Hal-hal yang tidak sempat kita bicarakan

Kita biasa bicara tentang banyak hal. Tentang teman-teman senasib sepenanggungan dan salam-salam yang terlontar di kala kita berjauhan. Kita bicara banyak tentang gosip perkantoran, bos besar, bos kecil, seolah kita tidak akan pernah jadi bos. Kita berbincang berhari-hari mengenai kamera besar, kamera kecil dan lensa-lensanya. Tentang para pemenang sayembara jurnalisme internasional, tentang tangan-tangan yang tak lelah menunggu di samping tombol bundar kamera hingga momen berdatangan. Kadang kita bicara tentang politik dan karena aku orang peta jadi ditambah geopolitik. Sebenarnya tidak masalah, apa saja kita bicarakan tapi seringnya berbagai ketololan yang membuat kita terbahak-bahak. Karena kita merasa pintar, dan orang pintar kan selera humornya bagus.

Kita biasa bicara macam-macam hingga larut malam. Kadang kita menyindir, yang satu ayam jago dan yang satu burung hantu. Tapi dua-duanya bercericit dan ngalor ngidul seolah tak habis-habisnya berita rumah tangga. Kadang kita bicara yang ringan-ringan seperti teh terenak di dunia, kadang kita bicara yang berat-berat seperti membahas penangkaran buaya. Kadang tak jelas kategorinya dan seringkali kita (aku tepatnya) hanya mencari-cari hal-hal lucu agar kita cengengesan.

Topik yang muncul berkali-kali adalah perjalanan. Seolah kaki-kaki kita, yang panjang pendeknya tidak sama, berlomba mengukur bumi dan menemani kita meramu cerita. Kita juga berbagi cerita orang lain yang sudah lebih dahulu menancapkan bendera. Lalu kita jadi berangan-angan, siapa tau cuti kita seirama lalu kita kesana bersama-sama.

Tapi ada hal-hal yang tidak kita bicarakan. Tentang kita.
Tentang pesan-pesan singkat saat kita berjauhan. Bagaimana pesan singkat itu tiba di pagi hari dan membuatku tersenyum saat menuju ke kantor. Kamu tahu saja aku suka Spongebob (hmm, apakah ini juga salah satu topik berat yang dibahas berlarut-larut?) Dan meskipun kita suka sekali berkhayal panjang-panjang akan liburan di masa mendatang demi sejenak melupakan penat meeting hari ini, kita tidak pernah membicarakan liburan kita yang lampau. Bagaimana liburan itu awalnya tanpa harapan, tapi kita spontan saja toh hanya ingin bersenang-senang. Kita tidak pernah bicara bagaimana hari libur yang hujan seharian itu kita habiskan saja dengan bercengkerama di kamar. Kita tidak pernah mempertanyakan apakah liburan itu kelamaan? Hmm, memang pertanyaan bodoh. Tidak ada liburan yang kelamaan.

Ada juga hal-hal yang luput dari pembicaraan atau sengaja disimpan dengan harapan tidak harus keluar saat kita kehabisan topik. Yaitu tentang pacar-pacar kita, yang dulu dan yang akan datang. Kita seperti kesusahan jika dihadapkan dengan pilihan ganda. Ada hal-hal abstrak yang aku tepiskan, aku tak mau kita berbicara dengan jeda. Karena kalau kita diam, aku jadi kepikiran. Maka aku kembali mencari-cari hal-hal sempilan untuk kembali ditertawakan.

Karena mungkin aku (dan kamu) akan terkejut jika kita berusaha mengenali perasaan-perasaan. Yang tumbuh tenggelam selayaknya perahu yang kita sewa agar kita bisa main-main bebas. Karena pabila ia kentara, aku takut harus ada yang bertanggung jawab. Harus ada pertemuan yang sulit direncanakan dan harus ada yang kehilangan kebebasan. Aku takut kita akan berhenti ngobrol, dan hanya ingat betapa awkward-nya malam (atau pagi) itu. Aku takut pesan-pesan singkat itu akan berhenti dan perjalanan kita hanya wacana. Kamu pun sepertinya tak berkeberatan dan ya sudahlah, toh kita sudah sebegini dekat dan selalu berbagi suvenir yang bukan gantungan kunci saat kita berkelana sendirian. Kita sepertinya pengasih, hanya enggan bicara soal hati.

Toh kita bisa bicara panjang lebar tentang konservasi dan penanggulangan bencana. Juga tentang mercu suar dan orang-orang yang berdedikasi menjaganya. Tentang laut dan gunung dan kota-kota di antaranya. Tentang musik jazz yang semakin dibahas semakin susah dimengerti. Tentang rencana-rencana yang kita jadwalkan saat kita bertemu muka. Sampai kita lelah dan tertidur berpelukan, sampai akhirnya kita berjauhan dan kehabisan pembicaraan.

Iklan

Call Me by Your Name

callmebyyourname
Sepuluh bintang di imdb dan lima bintang di Goodreads tidaklah cukup untuk menggambarkan betapa gw terobsesi dengan Call Me by Your Name.
Awalnya tertarik nonton filmnya akibat review oke dari berbagai media dan newsletter Alamo Drafthouse. Gw jadi punya ekspektasi tinggi. Pada dasarnya suka film-film drama model begini. Konflik yang terbangun pelan-pelan, jokes yang sekedarnya tapi kena, perkembangan karakter yang menarik, ditambah film ini ala-ala eropa banget. Udah gitu latarnya Italy tahun 1983, summer, omg gw langsung kangen hari-hari lambat ga ngapa-ngapain di kota kecil. Sukaaaa…
Gw sih ga ngerasa film ini norak sebagai gay porn ya, malah kisah cintanya manis banget. Banyak momen-momen menghangatkan hati seperti saat Elio dan Oliver sepedaan berdua, atau pas mereka nari-nari dengan lagu Love My Way, mengingatkan gw pada hari-hari di Avignon. Adegan bapaknya Elio ceramah singkat ke Elio juga kena banget. Sebelah gw sesenggukan maksimal.
Ditambah akting Timothée Chalamet ciamik banget. Kerasa gitu ni anak petakilan tapi pinter dan dalem. Tante sukaaa…
Tapi emang ujung-ujungnya rada datar sih. Konfliknya terlalu simpel. Bahkan pada saat Elio patah hati dan nangis di depan perapian, I feel nothing. Entahlah, mungkin pas adegan terakhir itu harus dielaborate lebih lanjut?

Karena suka banget adegan pas Elio dan Oliver nari-nari di lagu Love My Way, besoknya gw langsung dengerin soundtrack Call Me by Your Name. Huwaaa… Ini kok sealbum keren semua. Gw suka sekali lagu-lagu instrumental piano, terutama yang judulnya Une Barque sur l’Ocean. Ajaib ya lagu ini, bisa banget lewat nada-nada terasa hawa-hawa pantai, persis seperti hari-hari Elio dan Oliver di Crema. Saking seringnya bolak-balik dengerin album ini, Spotify sampe nawarin playlist Calming Piano :D
Ada dua genre musik lagi di album ini yaitu musik-musik 80-ies yang kental dengan irama keyboard dan dentuman drum machine, sperti Love My Way, dan satu lagi Sufjan Stefans. Yang terakhir musik indie tenang mengalir dengan vokal lirih Sufjans dan lirik yang jleb. Sufjan juga dapet nominasi Oscar untuk best original score. Kombinasi ketiganya membuat gw betah dengerin album ini berulang-ulang, mood-nya langsung berubah tiap dengerin album ini.

Media ketiga yang harus dijajal adalah baca bukunya dong. Inilah asal muasal Elio.
Buku karya André Aciman ini tipis aja, ga lebih dari 250 halaman, dan plotnya sesimpel naskah filmnya. Tapi, oh my God, elaborasi perasaan, keragu-raguan, bahagia dan sedihnya Elio bener-bener dijewantahkan panjang lebar dengan kalimat-kalimat yang manis. Seluruh buku diceritakan dari sudut pandang Elio, penuh dengan pikiran-pikirannya sebagaimana kita sehari-hari yang kadang kebanyakan analisa ;) Yang agak berbeda, tokoh Oliver di buku ga se-superstar aura Armie Hammer di film. Malahan di benak gw, Oliver di buku ini ramah manis, type cowok cakep tapi semua orang pingin dekat dan menghabiskan waktu dengannya. Di buku, Oliver masih muda, 24 tahun, sedangkan Elio umur 17 tahun. Ga nampak fedofil kan? Sah-sah aja untuk naksir-naksiran. Sedangkan di film Oliver nampak berusia 30-am dan Elio loloslah umur 15 tahun mahh…
Perbedaan lainnya yang menurut gw membuat bukunya jauh lebih keren dari filmnya adalah di buku ada adegan Elio dan Oliver main ke Rome lalu mereka book party, makan-makan dan bersenang-senang di Rome. Gw sukaaaa sekali sama bagian ini. Ada perasaan hangat saat kita jalan-jalan dengan nuansa romansa, lalu ketemu banyak orang dan dalam waktu singkat membaur dengan orang-orang baru itu. Udah gitu yaaa… Ada cerita bertahun-tahun kemudian saat Elio udah sangat dewasa dan Oliver beranak pinak, dan bagian ini makjleb banget. Gw rasa kalo difilmin pake lagu Sufjan Stefans gw bakalan cirambay.

Tapi emang film, buku dan musik Sufjans itu jatuhnya either you love it or hate it. Mungkin itu yang membuat filmnya diperdebatkan panjang. Saya mah, udahlah punya obsesi baru: Timothée Chalamet, summer di Italy dan musik-musik John Adams.

Gambar nyolong dari: https://thetempest.co, credit CMBYN.

Klab baca kejar paket A

klabbacaSemenjak awal taun ini, kegiatan membaca gw jadi lebih bersemangat karena gw iseng bikin klabbaca yang ternyata sambutannya cukup positif.
Pertamanya sih tersinpirasi Aggy dengan book buddies-nya. Tapi pas kontak temen deket gw untuk jadi book buddies, dia malah ribet nanya ini itu, trus gw males nerangin. Baca aja blogpost-nya Aggy noh.
Nah, pas awal taun lagi rame-ramenya resolusi nih, ada dua temen gw yang resolusinya: pingin lebih banyak baca. Langsung gw samber di whatsapp, didaulat jadi klabbaca, sekaligus jadi pilot project klab baca. Syukurlah mereka semangat dan bukannya nge-block gw di WA grup, karena gw mayan rajin nanya ini itu soal kebiasaan membaca dan berbagi tips-tips kejar paket A.
Simpel aja sih, tiap bulan kita pilih satu buku untuk dibaca barengan dan di akhir bulan kita diskusi bareng. Serunya sih kalau bisa sambil ngopi dan nyemil-nyemil ya, tapi ada daya gw di New York, satu di Singapore dan satu lagi wira-wiri Solo-Bandung. Jadi diskusi kira-kira sejam atau dua jam lewat skype (yang lalu banyakan foto-foto :D) atau kalau banyak yang berhalangan ya lewat whatsapp chat. Gw pribadi lebih suka lewat skype sih, soalnya dalam sejam bisa membahas banyak, sedangkan lewat chatting biasanya dua jam. Lebih effisien aja gitu. Apalagi kan beda-beda timezone, jadi jam ngantuknya beda-beda.

Di kwartal pertama klab baca, cuman kita bertiga, jadi pilihan buku beneran personal. Gw pilih buku pertama (sebagai figur autoritatif ;) ), terus gantian tiap bulannya. Yah namanya juga percobaan ya. Tapi dalam tiga bulan itu aja kita bertiga jadi semangat banget namatin buku walopun bukunya bapuk banget dan semangat diskusi yang tentunya banyak haha-hihi.
Kwartal berikutnya, klab baca ini diperluas, masih barengan lingkar pertemanan yang sama, tapi nambah anggota 3 orang lagi. Mayan kan… Mungkin kalo diterapkan member get member bakalan lebih sukses tapi klab baca kan nirlaba yaa :D Sistem bacanya masih sama, baca satu buku yang diputuskan bersama melalui musyawarah mufakat atau pemilihan umum, terus dibahas tiap akhir bulan. Ragam buku yang dibaca emang jadi random banget sih, dari memoir, non-fiksi, sampe komik :D Tapi ya gapapalah, kita coba aja menjajal berbagai jenis bacaan. Kadang ada juga yang ga tamat. Ga masalah, buat gw sih yang penting membentuk kebiasaan konsisten membaca dan menikmati buku bacaan. Visi gw dengan klab baca ini bukan fokus pada bukunya sih, tapi lebih kepada komunitas dan membentuk kebiasaan membaca.

klabbaca2Sejauh ini sih gw hepi banget dengan klab baca ini. Simpel dan bikin motivasi membaca semakin kenceng. Kalopun grup ini pada akhirnya ga berminat lagi melanjutkan klab baca, gw akan bikin klab baca lagi. Abis seru aja. Membaca buku itu sebenernya kegiatan yang soliter, tapi dengan klab baca ini kita jadi bisa menikmati pengalaman membaca bersama-sama. Seperti misalnya misuh-misuh kalo bukunya ngebosenin pas baca They Both Will Die in the End atau nangis bareng pas baca buku yang mencabik-cabik perasaan kayak First They Killed my Father.

Sempet ngobrol-ngobrol lebih lanjut, apakah mau memperluas klab baca dengan ngundang-ngundangin temen di luar lingkar pertemanan ini? Hmm, pingin juga sih, tapi masih ragu karena gw masih merasa belum mumpuni memoderasi sekian banyak orang, apalagi yang belum terlalu kenal. Sejauh ini banyakan curcol :D Mungkin skill ini dilatih dulu, nanti kalo udah gape baru deh buka klabbaca untuk rakyat pada umumnya :)

Alasan lain adalah akses buku. Sebagai a proud member of Brooklyn Public Library, gw dengan gampang mengakses buku-buku, walaupun kadang harus nunggu agak lama. Mau beli buku juga tinggal klik dan bayar kredit, lalu dalam dua hari buku dateng deh dari amazon.com atau book depository. Ga selalu buku baru, gw seringnya beli buku bekas. Nah, akses buku ini yang kadang menjadi kendala buat member klabbaca lainnya. Solusinya sih gw berusaha nyariin buku dalam bentuk pdf gratisan dan kadang gw dan temen gw di Singapore berbagi akun perpus. Agak-agak illegal sih, tapi ya demi kemajuan bangsa dan negara, yekaann… Nah gw ga yakin opsi ini bakalan gw lakuin buat khalayak ramai. Tapi pada intinya gw ga mau member klabbaca kesulitan akses buku.

Meskipun klab baca gw saat ini masih eksklusif, tapi silahkan loh fotokopi atau modifikasi ide klab baca bersama geng masing-masing. Gampang dan seru banget, hanya butuh buku dan Whatsapp group. Daripada Whatsapp group jadi ladang hoax kaann… ;)

Me vs You

dsc_2353_15652844261_o.jpgKemaren-kemaren ngobrol-ngobrol sama temen cewek tentang tingkat kompatibilitas pasangan masing-masing. Mungkin karena dia masih muda (tsah, berasa banget senioritas) dan baru pacaran sama 3 cowok (tsah lagi, berasa paling banyak mantan terindah), jadi menurut dia kompabilitas ini penting banget. Sedangkan buat gw, ya tiap cowok itu beda-beda, cari aja mana yang mau susah seneng bareng, ga usah mikirin kecocokan. Menurut gw pacaran itu lebih penting visi misi, udah ga kalah sama pilkada :D

Tapi jadi kepikiran juga sih, gw sama Jesse sekompatibel apa sih? Mari kita telusuri..

Musik
Persamaan: suka musik, tingkat obsesif :D
Kita berdua sama-sama gila musik. Suka dengerin musik lewat speaker hingar bingar, dan selalu bawa earphone kemana-mana. Kita juga suka banget nonton konser dan rajin bikin playlist. Sebagai sesama produk 90-an, kita berdua berangkat dari musik pertumbuhan yang mirip. Nirvana, R.E.M., Aimee Mann adalah beberapa dari musisi yang kita sama-sama suka. Untungnya kita berdua terbuka untuk menjelajahi berbagai jenis musik, musik-musik baru dan lama, ga melulu dengerin musik yang itu-itu aja.
Bedanya: Walopun seneng nonton musik bareng, jangan harap ada adegan mesra-mesraan dunia milik berdua di konsr musik. Jesse kalo nonton musik serius tingkat konferensi G20 summit, diam dan cuma sesekali aja komentar. Sedangkan gw sibuk nari-nari kalo musiknya jingkrable, dan kadang ambil video atau photo, tapi udah ga sesering dulu sih. Perbedaan selera musik yang susah ditolerir adalah gw suka musik sendu 80 dan 90-an ala Janet Jackson dan Whitney Houston, Jesse suka musik country macam Johny Cash, dan untuk yang ini kita keukeuh ga bakal terpengaruh :D Gw udah meniadakan koleksi dalam bentuk apapun termasuk musik, sedangkan koleksi PH Jesse berjibun, dirawat baik-baik dan dijejerin rapih menurut abjad. Bahkan kalo gw mau nyetel PH dia, bisa-bisa dimarahin kalo salah caranya :|

dsc_1023_24977778466_o

Nonton konser di Tipitina’s – New Orleans. Salah satu dari sedikitnya foto barengan saat nonton konser musik.

Makanan
Sama-sama: suka makanan pedas dan berbumbu. Gw mah kan dari Indonesia ya, kalo Jesse ga jelas darimana datangnya salero bundo ini. Doi kuat banget makan sambel, walopun keesokan paginya bolak-balik WC. Kita juga sama-sama suka nyobain berbagai makanan dan restoran baru.
Tapi akhirnya asal perut ga bisa bo’ong. Gw kalo berhari-hari makan-makanan bule, pasti kangen Chinese food yang berminyak :D Bahkan kadang gw suka nyumputin bawa mie instan kalo lagi liburan di Maine, hehe. Jesse juga waktu liburan di Indonesia, tiba-tiba pingin makan roti dan pas balik ke New York langsung pesen chicken sandwich. Kebiasaan makan juga agak berbeda, gw harus makan tiga kali sehari, makan pagi sekitar jam 10 (walopun kadang kelewat sih), makan siang antara jam 1-3 dan makan malem antara jam 7-9 malam. Sedangkan Jesse prinsipnya cuman makan kalo lagi laper dan biasanya ga pernah makan pagi, tau-tau makan jam 4 sore dan baru laper lagi jam 10 malem. Kadang kalo mau makan bareng gw suka manyun karena udah hangry duluan :(

39342887292_c9b2d56794_o

Yang satu gonjreng-gonjreng, yang satu corat-coret.

Talenta
Sebenernya kita bedua adalah jiwa-jiwa kreatif masa kini yang cukup geeky, cuman beda medium dan bidang aja. Kuping dan otak Jesse sangat berbakat mencerna audio, makanya dia jadi musisi sekaligus kerja di tim produksi radio dan betah berjam-jam mixing berbagai suara dan musik. Sedangkan gw sangat telaten ngurusin visual seperti bikin peta, infografik dan rela ngabisin berjam-jam milih typeface sama warna. Kalo kita punya anak pastilah berbakat audio-visual jangan-jangan berbentuk home theater kali ya.. :D :D :D

 

 

Jalan-jalan
Kita berdua suka jalan-jalan tapi juga suka males-malesan di rumah.
Tapi ya mo gimana lagi, gw memang punya jam terbang lebih tinggi *kibas poni* dan udah menebar pin-pin #beenthere #udahpernah di lima benua. Waktu awal traveling bareng, mo nangis rasanya nyesuaiin ritme sama Jesse. Contohnya nih, gw mah tidur dimana aja asal nyaman dan ga ganggu host. Gw sebenernya lebih suka nginep di rumah temen deket (ya kan sekalian kita silahturahmi) atau Air BnB, karena jamannya sering mission gw bisa sebulan nginep di hotel jadi hotel ga berasa liburan lagi. Sedangkan Jesse harus banget di hotel, kalo bisa hotel terisolir dari orang-orang jadi dia ga perlu berbagi kolam renang dengan anak kecil. Terus, gw dulu sukanya foto-foto, sedangkan Jesse ga merasa foto-foto ini penting. Sekarang sih udah saling mengerti, hotel ya disesuaikan dengan mood dan foto-foto harus tapi seperlunya aja.

Cold vs hot blooded
Oh tapi yang paling mendasar: kita bagaikan bumi dan langit untuk urusan suhu yang nyaman. Gw si gadis tropis berbaju minimalis senangnya di atas suhu 25, cenderung suka udara yang sumuk dan hepi sekali berjemur di bawah sinar matahari. Jesse yang nenek moyangnya dari Maine dan Scotland nyaman di udara Lembang, kalo bisa yang kering dan berawan. Lima belas menit di bawah sinar matahari dia akan berubah menjadi pink keunguan sedangkan gw dilepas kala winter paling tahan 15 menit lalu cranky dan mau pulang aja meluk heater. Gw benci AC sedangkan kalo lagi musim panas gini Jesse pasti nyembah AC sehari semalam. Udah sehari-hari kita manyun-manyun atau harus beraktivitas di ruangan yang berbeda. Bukan marahan tapi ya ga nyaman aja kepanasan/kedinginan.

Lain-lain
Dua-duanya sama-sama burung hantu alias selalu bangun siang dan senang begadangan. Horeee!! Hal ini sangatlah terasa saat liburan. Kita akan bangun sesiang mungkin, dan lewat tengah malam masih aja keketawaan kecuali udah capek banget beraktivitas seharian. Sayangnya sehari-hari ga begini karena gw karyawati yang bercita-cita dapet piagam karyawan teladan, gw harus bangun agak pagi dan ga bisa tidur kemaleman. Sedangkan Jesse yang mulai ngantor jam 12 bisa bangun agak siangan.

Dan yang pasti sama: kita berdua sayang banget sama Pablo dari lubuk hati yang paling dalam.

27595696049_8fda0d5ceb_o

Kompak selalu, bahu-membahu membangun negeri bersama Pablo.

Gw rasa ga akan ada manusia yang 90% apalagi 100% plek-plek kompatibel. Akan selalu ada perbedaan. Tapi kalo kita fokus sama perbedaan, ya ga akan maju dan gimana mau membangun hubungan bersama. Gw rasa sih, pasangan itu hanyalah dua orang yang mencoba saling mengerti dan saling mendukung, dan pada akhirnya tumbuh bersama. Nampak simpel, tapi memang pada kenyatannya ga gampang juga sih. Namanya juga hubungan ya, we have to work it out dan di situlah seninya :)

Setuju ga? Kamu dan pasangan banyakkan persamaan apa perbedaan?

Mermaid Parade

mermaid_3Tadinya gw kira setelah tahun kelima di New York, gw akan mulai bosen dengan segala hingar bingar New York dan memilih kegiatan rendah hati seperti banyak baca buku, piknik kecil-kecilan di taman dan dusel-dusel sama kucing sepanjang hari.
Ternyata… salah besar sodara-sodara. Ya semua kegiatan males-malesan gw lakuin, tapi seru-seruan juga jalan terus! Tahun ini berawal keisengan ikutan Brooklyn Peaches synchronized swimming (yang mana masih utang ceritanya pada warganet), gw mulai lagi berkecimpung di keseruan New York, karena grup ini ikutan Mermaid Parade aja doongg…

New York emang kota yang penuh parade, apapun musimnya, ada aja deh iring-iringan massa berkostum di jalan raya. Mermaid Parade ini parade asli kreasi warga Coney Island, terutama komunitas seni. Diselenggarakan Coney Island sebagai tanda mulainya musim panas. Temanya adalah memperingati berbagai mahluk fantasi dari laut dan tentunya setiap warga yang berpartisipasi boleh dandan seajaib mungkin! Bahkan banyak yang topless ;)
Brooklyn Peaches mulailah heboh persiapan dari beberapa minggu sebelumnya. Kita ngumpul di studio puppetry-nya Gretchen, sibuk prakarya bikin rok tutu dan hiasan kepala yang gemerlap. Seruu bangett… Sebagai anak yang suka utek-utekan bikin kerajinan tangan, this is my jam! Minggu berikutnya kita latihan nari-nari di studio. Lalu dua minggu kemudian… Show time!

mermaid_persiapan

Kerajingan tangan biking hiasan kepala di studio seni-nya Gretchen.

Kita ngumpul dulu di rumah Jackie untuk sama-sama dandan (dan ngeberantakin apartemennya dengan menebar glitter dimana-mana) lalu barengan naik subway ke Coney Island. Yes, kami sengaja naik subway bikin terperangah para penumpang. Pertama kalinya gw naik subway berbaju renang :D

IMG_9723

Sebelum papanasan, kita mejeng dulu di depan rumah.

IMG_2265

Seseruan di subway.

IMG_9741.jpg

Subway platform dibanjiri mermaid.

Nyampe di Coney Island, setelah registrasi sejenak, kita langsung ikutan parade. OMG seruuuu banget. Sebenernya sepanjang hari itu gw khawatir hiasan kepala gw copot sih. Hahaha… Tapi seru seru seru, tak terperikan. Liat aja poto-potonya. Ga sampe sejam kita udah menyelesaikan rute parade lalu ya foto-foto sampe keblenger, sempet cebur-ceburan sebatas paha di pantai dan ngaso di Coney Island brewery. Sepanjang hari banyak banget yang minta foto sama kita. Abis itu ada yang pulang, lanjut ke after-party, sementara gw harus ke event berikutnya karena Jesse manggung bareng Mike Watt dari Minute Men(!!).

IMG_1797

Mejeng di depan Brooklyn Cyclone, salah satu roller coaster tertua di US.

IMG_2378.jpg

Di antara peserta parade lainnya.

IMG_2337

Kita punya mascot Merpup juga :)

mermaid_4

Because mermaids belong to the sea, belong to the water… #yousingyouloose

Besoknya mulai berseliweran foto-foto kami di media massa! Oh yeah!! Gw berdoa aja sih semoga nyokap gw ga liat paha anaknya ini nampang, hahaha… Lihatlah ramenya Mermaid Parade di Brooklyn Vegan, Daily Beast, New York Post dan Brooklyn Eagle.
Oh Mermaid Parade yang seru! Kerasa sekali aura para freaks berjiwa seni dan dimana-mana gw mendengar “You look amazing!” Aren’t we all? Dan Brooklyn Peaches yang penuh dengan cewek-cewek cantik jasmani rohani, aku cinta sekali pada kalian semuaaa… Makasih udah ngajakkin Mermaid Parade yaaa… Taun depan mau lagi!

#stayweird

mermaid_2.jpg

Featured by Daily Beast.