Musik akhir-akhir ini

Kalau diperhatiin, setahun ini gw jarang banget nulis tentang musik. Padahal niat awalnya pingin rajin nulis tentang musisi-musisi baru. Demi mementahkan mitos musik yang enak itu hanyalah musik lawas.
Mitos ini tidak benar adanya dan kalo ada yang mau dengerin musik 90-an terus-terusan juga gapapa. Gw pribadi sih sedang senang-senangnya mengeksplor dua genre musik: rap/hip-hop/R&B dan musik punk ala Please Kill Me.

Dua genre musik ini bukannya ga pernah gw dengar sebelumnya. Hanya porsinya ga pernah sebanyak ini. Awal 90-an, saat pertama kali gw gandrung musik, gw selalu dengerin Radio Oz setiap saat kecuali di sekolah dan di tempat-tempat umum. Di masa itu, musik Radio Oz ya seperti radio anak remaja pada umumnya, banyak memutar lagu-lagu pop Top 40, termasuk Tony Tony Tone, Montell Jordan, Surface, dll. Musik ini walopun gw suka tapi ga sampe tahap gandrung dan tergila-gila. Karena lalu datanglah gelombang metal (walopun tinggal sisa-sisa perjuangan) yang akhirnya dilibas oleh musik grunge dan alternatif. Yang mana gw langsung penggemar berat.
Semenjak pertengahan taun 2016 sebenernya gw mulai meninggalkan musik-musik indie rock, dan mengeksplor musik-musik lain. D’Angelo dan Raphael Saadiq adalah cikal bakal CLBK-nya gw sama musik-musik dengan beat yang groovy ini *please excuse my Jaksel Englesh*. Nah tahun ini gw mulailah dengerin semua itu Nicki Minaj, Cardi B, The Weeknd, Logic, Chance the Rapper, dll. I love them all. Gw akhirnya ngaku kalo suka Kanye juga :D
Dan tentunya di antara semua itu, juaranya adalah… yes, the one and only Donald Glover alias Childish Gambino. Gw beneran jatuh cinta, smitten dan kebat-kebit sama mas yang jago akting, nyanyi dan masya Allah kalo nonton dia nari rasanya geraaahhh banget. 3005 dan album Kauiai diputer tak henti-henti selama seminggu.

Di sisi lain, gw tentunya ga meninggalkan rock n roll yang kayaknya selalu kuhembuskan di setiap denyut napasku. Aseeekk. Karena pada awal tahun gw namatin buku Please Kill Me, maka gw mulai mencicil pe-er dengerin musik-musik di buku ini yang belum pernah gw dengerin secara intens sebelumnya. Gw mengulang-ngulang Velvet Underground, Dead Boys, MC5 sampai Richard Hell, dan tentu saja my new spiritual guru: Iggy Pop. Ini juga ditambah Punk Essentials seperti the Clashed, the Damned dan the Jam. Ada energy tak habis-habis dari musik-musik ini. Sekaligus cocok banget sih kalo lagi kesel sama temen kantor :D

Jadi begitulah pencarian musik akhir-akhir ini. Monmaap buat musisi masa kini yang luput dari perhatian gw. Tapi hey, gw dengerin Migos, this is progress!! :D

Iklan

Buku akhir-akhir ini – Semester pertama 2018

bukusemester12018
Banyak baca buku di setengah tahun ini tapi yang paling berkesan adalah…

Columbine
Saat Goodreads mengumumkan bulan buku kriminal, sebagai oknum yang tersepona oleh In Cold Blood-nya Truman Capote, langsung kepikiran pingin baca buku kriminal yang keren. Dan tentu saja yang paling keren sampulnya adalah Columbine! Liat deh, white space sebanyak itu dengan judul font kecil dan dicetak putih pula. Bikin merinding. Eh, ini resensi buku apa desain sampul buku ya.. Columbine adalah kisah nyata, hasil riset jurnalis yang meliput penembakan di sekolah ini dari hari pertama sampai beberapa tahun kemudian. Ga ada rasa penasaran sih, karena dari pertama udah jelas kan pelaku penembakannya si dua anak nakal itu. Penulis mengupas segala aspek kasus ini. Dari latar belakang pelaku, keluarga korban, komunitase gereja sampai rekam jejak sheriff dan detektif yang bertugas menangani kasus ini. Brilyan. Gw jarang baca buku tentang kriminal jadi ga tau juga harus membandingkan buku ini dengan buku apa, tapi yang jelas gw sangat menikmati buku ini, walaupun cukup tebal dan ukuran teksnya cimit-cimit.

First They Killed My Father
Dari judulnya aja udah ketauan kan buku ini bakalan mencabik-cabik. Siap-siap tisu yang banyak. Awalnya gw merasa buku ini ah ya kitu weh, sebagaimana memoir kisah sedih lainnya. Tapi sampai hari ini gw masih ingat banyak detail dari buku ini dan cukup mendalam juga bagaimana Luong Un bercerita hingga gw beneran bisa empati dan ngebayangin situasi menjadi pengungsi. Sudut pandang anak 5 taun membuat buku ini mudah dicerna sekaligus ga ngebosenin buat siapapun.

Please Kill Me
Sebenarnya buku ini butuh satu post sendiri, karena sebegitu dalamnya pengaruh Please Kill Me dalam hidup gw dan Jesse. Tapi baiklah, gw kasih blurb-nya disini aja ya. Ini pertama kalinya gw baca oral history, yaitu naskah transkrip berbagai wawancara musisi yang dianggap perintis punk. Ada beberapa kontroversi sih, seperti geng DC ga diliput dan tentu saja UK vs US punk akan selalu menjadi debat bagaikan versi “mana yang lahir duluan, ayam atau telur?” Tapi banyak sekali cerita behind the punk scenes yang seru, lucu sekaligus sedih. Pokoknya campur-campurlah. Sintingnya Iggy Pop, kelakuan David Bowie deketin Bebe Buel sampe kisah cinta Sid and Nancy. Buku wajib buat siapapun yang tertarik akan rock n roll 70-an.

Wake Up to the Joy of You
Gw selalu berusaha menyelipkan bacaan spirituil, karena ya dikit-dikitlah kita belajar. Kalo ga gini, biasanya bablas lupa dan terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Aseek. Nah kebeneran Wake Up to the Joy of You ini ringan dan enak dibaca. Ada berbagai topik dan tiap babnya sekitar 5-7 halaman saja, jadi ga berkepanjangan dan bikin bosen. Buku ini juga disertai meditasi untuk tiap bab. Sangat direkomendasikan untuk merenung sejenak, melihat masalah dari perspektif baru dan mencari cara lain untuk berbahagia.

Call Me by Your Name
Full resensi + film + soundtrack disini

Kamu,baca buku apa yang seru akhir-akhir ini?