Thursday Track: I Want You to Stay on the Other Side – Summer Heart

Kinfolk_Vol19_InAnxiousAnticipation-5-634x500

#LL Life lately: Hmm, kecemasan yang tidak melibatkan celana dalam itu datang kembali. Kayaknya udah menu tahunan tiap bulan Februari dan Maret gw agak-agak depresi dan males ngapa-ngapain. Berbagai asumsi yang tercetus adalah kurang sinar matahari, cabin fever dan kangen pake celana pendek. Baru musim dingin segini aja udah cabin fever parah, apa kabar kalo disekap kayak di cerita Room?
Gara-gara ini juga sampe lupa kalo kemarin hari Kamis. Pas udah mau bobo, dimpok-mpok sama Jesse, tenang besok kan hari Jumat. What?! Thursday Track kelewat?? *semakin panik*

Ngomong-ngomong soal kecemasan, ada foto dan artikel menarik dari majalah Kinfolk edisi adrenalin.

#TT Thursday Track: Karena ga bisa nemuin lagu yang cocok buat anxiety, gw hadirkan salah satu lagu kesukaan gw tahun 2013 aja ya. Gw suka lagu ini karena lagu ini membawa perasaan melayang bagaikan menatap lampu-lampu kota LA dari kejauhan. It kinda reminded me of one good summer when everything was lovely and you hold her hands tight under the sun, then autumn turned the temperature low as well as the romance down.
Musiknya sih selayaknya dream pop (lagi) ala ala latar belakang cocktail beach party, dengan sentuhan 80ies dan indie kekinian. Langsung kebayang artwork albumnya itu foto minimalis dengan filter washed out didominasi warna pastel dengan font condensed warna putih di tengah-tengah. White space berlebihan.

Ini gw ngomong apa sih.

Oh iya, tahun kmaren gw dateng ke show-nya di Piano’s disini. Hmm, biasa aja sih. Mungkin gw sudah sangat terpengaruh Jesse, ga terlalu menikmati pertunjukkan musik yang musisinya pencet-pencet komputer di depan penonton. Cuman agak kaget aja, Alexander penampilannya bagai anak 18 tahun! Mungkin dengerin musik dream pop bisa bikin awet muda?

Iklan

Thursday Track: Oh What a World – Rufus Wrainwright

Mulai sekarang tagarnya mau jadi #TTLL ah, alias Thursday Track and Life Lately. Ga tahan ga curcol, hihi..

#LL Netizen masih gonjang-ganjing topik yang sama, grup wasap udah berenti ceramah dan gw makin kesengsem sama idola ini: Trudeau.
Tontonlah video ini dan berucap alhamdulillah. Nikmat Tuhan mana yang bisa kau dustakan. Cowok ganteng dengan tambuk kekuasaan di tangannya, berkaos pink dengan tulisan: Kindness, One Size Fits All. Maskulin maksimal.

Kayaknya emang dari dulu gw kurang suka sosok berotot dan bengis. Sukanya yang agak kemayu, senyum manis cukup malu-malu dan suaranya lirih. Biarlah Eddie Vedder dan graul-graulnya jadi masa lalu 90-an dan cukup yang niru cuman Creed aja.

#TT Ini juga kayaknya ada pengaruhnya ke pilihan musik minggu ini. Sejujurnya gw belum mup on dari The Books, hari Senin setel Smell Like Content diulang seharian. Tapi belakangan New York gloomy, hujan dan mendung mendominasi, dan kalau hujan gw suka dengerin Rufus Wrainwright.
Bukan barang baru, tapi gw suka karakter vokalnya, tenor yang lirih dan gaya nyanyinya yang menyeret-nyeret melodi. Spesial buat lagu Oh What a World, gw suka bagian latar belakang bergumam dan suara trombone, yang kemudian ditambah lapisan perkusi dan penyanyi latar.

Men reading fashion magazines
Oh what a world it seems we live in
Straight men, oh what a world we live in

Buat gw Rufus ini cakep, matanya menyaratkan pintar dan tentunya dia juga pintar bikin lagu. Sebenernya lagu Rufus favorit gw adalah Out of the Game yang lebih playful ala Kahitna tanpa heiya, sama What Are You Doing New Year’s Eve. Di lagu itu kerasa banget nuansa musim dingin dan kebayangnya Rufus main piano sambil turun salju di luar. Tapi New Year’s Eve udah lewat ya, tahun baru China juga udah lawas. Sekarang jagoan barunya Oh What a World aja deh. Netral bagaikan Rufus yang sedang di kereta menuju Paris, hanya mengamati dunia dari kereta yang bergerak. Bahwa ga apa-apa cowok baca majalah mode dan semua akan baik-baik saja karena ada Trudeau pahlawan anti-bullying.

Thursday Track: Smells Like Content – The Books #TT

Hmmff
*tarik napas sejenak*

Minggu yang berat karena gw terlampau baper menanggapi debat kusyir yang bikin elus-elus bulu dada melihat buruknya kebiasaan berdiskusi yang tanpa logika, latar belakang yang diada-ada dan penuh sentimen walaupun di dalamnya terselip doa-doa. Kalau merangkai kalimat aja masih terbata-bata, ga usah ngotot, mas. Ya bukannya gw juga udah jagoan sih, justru ini ngeblog buat latihan menyampaikan pikiran. Tapi penting loh mengartikulasikan isi kepala. Kalo cuman copy paste dari kompasiana mah kucing gw juga bisa.

Eniwei, ngomongin musik aja yuk. Buat gw musik selalu menjadi dialog paling pas karena preferensi masing-masing orang akan seni ga bisa didebat. Ya kenapa kalo gw sukanya Kendrick Lamar walaupun Grammy memilih Taylor Swift? Ya kenapa kalo gw bangga sama Joey Alexander walo sehari-hari ga pernah dengerin musiknya? Apakah ini akan menularkan cita rasa kurang elegan pada anak-anak anda? Kalo iya, terus kenapa, apakah mengurangi eksitensinya sebagai manusia? Kalo mau denger musik sesuai kitab suci noh The Books ada adzannya!
Ini keliatan banget masih emosi ya :D

Sudahlah, mari kita dengerin yang asik-asik aja. Lu masuk surga neraka bukan urusan gw. Thursday Track hari ini Smells Like Content dari The Books. Oh yeah. I know someone who will like this kind of music. Jatuh cinta sama lagu ini, nuansanya, cara Zammuto dan de Jong bernyanyi dan halusnya musik akustik. Lagu ini ala ala Kings of Convenience, tolong jangan kasih tau para hipster. ya Liriknya juga, dalem. Kayaknya. Yeeey, baca dulu dong sebelum share :D
Bagian ini berasa lagi baca essay tentang manusia dan masyarakat:

But then again, the world without end is a place where souls are combined,
but with an overbearing feeling of disparity and disorderliness.
To ignore it is impossible without getting oneself into all of kinds of trouble,
despite one’s best intentions to not get entangled with it so much.

Udah ya gw ga ikut opini sana-sini. Cih.

 

Mendadak hepi setelah nemu The Books. Selain lagu di atas yang manis dan kontemplatis, sisa lagu The Books adalah eksperimental akustik, penuh dengan puisi, repetisi, sampling dan bebunyian yang ga pernah terpikirkan bakal enak diramu dalam lagu. Embel-embel akustiknya bikin lagu The Books lirih dari ujung ke ujung, ga sepusing sampling elektronik. Selama ini musik sampling kebanyakan repetitif, cenderung nyeleneh dan progresif *nawooon deui*. The Books 100% menggunakan sampling musik analog. Duo ini rajin merekam suara apa saja, mendata, memilah untuk kemudian memadukannya dengan teori musik klasik. Ga heran hasilnya cantik.
Lagu mereka punya nuansa yang sama, yaitu ruang kosong dan udara mengambang di antara suara-suara. Meskipun begitu, jangan harap ada pola itu-itu lagi dari satu lagu ke lagu lain. Kadang ada nyanyian, puisi, suara mesin penjawab, film kartun Jepang, ejaan kata yang diulang sepanjang lagu, hingga latar adzan seperti di lagu Lemon of Pink. Inilah kenapa gw ga bosen dengerin The Books, telinga seperti dikejutkan tapi sekaligus dimanjakan.
trr180.jpegGa salah namanya The Books. Mendengarkan album Thought for Food seperti mengajak telinga membaca diksi-diksi yang menimbulkan perasaan-perasaan, bercengkerama dengan cerita lewat indera pendengar. Dan oh, liriknya saudara saudara.. Judul Thought for Food buat gw adalah copy yang genius! The Animated Description of Mr. Maps lebih mirip cerpen daripada lirik lagu. Gw juga suka banget sama judul album terakhir mereka: Music for a French Elevator and Another Oddities.
Hhh…
*brb ngelamun dulu*

Gw bisa membayangkan film indie dengan banyak adegan pelan dan sinematografi minimalis dengan lagu The Books untuk seluruh scene. Film yang akan ditampilkan di Cannes dan lalu diburu hipster :P Beberapa lagu The Books juga bisa diterjemahkan menjadi instalasi seni di MoMA. Penonton akan berdecak kagum antara terperangah dan ga ngerti :D

Sayang sekali The Books berhenti bermusik di tahun 2011. Argh. Walopun Nick Zammuto masih produktif dengan full band dan sampling elektronik, tapi rasanya cuman ada satu The Books. Dan gw sangat bersyukur mereka sudah hadir di minggu gw yang hingar bingar pepesan kosong dan suara keras bersahut-sahutan. Orang-orang di lagu The Books bicara pelan-pelan supaya kita mau mendengar.

Thursday Track: Sight of You – Pale Saint

Udah lama gw pingin teratur nulis tentang musik, tepatnya lagu. Gw sangat senang waktu ikutan 30 hari memesong walaupun cuman ikutan setengahnya. Sempet bikin rancangan blog keroyokan buat khusus nulis tentang lagu, tapi seperti biasa gw lebih gape di perencanaan daripada praktek. Maka blognya masih di tahap oret-oret di atas kertas.
Terinspirasi sama Mba Yoyen yang udah bikin Music Monday, dan Ayaspromenade memulai Tuesday Tunes, maka dimantapkan deh, gw mau bikin Thursday Track alias Kamis Keminggris #loh? Intinya sih cerita tentang lagu-lagu aja tiap Kamis.
Baiklah, mari kita mulai TT pertama ini yaa… taraaa…

Pale Saints: Sight of You

Campuran antara My Bloody Valentine, Stone Roses, Mazzy Stars dan berbagai shoegaze dan dreampop lainnya. Ada Cocteau Twins dan the Sundays dikit. Rasanya mengawang-ngawang, dengan dengungan rythm gitar dan/atau keyboard, suara vokalis yang ringan ditambah sedikit distorsi tapi ga keras-keras amat. Di Sight of You, ketukan drumnya ala ala Stone Roses banget.
Baru tau Pale Saints juga hari Senin kemarin. Gw suka dreampop dan udah lama ga dengerin musik ini karena suka bikin ngelamun-lamun dan cenderung ngantuk. Tapi karena belakangan ini kerjaan rada selow, cocok banget nih Pale Saints sama suasana musim dingin yang biasanya gloomy. Resmi seminggu ini gw dengerin Pale Saints doang. Eh sama the Sundays sih, semacam menu wajib di hari malas.
Pale Saints sudah diduga berasal dari UK dan tenar di warsa 80 akhir sampai 90-an awal. Sempet bikin singel bareng vokalis Lush juga, judulnya Kinky Love. Nampaknya ini singel paling tenar dan lewat singel itu juga gw berkenalan dengan Pale Saints.
Sight of You sendiri kayaknya cerita tentang cowok patah hati, ceweknya udah punya pacar baru trus kalo ketemu rasanya jleb gitu. Jamaklah ya. Gw lagi ga punya perasaan berlebihan tentang hal ini, jadi biasa aja sama liriknya. Mari kita nikmati demi musik yang menggulung bagaikan lautan #oposeh