Call Me by Your Name

callmebyyourname
Sepuluh bintang di imdb dan lima bintang di Goodreads tidaklah cukup untuk menggambarkan betapa gw terobsesi dengan Call Me by Your Name.
Awalnya tertarik nonton filmnya akibat review oke dari berbagai media dan newsletter Alamo Drafthouse. Gw jadi punya ekspektasi tinggi. Pada dasarnya suka film-film drama model begini. Konflik yang terbangun pelan-pelan, jokes yang sekedarnya tapi kena, perkembangan karakter yang menarik, ditambah film ini ala-ala eropa banget. Udah gitu latarnya Italy tahun 1983, summer, omg gw langsung kangen hari-hari lambat ga ngapa-ngapain di kota kecil. Sukaaaa…
Gw sih ga ngerasa film ini norak sebagai gay porn ya, malah kisah cintanya manis banget. Banyak momen-momen menghangatkan hati seperti saat Elio dan Oliver sepedaan berdua, atau pas mereka nari-nari dengan lagu Love My Way, mengingatkan gw pada hari-hari di Avignon. Adegan bapaknya Elio ceramah singkat ke Elio juga kena banget. Sebelah gw sesenggukan maksimal.
Ditambah akting Timothée Chalamet ciamik banget. Kerasa gitu ni anak petakilan tapi pinter dan dalem. Tante sukaaa…
Tapi emang ujung-ujungnya rada datar sih. Konfliknya terlalu simpel. Bahkan pada saat Elio patah hati dan nangis di depan perapian, I feel nothing. Entahlah, mungkin pas adegan terakhir itu harus dielaborate lebih lanjut?

Karena suka banget adegan pas Elio dan Oliver nari-nari di lagu Love My Way, besoknya gw langsung dengerin soundtrack Call Me by Your Name. Huwaaa… Ini kok sealbum keren semua. Gw suka sekali lagu-lagu instrumental piano, terutama yang judulnya Une Barque sur l’Ocean. Ajaib ya lagu ini, bisa banget lewat nada-nada terasa hawa-hawa pantai, persis seperti hari-hari Elio dan Oliver di Crema. Saking seringnya bolak-balik dengerin album ini, Spotify sampe nawarin playlist Calming Piano :D
Ada dua genre musik lagi di album ini yaitu musik-musik 80-ies yang kental dengan irama keyboard dan dentuman drum machine, sperti Love My Way, dan satu lagi Sufjan Stefans. Yang terakhir musik indie tenang mengalir dengan vokal lirih Sufjans dan lirik yang jleb. Sufjan juga dapet nominasi Oscar untuk best original score. Kombinasi ketiganya membuat gw betah dengerin album ini berulang-ulang, mood-nya langsung berubah tiap dengerin album ini.

Media ketiga yang harus dijajal adalah baca bukunya dong. Inilah asal muasal Elio.
Buku karya André Aciman ini tipis aja, ga lebih dari 250 halaman, dan plotnya sesimpel naskah filmnya. Tapi, oh my God, elaborasi perasaan, keragu-raguan, bahagia dan sedihnya Elio bener-bener dijewantahkan panjang lebar dengan kalimat-kalimat yang manis. Seluruh buku diceritakan dari sudut pandang Elio, penuh dengan pikiran-pikirannya sebagaimana kita sehari-hari yang kadang kebanyakan analisa ;) Yang agak berbeda, tokoh Oliver di buku ga se-superstar aura Armie Hammer di film. Malahan di benak gw, Oliver di buku ini ramah manis, type cowok cakep tapi semua orang pingin dekat dan menghabiskan waktu dengannya. Di buku, Oliver masih muda, 24 tahun, sedangkan Elio umur 17 tahun. Ga nampak fedofil kan? Sah-sah aja untuk naksir-naksiran. Sedangkan di film Oliver nampak berusia 30-am dan Elio loloslah umur 15 tahun mahh…
Perbedaan lainnya yang menurut gw membuat bukunya jauh lebih keren dari filmnya adalah di buku ada adegan Elio dan Oliver main ke Rome lalu mereka book party, makan-makan dan bersenang-senang di Rome. Gw sukaaaa sekali sama bagian ini. Ada perasaan hangat saat kita jalan-jalan dengan nuansa romansa, lalu ketemu banyak orang dan dalam waktu singkat membaur dengan orang-orang baru itu. Udah gitu yaaa… Ada cerita bertahun-tahun kemudian saat Elio udah sangat dewasa dan Oliver beranak pinak, dan bagian ini makjleb banget. Gw rasa kalo difilmin pake lagu Sufjan Stefans gw bakalan cirambay.

Tapi emang film, buku dan musik Sufjans itu jatuhnya either you love it or hate it. Mungkin itu yang membuat filmnya diperdebatkan panjang. Saya mah, udahlah punya obsesi baru: Timothée Chalamet, summer di Italy dan musik-musik John Adams.

Gambar nyolong dari: https://thetempest.co, credit CMBYN.
Iklan

Musik 2017

2018

Man oh man, secara musikalitas, tahun 2017 ini penuh dengan kembalinya musisi “muda” dengan album yang dahsyat. Kalo taun lalu gw kesulitan bikin daftar 5 album baru, tahun ini gw bisa deh panjangin daftar jadi sepuluh album. Tapi males nulisnya (teuteup). Berikut adalah 5 album baru yang gw dengerin berkali-kali di 2017:

Plural – Electric Guest
Sudahlah tak usah ditanya, 2017 was the year of me and Electric Guest. Terima kasih Assa Taccone atas talenta dan karyanya. Alhamdulillah juga, sepanjang 2017 gw nonton Electric Guest dua kali. Termasuk kali kedua mereka mainin lagu Glorious Warrior.
Di penghujung 2017 mereka ngeluarin clip buat Oh Devil yang manis dan kocak. I think Assa is also a very good actor :)

Crawl Space – Tei Shi
Jesse pertama kali nemuin Tei Shi, gw seperti biasa terkena imbasnya. Crawl Space, album kedua Tei Shi, adalah album yang kompleks, serumit ras Tei Shi yang campuran Argentina, Polandia, Colombia, besar di Canada dan tinggal di New York. Ada rasa R&B yang kental di album ini, tapi juga nuansa dream pop, synthesizer modern dan 90an. Gw suka suka suka banget vokal Tei Shi yang tipis, bahkan nada-nada tinggi dinyanyikannya dengan lirih manis. Favorit gw lagu Say You Do, karena mirip lagu baladanya Janet Jackson..

Flower in the Dirt – Paul McCartney and Elvis Costello
Bukan nama dan album baru, tapi karena Flower in the Dirt di-reissue, ada sekitar 10 lagu versi demo sebagai tempelan. Di lagu-lagu itu, Sir Paul dan Mas Costello nyanyi dan bermain musik akustik pul. Gw malah lebih suka versi demo ini. Dua nama ini udah jaminan mutu lagu-lagu brilyan, sehingga versi akustiknya lebih menonjolkan cantiknya hook melody dan manisnya harmoni vokal mereka. Malah album aslinya menurut gw terlalu country rock, produsernya gimana seh neeehh. Favorit gw adalah You Want Her, lagu ini terkesan nakal ;)

Something to Tell You – HAIM
Ini juga salah satu yang ditunggu-tunggu banget di tahun 2017. Udahlah ya ga usah diulas panjang lebar lagi betapa serunya trio ala ala Wilson Phillips kawin dengan Fleetwood Mac. Publisistnya HAIM juga kreatif banget, content mereka di sosial media keren-keren. Nih contohnya waktu mereka joged-joged di lagu Oops I Did it Again. Aren’t they the coolest sisterhoods? #sisterhoodgoals

drunk moms at a bar mitzvah

A post shared by HAIM (@haimtheband) on

 

Offering – Cults
Masih dengan formula yang sama, album ketiga Cults ini lebih ceria dan seru. Sentuhan “musik dari kamar sendiri” sudah agak berkurang, lagu-lagunya lebih serius tapi tetap terasa ringan. Dari menjamurnya indietpopronic semenjak taun 2011, hanya beberapa yang betah gw dengerin selbumeum, dan salah satunya adalah Cults. Lagu-lagu mereka walopun terkesan bermain-main tapi solid dan cukup bervariasi dari lagu ke lagu dan album ke album. Favorit gw di album ini adalah Offering yang walopun awalnya standar tapi sisa lagu nempel di kepala.

Honorable mention: Mythological Beauty – The Big Thief
Walaupun gw ga dengerin album Capacity terus menerus, tapi gw dengerin lagu Mythological Beauty on loop selama dua hari. Suka banget sama nyanyi yang bagaikan bisik-bisik dan musik ringan di latar belakangnya. Emang deh, gw gampang kepatil sama hawa-hawa dream pop.

Itu semua dan masih ditambah album baru Aimee Mann, Feist, Tennis, Adult Mom, Iron & Wine, dll. Breaking news: Rhye ngeluarin single baru!! Seru kan musik 2017? Come on 2018, bring it on now :)

Apa album atau musik favorit 2017 kamu?

Nice Boys Don’t Write Rock n Roll

niceboys.jpgKalo ga kenal Nuran, mungkin gw juga ga ngeh ada buku ini. Tapi berhubung kita ikrib akibat silahturahmi blog nih, jadilan gw mengenal sosok “Nice Boys” ini. Tapi sungguh postingan ini tak berbayar loh.
Waktu tau Nuran nerbitin buku bertepatan dengan kurir NY-Jakarta beroperasi, langsung deh buku ini gw masukkin ke wish list. Hehe, gw emang hobi ngeberat-beratin koper orang dengan titipan buku. Ya karena susah aja sih nyari buku bahasa Indonesia di New York. Sementara selayaknya pembaca, kita ga mau ketinggalan khasanah literasi nusantara toh.

Buku ini jadi buku kedua yang gw tamatin dari tumpukan care package berupa buku dan cuankie instan. Awalnya keder juga, 576 halaman man. Buku-buku tebel udah gw lahap di musim panas dan target baca buku belum juga terlampaui. Tapi ya penasaran sih. Eh ternyata di satu Senin malam gw tamat 100 halaman dan gw menikmati sekali tulisan-tulisan mas Nuran. Keseluruhannya ada sekitar 50 cerita dan tiap ceritanya ga panjang-panjang amat, baca sekitar 5-10 menit beres.

cuankie.jpgTopik musik dan rock n roll membuat gw mudah sekali mencerna dan relate dengan tulisan Nuran. Walopun sudah diwanti-wanti ini tulisan di buku ini kebanyakan tentang hair metal, tapi gw malah jadi nostalgia saat gw dengerin Slaughter, pasang poster Sebastian Bach dan mengunting pin-up Yani Warrant dari majalah Hai. Pada masanya gw juga sempat kena demam hair metal loh! Di buku ini dibahas semuanya, dari Motley Crue sampai Skid Row. Walopun sebagian besar cerita Guns N Roses udah gw dengerin dari Jesse sebagai gossiper handal musisi US.
Karena masih muda belia, trend hair metal pada anak kelas 2 SMP segera berganti menjadi gandrung akan suara berat Eddie Vedder dan sampai sekarang gw tetap dalam perjalanan untuk menemukan my own vesion of Kurt Cobain. Hal ini juga dibahas di bukunya Mas Nuran, bagaimana kemeja flanel lusuh menggantikan kostum celana kulit merecet di layar MTV.

Ga hanya musik metal kebarat-baratan, Nuran juga membahas musisi dalam negeri dengan porsi besar untuk Slank. Ada juga cerita tentang Sangkakala, band heavy metal seru asal Jogja yang mengingatkan gw akan Seurieus dan penampilannya yang walopun ga melulu sangar, tapi selalu fenomenal.

Di awal buku, Nuran banyak bercerita tentang industri musik, di pasang dan surutnya, dan bagaimana era digital mempengaruhi cara kita mengkonsumsi musik. Bagian ini membuat gw banyak berpikir sampai bikin sketsa infografik tentang evolusi musik mengikuti teknologi. Walopun terus ga dilanjutin, tapi tetaplah mikirin bagaimana dunia musisi itu banyak terlihat glamor tapi ya di baliknya sama aja. Apakah gw masih boleh bermimpi Jesse suatu saat terkenal dan gw tinggal ikut dia tur keliling dunia? Hmm.. #posisimikir

Keseluruhan buku ini dituturkan dari sudut pandang personal tapi diimbangi dengan data-data yang valid dan wawancara dengan narasumber yang kompeten. Emang beda ya kalo wartawan beneran yang nulis. Tapi ya ga jadi kaku juga karena ada sempalan kisah pribadi yang menurut gw membuat buku ini jadi lebih menarik.

Buat gw sendiri, buku ini terasa manis dan mengingatkan gw pada salah satu niat awal gw membuat blog ini: bahwa gw suka menulis tentang musik. Walopun di tengah perjalanan gw semakin ragu, sebenernya ada manfaatnya ga sih gw nulis-nulis panjang tentang Electric Guest? Karena menurut statistik blog, terbukti tulisan tentang musik paling sedikit peminatnya. Dan kalau mau ngikutin trend, blogger papan atas Indonesia itu kebanyakan bercerita soal jalan-jalan, makanan, fesyen & gaya hidup dan teknologi. Ya kali gw nulis tentang fesyen musim gugur, baju gw didominasi kaos garis-garis, ga berminat eksplor jenis baju lain. Kebalikan dari musik dimana gw dengan teratur mencicipi musik-musik baru dan lama dengan pikiran terbuka, urusan baju gw ga banyak kepikiran. Tapi namanya juga lapak punya sendiri, ya suka-suka kita aja mau nulis tentang apa. Gw jadi semakin mantap dengan pilihan gw, biarlah blog ini tetap jadi sarana gw belajar menulis tentang musik dengan gaya gw sendiri. Dan Nice Boys Don’t Write Rock n Roll ini semacam afirmasi bahwa bisa juga ada Nice Girls Don’t Write Disco Anthem :)

Kalo mau pesen bisa kesini. Review cuankie instan menyusul ya!

Afropunk dan Raphael Saadiq

afropunk1

I am still high from the Afropunk energy.
OMFG! Festival musik Afropunk dua hari ini sungguh seru, berwarna dan soulful sekaliiii…
Afropunk membuat festival Governor’s Ball maupun Austin City Limit terlihat datar dan pucat. Didominasi musisi kulit hitam dan tagline punk sebagai semangat rebel membuat festival ini bukan hanya festival musik lainnya, tapi ajang setiap orang berekspresi tentang nilai-nilai luhur seperti no sexism, no racism, no transphobia, no fatophobia, dll.
Naon deui nilai-nilai luhur. Tapi youknowlah… Semangat musik sebagai #wethepeople. Argh! *histeris tak terlukiskan*

Para penonton yang datang ke Afropunk membuat para dedek-dedek Coachella terasa membosankan. Jangan harap menemukan cewek dengan ikat kepala, celana pendek jeans robek-robek dan tanktop ala-ala Taytay (walopun ada aja sih). Audiens Afropunk hadir dengan fashion statement paling berani. Lipstik biru, rambut afro pink, crop top dan rok-rok lebar berjuntai, ga peduli ukuran :) Pada cantik-cantik amat deh…
Energi penonton Afropunk ini sungguh luar biasa. Semua bernyanyi bergoyang bau cimeng di segala penjuru :D Bebaskeunlah..

Dan taun ini headliner-nya adalah Solange dan Raphael Saadiq. Yup, the one and only Solange, the one and only Mr. Saadiq. Karena satu dan lain hal gw cuman nonton hari kedua dengan bintang tamu puncak Raphael Saadiq. Aaaaakkkkk *histeris dulu* Soalnya gw suka suka suka pake banget sama Raphael Saadiq.
Sebenernya gw tau Saadiq juga baru tiga tahun terakhir ini. Selera musik gw sebelumnya kan didominasi indie rock. Gw stop dengerin R&B taun 2000-an, karena merasa jiwa hardcore gw tak terwakilkan, hihi. Semenjak pacaran sama Jesse, mulailah gw menjelajahi musik ini kembali, dimulai dengan dengerin Stone Rollin’ dan jatuh cinta sama lagu Over You. Buat gw image Raphael Saadiq sarat akan nikmatnya R&B 90-an, lagu-lagu seksi dan cinta-cintaan sekaligus pintar dan berbobot. Produksi Saadiq selalu pas kalo ga bisa dibilang minimalis, jauh dari glamornya musik soul dan hip hop yang bertebaran di industri musik belakangan ini. Bahkan segospel-gospelnya pun musik Saadiq ga terasa keroyokan. Coba bandingin deh musik-musiknya Rihaana dan Beyonce ;) you know what I mean.
Gw juga baru sadar belakangan kalo Raphael ini salah satu pentolan Tony! Toni! Tone!. Padahal waktu Radio Oz ulang tahun, lagu Anniversarry diputer tiap jam, selama sebulaneun.

saadiqPecah dong pas konsernya di Afropunk kemaren. Entah kapan Saadiq terakhir manggung, untuk konser besar terakhir tahun 2013. Selama vakum Saadiq lebih rajin kolaborasi dan main-main di ruang produksi. Mungkin sering juga ya di West Coast, tapi penduduk New York sudah kangen sekaliiii… Secara keseluruhan Saadiq adalah penghibur sejati sekaligus musisi handal. Udah jangan ditanya suaranya yang buat gw tebal tipisnya pas, dan doi juga mahir betot bass dan gitar, main drum, etc. Kalo bisa sendirian jadi band :D
Penampilan Saadiq and the band di Afropunk kemarin megah ala show di Vegas. Full band, full brass section dan Saadiq nongol dengan buletan hitam besar di mata kirinya khas album Instant Vintage. Doi banyakan nyanyi -anehnya- lagu orang yang tentunya hasil kolaborasi atau campur tangannya sebagai produser. Agak ganggu sih, gw suka musik Saadiq karena pas dan minimalisnya kan. Tapi emang nampaknya Saadiq setelah malang melintang sebagai produser lebih suka proyek rame-rame daripada menonjolkan dirinya sebagai superstar. Dan apalah artinya itu semua ketika mas-mas hitam, bertato dan berotot di depan gw sibuk bergoyang dan bernyanyi fasih sepanjang lagu lengkap dengan ekspresi merem melek menghayati betapa sexy-nya lagu Never Give You Up. Gw sendiri sudah pecah saat lagi Dance Tonight dinyanyiin dan kembali pecah saat Anniversarry (!!) berkumandang.
Nyaris di penghujung pertunjukan hadir Bilal, yang berarti sudah saatnya lebaran *kriuk* Ga ding, tapi dia duet Soul Sister. Duwiuwiuwiuwiuuuu… seluruh penonton seolah bersiul bareng Bilal.
Konser pun ditutup dengan Sky Can You Feel Me.

Gw pulang dengan ceria dan senyum-senyum sendiri kecipratan aura bahagia berlebihan dari para fans Saadiq. Walopun harus jalan sekitar 30 menit dan sungguh kaki ini pegal bukan main, dalam hati gw bertekad untuk hadir di Afropunk tahun depan (atau di Paris, amin Ya Allah) karena festival musik ini seru banget dan salah satu festival musik unik di New York.

Something to Tell You – HAIM


Album yang paling dinantikan tahun ini.

Sampe lupa, belom nulis apa-apa tentang album barunya HAIM. Padahal ini loh yang dinanti-nanti sepanjang setengah pertama tahun 2017.

Sebenernya belum pernah nulis apapun tentang HAIM padahal levelnya setaralah sama Electric Guest dan Hinds. Kadang aja nyeletuk tentang HAIM di blog, apalagi kalo bukan ga sabar pingin album baru!!!. Dengerin HAIM bisa berulang-ulang, on repeat behari-hari. Waktu karaoke dan ada lagu The Wired, oh maaakkk hepi sekali berasa jadi Alana.

Pertama kali kenal HAIM tahun 2013, lupa gimana-gimananya, tau-tau udah muter album Days are Gone ratusan kali. Favoritnya waktu itu The Wired dan Don’t Save Me. Buat gw sih HAIM adalah suara 80is/90is yang dirindukan dengan nuansa Wilson Phillips yang modern. Produksi rekamannya bersih, lengkap dengan harmoni paduan suara ala Wilson Phillips, tanpa embel-embel electronika berlebihan yang saat itu lagi menjamur. Ditambah ketiga kakak beradik HAIM ini main musik dan terlibat sangat intens dalam memproduksi albumnya. Ya kira-kira begitulah.
Pas banget, waktu itu gw masih gandrung nonton festival musik sana sini, dan mereka salah satu line up bawah di Austin City Limits. Hore hore mari nonton HAIM! Walaupun realitanya kita memilih makan Macdonalds (penting banget), ngantri cukup lama menuju venue dan sebagian besar dengerin HAIM dari pager luar. Tapi gw lihatlah aksi-aksi terakhir HAIM ini cukup seru. Danielle dengan gaun spaghetti strap bunga-bunga (sumpah deh satu seri sama boots dan topi lebar berbunga matahari, if you know what I mean), mainin bass dram di tengah panggung lalu dia moshing. Penontonnya waktu itu juga segelintir.

Lalu album barunya? Ya tentu aja HAIM banget! Alias gw udah fans berat dan kangen banget, hingga udah ga bisa mengulas dengan objektif. Tapi suara-suara alahaim ini emang ga ada kan akhir-akhir ini? Bahkan CHVRCHED dan Chairlift aja yang menurut Spotify mirip, menurut gw masih terdengar terlalu indie dan modern.
Album Something to Tell You ini pun kental dengan tema patah hati, yang mana kita semua familiar banget kaaan… Elo aja kali Dit *ditoyor pemirsa* Tapi beneran ga salah menurut NME album ini cocok jadi soundtrack road trip pasca putus hubungan pacaran bareng sahabat-sahabat sambil berseloroh “Cowok brengsek!!” tapi terus pas bagian “Just to know that I want you back..” diaminin banget. Pokoknya pas banget pas bagian masih ngarepnya itu loh.
Sejauh ini sih lagu favorit gw A Little of Your Love, Ready For You sama I Want You Back. Gw juga suka Right Now, nomor balada yang diselipkan terakhir. Formula album 90-an banget kan ya, album keseluruhan pop upbeat tapi pentinglah diselipin satu dua lagu sedih. See? Ga berubah kan HAIM ini walopun sekarang udah jadi sahabatnya Taylor Swift dan mendapat arahan dari Stevie Nicks.

Kadang sambil dengerin HAIM gw mikir, apa bener ya kata orang, musik bagus itu cuman ada di masa pertumbuhan? Terbukti kan gw sukanya musik-musik 90is dan kalo ada musik baru pun pasti memper-memper. Apakah benar kita ini sekarang termasuk old soul yang telinganya menutup dengan sendirinya terhadap kemajuan musik setelah ambang pendengaran kita perlahan-lahan menurun? Hmm…
Tapi lalu lagu You Never Knew dari HAIM berkumandang, intronya sangatlah pekat dengan pengaruh Fleetwood Mac, dan gw mikir lagi, pusing-pusing amat sih. Musik mah dinikmati aja sesuai suasana hati. Dan sah-sah saja menikmati HAIM walau ga patah hati tapi lebih kepada nostalgia akan musik-musik radio Oz jaman dulu.