What’s SUP, doc?

IMG_0577

Summer is here! Horeee!! Well, udah dari sebulan lalu sih musim panasnya, sempat agak tersendat karena aktivitas puasa, dsb. Tapi beneran sekarang udah summer bangeettt… Udah beberapa kali ke pantai dan punya hobi baru yaitu: SUP alias Stand Up Paddleboard bukan SUP Konro… :D

SUP udah beken dari beberapa tahun lalu, katanya sih trend ini dimulai dari Hawaii. Waktu itu anak-anak mendayung di papan yang lebar dan lebih stabil untuk motret orang-orang yang berselancar. Ga tau juga anak siapa dan ga disangka jadi olahraga baru untuk kawasan air tenang. SUP sendiri menurut gw mirip kano/kayak tapi sambil berdiri. Kayuhannya mirip-mirip kayak tapi karena kita berdiri di atas papan, penting banget menjaga keseimbangan. Walhasil selesai SUP kaki dan perut juga pegal-pegal. Tapi seru banget kaka… Gw mau paddleboard terus sepanjang summer, haha..

Gw suka olahraga ini karena adrenalin sedang dan mengayuh di air tenang itu cenderung  meditatif dan menenangkan jiwa. Apalagi udah jelas gw senang cebur-ceburan dan bermandikan matahari, jadi cocok deh. Biasanya gw dan Sophie (pasangan aktif mencoba berbagai olahraga) paddleboarding di Rockaway, karena kita berdua cinta pantai Rockaway, jadi abis paddleboarding bisa leyeh-leyeh di pantai.

Pertama kali paddleboarding sih kita cuman nyobain sejam aja deket deck di Jamaica Bay. Waktu itu berdiri masih gemeteran dan bingung gimana belok. Jadinya sering muter-muter tak tentu arah. Kali lain, kita merasa udah jago, pingin paddleboarding agak jauhan. Waktu awal-awal sih meluncur dengan lancar, pake dadah-dadah ke para beach goers yang lagi pesta. Giliran baliknya, oh maaakkk, arus dan anginnya kenceng banget. Gw rasa gw ngayuh mundur deh, sampe pada titik gw capek banget dan manyun ngeliat deck yang bukannya makin deket malah makin jauh. Untungnya ada om-om ber-speedboat yang baik hati. Dia menawarkan kita beserta papan kita numpang di kapalnya lalu dianterin pulang ke dermaga.

IMG_0573

Mesem-mesem sepanjang perjalanan numpang speedboat orang.

Antara malu, bersyukur dan cekikikan sepanjang perjalanan pulang.

Anyway, kami ga kapok SUP dan akan menjajal tempat lain buat mendayung. Kali ini akan cermat memperhatikan arus :)

Day 12: Musim panas

summer1
What are you most looking forward to in the next six months?

Karena kondisi keuangan tahun ini agak sempit, gw belum bisa berencana sama sekali untuk 6 bulan ke depan selain kerja keras, nabung dan berbakti demi kemaslahatan umat. Jadi mau nyontek mbak Yoyen aja, yang paling diantisipasi ya summer lah.
New York summer panasnya bagaikan Jakarta. Panas, peliket dan bau-bau kurang sehat bermunculan. Mungkin karena hutan beton kali ya, jadi gerah dan sumpek banget.
Tapiiii… Akika cinta banget sama New York summer. Sebagai anak tropis berbaju minimalis, sinar matahari, hawa panas, celana pendek dan mojitos adalah elemen alami gw :D Saat mayoritas orang di New York berpeluh kepanasan di jalan-jalan di New York, ada cewek kecil yang tersenyum lebar berjalan agak berjingkat di trotoar New York.

rooftoppartySummer berarti:

  • Berbusana koleksi musim panas seperti celana pendek, rok mini, summer dress
  • Berbagai konser musim panas, gratis, seruuu
  • Nonton layar tancep
  • Lari di Pier 6 sambil mandangin matahari terbenam
ps1

Party di MoMA PS1 sambil pura-pura mengagumi instalasi seni

  • Getting wasted on rooftop bar
  • Even better: getting wasted on museum rooftop bar
  • Party under the art installation
  • Makan chilli dan minum bir di Coney Islands
  • Dan aktivitas favorit: tiap wiken ke pantai Rockaway!
summerpineapple

Musim panas = musim nanas

Summer juga berarti ritual dua minggu di Portland, Maine, bermalas-malasan dan ke pantai tiap hari.

Udah ada sedikit rencana jalan-jalan sih, tapi belum ada detilnya (dan uangnya), jadi ya mari kita lihat saja nanti. Clue: Akan menjadi liburan spirituil ke tempat mistis dengan bebatuan merah dan pusat vortex energy bumi. Semoga jadi, amiiinnn. Ini liburan apa pesugihan sih? ;)

Apartemen baru (bag. 1)

19113429429_2cf0b20fb7_o

Musim panas telah tiba! Horeeee!!!
Tapi ga disangka-sangka kesibukan musim panas ini berkisar di: apartemen baru!
Cukup bikin stress karena berburunya banyak drama, dimulai mellow ninggalin East Village, bingung nentuin mau tinggal dimana sampe eneq liat apartemen bagus-tapi-mahal dan murah-tapi-bapuk.
Drama pertama adalah nentuin di daerah mana mau tinggal. Gw termasuk orang yang maunya tinggal di daerah okeh. Ga harus selalu paling hip, tapi gw pingin tinggal di tempat yang gw suka. Buat gw, dosa terbesar adalah tidak memanifestasikan cinta ke tempat tinggal kita. Aih. Ya ngerti sih, kadang pilihan ga banyak. Tapi karena sekarang gw punya pilihan, maka wajib hukumnya buat gw nyari tempat yg gw suka, baik apartemen maupun lokasinya. Gw ga keberatan bayar agak mahal, asal gw suka daerahnya. Toh pada akhirnya gw ingin terlibat dengan komunitas disana dan dengan senang hati memakmurkan ekonomi setempat. Gitu loh.

Akhirnya nemuin juga daerah impian, dengan kriteria masih bisa naik sepeda ke kantor dan deket stasiun subway, Brooklyn tapi bukan Williamsburg dan banyak bar restoran-nya. Bye bye Dumbo karena terlalu penuh wisatawan, bye bye Brooklyn Heights karena terlalu kekeluargaan dan helo Boerum Hill dan Cobble Hill! Asli, sebelumnya ga kepikiran pingin tinggal di daerah ini, main-main aja belum pernah. Tapi waktu pertama liat apartemen di daerah sini langsung suka karena penduduknya beragam, banyak jalan-jalan manis giung dengan stoops, pohon yang gomplok dan banyak bar-nya! Berlabuhlah hati ini.

Bye bye Dumbo, ga jadi tempat pulang kamu ya, hanya numpang lewat :)

Bye bye Dumbo, ga jadi tempat pulang kamu ya, hanya numpang lewat :)

Abis itu mulai intens nyari di daerah sini dan gw bersyukur banget nemuin broker keren yang staff di kantornya cuman dua orang, dan dia beneran bantuin kita nyari apartemen sekaligus perbaikin aplikasi. Nemuin Pak Peter ini bagaikan ketemu malaikat di tengah setan-setan jahanam #lebay. Udah bukan gosip kalo pasar properti di NY itu dibikin ribet sama kehadiran broker. Broker yang seharusnya berfungsi menjembatani tuan tanah dan calon penghuni, bisa berubah jadi sosok jahat yang memanipulasi kedua belah pihak. Udah gitu bayarannya ga murah lagi, bisa lebih dari harga sewa apartemen sebulan. Ya ada sih apartemen yang ga pake broker, dan masih ada orang baik di NY ini (selalu) semacam Stephanie yang bikin Listing Project. Tapi namanya bisnis yah, broker kadang memonopoli properti tertentu, jadi siapapun yg mau nyewa harus lewat dia. Makanya walau berat hati, gw ya menghubungi broker juga.
Broker juga cocok-cocokan ya. Sebelumnya gw kerja sama broker baik dan menyenangkan, namanya Douglas. Liat apartemen bareng dia jadi agak ringan, karena gw tau dia manusiawi, cuman ngasih liat apartemen yg dia tau kita bakal suka. Karena ada beberapa broker lainnya yang semacam jual dudut *haha istilah ini udah lama ga denger. Yang penting kejual, peduli amat konsumennya puas atau ga. Praktek macam gini bikin gw heran, bok ini apartemen gitu loh. Bukan beli ikan asin yang klo ga suka gampanglah, lupain aja.

Fiuwh, dua bulan yang amat melelahkan. Pulang ke rumah dengan hasil nihil, manyun terus masih harus bolak-balik liat internet nyari apartemen. Tapi ya, kalo dipikir-pikir lagi, berburu apartemen ini membuat gw berkunjung ke berbagai belahan New York yang ga pernah terpikirkan sebelumnya. Biasanya kalo udah liat apartemen, gw selalu jalan-jalan di sekitarnya dan kalo bisa nyobain bar-nya. Bar life buat gw penting banget, karena ini mencerminkan orang-orang apa yg akan gw temui saat gw mabuk entar. Hahaha… Gara-gara aktivitas ini gw jadi tahu ada daerah namanya Vinegar Hill di antara Dumbo dan Fort Greene. Vinegar Hill ini isinya kebanyakan gudang, tapi ada apartemen modern juga karena dia kan deket Dumbo. Udah gitu gw juga betah banget menyusuri jalan-jalan di Brooklyn Heights dan Cobble Hill. Penuh dengan apartemen tua, brownstone building dan pohon-pohon teduh, atmosfirnya Eropa banget. Gw juga nongkrong berkali-kali di Washington Square Park, taman menyenangkan yang sering terlupakan, kecuali lagi nongkrong di daerah West Village. Masih mimpi bisa tinggal di West Village, apartemennya mahal-mahal banget. Tapi ya sekarang sih mimpinya bisa tinggal di Boerum Hill aja deh.

Nemu seni di ruang terbuka begini. Dimana ini coba? #quiz

Nemu seni di ruang terbuka begini. Dimana ini coba? #quiz

Gila ya, New York ini orang baiknya bejubel dan ga abis-abis ditelusuri :)

Kangen tempat ini

Gambar

Kangen tempat ini.

Kangen tempat ini.

Musim panas kemarin saya mengunjugni Coney Islands kira-kira tiga kali. Cukup jarang mengingat tinggal naik kereta jalur kuning selama kurang lebih 60 menit.
Ga ada yang istimewa dari Coney Islands. Pantainya ga bisa mengalahkan Lampuu yang selalu terpatri di hatiku.
Tapi di Coney Islands ada theme park dan Nathan’s. Dua-duanya bernuansa jadul sehingga saya selalu merasa naik mesin waktu mengunjungi era buku-buku Judy Blume. Oh musim panas, cepatlah datang, saya kangen Coney Islands!!

Pergantian musim

Musim panas nyaris usai. Daun-daun belum menguning, tapi udara terasa renyah dan temperatur merendah. Kaki-kaki tak lagi ramai bersendal jepit, beberapa manis bersepatu lars.  Hari dan malam hampir sama panjang, dan saya kembali gelisah. Dengan berat hati saya menyarungkan badan dengan kaos lengan panjang.

Sesuka-sukanya saya pada musim panas, toh musim berganti juga. Karena mesin waktu belum terbukti secara ilmiah dan mungkin saja belum ramah pagi pengguna. Dan dunia tetap berputar. Untuk menjelang hari baru dimana matahari berpindah.

Di dekat katulistiwa, mungkin tidak terlalu terasa bedanya. Hari di ujung ataupun tengah tahun begitu-begitu saja. Sama panasnya, sama rentangnya. Mungkin yang satu lebih banyak tercurah hujan dibanding lainnya. Tapi di negara empat musim, terasa ada yang berbeda. Pola matahari mempengaruhi dingin atau panas. Manusia yang tetap ingin tinggal disini, ya beradaptasi. Saya seringkali heran, kalau tempat ini bersalut salju dan terbukti bukan lingkungan yang ramah bagi manusia normal, kenapa juga sih ngotot tinggal disini? Bukankah masih banyak tempat lengang di sekitar lintang nol?

Tapi saya mengancingkan kemeja flanel saya lalu merapatkan jendela. Saya terbang jauh kesini bukan tanpa alasan. Bukan sekedar iseng apalagi gaya. Karena kalau mau gaya, kita contoh saja Niken atau Henny yang mengecap tinggal di tempat orang liburan. Disana saya bisa centil-centilan bercelana pendek dan kaos kutung sepanjang tahun.

taman1

Sudah dua musim panas, dua musim dingin terlalui disini. Tanpa sadar saya menggunakan musim sebagai pertanda. Misalnya, musim panas lalu saya piknik di tepi sungai Hudson atau musim semi tahun ini saya makan sushi di taman. Banyak yang bilang tak terasa ya.  Saya akan menghela napas, bohong kalau tak terasa. Saya kepanasan, kedinginan, keanginan dan kena badai. Banyak yang terjadi di kota besar ini.  Berbagai peristiwa, dengan nuansa warna empat musim. Banyak yang tidak sempat terceritakan, berbagai alasan dan kendala. Tapi yang jelas, saya rela menempuh satu musim gugur dan musim dingin, untuk kembali bertemu dengan musim panas lagi. Disini.