#dayofthegirl

Barusan ngobrol sama temen kantor yang asal Yemen. Awalnya sih nyeletuk2 asal.
“New York without a boyfriend is such a lonely city.”
“Noo… I had fun when I was dating.”
“Now there is only swipe right and left”
“Well, when I was dating there was no Tinder. But there was OK Cupid.
“Where did you meet your boyfriend?”
“At the DIY art space, he’s a friend of a friend.”
“I see. But, I’m a marriage only girl.”
“Let’s hang out at that Yemeni cafe to meet your next boyfriend.”
“I don’t like that community. Mostly Yemeni guys don’t want girls to work and have career.”
“Yeah, but you will find one that allow you to work. It’s the same in Indonesia, some are still conservative. But I wanna be the girl I want to be.”

Beberapa saat setelah percakapan selesai, diakhiri dengan janji nongkrong2 di Yemeni Cafe karena roti dan baklavanya enak (bukan karena cowoknya oke) gw baru sadar betapa berartinya kalimat terakhir gw “I want to be a girl I wanna be.” Dan sebagai cewek, perjalanan ke sana ga gampang. Ya peer pressure lah, tuntutan keluarga, citra perempuan, dll. Bahkan sesama perempuan, kita paling jago deh tunjak sana tunjuk sini, cewek harus gitu cewek harus gini. Yekan?
Gw termasuk beruntung, tinggal di New York, dan kota ini membebaskan kaum hawa merasa nyaman sebagai perempuan. Walopun masih sih ada ketimpangan di urusan gaji, seringnya cowok mendominasi percakapan sehingga ada istilah manteruption, dll. Tapi di hal-hal lain seperti pulang malam dan pake baju minim, bebas-bebas aja. Mau dating boleh, mau langsung kawin gapapa. Ga ada cap miring dari masyarakat. Mau jadi belly dancer silahkan, mau moshing di punk scene pun ga ada yang curi-curi grepe-grepe. Selama tinggal di New York, paling setaun sekali gw dapet catcall.
Pengalaman gw waktu tinggal di Indonesia nih, kostum andalan celana pendek berkali-kali jadi sorotan perhatian. Gw sih pede aja semua terpesona sama penampilan gw yang effotless chic :D Urusan pilihan kawin sudahlah, udah kenyang gw diceramahin semoga cepet kawin ya, tunggu apa lagi, yada yada yada. Panjang banget ini jilidnya, tapi gw udah mendapat pencerahan transcendental dan berdamai dengan semua pihak, hihi. Belum lagi betapa traumanya gw waktu terjun moshing nonton band grindcore asal Bandung. Bukan karena kesepak sepatu lars, kalo itu mah udah resiko, tapi ada cewek di arena moshing seolah jadi sasaran empuk pria-pria kesepian. Seabis itu gw terlatih nonjok cowok-cowok yang moshing walopun seringkali salah sasaran, hihi.
Dan jangan tanya urusan disuit-suitin, ganggu bangeettt saat jalan kaki. Kagak bisa ya liat barang bagus. Huh.

Dulu sih gw selalu ngerasa, oh ya gimana lagi gw kan cewek. Tapi sekarang gw sadar, ya hak gw lah nyaman pulang malam tanpa merasa waswas, walopun tetap selalu awas. Hak cewek jugalah mau menentukan karirnya, usia berapa mau nikah atau ga nikah sekalipun. Dan jelas-jelas hak cewek untuk bisa moshing aman di depan band kesayangannya!!! Penting ini!!

Semoga siapapun cewek yang membaca postingan ini sudah menjadi “the girl she wants to be” dan semoga kita selalu berperan aktif menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendorong setiap cewek jadi dirinya sendiri. Menurut gw cewek modern bukan hanya cewek yang berkarir maju tapi lebih luas sebagai cewe yang punya banyak pilihan dan tidak dibatasi cewek harus gini cewek harus gitu. Etdah, serius ya kayak modul-modul pelatihan pemberdayaan perempuan.

Sebagai hiburan nikmatilah lagu catchy dari Lizzo ini, kata Lizzo:

In celebration of all the ladies out there that were told they were “too this” and “not enough that”; All of the mamas out there busting their asses; All of the women out there that make us proud to hold a microphone.

Gapalah toh girls adalah cikal bakalnya ladies :)

Iklan

Afropunk dan Raphael Saadiq

afropunk1

I am still high from the Afropunk energy.
OMFG! Festival musik Afropunk dua hari ini sungguh seru, berwarna dan soulful sekaliiii…
Afropunk membuat festival Governor’s Ball maupun Austin City Limit terlihat datar dan pucat. Didominasi musisi kulit hitam dan tagline punk sebagai semangat rebel membuat festival ini bukan hanya festival musik lainnya, tapi ajang setiap orang berekspresi tentang nilai-nilai luhur seperti no sexism, no racism, no transphobia, no fatophobia, dll.
Naon deui nilai-nilai luhur. Tapi youknowlah… Semangat musik sebagai #wethepeople. Argh! *histeris tak terlukiskan*

Para penonton yang datang ke Afropunk membuat para dedek-dedek Coachella terasa membosankan. Jangan harap menemukan cewek dengan ikat kepala, celana pendek jeans robek-robek dan tanktop ala-ala Taytay (walopun ada aja sih). Audiens Afropunk hadir dengan fashion statement paling berani. Lipstik biru, rambut afro pink, crop top dan rok-rok lebar berjuntai, ga peduli ukuran :) Pada cantik-cantik amat deh…
Energi penonton Afropunk ini sungguh luar biasa. Semua bernyanyi bergoyang bau cimeng di segala penjuru :D Bebaskeunlah..

Dan taun ini headliner-nya adalah Solange dan Raphael Saadiq. Yup, the one and only Solange, the one and only Mr. Saadiq. Karena satu dan lain hal gw cuman nonton hari kedua dengan bintang tamu puncak Raphael Saadiq. Aaaaakkkkk *histeris dulu* Soalnya gw suka suka suka pake banget sama Raphael Saadiq.
Sebenernya gw tau Saadiq juga baru tiga tahun terakhir ini. Selera musik gw sebelumnya kan didominasi indie rock. Gw stop dengerin R&B taun 2000-an, karena merasa jiwa hardcore gw tak terwakilkan, hihi. Semenjak pacaran sama Jesse, mulailah gw menjelajahi musik ini kembali, dimulai dengan dengerin Stone Rollin’ dan jatuh cinta sama lagu Over You. Buat gw image Raphael Saadiq sarat akan nikmatnya R&B 90-an, lagu-lagu seksi dan cinta-cintaan sekaligus pintar dan berbobot. Produksi Saadiq selalu pas kalo ga bisa dibilang minimalis, jauh dari glamornya musik soul dan hip hop yang bertebaran di industri musik belakangan ini. Bahkan segospel-gospelnya pun musik Saadiq ga terasa keroyokan. Coba bandingin deh musik-musiknya Rihaana dan Beyonce ;) you know what I mean.
Gw juga baru sadar belakangan kalo Raphael ini salah satu pentolan Tony! Toni! Tone!. Padahal waktu Radio Oz ulang tahun, lagu Anniversarry diputer tiap jam, selama sebulaneun.

saadiqPecah dong pas konsernya di Afropunk kemaren. Entah kapan Saadiq terakhir manggung, untuk konser besar terakhir tahun 2013. Selama vakum Saadiq lebih rajin kolaborasi dan main-main di ruang produksi. Mungkin sering juga ya di West Coast, tapi penduduk New York sudah kangen sekaliiii… Secara keseluruhan Saadiq adalah penghibur sejati sekaligus musisi handal. Udah jangan ditanya suaranya yang buat gw tebal tipisnya pas, dan doi juga mahir betot bass dan gitar, main drum, etc. Kalo bisa sendirian jadi band :D
Penampilan Saadiq and the band di Afropunk kemarin megah ala show di Vegas. Full band, full brass section dan Saadiq nongol dengan buletan hitam besar di mata kirinya khas album Instant Vintage. Doi banyakan nyanyi -anehnya- lagu orang yang tentunya hasil kolaborasi atau campur tangannya sebagai produser. Agak ganggu sih, gw suka musik Saadiq karena pas dan minimalisnya kan. Tapi emang nampaknya Saadiq setelah malang melintang sebagai produser lebih suka proyek rame-rame daripada menonjolkan dirinya sebagai superstar. Dan apalah artinya itu semua ketika mas-mas hitam, bertato dan berotot di depan gw sibuk bergoyang dan bernyanyi fasih sepanjang lagu lengkap dengan ekspresi merem melek menghayati betapa sexy-nya lagu Never Give You Up. Gw sendiri sudah pecah saat lagi Dance Tonight dinyanyiin dan kembali pecah saat Anniversarry (!!) berkumandang.
Nyaris di penghujung pertunjukan hadir Bilal, yang berarti sudah saatnya lebaran *kriuk* Ga ding, tapi dia duet Soul Sister. Duwiuwiuwiuwiuuuu… seluruh penonton seolah bersiul bareng Bilal.
Konser pun ditutup dengan Sky Can You Feel Me.

Gw pulang dengan ceria dan senyum-senyum sendiri kecipratan aura bahagia berlebihan dari para fans Saadiq. Walopun harus jalan sekitar 30 menit dan sungguh kaki ini pegal bukan main, dalam hati gw bertekad untuk hadir di Afropunk tahun depan (atau di Paris, amin Ya Allah) karena festival musik ini seru banget dan salah satu festival musik unik di New York.

Pantai Rockaway

rockaway1Masih tentang musim panas. Musim favorit yang nyaris selesai. Secara kegiatan mantai, lumayan maksimal karena nyaris setiap wiken gw akan manggul tas pantai gw dan cabs ke.. Manalagi lah selain Jacob Riis di jajaran Rockaway. Rasanya gak ada yang lebih penting dari Jacob Riis Park selama summer ini. Hahaha…
Sebenernya New York punya banyak pantai. Ada Coney Islands yang terkenal dengan Luna Park-nya, Brighton Beach yang didominasi imigran asal Rusia dan Eropa Timur, lalu ada hamparan panjang pantai sepanjang Long Islands. Tapi Jacob Riis Park yang bagian dari hamparan pantai Rockaway punya soft spot di hati gw. Relatif dekat dan low-key. Tiap kesana bawaannya hepi dan merasa #lyfeisgood #goodvibesonly. Padahal kalo dipikir-pikir apalah pantai ini, ga cakep-cakep amat. Mau dipake surfing, sudahlah ya ga usah dibandingin sama pantai Bali yang ombaknya gede tapi landai jadi bisa surfing panjang dan lama. Arusnya cukup kencang, jadi kalo cuma mau rendem-rendem cantik agak repot juga. Warna lautnya juga bukan biru turkis, cenderung biru gelap. Pasirnya rada putih sih, tapi ga halus-halus amat. Singkat kata, banyak pantai yang lebih cakep dari Jacob Riis Park.

But I heart it.
Ramones aja sampe bikin lagu tentang Rockaway.

Gw suka karena sepanjang pantai ini ga ada resort atau hotel berbintang. Ya kali males juga invest buat hotel, pantainya nanggung. Tapi hal ini membuat Rockaway milik bersama. Ga ada pantai pribadi buat kaum jet set. Gw kok sosialis begini ya ;)

Banyak jalan menuju Rockaway
Berbagai moda transportasi udah gw coba buat mencapai Rockaway. Paling gampang sih naik mobil pribadi atau uber, biasanya sekitar sejam. Paling murah naik subway ($2.75 one way), tapi kadang lamaaa, tergantung keberuntungan dapet kereta A yang langsung ke Rockaway atau harus ganti2 kereta A terus S terus bis, terus keburu laleran deh.
Semanjak musim panas ini ada ferry dari Wall Street ke Rockaway, sejam perjalanan saja dan semurah subway. Seru sih naik ferry, merasakan semilir angin sambil memandang Manhattan. Tapi ferry-nya sering telat dan saat wiken masyarakat kelas menengah membludak pingin naik ferry. Mungkin karena masih baru juga, manajemen ferry ini masih banyakan manyunnya.
Selain itu, ada minivan gelap murmer ($7 one way) dengan rute Jacob Riis-Williamsburg pp. Tapi namanya juga van gelap ya, dia agak gak pasti dan sering sesuka hati munculnya.

rockawayferry1

Seru sih naik ferry balik dari Rockaway sambil puas-puasin mandangin sunset.

Dulu gw sering pergi naik nyc beach bus ($12.5 one way), seru ini menuju pantai pake bis sekolah kuning. Karena disponsori Six Points, all you can drink and all you can grab, walhasil perjalanan balik ke NYC pasti penuh dengan anak muda tertawa dan bernyanyi bahagia berlebihan :D Tapi akhirnya gw stop pake beach bus karena jadwalnya yang kurang fleksibel, mereka cuman beroperasi jam 11.30 (menuju Rockaway) dan 6pm (menuju NYC). Pas gosong-gosongnya banget kan.
Kayaknya opsi yang belum pernah gw coba cuman naik helikopter aja :)

Aktivitas di Rockaway
Jacob Riis sendiri hanya sebagian kecil dari pantai Rockaway yang panjang. Bisa dibilang Rockaway ini secuil peninsula dari Long Islands, jadi aktivitas di Rockaway cukup beragam. Di bagian yang menghadap Samudra Atlantic, ombaknya cukup besar jadi bisa berselancar. Di bagian Rockaway yang menghadap Jamaica Bay, kita bisa main kayak, standup paddleboard alias main getek :D Banyak juga yang menyewakan jetski dan perahu untuk berlayar.
Di sepanjang pantai Rockaway banyak tempat jajan dan mimik-mimik.
Sayang sekali boardwalk Rockaway rusak parah akibat Hurricane Sandy beberapa tahun lalu, sebagai gantinya sepanjang pantai dibeton. Lebih mirip lapang parkir, tapi mayanlah daripada lumanyun. Lagian, keamanan lebih utama, bukan begitu permisah?
Downtown Rockaway sedang menggeliat, sehingga banyak bermunculan tempat makan seperti Beer Garden, Rockaway Surf Club dan restoran baru. Favorit gw adalah Rockaway Roasters, coffeeshop berjarak 2 blok dari stasiun kereta, tempat pas untuk janjian sebelum mantai atau SUP.

rockawaypaddleboard1

Main getek modern.

Aktivitas di Jacob Riis
Ga banyak yang ditawarkan Jacob Riis selain hamparan pasir, garis pantai yang lumayan panjang dan bazaar kecil buat jajan dan kalo weekend ada live music. Tapi gw anaknya mure, ini aja udah bikin hepi kok. Yang penting gw nyampe di pantai, jajan burger sama stroberita (sejenis frozen strawberry margarita yang menurut gw jadi trade marknya Jacob Riis Park, padahal mah di bar lain juga ada kali), gelar tiker, ngobrol-ngobrol, cebur-ceburan sejenak, baca buku trus pulang deh. Kadang makan eskrim sambil nungguin bis.
Entahlah, menurut gw vibe-nya Jacob Riis ini pas banget. Kebanyakan pengunjungnya beraroma hipster sih, tapi ya sudahlah. Yang penting sopan dan ga party mode on selalu. Dan seperti sudah disebutkan sebelumnya, azas kerakyatan yang adil dan beradab membuat gw selalu merasa nyaman di Jacob Riis.

Oh Rockaway, I’m gonna miss you so much!!

rockawayband1.jpeg

Live band di Jacob Riis Bazaar musiknya keren-keren, seringnya punk, rock n roll atau big band.

rockawaybird1.jpeg

Tiap sore burung-burung camar di Rockaway rapih berbaris.

Something to Tell You – HAIM


Album yang paling dinantikan tahun ini.

Sampe lupa, belom nulis apa-apa tentang album barunya HAIM. Padahal ini loh yang dinanti-nanti sepanjang setengah pertama tahun 2017.

Sebenernya belum pernah nulis apapun tentang HAIM padahal levelnya setaralah sama Electric Guest dan Hinds. Kadang aja nyeletuk tentang HAIM di blog, apalagi kalo bukan ga sabar pingin album baru!!!. Dengerin HAIM bisa berulang-ulang, on repeat behari-hari. Waktu karaoke dan ada lagu The Wired, oh maaakkk hepi sekali berasa jadi Alana.

Pertama kali kenal HAIM tahun 2013, lupa gimana-gimananya, tau-tau udah muter album Days are Gone ratusan kali. Favoritnya waktu itu The Wired dan Don’t Save Me. Buat gw sih HAIM adalah suara 80is/90is yang dirindukan dengan nuansa Wilson Phillips yang modern. Produksi rekamannya bersih, lengkap dengan harmoni paduan suara ala Wilson Phillips, tanpa embel-embel electronika berlebihan yang saat itu lagi menjamur. Ditambah ketiga kakak beradik HAIM ini main musik dan terlibat sangat intens dalam memproduksi albumnya. Ya kira-kira begitulah.
Pas banget, waktu itu gw masih gandrung nonton festival musik sana sini, dan mereka salah satu line up bawah di Austin City Limits. Hore hore mari nonton HAIM! Walaupun realitanya kita memilih makan Macdonalds (penting banget), ngantri cukup lama menuju venue dan sebagian besar dengerin HAIM dari pager luar. Tapi gw lihatlah aksi-aksi terakhir HAIM ini cukup seru. Danielle dengan gaun spaghetti strap bunga-bunga (sumpah deh satu seri sama boots dan topi lebar berbunga matahari, if you know what I mean), mainin bass dram di tengah panggung lalu dia moshing. Penontonnya waktu itu juga segelintir.

Lalu album barunya? Ya tentu aja HAIM banget! Alias gw udah fans berat dan kangen banget, hingga udah ga bisa mengulas dengan objektif. Tapi suara-suara alahaim ini emang ga ada kan akhir-akhir ini? Bahkan CHVRCHED dan Chairlift aja yang menurut Spotify mirip, menurut gw masih terdengar terlalu indie dan modern.
Album Something to Tell You ini pun kental dengan tema patah hati, yang mana kita semua familiar banget kaaan… Elo aja kali Dit *ditoyor pemirsa* Tapi beneran ga salah menurut NME album ini cocok jadi soundtrack road trip pasca putus hubungan pacaran bareng sahabat-sahabat sambil berseloroh “Cowok brengsek!!” tapi terus pas bagian “Just to know that I want you back..” diaminin banget. Pokoknya pas banget pas bagian masih ngarepnya itu loh.
Sejauh ini sih lagu favorit gw A Little of Your Love, Ready For You sama I Want You Back. Gw juga suka Right Now, nomor balada yang diselipkan terakhir. Formula album 90-an banget kan ya, album keseluruhan pop upbeat tapi pentinglah diselipin satu dua lagu sedih. See? Ga berubah kan HAIM ini walopun sekarang udah jadi sahabatnya Taylor Swift dan mendapat arahan dari Stevie Nicks.

Kadang sambil dengerin HAIM gw mikir, apa bener ya kata orang, musik bagus itu cuman ada di masa pertumbuhan? Terbukti kan gw sukanya musik-musik 90is dan kalo ada musik baru pun pasti memper-memper. Apakah benar kita ini sekarang termasuk old soul yang telinganya menutup dengan sendirinya terhadap kemajuan musik setelah ambang pendengaran kita perlahan-lahan menurun? Hmm…
Tapi lalu lagu You Never Knew dari HAIM berkumandang, intronya sangatlah pekat dengan pengaruh Fleetwood Mac, dan gw mikir lagi, pusing-pusing amat sih. Musik mah dinikmati aja sesuai suasana hati. Dan sah-sah saja menikmati HAIM walau ga patah hati tapi lebih kepada nostalgia akan musik-musik radio Oz jaman dulu.

Kegalauan buku

Penting banget ini curhat tentang kegalauan buku. Yah butuh wadah aspirasi laaahh…

Ini galaunya semenjak The Americanah. Gw sebenernya emang pingin namatin The Americanah. Mungkin karena ekspetasi gw terlalu tinggi, jadi pas setengah buku gw ngerasa ada yang ga pas dengan buku best-seller ini, gw merasa meh. Udah gitu pas lagi semangat2nya namatin, Jesse pinjem kindle buat Please Kill Me. Jadi deh gw ganti ke buku Bel Canto.
Nah! Sebenernya buku Bel Canto ini menarik banget. Buktinya ga sampe seminggu beres. Itu pun ditandemin sama Americanah. Setengah terakhir buku gw jatuh cinta sama semua karakter-karakternya. Yang jahat baik semuanyaaa… Udah gitu endingnya gitu amat, gw merasa blaaaaahhhhh… Tercabik-cabik.
Sebenernya pas ini gw udah mulai hangover. Mungkin karena gw masih terngiang-ngiang, Gen, Carmen, Roxanne, tanpa ada wadah muntahan.

Tapi kegiatan membaca ga boleh kosong dong. Mulailah cari-cari buku berikutnya. Karena ini Ministry of Utmost Happiness udah dateng, marilah kita mulai. Tapi agak berat ya ini. Pinginnya sih yang ringan-ringan aja. Pas banget di kindle ada Miss Peregrine. Cukup ringan dan gw sih ngerasanya ga akan terlibat emosional berlebihan kayak Bel Canto. Setengah buku pertama oke, setengah buku berikutnya meehh… Saking garingnya masa gw selingin sama Utmost Happiness. Tapi ya udahlah, kita tamatin aja, walopun setelah 250 halaman gw ngerasa ini ga sebanding dengan mahalnya waktukuuu, hahaha.

Abis itu siap2 baca Utmost Happiness lagi. Tapi duh gusti lambat banget bacanya. Kayak yang tiap dua halaman megap-megap dan gampang terdistraksi. Mulailah cari-cari buku lagi. Pingin yang ringan-ringan aja tapi kok YA yang gw rikwes ga dateng-dateng ya. Gw baca Emily the Strange, tapi baru juga 50 halaman gw merasa, ga cocok ah ini. Kalo gw umur 23 kali ya. Tapi gw merasa karakter Emily terlalu sangene. Dan ternyata buku yang gw baca itu buku ketiganya aja.
Gw juga baca Daughter of Smoke and Bone. Ini gw agak suka, mayanlah maju sekitar 50 halaman. Tapi entah kenapa gw ngerasanya, bok kamu apakah sejenis twilight? Padahal gw cukup menikmati sih ceritanya.
Ah ya udah gw balik lagi ke si Utmost. Di suatu malam gw ga bisa tidur, gw baca sambil menunggu kantuk dan pas gw cek udah halaman berapa: halaman 54 ajaaaa… Wedew, kura-kura banget iniii… Perasaan gw udah baca banyak banget dan udah banyak yang terjadi. Tapi beneran tiap halamannya berasa ngunyah kueh balok ga pake teh manis. Sekel banget ini buku.

Di sela-sela kemanyunan tiba-tiba gw inget, eh kan ada The Girl from Everywhere! Horee… Udah deh ga galau lagi.

Ada yang pernah galau mau baca buku apa kayak gw?