Day 10: Tragedi di tanah kosong

ilalang.jpgWhat’s your most embarrassing moment?

Terinspirasi dari Crystal, gw juga punya momen-momen ini. Haha.

Waktu itu masih kelas 2 SMP kalo ga salah, setiap pulang sekolah gw naik angkot sampai terminal lalu jalan kaki kira-kira 10 menit sampai rumah. Di angkot mulai kerasa kebelet sih, tapi ah nunggu 10 menit masih bisa kali. Lagian dari terminal sampai rumah mau ikut ke WC dimana juga.
Jalan 5 menit, mulai agak sulit menahan. Kebetulan perjalanan pulang ini melintas semacam tanah kosong penuh ilalang dan gw berjalan di jalan setapak sambil menahan pipis. Biasanya gw ga pernah berpapasan dengan seorang pun disini. Kebelet makin mendesak dan gw pikir ya udah lah ya. Ga sempet jongkok pun.
Pada saat yang bersamaan, dua laki-laki setengah baya belok ke jalan setapak. Bertepatan dengan ambyarnya kandung kemih gw. Bercucuran lumayan banyak dan kencang di bawah rok seragam biru.
Kedua laki-laki yang tadinya ngobrol dan ketawa-tawa lalu berhenti dan terbengong-bengong melihat fenomena yang ga disangka-sangka itu. Gw juga berdiri sampai pipisnya selesai. Abis itu gw lenggang kaki melanjutkan perjalanan, melewati mereka, seolah ga terjadi apa-apa.

Padahal sih… malu gilaaaa….


Makin-makin ya Daily Challenge ini. Bongkar aja semua bongkaarr… Temanya yang rada netral napa sih. Doohh…

Day 9: Main salju!

snowdayDescribe the best day of your life to date

Snowday pertama tahun ini gw dan Sophie memutuskan main-main ke Central Park.
Gw main ke apartemen Sophie dulu, ngasih kado natal yang telat, ngobrol-ngobrol bentar sarapan croissant dan minum kopi. Abis itu kita ciao naik taksi ke Central Park sambil geret-geret sled board. Kita semangat banget mau sledding, maklum anak tropis yang masa kecilnya ga pernah main salju. Sophie yang walopun gede di Paris, ga pernah main salju juga. Paris ternyata saljunya banyak itu dan ortunya yang notabene orang Kamboja ga repot-repot mensaljukan anaknya sejak dini.
Lalu kita sleddinglaaahh… Bareng anak-anak kecil :D
Tapi ada orang gede juga kok.

snowbootsMusim dingin kali ini, gw sama Sophie beneran siap, lengkap dengan snowboots dan mitten. Jadi bisa main-main di salju rada lamaan.

Sled kita agak cacat karena ada bagian yang bocel di bawahnya, walhasil kita ga bisa sledding lurus. Seringkail belok bahkan muter-muter. Tapi gapapa, yang ada kita ketawa-ketawa berguling-gulingan di salju.

Saat rehat sejenak karena capek juga bok naik turun bukit kecil, tiba-tiba datanglah anjing saint bernard!! OMG!! Saint bernard adalah anjing favorit gw, karena ukurannya jumbo, senang peluk-peluk dan terutama matanya yang sayu. Ga setiap hari loh bisa ketemu anjing besar ini, apalagi di New York dimana rata-rata orang-orang tinggal di apartemen yang sempit dan ga punya halaman.
Aaakkk, gw histeris, apalagi dia hepi banget main di salju dan baiiikkk minta ampun. Say hi ke semua orang. Ternyata dia lagi shooting film, entah buat apa, jadi dia ngejar bola sambil narik sled bapaknya. Gw dan Sophie akhirnya duduk-duduk aja nontonin Saint Bernard ini. And I was so happy. It was cold but I was warm and happy.

Setelah puas main salju dan nonton Saint Bernard, perut asia membawa kita makan siang (atau malem ya? Udah jam 5) di Laut, restoran Malaysia. Laksa dan nasi lemak, plus teh tarik hangat. Karena berangasan, pake pesen roti canai pun :D Abis itu duduk-duduk di apartemen Sophie yang hangat sambil ngobrol-ngobrol dan melepas segala atribut musim dingin. Ngakunya suka salju, tapi kedinginan ga bisa boong juga ya :D Tapi beneran deh hati kami hangat. Akibat kelamaan meluk heater :D


saintbernardHari ke-9 the best day to date ini bikin bingung cukup lama. Terlalu banyak. Apalagi semenjak gw punya motto baru “Fall in love with the ordinary,” terlalu banyak hal-hal kecil yang bikin gw bahagia. Ya tentunya hari-hari musim panas, liburan di Portland, Maine atau ngaso di Chandrasti villa di Bali, lebih sarat tawa. Tapi ga usahlah mengecilkan hari-hari lain dimana gw kadang senyum-senyum sendiri dengerin Electric Guest, atau berhasil masak bubur ayam.
Akhirnya gw memilih hari bahagia yang terakhir aja deh.

No more waiting for Friday to happen :)

Day 8: The good, bad dan the ugly

cropped-exhibition13.jpg

The good
Gw orangnya gampang hepi dan pada umumnya punya pandangan positif. Banyak hal-hal kecil yang bikin gw cekikikan, seperti nonton video kucing atau bisa tidur siang :) Ibaratnya, my cup is mostly half full. And the content is pinot grigio ;)

The bad
Karena gw cenderung giggly, kadang gw suka susah merasakan simpati dan empati. Kalau ada orang lain sedih, butuh waktu untuk gw mengerti perasaan mereka. Mengakibatkan banyak awkward moment saat orang lain patah hati.

The ugly
Gw sadar rendahnya pelajaran empati membuat gw tumbuh cenderung egois. Dan gw benci banget sama sikap ini. Pinginnya sih jadi orang yang selalu membantu, mengulurkan tangan dan mikirin orang-orang secara alami . Tapi masih panjang pelajaran buat gw mengikis keegoisan diri sendiri. Gw sendiri ga terlalu suka sama orang yang selalu me-me-me. Apalagi di jaman generasi millenial dimana semua orang adalah snowflake ;)

Day 7: A book to read – 300 Things I Hope

Ct1s95sWYAA-rlt

Recommend a book for us to read. Why do you think it is important?

Sebagai penggiat baca buku, gw punya lusinan rekomendasi bacaan, dari mulai panduan spiritual jaman sekarang ala OSHO sampai panduan hidup sinis karya Augusten Burrough. Bacaan gw didominasi fiksi remaja dan novel kontemporer. Belakangan karena stamina membaca mulai membaik, gw mulai baca fiksi klasik dan non-fiksi. Dari gado-gado itu, sebenernya gw jarang banget baca buku puisi. Hanya ada beberapa yang gw suka banget kayak Pablo Neruda dan Sapardi Joko Darmono, dan yang kontemporer adalah Iain S. Thomas. Dan dari semua kumpulan puisinya, bukunya yang terbaru yang paling gw suka: 300 Things I Hope.

iainsthomasBuku ini terbit tahun lalu, tapi ga masuk radar. Di sela-sela berapi-apinya gw melahap berita politik (oh yes, gw sempet rajin banget baca koran), gw kangen baca buku yang membuat gw merasa selayaknya manusia dengan jutaan perasaan. Organik dan positif. Apaseh. Pas Valentine gw bantuin nyari puisi buat temen gw perform, dan kembalilah lirik-lirik puisi Iain. Lalu kepentok beberapa quote dari buku ini.

Lalu gw meleleh. Puisi-puisinya, seperti ciri khas puisinya yang lain, pendek-pendek. Kebanyakan hanya satu baris. Tapi membuat gw senyum-senyum dan meringis dan terdiam dan melamun dan berbagai kegiatan ga jelas lain. Tapi gw bahagia sama hal-hal kecil yang disebut Iain di buku ini. Dan gw berharap orang-orang yang gw sayang juga merasakan hal yang sama.
Sambil baca gw membuat catatan, semoga apapun yang terjadi di hidup gw, betapapun kerasnya cobaan dan gw jatuh bangun bagaikan lagu dangdut, gw ingin punya hati lembut yang selalu tebar-tebar kebaikan.

Sedikit latar belakang, Iain S. Thomas memulai debut puisinya dari blog (seperti kita-kita looohh…) iwrotethisforyou. Awalnya anonimous, tapi lama-lama ya udahlaya, semua udah tau ini. Gw suka blog itu karena perpaduan puisi pendek, gambar-gambar minimalis samar-samar dan aura misterius. Bagaikan gunung merapi :P Sama tentunya menyek-menyek pol.
Puisi favorit gw sampai hari ini adalah karya Iain berjudul The Day You Read This. Sukses membuat gw menangis di saat gw berada di satu titik terendah hidup gw yaitu pas balik lagi ke Bandung dan ga punya kerja. Setahun kemudian puisi ini membuat gw senyum penuh syukur, yaitu saat awal gw pindah ke New York, working my dream job dan nonton Iain bacain puisi ini di depan gw di Piano’s Bar.

Day 6: Berlayar

berlayar1Mumpung lagi snowday dan kantor tutup, gw kerjain tantangan menulis sebanyak-banyaknya ah.
Hari keenam: What’s something you’ve always wanted to do but haven’t? Why not?

Berlayar.
That is my ultimate life goal.

Gw ingin beli kapal, hidup nomaden dari pantai ke pantai, mengunjungi pulau-pulau kecil dan besar. Pinginnya sih minimal setahun, udah ga usah ribet mikirin duit dan bikin peta lagi, tinggal berlayar aja bersama kapal gw.
Kalau trip kecil-kecilan yang kurang dari 5 hari sih udah beberapa kali walaupun itungannya menuris. Kalo ga salah yang pertama kali adalah waktu jalan-jalan ke Ujung Kulon. Waktu itu kita rame-rame nyewa kapal selama tiga hari. Oh, gw suka banget hidup di kapal, kulit terbakar matahari, rasa-rasa lengket air asin dan kapanpun gw mau, tinggal cebur-ceburan.
Waktu di Belanda pun beberapa dosen gw mengajak muridnya yang asik-asik ini berlayar di Friesland selama dua hari. Kali ini kita beneran berlayar alias diajarin pasang layar, tutup layar, gulung layar sampe nyalain mesin. Malemnya kita kemping di kapal dan gw merasa hepi berada di elemen-elemen jiwa. Apa sih.
Bahagia juga karena dosen gw asik banget sih :)

bulukumba1

Dua cewek centil yang nyasar ke Bulukumba dan salah satu menemukan tujuan hidupnya.

Saking sukanya sama berlayar dan kapal-kapalan, gw sama sahabat gw nyasar ke Bulukumba. Sebenernya ga ada di rencana mampir di Bulukumba, dan pada masanya (taun 2007 belum musim Instagram, baru ada multiply) kita berdua ga kebayang Bulukumba itu seperti apa. Awalnya kita liburan ke Makassar lanjut Toraja, lalu karena laut di bulan Desember bergejolak bagaikan asmara remaja, akhirnya memutuskan ga lanjut ke pulau Selayar dan hanya sampe Bulukumba. Ga ngerti juga gimana caranya kesana, cuma modal tanya sana sini. Besoknya setelah tanya obyek wisata apa yang populer, sama penduduk setempat dikasih tahu naik angkot ini ke galangan kapal pinisi, lalu kita pergi aja. Begitu sampe sana, wah gw bahagia dan seperti menemukan tujuan hidup. Sampe tukeran nomer HP sama juragan kapal. Dikiranya gw serius kali ya, setaun setelah kunjungan itu gw masih aja ditelpon-telpon, kapan mau beli kapal?
Hihihihi… Serius sih, tapi tabungannya belum cukup pak!

Terakhir gw boat trip adalah taun lalu menjelajahi Kepulauan Komodo selama dua hari semalem bareng Jesse. Dikit-dikit dirayulah mas bule ini, mau ya nanti kita beli kapal aja ga usah beli rumah? Hari pertama deal karena memang Kepulauan Komodo dan sekitarnya indah banget. Hari kedua dia terbakar matahari dan mulai seasick, deal batal. Hiks hiks. Tapi gapapa deh, nanti lagi gw rayu-rayu. Mungkin kalo kita berlayar pake kapal pinisi yang gedean ;)

Waktu ambil kelas deasin grafis tingkat lanjut, ternyata guru gw juga punya kapal! Oh wow!! Istrinya adalah kapten kapal (kapten kapal cewek keempat di Amerika!) dan mereka mengelola dinner boat ini dari nol. Sungguh inspiratif banget deh, sampe-sampe gw niat merangkai beberapa mimpi gw dari mulai berlayar dan bikin summer camp buat anak SMA dan akhirnya di kelas terakhir presentasi . Semoga ada waktu, usia dan konspirasi semesta agar terlaksana yaaa…