Ngidam pancake

Acara spontan makan pancake di Jumat malam terjadi karena pesan neng Sophie tiba-tiba muncul di whatsapp, weekend kita nge-brunch pancake yang fluffy yuk! Bisa diatuurrr… Eh tapi hari ini kita lunch pho dulu yaaa… Ini gw yang ngidam karena pingin makanan berkuah dan anget di kala suhu New York di bawah minus.

Sambil menunggu hari Jumat berakhir, gw browsing-browsing aktivitas akhir pekan lalu terantuklah pada kenyataan: Bulan ini adalah bulannya pancake di Clinton Street Baking Company! Huwoowww! Jadi selama sebulan ini, Clinton Street Baking Company menyajikan pancake berbeda-beda di setiap harinya, dari Senin hingga Jumat. Saat wiken menu pancake-nya biasa aja, walopun tetap enak tentunya. Pas liat menunya wiiiihhh ngiler bangeettttt. Dari mulai German chocolate pancake, blueberry yuzu pancake sampe passionfruit pancake khusus untuk Valentine’s Day. Gw langsung heboh, memesej Sophie, ayo kita coba ini berbagai menu pancake.

Pancake ini sebenernya adalah menu sarapan pagi, tapi enak sih jadi kita makan kapan aja :D Semacam pembenaran untuk makan yang manis-manis. Gw udah mahir bikin pancake di rumah, punya resep khusus coconut pancake, tapi sebagai agen foody ya tentunya kita harus mencoba berbagai pancake di luar sana yaaa… Hihi alesan, ngaku-ngaku foody, padahal mah doyan jajan. Dulu sih pancake favorit adalah pancake-nya 7A, disediakan dengan strawberry butter atau rum butter yang lembut dan enaaakkk… Sayang 7A tutup dan semenjak itu menikmati pancake sesuka hati saja, mengikuti mood.

Clinton Street Baking Company sendiri cukup terkenal sebagai tempat brunch yang ngehits. Terkenal dengan menu brunch dan scones-nyayang katanya renyah tapi langsung lumer di mulut. Gw sejujurnya baru kali itu kesana, biasanya udah keder duluan liat antriannya kalo wiken. Tapi ternyata kita bisa ngantri online pake aplikasi, jadi ga harus berdiri di luar kedinginan. Bisa ngopi-ngopi di sekitar lalu tinggal dateng saat meja sudah tersedia.

Menu pancake ini cuma ada hari Senin sampai Jumat, maka gw dan Sophie dateng malem itu juga. Hahaha, niat pisun. Karena kita masih kekenyangan akibat pho pas makan siang, jadinya jalan-jalan dulu di pusat perbelanjaan SoHo. Liat-liat fesyen masa kini sambil membuang kalori (you wish, prett!). Jam 9 toko-toko mulai pada tutup dan kita mulai laper lalu cabs deh ke Clinton Street Baking Company. Karena Jumat malam dan sudah lewat waktu makan malam jadi ga terlalu rame, langsung dapet meja dan menyuplai kalori lagi.

Hari itu menu pancake spesialnya German chocolate pancake. Tiga tumpuk pancake yang fluffy, disiram saus coklat, serta serpihan pecan dan kelapa. Ada tambahan saus karamel juga. Enaaaakkkkk… Pancake-nya empuk dan topping-nya meriah. Saus karamelnya apalagi, manis banget… Mungkin karena itu ga disiram sekalian ya, untuk yang ga terlalu suka manis-manis akan terasa berlebihan.

Seperti biasa seporsi pancake itu terlalu besar untuk dihabiskan berdua. Apalagi kita juga pesen ayam goreng krispi dan corn bread dan sweet potatao fries. Haha.. Makan secukupnya lalu sisanya dibungkus. Udah biasa itu di marih, porsi yang belerbihan lalu dimasukkan ke kotak dan dibawa pulang. Oh, Clinton Street juga berbaik hati memberi kita scones untuk dibawa pulang. Scones-nya yang terkenal itu loh! Yum yum!!

Abis itu kita berjanji untuk double fitness features: spin class dan yoga besok. Aku suka program ini: #banyakmakan #banyakgerak :)

Iklan

Musik 2018

Tahun 2018 gw ga banyak dengerin album-album baru keluaran tahun ini. Karena gw mengalami pergeseran selera yang kurang bisa dimengerti, hanya bisa dijalani… eh ini ngomongin apa sih? Jadi menurut Spotify, 5 album yang gw dengerin terus menerus di tahun 2018 adalah: Kuai – Childish Gambino, Call Me by Your Name soundtrack, Tapestry – Carole King, Raphael Saadiq dan Little Dragon. Terasa random tapi ga ada album baru.

Jadi untuk rangkuman musik tahun 2018 yang telat sebulan ini, gw mau bikin top 5 konser musik yang gw datengin tahun itu. Here you go…

5. Raphael Saadiq di Lincoln Centre

Horeee Raphael Saadiq mampir lagi di New York! Kali ini sebagai bagian dari rangkaian Lincoln centre summer series. Gratis! Tapi terus hujan… Yaaahh, kecewa. Untungnya hanyalah gerimis, jadi konser berlangsung terus, dan kita joged-joged di bawah payung dan jas hujan. Kali ini Raphael tampil lebih minimalis dibandingin waktu dia di Afropunk. Senang soalnya lebih fokus sama lagu-lagunya sendiri. Lalu, ternyata dia banyak omong ya… Ada aja cerita-ceritanya sampe kadang gw ga sabar :D Tapi oh Raphael Saadiq, musikmu yang ciamik, aransemen yang apik dan vibe konser yang mencakup segala demografik, mau lagi dooongg…

4. Aimee Mann di Prospect Park Bandshell

Sebenernya album baru Aimee Mann termasuk album baru tahun 2018 yang keren banget. Hanya karena kandidat lainnya dari tahun lain, jadi kita skip deh. Dan karena album ini juga dia tour lagi. Untungnya Prospect Bandshel tanggap, gratis (!!) Maka di suatu hari musim panas yang cerah ceria, kita semua tersihir oleh betapa simpel dan indahnya musik Aimee Mann. Padahal cuman Aimee nyanyi sambil main gitar akustik dan drummer, tapi ya ampun syahduuu banget deh. Aimee juga cerita tentang beberapa lagu, misalnya Goose Snowcone yang ternyata tentang kucing temennya. Membuat gw yang tadinya biasa aja sama lagu itu malah jadi suka banget.

3. Dead Boys di Bowery Ballroom

Tentunya harus ada satu kandidat dari Please Kill Me ;) Karena tahun lalu gw keabisan tiket The Heartbreakers, jadi begitu ada artis yang dari Please Kill Me manggung, langsung deh beli tiketnya. Keren banget Dead Boys, walaupun tanpa Stiv Bators. Tapi vokalis barunya pun geron, gayanya beda tapi tetap mencuri perhatian sebagai frontman. Konser ini taada foto maupun video karena gw sibuk moshing ;)

2. Rufus Wainright di Beacon theatre

Gw bukan type yang sentimental gimana kalo nonton konser, tapi pas nonton Rufus brebes mili aja dooongg… Beneran ini nangis karena lagu, bukan karena kaki keinjek. Gimana ya, Rufus nyanyi Both Sides Now-nya Joni Mitchell dengan pelan dan dengan cengkok Rufus yang khas. Lalu gw kan jadi inget adegan Love Actually pas ada lagu ini… Mehek mehek…

Konsernya sendiri terlaluuuu manis dan menyenangkan. Rufus bernyanyi lirih, banyak ngelucu dan ya tau sendiri ya gaya nyanyi Rufus yang menggeolkan nada-nada lagu itu sangat khas.

1. Chidish Gambino – Madison Square Garden

Tahun 2018 memang tahunnya Donald Glover. Gw termasuk telat ngeh, tapi begitu kepatil langsung deh menjajal semua karya doi. Dari mulai dengerin semua albumnya (sampai hari ini ga bosen), nontonin semua video clip-nya, nonton Atlanta dan mulai nonton Community walopun ga diterusin karena disini Childish Gambino masih.. childish :D Puncaknya, nonton konser di Madison Square Garden (MSG). Show ini digelar dua kali dan seluruh tiket ludes aja gitu. Kapasitas MSG itu 20.000 orang ya, sodara-sodara. Penuh. Dan salah satu di antara sekian banyak orang itu adalah gw yang kelojotan nonton Donald Glover uget-uget selama dua jam. Keringat di punggungnya yang telanjang itu, ugh…

Terlepas dari obsesi gw pada sosok Donald Glover, konsernya sendiri megah, penuh kejutan dan salah satu konser paling keren yang pernah gw datangi. Bahkan visualnya pun ga tanggung-tanggung, layar raksasa high definition yang saking jernihnya gw kadang siwer mana manusia yang beneran. Setiap lagu ditampilkan dengan tata panggung dan nuansa berbeda. Belum beres kekaguman akan satu lagu, udah dihantem penampilan baru. Di tengah-tengah konser, Childish Gambino keluar dari panggung lalu keliatan dari layar kalo dia jalan-jalan di belakang panggung MSG terus ikutan nimbrung di penonton. Mau histeris ga siihhh…

Terus pas lagu This is America, penarinya akrobat sedemikian rupa. Iya beneran, pada salto di panggung. Konser ditutup lagu Redbone dan lengkingan falseto Childish Gambino terngiang-ngiang di telinga gw berhari-hari.

Sempet kepikiran untuk nonton konser yang besoknya, haha.. Tapi jujur aja tak mampu secara energy dan finansial :D

Setelah nonton Childish Gambino, gw rehat sejenak, ga mau nonton konser apapun kecuali konser MC5 dan Rufus yang memang udah beli tiketnya dari jauh hari. Bukan apa-apa, dalam hitungan seminggu gw nonton Dead Boys, nonton film Public Image Limited, nonton Childish Gambino lalu nonton MC5. Selera musik boleh tetap muda dan rock n roll, tapi badan sudah renta cuman pingin goler-goler di rumah :D Agak nyesel juga sih ga nonton Little Dragon, tapi ya udahlah. Tidak usah FOMO ya mbak :)

Tahun 2019 mau mulai nonton musik lagi, tapi ya… hmm… Pingin nonton Afropunk, karena tahun lalu beneran keabisan tiketnya dan tiket tangan keduanya pun mahaalll… Tapi prioritas sih, konsernya duduk aja gitu ya? #ManulaUnited

Desperately Seeking Richard Hell

layartancep.png

Summer di New York sudah resmi lewat. Tapi gw punya beberapa cinderamata dari musim panas ini. Tentunya gw menjadi warga New York paling hepi selama musim panas karena gw adalah mutan ex-Jakartanian yang nyaman jalan-jalan di udara panas, lengket dan bau asap knalpot :D

Selain pantai dan berbagai aktivitas seru lainnya, nonton layar tancep adalah salah satu aktivitas favorit gw di musim panas. Rasanya seneng aja gitu, gelar tiker, nyemil keripik dan selonjoran di taman sambil nonton film. Anaknya mondoyoy maksimal. Layar tancep di musim panas dari tahun ke tahun makin meriah dan makin banyak jumlahnya bagaikan jamur di musim hujan. Ada banyak layar tancep di New York, dari mulai di taman, tepi sungai dan rooftop. Waktu musim panas pertama gw di New York, tahun 2012, paling ada sehari sekali dengan lokasi yang berbeda-beda. Tahun ini bisa ada tiga kali pemutaran film, di tempat yang beda tentunya. Muncul berbagai tema, seperti film anak-anak di Hudson River Park, film Perancis di Tompkins Square Park, dll. Udah gitu makin ramelah dengan warung makanan dan minuman, DJ sebelum pemutaran film sampai vallet parking buat sepeda segala.

Tempat favorit gw adalah Brooklyn Bridge Park, karena tinggal ngesot dari apartemen, kontur taman yang berbukit menguntungkan mutan yang tingginya minimal ini dan tentunya the view beybeehhh! Namanya juga Movie with a View. Pemandangan Lower Manhattan dengan gedung perkantoran dan Freedom Tower yang mencuat, gemerlap air East River di malam hari dan kapal-kapal yang berseliweran. Tahun ini tema yang diusung adalah film karya sutradara cewek.

Nah di suatu hari Kamis gw nonton Desperately Seeking Susan. Awalnya sih ga ada ekspetasi apa-apa, hanya membayangkan film 80-an, bintangnya Madonna pula kan. Gw memang terlewat euphoria Desperately Seeking Susan pada masanya. Apa memang masih kekecilan ya? *denial* Filmnya sih simpel, bercerita tentang Roberta (Rosanna Arquette) ibu rumah tangga dari New Jersey yang kebosenan lalu karena dia rajin mantengin iklan baris di koran, dia jadi tau Susan (Madonna) bales-balesan pesan dengan seorang cowok dan bakalan ketemu di Battery Park, Manhattan. Datanglah doi ke tempat yang dimaksud, karena penasaran sama Susan juga kaann… Nah dasar film 80-an ya, adalah adegan kejeduk tiang dan amnesia segala. Lalu Rosanna cuman inget nama Susan, sehingga berpetualanglah dia di New York dengan identitas Susan ini.

Desperatelyseekingsusan

foto dari Outtake Medium

Gw beneran menikmati film ini. Seru-seru gimana gituu… Gimmick khas 80-an, perasaan dialog-dialog cewek di film lawas itu gemas yaaa… Ga secuek kayak di film2 jaman now. Terus, ternyata jaman belum banyak berubah ya, stereotipe Rosanna vs Madonna adalah ibu rumah tangga vs cewek single adalah permasalahan klasik. Udah gitu, karakter dan pesona Madonna sebagai Susan disini sungguhlah sangat Madonna. Pada jamannya yaaa… Cewek yang cuek (adegan ngeringin bulu ketek dengan hand-dryer itu sangatlah wow!) tapi juga kuat dan tau apa yang dia mau #freespiritgoal.

Hal lain yang gw suka adalah banyak cowok-cowok dengan rambut jabrik ala Johnny Rotten. Mungkin karena gw terobsesi sama era Please Kill Me, dimana punk sedang menyeruak, jadi gw agak gimana gitu sama type-type ini. Mirip sama foto viral Jokowi yang kemudian dibantah :D Ya gapapa kali Pakde…
Pokoknya sebangsa Johny Thunder, Richard Hell, gitu deh. Bikin kasuat-suat gimana gitu…
Nah pas terakhir baca credit title, eh ternyata beneran Richard Hell dong! Spontan gw berkata “F*ck yeah. That was Richard Hell!” yang lalu dipelototin ibu-ibu beranak dua di sebelah gw. Maaf buu…
Ternyata film Desperately Seeking Susan ini memang menghadirkan banyak cameo musisi lokal pada masa itu seperti Richard Hell, John Torturro, Annie Golden, dll. Oh my God! Sutradara film ini, Susan Seidelman, memang katanya “teman” mereka semua. Sering nongkrong bareng gitu deh…

Gw jadi pingin nonton film-film Susan Seidelman lainnya. Walopun dia banyakan nulis buat TV sih, salah satu yang terkenal yaitu beberapa episode Sex and the City. Sayangnya profil Richard Hell kurang cocok ya untuk nge-date sama Carrie Bradshaw :D Dan tentunya, pencarian gw akan Richard Hell tidak akan berenti. Abis gemes sih, doi tinggal di East Village dan disinyalir hanya dua blok saja dari apartemen gw waktu gw masih tinggal di East Village. Pasti deh gw pernah amprokan tapi gw ga ngeh :D

Kamu, siapa cameo favorit kamu yang ga sengaja nemu di film?

Mermaid Parade

mermaid_3Tadinya gw kira setelah tahun kelima di New York, gw akan mulai bosen dengan segala hingar bingar New York dan memilih kegiatan rendah hati seperti banyak baca buku, piknik kecil-kecilan di taman dan dusel-dusel sama kucing sepanjang hari.
Ternyata… salah besar sodara-sodara. Ya semua kegiatan males-malesan gw lakuin, tapi seru-seruan juga jalan terus! Tahun ini berawal keisengan ikutan Brooklyn Peaches synchronized swimming (yang mana masih utang ceritanya pada warganet), gw mulai lagi berkecimpung di keseruan New York, karena grup ini ikutan Mermaid Parade aja doongg…

New York emang kota yang penuh parade, apapun musimnya, ada aja deh iring-iringan massa berkostum di jalan raya. Mermaid Parade ini parade asli kreasi warga Coney Island, terutama komunitas seni. Diselenggarakan Coney Island sebagai tanda mulainya musim panas. Temanya adalah memperingati berbagai mahluk fantasi dari laut dan tentunya setiap warga yang berpartisipasi boleh dandan seajaib mungkin! Bahkan banyak yang topless ;)
Brooklyn Peaches mulailah heboh persiapan dari beberapa minggu sebelumnya. Kita ngumpul di studio puppetry-nya Gretchen, sibuk prakarya bikin rok tutu dan hiasan kepala yang gemerlap. Seruu bangett… Sebagai anak yang suka utek-utekan bikin kerajinan tangan, this is my jam! Minggu berikutnya kita latihan nari-nari di studio. Lalu dua minggu kemudian… Show time!

mermaid_persiapan

Kerajingan tangan biking hiasan kepala di studio seni-nya Gretchen.

Kita ngumpul dulu di rumah Jackie untuk sama-sama dandan (dan ngeberantakin apartemennya dengan menebar glitter dimana-mana) lalu barengan naik subway ke Coney Island. Yes, kami sengaja naik subway bikin terperangah para penumpang. Pertama kalinya gw naik subway berbaju renang :D

IMG_9723

Sebelum papanasan, kita mejeng dulu di depan rumah.

IMG_2265

Seseruan di subway.

IMG_9741.jpg

Subway platform dibanjiri mermaid.

Nyampe di Coney Island, setelah registrasi sejenak, kita langsung ikutan parade. OMG seruuuu banget. Sebenernya sepanjang hari itu gw khawatir hiasan kepala gw copot sih. Hahaha… Tapi seru seru seru, tak terperikan. Liat aja poto-potonya. Ga sampe sejam kita udah menyelesaikan rute parade lalu ya foto-foto sampe keblenger, sempet cebur-ceburan sebatas paha di pantai dan ngaso di Coney Island brewery. Sepanjang hari banyak banget yang minta foto sama kita. Abis itu ada yang pulang, lanjut ke after-party, sementara gw harus ke event berikutnya karena Jesse manggung bareng Mike Watt dari Minute Men(!!).

IMG_1797

Mejeng di depan Brooklyn Cyclone, salah satu roller coaster tertua di US.

IMG_2378.jpg

Di antara peserta parade lainnya.

IMG_2337

Kita punya mascot Merpup juga :)

mermaid_4

Because mermaids belong to the sea, belong to the water… #yousingyouloose

Besoknya mulai berseliweran foto-foto kami di media massa! Oh yeah!! Gw berdoa aja sih semoga nyokap gw ga liat paha anaknya ini nampang, hahaha… Lihatlah ramenya Mermaid Parade di Brooklyn Vegan, Daily Beast, New York Post dan Brooklyn Eagle.
Oh Mermaid Parade yang seru! Kerasa sekali aura para freaks berjiwa seni dan dimana-mana gw mendengar “You look amazing!” Aren’t we all? Dan Brooklyn Peaches yang penuh dengan cewek-cewek cantik jasmani rohani, aku cinta sekali pada kalian semuaaa… Makasih udah ngajakkin Mermaid Parade yaaa… Taun depan mau lagi!

#stayweird

mermaid_2.jpg

Featured by Daily Beast.

Puasa di New York

ramadhan.png

Tadinya tulisan ini nangkring di draft dan mungkin akan dilupakan sampai bulan puasa tahun depan. Tapi akibat ada Ramadhan post dari Deny dan Christa, jadi semangat menyelesaikan.

Ga kerasa, Ramadhan ini adalah bulan puasa keenam gw di New York. Lama-lama makin terbiasa dan makin mahir menghindari godaan syaitan berwujud reception dengan open bar :)
Selama 6 kali Ramadhan, semuanya dilakukan pas musim panas, yang menurut gw adalah puasa tingkat advance karena hari yang panjang. Imsak sekitar jam 4 pagi dan buka puasa antara jam 8-9 malam. Ramadhan taun ini maghrib paling telat jam 8.30. Tapi alhamdulillah ga nyenggol summer solstice, yaitu hari terpanjang dalam setahun dimana matahari terbit paling pagi dan terbenam paling larut malam. Dua taun yang lalu gw pernah puasa pas summer solstice, rasanya kayak mecahin rekor Mario Bros trus abis itu pingsan sampe imsak :D

Karena gw ga terlalu dekat dengan komunitas Indonesia dan muslim disini, bulan puasa ya berjalan seperti hari-hari biasa. Kantor berjalan seperti biasa, deadline menghantui karena syaitan yang satu ini tidak dibelenggu :| Ga ada keringanan untuk dateng telat dan pulang duluan. Buat gw kerja sambil puasa kadang jadi lebih produktif, karena ga harus mikirin makan pagi, ngopi dan makan siang. Tinggal kerja aja kerja, diselingi sholat Dhuhur atau kadang gw rehat sejenak baca buku dan menikmati matahari di taman.

Jam lima sore langsung beres-beres pulang. Gw udah ga maksain naik sepeda, karena rendahnya kadar gula darah di sore hari membuat gw ngantuk dan sering ngelamun. Kegiatan ngabuburit pun ga terlalu bervariasi lagi karena gw cuman pingin tidur siang sepulang dari kantor. Baru pas weekend bisalah kita jalan-jalan setitik, lalu tidur siang lagi :D

Buat gw, godaan puasa biasanya bukan haus dan lapar, melainkan ngantuk bangeettt. Gusti, susah banget bangun pagi abis sahur. Mau ga tidur lagi mana tahan gw hidup dengan tidur hanya 3-4 jam. Dan kalo diitung-itung, tidur selama bulan puasa emang defisit banget sih. Isya jam 10, yang berarti gw paling cepet bisa tidur jam 11-an, dan jam 3 harus udah bangun buat sahur, karena fajar sekitar jam 3.45. Abis itu tidur lagi sekitar jam 5, karena biasanya gw leyeh-leyeh, nyuci piring dan baca buku sebelum bisa balik bobo.

Yah, sama godaan dari berbagai keriaan di New York dan gw harus say no to wine bar :|

Puasa sendirian juga berarti ga pake ribet nyusun menu ini itu. Yang gampang aja deh, yang penting ada manis-manis pas berbuka dan makan malem bergizi. Biasanya gw sedia korma, buah-buahan dan sepotong kueh buat takjil. Makan malem disesuaikan dengan mood dan kadar kebrangasan :D Tapi biasanya gw udah nyiapin makan malem banyak, eh baru makan setengah porsi udah males. Karena ternyata badan gw lebih memohon gw untuk minum daripada makan.
Sahur apalagi, kalo bisa yang tinggal mangap. Menu sahur andalan gw, sekaligus my comfort food of all time: nasi + telor ceplok + abon + kecap manis. Kadang bikin telur dadar bayam + roti. Biasanya menjelang akhir-akhir gw udah bosen sama menu telor-teloran ini, dan lebih suka oatmeal + buah-buahan. Dan tentunya tiap Ramadhan pasti aja ada episode kebablasan sahur :D

Gw juga semakin terlatih menikmati New York sambil puasa. Nonton konser jalan terus, walopun udah ga sesering dulu, tapi ya emang puasa atau ga, gw lebih memilah-milah konser musik. Ternyata ga susah juga kok puasa sambil nonton musik, asal ga jejingkrakan aja. Hari Jumat kmaren gw nonton Belle and Sebastian di Forrest Hills Stadium karena dapet tiket gratis (rejeki anak solehah banget deh ini), dan untungnya bisa duduk dan ada food bazaar-nya juga. Jadi pas jeda antara opening act dan Belle and Sebastian, gw jajan lalu menikmati beduk maghrib berupa lagu The Boy with an Arab Strap ;)

Yang masih tersendat-sendat adalah urusan tarawih. Di dekat apartemen gw ada mesjid lumayan gede. Gw pernah ikut tarawih sekali disitu, tapi ga geunah deh. Bagian wanita penuh sama ibu-ibu dan anak-anaknya terus rusuh. Banyak anak kecil berseliweran, terus ibu-ibu di bagian belakang rumpi banget. Udah gitu karena bagian wanita ini dekat dengan ruang iftar, bau makanannya menggoda iman ya. Alih-alih khusyuk, gw jadi males ke mesjid dan kangen mesjid East Village yang mungil dan sederhana. Udah gitu kepikiran banget pingin buka daycare (atau nightcare) selama bulan puasa biar ibu-ibu bisa beribadah juga. Ide daycare ini juga selalu terasa mendesak setiap sholat Eid.

Meskipun begitu, Ramadhan selalu terasa manis semanis es cingcau ijo yang amat kurindukan. Senang menikmati jalan kaki menuju mesjid, malam-malam panjang menjabarkan mimpi-mimpi dalam bentuk doa dan yang paling gw suka, kedekatan dengan diri sendiri dan Tuhan semesta alam.

Selamat menuntaskan ibadah puasa bagi yang melaksanakan, semangat tinggal tiga hari lagi!