Destinasi berikutnya: Leiden

Gaes, hellooo… Liat nih, si Dita masih ada, sehat walafiat dan begajulan as always hihihi…

Baiklah, gw ga akan basa-basi elap-elap debu keyboard dll – menyambung postingan tentang transisi: akhirnya sampailah diriku pada petualangan selanjutnya yaitu: Leiden dan sekitarnya.

Terhitung awal bulan Maret lalu, gw dan Jesse (dan Pablo!) mendarat di negeri Belanda ini. Sempat tiga bulan tinggal di Den Haag dan per bulan Juni kami akhirnya memutuskan untuk tinggal di Leiden. Pindahan ini sebenarnya sudah diniatkan agak lama, kalau ga salah tahun 2019 sudah ada ide itu. Alasan utamanya sih karena kantor relokasi karyawan tapi waktu itu masih panjang deh negosiasi, siapa yang pindah, kapan dan bagaimana dan lain-lain. Udah gitu negara covid menyerang segala, yang mana merubah bagaimana kita bekerja kan, ga tiap hari setor muka ke kantor lagi.

Jadi gaes, untuk pertanyaan yang paling sering gw terima: pindah kantor? Jawabannya: Sebenernya sih pindah lokasi aja. Organisasi, komposisi dan tim gw masih sama seperti di New York, cuma kita semua pindahan ke Den Haag.

Singkat cerita, disinilah gw setelah proses panjang pindah dari New York ke Portland lalu dari Portland ke Den Haag, and akhirnya dari Den Haag ke Leiden. Kami jatuh cinta pada kota kecil ini, dan secara lokasi bisalah dibilang tengah-tengah antara Den Haag dan Amsterdam. Jadi kalo mau ngantor tinggal naik kereta 10 menit dan kalo mau nonton konser-konser di Paradiso tinggal naik kereta juga 40 menit-an lah.

Terus terang, yang paling gw rasakan dari pindahan itu: capek secara fisik dan mental. Fisik terutama. Ga sempet sentimentil meninggalkan New York dan beachhouse di Old Orchard Beach, Maine, bengong dikit langsung kepikiran apa aja yang harus diberesin. Dari mulai urusan bongkar dan packing koper/kerdus, beli-beli furnitur, registrasi, lalu cari apartemen dan sebagainya. Eh udah gitu datanglah musim laporan tahunan yang seperti tahun yang sudah-sudah, banyak banget report template, layout dan infografik yang dibuat. Capek banget, gaes.

Tapi di balik capek itu, gw hepi sekali pindah ke Belanda. Seperti ada cerita yang belum terselesaikan dari masa-masa gw kuliah di Enschede yang ingin gw lanjutkan. Tempat ini langsung terasa seperti rumah yang hangat asal heater dinyalakan dan pakai jaket yang sesuai cuaca ;) Udah ketemuan blogger disini (you know who you are, hashtag: binibulegemes) dan udah punya bar langganan. Kadang ada sih post-power syndrome bekas Bu RT New York yang masih mengganjal, tapi ya udahlah… Udah sepuluh tahun disana, udah saatnya memulai chapter baru. Lagian kalo liat berita, USA itu progress-nya mundur ya, agak ngeri juga dan gw bersyukur ada disini, lebih deket dengan Indonesia pun.

Apakah gw akan berbagai cerita kehidupan di Belanda? Ya doakan saja ya, masih sisa-sisa capek banget ini. Butuh tidur 14jam x dua minggu, hehe. Walaupun entah kenapa ada hasrat untuk lebih banyak menulis dalam bahasa Inggris lagi. Gitu deh gaes..

Iklan

3 thoughts on “Destinasi berikutnya: Leiden

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s