Mami

Salah satu yang berkesan dari mudik kemarin adalah gw yang berusaha meluangkan waktu untuk ngobrol dengan Mami. Mami ini adalah nenek dari pihak ibu, ibunya nyokap gw, umurnya sudah 92 tahun kalo ga salah. Kalo ditanya langsung pun beliau pasti jawab udah ga inget, udah ketuaan, katanya sambil senyum-senyum. Dan gw merasa sangat menyesal ga ngobrol banyak dari dulu. Pastinya banyak cerita dan wisdom yang bisa dipelajari dari Mami.

Senangnya bisa peluk Mami setelah hasil swab test negatif

Nama asli Mami adalah Norma. Tapi semua orang, dari mulai anak, cucu, cicit, adik, kakak dan sebagainya, memanggilnya Mami. Asalnya dari Rengat, kota kecil di Riau daratan, dan rumah Mami tepat di tepian sungai Indragiri. Gw tiga kali mengunjungi kota kecil ini. Aseli ga ada apa-apaan, semua orang adalah keluarga, semua orang kenal semua orang. Seingat gw, ada satu pasar dan ada beberapa restoran peranakan yang kwetiawnya enak banget. Terakhir kali berkunjung kesini tahun 1995, 25 tahun yang lalu. Entah sekarang wujud Rengat sudah seperti apa.

Anak Mami ada 7, semuanya merantau dari Rengat. Paling dekat adalah Oom gw yang tinggal di Pekanbaru, paling jauh ada yang kerja di kapal dan berlayar keliling dunia. Mayoritas tinggal di Jakarta dan Bandung. Ga tanggung-tanggung, ada yang sejak kelas 2 SD sudah dikirim ke Bandung, yaitu nyokap gw :D Setelah Mami mengirimkan semua anak-anaknya untuk sekolah dan berkarya di kota besar, Mami lalu mengangkat 2 anak lagi yang kemudian dia kuliahkan di Jogja. Gaes, kurang kuat bagaimana lagi Mami ini, beliau membesarkan 9 orang anak loh. Gw ngurus 1 kucing aja capek haha.

Keluarga besar kami sangat suka kumpul-kumpul, minimal ketemuan saat lebaran. Jadi walaupun Mami tinggal di Rengat, kami sering ketemuan. Kadang Mami tinggal di rumah anaknya untuk sebulan dua bulan. Gw ga ingat banyak interaksi dengan Mami waktu gw masih kecil. Mungkin karena keluarga yang selalu rame, jadi terdistraksi banyak hal. Yang gw ingat, Mami banyak beraktivitas di dapur. Paling sering masak kue kering, apalagi kalau sudah bulan puasa. Di sela-sela kesibukan di dapur, Mami bisa ditemui sedang merokok dengan nikmatnya di teras atau di sudut garasi :D

Sosok yang nempel dengan Mami adalah Papi, suaminya. Tapi Mami memang lebih dominan dalam bertindak dan mengambil keputusan. Papi kemana-mana naik sepeda di Rengat, mungkin dari sinilah gw mendapat gen suka gowes, hihi. Di akhir hidupnya, Papi sudah sangat pelupa, suka mengarang-ngarang dan kadang hilang. Contohnya, saat nonton TV ada Anwar Fuadi, Papi bilang kalau Anwar Fuadi ini kawannya main bola. Trus gw ngebayangin seragam bolanya tetep ala ala Versace gitu, hihihi. Pernah kejadian Papi hilang setelah sholat Eid di kompleks perumahan gw. Wah kita sangat kalut dan mencari kemana-mana. Akhirnya ditemukan setelah pesan berantai diumumkan dari mesjid ke mesjid. Tiap kenalan sama orang baru di kompleks pasti komentar mereka “Oh kamu yang kakeknya ilang itu ya?” Dan selama Papi hilang ini, Mami sibuk meyakinkan kita “Udah kita makan ketupat aja, keburu dingin. Nanti juga Papi balik sendiri.”

Papi berpulang tahun 1997 kalo ga salah. Ga lama setelah itu, Mami lebih sering tinggal di rumah anak-anaknya dan akhirnya menemukan rumahnya di Bandung, alias di rumah gw. Entah kenapa Mami betah sekali di Bandung, mungkin karena ga sehingar-bingar Jakarta. Ya gw juga mengerti sih Mi ;) Mami senang menjahit dan bikin semok. Duh ga jelas gimana mengejanya, itu loh semacam embroidery gitu. Sampai sekarang gw masih pake mukena hasil karya Mami dan punya beberapa daster yang dismok oleh Mami. Walopun gw jarang pakai buat tidur karena kebagusan banget yaaa, kita mah tidur pake kaos lusuh.

Daster dengan embroidery buatan Mami

Lalu giliran gw yang merantau dari Bandung, hingga jarang ketemu Mami. Sejujurnya, gw itu ga terlalu pintar ngobrol apalagi sama orang yang lebih tua. Jadi memang dari dulu gw jarang ngobrol sama Mami. Baru akhir-akhir ini gw bisa nyambung sama orang-orang yang lebih tua dan baru akhir-akhir ini gw memberanikan diri ngajak ngobrol Mami. Yang mana hasilnya zonk, karena Mami sudah mulai pikun. Meskipun begitu, Mami selalu tersenyum dan sumringah, dan akan bikin kita ketawa-ketawa.

Di mata gw, Mami adalah sosok wanita yang kuat, punya kendali di rumah tangga dan yang paling gw kagumi, beliau sangatlah simpel, ga pernah menuntut apapun dan selalu memberi. Ga tau juga ya, kalo ada tuntutan buat anak-anaknya ;) Tapi semua orang sayang Mami, senang dekat-dekat Mami dan dengan senang hati memberi segala macem buat Mami. Walopun Mami selalu bilang, “Mami udah punya semua.” Waktu gw sering jalan-jalan, di saat semua orang nitip ini nitip itu, tiap gw tanya Mami mau apa “Mami ga mau apa-apa. Ga usah repot-repot, yang penting Dita senang jalan-jalan.” Gimana ga semakin pingin beliin Mami oleh-oleh macem-macem.

Dari sepenggal ngobrol-ngobrol dengan Mami selama mudik kmarin, walopun Mami sudah mulai pikun, beliau masih ingat banyak hal. Alhamdulillah Mami masih ingat gw walaupun sudah setahun ga ketemu dan kadang-kadang manggil gw Wita. Mami masih ingat Jesse, katanya “Calonnya Dita itu yang masih muda.” Pertama kali Mami ketemu Jesse, beliau berinisiatif jauhin sambel dari depan Jesse, takut Jesse kepedesan. Padahal Jesse suka sambel, lalu dia tarik lagi sambelnya. Terjadilan tarik menarik sambel di meja makan. Hihihi.

Fisik Mami sudah ga sekuat dulu, penglihatan dan pendengarannya sudah ga setajam dulu. Tapi Mami selalu berusaha mengerjakan apa-apa sendiri, kita aja yang kelewat khawatir. Kadang jalan pun sering nabrak dan Mami punya helm buat dipakai di rumah :D Pernah Mami nabrak lemari, suaranya lumayan keras dan mengejutkan, kita semua tergopoh-gopoh nyamperin Mami yang lalu bangun dan menjawab “Untung lemarinya ga pecah.” Hihihi.

Terlelpas dari segala keterbatasan ini, Mami tetap selalu tersenyum, suka makan eskrim dan kata-kata beliau yang paling gw ingat “Sekarang Mami sudah ga bisa berbuat macam-macam, yang tinggal Mami bisa berikan adalah kasih sayang.” Huhuhu…

Sehat-sehat ya Mi. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi dan rebutan sambel dengan Jesse.   

Track Series

Katanya 2020 itu tahunnya kita cancel berbagai hal, dan gw jadi kepikiran, apa gw cancel aja nih Reading Challenge 2020? Gw bertekad baca 50 buku tahun ini, yang mana cuman nambah 2 buku dari tahun lalu. Tapi oh mak, susahnya konsentrasi baca di awal-awal pandemik! Walhasil sepanjang tahun gw keteteran. Dan sebagai si high achiever, tertinggal di urusan goal-goal itu ga enak rasanya. Walopun goal-nya receh.

Jadinya gw nyari buku yang tipis-tipis fast-paced kan. Yang sebenernya ga baik, karena gw suka mencoba baca berbagai buku dan kadang ada buku yang memang harus dibaca pelan-pelan. Biar bisa lebih dinikmati dan diresapi. Tapi di jaman pandemik begini, buku adalah pelarian dari kehidupan. Dan gw sangat bersyukur bisa lari bersama buku serial Track. 

Track adalah serial buku yang terdiri dari 4 buku, dimana tiap buku dinarasikan oleh anggota baru track team The Defenders. Kita akan terlibat dengan satu minggu di kehidupan tiap anak. Diawali dengan Ghost, yang lagi ngintip The Defenders latihan sambil makan kuaci, lalu dia ikutan lari aja. Dari situ kita diajak mengenal Ghost dan keluarganya, juga kehidupan Ghost di sekolah dimana dia berhadapan dengan bully.

Gw jatuh cinta seketika pada Ghost. Karakternya yang slenge’an tapi rapuh, juga latar belakang keluarganya yang kurang ideal, membuat gw ingin memeluk Ghost erat-erat dan semoga dia diberi chapter-chapter bahagia di masa depannya. Dan terus penasaran, akankah dia bertahan di the Defenders?

Show you that you can’t run away from who you are, but what you can do is run toward who you want to be.

Ghost – Jason Reynolds

Kekuatan seri Track ini memang ada di perkembangan karakter yang luar biasa, setting yang natural, konflik-konflik yang sederhana tapi dalem. Udah gitu, gw kan suka lari, jadi mengikuti latihan the Defenders setiap harinya itu menyenangkan. Ditambah, bertutur Jason Reynolds yang lucu dan pas sekali dalam menyuarakan anak-anak seumuran Ghost. Kalo ga salah sih, mereka kira-kira umur 10-12 tahun ya. Anak-anak yang beranjak ABG.

Gw tuh sebenernya memang seneng baca buku untuk umur2 segini. Haha, yes I can relate to 10 yo, makanya binge watching nya juga The Baby Sitter Club. Mungkin karena pada umur-umur segini tuh gw banyak baca buku middlegrade yang seru-seru; Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, seri Mallory Towers, seri Bullerbyn dan masih banyak lagi. Dan ga gampang loh menemukan buku dimana pengaranganya menyuarakan anak-anak umur segini dengan pas. Kebanyakan pengarang menulis suara yang terlalu dewasa. Dan Jason Reynolds, man oh man, gw jatuh cinta juga deh sama Jason Reynolds ini.

Buku selanjutnya kita mengikuti Patina, satu-satunya anggota baru cewek di The Defenders. Gw suka suka suka sekali sama Patina yang selalu urun berpendapat. Buku ketiga, Sunny, ah ga ngerti lagi deh. Gw ga tau lebih suka Ghost atau Sunny. Sunny itu sangat audio, pikirannya tumpang tindih silih berganti dan penuh suara-suara yang kadang ga ada artinya. Tapi gemash. Dan di 30 halaman terakhir, gw bersimbah air mata, saking terheru sama hubungan Sunny dan bapaknya. Damn you, Jason Reynolds, middlegrade book shouldn’t be this tearjerker. 

It’s like he understands what dancing is for. It’s not just to watch, it’s to do, to somehow remind yourself that you’re still . . . you.

Sunny – Jason Reynolds

Saat ini gw lagi menahan-nahan diri untuk ga menamatkan buku terakhir, Lu. Kayak gitu kan kalo baca buku seru tuh, ga bisa berenti, tapi ga mau abis. Huhu… Baca jangan yah… Apa disimpen buat saat-saat minat baca lagi mandek. Tapi beneran deh, sangat direkomendasikan terutama buat yang suka baca buku middlegrade dan ibu-ibu yang anaknya udah bisa baca buku bahasa Inggris, cuss segera lari bareng Ghost dan kawan-kawan. Bahkan almarhum Kobe Bryant menyarankan Track Series buat bacaan tandem anak dan orang tua.

Atau ada yang mau berbagi rekomendasi buku favorit dengan genre middle grade?

Mudik di tengah pandemik

Tiga minggu yang lalu gw mendarat di Cengkareng, sesuatu yang ga pernah terpikirkan akan gw lakukan di tengah dunia yang dilanda krisis kesehatan tapi alhamdulillah semuanya lancar. Gimana ga terpikirkan, New York dihantam virus Corona di akhir maret dan pada puncaknya jumlah kasus baru di tanggal 14 April adalah lebih dari 10.000 kasus. Ngeri ga tuh. 

Sekarang sih kasus corona di New York sudah sangat menurun, per hari nya kira-kira 600-800 kasus baru per hari. Selama enam bulan kebelakang, gw bisa dibilang ga kemana-mana, paling hanya belanja bahan pangan atau ambil pesanan makanan, dan hal-hal esensial lainnya. Di bulan Juli dan Agustus gw udah mayan aktif keluar rumah sih, tapi bisa dibilang sangat jarang. Paling seminggu sekali. Itu pun selalu beraktivitas di udara terbuka seperti ke pantai atau ke taman. Kadang ketemu teman, tapi itu pun selalu di udara terbuka dan terbatas paling banyak bertiga. Selama itu juga gw tidak pernah menggunakan kendaraan umum kecuali ferry dimana gw langsung menuju bagian atas. Gosong-gosong deh.

Oh ya, itu dan beberapa hari bepergian ke New Hampshire untuk urusan keluarga menggunakan mobil sewaan. Dan seminggu liburan di Maine menggunakan mobil sewaan juga. Kasus covid di kedua negara bagian tersebut sangatlah rendah, hanya 4-5 kasus baru per hari. Jadi ya kemana-mana juga sih, tapi masih dalam skala lokal dan ga ada apa-apanya dibanding dengan perjalanan mudik.

Lalu gimana ceritanya tuh gw nekat mudik? Karena adik kesayangan satu-satunya itu menikah bulan ini. Gw awalnya agak pusing kepala sih, duh ngapain nikah sih? Hahaha, ini sih pesan sponsor. Tapi tentu saja gw ga akan melewatkan hari berbahagianya dan akan kuterjang segala protokol kesehatan demi hadir berkebaya dan bermasker menyaksikan dia mengucapkan sumpah setia. 

Berikut pengalaman gw mudik yang mungkin bisa menjadi gambaran bila ada yang berniat mudik juga. Untuk persyaratan dan sebagainya, sebaiknya sih selalu cek website kemenlu dan health advisory negara masing-masing. Ada baiknya juga menghubungi KBRI/KJRI setempat. Mohon untuk mengecek persyaratan terbaru karena peraturannya bisa berganti dengan cepat.

Persyaratan

Pertama-tama, gw cek persyaratan bagi WNI yang berdomisili di US untuk masuk ke Indonesia. Setelah cek website CDC, japri teman di KJRI dan cek website Kemenlu, akhirnya dapat kesimpulan bahwa persyaratan untuk sampai di Indonesia adalah sebagai berikut:

  • KTP untuk bukti WNI. WNA belum diperbolehkan masuk ke Indonesia kecuali punya KITAS atau ijin kerja resmi
  • Surat tanda bebas COVID melalui PCR/swab tes yang berlaku maksimal 7 hari dari hasil tes ke tanggal tiba di Indonesia
  • WNI yang tiba tanpa surat bebas covid akan dirujuk karantina di fasilitas pemerintah

Semenjak itu gw aktif cek website2 di atas, siapa tau berubah kan. Minimal tiap minggu gw cek.

Tes PCR

Mulailah gw cari tempat tes di New York. Sebelumnya denger-denger sih banyak tempat seperti City MD, CVS Pharmacy, dan rumah sakit lainnya yang kasih tes PCR gratis. Tapi cek cek website mereka, rata-rata hasilnya baru keluar 6-12 hari. Kayaknya sih fasilitas lab-nya masih terlalu sibuk memproses tes covid. Untungnya kantor ternyata memfasilitasi tes covid dengan mengirimkan suster ke rumah dan hasilnya keluar dalam 1-3 hari. Okeh, mari kita jadwalkan tes tiga hari sebelum tanggal terbang.

Pilih-pilih penerbangan

Setelah jadwal tes terkonfirmasi, cari-cari tiket dong. Masih banyak pilihan penerbangan New York – Jakarta, tapi ga sebanyak sebelum pandemik sih. Harga tiket juga ga berbeda jauh dengan pasaran sebelum pandemik. Pilihan jatuh ke Qatar Airways dengan pertimbangan harga tentu saja, durasi perjalanan paling pendek, protokol kesehatan yang oke dan leluasa dalam perubahan tanggal terbang. Gw juga cek persyaratan bisa terbang dengan Qatar airways, ada beberapa perbedaan syarat untuk negara asal dan negara tujuan, tapi untuk penerbangan ke Indonesia dari US, kurleb persyaratannya seperti di atas dengan PCR test sebagai syarat untuk masuk Indonesia.

Perubahan tanggal terbang sih yang bikin ketar-ketir, karena gw takut sekali ada apa-apa, misal hasil tes telat keluar, ada kebijakan baru antar negara, dll. Tiket pesawat ga murah woy. Dari mulai bulan Juni, Qatar mengeluarkan press release bahwa selama gw beli tiket sebelum tanggal 31 Sep, penumpang bisa merubah tanggal dan tujuan penerbangan tanpa dikenakan biaya. Tapi gw agak ga yakin, apalagi tiket pesawat ada kelas-kelasnya dan biasa deh kelas yang murah selalu ada ** terms and condition apply. Dan setelah kebijakan bulan Juni itu, Qatar masih ngeluarin lagi update terbarunya. Gw cek berkali-kali ke pusat reservasi dan jawabannya berbeda-beda. Hedeh, pusing. Setelah akhirnya gw yakin bahwa memang tidak ada biaya untuk merubah tanggal penerbangan, maka gw pesan tiket.

Eh terus kejadian deh gw harus merubah tanggal karena terlalu mepet sama hasil tes COVID. Pas gw urus via telpon, agen reservasi dengan entengnya bilang “Okeh bu, biaya ganti tanggal $300 plus beda fare $150.” HAH? Rasanya mau pingsan. Untung gw dengan tenang dan berdiplomasi bilang “Mas, saya sudah baca website dan cek ke pusat reservasi bahwa Qatar membebaskan biaya ganti tanggal.” Kemudian masnya ngobrol dulu dengan entah siapa dan akhirnya kembali untuk bilang “Oh iya ga usah bayar. Dan ini ada fare yang sama jadi gratis.”

Kesimpulannya: ini harus kita loh yang ngingetin agen-nya untuk fleksibilitas ini.

Berangkat dari JFK

Tiket, hasil tes covid negatif dan segala jastip sudah di tangan, mari kita mudik. Di hari H, pihak Qatar menelpon gw minta e-mail semua persyaratan di atas. Baiklah. Disarankan untuk tiba di bandara 3 jam sebelum jadwal penerbangan. Gw pun cus pake taksi online.

Sampai di JFK, permissiii… halloo pada lagi kemana ya? Ini JFK apa padang sunyi di antara rerumputan? Alias sepi banget. Butuh hanya 20 menit dari mulai gw turun taksi, cek in koper, security check sampai gw duduk manis di gate keberangkatan. Yang udah pernah terbang dari JFK atau airport di Amerika lainnya pasti masih ingat bahwa airport di Amerika itu penuh kayak pasar, dan biasanya banyak titik-titik antrian terutama di security check saat kita harus lepas sepatu, keluarin barang elektronik dari tas, dll. Kmaren itu beneran ga ada antri. Semua pengunjung wajib mengenakan masker dan pengantar tidak boleh masuk bandara sama sekali.

Semua restoran tutup, untung gw berbekal sebungkus granola – karena gw kalo laper berubah jadi monster. Nyaris semua toko di bandara tutup, kecuali beberapa toko parfum. Hmm, emang sih disinyalir kita jarang mandi selama pandemik ini, tapi ya ga usah gini-gini amatlah.

Padang sunyi JFK

Selama penerbangan

Boarding pesawat dibagi per zona dan cukup strict agar pas ngantri ga berkerumun. Sesaat sebelum boarding Qatar Airways membagikan face shield, face shield dan masker dihimbau untuk dipakai sepanjang penerbangan kecuali saat makan dan minum. Ini pertama kali gw pake face shield, terus gw ga ngeh kalo ada plastik pelapis yang harus dicopot. Sampe diketawain para pramugarinya :D

Penerbangan JFK – Doha cukup “penuh”, semua kursi aisle dan window nyaris terisi penuh, middle seat sengaja dikosongkan. Di awal penerbangan dibagikan sarung tangan karet, masker dan hand sanitizer untuk setiap penumpang. Pramugarinya pun pakai masker, kacamata dan haz mat.

Terus terang gw merasa ga nyaman banget pake face shield, berasa tukang las. Apalagi di tempat sempit face shield gw berkali-kali nyangkut sana sini. Mana face shield gw kegedean lagi, jadi melorot muluk. Tapi sebagai warga New York yang masih di kategori parno, ya gimana lagi ya. Untung anaknya pelor, alias setelah makan malam gw langsung tidur dan baru bangun saat makanan berikutnya disajikan. Pelor adalah anugrah.

Begini aja terus kecuali pas makan minum

Transit di Hamad International Airport

Gw tiba kira-kira pukul 8 pagi di Doha dan Hamad airport sepi banget. Seperti JFK, toko-toko masih pada tutup. Gw langsung pergi ke spa untuk mandi. Ini kebiasaan gw tiap transit di penerbangan panjang sih. Mau pandemik atau ga gw selalu mengusahakan mandi biar segar di penerbangan berikutnya. Sebenernya gw ga terlalu yakin kebiasaan mandi ini bagus atau buruk di saat pandemik, tapi menurut gw make sense untuk mandi, keramas dan ganti baju, dengan catatan jaga jarak di ruang ganti. Untungnya, spa-nya kosong, gw cuman satu-satunya pengunjung yang numpang mandi pagi itu. 

Penerbangan berikutnya dari Doha ke Jakarta kosong banget. Mungkin cuman ada 50 penumpang untuk pesawat kapasitas 400 orang. Gw dapet satu baris sendiri dan baris depan gw kosong, baris belakang gw juga kosong. Gw sudah mulai terbiasa dan ga se-deg-degan di penerbangan berikutnya. Dan tentunya gw pelor lagi. Sebelum mendarat pramugari membagikan kartu kesehatan yang harus diisi – yang sebenernya bukan kartu sih, cuma fotokopian gitu.

Tiba di Cengkareng

Begitu mendarat di Cengkareng, seluruh penumpang diarahkan untuk duduk di kursi yang berjarak dengan aparat kepolisian membantu kita mengecek dokumen yang diperlukan. Entah kenapa tiap berada di setting model begini gw berasa lagi try out UMPTN :D Abis itu satu persatu maju ke meja di depan untuk dicek suhu, kadar oksigen dan kartu kesehatan yang sudah diisi pun dibagi dua, satu untuk kita, satu ditandai daerah tujuan kita. Karena gw akan ke Bandung, kartu gw dibubuhi tulisan PMI Jabar. Yay PMI! (Sukarelawan Red Cross selalu hepi kalo liat peran Red Cross di berbagai aspek kehidupan). Setelah itu kita ngantri lagi untuk dicek validasi hasil PCR yang kita bawa. Yes, surat gw valid maka gw boleh melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Untuk yang ga punya hasil PCR, disarankan untuk isolasi di fasilitas rujukan pemerintah, tapi gw ga ngeh apakah orang-orang ini wajib pergi ke tempat tersebut atau ada opsi isolasi mandiri juga. 

Overheard di meja sebelah gw:
“Mbak, aku dapet hasil PCR-nya dari pemerintah UK dalam bentuk SMS gitu. Berlaku ga?”
“Oh, UK yang di Inggris?”

Di pintu keluar ada aparat kepolisian lagi yang mengecek dokumen-dokumen, entah dokumen apa yang sebenarnya dicek, mereka mandang-mandangin paspor, boarding pass, surat PCR yang dicap valid sambil basa-basi ngobrol. Begitu tau gw akan ke Bandung mereka ngobrol basa Sunda logat Medan :|

Oh ya, keseluruhan proses di atas terjadi secara verbal alias ga ada plang-plang atau apalah yang menjelaskan proses pemeriksaan. Semuanya dijelaskan secara langsung oleh para petugas.

Cengkareng juga sepi minta ampun, sungguh berbalik 180 derajat dari terakhir kali gw dateng. Selain antrian cek-cek berbagai dokumen terkait covid, yang mana lumayan cepat karena kebetulan saat gw mendarat cuman ada rombongan dari pesawat gw, tidak ada antrian sama sekali di imigrasi, baggage claim dan baggage re-check. Penjemput hanya boleh menjemput di meeting point yang mana beneran krik krik krik, sepi bener.

Antrian imigrasi di bandara Cengkareng

Setelah nyaris 24 jam gw di udara dan di berbagai bandara, akhirnya gw keluar dari Cengkareng dan menghirup udara Jakarta yang panas dan lembab. Ugh, lega sekali akhirnya berada di luar ruangan, semenjak pandemik gw sama sekali ga terbiasa berlama-lama di ruangan ber-AC. Dan lebih lega lagi saat ketemu Papa, Mama, adik gw dan adik sepupu yang menjemput. Segala kejelimetan bepergian di era pandemik dan keparnoan gw sungguh worthed untuk ketemu dengan mereka semua secara langsung. Tentunya kami hanya salam covid – ga pelukan – dan gw mandi dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung. Untuk lika-liku isolasi mandiri dan pernikahan adik gw, itu cerita lain lagi :)

Kesimpulan gw dari mudik saat pandemik ini: Gw sangat bersyukur bisa pulang dan ketemu keluarga walopun dunia sedang gonjang-ganjing pandemik. Lega sekali rasanya melihat semua sehat-sehat dan bisa beradaptasi cukup baik dengan perubahan keseharian di masa kritis ini. Salah satu yang bikin khawatir selama pandemik dan ketidakpastian ini adalah: apakah gw bisa ketemu keluarga lagi? Mungkin ya nanti akan ada saatnya, tapi siapa yang tau, ya ga? Para perantau pasti familiar dengan perasaan ini.

Apakah gw akan terbang untuk liburan? Nope. Buat gw pribadi, keribetan perencanaan dan penyesuaian kebiasaan travelling ini ngeri-ngeri sedap tapi lebih banyak ngerinya. Gw lebih nyaman berada di rumah tanpa khawatir dan ga ribet dengan atribut anti-covid. Liburan penting untuk kesehatan mental kita, tapi ada alternatif liburan dimana kita ga harus terbang, bisa membatasi ruang agar ga ketemu orang banyak dan sebisa mungkin banyak berada di ruangan terbuka. Lagian katanya, holiday is a state of mind :)

P.S.: Semua bandara yang gw singgahi menerapkan protokol covid untuk jaga jarak, ada marka-marka jaga jarak di setiap antrian, banyak kursi yang diberi tanda X untuk tidak diduduki dan ada hand sanitizer dispenser dimana-mana. Gw kurang memperhatikan apakah orang-orang pada patuh pakai masker atau ga, karena terus terang selama pandemik ini gw lelah hayati soal urusan masker ini. Gw akan selalu pakai masker saat di tempat umum dan bertemu orang yang tidak serumah dengan gw, tapi kalo lu ga pake masker wes sakarepmu lah.

Demikian pengalaman gw. Sekali lagi, mohon jangan jadikan posting ini sebagai panduan, ini hanya berbagi pengalaman. Kalau memang berniat mudik harap untuk selalu cek langsung ke sumber informasi resmi. Semoga kita dan orang-orang tersayang sehat-sehat ya, dan akan segera tiba waktunya kita bisa bepergian tanpa rasa waswas.

Dan untuk yang bertanya apakah gw bisa kembali ke New York? Iyes, saat menulis ini gw sudah kembali di meja kecil WFH gw dari Brooklyn. Saat gw menulis ini, pemerintah US hanya mengeluarkan peraturan tertentu buat pendatang dari Iran, China, Brazil dan Eropa. Gw rasa ini ga pernah di update dari semenjak bulan Maret deh. Santuy da disini mah :|

Liebsteir Award – dari Hanaa

Tulisan ini adalah lanjutan dari Liebsteir Award sebelumnya yang dibagi menjadi 2 bagian biar ga jadi cerpen wattpad. Kali ini menjawab pertanyaan dari Hanaa, yang mana kalo ini ujian gw pasti manyun karena ga dapet nilai 100 karena beberapa pertanyaan Hanaa ga pernah terpikirkan sebelumnya.

  1. Pilihan terberat apa yang pernah kamu buat dalam hidup? Akhirnya bagaimana? Apakah pilihan yang kamu ambil berakhir manis atau tidak?

Kayaknya yang paling berat adalah waktu aku memutuskan untuk menyudahi pacaran pertamaku. Pacarannya lama dan aku waktu itu masih sayang, tapi aku beneran ga ingin ada di hubungan itu. Akhirnya ya udah sih, sedih tapi berakhir manis tentunya karena aku bisa menemukan diriku lagi.

  1. Siapa orang yang paling kamu kagumi?

Siapa ya… Hmm… Kagum-kaguman ini buatku sifatnya musiman. Saat ini lagi tergila-gila Taika Waititi karena ya ampun dia cakep, pintar sekaligus kocak banget. Lagi sibuk marathon film-filmnya nih.

  1. Kalau dihadiahi uang seratus juta US Dollar, mau kamu apakan utangnya?

Oh udah pernah exercise sejenis ini! Waktu itu pingin beliin tiket buat semua orang rumah untuk ke New York atau kita liburan bareng di tempat yang jauh. Lalu beli rumah di tepi pantai. Lalu buat biaya hidup supaya bisa setaun ga ngapa-ngapain. Lalu buat ambil second master graphic design di London. Lalu buat biaya hidup dua tahun ga kerja dan merintis information design agency atau karir lepas. Sisanya masuk deposito buat masa depan dan buat Red Cross. Eh masih ada sisanya ga sih?

  1. Waktu masih kecil (sekitar SD), kamu mau jadi apa? Sekarang, apakah cita-citamu tersebut jadi kenyataan?

Dulu selalu jawab mau jadi arsitek. Mantep banget ga pernah berubah. Apalagi pas SMP, seneng banget gambar-gambar perspektif, udah macam arsitek beneran.

Sekarang? Ya nggak jadilah. Semenjak menemukan dunia grafik desain udah ga kepikiran jadi arsitek :P

  1. Hari yang ideal bagi kamu seperti apa, sih?

Hari yang dihabiskan di tepi pantai dan cebur-ceburan, ga kedinginan. Bareng orang-orang terdekat, hari yang seimbang antara interaksi sosial, baca buku, gegambaran dan tidur :)

  1. Menurut kamu, apakah anak-anak harus mengurus orang tuanya kalau orang tuanya sudah jompo?

Menurutku enggak. Tapi apakah aku akan mengurus orang tuaku, iya.

  1. Apakah tidur merupakan aktivitas yang menyenangkan bagimu? Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, kenapa?

100% Karena aku suka sekali tidur. Udah bukan butuh tapi menikmati banget-banget. Kadang kalo udah kecapekan kerja seminggueun, gw bisa tidur 14 jam. Percaya ga, dulu aku sering jalan-jalan sendiri untuk lalu tidur seharian di hotel :D

  1. Kalau saat ini kamu bisa teleport dan berada di sana selama sebulan, kamu pilih tempat yang mana? Kenapa? 

Di tepi pantai dengan suasana musim panas biar bisa cebur-ceburan tiap hari. Tauk deh, pantai dan musim panas ini elemen aku banget. Rasanya seperti pulang ke rumah sendiri dan bercengkerama dengan teman lama yang menyenangkan.

  1. Kalau kamu bisa punya superpower, itu adalah….

Nggg, apa ya… Boleh ga sih punya superpower semacam pembawa gelombang kebahagiaan dan kesembuhan? Jadi kalo ada yang deket-deket aku bawaannya hepi dan sehat gitu.

  1. Apa arti kesetaraan menurutmu?

Kesetaraan adalah kesempatan dan fasilitas yang sama untuk semua orang memenuhi hak asasi-nya. Pokoknya gw selalu merujuk deklarasi human rights UN untuk mempertimbangkan kesetaraan ini.

  1. Film apa yang wajib untuk ditonton menurutmu?

Apa ya… Aku jarang nonton film tapi menurutku semua orang harus nonton film-nya Taika Waititi terutama yang judulnya Boy.

Baiklah… Makasih Hanaa udah ngajak bermain-main Liebsteir Award. Aku ga harus remedial kan? :D

Liebsteir Award – dari Deny

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan Leibsteir Award sebelumnya. Gw bagi tiga karena merasa kepanjangan. Dapet tag dari Deny dan menurut gw Deny ini berbakat menjadi wartawan karena pertanyaannya asik banget ngoreknya, haha.. Tapi dengan senang hati dijawab sih :)

  1. Apa yang tidak kamu sukai dari ngeblog ?

Kayaknya banyakan sukanya daripada ga sukanya deh. Buktinya masih betah ngeblog setelah bertahun-tahun walopun kadang jarang muncul. Oh, ga sukanya adalah males masukkin foto-foto! Sungguh mengherankan karena gw orang yg sangat visual, betah ngulik dan ngedit foto. Tapi untuk blog kok males banget ya, wordpress nih photo editor nya kurang okeh – yhaa malah nyalahin wordpress. Kayaknya pingin langsung nulis yang panjang trus publish aja. Tapi kalo ga ada foto ya ga seru sih. Dilema deh, yang mengakibatkan banyak tulisan mangkrak di kotak draft.

2. Topik tentang apa yang kamu sukai saat menulis blog ?

Percaya ga sih, gw tuh mulai nulis di wordpress karena pingin nulis lebih banyak tentang musik. Akibat aspirasi yang tidak ada saluran dan sukur-sukur bisa jadi jurnalis NME – baiklah ini ngayal ketinggian. Tapi secara statistik, tulisan musik gw paling rendah peminatnya. Akhirnya aku menyerah pada animo masyarakat, tak apa disetir pasar :D

3. Perbedaan dunia blog saat ini dibandingkan dengan 10 tahun lalu?

10 tahun yang lalu berarti tahun 2010 ya? Wah tahun-tahun itu dunia blog madesu. Facebook merajalela, multiply berubah jadi pasar dan hanya segelintir blogger yang masih aktif di blogspot maupun merintis di wordpress. Atau gw aja yang ga tau party blog adanya dimana ya? Yang jelas susah sekali mencari bacaan-bacaan ringan yang dekat dengan keseharian dan membuat gw terhubung dengan banyak orang. Bukan pabanyak-banyak teman kayak di facebook ya, tapi merasa ikrib dan punya pertemanan lebih dalam.

Sekarang sih alhamdulillah ramai dunia blog, dan semakin mudah mencari blogger yang bisa konek. 

4. Blogger yang saya suka baca tulisannya?

Aduh ga bisa pilih. Semua yang gw follow di wordpress itu gw suka dan pasti gw baca blognya kalo muncul di feed. Apalagi kalo nulisnya yang ringan-ringan, tentang keseharian. Seger aja gitu bacanya, bisa jadi jeda sejenak di sela kerja dan ditunggu-tunggu di hari Senin. Kenapa hari Senin, cara gw mengumpulkan niat kerja adalah dengan baca blog pagi-pagi.

5. Apa arti media sosial buatmu?

Antara koneksi, inspirasi, hiburan dan distraksi :D

6. Media sosial apa yang paling menarik yang kamu punya saat ini?

Yang paling manis sih instagram ya. Kayaknya ini yang saat ini paling tekun dan tempat bersosialisasi dengan inner circle dan teman dekat. Twitter juga masih seru buat menumpahkan pikiran sesaat dan cari-cari retjeh buat bahan ngakak. Facebook buat nontonin video hewan-hewan, haha.

7. Bagaimana kamu dalam bermedia social ?

Kayaknya semenjak setaun atau dua taun yang lalu, gw mulai berdamai dengan instagram. Haha, emang sebelumnya perang ya? Entahlah, dulu itu kalo liat instagram bawaannya siriiiikkk melulu, dan merasa ini ngapain sih orang-orang pada pamer kehidupan? Tapi aku mau ikutan pamer dooongg… Sedikit demi sedikit gw mulai menikmati pameran itu, haha. Alias banyak kok yg asik-asik di instagram, apalagi semenjak gw follow banyak akun gegambaran yang memantik inspirasi. Tapi ya itu sih, lalu jadi distraksi dari kehidupan nyata, gw-nya malah sibuk nabung inspirasi tapi ga produktif.

Kalo twitter dan facebook ya udahlah ya.. Serah lo deh mo ngapain disana.

Eh pertanyaannya soal batasannya ya. Dulu sih cerita dan posting banyak. Sekarang mah secukupnya aja, ga punya bahan juga. Pembatasan ini organik aja sih, karena instagram dan blog gw kan terbuka buat publik. Jadi ya setiap posting otomatis selalu ingat untuk ga over sharing, ga posting tanpa konsen orang2 yang tampangnya ngajeblak, dan untungnya si Pablo ga bisa protes kalo gw posting foto atau videonya nyahahahaha

Kalo facebook, gw ga terlalu aktif disana, sebulan sekali posting juga udah sukur. Nah twitter yg spontan aja, kadang suka marah2 butuh menumpahkan uneg-uneg sesaat. Tapi twitter kan riuh rendah ya, jarang yg nyaut. 

8. Pamer tentang hal apa yang tidak kamu sukai di social media ?

Aku tak suka yang pamer jalan-jalan. Yhaaaa sirsakkkk nih Ditaaa… Hahaha… Abis dulu waktu aku rajin jalan-jalan dan foto-fotonya ada di flickr kok ga ada yang liat pameran aku sih? :D

9. Pernah mendapatkan bullying di media social?

Nggg… kayaknya ga pernah deh. Aku tuh sosok yang berwibawa gitu. Letnan kolonel kali berwibawa. Dari kecil gw tuh emang jarang dijahilin dan auranya serius. Ih beneran. Ini mbaknya manis begini, masa iya mau dibully. Dan memang pada dasarnya lebih sering menghindari konflik, jadi ya sebisa mungkin kita respek lah sebagai sesama makhluk yang harus co-exist di bumi yang padat ini. Eh apa tadi pertanyaannya?

10. Bagaimana kamu menilai dirimu sendiri saat ini?

Percaya ga sih, gw tuh semakin tua semakin menemukan diri sendiri, dan versi yang sekarang ini ga beda jauh dari versi usia 17 tahun. Gw juga heran. Bercita-cita jadi desainer grafis (udah jadi nih beneran), suka gegambaran, suka main drum, suka dengerin musik punk, suka nonton musik ikutan moshing, suka piknik, suka lari, suka tidur jangan ditanya :D Ukuran dan bentukannya pun ga jauh beda. Kadang masih berjibaku dengan kecemasan dan ga percaya diri juga. Lalu gw ga berkembang apa gemana ini yalord? Sia-sialah hidupku 20 tahun silam. Tapi ya gw rasa, gw cukup berhasil memupuk positive mindset dan menambah-nambah banyak tools untuk mengarungi kehidupan. Seperti yoga, tips dan trik membangun support system, belajar simpati, empati, dan pati-pati lainnya.     

11. Masakan apa yang paling juara dan selalu dapet pujian dari orang terdekat?

Den ini mah pertanyaan buat kamu sendiri kaliii :D

Tapi rendangku enak dan hitamnya mantap. Pecan pie aku juga legenda dan selalu laris di tiap Thanksgiving. Orang terdekat yang adalah Jesse suka semua masakan gw, kecuali sop buntut yang entah kenapa selalu membuat dia tiba-tiba ngomong “Aku ga laper.” :D 

12. Apa yang paling kamu banggakan dari dirimu saat ini?

Apa yaaa… Harta dunia sama sekali ga ada yang bisa dibanggakan nih, jadi mari kita lihat di akhirat nanti! Tsaahhh… Kayaknya yang aku banggakan adalah kerecehan diri ini yang gampang mencari hiburan di tempat-tempat biasa maupun tak terduga. Misalnya cebur-ceburan, nonton Doraemon, baca buku, nonton Apil dubbing sunda gw pasti ngakak ga brenti-brenti.  

13. Apa kabarmu selama pandemi ini?

Alhamdulillah baik, ga kehilangan pekerjaan dan WFH dari semenjak Maret. Alhamdulillah masih gampang mencari hiburan. Dan alhamdulilah alhamdulillah lainnya. Tapi ya, *curcol detected* capek banget gusti, kerjaan kayaknya ga habis-habis, dan jujur deh gw sangat kangen New York yang New York *cry*

Jadi begitulah… Udah selesai ya Den, pe-er-nya. Makasih loh udah menganugerahi blog yang tek seberapa ini :)