Bacaan Saat Wabah Corona

Di minggu-minggu awal work from home, gw tadinya hepi banget, wah banyak waktu buat baca buku nih! Kenyatannya, di minggu-minggu itu jari terlalu aktif scrolling berita dari portal berita dan sosmed. Pikiran juga aktif berlari-lari ke masa-masa ga jelas yang belum kejadian, membuat cemas dan susah sekali konsen baca buku.

Padahal bulan Maret itu menu klab baca adalah Factfulness karya Hans Rosling. Almarhum adalah salah satu ahli kesehatan masyarakat yang berusaha menyajikan data-data dengan lebih bermakna. Namanya juga ahli kesmas ya, contoh kasusnya banyak tentang wabah penyakit, yang paling banyak sih ebola, ada juga MERS, dan kasus-kasus lainnya. Di satu sisi, pas banget ini untuk situasi saat ini. Di sisi lain, pikiran belom bisa netral. Baca buku yang dikira akan jadi hiburan dan aktivitas buat melupakan sejenak urusan wabah, malah jadi pemicu kecemasan dan ga asik lagi.

Akhirnya cari buku yang ga pake mikir dan jatuhlah pilihan kepada The Convenience Store Woman. Buku super ringan tentang cewek yang kerja di convenience store. Semacam alfamart atau 7-11 gitu kali ya. Narasinya sih sumpah terlalu datar dan seperti membaca buku cerita keluaran depdikbud yang banyak di perpus SD gw dulu. Mungkin karena ini buku terjemahan kali ya. Tapi idenya sungguh cemerlang, bagaimana si Konbini girl ini sangat nyaman sebagai cewek lajang dengan perannya sebagai pegawai toko, tapi masyarakat tak henti-henti kepo dan menyuruh dia cari pacarlah, menikahlah, cari kerjaan yang lebih baguslah. Yekaannn… Ada adegan dia pesta dengan teman sekolahnya dan segala peer pressure ini tumpahlah disini. Kayak yang pernah :D

Mungkin kalau gw bacanya di saat-saat biasa (yang sekarang terasa masa lampau banget) dan bukan saat wabah, gw akan menamatkan buku ini dengan pesan di atas. Tapi di saat pandemic begini, konbini girl adalah salah satu profesi yang esensial untuk menopang hidup kita sehari-hari. Supermarket, minimarket dan bodega adalah salah satu bisnis yang tetap beroperasi saat bisnis lainnya diwajibkan tutup. Pegawai toko ga mungkin work from home – ya walopun banyak yang belanja online juga sih – jadi ga bisa absen dan pastinya pegawai toko harus menempuh perjalanan dari rumah ke kantor demi kita tetap bisa belanja bahan makanan sehari-hari. Begitu juga tim pembersih jalan, pengantar makanan dan tukang pos. Beneran deh, entahlah apa jadinya hidup gw kalo bodega di seberang jalan tutup.

Pingin rasanya gw kirim surat ke si Konbini Girl, hey lihatlah ada masanya profesi kamu itu penting banget cuy!

Bagaimana? Profesi apa di lingkunganmu yang menurut kamu sangat esensial di masa pandemik ini?

Tentunya tulisan ini diiringi dengan sejuta tepuk tangan setiap hari, setiap jam untuk para dokter, tenaga medis dan staff rumah sakit. You are our hero! Dan Mbah Hans Rosling, the world misses you too much, this fangirl is sending you lots of love.

Bulan Maret yang jungkir balik

Halo pemirsa… Salam #dirumahaja!

Surreal sekali rasanya, tiba-tiba kita berada disini, di dunia yang berjarak ini. Gw tadinya berniat hiatus dari perbloggeran, karena satu dan lain hal. Awalnya yang bersangkutan ditempa musim laporan – hal yang lumrah di Q1 dan Q2 tahunan, lalu ketambahan wabah Corona lagi. Segalanya berubah dengan cepat di dua minggu terakhir ini. Dari mulai membiasakan rajin cuci tangan, ga sentuh-sentuh muka sampai pindahan dari kantor ke rumah dan ga kemana-mana di dua minggu terakhir ini.

Maret – minggu pertama

Tanggal 1 Maret ditemukan kasus pertama Covid19 di Manhattan. Mulai banyak becandaan covid, alias orang-orang di New York mulai pada mudeng. Temen gw mulai rajin2 nelponin “Dita lo udah nyetok kering tempe belom? Siap-siap lock down.Lock down versi immigrant ya beginilah… kering tempe ftw. Kalo ga salah San Francisco area udah lock down minggu ini, tapi kehidupan di NYC masih berjalan seperti biasa.

Maret – minggu kedua

Kantor udah mulai memberlakukan kerja di rumah 3 hari/minggu. Jadi gw pilih hari bekerja Selasa dan Rabu. Di hari-hari itu aseli gw cemas banget, kita kan kemana-mana naik subway ya. Masih penuh aja kereta, dan duh gusti pingin garuk-garuk muka melulu. Begitu hari Kamis kerja di rumah, rasanya lebih tenang.

Gw mulai banyak baca-baca tentang social distancing, flatten the curve dan memantau Italy yang sudah lock down maksimal. Gw mulai kerja bakti bersihin rumah, alergi gw kambuh dan disinyalir akibat debu di rumah. Lagian, kalau memang kita harus lock down, mendingan kita di rumah yang bersih, yekan? Oh iya, pas wiken gw lari 5K seperti biasa ke Pier 6, yaelah masih rame aja ini taman.

Maret minggu ketiga

Kantor memberlakukan full kerja di rumah. Hore! Ya emang harusnya di rumah aja sih. Minggu ini semua berubah dengan cepat. Awal minggu restoran mulai mengurangi meja dan kursi supaya pengunjungnya berjarak. Hari Kamis sih yang kerasa banget, semua bar tutup, restoran hanya boleh buat bungkus pulang atau pesan antar. Broadway show, museum dan segala keriaan di New York harus tutup. Gw hepi banget karena memang kerjaan lagi banyak-banyaknya :P

Minggu ini kondisi gw drop banget. Alergi parah dan susah rileks. Segala rencana menyenangkan untuk diam di rumah rasanya cuman jadi rencana. Masih sibuk beberes dan mensinkronkan irama kerja di rumah yang ternyata ga mudah. Kerjaan makin banyak aja, ya biasalah kita kan tentunya juga merespon pandemik ini. Huhuhu wfh menjadi work f*cking harder.

Maret minggu keempat

Minggu ini boleh dibilang semua tutup di New York kecuali supermarket dan restoran yang hanya boleh pesan antar dan bungkus. Supermarket yang gede-gede ngantrinya panjang banget, karena jumlah pengunjung di dalam supermarket dibatasi. Untungnya sih di kelurahan gw banyak supermarket kecil-kecil, sebesar alfamart gitu, jadi gw ga harus ke supermarket gede. Dan tentunya masih sering pesen makanan dari restoran sekitar, demi mendukung ekonomi kecil di lingkungan gw. Alesan sih, padahal mah males masak.

Minggu ini gw mulai kembali menjadi Dita. Ritme kerja mulai enak, rutin yoga dari rumah, dan sedikit demi sedikit gw mulai bisa konsen baca buku, doodling lagi. Gw beneran membatasi paparan berita, sosial media dan berusaha fokus sama hal-hal yang pingin gw lakuin. I know it’s a scary world out there, but let me find my center first.

Minggu-minggu selanjutnya

Seminggu yg lalu resmi New York menjadi epicenter Covid19. Ngeri sih. Tapi alhamdulillah rumah gw nyaman, gw ga kehilangan kerjaan dan gw yang pada dasarnya banyak kegiatan di rumah, tetap bisa hepi-hepi di rumah. Dengan catatan lagi ga dirundung deadline dan urusan beberes yang ohmak ga ada habisnya. Alhamdulillah gw ga kekurangan sumber pangan dan sumber hiburan. Alhamdulillah support system gw aktif berkabar, jadi masih bisa ketawa-ketawa setiap harinya. Dan masih banyak alhamdulillah alhamdulillah lainnya.

Kebalikan dari orang lain yang harus jalan pagilah, dapet mataharilah, gw merasa nyaman-nyaman aja ga keluar rumah untuk jangka waktu yang lama. Asal gw rutin yoga dan jemuran di pinggir jendela saat ada matahari. Nanti gw akan lari lagi kalau sudah cukup fit, tapi milih pas week days aja deh biar tamannya ga rame-rame banget.

Tapi ya semoga segera pulih sih. Sedih akutu bar bar dan concert venue favorit gw pada tutup. Tapi kesehatan nomer satu, dan semua nyawa berharga. Gw pribadi percaya, duit mah bisa dicari, rejeki ga akan tertukar. Sekarang mari kita di rumah aja dulu, memastikan kita dan keluarga sehat, jadi ga jadi beban rumah sakit.

Semoga kita dan keluarga kita senantiasa sehat dan tegar ya. Gw yakin, akan banyak inovasi baru yang keluar dari disruption ini. Perubahan yang ga melulu jelek. Semoga health care dan unemployment grant jadi salah satu prioritas buat semua orang dalam waktu dekat.

Saat semua ini sudah berlalu, gw mau peluk-peluk semua orang, makin sering nge-bar :D tapi mau terus wfh :D

Satu dasawarsa

Ciyeh judulnya udah kayak pembukaan majalah taun 80-an :D Padahal mah cuman mau ikut-ikutan pos yang diinisiasi oleh Deny, lalu kemudian menjamur di kalangan blogger belakangan ini. Kilas balik satu dasawarsa cuy! Rada telat sih, tapi gapapalah ya. Gw menikmati sekali baca-baca kilas balik para blogger, jadi berasa makin ikrib. I have fun reading yours, so here is mine. Ngapain aja kita selama sepuluh taun ini selain nambah-nambah tahun dan kg? :D

2010

Belum tau aja besoknya hangover dan tahun ke depan culture shock.

Hedeh. Tahun 2010 adalah tahun paling buruk yang gw ingat. Diawali dengan mabuk murah Duff beer di suatu kamar dorm ga penting di Karsluhe, 1 Januari yang dihabiskan dengan hangover parah di kasur orang asing :D Haha, what a start of a new decade. Udah gitu kita sibuk tesis aja sampai akhirnya lulus, pulang kampung ke Bandung dan meninggalkan segala yang pernah terjadi di Belanda dan sekitarnya. Putus sama pacar, ga punya kerja untuk beberapa bulan – tapi nekad jalan-jalan Singapore, Vietnam, Kamboja, Thailand, kerja serabutan dan jadi burung hantu alias males bangun pagi. Perlahan-lahan harapan untuk hidup gemilang itu memudar. Hiks hiks. Menjelang akhir tahun dapet kerja dan pindah ke Jakarta.

2011

Taun baru jalan-jalan sendiri ke Cimaja. Haha… Mabuk murah Bintang dan berakhir dengan nyemplung sungai gegara maksa pingin liat pantai, dan ga sadar bahwa harus nyebrang sungai untuk sampai ke tepi pantai :D Ga disangka, taun 2011 adalah tahun yang sangat menyenangkan. Kerjaan membawa gw singgah di Wakatobi, Solomon Islands dan Gold Coast. Not bad. I fell in love head over heels to someone I can’t have (it felt great though to have these sparkles in my heart after months of no activity). Sedikit demi sedikit membangun kembali support system di Jakarta; The lovely ladies, Nik dan Tan di tempat kos, Jibs the beer buddies, punya Wii dan gongnya adalah: I score that dream job in New York!

2012

New York ga selalu gemerlap, kadang dia sendu.

Adalah episode menjadi Carrie Bradshaw di concrete jungle :D Walopun ujung-ujungnya malah jadi How I Met Your Mother, alias terlalu sering nongkrong di St Dymphnas (RIP) sampai larut malam bersama my East Village Crew (3 cowok yang membuat hidup di New York sangat menyenangkan). Kerjaan membawa gw ke Nairobi (I ticked off that safari on my bucket list) dengan bonus mampir di Istanbul dan jalan-jalan sama si beib. Keknya ini terakhir kali kita jalan-jalan bareng deh, hiks hiks. Taun ini gw benar-benar jatuh cinta pada New York. Oh, nyobain berbagai perkencanan di New York, and I had so much fun.

2013

Lalu di tahun ini patah hati. Haha Apes lo. Tapi gara-gara ini gw jadi kenal meditasi, baca buku-buku Lama Marut, kembali yoga dengan intens, aktif di Three Jewels dan hidup gw membaik secara drastis. Banyak kejadian taun ini yang membuat gw megap-megap antara takut tapi antusias. Seperti emergency response di Myanmar, mengunjungi Kuopio (the northest I’ve been in my life), kencan super romantis di selatan Perancis, dll. Mulai suka baca buku lagi. Sampai hari ini, gw masih merasa 2013 adalah tahun ter-WOW.   

2014

Mulai terbiasa punya pacar tetap. Haha. Ketemu Jesse di taun 2013 sih, dan semenjak itu kita barengan terus kecuali pas gw emergency response di Myanmar. Tapi baru di tahun ini gw beneran membiasakan diri punya pacar. Saat dikirim kantor ke San Diego – my first trip to the West Coast – gw sangat merasakan hawa-hawa kangen pacar ini. That’s it. I’m saying bye to life as a single girl. Tahun ini juga ada kejadian mayan dagdigdug sih sebenernya, kontrak kerja gw selesai tanpa ada tanda-tanda perpanjangan. Tapi gw belum pingin pindah dari New York. Gw nekad dong, tinggal di New York sambil mulai cari kerjaan, padahal visa gw cuman berlaku 30 hari lagi, dan gw tidak memulai proses pindah sama sekali. Alhamdulillah sih, dalam jangka waktu 1 jam dari hari terakhir gw, ada tawaran kerja. Masih di organisasi yang sama, tapi yang penting bisa lanjut tinggal di New York! Yeepee!

My one and only bucket list: checked.

2015

Yet, here is another roller coaster year. Taun ini gw kenal yang namanya depresi. Rasa-rasa ga mau ngapa-ngapain, cemas ga jelas, ga antusias lari, baca buku maupun ketemu orang. Cuman mau goler-goler di sofa meratapi nasib. Akhirnya gw mudik. Ya walopun nyaris tiap taun gw mudik sih, tapi taun ini aseli spontan. Gosh, I needed that much of homely love. Butuh siraman rohani dari orang-orang terdekat. Pelajaran penting di taun ini, saat gw ga mencapai target kerjaan itu rasanya kelimpungan dan stress banget. Dasar si high achiever. Akhir taun gw dapet tawaran kerja dari branch sebelah dan gw resmi jadi desainer grafis. Cita-cita dari awal lulus SMA akhirnya terwujud setelah lika-liku panjang hidup. Alhamdulillah.

2016

Gw dan Jesse mudik ke Indonesia barengan. Seru bangettt. Hati ini hangat rasanya melihat Jesse bercengkerama dengan orang-orang rumah, rebutan sambel sama nenek dan menikmati segala macem hal-hal random di Indonesia, termasuk jajan sana sini. Tentu saja dia jatuh cinta pada Bali. Kita jalan-jalan ke Komodo dan sekitarnya, tentu saja gw kembali ingat akan mimpi punya kapal. Tahun ini gw ambil kelas the Feeling of a Design yang membuat gw merasa, this is it! This is who I wanna be, I would love to learn more, dedicated my time and expertise in this field. Oh iya tahun ini pilpres Ameriki yang berujung hari yang menyedihkan di bulan November.

2017

Ngg… apa ya yang terjadi taun ini? Ga kemana-mana alias gw baru sadar liburan berdua itu menghabiskan tabungan. Taun ini super ngirit sebagai imbas taun sebelumnya gw belum bisa menakar penghasilan versus pengeluaran. Kerjaan juga ga mengharuskan gw geret-geret koper lagi. Pokoknya kita menikmati New York aja dengan segala yang ditawarkan, alias gw mulai nyandu tiap wiken ke pantai Rockaway. Udah gitu aja kita mah hepi. Eh tapi taun ini gw ke liburan ke Mexico ding. Mayann…

Rockaway beach was literally my rock.

2018

Taun paling ngos-ngosan. Kerjaan gila-gilaan dan stamina gw di penghujung 30-an sungguhlah terasa bagaikan naik sepeda di tanjakan. Bahkan liburan dua kali di Fire Islands pun hanya jadi tempat tarik napas sejenak dan kebanyakan molornya daripada menikmati liburan. Tahun ini gw ga bisa punya kehidupan sosial, mungkin karena gw kelewat capek ya. I burned many friendships this year and could not nourish a new one. Akhir tahun kantor menerbangkan gw ke Geneva untuk team retreat, dan Jesse pingin libur natal di Belanda. AKHIRNYA! Gw menjejakkan kaki di Schipol setelah bertahun-tahun. Gw ga akan lupa rasa itu, euphoria ga jelas liat logo ns.nl dan warna biru kuning kereta :D

2019

Sedikit demi sedikit stamina gw membaik. Kuncinya adalah: olahraga sodara-sodara! Taun ini gw ulang taun ke 40. Wiy! Tadinya mau nulis blog sendiri tentang hal ini tapi apa daya gw malah sibuk party lalu mudik berdua Jesse. Rasanya berumur 40 tuh.. B ajah, hahaha… Ada refleksi panjang tentang berumur 40, semoga gw sempat membaginya ya. Karena taun sebelumnya gw merasa menjadi pribadi tertutup yang bapuk, taun ini gw bertekad membuka diri kepada siapapun yang menyapa. Mayan, e-mail-e-mailan sama mantan, ngobrol sama sepupu yang beberapa tahun lalu sempat bikin kesel, dan berbagai trip yang gw lakukan demi ketemu keluarga. Taun ini banyak tekanan dari pihak keluarga akan hubungan gw dan Jesse, dan gw yakin ini masih akan menjadi ujian di taun-taun berikutnya. Well, mari kita liat, semoga kami semakin kuat. Akhir taun kami ke Amsterdam lagi, pingin pindah deh hahaha…

2020

Coat merah-nya masih ada dan muat walopun sempit dan udah ga nenteng-nenteng beer lagi, melainkan bawa-bawa taneman sehabis hang out :D

Tentu saja gw ga merayakan 2020 dengan hangover parah, kata temen gw “New Year’s Eve is for amateurs.” Alias, temen gw ibuk-ibuk semua, hihihi… Menilik-nilik 10 tahun ke belakang, gw ga banyak berubah selain sekarang lebih ginak-ginuk dan merasa lebih seimbang aja di berbagai aspek kehidupan. Udah jarang momen-momen roller coaster yang penuh drama, tapi banyak momen-momen reflektif dari hal-hal kecil di sekitar gw. Yang jelas udah ga punya bucket list dan lebih rumahan. Gw gampang hepi dengan hal-hal remeh temeh. Mungkin memang seperti itu ya rasanya menjadi dewasa. Semakin retjeh dan ketjeh :D  

2019

Akhirnya gw tiba di penghujung tahun dengan senyum, tanpa jetlag dan berbagai rencana di kepala, yang tidak hanya tidur dan kelonan sama kucing. 2019 adalah tahun yang menyenangkan, dijalani dengan phase yang tepat, naik dan turunnya bagaikan bukit dan lembah kecil yang manis. Saat dijalani tidak terlalu melelahkan. Semuanya pas saja.

Ga semua gw bahas disini, sebagain highlights-nya aja, ini aja udah panjang beut.

Program wanita aktif

Resolusi taun ini untuk lebih aktif bisa dicentang. Gw mayan rutin lari dan spin class walopun ga kurus-kurus :D Banyak sekali 5K tahun ini dan di akhir tahun gw bisa lari dengan phase yang mayan, cepetan dikit dari jalan kaki, hore! Walopun nampaknya target half marathon 2020 tidak akan tercapai, karena ga pernah lari lebih dari 5K.

Gw sempat terobsesi banget pingin langsing singset menjelang ulang taun ke 40. Selama dua bulan gw rajin ke gym, minimal 3 kali seminggu dengan kombinasi yoga, barre class dan lari. Ditambah diet mayan ketat, makan salad muluk. Hasilnya: mayan kenceng nih seluruh badan. Tapi abis itu liburan ke Indonesia, dan gw makan lima kali sehari demi ga melewatkan bubur ayam, siomay, mie ayam, dll. Dalam waktu dua minggu kembali ke sedia kala :D

Pelajaran dari itu semua adalah:

  • Gw cinta banget yoga dan ingin yoga terus-terusan. Yoga ini membuat lebih well-rounded, kalo habis yoga rasanya segar dan pegal-pegal hilang
  • Selama aktif olahraga itu, gw merasa tidur lebih nyenyak, badan lebih seger dan banyak cadangan energy untuk beraktivitas sehari-hari. Mens pun lancar tanpa kram perut sama sekali.
  • Walopun gw suka olahraga, tapi olahraga lebih dari tiga kali seminggu itu ga cocok buat gaya hidupku yang banyak maunya. Pingin baca buku, coret-coret, hang out sama temen dan lain-lain.

Kesimpulan: olahraga harus banget dilakuin tapi mari kita cari porsi yang seimbang.

Taiko

The lovely bunch Taiko Masala Dojo

Salah satu highlight tahun ini adalah gw bergabung dengan grup beduk jepang Taiko Masala Dojo. Taun lalu kan ikutan renang indah tuh, tapi akhirnya gw harus mundur karena hidung gw ga bisa meregulasi air kolam dengan baik. Walhasil taun lalu gw alergi parah, srat srot melulu sepanjang taun. Taun ini kita cari kegiatan yang kering ajalah.

Gw emang udah lama pingin nyobain taiko sih, terinspirasi setelah liat temen gw main taiko di Nintendo DS nya di taun 2008 – 12 years challenge banget ga sih. Haha. Gw suka sekali ritual tiap Sabtu siang (jadi bisa leyeh-leyeh sejenak di Sabtu pagi), minum kopi lalu naik bis ke dojo, gebuk-gebuk drum selama satu atau dua jam, lalu jalan pulang dan mampir beli donat di Dough. Latihannya sendiri dirancang terbuka dan inklusif, siapapun bisa ikut latihan bareng. Ga peduli apakah baru pertama nyobain taiko atau sudah tahunan menggebuk drum dan hapal berbagai komposisi taiko. Grup ini juga minim komitmen, alias gw boleh datang tiap minggu lalu absen beberapa bulan. Semua bisa diakomodasi. Ternyata justru yang model beginilah yang malah bikin gw rajin latihan.

Dari yang cuma main simei teketeketek hingga akhirnya bisa main komposisi Miyake. Dari yang pertama manggung cuma tampil satu komposisi Mirai hingga manggung terakhir gw main 6 set. Dari yang ga kenal siapa-siapa, hingga dapet temen deket banget orang Singapur – ASEAN bersatu! Taiko ini membuat gw bahagia sekali. Rasanya taiko ini cocok banget sebagai wadah bermusik-musik gw. Apakah taun depan akan lanjut? Yep! Taiko is life!

Pertemanan

Akhirnya gw punya tenaga buat merawat dan membangun hubungan-hubungan gw dengan orang-orang. Hore. Taun 2018 gw keteteran banget soal interaksi sosial, ada pertemanan yang akhirnya gw hanguskan karena gw tak punya energi untuk berurusan dengan banyak orang. Emang taun 2018 tuh ngos-ngosan banget sih, kayaknya urusan kerjaan bikin super capek dan alergi gw tak kunjung reda. Ternyata kadar energy ini ngaruh banget ya, taun 2019 ini alhamdulillah gw bisa seimbang antara aktivitas sosial dan aktivitas bersama kucing :D

Bisa me-maintain persahabatan dengan Sophie, meskipun dia sudah pindah dari New York. Punya klab nonton film bareng, punya temen nonton konser, punya teman minum anggur, punya teman nyobain berbagai makan enak di Chinatown, dll. Bisa kopdar berbagai blogger sayangku (gw ini sebenernya agak sok ikrib dengan sesama blogger, berasa udah kenal lamaaa gitu): Aggy, Deny, Crystal, Rika, Nadya. Gw juga memperbaiki hubungan dengan beberapa orang yang dulu dekat, tapi karena jarak memisahkan kita ga intense behubungan. Dulu sih males banget rasanya bales-balesin pesan di whatsapp, ngapain sih, toh kita ga jelas kapan ketemu. Tapi sekarang gw dengan senang hati berbagi emoji :D

Akhirnya kita reunian lagi setelah bertahun-tahun ga ketemu. My soul sisters <3 <3 <3

Adalah buku Emergency Contact yang menampar gw. Buku ini cetek sih, YA ringan tapi menyenangkan. Tapi setelah baca buku ini, gw sadar: It’s not ok to shut people down. Jleb jleb. Lalu apa kabar kalau gw social burn out dan ga punya energi lagi kayak taun 2018? Gw belajar mengkomunikasikan apa yang gw rasakan dengan jujur tapi tetap baik hati. Ga gampang sih, karena pada dasarnya gw ini pingin semua orang senang. Tapi ya, komunikasi itu kunci, jujur dan baik hati itu prinsip :)

Personal

Sebenernya taun ini gw cukup pusing karena ada tekanan dari keluarga, menanyakan “Mau dibawa kemana hubungan kita kalean?” Alhamdulillah sih Jesse bisa diajak berdialog secara waras ga pake nyolot, kita bahkan cukup berbinar-binar dengan rencana masa depan. Tapi yah, gw memberikan ruang banyak-banyak buat Jesse untuk memantapkan kontribusinya pada hubungan kita. Tsah, udah kayak laporan World Economy Forum. 

Gara-gara gw baca buku Viv Alberthiene, gw tersadar bahwa dari dulu tuh gw ga punya visi keluarga sakinah mawardah warohmah. Aneh sekali, tapi ya itulah gw, our best date was Bikini Kill concert and moshing between people in The Minds. We both are soul mate in our loud room with colorful walls. Yang sekarang jadi pe-er adalah bagaimana menjembatani ekspetasi keluarga supaya mengerti dan gw harus berkali-kali menjelaskan ke Jesse dan keluarganya akan budaya timur. Wish us luck, people, we are a bit swimming against the current here, but I believe we are strong swimmers. Jika nanti kita mulai merujuk ke keluarga samawa, ya memang sudah waktunya dan kita sudah siap.

Lain-lain

Baca buku agak eungap, pas-pasan banget, beres 48 buku dari 48 target. Wayahna ya ceu, karena gw mayan sering hang out dan olahraga. Klab baca almarhum tapi akan kita summon lagi taun 2020. Musik-musik, masih dong nonton konser, tapi frekwensinya agak berkurang. Yang lebih menyenangkan: gw konser taiko dan dua kali konser bareng Jesse, yay! Pilpres 2019 yang berjalan bagaikan sekuel film, kurang greget dan jalan ceritanya udah ketebak. Lagian semakin kesini, gw semakin ga baperan urusan perdemokrasian ini, ya sakarepmu lah mau milih siapa.

Di hari pertama 2020 gw menyempatkan journaling dengan panduan Yearcompass, baru mulai 3 halaman sih, tapi dari halaman pertama aja gw sudah merasa: Wow, this has been a fun year! I’m actually a fun loving person, it is easy to enjoy life with me ;) 

Tahun 2020 pinginnya apa ya…

Yang jelas pingin terus memaintain program wanita aktif karena badan dan pikiran rasanya seger walopun kita udah ga muda lagi. Pingin terus main musik, baik taiko maupun proyek sampingan bareng Jesse. Pingin ambil satu atau dua kelas grafik desain yang serius demi nambah skill. Oh iya gw punya proyek website taun ini! Dan pingin punya ritual gambar-gambar yang selama tahun 2019 keteteran.

Trus.. apalagi yaa… nanti deh ditambah lagi kalo journaling nya udah sampe bagian merancang agenda taun ini.

How I ended 2019 – a cup of earl grey tea and 80 pages to complete 2019 reading challenge

Happy 2020 everyone! I’m wishing you all a great year full of health, wealth and good fortune, surrounded by lovely people and great adventures. It’s been a pleasure sharing this virtual space with you all, lovely bloggers :*      

Dua hari di Taipei

Tak disangka, dua hari di Taipei ini menjadi liburan cukup hakiki dari 3 minggu mudik yang direncanakan. Yah gimana sih, mudik itu melibatkan segenap keluarga, teman dan rekan sejawat, ketambahan Jesse, jadi deramahnya cukup banyak. Tapi di Taipei, gw dan Jesse jalan-jalan santai, mengenal kota baru dan mencermati segala hal yang asing, dan rasanya lebih enteng.

Anyway, kesan-kesannya… I love Taipei! Perpaduan antara semaraknya budaya Cina dengan rapih dan teraturnya Jepang. Semacam ga banyak yang bisa dilakuin di Taipei, tapi kita memang cuma mau jalan-jalan santai, nyobain makanan dan mimican kok. Sehingga Taipei untuk dua hari lay-over sangatlah tepat. Sedikit demi sedikit otak gw yang selalu sibuk mengorganisir dan koordinasi sana sini mulai rileks.

Kita cuman jalan kaki di sekitar hotel, santai sambil foto-foto dan sibuk icip-icip sana-sini.. Tanpa rencana, tanpa agenda, bahkan nyaris tanpa peta. Tapi ya mana bisa gw jalan tak tentu arah :) 

Surga kulineran

Beef noodles yang murmer, enak banget, sampe kita datengin dua kali

Aseli, kita cuman random aja nyobain berbagai macam makanan yang ditemuin sambil jalan-jalan dan ga ada yang ga enak. Dari mulai beef noodles, dumpling, bapau sampai berbagai makanan asal tunjuk di night market semuanya enaakk… Mure-mure dan ocencik, bukan tourist trap. Atau kita yang ga merasa terjebak ya? Bahkan makanan di 7-11 dan Family Mart-nya aja dengan senang hati gw jadikan bahan pokok.

Bersih banget dan harum banget

Gang di Taipei yang bersiiihhhh banget

Nyaris taada sampah di Taipei dan kemana kaki melangkah, selalu tercium bau makanan atau bau-bau alami seperti bau karton, bau jalan aspal, bau tanah. Tapi jarang sekali bau bucuk. Gw memang dari dulu penggemar Chinatown, ke-random-an dan keberantakannya menghadirkan rasa hangat dan kekeluargaan setiap kali gw ke Chinatown dimanapun. Kalo jalan-jalan di Chinatown New York gw selalu ingat trip2 keluarga ke Singapore. Chinatown di otak gw itu identik dengan bau menyengat dan sedikit banyak ada sampah. Tapi di Taipei, aseli harum makanan dimana-mana dan bersih banget hingga berasa surreal.

Petunjuk-petunjuknya unyu komikal gitu

Mungkin karena pengaruh Jepang kali ya, peringatan-peringatan dan iklan-iklan di Taipei komikal dan ter-unch. Membuat gw jadi ekstra perhatiin tiap baca marka jalan dan iklan-iklan.

Kombinasi sempurna antara gang-gang kecil, jalan-jalan besar dan toko-toko tua dan baru

Nemu ginian lagi nangkring santuy

Oh how we love walking around in Taipei! Rapih, semua pada tempatnya, tapi juga ga kaku dan selalu ada gang-gang kecil yang menarik untuk ditelusuri. Tiba-tiba ada gang yang hijauuu sekali banyak pot-pot taneman. Tiba-tiba ada gang dengan kuil manis. Tiba-tiba ada gang dengan corgy berkeliaran, kan gemash.

Tempat lahirnya bubble tea

Hanyalah segelintir dari kios bubble tea di Taipei

Sudah bukan rahasia lagi, kalau mau naik haji bubble tea, mari kita ke Taiwan. Gw sendiri suka bubble tea, tapi ga ngefans banget. Tapi ya menyempatkanlah, mumpung yekan.. Ini udah kayak warkop, bertebaran dimana-mana. Gw nyobain 50 Lan karena waktu itu kelewatan sambil jalan menuju MocaTaipei. Enyak! 

Bukan hanya bubble tea, ternyata level  juice dan fruit milk tea Taipei juga di atas rata-rata. Dan dimana-mana ada susu kedelai. Oh how I love this culture of glorifying soymilk and tofu!

Orangnya ramah-ramah

Waktu temen gw menyarankan mampir di Taipei, dia bilang: orangnya ramah-ramah. Hmm, menarik, gw anaknya good vibes only gitu deh. Tapi beneran loh, nyaris semua orang yg gw temui di Taipei ngobrol dan membantu dengan sumringah. Kita kan ke-Amriki-an ya, jadi kalo ada yang servisnya juara itu refleks ngasih tips (apalah artinya 50 TWD #sobatOKB), eh selalulah terjadi adegan pemaksaan tips. Alias mereka ga mau loh nerima tips. Kalau mau ngasih tips harus sembunyi-sembunyi, naro di bawah keyboard, atau di alas gelas. Kalau ngasih langsung pastilah mereka balikkin dengan muka seribu senyum.

Tentu saja ini hanyalah pengamatan mbak-mbak dan mas-mas yang cuma jalan-jalan di Ximending dan Zhongseng distrik selama dua hari. Masih banyak wajah Taipei lainnya, dan kita tiap ngobrol selalu berseru “Kangen Taipei ya… Kesana lagi yuk, buat makan beef noodles aja.” “Sama jus deh.” “Eh tapi harus borong semua cemilan dari 7-11.” “Oh, sama bapau enak banget di sebelah bank itu.”

Bahkan di waktu yang singkat itu, Taiwan sudah menawan hati kami.

We’ll be back!