series. Gratis! Tapi terus hujan… Yaaahh, kecewa. Untungnya hanyalah gerimis, jadi konser berlangsung terus, dan kita joged-joged di bawah payung dan jas hujan. Kali ini Raphael tampil lebih minimalis dibandingin waktu dia di Afropunk. Senang soalnya lebih fokus sama lagu-lagunya sendiri. Lalu, ternyata dia banyak omong ya… Ada aja cerita-ceritanya sampe kadang gw ga sabar :D Tapi oh Raphael Saadiq, musikmu yang ciamik, aransemen yang apik dan vibe konser yang mencakup segala demografik, mau lagi dooongg…

4. Aimee Mann di Prospect Park Bandshell

Sebenernya album baru Aimee Mann termasuk album baru tahun 2018 yang keren banget. Hanya karena kandidat lainnya dari tahun lain, jadi kita skip deh. Dan karena album ini juga dia tour lagi. Untungnya Prospect Bandshel tanggap, gratis (!!) Maka di suatu hari musim panas yang cerah ceria, kita semua tersihir oleh betapa simpel dan indahnya musik Aimee Mann. Padahal cuman Aimee nyanyi sambil main gitar akustik dan drummer, tapi ya ampun syahduuu banget deh. Aimee juga cerita tentang beberapa lagu, misalnya Goose Snowcone yang ternyata tentang kucing temennya. Membuat gw yang tadinya biasa aja sama lagu itu malah jadi suka banget.

3. Dead Boys di Bowery Ballroom

Tentunya harus ada satu kandidat dari Please Kill Me ;) Karena tahun lalu gw keabisan tiket The Heartbreakers, jadi begitu ada artis yang dari Please Kill Me manggung, langsung deh beli tiketnya. Keren banget Dead Boys, walaupun tanpa Stiv Bators. Tapi vokalis barunya pun geron, gayanya beda tapi tetap mencuri perhatian sebagai frontman. Konser ini taada foto maupun video karena gw sibuk moshing ;)

2. Rufus Wainright di Beacon theatre

Gw bukan type yang sentimental gimana kalo nonton konser, tapi pas nonton Rufus brebes mili aja dooongg… Beneran ini nangis karena lagu, bukan karena kaki keinjek. Gimana ya, Rufus nyanyi Both Sides Now-nya Joni Mitchell dengan pelan dan dengan cengkok Rufus yang khas. Lalu gw kan jadi inget adegan Love Actually pas ada lagu ini… Mehek mehek…

Konsernya sendiri terlaluuuu manis dan menyenangkan. Rufus bernyanyi lirih, banyak ngelucu dan ya tau sendiri ya gaya nyanyi Rufus yang menggeolkan nada-nada lagu itu sangat khas.

1. Chidish Gambino – Madison Square Garden

Tahun 2018 memang tahunnya Donald Glover. Gw termasuk telat ngeh, tapi begitu kepatil langsung deh menjajal semua karya doi. Dari mulai dengerin semua albumnya (sampai hari ini ga bosen), nontonin semua video clip-nya, nonton Atlanta dan mulai nonton Community walopun ga diterusin karena disini Childish Gambino masih.. childish :D Puncaknya, nonton konser di Madison Square Garden (MSG). Show ini digelar dua kali dan seluruh tiket ludes aja gitu. Kapasitas MSG itu 20.000 orang ya, sodara-sodara. Penuh. Dan salah satu di antara sekian banyak orang itu adalah gw yang kelojotan nonton Donald Glover uget-uget selama dua jam. Keringat di punggungnya yang telanjang itu, ugh…

Terlepas dari obsesi gw pada sosok Donald Glover, konsernya sendiri megah, penuh kejutan dan salah satu konser paling keren yang pernah gw datangi. Bahkan visualnya pun ga tanggung-tanggung, layar raksasa high definition yang saking jernihnya gw kadang siwer mana manusia yang beneran. Setiap lagu ditampilkan dengan tata panggung dan nuansa berbeda. Belum beres kekaguman akan satu lagu, udah dihantem penampilan baru. Di tengah-tengah konser, Childish Gambino keluar dari panggung lalu keliatan dari layar kalo dia jalan-jalan di belakang panggung MSG terus ikutan nimbrung di penonton. Mau histeris ga siihhh…

Terus pas lagu This is America, penarinya akrobat sedemikian rupa. Iya beneran, pada salto di panggung. Konser ditutup lagu Redbone dan lengkingan falseto Childish Gambino terngiang-ngiang di telinga gw berhari-hari.

Sempet kepikiran untuk nonton konser yang besoknya, haha.. Tapi jujur aja tak mampu secara energy dan finansial :D

Setelah nonton Childish Gambino, gw rehat sejenak, ga mau nonton konser apapun kecuali konser MC5 dan Rufus yang memang udah beli tiketnya dari jauh hari. Bukan apa-apa, dalam hitungan seminggu gw nonton Dead Boys, nonton film Public Image Limited, nonton Childish Gambino lalu nonton MC5. Selera musik boleh tetap muda dan rock n roll, tapi badan sudah renta cuman pingin goler-goler di rumah :D Agak nyesel juga sih ga nonton Little Dragon, tapi ya udahlah. Tidak usah FOMO ya mbak :)

Tahun 2019 mau mulai nonton musik lagi, tapi ya… hmm… Pingin nonton Afropunk, karena tahun lalu beneran keabisan tiketnya dan tiket tangan keduanya pun mahaalll… Tapi prioritas sih, konsernya duduk aja gitu ya? #ManulaUnited

Iklan

Musik akhir-akhir ini

Kalau diperhatiin, setahun ini gw jarang banget nulis tentang musik. Padahal niat awalnya pingin rajin nulis tentang musisi-musisi baru. Demi mementahkan mitos musik yang enak itu hanyalah musik lawas.
Mitos ini tidak benar adanya dan kalo ada yang mau dengerin musik 90-an terus-terusan juga gapapa. Gw pribadi sih sedang senang-senangnya mengeksplor dua genre musik: rap/hip-hop/R&B dan musik punk ala Please Kill Me.

Dua genre musik ini bukannya ga pernah gw dengar sebelumnya. Hanya porsinya ga pernah sebanyak ini. Awal 90-an, saat pertama kali gw gandrung musik, gw selalu dengerin Radio Oz setiap saat kecuali di sekolah dan di tempat-tempat umum. Di masa itu, musik Radio Oz ya seperti radio anak remaja pada umumnya, banyak memutar lagu-lagu pop Top 40, termasuk Tony Tony Tone, Montell Jordan, Surface, dll. Musik ini walopun gw suka tapi ga sampe tahap gandrung dan tergila-gila. Karena lalu datanglah gelombang metal (walopun tinggal sisa-sisa perjuangan) yang akhirnya dilibas oleh musik grunge dan alternatif. Yang mana gw langsung penggemar berat.
Semenjak pertengahan taun 2016 sebenernya gw mulai meninggalkan musik-musik indie rock, dan mengeksplor musik-musik lain. D’Angelo dan Raphael Saadiq adalah cikal bakal CLBK-nya gw sama musik-musik dengan beat yang groovy ini *please excuse my Jaksel Englesh*. Nah tahun ini gw mulailah dengerin semua itu Nicki Minaj, Cardi B, The Weeknd, Logic, Chance the Rapper, dll. I love them all. Gw akhirnya ngaku kalo suka Kanye juga :D
Dan tentunya di antara semua itu, juaranya adalah… yes, the one and only Donald Glover alias Childish Gambino. Gw beneran jatuh cinta, smitten dan kebat-kebit sama mas yang jago akting, nyanyi dan masya Allah kalo nonton dia nari rasanya geraaahhh banget. 3005 dan album Kauiai diputer tak henti-henti selama seminggu.

Di sisi lain, gw tentunya ga meninggalkan rock n roll yang kayaknya selalu kuhembuskan di setiap denyut napasku. Aseeekk. Karena pada awal tahun gw namatin buku Please Kill Me, maka gw mulai mencicil pe-er dengerin musik-musik di buku ini yang belum pernah gw dengerin secara intens sebelumnya. Gw mengulang-ngulang Velvet Underground, Dead Boys, MC5 sampai Richard Hell, dan tentu saja my new spiritual guru: Iggy Pop. Ini juga ditambah Punk Essentials seperti the Clashed, the Damned dan the Jam. Ada energy tak habis-habis dari musik-musik ini. Sekaligus cocok banget sih kalo lagi kesel sama temen kantor :D

Jadi begitulah pencarian musik akhir-akhir ini. Monmaap buat musisi masa kini yang luput dari perhatian gw. Tapi hey, gw dengerin Migos, this is progress!! :D

Call Me by Your Name

callmebyyourname

Sepuluh bintang di imdb dan lima bintang di Goodreads tidaklah cukup untuk menggambarkan betapa gw terobsesi dengan Call Me by Your Name.

Awalnya tertarik nonton filmnya akibat review oke dari berbagai media dan newsletter Alamo Drafthouse. Gw jadi punya ekspektasi tinggi. Pada dasarnya suka film-film drama model begini. Konflik yang terbangun pelan-pelan, jokes yang sekedarnya tapi kena, perkembangan karakter yang menarik, ditambah film ini ala-ala eropa banget. Udah gitu latarnya Italy tahun 1983, summer, omg gw langsung kangen hari-hari lambat ga ngapa-ngapain di kota kecil. Sukaaaa…

Gw sih ga ngerasa film ini norak sebagai gay porn ya, malah kisah cintanya manis banget. Banyak momen-momen menghangatkan hati seperti saat Elio dan Oliver sepedaan berdua, atau pas mereka nari-nari dengan lagu Love My Way, mengingatkan gw pada hari-hari di Avignon. Adegan bapaknya Elio ceramah singkat ke Elio juga kena banget. Sebelah gw sesenggukan maksimal.

Ditambah akting Timothée Chalamet ciamik banget. Kerasa gitu ni anak petakilan tapi pinter dan dalem. Tante sukaaa…

Tapi emang ujung-ujungnya rada datar sih. Konfliknya terlalu simpel. Bahkan pada saat Elio patah hati dan nangis di depan perapian, I feel nothing. Entahlah, mungkin pas adegan terakhir itu harus dielaborate lebih lanjut?

Karena suka banget adegan pas Elio dan Oliver nari-nari di lagu Love My Way, besoknya gw langsung dengerin soundtrack Call Me by Your Name. Huwaaa… Ini kok sealbum keren semua. Gw suka sekali lagu-lagu instrumental piano, terutama yang judulnya Une Barque sur l’Ocean. Ajaib ya lagu ini, bisa banget lewat nada-nada terasa hawa-hawa pantai, persis seperti hari-hari Elio dan Oliver di Crema. Saking seringnya bolak-balik dengerin album ini, Spotify sampe nawarin playlist Calming Piano :D

Ada dua genre musik lagi di album ini yaitu musik-musik 80-ies yang kental dengan irama keyboard dan dentuman drum machine, sperti Love My Way, dan satu lagi Sufjan Stefans. Yang terakhir musik indie tenang mengalir dengan vokal lirih Sufjans dan lirik yang jleb. Sufjan juga dapet nominasi Oscar untuk best original score. Kombinasi ketiganya membuat gw betah dengerin album ini berulang-ulang, mood-nya langsung berubah tiap dengerin album ini.

Media ketiga yang harus dijajal adalah baca bukunya dong. Inilah asal muasal Elio.

Buku karya André Aciman ini tipis aja, ga lebih dari 250 halaman, dan plotnya sesimpel naskah filmnya. Tapi, oh my God, elaborasi perasaan, keragu-raguan, bahagia dan sedihnya Elio bener-bener dijewantahkan panjang lebar dengan kalimat-kalimat yang manis. Seluruh buku diceritakan dari sudut pandang Elio, penuh dengan pikiran-pikirannya sebagaimana kita sehari-hari yang kadang kebanyakan analisa ;) Yang agak berbeda, tokoh Oliver di buku ga se-superstar aura Armie Hammer di film. Malahan di benak gw, Oliver di buku ini ramah manis, type cowok cakep tapi semua orang pingin dekat dan menghabiskan waktu dengannya. Di buku, Oliver masih muda, 24 tahun, sedangkan Elio umur 17 tahun. Ga nampak fedofil kan? Sah-sah aja untuk naksir-naksiran. Sedangkan di film Oliver nampak berusia 30-am dan Elio loloslah umur 15 tahun mahh…

Perbedaan lainnya yang menurut gw membuat bukunya jauh lebih keren dari filmnya adalah di buku ada adegan Elio dan Oliver main ke Rome lalu mereka book party, makan-makan dan bersenang-senang di Rome. Gw sukaaaa sekali sama bagian ini. Ada perasaan hangat saat kita jalan-jalan dengan nuansa romansa, lalu ketemu banyak orang dan dalam waktu singkat membaur dengan orang-orang baru itu. Udah gitu yaaa… Ada cerita bertahun-tahun kemudian saat Elio udah sangat dewasa dan Oliver beranak pinak, dan bagian ini makjleb banget. Gw rasa kalo difilmin pake lagu Sufjan Stefans gw bakalan cirambay.

Tapi emang film, buku dan musik Sufjans itu jatuhnya either you love it or hate it. Mungkin itu yang membuat filmnya diperdebatkan panjang. Saya mah, udahlah punya obsesi baru: Timothée Chalamet, summer di Italy dan musik-musik John Adams.

Gambar nyolong dari: https://thetempest.co, credit CMBYN.

Musik 2017

2018

Man oh man, secara musikalitas, tahun 2017 ini penuh dengan kembalinya musisi “muda” dengan album yang dahsyat. Kalo taun lalu gw kesulitan bikin daftar 5 album baru, tahun ini gw bisa deh panjangin daftar jadi sepuluh album. Tapi males nulisnya (teuteup). Berikut adalah 5 album baru yang gw dengerin berkali-kali di 2017:

Plural – Electric Guest
Sudahlah tak usah ditanya, 2017 was the year of me and Electric Guest. Terima kasih Assa Taccone atas talenta dan karyanya. Alhamdulillah juga, sepanjang 2017 gw nonton Electric Guest dua kali. Termasuk kali kedua mereka mainin lagu Glorious Warrior.
Di penghujung 2017 mereka ngeluarin clip buat Oh Devil yang manis dan kocak. I think Assa is also a very good actor :)

Crawl Space – Tei Shi
Jesse pertama kali nemuin Tei Shi, gw seperti biasa terkena imbasnya. Crawl Space, album kedua Tei Shi, adalah album yang kompleks, serumit ras Tei Shi yang campuran Argentina, Polandia, Colombia, besar di Canada dan tinggal di New York. Ada rasa R&B yang kental di album ini, tapi juga nuansa dream pop, synthesizer modern dan 90an. Gw suka suka suka banget vokal Tei Shi yang tipis, bahkan nada-nada tinggi dinyanyikannya dengan lirih manis. Favorit gw lagu Say You Do, karena mirip lagu baladanya Janet Jackson..

Flower in the Dirt – Paul McCartney and Elvis Costello
Bukan nama dan album baru, tapi karena Flower in the Dirt di-reissue, ada sekitar 10 lagu versi demo sebagai tempelan. Di lagu-lagu itu, Sir Paul dan Mas Costello nyanyi dan bermain musik akustik pul. Gw malah lebih suka versi demo ini. Dua nama ini udah jaminan mutu lagu-lagu brilyan, sehingga versi akustiknya lebih menonjolkan cantiknya hook melody dan manisnya harmoni vokal mereka. Malah album aslinya menurut gw terlalu country rock, produsernya gimana seh neeehh. Favorit gw adalah You Want Her, lagu ini terkesan nakal ;)

Something to Tell You – HAIM
Ini juga salah satu yang ditunggu-tunggu banget di tahun 2017. Udahlah ya ga usah diulas panjang lebar lagi betapa serunya trio ala ala Wilson Phillips kawin dengan Fleetwood Mac. Publisistnya HAIM juga kreatif banget, content mereka di sosial media keren-keren. Nih contohnya waktu mereka joged-joged di lagu Oops I Did it Again. Aren’t they the coolest sisterhoods? #sisterhoodgoals

drunk moms at a bar mitzvah

A post shared by HAIM (@haimtheband) on

 

Offering – Cults
Masih dengan formula yang sama, album ketiga Cults ini lebih ceria dan seru. Sentuhan “musik dari kamar sendiri” sudah agak berkurang, lagu-lagunya lebih serius tapi tetap terasa ringan. Dari menjamurnya indietpopronic semenjak taun 2011, hanya beberapa yang betah gw dengerin selbumeum, dan salah satunya adalah Cults. Lagu-lagu mereka walopun terkesan bermain-main tapi solid dan cukup bervariasi dari lagu ke lagu dan album ke album. Favorit gw di album ini adalah Offering yang walopun awalnya standar tapi sisa lagu nempel di kepala.

Honorable mention: Mythological Beauty – The Big Thief
Walaupun gw ga dengerin album Capacity terus menerus, tapi gw dengerin lagu Mythological Beauty on loop selama dua hari. Suka banget sama nyanyi yang bagaikan bisik-bisik dan musik ringan di latar belakangnya. Emang deh, gw gampang kepatil sama hawa-hawa dream pop.

Itu semua dan masih ditambah album baru Aimee Mann, Feist, Tennis, Adult Mom, Iron & Wine, dll. Breaking news: Rhye ngeluarin single baru!! Seru kan musik 2017? Come on 2018, bring it on now :)

Apa album atau musik favorit 2017 kamu?

Nice Boys Don’t Write Rock n Roll

niceboys.jpgKalo ga kenal Nuran, mungkin gw juga ga ngeh ada buku ini. Tapi berhubung kita ikrib akibat silahturahmi blog nih, jadilan gw mengenal sosok “Nice Boys” ini. Tapi sungguh postingan ini tak berbayar loh.

Waktu tau Nuran nerbitin buku bertepatan dengan kurir NY-Jakarta beroperasi, langsung deh buku ini gw masukkin ke wish list. Hehe, gw emang hobi ngeberat-beratin koper orang dengan titipan buku. Ya karena susah aja sih nyari buku bahasa Indonesia di New York. Sementara selayaknya pembaca, kita ga mau ketinggalan khasanah literasi nusantara toh.

Buku ini jadi buku kedua yang gw tamatin dari tumpukan care package berupa buku dan cuankie instan. Awalnya keder juga, 576 halaman man. Buku-buku tebel udah gw lahap di musim panas dan target baca buku belum juga terlampaui. Tapi ya penasaran sih. Eh ternyata di satu Senin malam gw tamat 100 halaman dan gw menikmati sekali tulisan-tulisan mas Nuran. Keseluruhannya ada sekitar 50 cerita dan tiap ceritanya ga panjang-panjang amat, baca sekitar 5-10 menit beres.

cuankie.jpgTopik musik dan rock n roll membuat gw mudah sekali mencerna dan relate dengan tulisan Nuran. Walopun sudah diwanti-wanti ini tulisan di buku ini kebanyakan tentang hair metal, tapi gw malah jadi nostalgia saat gw dengerin Slaughter, pasang poster Sebastian Bach dan mengunting pin-up Yani Warrant dari majalah Hai. Pada masanya gw juga sempat kena demam hair metal loh! Di buku ini dibahas semuanya, dari Motley Crue sampai Skid Row. Walopun sebagian besar cerita Guns N Roses udah gw dengerin dari Jesse sebagai gossiper handal musisi US.

Karena masih muda belia, trend hair metal pada anak kelas 2 SMP segera berganti menjadi gandrung akan suara berat Eddie Vedder dan sampai sekarang gw tetap dalam perjalanan untuk menemukan my own vesion of Kurt Cobain. Hal ini juga dibahas di bukunya Mas Nuran, bagaimana kemeja flanel lusuh menggantikan kostum celana kulit merecet di layar MTV.

Ga hanya musik metal kebarat-baratan, Nuran juga membahas musisi dalam negeri dengan porsi besar untuk Slank. Ada juga cerita tentang Sangkakala, band heavy metal seru asal Jogja yang mengingatkan gw akan Seurieus dan penampilannya yang walopun ga melulu sangar, tapi selalu fenomenal.

Di awal buku, Nuran banyak bercerita tentang industri musik, di pasang dan surutnya, dan bagaimana era digital mempengaruhi cara kita mengkonsumsi musik. Bagian ini membuat gw banyak berpikir sampai bikin sketsa infografik tentang evolusi musik mengikuti teknologi. Walopun terus ga dilanjutin, tapi tetaplah mikirin bagaimana dunia musisi itu banyak terlihat glamor tapi ya di baliknya sama aja. Apakah gw masih boleh bermimpi Jesse suatu saat terkenal dan gw tinggal ikut dia tur keliling dunia? Hmm.. #posisimikir

Keseluruhan buku ini dituturkan dari sudut pandang personal tapi diimbangi dengan data-data yang valid dan wawancara dengan narasumber yang kompeten. Emang beda ya kalo wartawan beneran yang nulis. Tapi ya ga jadi kaku juga karena ada sempalan kisah pribadi yang menurut gw membuat buku ini jadi lebih menarik.

Buat gw sendiri, buku ini terasa manis dan mengingatkan gw pada salah satu niat awal gw membuat blog ini: bahwa gw suka menulis tentang musik. Walopun di tengah perjalanan gw semakin ragu, sebenernya ada manfaatnya ga sih gw nulis-nulis panjang tentang Electric Guest? Karena menurut statistik blog, terbukti tulisan tentang musik paling sedikit peminatnya. Dan kalau mau ngikutin trend, blogger papan atas Indonesia itu kebanyakan bercerita soal jalan-jalan, makanan, fesyen & gaya hidup dan teknologi. Ya kali gw nulis tentang fesyen musim gugur, baju gw didominasi kaos garis-garis, ga berminat eksplor jenis baju lain. Kebalikan dari musik dimana gw dengan teratur mencicipi musik-musik baru dan lama dengan pikiran terbuka, urusan baju gw ga banyak kepikiran. Tapi namanya juga lapak punya sendiri, ya suka-suka kita aja mau nulis tentang apa. Gw jadi semakin mantap dengan pilihan gw, biarlah blog ini tetap jadi sarana gw belajar menulis tentang musik dengan gaya gw sendiri. Dan Nice Boys Don’t Write Rock n Roll ini semacam afirmasi bahwa bisa juga ada Nice Girls Don’t Write Disco Anthem :)

Kalo mau pesen bisa kesini. Review cuankie instan menyusul ya!