Thursday Track: I Love Springtime in New York – Jonathan Richman

Beberapa minggu yang lalu gw nonton Jonathan Richman di Bell House. Ow yeah, Bell House salah satu venue favorit di NY. Luas, nyaman dan ga berasa dive bar banget akibat sentuhan rustic. Jonathan Richman adalah ex Modern Lovers dan sepanjang show gw keketawaan karena dia lucu banget. Kayak nonton komedian yang jago main musik.
Musiknya sendiri sederhana, hanya Jonathan main gitar akustik dan Tommy Larkins main drum. Tapi terasa penuh karena melodinya bercerita dengan lirik yang jenaka. Jonathan sangat hangat, dia nyanyi sambil senyum-senyum dan sesekali nari-nari. Hebat yah, dia ini umurnya 64 loh tapi tampangnya bocah banget.
Lagu-lagunya happy feeling, entahlah genrenya apa. Folks, hippy dengan banyak pengaruh world music. Modern Lovers sendiri lebih ke low-key punk (thus I love it), tapi karya solo Richman mengeksplor lebih jauh musik akustik di balik kesederhanaan gitar, drum dan backing vocal seadanya. Kombinasi yang pas sebagai media ceritanya yang lucu-lucu itu. Gw sih ngerasa ada sepercik French folk tapi lebih modern dengan pengaruh alternative rock. Mungkin yah. Susah mengeneralisasi musik aki-aki yang udah nulis lebih dari seratus lagu.

Susah juga milih lagu mana favorit gw. Gw suka Springtime in New York, karena pas sekali dengan suasana sekarang. Ditambah Richman nyebutin tempat-tempat favorit gw seperti Canal Street, Tompskin Square Park, dan 1st Avenue. Menggambarkan banget New York versi gw yang ga selalu melibatkan Central Park dan 5th Avenue ;)
Lagu yang gw suka juga malam itu adalah No One Was Like Vermeer. Mungkin karena Vermeer-nya. Siapa coba yang bikin lagu tentang Vermeer? Dan masih banyak lagi pelukis yang dibikinin lagu sama Jonathan. Salvador Dali, Vincent Van Gogh, sampe lagu Pablo Picasso (era Modern Lovers) yang kocak. Tapi gw setuju sama Jonathan, No One was Like Vermeer.

Vermeer was eerie, Vermeer was strange, he had a more modern color range.

Pas di show, dia bikin paragraf tambahan tentang hebatnya Marie Vermeer yang ga dapet kredit yang pantas padahal dia banyak bantu bapaknya.

Nonton Jonathan Richman mengingatkan gw sama Pidi Baiq. Gaya-gayanya mirip, musik yang simpel dan cerita nyeleneh yang ga disangka-sangka. Mungkin seru juga kalo Pidi Baiq bikin lagu buat pelukis Indonesia.

Eniwei, syukron musim semi akhirnya mampir di New York, mari kita nyanyi semua “I love spring time in New York, I do.” — sebelum nanti New York berubah panas dan lengket, which I love it even more ;)