Pesta itu bernama demokrasi

Selama masa kampanye ini saya tidak berhasil nulis apapun di blog, walopun sejuta unek-unek gerundelan di hati. Tidak sempat rasanya merangkai kata-kata saat sosial media begitu ramainya dan setiap hari ada saja tulisan bagus yang menginspirasi. Tapi kali ini dicoba deh. Tanpa ada maksud mengajak apa-apa, kecuali sebatas kanal cerita biar lega. Pengalaman selama Pemilu ini seru sekali sih.

Dari pertama, bahkan sebelum Jokowi dan Prabowo resmi mendaftarkan diri di KPU, buat saya udah jelas hitam putihnya. Mengikuti sepak terjang Jokowi dari beliau jadi walikota Solo, dan saat ‘blusukan’ nonton konser rock, jelas Jokowi mencuri perhatian. Sebagai apapun posisinya, kesederhanaan Jokowi bikin saya merasa bok ini loh jadi orang tuh kayak gini. Santun, sederhana dan bener-bener bekerja buat rakyat. Siapapun lawannya, sosok Jokowi dan cara beliau ngomong pelan-pelan dan menghormati orang lain bikin jatuh hati. Pokoknya fangirl abis.

Bahkan saat Jokowi meniti karirnya jadi calon gubernur, hingga sekarang calon presiden, hati kecil saya kadang ga rela. Pinginnya sih di setiap kota di Indonesia ada yang begini, pekerja cakap dan terampil mengatur kota, terbukti Solo maju dengan cantiknya. Tapi, penduduk Solo yang mayoritas dukung Jokowi itu aja rela, masa saya disini misuh-misuh.

Tapi ya mungkin udah saatnya Jokowi maju, karena pemilu ini berhasil dibikin rame! Coba berandai-andai, kalau lawannya Prabowo bukan Jokowi, apakah akan seramai ini?

Masa pendukung Jokowi, sebagian besar datang dari partai Metallica. Sumber: Merdeka (bukan Soes)

Masa pendukung Jokowi, sebagian besar datang dari partai Metallica.

Buat saya sendiri, pilihan itu begitu jelasnya. Saya menjunjung tinggi hak asasi manusia. Buat saya itu nomer satu dan gak ada harga tawar buat ham. Termasuk di antaranya hak hidup dan hak kebebasan beragama. Saya juga percaya, kebenaran itu harus disuarakan. Hal-hal mendasar itu yang saya liat ga ada di Prabowo.  Terlepas Prabowo menculik mahasiswa atau tidak, rusuh di Santa Cruz atau tidak, di manifesto Gerindra jelas termaktub, bahwa buat beliau ham adalah sebatas isu politik. Saya mau presiden saya menganggap ini isu penting, dan memperjuangkannya buat seluruh umat, tanpa kecuali.

Pilihan boleh saja berbeda, karena setiap orang punya berbagai kepentingan dan preferensi. Buat saya, cowok bersepeda itu seksi (kode), buat yang lain cowok yang terjun dari helikopter itu pemberani. Atribut militer, ga pernah menarik buat saya. Di satu perdebatan panjang di media sosial, saya terpekur dan berangan-angan seandainya milih presiden ini kayak milih agama, personal dan terserah masing-masing individu. Tapi gimana dong, presiden ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Presidenmu ya nanti jadi presidenku juga. Mungkin ini yang namanya dinamika kehidupan bernegara.

Tapi sudahlah. Masa kampanye sudah berakhir, ga boleh lagi bahas visi misi, dan saya nanti akan merindukan penuhnya timeline media sosial dengan berita politik, baik dari yang sungguhan kredibel dan akurat maupun yang ga jelas dan ngawur, bikin ngakak-ngakak. Ga jarang, ini dibarengi gerakan mengelus dada tetangga ;)

Pemilu ini, walopun saya secara fisik berjarak dan kebanyakan memantau lewat media, buat saya tetap begitu menariknya. Selama pemilu, setiap hari saya belajar hal baru. Jujur aja, saya ini anak ilmu pasti, suka matematika dan untuk waktu yang lama kurang mudeng sama sejarah. Saya lebih suka menghabiskan waktu dengerin musik dan mengkhayal cerita romansa. Tapi selama masa kampanye pemilu ini, begitu banyak tulisan bagus tentang sosial, sejarah dan pelajaran berkebangsaan hadir di timeline media sosial media. Terima kasih kepada indoprogress, sunardian, dan berbagai media lainnya. Tulisannya begitu menginspirasi, membuat mata terbuka dan berpikir panjang. Saya bahkan terdorong untuk membaca laporan chega, tapi pas tau 2000 halaman, yuuukkk isuk deui. Maaf, kemampuan saya belum secanggih itu :P Tapi terima kasih untuk semua pihak yang sudah mengingatkan bahwa tulisan yg bernas dan riset yg mendalam itu ada. Tinggal kitanya aja, mau belajar ga.

Selama masa pemilu ini. saya belajar bikin martabak.

Selama masa pemilu ini. saya belajar bikin martabak.

Saya akan rindu thread fesbuk panjang dimana setiap menit ada saja yang urun berpendapat. Hak bersuara adalah hak asasi, itu dijamin negara. Saya disini minta maaf untuk siapa saja yang merasa kata-kata saya kelewat tajam dan mungkin cerewet. Tapi di ruang-ruang inilah kita belajar berdialog dengan elegan. Belajar bicara dan mendengar, belajar berdiskusi dan mengapresiasi. Berkaca pada debat capres yang banyak aturan bahkan untuk tepuk tangan, seperti itu juga ruang kita bersinggungan supaya bisa hidup berdampingan. Terima kasih juga buat pihak-pihak yang manuver-manuvernya setajam silet, menyulut emosi. Mengingatkan saya untuk selalu mendengar, cek ricek fakta dan mengatur argumen supaya keliatan pinter dikitlah.

Pemilu 2014 ini saya beneran melihat pesta demokrasi adalah pesta rakyat. Kalau sebelumnya saya selalu jengah dengan panggung kampanye penuh jargon-jargon politik, kali ini saya iri dengan masa yang warna-warni bersorak sorai tanpa beban. Berbahagialah yang datang di hari kampanye dan berjoged dengan gembira, tidak peduli ada kamera yang menyorot atau tetangga yang melotot. Berbahagialah menjadi insan-insan yang penuh harapan, bukan penuh ketakutan.

Satu hal yang mengharu biru selama masa kampanye ini adalah betapa hebatnya gerakan relawan yang tanpa pamrih. Dari artis-artis yang bernyanyi gratis, kaum kreatif yang inspiratif, sampai abang2 bagi2 air tebu tanpa peduli ia akan merugi. Karena menurut saya, untung ga bisa dihitung kalau kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Tanyakan pada diri sendiri, selama pemilu ini anda di pihak yang mana? Bukan berdasarkan nomernya ya, tapi berdasarkan jumlah amalannya. Beruntunglah kalian yang saat membaca tulisan ini (kalo ada) tersenyum mengamini dan merasa jumawa karena sudah totalitas untuk menjadi orang baik.

Buat saya figur pemimpin yang paling tepat bukanlah seorang dengan sosok paling sempurna, tetapi pemimpin yang bisa mendorong rakyatnya melakukan yg terbaik untuk satu tujuan yg lebih besar, demi bangsa Indonesia.

Pada akhirnya, Indonesia akan mendapatkan presidennya yang layak. Satu petikan yang saya dapatkan dari komentator anonimus di artikel The Economists yang mengendorse Jokowi

Indonesians will get the president they deserve, regardless which one wins, because if Prabowo wins, then they do deserve him for being blind, and if Jokowi wins, then they also deserve him because they are being sensible.

Sayang sekali komentar ini tidak bisa saya temukan lagi, padahal saya suka sekali karena menggambarkan keadaan Pemilu ini, setidaknya dari kacamata saya. Setelah pemilu ini, kita akan kembali ke posisi kita masing-masing. Kembali posting selifie, foto liburan dan foto-foto kucing di jejaring sosial. Tapi kita juga punya pilihan, apakah kita akan kembali menjadi kelas menengah ngehek, ataukah kita akan menjadi kelas menengah yang mau bergerak untuk menciptakan perubahan itu.

Bagi yang pemilu kali ini merasa jengah dengan tingginya traffic pembicaraan tentang kedua capres, jangan senang dulu yaaa… Lima tahun lagi kita akan balik lagi mengotori temlen anda. Semoga pemilu berikutnya masih ada dan lebih rame lagi karena kandidat semuanya berkualitas sampe kita bingung nentuinnya.

Selamat memilih, Indonesia!!