Thursday Track: Impossible – Lyla Foy

 

#TT
Mendengarkan album Mirror in the Sky dan Umi dari Lyla Foy ini seperti mengingat kembali perasaan-perasaan yang hadir saat pertama kali mendengarkan album Beautiful Collision-nya Bic Runga. Sama-sama pop banget dengan musik minimal, cenderung sendu dengan sentuhan musik awal 90-an. Seperti bercengkerama di apartemen dengan sahabat tentang hal-hal ringan sambil minum kopi kala di luar hujan.
Lagu pertama yang menyita perhatian adalah Impossible dari Lyla Foy yang sungguh catchy. Sekali denger langsung suka, pop maksimal dengan sentuhan personal pribadi Lyla yang cenderung introvert dan pemalu. Cewek asal British ini menyanyi nyaris berbisik dan irama lagu-lagunya lirih. Memang begitulah niatnya, Lyla ingin lagu-lagunya cukup melodik tapi musiknya minimalis. Ga heran, rythm guitar dan keyboard terdengar samar-samar dan ketukan drumnya tidak dominan.
Mungkin juga karena Lyla memulai karir musiknya dari kamar di apartemennya di London. Kalo kekencengan main musik bisa diprotes tetangga kali ya. Akhirnya dia mantap terus menulis lagu dengan nama sendiri sekaligus memberi ruang lebih banyak kepada musisi pendukungnya.

#LL
Ngomongin tetangga yang sering protes akibat musik kekencengan, kayaknya ini akan selalu jadi masalah buat gw dan Jesse. Kita berdua suka sekali dengerin musik keras-keras, dan berinvestasi cukup banyak di perangkat audio. Masing-masing punya speaker vintage setinggi satu meter beserta audio mixer dan vinyl player. Belum lagi berbagai sesi rekaman dan jamming Jesse dengan teman-teman musisinya. Gw sih sebagai penonton setia seneng aja serasa dapet konser gratis buat pribadi.
Nah udah ketiga kalinya tetangga di bawah protes. Pertama waktu kita party menuju blizzard, yang mana emang keterlaluan sih, udah lebih dari jam 2 pagi. Maafkan. Lalu saat Jesse main bass betot. Yang terakhir waktu Jesse lagi denger musik santei di suatu Senin malam. Abis itu gw bikin janji untuk rundingan. Karena prinsip gw sih lebih baik kita berteman dengan tetangga.
Sempet deg-degan juga sebelum hari H, takut berakhir anarkis. Gw dan Jesse udah sedia naskah, kita bakal ngomong gini, didukung argumen gini, dll. Kita udah sedia upeti berupa sebotol wine, bubuk herbal dan maple syrup. Ga taunya begitu kita dateng, mereka juga sedia wine! Obrolan mengalir lancar, bahkan kagak pake skenario, ikrib dan penuh ketawa-ketiwi. Mereka adalah pasangan seusia gw, yang cowok dari Boston dan yang cewek dari UK. Yang cowok rada geek, jadi kita berdua ngomongin luar angkasa dan dinosaurus. Yang cewek seru, aksen Britishnya lucu banget dan gw belajar berbagai swear words dari dia :D
Ga kerasa habislah empat botol wine. Intinya sih, kita pingin hidup rukun, dan musik kekencengan bisa dijadwalkan, mereka malah ngasih karpet segala. Hari itu gw tidur dengan senyum. Bahagia sekali rasanya kalau bisa berteman dengan tetangga.

Iklan

Thursday Track: San Diego – Hinds

Pertama kali lewat #TT, apa kabar belajar disiplin? Alesannya sih gw cukup aktif kesana kemari. Maafkan ya pemirsa *Kayak ada yang baca aja*. Marilah kita rekap dua minggu ke belakang dengan Hinds, International Women’s Day dan bar life yang kembali dimulai.

Niatnya mau cari lagu baru buat post kali ini, tapi gimana dong, hari Rabu kemarin nonton Hinds (lagi). Ini nyaris konser ketiga Hinds yg gw tonton. Haha, baru juga ngeluarin satu album sama satu mini album, udah giat mengejar gigs-nya begitu ya.
Abis gimana dong, cinta abis sama Hinds. Haha, lebay. Mini album-nya diputer berulang-ulang setahun kemarin, dan January kemarin Hinds menelurkan album baru, Leave Me Alone. Ga beda jauh dengan album Hinds, ga ada yang baru kecuali ada beberapa lagu yang agak balada, hanya vokal dan gitar. Karena gw Hinds fundamentalis maka album Hinds tetap diulang-ulang. Agak bosen sih, tapi seneng juga sama lirik-liriknya yang semakin nakal.
San Diego adalah single ketiga dari album Leave Me Alone. Di konser kemarin gw paling seru jingkrak-jingkrak pas lagu ini. Gw suka phrase itu: I’m Staying, I’m staying! Semacam maksa, you can go but I’m Staying. Atau mungkin karena gw punya kenangan khusus dengan pantai-pantai San Diego? Hmm… Cerita itu hanya bisa di japri. Alah.

25656301046_bed91dd904_oOh ya, gw ga sempet posting apa-apa di International Women’s Day kemarin, karena kita wanita karir sibuk bok. Kurang International Women’s Day apa coba gw. Ditambah gw udah marah-marah tentang kesetaraan gender di postingan sebelumnya. Sementara banyak berita berseliweran tentang pentingnya peranan perempuan di bumi ini, gw ga nemu yang pas sampe selesai nonton Hinds. Udah jelas personilnya cewek semua, tapi karena kali ini gw nonton sebelah sound controlling booth, gw baru ngeh kalo sound dan light engineers-nya juga cewek. Mereka nampak keren sekali pencet-pencet berbagai tombol. Dunia di balik layar pertunjukkan musik kan kental sekali dengan hormon maskulin. Segar rasanya melihat dua cewek mendampingi grup centil Hinds.

Konser Hinds juga seolah sebagai tanda bahwa musim dingin segera berakhir dan gw akan baik-baik saja. Seminggu kemarin anxiety gw sudah sangat berkurang. Sudah nonton Hinds, lari malam, berenang, yoga dan berbagai sesi nongkrong di bar kembali mewarnai. Hore!

You couldn’t stay here one more night
So take me to the beach, alright

Thursday Track: I Want You to Stay on the Other Side – Summer Heart

Kinfolk_Vol19_InAnxiousAnticipation-5-634x500

#LL Life lately: Hmm, kecemasan yang tidak melibatkan celana dalam itu datang kembali. Kayaknya udah menu tahunan tiap bulan Februari dan Maret gw agak-agak depresi dan males ngapa-ngapain. Berbagai asumsi yang tercetus adalah kurang sinar matahari, cabin fever dan kangen pake celana pendek. Baru musim dingin segini aja udah cabin fever parah, apa kabar kalo disekap kayak di cerita Room?
Gara-gara ini juga sampe lupa kalo kemarin hari Kamis. Pas udah mau bobo, dimpok-mpok sama Jesse, tenang besok kan hari Jumat. What?! Thursday Track kelewat?? *semakin panik*

Ngomong-ngomong soal kecemasan, ada foto dan artikel menarik dari majalah Kinfolk edisi adrenalin.

#TT Thursday Track: Karena ga bisa nemuin lagu yang cocok buat anxiety, gw hadirkan salah satu lagu kesukaan gw tahun 2013 aja ya. Gw suka lagu ini karena lagu ini membawa perasaan melayang bagaikan menatap lampu-lampu kota LA dari kejauhan. It kinda reminded me of one good summer when everything was lovely and you hold her hands tight under the sun, then autumn turned the temperature low as well as the romance down.
Musiknya sih selayaknya dream pop (lagi) ala ala latar belakang cocktail beach party, dengan sentuhan 80ies dan indie kekinian. Langsung kebayang artwork albumnya itu foto minimalis dengan filter washed out didominasi warna pastel dengan font condensed warna putih di tengah-tengah. White space berlebihan.

Ini gw ngomong apa sih.

Oh iya, tahun kmaren gw dateng ke show-nya di Piano’s disini. Hmm, biasa aja sih. Mungkin gw sudah sangat terpengaruh Jesse, ga terlalu menikmati pertunjukkan musik yang musisinya pencet-pencet komputer di depan penonton. Cuman agak kaget aja, Alexander penampilannya bagai anak 18 tahun! Mungkin dengerin musik dream pop bisa bikin awet muda?

Thursday Track: Oh What a World – Rufus Wrainwright

Mulai sekarang tagarnya mau jadi #TTLL ah, alias Thursday Track and Life Lately. Ga tahan ga curcol, hihi..

#LL Netizen masih gonjang-ganjing topik yang sama, grup wasap udah berenti ceramah dan gw makin kesengsem sama idola ini: Trudeau.
Tontonlah video ini dan berucap alhamdulillah. Nikmat Tuhan mana yang bisa kau dustakan. Cowok ganteng dengan tambuk kekuasaan di tangannya, berkaos pink dengan tulisan: Kindness, One Size Fits All. Maskulin maksimal.

Kayaknya emang dari dulu gw kurang suka sosok berotot dan bengis. Sukanya yang agak kemayu, senyum manis cukup malu-malu dan suaranya lirih. Biarlah Eddie Vedder dan graul-graulnya jadi masa lalu 90-an dan cukup yang niru cuman Creed aja.

#TT Ini juga kayaknya ada pengaruhnya ke pilihan musik minggu ini. Sejujurnya gw belum mup on dari The Books, hari Senin setel Smell Like Content diulang seharian. Tapi belakangan New York gloomy, hujan dan mendung mendominasi, dan kalau hujan gw suka dengerin Rufus Wrainwright.
Bukan barang baru, tapi gw suka karakter vokalnya, tenor yang lirih dan gaya nyanyinya yang menyeret-nyeret melodi. Spesial buat lagu Oh What a World, gw suka bagian latar belakang bergumam dan suara trombone, yang kemudian ditambah lapisan perkusi dan penyanyi latar.

Men reading fashion magazines
Oh what a world it seems we live in
Straight men, oh what a world we live in

Buat gw Rufus ini cakep, matanya menyaratkan pintar dan tentunya dia juga pintar bikin lagu. Sebenernya lagu Rufus favorit gw adalah Out of the Game yang lebih playful ala Kahitna tanpa heiya, sama What Are You Doing New Year’s Eve. Di lagu itu kerasa banget nuansa musim dingin dan kebayangnya Rufus main piano sambil turun salju di luar. Tapi New Year’s Eve udah lewat ya, tahun baru China juga udah lawas. Sekarang jagoan barunya Oh What a World aja deh. Netral bagaikan Rufus yang sedang di kereta menuju Paris, hanya mengamati dunia dari kereta yang bergerak. Bahwa ga apa-apa cowok baca majalah mode dan semua akan baik-baik saja karena ada Trudeau pahlawan anti-bullying.