Musik 2016

Semenjak Thursday Track tersendat-sendat dan akhirnya berenti sama sekali, gw stop nulis tentang musik. Yang mana aku rindu kakaaa… Kangen ngarang-ngarang tentang musik, sedikit riset terus ngarang lebih banyak lagi. Taun ini pun ga ada album baru yang gw dengerin terus menerus. Waktu masih aktif nulis Thursday Track, gw senang menjelajahi blantika musik. Etdah bahasanya. Tapi setelah itu gw mengalami kebosenan luar biasa akan musik indie rock. Bahkan Discover Weekly Spotify pun terasa membosankan. Bersamaan dengan gw baca Get in the Van dan ga brenti-brenti dengerin The Damned dan Misfits sampe ledeh. Diajak nonton Joshua Bell pun gw menolak. Anak punkajian garis keras.

Maka dari itu gw pun termasuk ke dalam jamaah gagal move on dari musik-musik pertumbuhan :((( Tidaaakkk… Aku tak mau kufur nikmat Spotify :(((

Untungnya Spotify kembali memberikan kemudahan, seperti akhir tahun ini udah jadi aja gitu playlist lagu yang paling sering didengerin selama 2016. Dan lagu yang paling sering gw dengerin di tahun 2016 adalah.. Feeling Like Content-nya the Book. Sudah pasti ga salah, adem banget sih dengerin the Book. Tapi the Book kan musik lama ya :(( Dari playlist itu bisalah gw mengais-ngais album baru 2016 yang tekun gw dengerin, dan mereka adalah..

Leave Me Alone – Hinds
hinds-leave-me-alone_sq-7cd14c4472610b4e2eee4b912f0f7beacca3de55-s400-c85Iyeee… Hinds masih jadi pemenangnya. Tahun lalu kan dengerin mini album-nya, tahun ini full album. Ga banyak yang berubah dari album baru ini, semangatnya masih sama. Distorsi gitar, melodi rock alternatif dan kecentilan yang sama. Lagu baru favorit adalah San Diego, karena…

Because I left my heart in San Diego, that’s why!


Who Really Cares – TV Girl

unspecified-1Sejujurnya baru nemu trio ini tahun ini. Ada masanya gw cuman dengerin semua album TV Girl on loop selama berhari-hari. Gw suka musiknya karena perpaduan antara elektronik, dream pop dengan sedikit nuansa jadul.  Gw juga suka banget sama artwork-nya yang bergaya pop art, didominasi warna-warna neon, saturasi tinggi dan siluet telanjang. Liriknya nakal, kebanyakan tentang kencan dan aktivitas di ranjang, tapi romantislaaah.

Heads Up – Warpaint
220px-heads_up_-_warpaintYak, kurang kekinian gimana lagi gw, dengerinnya Warpaint. Buat gw Warpaint adalah simbol masa kini banget, cewek-cewek ngeband, musik indie rock, sampling elektronik dan dream pop.

Ringan dan album barunya Heads Up ga mengecewakanlah.

 

Seat at the Table – Solange
220px-solange_-_a_seat_at_the_tableAlbum dari adik Beyonce ini membuat gw yakin, kakak ga selalu lebih baik dari adik *digebukkin non-anak sulung* Beneran, gw lebih suka musik soul begini deh daripada berbagai jargon industri musik yang belakangan ini Beyonce minded banget.

Lebih sederhana tapi tetap groovy.


Stranger Things soundtrack

st_ost_v15b15d1Salah satu hal terbaik di tahun 2016 adalah serial TV Stranger Things dari Netflix. Gw dan Jesse nonton sampe ledeh. Udah gitu masih hangover marathon dan nyetel musiknya. Menurut kami, soundtrack ini jenius. Didominasi synthesizer dengan cengkok khas 80-an. Benar-benar menggambarkan perasaan saat nonton Stranger Things, mencekam tapi penasaran. Abis itu, nonton Stranger Things lagi dong :D

Honorable mention: Trains to Brazil by Guillemot
Suatu hari gw lari pagi dan tiba-tiba lagu ini berkumandang dari jogging playlist gw, dan gw merasa ya ampuuunnn lagu ini enak banget buat jogging. That beat drum #laffff Lalu geng trompet yang cukup aja, ga mendominasi. Dan siapa ini yang nyanyi kok seksi banget sih suaranya… Pas dia narik nada-nada tinggi itu looohh.. Oh mak, gw rasanya meleleh. Jatuh cinta deh. Dan untuk beberapa hari kemudian gw dengerin lagu ini berulang-ulang.

Lagu ini bukan lagu keluaran 2016 sih, tapi gw bersyukur 2016 menemukan lagu ini :)

Apa musik kamu sepanjang 2016?

Iklan

Thursday Track: I Love Springtime in New York – Jonathan Richman

Beberapa minggu yang lalu gw nonton Jonathan Richman di Bell House. Ow yeah, Bell House salah satu venue favorit di NY. Luas, nyaman dan ga berasa dive bar banget akibat sentuhan rustic. Jonathan Richman adalah ex Modern Lovers dan sepanjang show gw keketawaan karena dia lucu banget. Kayak nonton komedian yang jago main musik.
Musiknya sendiri sederhana, hanya Jonathan main gitar akustik dan Tommy Larkins main drum. Tapi terasa penuh karena melodinya bercerita dengan lirik yang jenaka. Jonathan sangat hangat, dia nyanyi sambil senyum-senyum dan sesekali nari-nari. Hebat yah, dia ini umurnya 64 loh tapi tampangnya bocah banget.
Lagu-lagunya happy feeling, entahlah genrenya apa. Folks, hippy dengan banyak pengaruh world music. Modern Lovers sendiri lebih ke low-key punk (thus I love it), tapi karya solo Richman mengeksplor lebih jauh musik akustik di balik kesederhanaan gitar, drum dan backing vocal seadanya. Kombinasi yang pas sebagai media ceritanya yang lucu-lucu itu. Gw sih ngerasa ada sepercik French folk tapi lebih modern dengan pengaruh alternative rock. Mungkin yah. Susah mengeneralisasi musik aki-aki yang udah nulis lebih dari seratus lagu.

Susah juga milih lagu mana favorit gw. Gw suka Springtime in New York, karena pas sekali dengan suasana sekarang. Ditambah Richman nyebutin tempat-tempat favorit gw seperti Canal Street, Tompskin Square Park, dan 1st Avenue. Menggambarkan banget New York versi gw yang ga selalu melibatkan Central Park dan 5th Avenue ;)
Lagu yang gw suka juga malam itu adalah No One Was Like Vermeer. Mungkin karena Vermeer-nya. Siapa coba yang bikin lagu tentang Vermeer? Dan masih banyak lagi pelukis yang dibikinin lagu sama Jonathan. Salvador Dali, Vincent Van Gogh, sampe lagu Pablo Picasso (era Modern Lovers) yang kocak. Tapi gw setuju sama Jonathan, No One was Like Vermeer.

Vermeer was eerie, Vermeer was strange, he had a more modern color range.

Pas di show, dia bikin paragraf tambahan tentang hebatnya Marie Vermeer yang ga dapet kredit yang pantas padahal dia banyak bantu bapaknya.

Nonton Jonathan Richman mengingatkan gw sama Pidi Baiq. Gaya-gayanya mirip, musik yang simpel dan cerita nyeleneh yang ga disangka-sangka. Mungkin seru juga kalo Pidi Baiq bikin lagu buat pelukis Indonesia.

Eniwei, syukron musim semi akhirnya mampir di New York, mari kita nyanyi semua “I love spring time in New York, I do.” — sebelum nanti New York berubah panas dan lengket, which I love it even more ;)

Thursday Track: Emma Morley Mixtape di Spotify

350112379

Selamat datang di Indonesia, Spotify!
Untuk memperingati momen bersejarah ini, Thursday Track kali ini saya ga hanya berbagi lagu tapi sejembrengan lagu di my favorite playlist of all time: Emma Morley Mixtape. Karena apalah artinya Thursday Track tanpa Spotify.

Saya mulai tau Spotify semenjak terobsesi dengan novel One Day. Di One Day Em bikin mixtape buat Dex, dan David Nicholls sang pengarang dengan rajin meng-upload ke Spotify. Waktu itu saya masih di Jakarta, belum ada Spotify, tapi akibat penasaran maka saya dengan rajin (dan sedikit kurang ajar) mengunduh tiap lagu secara manual dari internet. Menggunakan kuota internet kantor pegawai negeri yang sesuai dengan performa kerja maka menghasilkan donlod sekitar 20 lagu berlangsung selama dua hari.

Tapi ga nyesel sama sekali, karena saya seperti menemukan panutan baru untuk selera musik. Dari the Kinks ke Massive Attack. Dionne Warwick hingga Magnetic Fields. Sampai sekarang playlist Emma Morley Mixtape ini jadi satu-satunya musik yang ada di hp.
Setelah pindah ke NY, dan diingetin Alsya soal Spotify, saya langsung mendengarkan lagi Em’s Mix Tape. Ga usah nunggu dua hari, tinggal klak klik sana sini. Lebih keren lagi, ada playlist Dexter Mayhew Mixtape (yang sayangnya bukan selera saya) dan Emma Morley’s Music yang isinya 1000 lebih lagu mirip-mirip Em’s Mixtape. David Nicholls is an awesome DJ!

Untuk selanjutnya, saya bisa ngobrol panjang tentang betapa saya cinta Spotify yang memperkaya khasanah permusikan nasional *apeeuuu dan algoritma canggih DJ Spotify dengan rekomendasinya yang dahsyat akurat. Kehadiran Spotify dan berbagai akses music streaming sudah lama menjadi perdebatan. Tapi buat saya metode ini udah paling praktis, dan saya emang ga berminat koleksi musik dalam bentuk apapun. Kecuali kalo para musisi ngeluarin koleksi seprai dan bed cover buat merchandise baru deh saya panik). Canggihnya era dijital adalah kita semakin bisa menikmati banyak hal tanpa harus memilikinya.

Eniwei, yang masih keukeuh ga mau nyoba Spotify, ini salah satu lagu dari Emma Morley’s Mixtape yang bagi saya menggambarkan banget hubungan antara Em and Dex.

Gambar diambil dari http://dexterandemma.tumblr.com/

Thursday Track: Impossible – Lyla Foy

 

#TT
Mendengarkan album Mirror in the Sky dan Umi dari Lyla Foy ini seperti mengingat kembali perasaan-perasaan yang hadir saat pertama kali mendengarkan album Beautiful Collision-nya Bic Runga. Sama-sama pop banget dengan musik minimal, cenderung sendu dengan sentuhan musik awal 90-an. Seperti bercengkerama di apartemen dengan sahabat tentang hal-hal ringan sambil minum kopi kala di luar hujan.
Lagu pertama yang menyita perhatian adalah Impossible dari Lyla Foy yang sungguh catchy. Sekali denger langsung suka, pop maksimal dengan sentuhan personal pribadi Lyla yang cenderung introvert dan pemalu. Cewek asal British ini menyanyi nyaris berbisik dan irama lagu-lagunya lirih. Memang begitulah niatnya, Lyla ingin lagu-lagunya cukup melodik tapi musiknya minimalis. Ga heran, rythm guitar dan keyboard terdengar samar-samar dan ketukan drumnya tidak dominan.
Mungkin juga karena Lyla memulai karir musiknya dari kamar di apartemennya di London. Kalo kekencengan main musik bisa diprotes tetangga kali ya. Akhirnya dia mantap terus menulis lagu dengan nama sendiri sekaligus memberi ruang lebih banyak kepada musisi pendukungnya.

#LL
Ngomongin tetangga yang sering protes akibat musik kekencengan, kayaknya ini akan selalu jadi masalah buat gw dan Jesse. Kita berdua suka sekali dengerin musik keras-keras, dan berinvestasi cukup banyak di perangkat audio. Masing-masing punya speaker vintage setinggi satu meter beserta audio mixer dan vinyl player. Belum lagi berbagai sesi rekaman dan jamming Jesse dengan teman-teman musisinya. Gw sih sebagai penonton setia seneng aja serasa dapet konser gratis buat pribadi.
Nah udah ketiga kalinya tetangga di bawah protes. Pertama waktu kita party menuju blizzard, yang mana emang keterlaluan sih, udah lebih dari jam 2 pagi. Maafkan. Lalu saat Jesse main bass betot. Yang terakhir waktu Jesse lagi denger musik santei di suatu Senin malam. Abis itu gw bikin janji untuk rundingan. Karena prinsip gw sih lebih baik kita berteman dengan tetangga.
Sempet deg-degan juga sebelum hari H, takut berakhir anarkis. Gw dan Jesse udah sedia naskah, kita bakal ngomong gini, didukung argumen gini, dll. Kita udah sedia upeti berupa sebotol wine, bubuk herbal dan maple syrup. Ga taunya begitu kita dateng, mereka juga sedia wine! Obrolan mengalir lancar, bahkan kagak pake skenario, ikrib dan penuh ketawa-ketiwi. Mereka adalah pasangan seusia gw, yang cowok dari Boston dan yang cewek dari UK. Yang cowok rada geek, jadi kita berdua ngomongin luar angkasa dan dinosaurus. Yang cewek seru, aksen Britishnya lucu banget dan gw belajar berbagai swear words dari dia :D
Ga kerasa habislah empat botol wine. Intinya sih, kita pingin hidup rukun, dan musik kekencengan bisa dijadwalkan, mereka malah ngasih karpet segala. Hari itu gw tidur dengan senyum. Bahagia sekali rasanya kalau bisa berteman dengan tetangga.

Thursday Track: San Diego – Hinds

Pertama kali lewat #TT, apa kabar belajar disiplin? Alesannya sih gw cukup aktif kesana kemari. Maafkan ya pemirsa *Kayak ada yang baca aja*. Marilah kita rekap dua minggu ke belakang dengan Hinds, International Women’s Day dan bar life yang kembali dimulai.

Niatnya mau cari lagu baru buat post kali ini, tapi gimana dong, hari Rabu kemarin nonton Hinds (lagi). Ini nyaris konser ketiga Hinds yg gw tonton. Haha, baru juga ngeluarin satu album sama satu mini album, udah giat mengejar gigs-nya begitu ya.
Abis gimana dong, cinta abis sama Hinds. Haha, lebay. Mini album-nya diputer berulang-ulang setahun kemarin, dan January kemarin Hinds menelurkan album baru, Leave Me Alone. Ga beda jauh dengan album Hinds, ga ada yang baru kecuali ada beberapa lagu yang agak balada, hanya vokal dan gitar. Karena gw Hinds fundamentalis maka album Hinds tetap diulang-ulang. Agak bosen sih, tapi seneng juga sama lirik-liriknya yang semakin nakal.
San Diego adalah single ketiga dari album Leave Me Alone. Di konser kemarin gw paling seru jingkrak-jingkrak pas lagu ini. Gw suka phrase itu: I’m Staying, I’m staying! Semacam maksa, you can go but I’m Staying. Atau mungkin karena gw punya kenangan khusus dengan pantai-pantai San Diego? Hmm… Cerita itu hanya bisa di japri. Alah.

25656301046_bed91dd904_oOh ya, gw ga sempet posting apa-apa di International Women’s Day kemarin, karena kita wanita karir sibuk bok. Kurang International Women’s Day apa coba gw. Ditambah gw udah marah-marah tentang kesetaraan gender di postingan sebelumnya. Sementara banyak berita berseliweran tentang pentingnya peranan perempuan di bumi ini, gw ga nemu yang pas sampe selesai nonton Hinds. Udah jelas personilnya cewek semua, tapi karena kali ini gw nonton sebelah sound controlling booth, gw baru ngeh kalo sound dan light engineers-nya juga cewek. Mereka nampak keren sekali pencet-pencet berbagai tombol. Dunia di balik layar pertunjukkan musik kan kental sekali dengan hormon maskulin. Segar rasanya melihat dua cewek mendampingi grup centil Hinds.

Konser Hinds juga seolah sebagai tanda bahwa musim dingin segera berakhir dan gw akan baik-baik saja. Seminggu kemarin anxiety gw sudah sangat berkurang. Sudah nonton Hinds, lari malam, berenang, yoga dan berbagai sesi nongkrong di bar kembali mewarnai. Hore!

You couldn’t stay here one more night
So take me to the beach, alright