Nice Boys Don’t Write Rock n Roll

niceboys.jpgKalo ga kenal Nuran, mungkin gw juga ga ngeh ada buku ini. Tapi berhubung kita ikrib akibat silahturahmi blog nih, jadilan gw mengenal sosok “Nice Boys” ini. Tapi sungguh postingan ini tak berbayar loh.
Waktu tau Nuran nerbitin buku bertepatan dengan kurir NY-Jakarta beroperasi, langsung deh buku ini gw masukkin ke wish list. Hehe, gw emang hobi ngeberat-beratin koper orang dengan titipan buku. Ya karena susah aja sih nyari buku bahasa Indonesia di New York. Sementara selayaknya pembaca, kita ga mau ketinggalan khasanah literasi nusantara toh.

Buku ini jadi buku kedua yang gw tamatin dari tumpukan care package berupa buku dan cuankie instan. Awalnya keder juga, 576 halaman man. Buku-buku tebel udah gw lahap di musim panas dan target baca buku belum juga terlampaui. Tapi ya penasaran sih. Eh ternyata di satu Senin malam gw tamat 100 halaman dan gw menikmati sekali tulisan-tulisan mas Nuran. Keseluruhannya ada sekitar 50 cerita dan tiap ceritanya ga panjang-panjang amat, baca sekitar 5-10 menit beres.

cuankie.jpgTopik musik dan rock n roll membuat gw mudah sekali mencerna dan relate dengan tulisan Nuran. Walopun sudah diwanti-wanti ini tulisan di buku ini kebanyakan tentang hair metal, tapi gw malah jadi nostalgia saat gw dengerin Slaughter, pasang poster Sebastian Bach dan mengunting pin-up Yani Warrant dari majalah Hai. Pada masanya gw juga sempat kena demam hair metal loh! Di buku ini dibahas semuanya, dari Motley Crue sampai Skid Row. Walopun sebagian besar cerita Guns N Roses udah gw dengerin dari Jesse sebagai gossiper handal musisi US.
Karena masih muda belia, trend hair metal pada anak kelas 2 SMP segera berganti menjadi gandrung akan suara berat Eddie Vedder dan sampai sekarang gw tetap dalam perjalanan untuk menemukan my own vesion of Kurt Cobain. Hal ini juga dibahas di bukunya Mas Nuran, bagaimana kemeja flanel lusuh menggantikan kostum celana kulit merecet di layar MTV.

Ga hanya musik metal kebarat-baratan, Nuran juga membahas musisi dalam negeri dengan porsi besar untuk Slank. Ada juga cerita tentang Sangkakala, band heavy metal seru asal Jogja yang mengingatkan gw akan Seurieus dan penampilannya yang walopun ga melulu sangar, tapi selalu fenomenal.

Di awal buku, Nuran banyak bercerita tentang industri musik, di pasang dan surutnya, dan bagaimana era digital mempengaruhi cara kita mengkonsumsi musik. Bagian ini membuat gw banyak berpikir sampai bikin sketsa infografik tentang evolusi musik mengikuti teknologi. Walopun terus ga dilanjutin, tapi tetaplah mikirin bagaimana dunia musisi itu banyak terlihat glamor tapi ya di baliknya sama aja. Apakah gw masih boleh bermimpi Jesse suatu saat terkenal dan gw tinggal ikut dia tur keliling dunia? Hmm.. #posisimikir

Keseluruhan buku ini dituturkan dari sudut pandang personal tapi diimbangi dengan data-data yang valid dan wawancara dengan narasumber yang kompeten. Emang beda ya kalo wartawan beneran yang nulis. Tapi ya ga jadi kaku juga karena ada sempalan kisah pribadi yang menurut gw membuat buku ini jadi lebih menarik.

Buat gw sendiri, buku ini terasa manis dan mengingatkan gw pada salah satu niat awal gw membuat blog ini: bahwa gw suka menulis tentang musik. Walopun di tengah perjalanan gw semakin ragu, sebenernya ada manfaatnya ga sih gw nulis-nulis panjang tentang Electric Guest? Karena menurut statistik blog, terbukti tulisan tentang musik paling sedikit peminatnya. Dan kalau mau ngikutin trend, blogger papan atas Indonesia itu kebanyakan bercerita soal jalan-jalan, makanan, fesyen & gaya hidup dan teknologi. Ya kali gw nulis tentang fesyen musim gugur, baju gw didominasi kaos garis-garis, ga berminat eksplor jenis baju lain. Kebalikan dari musik dimana gw dengan teratur mencicipi musik-musik baru dan lama dengan pikiran terbuka, urusan baju gw ga banyak kepikiran. Tapi namanya juga lapak punya sendiri, ya suka-suka kita aja mau nulis tentang apa. Gw jadi semakin mantap dengan pilihan gw, biarlah blog ini tetap jadi sarana gw belajar menulis tentang musik dengan gaya gw sendiri. Dan Nice Boys Don’t Write Rock n Roll ini semacam afirmasi bahwa bisa juga ada Nice Girls Don’t Write Disco Anthem :)

Kalo mau pesen bisa kesini. Review cuankie instan menyusul ya!

Iklan

4 thoughts on “Nice Boys Don’t Write Rock n Roll

  1. Hai Mbak Dit! Terima kasih ya sudah ditulis panjang lebar gini. Hari ini baru berani komentar, sebelumnya sungkan mau komentarin pos ini, hehehe. Speechless aku. Haha. Makasih ya, Mbak Dit. Semoga suatu hari kita bisa ketemu di New York.

    Salam drink all night, sleep all day! (ngomongnya pake nada Mark Slaughter) :)))

    • Abis suka sama bukunya :) Semoga suatu hari kita bisa nongkrong bareng di CBGB yaaa (walopun sudah tidak seperti yang dulu). Aww, tau aja dulu napsir banget sama Mark Slaughter :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s