Playlist ciamik dari buku

Saat bosen dengan playlist akhir-akhir ini dan ceki-ceki goodreads -kegiatan ga nyambung tapi akhirnya nyambung juga, mata gw terantuk sampul buku One Day. Kangen 1000 lagu di Emma Morley music yang sudah almarhum itu dan gw jadi kepikiran buku apa lagi ya yang musiknya oke? Tercetuslah ide mencicil musik-musik yang disebut di buku. Emang sih melampirkan musik di buku itu walopun lumrah tapi seperti dua kegiatan dengan medium yang berbeda. Meskipun begitu, banyak juga buku dengan lagu-lagu yang bukan hanya berfungsi sebagai latar tapi juga jadi salah satu bagian penting buat plot cerita.
Alhamdulillah banget ya buat teknologi, jaman sekarang ga usah berburu vinyl atau main ke Aquarius, udah ada yang dengan baik hati merangkum lagu-lagu di buku itu jadi playlist bok! Tinggal klik lalu berkumandanglah lagu yang jadi bagian penting pembentukan karakter di buku kita. Walopun ga dilarang juga loh kalo mau koleksi. Berikut buku-buku yang menurut gw playlist-nya ciamik:

oneday2

Nyolong dari sini

One Day – David Nichools
This is the mother of all playlist! Campur sari dari The Kinks sampai Tricky. Di Emma Morley music bahkan ada dua album cello suite yang jadi andalan gw kalo harus nulis dan konsentrasi. Saking dahsyatnya playlist ini, gw udah pernah nulis satu postingan sendiri. Sampe sekarang pun kalo gw lagi butuh inspirasi musik baru, gw akan cek playlist-nya David Nicholls di spotify. Gw suka banget selera musiknya yang ga kenal rentang waktu dan genre, musik baru lawas kenceng mendayu-dayu ada semua.
Dengerin disini.

 

29173700930_2e51d055fe_z1.jpg

Dari sampul dan judulnya udah jelas banget buku ini sarat musik

Hairstyles of the Damned – Joe Meno
Bukunya udah pernah gw bahas karena buku ini membuat gw berdamai dengan masa SMA gw. Brian Oswald si anak metal naksir Gretchen si punk rock girl. Walhasil Brian jadi dengerin lagu-lagunya Gretchen kalo keliling-keliling bareng. Sebagai punk wannabe, playlist-nya Gretchen ini heits banget buat gw. The Special, the Smiths sampe Dead Kennedy. Sedangkan lagu-lagunya Brian seperti Iron Maiden, Guns n Roses dan Led Zeppelin, pernah gw dengerin pada masanya, tapi udah jarang sekarang. Di spotify playlist-nya masih banyakkan punk daripada metalnya sih, plus selipan lagu-lagu romantis Keith Sweat. Joe Meno kamu manis banget deh!
Dengerin mixtape-nya disini.

 

belcantoeditBel Canto – Ann Patchett
Gw baru aja namatin buku in seminggu yang lalu dan masih terngiang-ngiang sampe sekarang. Ceritanya tentang penyanderaan petinggi-petinggi negara dan diplomat di rumah perdana menteri dan salah satu yang disandera adalah penyanyi opera. Ann Patchett seperti biasa mengalirkan ceritanya bagai air dan menggambarkan kejadian mencekam ini dengan sangat cantik. Gw sampe pingin ikut disandera juga supaya bisa menikmati suara Roxanne.
Gw bukan penggemar opera, pernah nonton beberapa kali dan gw cuman manggut-manggut menikmati tapi ga yang terperangah banget. Terus yang kepikiran adalah Bianca Castaviore dari komik Tintin. Abis itu janji ga akan nonton opera lagi. Ha! Tapi setelah baca Bel Canto, gw jadi pingin mencoba nonton opera lagi. Dengerin playlist-nya sih udah, tapi ga cocok sambil bikin infographic. Mungkin akan dicoba di lain suasana.
Nikmati suara sopran yang menginspirasi Ann Pacthett disini.

eleanorparkpalylist

XTC? The Misfits? Joy Division? Yes! Sumber.

Eleanor and Park – Rainbow Rowell
Salah satu buku YA yang akan selalu hidup di hati gw. Ceritanya sesederhana cinta monyet Eleanor and Park, dan setting 90ies membuat tukeran kaset dan mendengarkannya pake walkman jadi bagian penting dari tumbuhnya hubungan mereka. Tentu saja lagunya bikin nostalgila parah, walopun 90ies buat gw adalah Pearl Jam bukannya XTC. Gw akan selalu ingat mereka berdua saat dengerin Love Will Tear Us Apart.
Rainbow Lowell bikin playlist buat masing-masing Eleanor dan Park, side A dan side B (!!), dan cerita cukup detail tentang tiap lagu di posting ini.

 

haruki

Murakami koleksi PH-nya dahsyat! Gambar dari sini.

Haruki Murakami
Buat pembaca Murakami, udah ga asing lagi kalo cerita beliau bertebaran lagu jazz, klasik dan pop rock classic. Norwegian Wood sendiri diambil dari judul lagu Beatles kan. Udah gitu pasti deh para tokoh-tokohnya Murakami nyetel jazz sambil menikmati kesendirian di apartemen mereka yang minimalis. Udah kayak formula wajib plot Murakami. Jangan harap ada basement party dengan lagu disco karena karakter tokoh-tokoh Murakami udah pasti soliter dan cenderung introvert akut.
Ga banyak yang gw inget dari lagu-lagu di bukunya karena gw sendiri bukan penggemar jazz kecuali sebulan setelah nonton jazz festival. Tapi ada kok lagu Jazz yang gw suka seperti vinyl-vinyl Jazz nya Jesse. Playlist yang dikompilasi berikut ini ga spesifik dari buku tertentu, tapi dari berbagai buku. Secara ya, kadang Aoyame dengerin satu lagu doang, Leoš Janáček’s “Sinfonietta”, ituuu aja diputer terus-terusan sepanjang buku.
Mari mengulang-ngulang playlist-nya Murakami.

Bonus:
High Fidelity – Nick Hornby
Jujur, gw belum pernah baca bukunya. Tapi udah nonton filmnya dan gw tergila-gila pada soundtrack-nya. Jamannya belum ada internet dan nonton film ini lewat laser disc, setelah filmnya tamat gw catetin semua judul lagu dan penyanyi dari credit title. High Fidelity ini ceritanya tentang pemilik toko piringan hitam, pastilah ada selipan lagu-lagu itu di bukunya pun. Berbaik sangka aja sih :)
Sampe sekarang kalo Jesse nyetel lagu Let’s Get it On, gw akan melirik curiga, maksud lo pingin kayak High Fidelity?
Playlist-nya Rob.

What about you? Which of your fave books has the coolest playlist?

Iklan

Thursday Track: Emma Morley Mixtape di Spotify

350112379

Selamat datang di Indonesia, Spotify!
Untuk memperingati momen bersejarah ini, Thursday Track kali ini saya ga hanya berbagi lagu tapi sejembrengan lagu di my favorite playlist of all time: Emma Morley Mixtape. Karena apalah artinya Thursday Track tanpa Spotify.

Saya mulai tau Spotify semenjak terobsesi dengan novel One Day. Di One Day Em bikin mixtape buat Dex, dan David Nicholls sang pengarang dengan rajin meng-upload ke Spotify. Waktu itu saya masih di Jakarta, belum ada Spotify, tapi akibat penasaran maka saya dengan rajin (dan sedikit kurang ajar) mengunduh tiap lagu secara manual dari internet. Menggunakan kuota internet kantor pegawai negeri yang sesuai dengan performa kerja maka menghasilkan donlod sekitar 20 lagu berlangsung selama dua hari.

Tapi ga nyesel sama sekali, karena saya seperti menemukan panutan baru untuk selera musik. Dari the Kinks ke Massive Attack. Dionne Warwick hingga Magnetic Fields. Sampai sekarang playlist Emma Morley Mixtape ini jadi satu-satunya musik yang ada di hp.
Setelah pindah ke NY, dan diingetin Alsya soal Spotify, saya langsung mendengarkan lagi Em’s Mix Tape. Ga usah nunggu dua hari, tinggal klak klik sana sini. Lebih keren lagi, ada playlist Dexter Mayhew Mixtape (yang sayangnya bukan selera saya) dan Emma Morley’s Music yang isinya 1000 lebih lagu mirip-mirip Em’s Mixtape. David Nicholls is an awesome DJ!

Untuk selanjutnya, saya bisa ngobrol panjang tentang betapa saya cinta Spotify yang memperkaya khasanah permusikan nasional *apeeuuu dan algoritma canggih DJ Spotify dengan rekomendasinya yang dahsyat akurat. Kehadiran Spotify dan berbagai akses music streaming sudah lama menjadi perdebatan. Tapi buat saya metode ini udah paling praktis, dan saya emang ga berminat koleksi musik dalam bentuk apapun. Kecuali kalo para musisi ngeluarin koleksi seprai dan bed cover buat merchandise baru deh saya panik). Canggihnya era dijital adalah kita semakin bisa menikmati banyak hal tanpa harus memilikinya.

Eniwei, yang masih keukeuh ga mau nyoba Spotify, ini salah satu lagu dari Emma Morley’s Mixtape yang bagi saya menggambarkan banget hubungan antara Em and Dex.

Gambar diambil dari http://dexterandemma.tumblr.com/

Tag + kompilasi lagu + kuis + promosi tak berbayarx

Kena tag sama Etsa di instagram, maka akan saya balas disini. Loh kok beda media?
Abisnya kalo di instagram ga bisa nulis panjang-panjang. Saya termasuk orang yang senang menggunakan sesuatu sesuai fungsinya. Mau nulis panjang ya di blog, instagram buat foto-foto dan facebook buat jejaring sosial stalking orang-orang pada ngapain aja. Twitter buat segala yang random.
Eniwei..
Sudah semenjak tiga tahun belakangan ini, sumber musik saya adalah Spotify. Nyaris 90%. Sisanya dengerin vinyl punya Jesse. Kadang dengerin vinyl punya sendiri sih, tapi apalah artinya 10 keping plat dibanding ratusan plat dia. Kadang dengerin cd juga, tapi makin langka ya benda ini. Saya nyaris ga pernah dengerin lagi lagu-lagu format MP3 yg dulu rajin ditata di folder “Mucik” #sokimyut. Dengan ribuan lagu di Spotify, rasanya ga pernah kekurangan referensi musik. Ditambah, mood saya berubah-rubah antara pingin dengerin lagu baru secara acak dan mengulang-ulang album yang lagi bikin kasuat-suat. Spotify memberi rujukan tepat untuk lagu dari band-band yang namanya semakin lama semakin aneh, dan juga menampung album-album klasik semacam the Meat is Murder dan Reading, Writing and Arithmetic yang ga pernah bosan saya dengarkan sampai kapanpun.
Jadi tag-nya tentang apa tadi? Playlist!
Kebalikan dari Etsa yang ga pernah bikin playlist, saya punya banyak sekali playlist. Yang paling ngetop sih menurut saya sebagai pendengar satu-satunya adalah playlist Maps, yaitu kumpulan lagu-lagu upbeat yang menemani saya di kantor kalo lagi bikin peta. Kebanyakan lagu indie rock sih, entah kenapa menurut saya indie rock itu menstimulasi untuk berbuat kreatif, seperti punchline generasi millenia kita ini *pose ala hipster kerja di kedai kopi*. Saya juga punya playlist Rainy Days, yang isinya lagu2 mellow cocok didengarkan saat di luar hujan dan kita kemulan sambil minum teh. Ada playlist Road Trip, cocok buat duduk di tepi jendela kereta sambil berusaha ga ketiduran menunggu pemberhentian selanjutnya. Buat jogging, buat ngepel, buat HIIT juga ada. Pokoknya banyak deehh.

Hari ini saya bikin playlist buat Etsa yang berisi lagu-lagu random juga. Hihihi. Semoga dia suka ya. Kalo menilik playlistnya Etsa sendiri, anaknya Sigur Ros banget. Kalo itu mah dengerin aja noh playlist Rainy Days saya, beres. Hihi, malesan deh anaknya. Ini ga ada tema khususnya sih, selain agak-agak dipengaruhi cuaca New York yang duhai kelabu sekali hari ini, sama pingin memperkenalkan Etsa dengan khasanah musik saya alias Spotify.

Saya tadinya pingin bikin cerita masing-masing lagu, tapi itu mah buat proyek berikutnya aja ya ;) Ini baru pengantar playlist aja panjang, apalagi ngecapruk buat tiap lagu.
Nah, supaya khusyu ngedengerinnya, saya sekalian bikin kuisnya ah. Silahkan dengarkan playlist buat Etsa ini baik-baik, dan boleh banget buka textbook. Take home test ceritanya. Lalu, silahkan jawab pertanyaan berikut:

  1. Lagu ini tentang patah hati gara2 ditinggal selingkuh oleh Regina Spektor. Pertanyaannya, selingkuh dengan siapakah Regina? *dibaca dengan nada setajam silet*
  2. Artis mana yang Broken Social Scene banget? Kisi-kisi: sama-sama dari Toronto tapi tidak berbagi personil yang sama.
  3. Lagu apa yang cerita soal aborsi?
  4. Saya baru sadar playlist ini sangatlah ke-utara-utara-an, alias didominasi artis North America. Maka, sebutkan dua artis yang bukan dari North America dan negara asalnya? Kisi-kisi: Ada empat sih sebenernya.
  5. Lagu apa yang sejatinya ada di soundtrack film The Eternal Sunshine of the Spotless Mind? Kisi-kisi: Artisnya digawangi oleh ex vokalis Tripping Daisy. Ayo anak MTV 90-an masih inget ga?

Kuis ini terbuka buat siapa saja. Silakan menuliskan jawaban langsung di kolom komen. Karena pertanyaannya cukup susah (perlu analisis tajam dengan berbagai referensi), maka yang bisa jawab kelimanya dengan benar, akan saya kasih hadiah langganan Spotify premium selama empat bulan. Serius ini yaa…

Ini kenapa dari tag lalu playlist, lalu quiz, lalu promosi sih?