Day 09: a song that you can dance to

Ada dua kandidat lagu yang ingin saya ceritakan untuk meme song tentang menari-nari ini. Yang pertama adalah, tari Saman nan berkesan yg videonya bisa ditengok disini Jadi, batch 2008 ITC mempersembahkan tari Saman di International Evening. International Evening ini semacam event tahunan di kampus saya, dimana setiap negara berpartisipasi menampilkan cultural performance. Indonesia juga ga mau kalah dong. Lalu kami menari Saman-lah. Rasanya para pelajar Indonesia yang pernah belajar di luar negeri pasti mengalami menarikan Saman. Karena tariannya masal, unisex, gerakannya sebenarnya sederhana tapi tampilan akhirnya memukau pemirsa. Periode tari Saman ini salah satu momen yang paling memorable buat saya. Seru sekali setiap malam berlatih tari Saman, menghapal lirik bahasa Aceh, juga brantem-brantem kecil penuh intrik. Hehe.Kami tampil terakhir. Dari riuhnya tepuk tangan dan hebohnya komentar teman sekelas di hari berikutnya, boleh dibilang ini penampilan yang sukses. Tambahan lagi, si supervisor (walaupun waktu itu belum jadi supervisor) mendatangi saya di after party dan berkomentar, “I think Indonesia’s dance was the best performance tonight,” dengan mata berbinar-binar. “Thank you,” saya menjawab sopan tanpa sadar bahwa semenjak itu matanya sudah menyihir saya.
Yo oposeh kok malah supervisor.Ah iya, selesai tampil ada party, lengkap dengan sound system jedang jedung, lampu disko, dj dan bar dadakan. Saya masih gembira karena tari Saman barusan. Tanpa berganti busana, masih dengan iket kepala ala Reny Jayusman mau ronda, saya bergabung bersama teman-teman sekelas bersenang-senang di lantai dansa. Senang sekali.

Malam itu rasanya punya saya sendiri. Karena selain tampil di panggung dan dipuji oleh supervisor, semaleman saya berdansa dengan cowok ganteng. Kami tidak sempat bertukar partner, atau ya memang tidak mau. Hihi. Lagu apapun yang dimainkan dj, kami menari walaupun gerakannya makin ngarang. Saya tambah keras tertawa-tawa dan dia nampak bahagia. Rehat sejenak, dia pergi ke bar lalu kembali dengan segelas bir dan segelas air keran. Sudah jelaslah, siapa minum yang mana.

Lalu kami menari lagi. Dan tiba-tiba dj pun memainkan Hips Don’t Lie-nya Shakira. Saya seperti kerasukan roh shakira dan berputar-putar begitu gembira. Semakin dangdut rasanya, tapi lagu itu begitu rancak sampe rasanya ga sanggup untuk ga bergerak. Dan mempunyai partner cowok ganteng saat lagu ini sangatlah pas, ‘Oh baby when you talk like that, you know you got me hypnotized.’ Megal megol ga brenti-brenti. Atau itu pengaruh birnya ya?

Di pesta-pesta berikutnya Hips Don’t Lie selalu diputar. Dj-nya memang kurang kreatif. Sudah pasti, saya bawaannya ingin menari-nari. Terlepas dari partner-nya ganteng atau ga, atau berapa kadar alkohol dalam darah. Terlepas international evening sudah lama berlalu, dan banyak lagu lainnya yang enak buat bergoyang. Bagi saya, lagu ini cocok sekali buat quotes terkenalnya Mark Twain: “Sing like no one’s listening, love like you’ve never been hurt, dance like nobody’s watching, and live like its heaven on earth.”

Jadi marilah semuanya…

And I’m on tonight
You know my hips don’t lie
And I am starting to feel you boy
Come on lets go, real slow
Don’t you see baby asi es perfecto

Maaf liriknya tidak ditampilkan disini. Panjang bok. Pergi aja kesini.